ANALISIS FUNDAMENTAL SAHAM PERUSAHAAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/28277/1/FAJAR... · analisis fundamental saham ... di indeks saham syariah indonesia (issi)

  • View
    220

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of ANALISIS FUNDAMENTAL SAHAM PERUSAHAAN...

  • ANALISIS FUNDAMENTAL SAHAM PERUSAHAAN SEKTOR BARANG

    KONSUMSI (CONSUMER GOODS) DI INDEKS SAHAM SYARIAH

    INDONESIA (ISSI) PERIODE 2011 - 2013 DENGAN METODE TOP

    DOWN ANALYSIS

    SKRIPSI

    Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Persyaratan

    Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.E.Sy.)

    Oleh:

    Fajar Fuady

    NIM: 1110046100035

    PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)

    KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH

    FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    2014 M/ 1436 H

  • iv

    LEMBAR PERNYATAAN

    KEASLIAN KARYA ILMIYAH

    Yang bertanda tangan dibawah ini:

    Nama : Fajar Fuady

    No.Induk Mahasiswa : 1110046100035

    Jurusan : Perbankan Syariah

    Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya;

    1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan mempertanggungjawabkan.

    2. Tidak melakukan plagiat terhadap naskah karya orang lain. 3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli

    atau tanpa ijin pemilik karya. 4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data. 5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggungjawab atas

    karya ini.

    Jikalau di kemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah melalui pembuktian yang dapat dipertanggung-jawabkan, ternyata memang ditemukan bukti bahwa saya telah melangggar pernyataataan diatas, maka saya siap untuk dikenakan sanksi bedasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

    Ciputat, 26 November 2014

    (Fajar Fuady)

  • v

    ABSTRAK

    Fajar Fuady. NIM 1110046100035. Analisis Fundamental Saham Perusahaan Sektor Barang Konsumsi (Consumer Goods) Di Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) Periode 2011-2013. Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi Muamalat, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.

    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai saham dan posisi nilai saham (overvalued, fairvalued, atau undervalued) menggunakan metode penilaian Price Earning Ratio (PER), dan metode penilaian Price Book Value (PBV), serta memberikan gambaran kepada investor untuk menentukan keputusan investasi berdasarkan analisis fundamental.

    Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa PT. Indofood CBP Sukses

    Makmur, Tbk , PT. Ultra Jaya Milk Industri, Tbk dan PT. Mayora Indah, Tbk memiliki prospek yang bagus sebagai tujuan investasi. Kemudian berdasarkan hasil valuasi saham , nilai saham PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk , PT. Mayora Indah, Tbk dan PT. Ultra Jaya Milk Industri, Tbk menggunakan metode PER berada pada posisi undervalued. Maka keputusan yang seharusnya diambil ialah membeli atau menahan saham ketiga perusahaan tersebut. Selanjutnya posisi saham PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk , PT. Mayora Indah, