Analisa Perikanan Tangkap Di Provinisi Aceh-libre

  • Published on
    24-Dec-2015

  • View
    18

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

analisa perikanan tangkap

Transcript

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1. Latar belakang

    Bangsa Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki sumber daya alam

    yang melimpah baik yang ada di darat maupun yang ada di laut. Perikanan menjadi salah

    satu sumber daya yang mempunyai peranan yang penting dalam Pembangunan Nasional.

    Berdasarkan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) Institut Pertanian Bogor

    (IPB) potensi perikanan mencapai 31,935 miliar dolar AS per tahun. Berdasarkan hasil kajian

    Asian Development Bank (ADB) potensi ekonomi di wilayah pesisir mencapai 56 miliar

    dolar AS per tahun. Produksi perikanan laut sekitar 6,4 juta ton per tahun, perairan umum

    sekitar 4,94 ton per tahun, lahan budidaya tambak 1,2 juta hektare, budidaya Laut sebanyak

    8,4 juta hektare, dan budidaya Air Tawar 2,2 juta hectare. (SuaraMerdeka.Com24/11/2012).

    Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C.Sutardjo mengatakan, sebagai negara yang

    70 persen kawasannya berupa perairan dan laut, Indonesia memiliki potensi yang

    menggairahkan untuk mengembangkan ekonomi berbasiskan kelautan dan perikanan.

    Sehingga nantinya bisa memberikan kontribusi positif terhadap percepatan pembangunan

    industrialisasi kelautan dan perikanan, khususnya pada perekonomian nasional

    (TribunNews.Com 8/12/2012).

    Provinsi Aceh terletak di ujung barat Indonesia, secara geografis di kelilingi oleh laut

    yaitu Selat Malaka, Samudera Hindia dan pantai utaranya berbatasan dengan Selat Benggala.

    Provinsi Aceh berpotensi mengembangkan sektor perikanan menjadi andalan untuk

    menggerakkan perekonomian daerah. Pembangunan subsektor perikanan merupakan salah

    satu bagian dari pembangunan pertanian yang diarahkan untuk meningkatkan pendapatan

    masyarakat, swasembada hewani, peningkatan devisa negara dan menciptakan lapangan kerja

    yang produktif. Pembangunan subsektor perikanan diarahkan pada usaha peningkatan

    produksi perikanan yang mencakup perikanan laut, budidaya tambak dan perairan umum

    lainnya.

    Wilayah pesisir Aceh memiliki panjang garis pantai 1.660 km dengan luas wilayah

    perairan laut seluas 295.370 km terdiri dari laut wilayah (perairan teritorial dan perairan

    kepulauan) 56.563 km dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 238.807 km.Wilayah pantai dan

    lautnya secara umum di pengaruhi oleh persimpangan arus dan gerakan Samudera Hindia,

    Selat Malaka dan Laut Cina Selatan yang berinteraksi dengan daratan pulau Sumatera,

  • 2

    Semenanjung Malaka, Kepulauan Andaman dan Nicobar, sehingga menampakkan ekosistem

    laut di sepanjang pesisir Aceh sangat sesuai bagi kehidupan,biota laut.

    Potensi sumberdaya ikan (stock assesment) di laut untuk perairan teritorial dan

    perairan kepulauan sebesar 220.090 ton dan di ZEE sebesar 203.320 ton atau total sebesar +

    423.410 ton. Potensi lestari atau Maksimum Sustainable Yield (MSY) laut wilayah sebesar

    110.045 ton dan ZEE dengan Total Allowable Catch (TAC) sebesar 80 persen atau + 162.656

    ton. Berarti total potensi lestari seluruhnya 272.707 ton dengan tingkat pemanfaatan baru

    mencapai 141.619,6 ton (51,93%) tahun 2009 dengan kata lain masih terdapat peluang

    pengembangan sebesar 48,07 persen.

    Potensi perikanan tangkap provinsi Aceh sempat mengalami krisis dan penurunan

    pada saat bencana Gempa Bumi dan Tsunami pada 26 Desember 2004. Hal tersebut

    mempengaruhi kondisi perikanan Aceh, seperti banyaknya jumlah Nelayan yang meninggal

    di pantai Barat dan Timur , rusaknya infrastruktur dan aset-aset nelayan, kondisi perumahan

    yang hancur. Tahapan pembangungan dan rekonstruksi Aceh memberi perhatian yang besar

    terhadap sektor perikanan. BRR sendiri sebagai lembaga pernerintah yang diberikana

    wewenang untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi Propinsi NAD dan Nias pasca

    tsunami yang ditetapkan melalui UU No.10 tahun 2005 telah melalukan berbagai kegiatan

    mulai dari perencanaan, pelaksanaan, koordinasi, money, dan pengawasan yang terkait

    dengan pemulihan kembali kegiatan perikanan tangkap baik di Propinsi NAD maupun Nias.

