21
VISI (2010) 18 (1) 29 - 42 SPIRITUALITAS DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI POSITIF Asina Christina Rosito ABSTRACT Positive psychology as a new branch of psychology has roots in humanistic approach. It focuses in positive emotions and positive characters of human which can help them in reaching productive living, finding and maintaining positive potentials of themselves. Positive psychology focuses on human virtues and strengths. There are wisdom and knowledge, courage, humanity, justice, temperance, transcendence, creativity, curiosity, open-mindedness, love of learning, perspectives, authenticity, bravery, persistence, zest, kindness, love, social intelligence, fairness, leadership, teamwork, forgiveness, modesty, prudence, self-regulation, appreciation of beauty and excellence, gratitude, hope, humor, religiousness . Spirituality is one of aspects of human being and one of specific coping approaches in positive psychology point of view. This paper describes and explain how spirituality works in human being that began with finding the sacred thing in God, keep in growing in relation with God, and overcoming living challenges spiritually. ------------ Keyword : Spirituality, the sacred, positive psychology I. PENDAHULUAN Kehidupan manusia baik secara pribadi, berkelompok, bermasyarakat, serta bernegara semakin hari menunjukkan indikasi penurunan dalam kehidupan moral spiritual. Hal ini terlihat dari beberapa kasus bunuh diri, pembantaian terhadap anak, pemerkosaan, yang masih dan bahkan bertambah jumlahnya dalam beberapa bulan terakhir. Pada kalangan pemerintahan, hal ini juga terjadi dengan semakin banyaknya terkuak kasus korupsi di kalangan pemerintahan. Dari sudut pandang psikologi positif, hal diatas dapat mengindikasikan sedang buramnya _____________ ISSN 0853-0203 29

akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

SPIRITUALITAS DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI POSITIF

Asina Christina Rosito

ABSTRACT Positive psychology as a new branch of psychology has roots in

humanistic approach. It focuses in positive emotions and positive characters of human which can help them in reaching productive living, finding and maintaining positive potentials of themselves. Positive psychology focuses on human virtues and strengths. There are wisdom and knowledge, courage, humanity, justice, temperance, transcendence, creativity, curiosity, open-mindedness, love of learning, perspectives, authenticity, bravery, persistence, zest, kindness, love, social intelligence, fairness, leadership, teamwork, forgiveness, modesty, prudence, self-regulation, appreciation of beauty and excellence, gratitude, hope, humor, religiousness. Spirituality is one of aspects of human being and one of specific coping approaches in positive psychology point of view. This paper describes and explain how spirituality works in human being that began with finding the sacred thing in God, keep in growing in relation with God, and overcoming living challenges spiritually. ------------Keyword : Spirituality, the sacred, positive psychology

I. PENDAHULUAN

Kehidupan manusia baik secara pribadi, berkelompok, bermasyarakat, serta bernegara semakin hari menunjukkan indikasi penurunan dalam kehidupan moral spiritual. Hal ini terlihat dari beberapa kasus bunuh diri, pembantaian terhadap anak, pemerkosaan, yang masih dan bahkan bertambah jumlahnya dalam beberapa bulan terakhir. Pada kalangan pemerintahan, hal ini juga terjadi dengan semakin banyaknya terkuak kasus korupsi di kalangan pemerintahan.

Dari sudut pandang psikologi positif, hal diatas dapat mengindikasikan sedang buramnya pemaknaan hidup seseorang terkait dengan dirinya sebagai manusia, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat dan sebagai bagian dari negara ini. Pemaknaan terhadap diri sebagai seorang yang tidak berdaya dan tidak sanggup dalam menghadapi masalah hidup yang ada dapat memicu munculnya dorongan untuk mengakhiri hidup. Pemaknaan tersebut dapat menimbulkan ketegangan emosional dan dapat dilampiaskan dengan menunjukkan perilaku agresi kepada orang-orang terdekat sampai dalam bentuk penganiayaan atau pembunuhan. Pekerjaan yang dimaknai bukan sebagai ibadah dapat menurunkan etos kerja dan dalam tingkat tertentu dapat menimbulkan pelanggaran etika dalam profesi atau pelanggaran pidana lainnya. Dalam

_____________ISSN 0853-0203

29

Page 2: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

kajian psikologi positif, kebermaknaan hidup ini merupakan kajian spiritualitas.

