Anaestesi Umum Orthopaedi

  • View
    228

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Anaestesi Umum Orthopaedi

Text of Anaestesi Umum Orthopaedi

Anaestesi Umum

Anaestesi Umum

Case Report

Anestesi Umum

Muhammad Adib Thaqif Bin Mazlan

NIM : 11.2012.211

Bahagian Anaestesi Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJalan Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510

Email: avian77camelot@yahoo.com.my

Latar Belakang Usaha menekan rasa nyeri pada tindakan operasi dengan menggunakan obat telah dilakukan sejak zaman dahulu, termasuk pemberian alkohol dan opioidum secara oral. Pada masa kini, usaha menekan rasa nyeri (anaestesi) dibahagikan menjadi dua; anaestesi umum dan anaestesi regional. Anestesi umum (general anesthesia) adalah keadaan yang dihasilkan ketika pasien menerima obat untuk amnesia, analgesia, kelumpuhan otot, dan sedasi. Seorang pasien yang teranestesi umum akan berada dalam keadaan tidak sadar yang terkontrol dan reversibel. Anestesi memungkinkan pasien untuk mentolerir prosedur bedah yang dapat menimbulkan rasa sakit tak tertahankan, mempotensiasi eksaserbasi fisiologis yang ekstrim, dan menghasilkan perasaan yang tidak menyenangkan.

Stadium anestesi umum meliputi analgesia, amnesia, hilangnya kesadaran, terhambatnya sensorik dan reflex otonom, dan relaksasi otot rangka. Untuk menimbulkan efek ini, setiap obat anestesi mempunyai variasi tersendiri bergantung pada jenis obat, dosis yang diberikan dan keadaan secara klinis. Anestetik yang ideal akan bekerja secara tepat dan baik serta mengembalikan kesadaran dengan cepat segera sesudah pemberian dihentikan. Dalam mengadministrasikan serta menjalankan anaestesi umum ini, seroang perlu melakukan pemeriksaan preoperatif terlebih dahulu untuk melihat dan mengantisipasi komplikasi yang dapat terjadi pada saat operasi berjalan. Seorang ahli anaestesi perlu mengetahui daripada saat anamnesis hingga saat operasi selesai dalam menjamn kesehatan dan keselamatan pasien yang dibawah tanggungjawabnya.

Tujuan0. Memahami tentang anestesi umum0. Memahami persiapan pre anestesi umum0. Memahami proses dan teknik anestesi0. Memahami obat obat yang diberikan dalam anestesi umum

Pengenalan Anaestesi UmumGeneral anaesthesia atau anaestesi umum adalah keadaan melakukan tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai dengan hilangnya kesadaran yang bersifat pulih kembali (reversibel) menggunakan administrasi satu atau lebih agen anaestesi umum. Komponen anaestesi yang ideal terdiri daripada keadaan hipnotik, analgesia dan relaksasi otot. Anaestesi umum ditandai oleh tujuannya yang termasuk:- Analgesia loss of response to pain Amnesia loss of memory Immobility loss of motor reflexes Unconsciouness loss of consciousness Skeletal muscle relaxationKeadaan anaestesi biasanya disebut sebagai anaestesi umum, ditandai oleh tahap tidak sedar yang diinduksi, yang selama itu rangsang operasi hanya menimbulkan respons autonom. Oleh karena itu, pasien tidak boleh diberikan gerak volunteer, namun masih terjadi perubahan di dalam gerak pernafasan dan kardiovaskular yang dapat terlihat dengan mesin anaestesi. Keadaan anaestesi berbeda dengan keadaan analgesia, yang didefinisikan sebagai hilangnya deria nyeri. Banyak teori telah dikemukan, tetapi sampai sekarang belum ada keterangan yang memuaskan tentang jalan kerja obat anaestesi. Ditinjau dari aspek vaskularisasi, obat anaestetika yang diadministrasikan akan menyebar ke jaringan terutama pada jaringan yang kaya pembuluh darah seperti otak sehingga kesadaran menurun atau hilang di samping menghilangkan rasa sakit.Berdasarkan teori neurofisiologis, diyakini bahawa anaestesi terjadi karena perubahan neurotransmisi di berbagai bahagian SSP. Kerja neurotransmiter di pascasinaps akan diikuti dengan pembentukan second-messenger yang selanjutnya mengubah transmisi di neuron. Di samping acetylcholine sebagai neurotransmitter klasik, dikenal juga cathecolamine, serotonin, GABA, adenosine, serta berbagai asam amino dan petida endogen yang bertindak sebagai neurotransmitter atau yang memodulasi neurotransmiter di SSP, misalnya asam glutamat dengan mekanisme hambatan pada reseptor NMDA. Opiat, kalsium dan NO diduga berperan dalam mekanisme kerja anaestetik ini. Kalsium dikenal sebagai neuroregulator karena anaestesi inhalasi dapat mengubah kadar kalsium intrasel dan ini mempengaruhi keterangsangan neuron. NO pula dikenal sebagai neuromodulator yang diduga berperan dalam mengatur tingkat kesadaran. NO terlibat dalam komunikasi intrasel melalui produksi cGMP dan melalui beberapa jalur neurotransmisi lainnya. NO ini mengaktfkan adenilat siklase untuk menghasilkan cGMP, suatu pengatur proses intrasel yang berperanan penting dalam neurotransmisi. Akhir ini terbukti bahawa sasaran kerja anaestetik inhalasi maupun intravena adalah GABAA receptor-chloride channel, suatu komponen membran neuron yan berperan dalam transmisi sinaps penghambat (inhibitory sinatic transmission).Anaestetik inhalasi terbukti mengubah ambang rangsang neuron di beberapa bagian SSP yang sangat peka terhadap anaestetik. Letupan impulse pada neuron ini dapat dihambat secara total oleh kadar anestetik minimum halothane, sementara neuron tetangganya hanya mengalami sedikit perubahan. Dulu diyakin bahawa anaestesi merupakan proses supraspinal, tetapi beberapa bukti memperlihatkan bahawa hilangnya respons motorik pada anaestesia lebih disebabkan oleh kerja anaestetika di medula spinalis. Di otak, anaestetika inhalasi menghambat transmisi sinaps di sistem retikularis asendens, korteks serebri dan hipokampus. Penyampaian informasi sensoris dari talamus ke bahagian tertentu di korteks, sangat peka terhadap anaestetik. Di medula spinalis, anaestetik mengubah respons sensoris dari kornu dorsalis terhadap rangsangan nyeri maupun rangsangan lainnya yang tidak menimbulkan nyeri. Beberapa anaestetika yang menguap dapat menekan neuron motorik spinalis. Selain itu, anaestetik inhalasi mempengaruhi aktivitas neuron spinalis secara tidak langsung dengan mengubah masukan dari otak melalui sistem modulasi desendens. Walaupun tempat kerja anaestetik di SSP beragam, terdapat ciri kerja yang unik di tingkat molekul. Misalnya, diambatnya penglepasan neurotransmiter di presinaps dan dihambatnya arus neurotransmitter di pasca sinaps ternyata terjadi akibat gangguan anaestetik pada situs molekuler. Konsep yang menyatakan persamaan cara kerja anaestetik pada struktur molekul ini dikenal sebagai unitary theory of narcosis.

