of 41/41
PENYESUAIAN DIRI REMAJA PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK MAKALAH Diajukan guna melengkapi nilai tugas Mata kuliah Perkembangan Peserta Didik Oleh: Iqmal Khadafi 150210203053 Nisrina Nur Athayya 150210203054 M. Syahrul Efendy 150210302057 Bidayatul Hidayah 150210302062 POGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 1

2. Makalah Penyesuaian Diri Remaja

  • View
    66

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tentang penyesuaian diri remaja

Text of 2. Makalah Penyesuaian Diri Remaja

PENYESUAIAN DIRI REMAJA

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIKMAKALAH

Diajukan guna melengkapi nilai tugas Mata kuliah Perkembangan Peserta DidikOleh:Iqmal Khadafi

150210203053

Nisrina Nur Athayya 150210203054

M. Syahrul Efendy

150210302057

Bidayatul Hidayah

150210302062

POGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JEMBER

2015

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmad dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah yang berjudul Penyesuaian Diri Remaja. Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini.

Dengan makalah ini diharapkan kami dapat mengkaji lebih dalam lagi tentang Penyesuaian Diri Remaja serta permasalahan diri remaja. Kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan tentang Penyesuaian Diri Remaja lebih dalam lagi.

Kami sebagai penyusun makalah ini menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Kritik yang membangun kami terima dengan tangan terbuka demi perbaikan makalah ini sehingga menjadi makalah yang baik dan benar.

Terimakasih kepada Ibu Drs. Nurul Umamah selaku Dosen mata kuliah Perkembangan Peserta Didik yang senantiasa membimbing kami. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kegiatan perkuliahan di kampus Universitas Jember.Jember, 03 September 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 11.2 Rumusan Masalah 2

1.3 Tujuan dan Manfaat 2

BAB II PEMBAHASAN 32.1 Pengertian Penyesuaian Diri 3

2.2 Proses Penyesuaian Diri 4

2.3 Karakteristik Penyesuaian Diri 62.4 Permasalahan-Permasalahan Penyesuaian Diri

Remaja 172.5 Implikasi Proses Penyesuaian Remaja terhadap

Penyelenggaraan Pendidikan 21BAB III PENUTUP 233.1 Kesimpulan 233.2 Saran 24DAFTAR PUSTAKA ivBAB I PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangHasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauh mana hal yang telah dipelajari dapat membantunya dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang di dapat di sekolah dan di luar sekolah ia memiliki sejumlah pengetahuan, kecakapan, minat-minat, dan sikap-sikap. Dengan pengalaman itu ia secara berkesinambungan dibentuk menjadi seorang pribadi seperti apa yang ia miliki sekarang dan menjadi pribadi tertentu dimasa yang akan datang. Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri. Kondisi fisik, mental dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang salah.

Sejak lahir sampai meninggal seorang individu merupakan organisme yang aktif. Ia aktif dengan tujuan dan aktivitas yang berkesinambungan. Ia berusaha untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya dan juga semua dorongan yang memberi peluang kepadanya untuk berfungsi sebagai anggota kelompoknya. Penyesuaian diri merupakan suatu proses. Dan salah satu ciri pokok dari kepribadian yang sehat mentalnya ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya. Untuk lebih jelasnya dari makalah ini kita meninjau secara lebih rinci pengertian dan proses penyesuaian diri, penyesuaian diri remaja, dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyesuaian diri, contoh permasalahan-permasalahan penyesuaian diri remaja serta implikasi penyesuaian diri remaja terhadap penyelenggaraan pendidikan.1.2 Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas, maka terdapat rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut.

1) Bagaimana Pengertian Penyesuaian Diri?

2) Bagaimana Proses Penyesuaian Diri?

3) Bagaimana Karakteristik Penyesuaian Diri?

4) Apa saja Permasalahan-Permasalahan Penyesuaian Diri Remaja?5) Bagaimana Impliksai Proses Penyesuaian Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan?1.3 Tujuan dan Manfaat1.3.1 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka terdapat tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mendiskripsikan mengenai pengertian, proses, dan karakteristik penyesuaian diri.2. Untuk mengetahui apa saja permasalahan-permasalahan penyesuaian diri remaja.3. Untuk mengetahui impliksai proses penyesuaian remaja terhadap penyelenggaraan pendidikan.1.3.2 Manfaat

Berdasarkan tujuan penulisan diatas, maka manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami mengenai matakuliah Perkembangan Peserta Didik tentang penyesuaian diri remaja, permasalahan-permasalahan apa saja dari penyesuaian diri remaja serta impliksai proses penyesuaian remaja terhadap penyelenggaraan pendidikan..