Psikologi positif merupakan cabang yang baru berkembang dalam satu dekade terakhir. Lahir demi menjawab tantangan terhadap ilmu psikologi sendiri yaitu sejauh mana psikologi dapat mengembangkan kehidupan manusia seutuhnya dan tidak hanya sekedar berhubungan dengan manusia yang mengalami kasus patologis atau penyimpangan perilaku. Dengan demikian, psikologi tidak semata-mata berfokus pada studi mengenai penyakit, kelemahan dan kerusakan mental, tapi juga studi mengenai kekuatan dan kebajikan manusia. Dengan demikian penanganan psikologis yang diberikan tidak hanya berorientasi pada penyembuhan tetapi juga membangun kualitas positif dalam diri manusia (Synder&Lopez, 2005). Salah satu pendekatan penanganan (coping approaches) dalam psikologi positif adalah melalui peningkatan kehidupan spiritualitas. Spiritualitas masih dimengerti dengan cara yang sama dengan religiusitas (religiosity/religiousness), sementara keduanya berbeda. Mengingat masih minimnya literatur dan kajian ilmiah mengenai hal ini, disertai dengan dugaan bahwa masalah-masalah yang dipaparkan di atas mengindikasikan penurunan kehidupan spiritualitas, maka penulis ingin mengkaji mengenai spiritualitas dari sudut pandang psikologi positif.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka masalah yang hendak dijawab adalah : 1. Bagaimana spiritualitas manusia dari sudut pandang psikologi positif ?2. Bagaimana kehidupan spiritualitas bisa berkembang dan bermanfaat bagi

pengembangan manusia ?Adapun tujuan dari tulisan ini adalah :

1. Menelaah secara teoritis spiritualitas manusia dari sudut pandang psikologi positif

2. Menelaah bagaimana kehidupan manusia bisa berkembang melalui kehidupan spiritualitasnya

II. LANDASAN TEORI

2.1. PPERSPEKTIF PSIKOLOGI POSITIF Psikologi positif merupakan studi mengenai emosi positif, karakter

positif dan institusi positif (Seligman & Csukszentmihalyi, 2000). Psikologi positif berfokus pada dua misi dari ilmu psikologi yaitu : membuat kehidupan manusia lebih produktif dan mengidentifikasi serta memelihara potensi positif dari setiap individu. Dalam pengertian lain, psikologi positif mempelajari mengenai kesehatan mental (mental health) dan kebahagiaan (well-being)(Seligman, Martin E.P, 2005).

Tujuan dari psikologi positif terungkap dari pernyataan dibawah ini:

_____________ISSN 0853-0203

30

Page 3: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

..to catalyze a change in psychology from a preoccupation only with repairing the worst things in life to also building the best qualities in life.

(Synder&Lopez, 2005, hal.3)Ruang lingkup dari psikologi positif : 1. Pada tingkat subyektif ruang lingkupnya meliputi pengalaman subyektif

yang positif antara lain kebahagiaan dan kepuasan akan hal-hal yang terjadi di masa lalu: energi yang dirasakan mengalir di jiwa, sukacita, hasrat, kebahagiaan yang dirasakan dalam konteks “sekarang dan sedang berlangsung” ; pemikiran konstruktif mengenai masa depan yang meliputi optimisme, harapan dan iman.

2. Pada tingkat individual ruang lingkupnya meliputi sifat pribadi yang positif antara lain kesediaan dan kemampuan untuk mencintai dan untuk bekerja, dorongan atau motivasi, keterampilan interpersonal, kepekaan estetis, kegigihan dan ketekunan, pengampunan, originalitas, pemikiran berorientasi masa depan (future-mindedness), potensi, dan kebijaksanaan.

3. Pada tingkat kelompok ruang lingkupnya meliputi kebajikan-kebajikan bersifat kenegaraan dan instansi yang menggerakkan individu menuju kehidupan bernegara yang lebih baik antara lain tanggung jawab, pemeliharaan, altruisme, sopan santun, sikap yang tidak berlebihan, toleransi dan etika kerja .

