of 12 /12
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ORGANOLEPTIK TEH DAUN KELOR KOMBINASI DAUN JAMBU BIJI DENGAN VARIASI SUHU PENGERINGAN SERTA PENAMBAHAN JAHE Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Srata I pada Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Oleh : KIKY WAHYU KURNIAWAN A420130093 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2017

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ORGANOLEPTIK TEH DAUN …kandungan flavonoid sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Menurut Nweze (2014) daun kelor mengandung flavonoid, antrakuinon, alkaloid,

  • Author
    others

  • View
    28

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ORGANOLEPTIK TEH DAUN …kandungan flavonoid sebagai antioksidan dan...

  • AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ORGANOLEPTIK TEH DAUN

    KELOR KOMBINASI DAUN JAMBU BIJI DENGAN VARIASI SUHU

    PENGERINGAN SERTA PENAMBAHAN JAHE

    Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Srata I pada

    Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Oleh :

    KIKY WAHYU KURNIAWAN

    A420130093

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

    2017

  • i

    HALAMAN PERSETUJUAN

    AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ORGANOLEPTIK TEH DAUN

    KELOR KOMBINASI DAUN JAMBU BIJI DENGAN VARIASI SUHU

    PENGERINGAN SERTA PENAMBAHAN JAHE

    PUBLIKASI ILMIAH

    Oleh :

    KIKY WAHYU KURNIAWAN

    A420130093

    Telah diperiksa dan disetujui oleh:

    Dosen Pembimbing

    (Dra. Aminah Asngad, M.Si)

    NIDN.0628095901

  • ii

    HALAMAN PENGESAHAN

    AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ORGANOLEPTIK TEH DAUN

    KELOR KOMBINASI DAUN JAMBU BIJI DENGAN VARIASI SUHU

    PENGERINGAN SERTA PENAMBAHAN JAHE

    Dipersiapkan dan disusun oleh :

    KIKY WAHYU KURNIAWAN

    A420130093

    Telah dipertahankan di depan dewan penguji

    Pada tanggal 25 Juli 2017 dan dinyatakan telah memenuhi syarat

    Susunan dewan penguji

    1. Dra. Aminah Asngad, M. Si ( )

    2. Dra. Titik Suryani, M.Sc. ( )

    3. Efri Roziaty, S.Si., M.Si ( )

    Surakarta, 27 Juli 2017

    Universitas muhammadiyah surakarta

    Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan

    Dekan,

    (Prof. Dr. Harun Joko Prayitono, M. Hum)NIDN.0028046501

  • iii

    HALAMAN PERNYATAAN

    PERNYATAAN

    Saya yang bertanda tangan di bawah ini,

    Nama : Kiky Wahyu Kurniawan

    NIM : A420130093

    Program Studi : Pendidikan Biologi

    Judul Artikel Publikasi : Aktivitas Antioksidan dan Organoleptik Teh Daun

    Kelor Kombinasi Daun Jambu Biji dengan Variasi Suhu

    Pengeringan Serta Penambahan Jahe

    Menyatakan dengan sebenarnya bahwa artikel publikasi yang saya serahkan

    ini benar-benar hasil karya saya sendiri dan bebas plagiat karya orang lain, kecuali

    yang secara tertulis diacu/dikutip dalam naskah dan disebutkan pada daftar pustaka.

    Apabila dikemudian hari terbukti skripsi ini hasil plagiat, saya bertanggung jawab

    sepenuhnya dan bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku

    Surakarta, 14 Juli 2017

    Yang membuat pernyataan,

    Kiky Wahyu Kurniawan

    A420130093

  • 1

    AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ORGANOLEPTIK TEH DAUN

    KELOR KOMBINASI DAUN JAMBU BIJI DENGAN VARIASI SUHU

    PENGERINGAN SERTA PENAMBAHAN JAHE

    ABSTRAK

    Teh daun kelor kombinasi daun jambu biji dengan penambahan jahe merupakan salah satu inovasi

    pengoptimalan pemanfaatan tanaman kelor dan tanaman jambu biji. Daun kelor dan daun jambu biji

    mengandung senyawa antioksidan seperti tanin, saponin, flavonoid, alkoloid, triterpen dan

    querceetin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan sifat organoleptik teh

    daun kelor kombinasi daun jambu biji dengan variasi suhu pengeringan serta penambahan jahe.