    Salah satu penyebab rendahnya produktivitas di sektor perikanan adalah

    eksploitasi perikanan di beberapa daerah telah melebihi kapasitas sumber dayanya atau

    disebut dengan tangkap lebih atau overfishing (Fauzi 2004). Masalah tangkap lebih

    merupakan isu pokok yang terjadi di beberapa daerah penangkapan ikan. Gordon (1954)

    dalam Fauzi (2004) menyatakan bahwa sumber daya ikan pada umumnya open access, Siapa

    saja bisa berpartisipasi tanpa harus memiliki sumber daya tersebut. Oleh karena itu, perikanan

    tangkap yang tidak terkontrol lini akan megakibatkan economic overfishing. Gejala ini

    diyakini telah terjadi di Aceh, yang ditandai dengan tingginya penggunaan input, tetapi tidak

    dibarengi dengan peningkatan output dan returns secara proporsional yang maknanya usaha

    perikanan tangkap di Aceh semakin tidak efisien (Indra, 2007)

    Prasarana dan sarana perikanan tangkap mengalami kerusakan seperti pelabuhan

    Perikanan, Pusat Pelalangan Ikan, Tempat Penampungan Ikan, cold storage, pabrik es,

    galangan kapal rakyat, unit/alat tangkap, dan pemukiman nelayan. Struktur armada dan usaha

    budidaya masih didominasi oleh skala kecil/tradisional dengan kemampuan IPTEK yang

  • 3

    rendah. Wilayah pesisir di Provinsi Aceh mengalami kerusakan sebesar 800 Km dari total

    1660 Km panjang garis pantai.

    Sektor perikanan tangkap terdiri dari nelayan tetap dan nelayan tidak tetap sebanyak

    164.080 jiwa, sektor budidaya sebanyak 56.300 jiwa, sektor pengolahan sebanyak 20.670

    jiwa dan sektor pemasaran hasil perikanan melalui penjual ikan (mugee eungkoet) mencapai

    16.250 jiwa (Statistik Perikanan Tangkap, 2011). Secara lebih rinci, sektor perikanan di Aceh

    menyerap 257.300 jiwa tenaga kerja, yang terdiri dari 4 (empat) sektor yaitu : Sektor

    penangkapan, Sektor budidaya, Sektor pengolahan, Sektor pemasaran hasil perikanan.

    Berdasarkan data dari Dinas Perikanan Aceh, potensi perikanan laut Aceh mencapai

    423.410 ton per tahun, sementara yang tergarap oleh nelayan tradisional Aceh baru sekitar

    125.000 Ton. Artinya, nelayan Aceh baru mampu menggarap 37 persen dari potensi

    perikanan laut Aceh.

    Beberapa faktor yang menjadi kelemahan nelayan Aceh dalam mengoptimalkan hasil

    perikanan laut antara lain minimnya sarana dan prasarana. Unit teknologi penangkapan.

    Nelayan yang ada di Aceh umumnya adalah nelayan tradisonal yang tidak memiliki modal

    besar untuk mengembangkan usahanya menjadi lebih besar dan persoalan Sumber daya

    manusia yang masih lemah sehingga penguasaan tentang teknik penangkapan dan

    pengelolaan ikan masih lemah.

    Penurunan produksi perikanan di Provinsi Aceh tidak hanya disebabkan oleh faktor

    dan kondisi nelayan yang kurang produktif tetapi juga sarana prasarana yang mendukung

    aktivitas penangkapan. Daerah-daerah dengan potensi perikanan yang mengalami penurunan

    produksi harus mendapat perhatian dan arah kebijakan. Maka dari itu, berdasarkan

    permasalah tersebut penelitian tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi

    perikanan tangkap di Provinsi Aceh perlu dilakukan dan menjadi rekomendasi bagi para

    stake holder dalam meningkatkan produksi perikanan tangkap Aceh.

    1.2. Rumusan Masalah

    1. Bagaimana kondisi produksi perikanan tangkap di provinsi Aceh selama tahun

    2007-2011?

    2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi perikanan tangkap di

    Provinsi Aceh selama tahun 2007-2011?