Psikologi positif melihat manusia dari sisi kekuatan (strengthts) dan kebajikan-kebajikan (virtues) yang dimilikinya. Terdapat enam (6) kebajikan dan 24 kekuatan karakter yang diungkapkan oleh Peterson & Seligman (2004) antara lain :

Virtue and strengths Defenisi1 Wisdom and Knowledge

(Kebijaksanaan dan pengetahuan)

Kekuatan kognitif yang diperlukan dalam memperoleh dan memanfaatkan pengetahuan

Creativity (Kreativitas) Memikirkan cara atau strategi baru yang produktif dalam bekerja

Curiosity (Keingintahuan) Memiliki ketertarikan dalam setiap pengalaman yang terjadi

Open-mindedness (Keterbukaan pemikiran)

Memikirkan berbagai hal secara terus menerus dan mengujinya dari berbagai sisi

Love of learning (Kesenangan akan belajar)

Menguasai keterampilan, konsep dan pengetahuan baru

Perspectives (Perspektif) Mampu menyediakan nasihat yang bijak bagi orang lain

2 Courage (Dorongan) Kekuatan emosional yang meliputi latihan kemauan untuk mencapai

_____________ISSN 0853-0203

31

Page 4: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

tujuan walaupun menghadapi rintangan, dari luar maupun dari dalam

Authenticity (Keaslian) Menyatakan hal yang benar dan menampilkan dirinya dengan cara yang sebagaimana adanya

Bravery (Keberanian) Tidak menghindar dari hambatan, masalah, kesulitan maupun penderitaan

Persistence (Kegigihan) Menyelesaikan apa yang dimulaiZest (Semangat) Memandang hidup dengan antusiasme

dan energi3 Humanity (Kemanusiaan) Kekuatan interpersonal yang meliputi

mengarahkan diri pada orang lain dan berperilaku menjadi sahabat bagi orang lain

Kindness (Kebaikan) Memberikan pertolongan dan amal pada orang lain

Love (Cinta) Menjunjung tinggi hubungan yang dekat dengan orang lain

Social intelligence (Inteligensi Sosial)

Sadar akan motif dan perasaan diri sendiri dan orang lain

4 Justice (Keadilan-Kebenaran)

Kekuatan kewarganegaraan yang mendasari kehidupan komunitas yang sehat

Fairness (Keadilan-Kesetaraan)

Memperlakukan semua orang dengan cara yang sama berlandaskan asas kesetaraan dan keadilan

Leadership (Kepemimpinan)

Mengatur aktivitas kelompok dan memastikan hal itu terjadi

Teamwork (Kerjasama) Bekerja dengan baik sebagai sebagai bagian dari kelompok

5 Temperance (Kesederhanaan)

Kekuatan yang bekerja melindungi dalam melawan sesuatu yang melebihi kapasitas

Forgiveness (Pengampunan)

Mengampuni orang yang telah melakukan kesalahan

Modesty (Kerendahan hati) Membiarkan prestasi/pencapaian yang diperoleh berbicara dengan sendirinya

Prudence (Kebijaksanaan) Berhati-hati dalam memilih, tidak mengatakan atau melakukan hal-hal yang akan disesali kemudian

Self-regulation (Kontrol diri)

Mengelola apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan

_____________ISSN 0853-0203

32

Page 5: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

6 Transcendence (Transendensi)

Kekuatan yang menempa hubungan dengan dunia alam semesta dan menyediakan makna

Appreciation of beauty and excellence (Apresiasi terhadap keindahan dan keunggulan)

Memperhatikan dan menghargai keindahan, keunggulan dan atau katerampilan dalam segala bidang kehidupan

Gratitude (Bersyukur) Sadar akan berbagai hal yang terjadi dan mensyukurinya

Hope (Harapan) Mengharapkan yang terbaik dan bekerja untuk mencapainya

Humor Suka akan tertawa dan bercanda, memberikan senyuman bagi orang lain

Religiousness (Keberagamaan)

Memiliki kepercayaan yang rasional mengenai tujuan yang lebih tinggi dan makna hidup

2.2. SPIRITUALITAS

B.2.1. Pengertian spiritualitasSpiritualitas merupakan suatu pencarian terhadap sesuatu yang bermakna (a search for the sacred) (Synder&Lopez, 2005)B.2.2. Spiritualitas sebagai Suatu PencarianDefenisi di atas yang dimulai dengan “merupakan suatu pencarian” mengindikasikan bahwa spiritualitas adalah sebuah proses yang mencakup usaha untuk menemukan sesuatu yang bermakna dan mencakup usaha untuk berpegang padanya dan menjaganya. Cara untuk menemukan dan menjaga sesuatu yang bermakna itu sangat banyak dan tidak terbatas. Cara tersebut mencakup keterlibatan sosial yang berkisar dari institusi agama tradisional sampai dengan kelompok atau program atau asosiasi spiritual non-tradisional. B.2.3. Spiritualitas sebagai suatu pencarian terhadap sesuatu yang bermakna