    Metode penelitian ini rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu faktor 1 : variasi suhu

    pengeringan 55°C (S1), 60°C (S2), 65°C (S3) dan faktor 2 : variasi konsentrasi daun kelor : daun

    jambu biji 1:1 (K1), 1:2 (K2), 2:1 (K3). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan hasil

    aktivitas antioksidan pada teh daun kelor kombinasi daun jambu biji dengan variasi suhu

    pengeringan serta penambahan perasa alami jahe. Aktivitas antioksidan tertinggi pada perlakuan

    S1K3 (suhu 55°C dengan daun kelor 2 g : daun jambu biji 1 g) yaitu 70,49 % dan aktivitas antioksidan

    terendah pada perlakuan S3K2 (suhu 65°C dengan daun kelor 1 g : daun jambu biji 2 g) yaitu 30,77

    %. Hasil uji sifat organoleptik teh daun kelor kombinasi daun jambu biji menunjukan bahwa nilai

    rata-rata yang diberikan oleh panelis terhadap warna adalah 2,55 (coklat muda), rasa adalah 2,05

    (sepat) dan aroma adalah 2,5 (langu) pada perlakuan S3K2, (suhu 65°C dengan daun kelor 1 g : daun

    jambu biji 2 g) penilain terhadap daya terima 2,7 (suka) pada perlakuan S1K3 (suhu 55°C dengan

    daun kelor 2 g : daun jambu biji 1 g).

    Kata kunci : teh, daun kelor, daun jambu biji, suhu pengeringan, aktivitas

    antioksidan

    ABSTRACT

    Moringa leaf tea combination of guava leaf with the addition of ginger is one of the optimization

    innovation of the use of moringa and guava plants. Moringa leaves and guava leaves contain

    antioxidant compounds such as tannins, saponins, flavonoids, alkoloid, triterpen and querceetin.

    The purpose of this thesis is to determine the antioxidant activity and organoleptic properties of

    moringa leaf tea combination of guava leaf with variation of drying temperature and addition of

    ginger. The research method was complete randomized design with two factors: factor 1:

    temperature variation of drying 55 ° C (S1), 60 ° C (S2), 65 ° C (S3) and factor 2: variation of leaf

    concentration moringa: guava leaf 1: 1 (K1), 1: 2 (K2), 2: 1 (K3). The results showed that there is

    difference results of antioxidant activity result in moringa leaf tea of guava leaves combination with

    variations in drying temperature and the addition of natural ginger taste. The highest antioxidant

    activity in the S1K3 treatment (55 ° C with 2 g of moringa leaf: guava leaf 1 g) was 70.49% and the

    lowest antioxidant activity in the S3K2 treatment (65 ° C with moringa leaf 1 g: guava leaf 2 g) that

    is 30.77%. The results of the organoleptic test of the moringa leaves combination with guava leaves

    showed that the average value given by the panelist to the color was 2.55 (light brown), the taste

    assessment was 2.05 (sense of chelity) and of the aroma is 2.5 (unpleasant) on the S3K2 treatment

    (65 ° C with moringa leaf 1 g: guava leaf 2 g), assessing the received power of 2.7 (likes) on the

    S1K3 treatment (55 ° C with 2 g of moringa leaf: guava leaf 1 g).

    Keywords: tea, moringa leaves, guava leaves, drying temperature, antioxidant

    activity

  • 2

    1. PENDAHULUAN

    Teh merupakan jenis minuman yang digemari oleh seluruh masyarakat.

    Bahan teh dibuat dari pucuk muda daun teh yang telah mengalami proses

    pengolahan pelayuan, penggilingan, oksidasi enzimatis dan pengeringan.

    Manfaat yang dihasilkan dari minuman teh adalah memberi rasa segar, dapat

    memulihkan kesehatan badan dan tidak menimbulkan dampak negatif.

    Produk teh dapat terbuat dari daun lain seperti daun sirsak, daun alpukat,

    daun talok, daun kelor dan daun jambu biji. Daun kelor dapat dimanfaatkan

    sebagai bahan obat-obatan berkhasiat untuk kesehatan karena mengandung

    kandungan flavonoid sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Menurut Nweze

    (2014) daun kelor mengandung flavonoid, antrakuinon, alkaloid, saponin,

    terpenoid, antosianin, tanin dan karotenoid. Sedangkan Menurut Haryadi (2011)

    daun kelor kering per 100 g mengandung air 0,075%, 2,05 % kalori, 0,382 % ,

    karbohidrat, 0,271 % protein,0.023 % lemak, 0,192 % serat, 20,03 %, kalsium,

    3,68 % magnesium, 2,04 % fosfor, 0,006 % tembaga, 0,282 % besi, 8,7 % sulfur,

    dan 13,24% protasium serta 10 % flavonoid.

    Pembutan teh daun kelor dapat dikombinasikan dengan daun lainya,

    seperti penelitian Sayekti (2016) tentang pembuatan teh daun kelor yang di

    kombinasikan dengan daun katuk di dapatkan kandungan antioksidan sebesar

    74,9% . Daun jambu biji dapat di kombinasikan dalam pembuatan teh untuk

    meningkatan kandungan antioksidan. Menurut savitri (2008) daun jambu biji per

    100g terdapat 0,9g protein, 0,3g lemak, 12g karbohidrat, 14mg kalsium, 28mg

    fosfor, 1,1mg besi, 25 SI vitamin A, 0,02mg vitamin B1,87mg vitamin C, 86g

    air dan total kalori sebanyak 49 kalori. kandung daun jambu biji sebagai sumber

    antioksidan yaitu flavonoid terutama quercetin.

    Pada penelitian Sayekti (2016) teh kombinasi daun kelor dan daun katuk

    memiliki rasa hambar, pahit dan aroma agak langu maka perlu penambahan yang

    digunakan sebagai perasa dan aroma. Agoes (2010) menjelaskan kandungan jahe

    antara lain minyak atsiri, oleorosin, amilum, air dan abu. Aroma yang dimiliki

    jahe disebabkan oleh komponen minyak atsiri, sedangkan rasa pedas yang

    ditimbulkan disebabkan oleh oleoresin.

  • 3

    Dalam pembuatan teh dilakukan proses pengeringan yang bertujuan

    untuk mengurangi kadar air yang terdapat pada bahan baku teh. proses

    pengeringan daun menggunakan oven harus diperhatikan suhu pengeringan

    yang digunakan, agar komponen aktif yang terdapat dalam daun tetap terjaga.

    Berdasarakan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk menguji Sifat

    Organoleptik Teh Daun Kelor Kombinasi Daun Jambu Biji Dengan Variasi Suhu

    Pengeringan Serta Penambahan Perasa Alami Jahe.

    2. METODE PENELITIAN

    Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi UMS, pengujian aktivitas

    antioksidan di Laboratorium Farmasi Universitas Setia Budi, dan pengujian

    organoleptik dilaksanakan dikampus Biologi UMS. Metode penelitian yang

    digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap

    (RAL) dengan 9 kombinasi perlakuan 3 kali pengulangan dan 2 faktor yaitu

    faktor 1 : variasi suhu 55°C (S1), 60°C (S2), 65°C (S3) dan faktor 2 : variasi

    konsentrasi daun kelor : daun jambu biji 1:1 (K1), 1:2 (K2), 2:1 (K3).

    Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kelor yang muda,

    daun jambu biji yang muda, kantong teh, air, DPPH, alumunium foil, methanol,

    kertas label, aquades, teh daun kelor kombinasi daun jambu biji, gula pasir dan

    tissue. Alat yang digunkan adalah pisau, oven, gunting, timbangan digital,

    timbangan analitik, nampan, gelas ukur, sendok, alat tulis, labu takar 5ml, labu

    takar 100ml, pipet ukur 2ml, spektrofotometer UV-Vis, cup plastik.

    Pelaksanaan penelitian di awali dengan pembuatan teh daun kelor

    kombinasi daun jambu biji, kemudian uji sifat organoleptik. Pembuatan teh

    dilakukan dengan cara memetikan daun kelor dan daun jambu bji, kemudian di

    cuci, pelayuan selama 24 jam, pengeringan dengan oven masing-masing suhu

    55ºC, 60ºC, 65ºC selama 2 jam. Penimbangan daun kelor dan daun jambu biji

    yang telah menjadi bubuk kemudian ditimbang dengan timbangan digital

    ditimbang sesuai dengan perlakuan, pengemasan kedalam kantong celup sesuai

    pelakuan masing-masing dan diberi label dan penyeduhan dengan air suhu

    100°C dalam waktu 5 menit.

  • 4

    Uji sifat organoleptik dilakukan oleh 20 orang panelis terlatih yang terdiri

    dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta.

    Teknik dan instrumen pengumpulan data adalah dengan metode

    eksperimen, uji organoleptik, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan

    menggunakan deskriptif kualitatif.

    3. HASIL DAN PEMBAHASAN

    3.1 Hasil

    Tabel 4.1 hasil uji sifat organoleptik teh daun kelor kombinasi daun jambu

    biji

    Keterangan:

    *) kandungan antioksidan terendah

    **) kandungan antioksidan tertinggi

    3.2 Pembahasan

    3.2.1 Uji organoleptik

    Warna

    Warna dominan yang dihasilkan teh daun kelor dan kombinasi

    daun jambu biji yaitu warna coklat muda. Warna coklat muda diperoleh

    pada perlakuan S1K2, S2K1, S2K1, S2K2, S3K1, S3K2 dan S3K3. Dan

    warna kuning muda pada perlakuan S1K1, S1K3, dan S2K3. Penyebab

    warna coklat muda dan kuning muda karena suhu pengeringan sangat

    berprngaruh pada kualitas warna teh.

    Pada saat pengeringan daun tersebut berubah warna agak

    kecoklatan. Menurut Harisson dan Dalimarta (2005), bahwa pada reaksi

    Perlakuan Penilaian uji organoleptik

    Warna Rasa Aroma Daya terima

    S1K1 Kuning muda Sedikit sepat Langu Suka

    S1K2 Coklat muda Sedikit sepat Sedikit langu Suka

    S1K3 Kuning muda Sedikit sepat Sedikit langu Suka

    S2K1 Coklat muda Sedikit sepat Langu Suka

    S2K2 Coklat muda Sedikit sepat Sedikit langu Suka

    S2K3 Kuning muda Sedikit sepat Sedikit langu Suka

    S3K1 Coklat muda Sedikit sepat Langu Suka

    S3K2 Coklat muda Sepat Langu Suka

    S3K3 Coklat muda Sedikit sepat Sedikit langu Suka

  • 5

    Maillard gugus karbonat dari glukosa bereaksi dengan nukleofilik

    gugus amini dari protein yang menghasilkan warna khas coklat. Hal ini

    sependapat dengan Hernani (2009), proses pengeringan menyebabkan

    warna hijau klorofil pada daun teroksidasi menjadi warna coklat. Hal

    ini dikarenakan terjadi peristiwa pencoklatan.

    Rasa

    Rasa pada teh daun kelor kombinasi daun jambu biji berasal dari

    daun itu sendiri, pada perlakuan S1K1, S1K2, S1K3, S2K1, S2K2, S2K3,

    S3K1 dan S3K3 rasanya sedikit sepat dan pada perlakuan S3K2 rasanya

    sepat.

    Rasa sepat tersebut dikarenakan daun kelor dan daun jambu biji

    mengandung senyawa antioksidan salah satunya saponin, tanin dan

    flavonoid. Menurut Winarno (2008) saponin adalah glikosida dalam

    tanaman yang terdiri atas gugus sapogenin (steroid) dan trierpenoid,

    gugus heksosa, pentosa atau asam uronat. Senyawa ini mempunyai rasa

    pahit dan berbusa bila dilarutkan dalam air, saponin akan menimbulkan

    busa ketika dikocok dalam air.

    Aroma

    Aroma teh daun kelor kombinasi daun jambu biji dominan adalah

    sedikit langu. Pada perlakuan S1K2, S1K3, S2K2, S2K3 dan S3K3 aroma

    sedikit langu dan perlakuan S1K1, S2K1, S3K1 dan S3K2 beraroma langu.

    Senyawa yang menyebabkan aroma langu adalah saponin

    (Warsino dan Kres, 2010). Kandungan dalam daun kelor yang

    menyebabkan aroma langu adalah enzim lipolsidase. Enzim lipolsidase

    memiliki fungsi yaitu membeikan aroma langu yang terdapat pada daun

    kelor. Faktor lain yang mempengaruhi aroma adalah kualitas komponen

    aroma, suhu, komposisi aroma, viskositas makanan, interaksi alami

    antar komponen nutrisi dalam makan tersebut.

    Daya terima

  • 6

    Memiliki daya terima suka oleh 20 orang panelis karena memiliki

    warna kuning muda dan coklat muda, rasa sedikit sepat, dan aroma

    sedikit langu.

    4. PENUTUP

    Berdasarkan analisis data dan pembahasan teh daun kelor kombinasi daun

    jambu biji, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil uji sifat

    organoleptik pada teh daun kelor kombinasi daun jambu biji dengan variasi suhu

    pengeringan serta penambahan jahe masing-masing perlakuan memiliki warna

    kuning muda dan coklat muda, rasa sedikit sepat dan sepat, aroma sedikit langu

    dan langu dan daya terima suka dari semua perlakuan.

    Saran dari peneliti adalah pada penelitian selanjutnya dapat meneliti

    kandungan lain yang terdapat pada daun kelor dan daun jambu biji dengan

    variasi atau lama pengeringan yang berbeda dan diperlukan cara menghilangkan

    aroma langu yang dominan dari daun kelor dengan menambahkan perasa yang

    kuat.

    DAFTAR PUSTAKA

    Agoes, A. 2010. Tanaman Obat Indonesia. Jakarta : Salemba Medika.

    Ajeng, Rumantika Galuh .2016. Uji Organoleptik dan Antioksidan Teh Daun Kelor

    dan Kulit Jeruk Purut Dengan Variasi Suhu Pengeringan. Skripsi.

    Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.

    Ajisaka. 2012. Teh Dahsyat Khasiatnya. Surabaya : Stomata.

    Eze, J.I. dan K.E. Agbo. 2011. Comparative studies of sun and solar drying of

    peeled and unpeeled ginger. Am. J. Sci. Ind. Res. 2 : 136-143.

    Fadillah, Rizki, Juni Handajani, Tetiana Haniastuti. 2010. “Ekstrak Daun Jambu

    Biji Konsentrasi 10% yang dikumurkan Dapat Menghambat Pertumbuhan

    Streptococcus Mutans Salivia”. Dentika Dental Journal. Vol 15 Hal: 135-

    140

    http://eprints.ums.ac.id/42715/http://eprints.ums.ac.id/42715/

  • 7

    Fahey, J.W. 2005. Moringa: A review of the Medical Evidence for Its Nutritional,

    Therapeutic, and Prophylactic Properties. Part I. USA: Trees for live

    Journal

    Hadisaputra, Deny Indra Praja. 2012. Super food. Yogyakarta: Flash Books.

    Hartiati, A., & Mulyani, S. 2009. Pengaruh Preparasi Bahan Baku Rosella dan

    Waktu ]Pemasakan Terhadap Aktivitas Antioksidan Sirup Bunga Rosella

    (Hisbiscus sabdariffa L.). Jurnal Argotekno Vol.15 No,1 : 20-24. Bali:

    Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,

    Universitas Udayana.

    Haryadi , N. K. 2011. Kelor herbal Multikhasiat Ampuh Melawan diabetes

    Mellitus, Kolesterol Tinggi dan Penyakit Lainnya. Surakarta: Delta Media.

    Hernani. 2009. Gandapura : pengolahan, fitokimia, minyak atsiri, dan daya

    herbisida. Buletin penelitian tanaman rempah dan obat. Vol. XV (2) : 32-

    40.

    Nweze, Nkechin yere Onyekwere and Nwafor, Felix I. 2014. Phytochemivcal,

    Proximate and Mineral Composition Of Leaf Extracts Of Moringa Oleifera

    Lam. From Nsukka, South-Eastern Nigeria. Journal of pharmacy and

    biological sciences. Volume 9, issue 3.

    Palada, M.C. 2003. Suggested Cultural Practice for Moringa. Taiwan: AVRDC.

    Pin, K.Y., T.G. Chuah., A. Abdull Rashih, C.L. Law, M.A. Rasadah, and T.S.Y.

    Choong. 2009. Drying of Betel Leaves (Piper betle L.): Quality and Drying

    Kinetics. Drying Technology. 27 (1) : 149-155.

    Retno, Aria Ningrum. 2013. Pemanfaatan Tumbuhan Jambu biji Sebagai Obat

    Tradisional. Universitas Negeri Yogyakarta: Jogjakarta.

    Rofiah, D. 2015. Aktivitas Antioksidan Dan Sifat Organoleptik Teh Daun Kelor

    Dengan Variasi Lama Pengeringan Dan Penambahan Jahe Serta Lengkuas

    Sebagai Perasa Alami. Skripsi. Surakarta : Universitas Muhammadiyah

    Surakarta.

    Sayaketi, Erviana Duwi. 2016. Aktivitas Antioksidan Teh Kombinasi Daun Katuk

    Dan Daun Kelor Dengan Variasi Suhu Pengeringan. Skripsi. Surakarta :

    Universitas Muhammadiyah Surakarta.

    Sumali. 2011. Pilihan Konsumsi Daun Graviola. Trubus 496 Maret 2011.

    Sutrisno, L. 2011. Efek Pemberian Ekstrak Methanol Daun Kelor (Moringa

    Oleifera) Meningkatkan Apoptosis Pada Sel Epitel Kolon Tikus (Rattus

  • 8

    Norvegius) Wistar Yang Diinduksi 7,12 Dimetilbenz (alfa) Antrasen

    (DMBA). Skripsi. Malang : Universitas Brawijaya.

    Tjitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta).

    Yogyakarta : Gadjah Mada University.

    Winarsi, Hery., et al. 2007. Antiokisdan Alami dan Radikal Bebas : Potensi dan

    Aplikasi Dalam Kesehatan. Yogyakarta, Indonesia : Kanisius. Halaman

    11, 17-18, 20, 77-111, 122, 211-218.

    Yulianti. Rika. 2008. “ Pembuatan Minuman Jeli Daun Kelor (Moringa oleifera

    Lamk. ) Sebagai Sumber Vitamin C”. (Skripsi S-1 Progam Studi Gizi

    Masyarakat Dan Sumber Daya Keluarga ). Fakultas Pertanian. Institut

    Pertanian Bogor.

    Yulinar, Rochmasari, Studi Isolasi Dan Penentuan Struktur Molekul Senyawa

    Kimia Dalam Fraksi Netral Daun Jambu Biji Australia (Psidium guajava

    L.), Universitas Indonesia, Depok, 2011, hlm. 3.