  • 4

    1.3. Tujuan Peneltian

    1. Identifikasi kondisi produksi perikanan tangkap di seluruh wilayah

    kabupaten/Kota Provinsi Aceh selama tahun 2007-2011.

    2. Mengkaji hubungan sebab akibat antara produksi perikanan tangkap dengan

    faktor-faktor yang mempengaruhinya

    1.4. Referensi Jurnal/Penelitian Terdahulu

    Berikut ini beberapa jurnal tentang perikanan tangkap yang menjadi landasann

    berfikir dalam penelitian ini.

    Tabel 1 Jurnal/Penelitian Perikanan Tangkap No Peneliti Judul Variabel Metode Hasil Penelitian 1 Edy Sumity

    (2011)

    Dampak Kebijakan Perikanan Taangkap Terhadap Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (Studi Kasus di Provinsi Banten)

    Nelayan dan Implementasi Kebijakan

    Metode deskriptif analisis

    1. Implementasi program pemberdayaan nelayan untuk meningkatkan produksi perikanan tangkap sangat dipengaruhi oleh kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat nelayan

    2. akses kebijakan dan pengetahuan mengenai program-program pemberdayaan nelayan masih lemah, seperti:

    - aspek kebijakan diantaranya regulasi tentang ekologi, teknik penangkapan, perizinan usaha penangkapan ikan, dan retribusi.

    - Penggunaan alat penangkapan (jaring) yang tidak diperbolehkan berdasarkan dengan ketentuan daerah.

    - Pembinaan sarana-prasarana dalam kegiatan penangkapan dan pelelangan ikan

    2 Suharsono, Aziz Nur Bambang,

    Elastisitas Produksi Perikanan Tangkap Kota Tegal

    Produksi perikanan, jumlah&jenis

    Analisa koefesien elastis dengan fungsi

    1. Proyeksi produksi perikanan iprediksikan akan lebih baik jika

  • 5

    Asrianto (2006)

    armada, dan alat tangkap

    produksi Cobb Douglas

    didasarkan atas elastisitas perilaku faktor produksi.

    2. Hasil menunjukkan bahwa unit alat-alat penangkapan bersifat inelastisitas.

    3. Unit alat penangkapan yang mempunyai pengaruh negatif pada peningkatan produksi adalah trammel net, gill net hanyut dan cantrang/dogol KM 5 GT-20 GT.

    3 Rizwan, Ichsan, dan Ratna Aprilla. (2011)

    Effect Of Production Factors On Purse Seine Fish Capture in The Lampulo Coastal Fisheries Port Banda Aceh.

    Y=Hasil tangkapan (kg), X1= Ukuran Kapal, X2 Daya Mesin kapal (GT), X3= Panjang jaring pukat cincin (m), X4= kedalaman jaring (m), X5=jumlah awak kapal (orang), X6= BBM (liter), X7=jumlah lampu

    Regresi Linear Berganda

    1. Ukuran kapal, daya mesin kapal, panjang jaring pukat cincin, dalam jaring pukat cincin,jumlah ABK, BBM, dan jumlah lampu mempengaruhi hasil tangkapan nelayan pukat cincin di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lampulo, Banda Aceh.

    2. Secara parsial, hanya faktor produsi BBM yang berpengaruh nyata terhadap kenaikan hasil tangkapan nelayan pukat cincin di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lampulo, Banda Aceh. Sedangkan keenam variabel lainnya (ukuran kapal, daya mesin kapal, panjang jaring pukat cincin, dalam jaring pukat cincin, jumlah ABK, dan jumlah lampu) tidak berpengaruh nyata).

    4 Juwarti (2003)

    Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil

    Jumlah perahu, Jumlah alat tangkap,

    Alisis grafik, Analisis trend (pertumbuhan),

    1. jumlah perahu, jumlah alat tangkap, jenis mesin yang digunakan,

  • 6

    Tangkapan Ikan Laut di Pandansimo Kabupaten Bantul

    Jenis mesin yang digunakan, jumlah trip dan Jumlah nelayan

    dan analisis regresi.

    jumlah trip dan jumlah nelayan rata-rata per tahunnya mengalami kenaikan yang diikuti pula oleh tingkat pertumbuhan produksi hasil tangkapan yang cenderung meningkat.

    2. Faktor jumlah alat tangkap, jumlah trip, biaya operasional dan musim ikan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan di pantai

    3. Terdapat perbedaan hasil tangkapan ikan laut yang dipengaruhi oleh musim ikan yang lebih tinggi.

    4. jumlah perahu dan jumlah nelayan secara statistik tidak menunjukkan adanya pengaruh yang bermakna (non signifikan).

