of 28 /28
14 BAB II LANDASAN TEORI A. Penyesuaian Diri Penyesuaian mengacu pada seberapa jauhnya kepribadian individu berfungsi secara efisien dalam masyarakat (Hurlock, 2005). Penyesuaian adalah usaha menusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya (Sunarto dan Hartono, 2008). Penyesuaian merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan (Mu’tadin, 2002). 1. Pengertian Penyesuaian Diri Seorang individu tidak dilahirkan dalam keadaan sudah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri. Penyesuaian diri berlangsung secara terus menerus antara memuaskan kebutuhan diri sendiri dan tuntutan lingkungan, termasuk tuntutan orang lain secara kelompok ataupun masyarakat. Hal ini yang menjadikan penyesuaian diri sebagai komponen penting agar tercapai individu yang sehat secara fisik dan mental (Mu’tadin, 2002). Penyesuaian diri adalah reaksi individu terhadap tuntutan yang dihadapkan kepada individu tersebut. Tuntutan psikologis yang dimaksud dapat diklasifikasikan menjadi tuntutan eksternal dan tuntutan internal (Vembriarto, 1993). Selanjutnya Vembriarto (1993) juga menjelaskan bahwa penyesuaian diri yang dilakukan individu dapat dipahami sebagai

14 BAB II LANDASAN TEORI A. Penyesuaian Diri Penyesuaian

Embed Size (px)

Text of 14 BAB II LANDASAN TEORI A. Penyesuaian Diri Penyesuaian

  • 14

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Penyesuaian Diri

    Penyesuaian mengacu pada seberapa jauhnya kepribadian individu

    berfungsi secara efisien dalam masyarakat (Hurlock, 2005). Penyesuaian

    adalah usaha menusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan

    pada lingkungannya (Sunarto dan Hartono, 2008). Penyesuaian merupakan

    suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan

    tuntutan lingkungan (Mutadin, 2002).

    1. Pengertian Penyesuaian Diri

    Seorang individu tidak dilahirkan dalam keadaan sudah mampu

    menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri. Penyesuaian diri

    berlangsung secara terus menerus antara memuaskan kebutuhan diri

    sendiri dan tuntutan lingkungan, termasuk tuntutan orang lain secara

    kelompok ataupun masyarakat. Hal ini yang menjadikan penyesuaian diri

    sebagai komponen penting agar tercapai individu yang sehat secara fisik

    dan mental (Mutadin, 2002).

    Penyesuaian diri adalah reaksi individu terhadap tuntutan yang

    dihadapkan kepada individu tersebut. Tuntutan psikologis yang dimaksud

    dapat diklasifikasikan menjadi tuntutan eksternal dan tuntutan internal

    (Vembriarto, 1993). Selanjutnya Vembriarto (1993) juga menjelaskan

    bahwa penyesuaian diri yang dilakukan individu dapat dipahami sebagai

  • 15

    hasil (achievement) dan atau sebagai proses. Penyesuaian diri sebagai hasil

    berhubungan dengan kualitas atau efisiensi penyesuaian diri yang

    dilakukan individu. Penyesuaian diri individu dapat dievaluasi menjadi

    baik atau buruk dan secara praktis dapat dibandingkan dengan penyesuaian

    diri yang dilakukan oleh individu lain dengan meninjau kualitas atau

    efesiensinya. Konsep kedua, yaitu penyesuaian diri sebagai proses

    menekankan pada cara atau pola yang dilakukan individu untuk

    menghadapi tuntutan yang dihadapkan kepadanya.

    Runyon dan Haber (1984) mengemukakan bahwa penyesuaian diri

    dapat dipandang sebagai keadaan (state) atau sebagai proses. Penyesuaian

    diri sebagai keadaan berarti bahwa penyesuaian diri merupakan suatu

    tujuan yang ingin dicapai oleh individu. Menurut Runyon dan Haber,

    konsep penyesuaian diri sebagai keadaan mengimplikasikan bahwa

    individu merupakan keseluruhan yang bisa bersifat well adjusted dan

    maladjusted. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik terkadang

    tidak dapat meraih tujuan yang ditetapkannya, membuat dirinya atau orang

    lain kecewa, merasa bersalah, dan tidak dapat lepas dari perasaan takut dan

    kuatir. Penyesuaian diri sebagai tujuan atau kondisi ideal yang diharapkan

    tidak mungkin dicapai oleh individu dengan sempurna. Tidak ada individu

    yang berhasil menyesuaikan diri dalam segala situasi sepanjang waktu

    karena situasi senantiasa berubah. Runyon dan Haber (1984) menjelaskan

    bahwa penyesuaian dirimerupakan proses yang terus berlangsung dalam

    kehidupan individu. Situasi dalam kehidupan selalu berubah. Individu

  • 16

    mengubah tujuan dalam hidupnya seiring dengan perubahan yang terjadi

    di lingkungannya. Berdasarkan konsep penyesuaian diri sebagai proses,

    penyesuaian diri yang efektif dapat diukur dengan mengetahui bagaimana

    kemampuan individu menghadapi lingkungan yang senantiasa berubah.