BAB II PEMBAHASAN2.1 Pengertian Penyesuaian Diri

Berikut defenisi atau pengertian penyesuaian diri menurut para ahli, diantaranya:1. Schneiders (1964) menyatakan bahwa penyesuaian diri mempunyai banyak arti antara lain: usaha manusia untuk mengurangi tekanan akibat dorongan kebutuhan, usaha untuk memelihara keseimbangan antara pemenuhan dan tuntutan lingkungan serta usaha untuk menyelaraskan hubungan individu dengan realitas. la memberikan batasan penyesuaian diri sebagai proses yang melibatkan respon mental dan perilaku manusia dalam usaha mengatasi dorongan-dorongn dari dalam diri agar diproses kesesuaian antara tuntutan dari dalam diri dan lingkungan. Hal ini berarti penyesuaian diri merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan suatu kondisi yang stastis.2. Menurut Meichati (1983) kunci penyesuaian diri terletak pada keberhasilan manusia memenuhi dorongan dari dalam dan dari luar, di mana cara yang dilakukan untuk memenuhi dorongan tersebut baik bagi dirinya tetapi juga baik untuk lingkungan. Penyesuaian diri merupakan cara individu bergaul dengan diri sendiri, orang lain dan dengan lingkunganya. 3. Satmoko (1995) mendefinisikan penyesuaian diri sebagai interaksi seseorang yang kontinyu dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dengan dunianya. Ketiga faktor ini secara konsisten mempengaruhi seseorang dan hubungan ketiganya bersifat timbal balik, permasalahan-permasalahan yang muncul merupakan efek samping dari interaksi tersebut. Sesuatu yang normal dan tidak dapat dihindarkan, meskipun demikian manusia mempunyai potensi untuk mengatasmya. Jadi penyesuaian diri merupakan suatu hal yang tidak akan pernah berhenti sampai manusia itu mati.4. Menurut Hurlock (1991) penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk memperlihatkan sikap serta tingkahlaku yang menyenangkan, sehingga ia diterima oleh kelompok atau lingkungannya. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai penyesuaian diri yang baik yaitu bimbingan untuk membantu anak belajar menjadi realistis tentang diri dan kemampuannya dan bimbingan untuk belajar bersikap bagaimana cara yang akan membantu penerimaan sosial dan kasih sayang dari orang lain.Selain itu penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai berikut :1. Penyesuaian berarti adaptasi; dapat mempertahankan eksistensinya, atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.2. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip.3. Penyesuaian dapat diartikan sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon-respon sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frustasi-frustasi secara efisien. Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang adekuat atau memenuhi syarat.4. Penyesuaian dapat diartikan penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positif memiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkunganya. Selain itu juga, seseorang dikatakan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik (Well Adjusted Person) jika mampu melakukan respon-respon yang matang, efisien, memuaskan dan sehat. Dikatakan efisien apabila mampu melakukan respon dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Dikatakan sehat apabila respon-respon yang dilakukannya dengan hakikat individu, lembaga atau kelompok antar individu, dan hubungan antar individu dan ciptaanNya berjalan dengan baik.2.2 Proses Penyesuaian DiriPenyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Seperti kita ketahui bahwa penyesuaian yang sempurna tidak pernah tercapai. Penyesuaian yang sempurna terjadi jika manusia atau individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya di mana tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan di mana semua fungsi organisme atau individu berjalan dengan normal. Sekali lagi, bahwa penyesuaian yang sempurna seperti itu tidak pernah dapat dicapai. Oleh karena itu penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat (lifelong process), dan manusia terus-menerus berupaya menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat.Proses penyesuaian diri menurut Schneiders (1984), melibatkan tiga unsur yang akan mewarnai kualitas proses penyesuaian diri individu yaitu :

1. Motivasi dan Proses Penyesuaian DiriMotivasi sama dengan kebutuhan, perasaan, dan emosi merupakan kekuatan internal yang menyebabkan ketegangan dan ketidakseimbangan dalam organisme.2. Sikap terhadap realitas dan Proses Penyesuaian DiriSecara umum dapat dikatakan sikap yang sehat terhadap realitas dan kontak yang baik terhadap realitas sangat diperlukan bagi penyesuaian diri yang sehat.3. Pola Dasar Penyesuaian DiriDalam proses penyesuaian diri sehari-hari terdapat suatu pola dasar penyesuaian diri. Misalnya: seorang anak membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya yang selalu sibuk. dalam situasi tersebut anak akan frustasi dan berusaha menemukan pemecahan yang berguna mengurangi ketegangan antara kebutuhan akan kasih sayang dengan frustasi yang dialami. Dalam beberapa hal, respon pengganti tidak tersedia, sehingga individu mencari suatu respon lain yang akan memuaskan motivasi dan mereduksi ketegangan.Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa motivasi mengambil variasi bentuk, dan setiap bentuk dapat diarahkan kepada rintangan atau frustasi yang disebabkan oleh beberapa aspek realitas, misalnya pembatasan orang tua, hambatan fisik, aturan sosial, dan semacamnya. Rintangan-rintangan ini menyebabkan individu meneliti cara-cara responnya yang berbeda-beda sampai mendapatkan pemuasan.Individu dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri apabila ia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar atau apabila dapat diterima oleh lingkungan tanpa merugikan atau mengganggu lingkungannya.2.3 Karakteristik Penyesuaian DiriPenyesuaian diri remaja memiliki karakteristik yang khas, yang dapat dilihat berbagai sisi, yaitu sebagai berikut :

1) Penyesuaian Diri Remaja terhadap Peran dan IdentitasnyaTujuannya adalah memperoleh identitas diri yang semakin jelas dan dapat dimengerti serta diterima oleh lingkumgannya, baik lingkungan keluarga, sekolah, ataupun masyarakat.2) Penyesuaian Diri Remaja terhadap Pendidikan

Pada umumnya, para remaja berjuang untuk meraih kesuksesan dalam belajar, tetapi dengan cara-cara yang menimbulkan perasaan bebas dan senang, terhindar dari tekanan dan konflik, atau bahkan frustasi.

3) Penyesuaian Diri Remaja terhadap Kehidupan Seks

Secara keseluruhan, remaja ingin memahami kondisi seksual dirinya dan lawan jenisnyaserta mampu bertindak untuk menyalurkan dorongan seksualnya yang dapat dimengerti dan dapat dibenarkan oleh norma sosial dan agama.

4) Penyesuaian Diri Remaja terhadap Norma Sosial

Penyesuaian diri remaja terhadap norma sosial mengarah pada dua dimensi, yaitu remaja ingin diakui keberadaannya dalam masyarakat dan remaja ingin bebas menciptakan aturan-aturan tersendiri yang lebih sesuai untuk kelompoknya, tetapi menuntut agar dapat dimengerti dan diterima oleh masyarakat dewasa.

5) Penyesuaian Diri Remaja terhadap Waktu Luang

Dalam kontek ini upaya yang harus dilakukan oleh remaja adalah melakukan penyesuaian antara dorongan kebebasannya serta inisiatif dan kreativitasnya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat agar dapat berguna bagi dirinya maupun orang lain.6) Penyesuaian Diri Remaja terhadap Uang

Remaja berusaha untuk mampu bertindak secara proporsional, melakukan penyesuaian antara kelayakan pemenuhan kebutuhannya dengan kondisi ekonomi orang tuanya.

7) Penyesuaian Diri remaja terhadap Kecemasan, Konflik, dan Frustasi

Menurut Signund Freud (Corey, 1989), strategi yang digunakan untuk mengatasi masalah kecemasan, konflik, dan frustasi adalah menggunakan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) seperti kompensasi, rasionalisasi, proyeksi, sublimasi, identifikasi, regresi, dan fiksasi.Tidak selamanya individu berhasi dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebaban tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. Dalam hubungannya dengan rintangan-rintangan tersebut ada individu-individu yang dapat melakukan penyesuaian diri secara positif, namun ada pula individu-individu yang melakukan penyesuaian diri yang salah. Berikut ini ditinjau dari karakteristik penyesuaian diri yang positif dan penyesuaian yang salah.a. Penyesuaian Diri Secara PositifMereka yang tergolong mampu melakukan penyesuaian diri secara positif ditandai khal-hal sebagai berikut:1. Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional.2. Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis.

3. Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi.

4. Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri.

5. Mampu dalam belajar.

6. Menghargai pengalaman.

7. Bersikap realistik dan objektif.Dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukannya dalam berbagai bentuk, antara lain :

1) Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung.Dalam situasi ini individu secara langsung menghadapi masalahnya dengan segala akibat-akibatnya. Ia melakukan segala tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Misalnya seorang siswa yang terlambat dalam menyerahkan tugas karena sakit, maka ia mengemukakan segala masalahnya kepada gurunya2) Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan).Dalam situasi ini individu mencari berbagai bahan pengalaman untuk dapat menghadapi dan memecahkan masalahnya. Misalnya seorang siswa yang merasa kurang mampu dalam mengerjakan tugas, ia akan mencari bahan dalam upaya menyelesaikan tugas tersebut, dengan membaca buku, konsultasi, diskusi dan sebagainya.3) Penyesuaian dengan trial and error atau coba-coba.Dalam cara ini individu melakukan suatu tindakan coba-coba, dalam arti kalau menguntungkan diteruskan dan kalau gagal tidak diteruskan. Taraf pemikiran kurang begitu berperan dibandingkan dengan cara eksplorasi.

4) Penyesuaian dengan substitusi (mencari pengganti).Jika individu merasa gagal dalam menghadapi masalah, maka ia dapat memperoleh penyesuaian dengan jalan mencari pengganti. Misalnya gagal nonton film di gedung bioskop, dia pindah nonton TV di rumah.5) Penyesuaian diri dengan menggali kemampuan diri.Dalam hal ini individu mencoba menggali kemampuan-kemapuan khusus dalam dirinya, dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu penyesuaian diri. Misalnya seorang siswa yang mempunyai kesulitan dalam keuangan, tetapi ia pandai menulis (mengarang), kemampuannya dalam menulis (mengarang) ia gunakan untuk membantu mengatasi kesulitan dalam keuangan dengan menulis artikel yang kemudian dikirim dikoran atau majalah.6) Penyesuaian dengan belajar.Dengan belajar, individu akan banyak memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat membantu menyesuaikan diri. Misalnya seorang guru akan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak belajar tentang berbagai pengetahuan keguruan.7) Penyesuaian dengan inhibisi dan pengendalian diri.Penyesuaian diri akan lebih berhasil jika disertai dengan kemampuan memilih tindakan yang tepat dan pengendalian diri secara tepat pula. Dalam situasi ini individu berusaha memilih tindakan mana yang harus dilakukan, dan tindakan mana yang tidak perlu dilakukan. Cara inilah yang disebut inhib.isi. Di samping itu, individu harus mampu mengendalikan dirinya dalam melakukan tindakannya.

8) Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat.Dalam situasi ini tindakan yang dilakukan merupakan keputusan yang diambil berdasarkan perencanaan yang cermat. Keputusan diambil setelah dipertimbangkan dari berbagai segi, antara lain segi untung dan ruginya.b. Penyesuaian Diri yang SalahKegagalan dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu melakukan penyesuaian yang salah. Penyesuaian diri yang salah ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistik, agresif, dan sebgainya. Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah yaitu, reaksi bertahan, reaksi menyerang, dan reaksi melarikan diri.1. Reaksi bertahan (Defence Reaction)Individu berusaha untuk mempertahankan dirirnya, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan. Ia selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan. Bentuk khusus reaksi ini antara lain :

Rasionalisasi, yaitu bertahan dengan mancari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya. Represi, yaitu berusaha untuk menekan pengalamannya yang dirasakan kurang enak ke alam tidak sadar. Ia berusaha melupakan pengalamannya yang kurang menyenangkan. Misalnya seorang pemuda berusaha melupakan kegagalan cintanya dengan seorang gadis. Proyeksi, yaitu melemparkan sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain untuk mencari alasan yang dapat diterima. Misalnya seorang siswa yang tidak lulus mengatakan bahwa yang menyebabkan ia tidak lulus karena gurunya membencinya. Sour grapes (anggur kecut), yaitu dengan memutarbalikkan kenyataan. Misalnya seorang siswa yang gagal mengetik, mengatakan bahwa mesin ketiknya rusak, padahal dia sendiri tidak bisa mengetik.2. Reaksi Menyerang (Aggressive Reaction)Orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah menunjukkan tingkah laku yang bersifat menyerang untuk menutupi kegagalannya. Ia tidak mau menyadari kegagalannya. Reaksi-reaksinya tampak dalam tingkah laku : Selalu membenarkan diri sendiri, Mau berkuasa dalam setiap situasi, Bersikap senang mengganggu orang lain, Menggertak baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan, Menunjukkan sikap permusuhan secara terbuka, Menunjukkan sikap menyerang dan merusak, Keras kepala dalam perbuatannya, Bersikap balas dendam, dan lain-lain.3. Reaksi Melarikan Diri (Escape Reaction)

Dalam reaksi ini orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah akan melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalannya, reaksinya tampak dalam tingkah laku seperti, berfantasi, banyak tidur, minum-minuman keras, bunuh diri, menjadi pecandu ganja, narkotika, dan regresi yaitu kembali kepada tingkah laku yang semodel dengan tingkat perkembangan yang lebih awal (misalnya orang dewasa yang bersikap dan berwatak seperti anak kecil) dan lain-lain.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Proses Penyesuaian DiriSecara keseluruhan kepribadian mempunyai fungsi sebagai penentu primer terhadap penyesuaian diri. Penetu berarti faktor yang mendukung, mempengaruhi, atau menimbulkan efek pada proses penyesuaian. Secara sekunder proses penyesuaian ditentukan oleh faktor-faktor yang menentukan kepribadian itu sendiri baik internal maupun eksternal. Penentu penyesuaian identik dengan faktor-faktor yang mengatur perkembangan dan terbentuknya pribadi secara bertahap. Penentu-penentu itu dapat dikelompokkan sebagai berikut:1) Kondisi-kondisi fisik, termasuk di dalamnya keturunan, konstitusi fisik, susunan saraf, kelenjar dan sistem otot, kesehatan, penyakit, dan sebagainya.2) Perkembangan dan kematangan, khususnya kematangan intelektual, sosial, moral dan emosional.

3) Penentu psikologis, termasuk di dalamnya pengalaman, belajarnya, pengkondisian, penentuan diri (self-determination), frustasi, dan konflik.

4) Kondisi lingkungan, khususnya keluarga dan sekolah.5) Penentu kultural, termasuk agama.

Pemahaman tentang faktor-faktor ini dan bagaimana fungsinya dalam penyesuian merupakan syarat untuk memahami proses penyesuaian, karena penyesuain tumbuh dari hubungan-hubungan antara faktor-faktor ini dan tuntutan individu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyesuaian diri tersebut diantaranya adalah:Kondisi Jasmaniah

Kondisi jasmaniah seperti pembawaan dan struktur atau konstitusi fisik dan tempramen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat korelasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Moh. Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ektomorf yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, pemalu, dan sebagainya. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkahlaku maka dapat diperkirakan bahwa sistem syaraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan-gangguan dalam sistem syaraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkahlaku dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem-sistem tubuh yang baik merupakan syarat bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik.Di samping itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri. Kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh sesorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya. Gangguan penyakit yang kronis dapat menimbulkan kurangnya kepercayaan pada diri sendiri, perasaan rendah diri, ketergantungan, perasaan ingin dikasihani dan sebagainya.Perkembangan, Kematangan, dan Penyesuaian DiriDalam proses perkembangan, respon anak berkembang dari respon yang bersifat instinktif menjadi respon yang diperoleh melalui belajar dan pengalaman. Dengan bertamabahnya usia perubahan dan perkembangan respon, tidak hanya melalui proses belajar saja melainkan anak juga menjadi matang untuk melakukan respon dan ini menentukan pola-pola penyesuaian dirinya. Sesuai dengan hukum perkembangan, tingkat kematangan yang dicapai berbeda antara individu yang satu dengan lainnya, sehingga pencapaian pola-pola penyesuaian diri pun berbeda pula secara individual. Dengan kata lain, pola penyesuaian diri akan bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan yang dicapainya. Di samping itu, hubungan antara penyesuaian dengan perkembangan dapat berbeda menurut jenis aspek perkembangan yang dicapai. Kondisi-kondisi perkembangan mempengruhi setiap aspek kepribadian seperti: emosional, sosial, moral, keagamaan dan intelektual. Dalam fase tertentu salah satu aspek mungkin lebih penting dari aspek lainnya. Misalnya pertumbuhan moral lebih penting daripada kematangan sosial, dan kematangan emosional merupakan yang terpenting dalam penyesuaian diri. Contohnya adalah banyak orang yang telah mengetahui bahwa menolong itu baik, tetapi mereka banyak yang tidak melakukannya.Penentu Psikologis terhadap Penyesuaian DiriBanyak sekali faktor psikologis yang mempengaruhi penyesuaian diri, di antaranya adalah:a. PengalamanTidak semua pengalaman mempunyai arti bagi penyesuaian diri. Pengalaman-pengalaman tertentu yang mempunyai arti dalam penyesuaian diri adalah pengalaman yang menyenangkan dan pengalaman traumatik atau menyusahkan. Pengalaman yang menyenangkan misalnya memperoleh hadiah dalam suatu kegiatan, cenderung akan menimbulkan proses penyesuaian diri yang baik, dan sebaliknya pengalaman traumatik akan menimbulkan penyesuaian yang kurang baik atau mungkin salah.b. BelajarProses belajar merupakan suatu dasar yang fundamental dalam proses penyesuaian diri, karena melalui belajar ini akan berkembang pola-pola respon yang akan membentuk kepribadian. Sebagian besar respon-respon dan ciri-ciri kepribadian labih banyak yang diperoleh dari proses belajar daripada yang diperoleh secara diwariskan. Dalam proses penyesuaian diri belajar merupakan suatu proses modifikasi tingkahlaku sejak fase-fase awal dan berlangsung terus sepanjang hayat dan diperkuat dengan kematangan.c. Determinasi diriDalam proses penyesuaian diri, di samping ditentukan oleh faktor-faktor tersebut di atas, orangnya itu sendiri menentukan dirinya, terdapat faktor kekuatan yang mendorong untuk mencapai sesuatu yang baik atau buruk, untuk mencapai taraf penyesuaian yang tinggi, dan atau merusak diri. Faktor-faktor itulah yang disebut determinasi diri. Determinasi diri mempunyai peranan yang penting dalam proses penyesuaian diri karena mempunyai peranan dalam pengendalian arah dan pola penyesuaian diri. Keberhasilan atau kegagalan penyesuaian diri akan banyak ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengarahkan dan mengendalikan dirinya, meskipun sebetulnya situasi dan kondisi tidak menguntungkan bagi penyesuaian dirinya. Ada beberapa orang dewasa yang mengalami pengalaman penolakan ketika masa kanak-kanak, tetapi mereka dapat menghindarkan diri dari pengaruh negatif karena dapat menentukan sikap atau arah dirinya sendiri.d. Konflik dan penyesuaianTanpa memperhatikan tipe-tipe konflik, mekanisme konflik secara esensial sama yaitu pertentangan antara motif-motif. Efek konflik pada perilaku akan tergantug sebagian pada sifat konflik itu sendiri. Ada beberapa pandangan bahwa semua konflik bersifat mengganggu atau merugikan. Namun dalam kenyataan ada juga seseorang yang mempunyai banyak konflik tanpa hasil-hasil yang merusak atau merugikan. Sebenarnya, beberapa konflik dapat bermanfaat memotivasi sesorang untuk meningkatkan kegiatan. Cara sesorang mengatasi konfliknya dengan meningkatkan usaha ke arah pencapaian tujuan yang menguntungkan secara sosial, atau mungkin sebaliknya ia memecahkan konflik dengan melarikan diri, khususnya lari ke dalam gejala-gejala neourotis.Lingkungan sebagai Penentu Penyesuaian Diri

Berbagai lingkungan anak seperti keluarga dan pola hubungan di dalamnya, sekolah, masyarakat, kultur, dan agama berpengaruh terhadap penyesuaian diri anak. Berikut penjabarannya:a. Pengaruh rumah dan keluarga

Dari sekian banyak faktor yang mengkondisikan penyesuaian diri, faktor rumah dan keluarga merupakan faktor yang sangat penting, karena keluarga merupakan satuan kelompok sosial terkecil. Interaksi sosial yang pertama diperoleh individu adalah dalam keluarga. Kemampuan interaksi sosial ini kemudian akan dikembangkan di masyarakat.

b. Hubungan orang tua dan anak

Pola hubungan antara orang tua dengan anak akan mempunyai pengaruh terhadap proses penyesuaian diri anak-anak. Beberapa pola hubungan yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri antara lain:

1) Menerima (acceptance), yaitu situasi hubungan di mana orang tua menerima anaknya dengan baik. Sikap penerimaan ini dapat menimbulkan suasana hangat dan rasa aman bagi anak.2) Menghukum dan disiplin yang berlebihan.Dalam pola ini, hubungan orang tua dengan anak bersifat keras. Disiplin yang ditanamkan orang tua terlalu kaku dan berlebihan sehingga dapat menimbulkan suasana psikologis yang kurang menguntungkan anak. 3) Memanjakan dan melindungi anak secara berlebihan.Perlindungan dan pemanjaan secara berlebihan dapat menimbulkan perasaan tidak aman, cemburu, rendah diri, canggung, dan gejala-gejala salah suai lainnya.4) Penolakan, yaitu pola hubungan di mana orang tua menolak kehadiran anaknya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penolakan orang tua terhadap anaknya dapat menimbulkan hambatan dalam penyesuaian diri.c. Hubungan saudara

Suasana hubungan saudara yang penuh persahabatan, kooperatif, saling menghormati, penuh kasih sayang, mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk tercapainya penyesuaian yang lebih baik. Sebaliknya suasana permusuhan, perselisihan, iri hati, kebencian, dan sebagainya dapat menimbulkan kesulitan dan kegagalan penyesuaian diri.d. Masyarakat

Keadaan lingkungan masyarakat di mana individu berada merupakan kondisi yang menentukan proses dan pola-pola penyesuaian diri. Kondisi studi menunjukkan bahwa banyak gejala tingkah laku salah satu bersumber dari keadaan masyarakat. Pergaulan yang salah suai bersumber dari keadaan masyarakat. Pergaulan yang salah di kalangan remaja dapat mempengaruhi pola-pola penyesuaian dirinya.e. Sekolah

Sekolah mempunyai peranan sebagai media untuk mempengaruhi kehidupan intelektual, sosial, dan moral para siswa. Suasana di sekolah baik sosial maupun psikologis menentukan proses dan pola penyesuaian diri. Di samping itu, hasil pendidikan yang diterima anak di sekolah akan merupakan bekal bagi proses penyesuaian diri di masyarakat.Kultural dan Agama sebagai Penentu Penyesuaian DiriProses penyesuaian diri anak mulai dari lingkungan keluaraga, sekolah dan masyarakat secara bertahap dipengaruhi oleh faktor-faktor kultur dan agama. Lingkungan kultural di mana individu berada dan berinteraksi akan menentukan pola-pola penyesuaian dirinya. Contohnya tata cara kehidupan di sekolah, di mesjid, gereja, dan semacamnya akan mempengaruhi bagaimana anak menempatkan diri dan bergaul dengan masyarakat sekitarnya. Sedangkn agama memberikan suasana psikologis tertentu dalam mengurangi konflik, frustasi dan ketegangan lainnya. Agama juga memberikan suasana damai dan tenang bagi anak, serta agama merupakan sumber nilai, kepercayaan dan pola-pola tingkah laku yang akan memberikan tuntunan bagi arti, tujuan, dan kestabilan hidup umat manusia. Kehidupan yang efektif menuntut adanya tuntunan hidup yang mutlak. Sembahyang dan berdoa merupakan medium dalam agama untuk menuju kearah kehidupan yang berarti. Agama memegang peranan penting sebagai penentu dalam proses penyesuaian diri.Soetarno (1993) mengemukakan bahwa pada dasamya mengadakan hubungan dengan manusia lain mengandung suatu pengertian yang lebih luas, yakni mengadakan hubungan dengan lingkungan. Lingkungan ini meliputi lingkungan fisik, yakni alam benda-benda yang kongkrit, dan lingkungan non fisik misalnya kevakinan ide-ide dan falsafah yang terdapat di lingkungan individu itu. Individu manusia selalu mengadakan hubungan dengan individu lain baik secara fisik, psikis maupun rohani karena hubungan dengan lingkungan dapat menggiatkan dan merangsang perkembangan atau pemberian sesuatu yang ia perlukan. Tanpa hubungan ini seseorang tidak dapat dikatakan individu lagi.

Selanjutnya Soetarno (1993) mengemukakan bahwa pada dasarnya terdapat empat jenis hubungan antar individu dengan lingkungan yaitu :

1) Individu bertentangan dengan lingkungarmya,

2) Individu memanfaatkan lingkungannya,

3) Individu berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan,

4) Individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.2.4 Permasalahan-Permasalahan Penyesuaian Diri RemajaDiantara persoalan terpenting yang dihadapi remaja dalam kehidupan sehari-hari dan yang menghambat penyesuaian diri yang sehat adalah hubungan remaja dengan orang dewasa terutama orang tua.Tingkat penyesuaian diri dan pertumbuhan remaja sangat tergantung pada sikap orang tua dan suasana psikologi dan sosial dalam keluarga. Contoh : sikap orang tua yang menolak. Penolakan orang tua terhadap anaknya dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, penolakan mungkin merupak penolakan tetap sejak awal, di mana orang tua merasa tidak sayang kepada anakanya, karena berbagai sebab, mereka tidak menhendaki kelahirannya. Menurut Boldwyn yang dikutip oleh Zakiah Darajat (1983): bapak yang menolak anaknya berusaha menundukkan anaknya dengan kaidah-kaidah kekerasan, karena itu ia mengambil ukuran kekerasan, kekejaman tanpa alasan nyata. Jenis kedua, dari penolakan adalah dalam bentuk berpura-pura tidak tahu keinginan anak. Contoh: orang tua memberi tugas kepada anaknya berbarengan dengan rencana anaknya untuk pergi nonton bersama dengan teman sejawatnya.Hasil dari kedua macm penolakan tersebut ialah remaja tidak dapat menyesuaikan diri, cenderung untuk menghabiskan waktunya diluar rumah. Terutama pada gadis-gadis mungkin akan terjadi perkawinan yang tidak masuk akal dengan pemikiran bahwa rumah diluar rumah tangganya sendiri akan lebih baik daripada rumahnya sendiri. Disamping itu, sikap orang tua yang memberikan perlindungan yang berlebihan akibatnya juga tidak baik. Remaja yang mendapatkan pemeliharaan yang berlebihan, menyebabkan ia juga mengharapkan bantuan dan perhatian dari orang lain dan ia berusaha menarik perhatian mereka, serta menyangka bahwa perhatian seperti itu adalah haknya.Sikap orang tua yang otoriter, yaitu yang memaksakan kekuasaan dan otoritas kepada remaja juga akan menghambat proses penyesuaian diri remaja. Biasanya remaja berusaha untuk menentang kekuasaan orang tua dan pada gilirannya ia akan cenderung otoriter terhadap teman-temannya dan cenderung menentang otoritas yang ada baik di sekolah maupun di masyarakat.