Menurut Oxford English Dictionary, sacred : the holy, those things ‘set apart’ from the ordinary and worthy of veneration and respect. Sesuatu yang bermakna ini mencakup konsep tentang Tuhan, Yang bersifat Ilahi dan transenden. Namun, objek lain dapat menjadi sakral atau mengambil kekuatan yang luar biasa melalui atau dalam hubungannya dengan yang bersifat Ilahi.

Objek yang sakral mencakup waktu dan ruang (hari minggu, gereja); kejadian dan peristiwa (kelahiran, kematian) ; material (anggur, salib), produk budaya (music, sastra) ; orang (Santa, pemimpin agama) ; atribut psikologis (diri, pemaknaan pribadi); atribut sosial (kasih, komunitas) dan peran (pernikahan, mengasuh, bekerja).

_____________ISSN 0853-0203

33

Page 6: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

Spiritualitas berpusat pada persepsi tentang atau terhadap sesuatu yang bermakna (sesuatu yang dianggap sakral). Dengan defenisi ini, maka spiritualitas tidak dapat diasumsikan pada dasarnya baik. Dalam upaya mencari dan menemukan sesuatu yang bermakna, manusia dapat menggunakan cara konstruktif dan destruktif. Sebagai contoh : dalam upaya menghadirkan kerajaan Allah, manusia dapat memusuhi orang lain yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Nilai dari spiritualitas bergantung pada bentuk spesifik dari pencarian individual terhadap sesuatu yang bermakna tersebut yaitu cara tertentu yang diambil oleh seseorang menuju objek sakral tertentu. B.2.4. Pengukuran spiritualitasSpiritualitas dapat diukur dengan mengukur seberapa sukses individu dalam pencarian terhadap sesuatu yang bermakna degan menggunakan kriteria yang berorientasi pada spiritualitas seperti kebahagiaan spiritual (spiritual well-being). Spiritualitas dapat juga diukur melalui kesehatan mental, fisik dan kehidupan sosial yang dapat diamati. B.2.5. Penemuan terhadap sesuatu yang bermakna a. Menemukan TuhanPencarian terhadap Tuhan dimulai dari masa kanak-kanak. Terdapat beberapa pandangan tentang hal ini, antara lain : 1. Terdapat dasar genetis yang dibawa sejak lahir oleh setiap manusia

tentang spiritualitas2. Konsep tentang Tuhan berakar dari kapasitas intrapsikis anak untuk

membayangkan, berfantasi dan menciptakan manusia super3. Spiritualitas berkembang dari kejadian-kejadian hidup yang penting

maupun melalui tantangan hidup yang dialami 4. Pentingnya konteks sosial dalam membentuk pemahaman anak tentang

Tuhan. Hal ini memberi implikasi bahwa konsep anak tentang Tuhan dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, pendidikan dan masyarakat. Kircpatrick menyatakan bahwa konsep tentang Tuhan merupakan refleksi dari keeratan hubungan antara anak dengan figur utama yang dengannya anak mengalami kelekatan (attachments). Dia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan. Sigmund Freud, tokoh psikoanalisa, menempatkan tokoh ‘Bapa’ sebagai sosok yang memiliki peran penting dalam menubuhkan agama pada anak. Melalui konsep father image (citra kebapaan) ini, ‘Bapa’ menjadi tokoh panutan yang diidolakan. (Jalaluddin, 2004)

Dalam sejumlah studi, ada temuan bahwa individu yang memahami bahwa Tuhan sebagai pengasih dan figur yang penuh pengertian melaporkan tingkat yang lebih tinggi dalam kebahagiaan personal (personal well-being). Sebaliknya, orang yang menggambarkan Allah dengan

_____________ISSN 0853-0203

34

Page 7: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

pengertian yang kejam, jauh, takut, menunjukkan tingkat yang lebih tinggi dalam ‘distress psikologis’ (psychological distress).

Dari temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa bagaimana manfaat dan bahaya dari pencarian individual terhadap Tuhan atau sesuatu yang Ilahi tergantung pada bagaimana pemahaman mengenai Tuhan yang ditemukan oleh individu dan jenis relasi atau hubungan yang dibentuk individu tersebut dengan Tuhan. b. Menemukan sesuatu yang bermaknaAllah adalah pusat dalam pemahaman mengenai spiritualitas. Spiritualitas mencakup lebih daripada Allah, karena berkaitan dengan sesuatu yang bermakna dimana sesuatu yang bermakna dapat ditemukan di dunia seperti di surga. Setiap aspek dalam hidup dapat memperoleh status ini.

Sanctification is perception of an object as having spiritual significance and character.

(Synder&Lopez, 2005 hal.649 )Sanctification (penyucian) dapat terjadi dalam cara yang teistik dan non teistik. Tuhan dapat dihubungkan dengan berbagai area kehidupan seperti : 1. Tuhan dapat dilihat manifestasinya dalam pernikahan2. Pekerjaan dapat dipahami sebagai panggilanTuhan3. Lingkungan dapat dilihat sebagai ciptaanNya

Persepsi kita mengenai sesuatu itu memiliki makna kekal, lebih penting daripada sesuatu itu sendiri. Instansi agama bukan satu-satunya sumber didikan tentang penyucian, karena sumber dari apa yang kudus dan tidak kudus dibentuk oleh pengalaman personal, keluarga, organisasi, komunikasi, budaya yang lebih besar. Mahoney et al (1999) dan Pargament (1999), menyatakan bahwa ada tiga implikasi dari penyucian : 1. Orang cenderung akan memelihara dan melindungi objek-objek sakral2. Orang cenderung akan menginvestasikan lebih diri mereka dalam

pengejaran akan hal atau objek yang sakral3. Orang cenderung memperoleh makna/pengertian, kekuatan dan penyucian dari dimensi-dimensi sakral dalam hidup merekaContoh : pasangan-pasangan yang menyucikan pernikahan mengalami beberapa keuntungan antara lain kepuasan pernikahan lebih besar, lebih melakukan investasi dalam pernikahan, lebih sedikit dalam konflik pernikahan, lebih efektif dalam penyelesaian masalah, dll. Orang tua yang menyucikan peran mengasuh anak-anak melaporkan lebih sedikit agresi verbal yang dilakukan dan lebih disiplin dalam mendidik anak. c. Memelihara sesuatu yang bermaknaSetelah menemukan apa yang bermakna dalam hidupnya, maka seseorang akan berjuang untuk berpegang padanya. Orang yang spiritual peduli akan pengembangan, pemeliharaan relasi mereka dengan sesuatu yang bermakna tersebut.

_____________ISSN 0853-0203

35

Page 8: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

Sejumlah metode spiritual untuk memelihara relasi tersebut adalah : meditasi, doa, dan mengalami dimensi spiritual di kehidupan sehari-hari. Terdapat 3 metode penanganan spiritual dalam menjalani waktu-waktu stress : a. Menentukan batasan (marking boundaries)Menentukan batasan disini maksudnya adalah mendefinisikan ulang aturan-aturan tentang apa yang membuat seseorang menjadi anggota dari suatu agama tertentu. Hal ini diperlukan ketika menghadapi ancaman/tantangan yang berupa pemahaman yang berbeda dari yang dipahami, yang mana dengan tantangan ini, individu akan cenderung memperkuat komitmen dan kepercayaannya. b. Penyucian spiritual (Spiritual purification)

Penyucian spiritual disini maksudnya adalah mengakui dosa-dosa dan mengalami pemulihan dari Allah. Penelitian oleh Pennbaker menunjukkan bahwa proses pengakuan dosa meningkatkan distress pada jangka waktu yang pendek namun meningkatkan kesehatan fisik dalam waktu yang lama. Pengakuan dosa ini bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis tapi juga membawa kembali seseorang pada pemahaman mengenai sesuatu yang bermakna. c. Pola pikir Spiritual (Spiritual Reframing)

Spiritual Reframing merupakan pola pikir atau cara pandang terhadap tantangan atau ancaman, melihat ada tujuan spiritual yang lebih besar di balik peristiwa-peristiwa negatif yang terjadi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang demikian memiliki penyesuaian yang lebih baik terhadap krisis tersebut. Sebaliknya, individu yang tidak mampu menjaga kepercayaannya dalam kasih Allah yang mengikuti kejadian-kejadian yang menimbulkan stress, lebih rentan terhadap masalah. Sehingga individu tersebut lebih cemas, lebih depresi baik secara psikologis maupun fisiologis.