    Calhoun dan Acocella (1990) menyatakan bahwa penyesuaian diri

    adalah interaksi individu yang terus-menerus dengan dirinya sendiri,

    dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitar tempat individu hidup.

    Schneiders menyatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses

    yang mencakup respon mental dan tingkah laku individu, yaitu individu

    berusaha keras agar mampu mengatasi konflik dan frustrasi karena

    terhambatnya kebutuhan dalam dirinya, sehingga tercapai keselarasan dan

    keharmonisan antara diri sendiri dengan lingkungannya. Penyesuaian diri

    juga sebagai interaksi terus-menerus antara individu dengan

    lingkungannya yang melibatkan sistem behavioral, kognisi, dan emosional.

    Dalam interaksi tersebut baik individu maupun lingkungan menjadi agen

    perubahan. (Schneiders, 1991).

    Penyesuaian diri diartikan sebagai keberhasilan seseorang untuk

    menyesuaikan diri terhadap orang lain pada umumnya dan terhadap

    kelompok pada khususnya (Hurlock, 2006). Orang yang dapat

    menyesuaikan diri dengan baik mempelajari berbagai keterampilan sosial

    seperti kemampuan untuk menjalin hubungan secara diplomatis dengan

    orang lain, baik teman maupun orang yang tidak dikenal sehingga sikap

    orang lain terhadap mereka menyenangkan. Meichiati (1983) menyebutkan

  • 17

    penyesuaian sosial adalah usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi

    yang serasi antara seseorang dengan masyarakat sekitarnya sehingga

    terjadi hubungan yang bertimbal balik yang harmonis antara keduanya.

    Penyesuaian sosial dapat berlangsung karena ada dorongan manusia untuk

    memenuhi kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan ini adalah untuk mencapai

    kesimbangan antara tuntutan sosial dengan harapan yang ada dalam

    dirinya.

    Schneiders (1991) mendefenisikan penyesuaian diri sebagai suatu

    kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dan bermanfaat terhadap

    realitas, situasi dan relasi sosial sehingga kriteria yang harus dipenuhi

    dalam kehidupan sosialnya dapat terpenuhi dengan cara-cara yang dapat

    diterima dan memuaskan. Menurut Agustina (2006), penyesuaian diri

    merupakan penyesuaian yang dilakukan individu terhadap lingkungan

    yang berada di luar dirinya seperti lingkungan rumah, sekolah dan

    masyarakat.

    Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa

    penyesuaian diri adalah kemampuan individu dalam menghadapi

    perubahan yang terjadi dalam hidupnya, untuk mempertemukan tuntutan

    diri dan lingkungan agar tercapai keadaan atau tujuan yang diharapkan

    oleh diri sendiri dan lingkungannya.

  • 18

    2. Kriteria Penyesuaian Diri

    Penyesuaian diri berlangsung secara terus-menerus dalam diri

    individu dan lingkungan. Schneiders (1991) memberikan kriteria

    individu dengan penyesuaian diri yang baik, yaitu sebagai berikut :

    a) Pengetahuan tentang kekurangan dan kelebihan dirinya.

    b) Objektivitas diri dan penerimaan diri

    c) Kontrol dan perkembangan diri

    d) Integrasi pribadi yang baik

    e) Adanya tujuan dan arah yang jelas dari perbuatannya

    f) Adanya perspektif, skala nilai, filsafat hidup yang adekuat

    g) Mempunyai rasa humor

    h) Mempunyai rasa tanggung jawab

    i) Menunjukkan kematangan respon

    j) Adanya perkembangan kebiasaan yang baik

    k) Adanya adaptabilitas

    l) Bebas dari respon-respon yang simtomatis atau cacat

    m) Memiliki kemampuan bekerjasama dan menaruh minat terhadap

    orang lain

    n) Memiliki minat yang besar dalam bekerja dan bermain

    o) Adanya kepuasan dalam bekerja dan bermain

    p) Memiliki orientasi yang adekuat terhadap realitas

  • 19

    Lazarus (1961) menyatakan bahwa penyesuaian diri yang baik

    mencakup empat ciri sebagai berikut :

    a) Kesehatan fisik yang baik

    Kesehatan fisik yang baik berarti individu bebas dari gangguan

    kesehatan seperti sakit kepala, gangguan pencernaan dan masalah

    selera makan ataupun masalah fisik yang disebabkan faktor

    psikologis.

    b) Kenyamanan psikologis

    Individu yang merasakan kenyamanan psikologis berarti terbebas

    dari gejala psikologis seperti obsesif-kompulsif, kecemasan dan

    depresi.

    c) Efisiensi kerja

    Efisiensi kerja dapat dicapai bila individu mampu memanfaatkan

    kapasitas kerja maupun sosialnya.

    d. Penerimaan sosial

    Penerimaan sosial terjadi bila individu diterima dan dapat

    berinteraksi dengan individu lain. Individu dapat diterima dan

    berinteraksi dengan individu lain jika individu mematuhi norma dan

    nilai yang berlaku.

  • 20

    3. Aspek-aspek Penyesuaian Diri

    Schneiders (1991) mengungkapkan bahwa penyesuaian diri yang

    baik meliputi enam aspek sebagai berikut :

    a. Kontrol terhadap emosi yang berlebihan

    Aspek pertama menekankan kepada adanya kontrol dan ketenangan

    emosi individu yang memungkinkannya untuk menghadapi

    permasalahan secara inteligen dan dapat menentukan berbagai

    kemungkinan pemecahan masalah ketika muncul hambatan. Bukan

    berarti tidak ada emosi sama sekali, tetapi lebih kepada kontrol

    emosi ketika menghadapi situasi tertentu.

    b) Mekanisme pertahanan diri yang minimal

    Aspek kedua menjelaskan pendekatan terhadap permasalahan lebih

    mengindikasikan respon yang normal dari pada penyelesaian

    masalah yang memutar melalui serangkaian mekanisme pertahanan

    diri yang disertai tindakan nyata untuk mengubah suatu kondisi.

    Individu dikategorikan normal jika bersedia mengakui kegagalan

    yang dialami dan berusaha kembali untuk mencapai tujuan yang

    ditetapkan. Individu dikatakan mengalami gangguan penyesuaian

    jika individu mengalami kegagalan dan menyatakan bahwa tujuan

    tersebut tidak berharga untuk dicapai.

    c) Frustrasi personal yang minimal

    Individu yang mengalami frustrasi ditandai dengan perasaan tidak

    berdaya dan tanpa harapan, maka akan sulit bagi individu untuk

  • 21

    mengorganisir kemampuan berpikir, perasaan, motivasi dan tingkah

    laku dalam menghadapi situasi yang menuntut penyelesaian.

    d) Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri

    Individu memiliki kemampuan berpikir dan melakukan

    pertimbangan terhadap masalah atau konflik serta kemampuan

    mengorganisasi pikiran, tingkah laku dan perasaan untuk

    memecahkan masalah, dalam kondisi sulit sekalipun menunjukkan

    penyesuaian yang normal. Individu tidak mampu melakukan

    penyesuaian diri yang baik apabila individu dikuasai oleh emosi

    yang berlebihan ketika berhadapan dengan situasi yang

    menimbulkan konflik.

    e) Kemampuan untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman masa

    lalu.

    Penyesuaian normal yang ditunjukkan individu merupakan proses

    belajar berkesinambungan dari perkembangan individu sebagai hasil

    dari kemampuannya mengatasi situasi konflik dan stres. Individu

    dapat menggunakan pengalamannya maupun pengalaman orang lain

    melalui proses belajar. Individu dapat melakukan analisis mengenai

    faktor-faktor apa saja yang membantu dan mengganggu

    penyesuaiannya.

  • 22

    f) Sikap realistik dan objektif

    Sikap yang realistik dan objektif bersumber pada pemikiran yang

    rasional, kemampuan menilai situasi, masalah dan keterbatasan

    individu sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

    Hurlock (2006) mengemukakan aspek-aspek dalam penyesuaian

    diri, antara lain :

    a) Penampilan nyata

    Overperformance yang diperlihatkan individu sesuai norma yang

    berlaku di dalam kelompoknya, berarti individu dapat memenuhi

    harapan kelompok dan dapat diterima menjadi anggota kelompok

    tersebut.

    b) Penyesuaian diri terhadap kelompok

    Hal ini berarti bahwa individu tersebut mampu menyesuaikan diri

    secara baik dengan kelompok yang dimasukinya, baik teman sebaya

    maupun orang dewasa.

    c) Sikap sosial

    Individu mampu menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap

    orang lain, ikut berpartisipasi dan dapat menjalankan perannya

    dengan baik dalam kegiatan sosial.

    d) Kepuasan pribadi

    Hal ini ditandai dengan adanya rasa puas dan perasaan bahagia

    karena dapat ikut ambil bagian dalam aktifitas kelompoknya dan

    mampu menerima diri sendiri apa adanya dalam situasi sosial.

  • 23

    Runyon dan Haber (1984) menyebutkan bahwa penyesuaian diri

    yang dilakukan individu memiliki 5 (lima) aspek sebagai berikut :

    a) Persepsi terhadap realitas

    Individu mengubah persepsinya tentang kenyataan hidup dan

    menginterpretasikannya, sehingga mampu menentukan tujuan yang

    realistik sesuai dengan kemampuannya serta mampu mengenali

    konsekuensi dan tindakannya agar dapat menuntun pada perilaku

    yang sesuai.

    b) Kemampuan mengatasi stres dan kecemasan

    Mempunyai kemampuan mengatasi stres dan kecemasan berarti

    individu mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam

    hidup dan mampu menerima kegagalan yang dialami.

    c) Gambaran diri yang positif

    Gambaran diri yang positif berkaitan dengan penilaian individu

    tentang dirinya sendiri. Individu mempunyai gambaran diri yang

    positif baik melalui penilaian pribadi maupun melalui penilaian

    orang lain, sehingga individu dapat merasakan kenyamanan

    psikologis.

    d) Kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik

    Kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik berarti individu

    memiliki ekspresi emosi dan kontrol emosi yang baik.