Permasalahan-permasalahan penyesuaian diri yang dihadapi remaja dapat berasal dari suasana psikologis keluarga seperti keretakan keluarga. Banyak penelitian membuktikan bahwa remaja yang hidup di dalam rumah tangga yang retak, mengalami masalah emosi, tampak padanya ada kecenderungan yang besar untuk marah, suka menyendiri, di samping kurang kepekaaan terhadap penerimaan sosial dan kurang mampu menahan diri serta lebih gelisah dibandingkan dengan remaja yang hidup dalam rumah tangga yang wajar. Terbukti pula bahwa kebanyakan anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah karena tidak dapat menyesuaikan diri adalah mereka yang datang dari rumah tangga yang pecah atau retak itu.Perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan anak perempuan akan mempengaruhi hubungan antarmereka, sehingga memungkinkan timbulnya rasa iri hati dalam jiwa anak perempuan terhadap saudaranya yang laki-laki. Keadaan ini akan menghambat proses penyesuaian diri anak perempuan. Permasalahan-permasalahan penyesuaian akan muncul bagi remaja yang sering pindah tempat tinggal. Remaja yang keluarganya sering pindah, ia terpaksa pindah dari sekolah ke sekolah yang lain dan ia mengalami banyak kesukaran akademis, bahkan mungkin ia akan sangat tertinggal dalam pelajaran, karena guru berbeda-beda dalam cara mengajarnya, demikian pula mungkin buku-buku pokok yang dipakainya tidak sama. Di samping itu, masalah teman remaja; perpindahan ke tempat atau masyarakat baru, berarti kehilangan teman lama dan terpaksa mencari teman baru. Banyak remaja yang mengalami kesulitan dalam mencari atau membentuk persahabatan dan hubungan sosial yang baru. Mungkin remaja berhasil baik dalam hubungan di sekolah yang lama, tetapi ketika pindah ke sekolah yang baru ia menjadi tidak dikenal dan tidak ada yang memperhatikan. Disini remaja dituntut untuk dapat lebih mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat yang baru, sehingga ia menjadi bagian dari masyarakat yang baru itu.Selain itu penyesuaian diri remaja dengan kehidupan di sekolah. Permasalahan penyesuaian diri di sekolah mungkin akan timbul ketika remaja mulai memasuki jenjang sekolah yang baru, baik sekolah lanjutan pertama maupun sekolah lanjutan atas. Mereka mungkin mengalami permasalahan penyesuaian diri dengan guru-guru, teman, dan mata pelajaran. Sebagai akibat antara lain adalah prestasi belajar menjadi menurun dibanding dengan prestasi di sekolah sebelumnya.Persoalan-persoalan umum yang seringkali dihadapi remaja antara lain memilih sekolah. Jika kita mengharapkan remaja mempunyai penyesuaian diri yang baik, seyogyanya kita tidak mendikte mereka agar memilih jenis sekolah tertentu sesuai keinginan kita. Orang tua atau pendidik hendaknya mengarahkan pilihan sekolah sesuai dengan kemampuan, bakat, dan sifat-sifat pribadinya. Tidak jarang terjadi anak tidak mau sekolah, tidak mau belajar, suka membolos dan sebagainya karena ia dipaksa oleh orang tuanya untuk masuk sekolah yang tidak ia sukai.Pemasalahan lain yang mungkin timbul adalah penyesuaian diri yang berkaitan dengan kebiasaan belajar yang baik. Bagi siswa yang baru masuk sekolah lanjutan mungkin mengalami kesulitan dalam membagi waktu belajar, yakni adanya pertentangan antara belajar dan keinginan untuk ikut aktif dalam kegiatan sosial, kegiatan ekstra kurikuler, dan sebagainya.Untuk memahami masalah-masalah remaja dan karakteristik atas permaalahan pada remaja Santrock (2007) menggunakan 2 pendekatan. Berikut penjelasan mengenai pendekatan tersebut. a. Pendekatan BiopsikososialPendekatan ini menekankan pengaruh interaktif dari faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosial terhadap berkembangnya masalah remaja dan orang-orang yang berasal dari berbagai usia lainnya. b. Pendekatan PsikopatologiPendekatan ini berfokus pada upaya mendeskripsikan dan mengeksplorasi jallur perkembangan masalah. Menurut Chang & Gjerde dalm Satrock (2000) memaparkan bahwa jalur perkembangan yang mendeskripsikan kesinambungan dan transformasi yang sedang berlangsung di dalam faktor-faktor yang mempengaruhi dampaknya.Berbicara mengenai maslah yang dihadapi remaja, tentunya mencakup tentang apa saja yang mempengaruhinya. Adapun masalah atau gangguan utama yang dihadapi remaja menurut Satrock (2007) secara garis besar dibagi atas 5: a. Pendidikan/ SekolahBerbicara mengenai maslah pendidikan tentunya sangat luas. Ada beberapa masalah menyakngut masalah pendidikan yakni, kurang sesuainya kebutuhan siswa/ remaaja dengan kesempatan yang diberikan oleh sekolah, tekanan untuk harus berprestasi, masalah ekonomi yang rendah, dan lain-lain. b. Masalah SeksualMasalah seksual inipun juga merupakan masalah yang sangat parah dialmi oleh siswa. c. Penyalahgunaan ObatBerdasarkan penelitian yang yang dilakukan oleh Hops (2002) ; Petraitis, Fray & Miller (1995) menyimpulkan bahwa faktor yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat di masa remaja adalah termasuk lingkungan sekitarnya, orang tua, kawan-kawan sebaya, dan sekolah. Di suatu masa dalam perkembangannya, sebagian besar remaja pernah menjadi pengguna obat, terlepas dari apakah penggunaanya itu terbatas pada alkohol, kafein, rokok, atau kemudian melepas ke maryuana, kokain, dan obat-obatan keras lainnnya. Satu hal yang perlu diperhatikan secara khusus adalah remaja mulai menggunakan obat di awal masa remaja atau bahkan di masa kanak-kanak. d. Kenakalan remajaMerujuk kepada berbagai perilaku mulai dari perilaku yang dapat diterima secara sosial (seperti acting out di sekolah) hingga status pelanggaran (melarikan diri dari rumah) ke tindakan kriminal (seperti pencurian). Jenis kenakalan inipun, dibagi atas 2 berdasarkan keperluan hukum, antara lain:1. Indeks pelanggaran (index offenses): tindakan kriminal yang memang dilakukan oleh remaja dan orang dewasa. 2. Status pelanggaran (offenses status) : tindakan ini ditampilkan oleh anak-anak muda dibawah umur yang diklasifikasi sebgai pelanggar remaja. Berdasarkan hasil studi yang dlakukan oleh Bongers dkk (2004) dalam Satrock menemukan bahwa suatu pelanggaran cenderung meningkat di masa remaja. e. Depresi dan bunuh diriFaktor genetik merupakan salah satu penyebab depresi dan bunuh diri. Remaja mungkin memiliki sejarah keluarga yang tidak stabil dan bahagia. Sama halnya dengan kurang afeksi dan kurang dukungan emosional, kendali yang tinggi, dna tekanan untuk berprestasi oleh orang tua di masa kanak-kanak pun berkaitan dengan depresi remaja, kombinasi dari pengalaman keluarga juga cenderung tampil sebagai faktor terpendam yang berperan dalam upaya bunuh diri.2.5 Impliksai Proses Penyesuaian Remaja terhadap Penyelenggaraan PendidikanLingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa remaja. Sekolah selain mengemban fungsi pengajaran juga fungsi pendidikan (transformasi norma). Dalam kaitannya dengan pendidikan ini, peranan sekolah pada hakikatnya tidak jauh dari peranan keluarga, yaitu sebagai rujukan dan tempat perlindungan jika anak didik mengalami masalah. Oleh karena itulah di setiap sekolah lanjutan ditunjuk wali kelas yaitu guru-guru yang akan membantu anak didik jika ia (mereka) menghadapi kesulitan dalam pelajarannya dan guru-guru bimbingan dan penyuluhan untuk membantu anak didik yang mempunyai masalah pribadi, dan masalah penyesuaian diri baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap tuntutan sekolah.Adapun beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk memperlancar proses penyesuaian diri remaja khususnya di sekolah adalah :

1. Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa betah (at home) bagi anak didik, baik secara sosial, fisik maupun akademis.

2. Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan bagi anak.

3. Usaha memahami anak didik secara menyeluruh, baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.

4. Menggunakan metode dan alat mengajar yang menimbulkan gairah belajar.

5. Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat memperbesar motivasi belajar.

6. Ruangan kelas yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.

7. Peraturan atau tata tertib yang jelas dan dipahami murid-murid.

8. Teladan dari para guru dalam segala segi pendidikan.

9. Kerja sama dan saling pengertian dari para guru dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah.

10. Pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan yang sebaik-baiknya.

11. Situasi kepemimpinan yang penuh saling pengertian dan tanggung jawab baik pada murid maupun pada guru.

12. Hubungan baik dan penuh pengertian antara sekolah dengan orang tua siswa dan masyrakat.Karena di sekolah guru merupakan figur pendidik yang penting dan besar pengaruhnya terhadap penyesuaian siswa-siswanya, maka dituntut sifat-sifat guru yang efektif, yakni sebagai berikut (Ryans dalam Garrison, 1956).

1) Memberi kesempatan (alert), tampak antusias dan berminat dalam aktivitas siswa dan kelas.

2) Ramah (cheerful) dan optimistis.

3) Mampu mengontrol diri, tidak mudah kacau (terganggu), dan teratur tindakannya,

4) Senang kelakar, mempunyai rasa humor.

5) Mengetahui dan mengakui kesalahan-kesalahannya sendiri.

6) Jujur dan objektif dalam memperlakukan siswa.

7) Menunjukkan pengertian dan rasa simpati dalam bekerja dengan siswa-siswanya.

Jika para guru bersama dengan seluruh staf di sekolah dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka anak-anak didik di sekolah itu yang berada dalam usia remaja akan cendrung berkurang kemungkinannya untuk mengalami permasalahan-permasalahan penyesuaian diri atau terlibat dalam masalah yang bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.

BAB III PENUTUP3.1 Kesimpulan Manusia tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaiakan diri, maka penyesuaian diri terhadap lingkungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan memerlukan proses yang cukup unik. Penyesuaian diri dapat diartikan adaptasi, konformitas, penguasaan, dan kematangan emosional. Proses penyesuaian diri yang tertuju pada pencapaian keharmonisan antara faktor internal dan eksternal anak sering menimbulkan konflik, tekanan, frustasi dan berbagai macam perilaku untuk membebaskan diri dari ketegangan.

Penyesuaian diri adalah suatu proses. Dan salah satu ciri pokok dari kepribadian yang sehat mentalnya ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.

Terdapat dua karakteristik penyesuaian diri, yaitu: (a) penyesuaian diri secara positif, dan (b) penyesuaian diri yang salah.

Permasalahan-permasalahan penyesuaian diri yang dihadapi remaja dapat berasal dari suasana psikologis keluarga seperti keretakan keluarga. Banyak penelitian membuktikan bahwa remaja yang hidup di dalam rumah tangga yang retak, mengalami masalah emosi, tampak padanya ada kecenderungan yang besar untuk marah, suka menyendiri, di samping kurang kepekaaan terhadap penerimaan sosial dan kurang mampu menahan diri serta lebih gelisah dibandingkan dengan remaja yang hidup dalam rumah tangga yang wajar.

Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa remaja. Sekolah selain mengemban fungsi pengajaran juga fungsi pendidikan. Dalam kaitannya dengan pendidikan ini, peranan sekolah pada hakikatnya tidak jauh dari peranan keluarga, yaitu sebagai rujukan dan tempat perlindungan jika anak didik mengalami masalah.3.2 Saran Setelah mengetahui konsep dan pengertian penyesuaian diri dari remaja serta permasalahan-permasalahan yang dihadapi remaja. Sebagai calon guru dan calon orang tua hendaknya kita dapat membimbing dan mengarahkan anak didik yang mempunyai masalah pribadi, masalah penyesuaian diri baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkunan sekitar. Selain itu dari pemaparan di atas, menyadarkan kita bahwa betapa pentingnya peran orang tua dan lingkungan untuk kelancaran penyesuaian diri seorang remaja.DAFTAR PUSTAKASunarto dan Hartono, B. Agung. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.

10