Stadium Anestesia UmumSemua zat anaestetik menghambat SSP secara bertahap yang pada awalnya dihambat adalah fungsi yang kompleks, dan yang paling akhir di hambat adalah medula oblongata tempat pusat vasomotor dan pernafasan. Guedel membagi anaestesia umum dalam 4 stadium:- Stadium I (Analgesia)Dimulai sejak saat pemberian anaestetik sampai hilangnya kesadaran. Pada stadium ini, pasien tidak lagi merasakan nyeri, tetapi masih tetap sadar dan dapat mengikuti perintah. Pada stadium ini dapat dilakukan tindakan pembedahan ringan Stadium II (Eksitasi)Dimulai seja hilangnya kesadaran sampai munculnya pernafasan yang teratur yang merupakan tanda dimulainya stadium pembedahan. Pada stadium ini pasien tampak mengalami delirium dan eksitasi dengan gerakan di luar kehendak. Pernafasan tidak teratur, kadang apnea dan hiperpnea, tonus otot rangka meninggi, pasien meronta, kadang sampai mengalami inkontinensia, dan muntah. Ini terjadi karena hambatan pada pusat inhibisi Stadium III (Pembedahan)Dimulai dengan timbulnya kembali pernafasan yang teratur dan berlangsung sampai pernafasan spontan hilang. Keempat tingkat dalam stadium pembedahan ini dibedakan dari perubahan pada gerakan bola mata, refleks bulu mata dan konjungtiva, tonus otot, dan lebar pupil yang mengambarkan semakin dalamnya pembiusan. Tingkat I Pernafasan teratur, spontan, dan seimbang antara pernafasan dada dan perut, gerakan bola mata terjadi di luar kehendak, miosis sedangkan tonus otot rangka masih ada. Tingkat II pernafasan teratur tetapi frekuensinya lebih kecil, bola mata tidak bergerak, pupil mata melebar, otot rangka mulai melemas, dan refleks laring hilang sehingga pada tingkat ini dapat dilakukan intubasi Tingkat III Pernafasan perut lebih nyata daripada pernafasan dada karena otot interkostal mulai lumpuh, relaksasi otot rangka sempurna, pupil lebih lebar tetapi bulum maksimal Tingkat IV pernafasan perut sempurna karena otot interkostal lumpuh total, tekanan darah mulai menurun, pupil sangat lebar dan refleks cahaya hilang. Pembiusan dielakkan mencapai tingkat ini karena pernafasan spontan melemah.

Stadium IV(Depresi Medula Oblongata)Dimulai dengan melemahnya pernafasan perut dibanding stadium III tingkat IV, tekanan darah tidak dapat diukur karena pembuluh darah kolaps, dan jantung berhenti berdenyut. Keadaan ini segera disusul kematian, kelumpuhan nafas di sini tidak dapat diatasi dengan pernafasan buatan, bila tidak didukung oleh alat bantu nafas dan sirkulasi.Selain derajat kesadaran, relaksasi otot, dan tanda depresi medula oblongata, ahli anaestesi menilai dalamnya anaestesia dari respons terhadap rangsangan nyeri yang ringan sampai kuat. Rangsangan yang kuat terjadi sewaktu pemotongan kulit, manipulasi peritoneum, kornea, mukosa uretra terutama bila ada peradangan. Nyeri sedang terasa ketika terjadi manipulasi pada fascia, otot dan jaringan lemak, sedangkan nyeri ringan terasa ketika terjadi pemotongan dan penjahitan usus, atau pemotongan jaringan otak.

Jenis Anaestetika UmumPada dasarnya, anaestetika umum dibedakan atas dua cara, yaitu secara inhalasi dan intravena. Walaupun demikian, secara tradisional, anaestetik umum dapat diberikan dengan menggunakan berbagai jenis sistem anaestetika, yakni dengan sistem tetes terbuka, tetes setengah terbuka, semi-tertutup Mappleson dan tertutup. Eter Halothane, enfluran, metoksifluran, ethylchloride dan fluroksen merupakan cairan yang mudah menguap sehingga dulu di kelompokkan dalam anestetik yang menguap teteapi semuanya digunakan secara inhalasi setelah diuapkan