  • 24

    e) Hubungan interpersonal yang baik

    Memiliki hubungan interpersonal yang baik berkaitan dengan

    hakekat individu sebagai makhluk sosial, yang sejak lahir tergantung

    pada orang lain.Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik

    mampu membentuk hubungan dengan cara yang berkualitas dan

    bermanfaat.

    Berdasarkan penjelasan diatas, aspek-aspek yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah aspek penyesuaian diri menurut Scchneider (1991),

    yaitu kontrol terhadap emosi yang berlebihan, mekanisme pertahanan diri

    yang minimal, frustrasi personal yang minimal, pertimbangan rasional dan

    kemampuan mengarahkan diri, kemampuan untuk belajar dan

    memanfaatkan pengalaman masa lalu, sikap realistik dna objektif

    4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri

    Sawrey dan Telford (1968) mengemukakan bahwa penyesuaian

    bervariasi sifatnya, apakah sesuai atau tidak dengan keinginan sosial,

    sesuai atau tidak dengan keinginan personal, menunjukkan konformitas

    sosial atau tidak, dan atau kombinasi dari beberapa sifat di atas. Sawrey

    dan Telford (1968) lebih jauh lagi mengemukakan bahwa penyesuaian

    yang dilakukan tergantung pada sejumlah faktor yaitu pengalaman

    terdahulu, sumber frustrasi, kekuatan motivasi, dan kemampuan individu

    untuk menanggulangi masalah.

  • 25

    Menurut Schneiders (1991) faktor-faktor yang mempengaruhi

    penyesuaian diri adalah :

    a) Keadaan fisik

    Kondisi fisik individu merupakan faktor yang mempengaruhi

    penyesuaian diri, sebab keadaan sistem-sistem tubuh yang baik

    merupakan syarat bagi terciptanya penyesuaian diri yang baik.

    Adanya cacat fisik dan penyakit kronis akan melatarbelakangi

    adanya hambatan pada individu dalam melaksanakan penyesuaian

    diri.

    b) Perkembangan dan kematangan

    Bentuk-bentuk penyesuaian diri individu berbeda pada setiap tahap

    perkembangan. Sejalan dengan perkembangannya, individu

    meninggalkan tingkah laku infantil dalam merespon lingkungan. Hal

    tersebut bukan karena proses pembelajaran semata, melainkan

    karena individu menjadi lebih matang. Kematangan individu dalam

    segi intelektual, sosial, moral, dan emosi mempengaruhi bagaimana

    individu melakukan penyesuaian diri.

    c) Keadaan psikologis

    Keadaan mental yang sehat merupakan syarat bagi tercapainya

    penyesuaian diri yang baik, sehingga dapat dikatakan bahwa adanya

    frustrasi, kecemasan dan cacat mental akan dapat melatarbelakangi

    adanya hambatan dalam penyesuaian diri. Keadaan mental yang baik

    akan mendorong individu untuk memberikan respon yang selaras

  • 26

    dengan dorongan internal maupun tuntutan lingkungannya. Variabel

    yang termasuk dalam keadaan psikologis di antaranya adalah

    pengalaman, pendidikan, konsep diri, dan keyakinan diri.

    d) Keadaan lingkungan

    Keadaan lingkungan yang baik, damai, tentram, aman, penuh

    penerimaan dan pengertian, serta mampu memberikan perlindungan

    kepada anggota-anggotanya merupakan lingkungan yang akan

    memperlancar proses penyesuaian diri. Sebaliknya apabila individu

    tinggal di lingkungan yang tidak tentram, tidak damai, dan tidak

    aman, maka individu tersebut akan mengalami gangguan dalam

    melakukan proses penyesuaian diri. Keadaan lingkungan yang

    dimaksud meliputi sekolah, rumah, dan keluarga. Sekolah bukan

    hanya memberikan pendidikan bagi individu dalam segi intelektual,

    tetapi juga dalam aspek sosial dan moral yang diperlukan dalam

    kehidupan sehari-hari. Sekolah juga berpengaruh dalam

    pembentukan minat, keyakinan, sikap dan nilai-nilai yang menjadi

    dasar penyesuaian diri yang baik (Schneiders, 1991).

    Keadaan keluarga memegang peranan penting pada individu dalam

    melakukan penyesuaian diri. Susunan individu dalam keluarga,

    banyaknya anggota keluarga, peran sosial individu serta pola

    hubungan orang tua dan anak dapat mempengaruhi individu dalam

    melakukan penyesuaian diri. Keluarga dengan jumlah anggota yang

    banyak mengharuskan anggota untuk menyesuaikan perilakunya

  • 27

    dengan harapan dan hak anggota keluarga yang lain. Situasi tersebut

    dapat mempermudah penyesuaian diri, proses belajar, dan sosialisasi

    atau justru memunculkan persaingan, kecemburuan, dan agresi.

    Setiap individu dalam keluarga memainkan peran sosial sesuai

    dengan harapan dan sikap anggota keluarga yang lain. Orang tua

    memiliki sikap dan harapan supaya anak berperan sesuai dengan

    jenis kelamin dan usianya. Sikap dan harapan orang tua yang

    realistik dapat membantu remaja mencapai kedewasaannya sehingga

    remaja dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan tanggung

    jawab. Sikap orang tua yang overprotektif atau kurang peduli akan

    menghasilkan remaja yang kurang mampu menyesuaikan diri.

    Hubungan anak dengan orang tua dapat mempengaruhi penyesuaian

    diri. Penerimaan orangtua terhadap remaja memberikan

    penghargaan, rasa aman, kepercayaan diri, afeksi pada remaja yang

    mendukung penyesuaian diri dan stabilitas mental. Sebaliknya,

    penolakan orang tua menimbulkan permusuhan dan kenakalan

    remaja. Identifikasi anak pada orang tua juga mempengaruhi

    penyesuaian diri. Apabila orang tua merupakan model yang baik,

    identifikasi akan menghasilkan pengaruh yang baik terhadap

    penyesuaian diri.

    e) Tingkat religiusitas dan kebudayaan

    Religiusitas merupakan faktor yang memberikan suasana psikologis

    yang dapat digunakan untuk mengurangi konflik, frustrasi dan

  • 28

    ketegangan psikis lain. Religiusitas memberi nilai dan keyakinan

    sehingga individu memiliki arti, tujuan, dan stabilitas hidup yang

    diperlukan untuk menghadapi tuntutan dan perubahan yang terjadi

    dalam hidupnya (Schneiders, 1991). Kebudayaan pada suatu

    masyarakat merupakan suatu faktor yang membentuk watak dan

    tingkah laku individu untuk menyesuaikan diri dengan baik atau

    justru membentuk individu yang sulit menyesuaikan diri.

    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor

    yang mempengaruhi penyesuaian diri meliputi keadaan fisik individu,

    perkembangan dan kematangan psikologis, lingkungan, serta religiusitas

    dan kebudayaan.

    B. Konseling Realitas

    1. Pengertian Konseling Realitas

    Konseling realitas diperkenalkan oleh William Glasser pada tahun

    1950. Konseling realitas merupakan suatu pendekatan yang dikembangkan

    sebagai reaksi melawan konseling konvensional. Konseling realitas adalah

    konseling yang bersifat jangka pendek yang berfokus pada kondisi saat ini,

    menekankan pada kekuatan pribadi, dan mendorong individu untuk

    mengembangkan tingkah laku yang lebih realistik agar dapat mencapai

    kesuksesan (Corey, 2005).

    Glasser (dalam Latipun, 2008) mendasari pendekatan realitas

    dengan pandangannya yaitu bahwa setiap manusia memiliki dua

  • 29

    kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis. Kebutuhan

    fisiologis yang dimaksud adalah sama dengan pandangan ahli lain,

    sedangkan kebutuhan psikologis manusia yang mendasar ada dua macam,

    yaitu : (1) kebutuhan dicintai dan mencintai, dan (2) kebutuhan akan

    penghargaan. Kedua kebutuhan psikologis itu bila digabungkan menjadi

    satu kebutuhan yang sangat utama yang disebut kebutuhan identitas

    (identity). Identitas merupakan cara seseorang melihat dirinya sendiri

    sebagai manusia dalam hubungannya dengan orang lain dan dunia luarnya.

    Setiap orang mengembangkan gambaran identitasnya (identity image)

    berdasarkan atas pemenuhan kebutuhan psikologisnya. Individu yang

    berhasil menemukan kebutuhannya, yaitu terpenuhinya kebutuhan cinta

    dan penghargaan akan mengembangkan gambaran diri sebagai orang yang

    berhasil dan membentuk identitasnya dengan success identity sebaliknya

    jika individu yang gagal menemukan kebutuhannya, akan

    mengembangkan gambaran diri sebagai orang yang gagal dan membentuk

    identitasnya dengan identitas kegagalan (failure identity). Gambaran

    identitas ini dimiliki oleh setiap orang mulai dari usia lima tahun hingga

    dewasa. Berdasarkan segenap pengalaman-pengalamannya, individu akan

    memberikan gambaran terhadap dirinya sebagai orang yang berhasil atau

    gagal. Konseling realitas dalam hal ini berperan untuk membantu individu

    dalam mencapai success identity, dimana dalam konseling, konselor akan

    berfokus pada perilaku individu saat ini. Namun, konseling realitas

    berbeda dengan pendekatan behavioral yang berfokus pada stimulus

  • 30

    respon. Konseling ini berpusat pada person yang melihat perilaku dalam

    konteks fenomenologis.

    Berdasarkan pandangan-pandangan diatas, dapat dinyatakan bahwa

    konseling realitas adalah konseling yang bersifat jangka pendek. Konselor

    pada konseling realitas menekankan pada kekuatan pribadi yang dimiliki

    oleh individu. Konseling realitas berfokus pada perilaku individu saat ini

    dan membuka jalan kepada individu untuk menampilkan perilaku yang

    dapat membawa individu ke keberhasilan dan pada akhirnya

    memunculkan success identity di dalam diri individu.

    2. Prosedur Konseling Realitas

    Prosedur konseling realitas dapat dilakukan dengan langkah

    WDEP, yaitu wants, direction and doing, evaluation, dan planning(Corey,

    1996).

    Berikut ini adalah penjelasan dari langkah WDEP :

    a) Wants : Wants merupakan suatu tahapan dimana konselor melakukan

    eksplorasi terhadap harapan, kebutuhan dan persepsi dari individu.

    Konselor dapat bertanya, Apa yang anda inginkan?. Melalui

    pertanyaan-pertanyaan yang diajukan konselor, seorang individu

    diharapkan dapat memahami apakah harapan-harapan mereka sejalan

    dengan kebutuhan mereka saat ini. Konselor pada tahapan ini harus

    bersifat hangat dan menerima sehingga memungkinkan konseli untuk

    menjabarkan setiap hal yang ia inginkan baik dalam keluarga,

    pertemanan, ataupun pekerjaan. Beberapa pertanyaan yang dapat

  • 31

    digunakan pada sesi ini adalah : Jika anda sudah menjadi sosok

    impian anda, bagaimanakah sosok itu? Bagaimana reaksi keluarga

    anda jika keinginan mereka dan keingsinan anda sejalan? Apakah

    anda ingin berubah? Menurut anda, apa yang membuat anda tidak

    dapat berubah?

    b) Direction and Doing : Konselor realitas menekankan pada perilaku

    saat ini dan bukan pada masa lalu. Oleh karenanya, seorang konselor

    realitas biasanya sering bertanya, Apa yang anda lakukan saat ini?

    Meskipun suatu masalah bisa berakar dari pengalaman masa lalu,

    namun individu perlu belajar bagaimana cara berdamai dengan masa

    lalunya dan menunjukkan perilaku yang lebih baik untuk mencapai

    keinginannya. Kondisi masa lalu individu boleh saja didiskusikan

    apabila hal itu memang dapat membantu individu menyusun

    perencanaan hidup yang lebih baik.

    Pada sesi ini, konselor mendiskusikan dengan individu mengenai apa

    saja tujuan hidup mereka, apa yang akan mereka lakukan, dan kemana

    hidup mereka akan berjalan dengan perilaku yang mereka tunjukkan

    saat ini. Seorang konselor dapat bertanya, Apa yang anda lihat pada

    diri anda saat ini? Bagaimana masa depan anda?.

    c) Evaluation

    Inti dari konseling realitas adalah untuk membantu individu

    mengevaluasi perilakunya. Konselor dapat bertanya, Apakah

    perilaku anda saat ini cukup rasional untuk membawa anda ke

  • 32

    keinginan anda? Apakah perilaku anda dapat mewujudkan apa yang

    menjadi keinginan anda?.Konselor pada tahapan ini dapat

    mengkonfrontasi individu mengenai konsekuensi dari perilakunya.

    d) Planning and Commitment

    Ketika individu sudah dapat menentukan apa yang mereka inginkan

    dan siap untuk diajak mengeksplorasi bentuk-bentuk perilaku yang

    dapat membawa mereka ke tujuan yang mereka inginkan, maka sudah

    waktunya konselor mengajak individu membuat rencana aksi.

    Wubbolding (dalam Corey, 1996) mengemukakan bahwa dalam

    membuat perencanaan perilaku, ada beberapa hal yang harus diperhatikan

    yaitu :

    a) Pembuatan rencana perilaku harus memperhatikan kapasitas

    motivasi dan kemampuan dari setiap individu. Seorang konselor

    yang terlatih dapat membantu individu untuk membuat

    perencanaan yang memuaskan kehidupannya. Konselor misalnya

    dapat bertanya kepada individu, rencana seperti apa yang harus

    anda buat agar anda lebih puas dengan hidup anda?

    b) Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang sederhana dan

    mudah dimengerti. Perencanaan perilaku harus bersifat spesifik,

    konkrit, dapat diukur, dan harus fleksibel atau dapat diubah-ubah

    ketika individu sudah memahami perilaku apa yang sebenarnya

    ingin diubah.

  • 33

    c) Perencanaan yang dibuat haruslah berdasarkan pada persetujuan

    individu.

    d) Konselor harus mendorong individu untuk membuat

    perencanaannya sendiri

    e) Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang bersifat repetitif

    dan dilakukan setiap hari

    f) Perencanaan harus dilakukan sesegera mungkin

    g) Perencanaan yang baik meliputi aktivitas yang bersifat process

    centered, misalnya : individu dapat memiliki rencana untuk

    melamar pekerjaan, menulis surat untuk teman, masuk klub yoga,

    makan makanan bergizi, dan berlibur

    h) Sebelum individu melakukan perencanaan, ada baiknya jika

    individu diminta untuk mengevaluasi perencanaan yang dibuat,

    apakah perencanaan tersebut sudah realistis.

    i) Untuk memastikan bahwa individu akan melaksanakan rencana

    yang sudah dibuat, maka individu harus membuat pernyataan

    secara tertulis.

    Pelaksanaan konseling realitas pada penelitian ini akan dilakukan secara

    berkelompok. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa

    konseling kelompok adalah konseling yang melibatkan satu atau dua orang

    konselor yang membawakan konseling untuk satu kelompok yang terdiri dari 5

    (lima) hingga 15 (lima belas) orang individu yang memiliki permasalahan yang

    sama (Corey, 1996). Spitz dan Spitz (1999) menyebutkan bahwa konseling

  • 34

    kelompok adalah konseling yang dibawakan oleh seorang profesional untuk

    sekelompok orang yang memiliki keinginan untuk menyelesaikan

    permasalahannya secara bersama-sama. Anggota kelompok adalah orang-orang

    yang memiliki permasalahan psikologis yang sama dan membutuhkan konseling

    untuk menyelesaikan permasalahannya.