Cara pandang yang bersifat negatif bisa membuat lebih stress dan depresi menghadapi berbagai stressor. Misalnya adalah cara pandang yang mengasumsikan bahwa masalah yang dihadapi dikarenakan dosa yang diperbuat di masa lalu sehingga masalah tersebut merupakan hukuman dari Allah. Cara pandang seperti ini akan meningkatkan rasa bersalah dan menghukum diri sendiri.

Esensi dari spiritualitas adalah : proses menemukan dan memelihara serta kembali menemukan sesuatu yang bermakna. Hal ini mengindikasikan bahwa proses ini merupkan siklus yang berkembang sepanjang rentang kehidupan. Spiritualitas mengambil rupa atau bentuk yang beraneka bagi manusia, bergantung pada paduan unik dari kekuatan biologis, psikologi, konteks dan kekuatan transenden.

_____________ISSN 0853-0203

36

Page 9: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

B.2.6. Kecerdasan SpiritualKecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia untuk memberi

makna atas apa yang ia alami dan jalani. Kecerdasan spiritual bukanlah sekedar agama (religi). Terlepas dari agama, manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Hal ini dikarenakan oleh kesadaran bahwa berbagai hal dapat memberikan nilai spiritual dan rasa bermakna. Bermakna di dalam Tuhan merupakan makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.

Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yan tinggi mampu memaknakan seluruh fenomena yang ia alami dalam kerangka berpikir positif dan optimis tentang semesta.

Kemurahan hati yang tulus adalah sumber spiritual yang membuat diri sendiri dan orang lain bahagia. Kemurahan hati muncul dari rasa syukur yang berkelimpahan dalam diri seseorang. Kerendahan hati untuk tidak cepat menilai merupakan ciri lain. Kerendahan hati ini dalam pengertian bahwa mereka tidak terjebak oleh kerangka penilaian sendiri atas semua peristiwa yang menimpanya (Ummah K. , 2003).B.2.7. Mengembangkan kehidupan spiritualitas Kehidupan spiritualitas dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk antara lain meditasi, refleksi, ritual ibadah seperti berdoa, ibadah, pembacaan firman, dll.

III. PEMBAHASAN Psikologi positif merupakan cabang ilmu psikologi yang

mempelajari tentang emosi positif, karakter positif dan institusi positif (Seligman & Csukszentmihalyi, 2000). Spiritualitas meliputi upaya pencarian, menemukan dan memelihara sesuatu yang bermakna dalam kehidupannya. Pemahaman akan makna ini akan mendorong emosi positif baik dalam proses mencarinya, menemukannya dan mempertahankannya. Upaya yang kuat untuk mencarinya akan menghadirkan dorongan (courage) yang meliputi kemauan untuk mencapai tujuan walaupun menghadapi rintangan, dari luar maupun dari dalam. Pada dorongan itu tercakup kekuatan karakter keberanian (bravery), kegigihan (persistence), semangat (zest). Apabila sesuatu yang bermakna tersebut ditemukan, maka karakter itu akan semakin kuat di dalam diri seseorang, terutama dalam proses menjaga dan mempertahankannya. Semakin seseorang memiliki makna akan hidupnya, semakin bahagia dan semakin efektif dalam menjalani kehidupannya.

Spiritualitas berhubungan erat dengan pengalaman pribadi yang bersifat transendental dan individual dalam hubungan individu dengan sesuatu yang dianggapnya bermakna. Menurut Averill (1999 dalam Synder&Lopez, 2005), terdapat tiga bentuk pengalaman spiritual sebagai berikut : _____________ISSN 0853-0203

37

Page 10: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

1. Vitalitas (Vitality)Vitalitas mengacu pada adanya suatu tenaga atau energi yang kuat. Dalam kepercayaan terdahulu, roh dapat tinggal di dalam berbagai obek seperti gunung, pohon atau batu, yang dipercaya memberikan pengaruh bagi baik buruknya kehidupan manusia. Perspektif sekuler, spiritualitas (dalam makna vitalitas) mengacu pada sikap kreatif. Seseorang yang bebas secara spiritual terbuka terhadap berbagai pengalaman baru dalam hidupnya. Hal ini dapat juga terwujud dalam keadaan kesadaran yang lebih tenang seperti meditasi, dimana dalam meditasi ini dimungkinkan terjadi kesempatan untuk bertumbuh dan mengeksplorasi diri sendiri.

2. Keterhubungan (Connectedness)Salah satu bentuk pengalaman spiritual lain adalah adanya suatu perasaan keterhubungan, kesatuan, harmoni dengan pihak lain (Huxley, 1985 dalam Synder&Lopez, 2005). Cinta antara sepasang manusia dan cinta orang tua terhadap anaknya merupakan contoh dari keterhubungan ini. Pihak lain yang menjadi objek keterhubungan ini tidak selalu berupa seorang individu, tetapi bisa juga kelompok budaya atau etnis, kemanusiaan secara umum, alam dan bahkan sesuatu yang melampaui alam semesta. Jika pihak lain itu merupakan manusia, maka kehadiran dan keberadaan orang tersebut sangat penting. Namun tentunya kadar kepentingannya berkurang ketika orang tersebut telah pergi misalnya ketika orang tersebut sudah tiada. Rasa keterhubungan itu membawa suatu perasaan utuh di dalam diri sendiri dan rasa transendensi – diri sebagai suatu bentuk identifikasi terhadap sesuatu yang melampaui diri sendiri.

3. Kebermaknaan (Meaningfulness)Pengalaman spiritual dirasakan secara mendalam dan bahkan bersifat mentransformasi hidup. Seperti pesan terselubung, makna atau arti dari setiap pengalaman tidak segera muncul dan hal ini menambah nuansa misteri dan rasa ingin tahu, yang merupakan bagian dari perasaan spiritual. Dalam perspektif religious, wahyu dan kitab suci biasanya digunakan untuk membantu orang-orang yang ingin memecahkan rahasia tersebut. Dalam perspektif sekuler, ilmu pengetahuan, seni dan sastra memiliki fungsi yang sama.

Ketiga bentuk pengalaman spiritual tersebut digambarkan dalam diagram berikut.

_____________ISSN 0853-0203

38

Page 11: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

Bagan 1. Karakteristik Pengalaman SpiritualPengalaman spiritual memberikan suatu dorongan dan energi dalam

diri untuk terus terhubung dengan sesuatu yang bermakna. Keterhubungan ini memberi kemampuan untuk bertahan, berjuang, dalam hadapi tantangan hidup. Metode spiritual reframing merupakan metode yang paling umum digunakan. Dengan menganalisa masalah dari perspektif spiritual, individu mencari makna terselubung yang bersifat transendental dibaliknya. Ini merupakan bagian dari penemuan kembali (rediscovery) sesuatu yang bermakna. Metode pengakuan dosa identik dengan bagian dari ritual agama. Dengan melakukan metode ini, individu mengalami rasa lepas akan beban pribadi. Kelegaan spiritual ini menambah semangat hidup, gairah dan meningkatkan daya tahan hidup (persistence). Metode menentukan batasan (marking boundaries) merupakan pendekatan kognitif dalam upaya menghadapi ancaman/tantangan yang berupa pemahaman yang berbeda dari yang dipahami, yang mana dengan tantangan ini, individu akan cenderung memperkuat komitmen dan kepercayaannya.

_____________ISSN 0853-0203

39

MEANING VITALITY

CONNECTEDNESS

SECULAR :art, science,

literture

SECULAR :health, energy,

enthusiasm

SECULAR :family, lovers,

nature

RELIGIOUS :soul, grace,

sancity

RELIGIOUS :GOD, church,

The One

RELIGIOUS :faith, scriptures,

revelation

Page 12: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

Pencarian terhadap sesuatu yang bermakna

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

Spiritualitas sebagai sebuah proses mengindikasikan adanya siklus yang tidak akan berhenti sepanjang hidup individu. Hal ini tergambarkan dalam bagan di bawah ini.

Bagan 2. Siklus SpiritualitasPencarian terhadap sesuatu yang bermakna tidak berhenti ketika

sesuatu yang bermakna itu ditemukan dan dipelihara. Perubahan internal, perubahan-perubahan yang diakibatkan perkembangan hidup, dan peristiwa lain dalam hidup dapat menimbulkan kehilangan akan sesautu yang bermakna dan perubahan dalam memahami dan mengalami sesuatu yang bermakna itu. Dalam setiap titik kehidupan, individu dapat mengalami periode di mana suatu yang bermakna itu dilepaskan dan ditemukan kembali.