    .,

  • 7

    BAB II

    METODE PENELITIAN

    2.1. Jenis dan Sumber Data

    Jenis data dalam peneltian ini adalah struktur data panel statistik perikanan tangkap

    Provinsi Aceh yang menghubungkan time series dan cross section. Data time series diambil

    dari tahun 2007-2011 (selama 5 tahun) dan data cross section pada 18 Kabupaten/Kota

    Provinsi Aceh. Data penelitian bersumber dari Statistik perikanan tangkap oleh Dinas

    Perikanan dan Kelautan Provinsi Aceh. Menurut (Gujarati, 2004), data panel berguna untuk:

    1. Menggabungkan informasi dari data time series dan cross section dapat mengatasi

    masalah yang timbul ketika ada masalah penghilangan variabel atau (omitted

    variable).

    2. memberikan data yang lebih informatif, lebih bervariasi, mengurangi kolinearitas

    antarvariabel, memperbesar derajat kebebasan, dan lebih efisien

    3. Mendeteksi dan mengukur efek suatu variabel pada variabel lainnya dengan lebih

    baik daripada hanya dengan menggunakan data time series atau cross-section

    sehingga akan menghasilkan degree of freedom yang lebih besar.

    4. Data panel dapat digunakan untuk mempelajari model prilaku (behavioral model)

    yang lebih kompleks.

    5. Dapat mengurasi bias yang mungkin terjadi bila kita mengaggregasi individu-

    individu atau perusahaan-perusahaan ke dalam aggregasi yang luas

    2.2. Desain Penelitian

    Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisa kuantitatif secara

    ekonometrika melalui regresi data panel dengan menggunakan program EViews 7.0. regresi

    adalah studi bagaimana variabel dependen dipengaruhi oleh satu atau lebih variabel

    independen dengan tujuan untuk mengestimasi dan atau memprediksi nilai rata-rata variabel

    dependen didasarkan pada nilai variabel independen yang diketahui (Agus Widarjono,

    2007). Dalam analisa model regresi data panel dikenal dengan tiga macam pendekatan yang

    terdiri dari pendekatan kuadrat terkecil (pooled least square), pendekatan efek tetap (fixed

    efect), dan pendekatan efek acak (random effect) (Nachrowi, 2006).

    Berdasarkan ketiga teknik estimasi regresi data panel tersebut, maka pada penelitian

    ini digunakan model estimasi random effect dengan uji hausman test untuk melihat

  • 8

    kecocokan model regresi data panel antara fixed effect dengan random effect. Metode OLS

    tidak digunakan karena pada unit individu tidak memiliki intersep dan slope yang sama (ada

    perbedaan pada dimensi waktu ). Variabel-variabel yangdigunakan sebagai berikut:

    Tabel 2. Varible Peneltian

    Varible Satuan Defenisi* Notasi 1. Dependent

    Produksi Perikanan Tangkap

    Ton Kegiatan/aktvitas ekonomi menangkap atau mengumpulkan ikan/binatang air lainnya/tanaman air yang hidup di laut/perairan umum secara bebas dan bukan milik perseorangan.

    Y

    2. Independent

    Jumlah Nelayan Orang Jumlah Nelayan dihitung berdasarkan pendekatan rumah tangga perikanan, yaitu secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan/binatang air lainnya/tanaman air

    X1

    Alat Penangkapan Ikan Unit kesatuan teknis dalam suatu operasi penangkapan, terdiri dari pukat tarik, pukat kantong, pukat cincin, jaring insang, jaring angkat, pancing, perangkap, dan alat pengumpul.

    X2

    Perahu Unit Terdiri dari perahu tanpa motor, perahu motor tempel, kapal motor

    X3

    *Defenisi statitik perikanan tangkap Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2011.

  • 9

    Disebabkan adanya batasan dalam data-data perikanan tangkap provinsi Aceh, maka

    dalam penelitian ini jenis atau klasifikasi alat penangkapan dan perahu di abaikan, artinya

    kedua variable tersebut sudah berada dalam satu kesatuan.

    2.3. Model Analisis dan Pengujian Hipotesis

    Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi data panel (pooled),

    secara Umum model dapat dirumuskan sebagai berikut:

    i = 1, 2, .. N menunjukkan data cross section

    t = 1, 2, T menunjukkan dimensi deret waktu (2007-2011)

    i = koefisien intersep (konstanta)

    = koefisien slope (parameter) dengan dim...

Recommended

View more >