    American Psychological Association (APA) jugamenuliskan bahwa

    konseling kelompok menawarkan keuntungan yang tidak didapatkan dalam

    konseling individual, yaitu adanya dukungan dari individu-individu yang senasib

    sehingga setiap anggota kelompok dapat menyadari bahwa ia bukan satu-satunya

    orang yang mengalami masalah. Selain itu, konseling kelompok juga

    memungkinkan anggota kelompok belajar dari pengalaman anggota kelompok

    lain yang berhasil mengatasi masalahnya dengan strategi tertentu (Coey, 1996).

    Berdasarkan prosedur konseling diatas, maka dapat disimpulkan bahwa

    konseling realitas secara garis besar melalui empat tahapan yang disebut WDEP

    (wants, direction and doing, evaluation, dan planning and commitment). Saat

    memasuki tahapan planning and commitment, seorang konselor juga harus

    memperhatikan sembilan hal yang dikemukakan oleh Corey (1996) agar individu

    dapat membuat suatu perencanaan yang relistis, spesifik, mudah dimengerti, dan

    dapat segera dilaksanakan. Adapun pelaksanaan konseling realitas yang akan

    diselenggarakan secara berkelompok dapat diartikan sebagai bentuk konseling

    realitas yang dibawakan oleh satu, dua, atau beberapa konselor. Anggota

    kelompok yang mengikuti konseling realitas berjumlah antara 5-15 orang,

    memiliki permasalahan psikologis yang sama, membutuhkan bantuan psikologis,

  • 35

    dan bersedia mengikuti konseling kelompok (menyelesaikan permasalahannya

    bersama-sama dengan orang lain).

    3. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan konseling

    Lynch (2012) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang

    mempengaruhi keberhasilan dari suatu konseling, yaitu :

    a) Kedekatan antara konselor dan individu

    Kedekatan antara konselor dengan individu merupakan hal yang

    penting untuk meraih kesuksesan dalam konseling. Konselor

    harus mampu menunjukkan beberapa karakteristik yang mampu

    meningkatkan rapport dalam konseling seperti tertarik pada

    masalah individu, tenang, hangat, dan penuh penghargaan

    terhadap individu.

    Kedekatan antara konselor dan individu biasanya dapat dibentuk

    dalam waktu yang cukup cepat yaitu 2-4 sesi atau bahkan 10

    menit saja, tergantung dari bagaimana pembawaan konselor saat

    pertama kali bertemu dengan individu.

    b) Motivasi Subjek

    Motivasi individu dalam mengikuti konseling adalah kunci utama

    yang menentukan keberhasilan dari suatu konseling. Motivasi

    subjek dapat terlihat dari kehadiran subjek dalam seluruh sesi

    konseling dan kemampuan subjek untuk selalu bersikap

    kooperatif.

  • 36

    c) Kemampuan subjek mempelajari perilaku baru

    Subjek yang berhasil meraih kesuksesan adalah subjek yang

    merasa kondisinya lebih baik setelah mengikuti konseling. Hal ini

    ditunjukkan dengan kesediaan dan kemampuan subjek untuk

    mempelajari perilaku baru seperti meningkatnya rasa percaya diri,

    ataupun berkurangnya simptom-simptom yang sebelumnya

    dimiliki.

    C. Efektivitas Konseling Realitas untuk Meningkatkan Penyesuaian Diri

    Taruna

    Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang mencakup

    respon-respon mental dan tingkah laku, yang merupakan usaha individu

    agar berhasil mengatasi kebutuhan, ketegangan, konflik dan frustasi yang

    dialami dalam dirinya (Agustiani, 2009). Satriawan (2013) dalam

    penelitiannya menjelaskan bahwa penyesuaian diri penting bagi siswa

    untuk menyeimbangkan kebutuhannya dengan lingkungan sehingga tercipta

    suasana yang harmonis antara siswa dengan tuntutan yang bersumber dari

    lingkungan. Kemampuan siswa untuk menyesuaikan diri mempunyai

    pengaruh yang cukup besar dalam memberikan persepsi terhadap keadaan

    yang dihadapi, siswa yang yang memiliki penyesuaian diri yang baik akan

    mampu menhadapi keadaan yang sulit dengan penyesuaian diri yang

    positif. Davidoff (1991) mengatakan bahwa manusia dituntut untuk

    menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan alam

  • 37

    sekitarnya. Proses penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti

    faktor fisiologis, faktor psikologis, faktor perkembangan dan kematangan,

    faktor lingkungan, faktor budaya dan agama (Enung, 2008).

    Penyesuaian diri berlangsung secara terus-menerus dalam diri

    individu dan lingkungan. Penjabaran defenisi tersebut memberikan

    penjelasan bahwa dengan penyesuaian diri yang baik, siswa diharapkan

    semakin mampu untuk menghadapi lingkungannya dan memiliki cara

    pandang yang positif dalam menghadapi setiap tuntutan dalam lingkungan

    pendidikan. Kemampuan untuk mampu menghadapi realita lingkungan

    dapat ditingkatkan melalui pemberian intervensi berupa konseling realita.

    Melalui pemberian konseling realita maka siswa akan semakin mampu

    untuk menghadapi kenyataan hidup yang selanjutnya semakin mampu

    menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya. Fokus dalam konseling

    realitas ini adalah permasalahan yang sedang dihadapi dan kenyataan yang

    dihadapi siswa pada saat ini (Fauzan, 2004).

    Konseling realitas mengidealkan tingkah laku sebagai individu

    yang tercukupi kebutuhannya akan cinta dan harga diri, mengembangkan

    tingkah laku yang normal yakni yang bertanggung jawab dan berorientasi

    pada realita, mengidentifikasi diri sebagai individu yang berhasil atau

    sukses (Fauzan, 2004). Proses konseling realita menggunakan prinsip 3 R

    (Right, Responsibility,Reality), yang mempunyai arti: 1) Right, yang

    dimaksud Glasser ada ukuran atau norma yang diterima secara umum

    diamana tingkah laku dapat diperbandingkan; 2) Responsibility, prinsip ini

  • 38

    merupakan kemampuan untuk mencapai sesuatu kebutuhan dan untuk

    berbuat dalam cara yang tidak merampas keinginan orang lain dalam

    memenuhi kebutuhan mereka; 3) Reality, dalam hal ini orang harus

    memahami bahwa ada dunia nyata dari bahwa mereka harus memenuhi

    kebutuhan-kebutuhannya dalam kerangka kerja tertentu (Fauzan, 2004).

    Berdasarkan pandangan tersebut konseling realita mempunyai tujuan yaitu

    membantu individu mencapai otonomi, konseling ini juga membantu

    individu dalam mengartikan dan memperluas tujuan-tujuan hidup mereka,

    menekankan tujuan konseling realita dari sudut pandang konselor (Fauzan,

    2004). Seperti halnya pendekatan-pendekatn konseling lainnya yang

    mempunyai pprosedur dalam pelaksanaannya konseling realita juga

    mempunyai prosedur dalam melakukan konseling.

    Fauzan (2004) juga mengungkapkan prosedur konseling realita

    yang didasarkan pada delapan prinsip yaitu: (involvement: focus on

    personal), berpusat pada tingkah laku (focus on behavior, pertimbangan

    nilai (value judgment), perencanaan tingkah laku yang bertanggung jawab

    (planning responsible behavior), kesepakatan (commitment), tiada ampunan

    (no-excuse), dan membatasi hubungan (eliminate punishment). Oleh

    karenaitu melalui penggunaan konseling realitas diharapkan individu

    mampu merencanakan dan memunculkan perilaku yang bertanggung jawab

    dan sesuai dengan tuntutan lingkungan sekitar. Terkait dengan penerapan

    konseling realitas ini, Satriawan (2013) melakukan penelitian untuk melihat

    efektivitas konseling realitas terhadap penyesuaian diri, ia membuktikan

  • 39

    bahwa konseling realitas efektif untuk meningkatkan penyesuaian diri.

    Berdasarkan penjelasan ini maka diharapkan konseling realitas dapat

    meningkatkan penyesuaian diri taruna sehingga semakin mampu

    menyesuaikan dirinya dan bersikap mandiri secara optimal.

  • 40

    Hasil preliminary research: ada taruna tingkat I ATKP Medan yang memiliki penyesuaian diri rendah

    Experiment group (EG):5 orang

    Control group (CG):5 orang

    Mendapat intervensi : konseling realitas

    W : eksplorasi keinginan dan harapan taruna D : mengidentififkasi tindakan/perilaku yang telah dilakukan taruna E : evaluasi kesesuaian antara harapan taruna dengan tindakan/perilaku yang dilakukan P : membuat rencana perubahan perilaku penyesuaian diri

    Analisa hasil posttestuntuk melihat apakah ada perbedaan skor penyesuaian diri pada CG dan EG

    Pretest: Pengukuran skor penyesuaian

    diri sebelum intervensi

    Tidak mendapat intervensi

    Pretest: Pengukuran skor penyesuaian

    diri sebelum intervensi

    Diberi intervensi konseling realitas (pretest-posttest control group design)

    Gambar 2.1 Bagan Paradigma Penelitian

    Follow up

  • 41

    D. Hipotesa Penelitian

    Ho : Tidak terdapat perbedaan penyesuaian diri antara kelompok yang

    diberi intervensi konseling realitas (kelompok eksperimen) dan kelompok

    yang tidak diberi intervensi konseling realitas (kelompok kontrol).

    Ha : terdapat perbedaan penyesuaian diri kelompok yang diberi

    intervensi konseling realitas (kelompok eksperimen) dan kelompok yang

    tidak diberi intervensi konsleing realitas (kelompok kontrol), dimana

    kelompok yang mendapat intervensi konseling realitas memiliki

    penyesuaian diri yang lebih tinggi dibanding kelompok yang tidak

    mendapat intervensi konseling realitas.