Metode spiritual dapat membantu proses transformasi pada periode itu. Sebagai contoh : tata cara agama dapat membantu individu dalam menyiapkan hati akan kehilangan seseorang yang disayangi, menerima rasa kehilangan tersebut dan merelakan orang yang meninggal tersebut memasuki dunia kekal, menghubungkan keberadaan spiritual dari orang meninggal tersebut dengan pengalaman internal untuk tetap bertahan, dan mendorong orang yang ditinggalkan untuk menemukan sumber baru yang bermakna dalam hidupnya.

Proses menemukan, memelihara, dan menemukan kembali sesuatu yang bermakna tersebut merupakan esensi dari spiritualitas. Proses ini tidak

_____________ISSN 0853-0203

40

Penemuan terhadap sesuatu yang bermakna

Pemeliharaan terhadap yang bermakna

Perubahan internal

Perubahan eksternal

Rediscovery (penemuan kembali)

Relinquished (dilepaskan)

Page 13: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

dimulai dan berakhir pada masa kanak-kanak, demikian juga proses ini tidak dapat disimpulkan pada masa dewasa muda. Ini ada siklus yang terjadi dalam berbagai bentuk di dalam rentang kehidupan. Spiritualitas memiliki bentuk yang berbeda bagi setiap orang bergantung pada paduan faktor biologis, sosial, psikososial, situasional, kekuatan transendental (Synder&Lopez, 2005).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. KesimpulanSpiritualitas merupakan suatu upaya menemukan apa yang

bermakna bagi manusia kemudian memelihara dan menjaganya. Menemukan Tuhan, merupakan pusat dari pemahaman akan spiritualitas. Individu yang menemukan akar kebermaknaan hidupnya akan berusaha memelihara relasinya dengan Tuhan dan memandang tiap aspek hidupnya berdasarkan hubungan yang dibangunnya dengan Tuhan. Berbagai kebajikan (virtues) dan kekuatan (strenghts) muncul melalui hubungan ini. Membangun kehidupan spiritualitas tidak dapat terpisah dari membangun hubungan dengan sesuatu yang bermakna. Dengan demikian, demi membangun kehidupan spiritualitas, individu dapat menggunakan metode menentukan batasan (marking boundaries), penyucian spiritual (spiritual purification), pola pikir spiritual (spiritual reframing). Bentuk-bentuk ritual ibadah merupakan sarana untuk memelihara keterhubungan individu dengan Tuhan sebagai pribadi yang bermakna bagi individu tersebut.

4.2. Saran :

1. Perlu dilakukan telaah teoretis dan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari antara lain dalam pekerjaan, kehidupan berkeluarga atau kehidupan bermasyarakat.

2. Kehidupan spiritulitas dapat dikembangkan melalui pola asuh di keluarga, interaksi dengan masyarakat dan budaya dan tentunya di lingkungan keagamaan. Dengan demikian institusi agama punya peran penting dalam menumbuhkembangkan kesadaran spiritual ini. Maka dari itu, dalam pendidikan keagamaan perlu penekanan dalam aspek spiritualitas, tidak semata-mata ritualitas agama.

_____________ISSN 0853-0203

41

Page 14: akademik.uhn.ac.idakademik.uhn.ac.id/portal/public_html/MM/VISI-UHN/2010/... · Web viewDia juga menyatakan bahwa ada korelasi kedekatan anak-orang tua dengan kedekatan anak-Tuhan

VISI (2010) 18 (1) 29 - 42

DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin, H (2004), Psikologi Agama, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Seligman, Martin E.P., et. al. (2005), Positive Psychology Progress, American Psychological Association Journal, Vol. 60, No.5, 410-421

Synder, C.R. , Shane J. Lopez (2005), Handbook of Positive Psychology, Oxford : Oxford University Press.

Ummah, K, Dimitri M, Agus N. (2003), SEPIA : Kecerdasan Milyuner, Warisan yang Mencerahkan bagi Keturunan Anda, Bandung : Penerbit Ahaa.

_____________ISSN 0853-0203

42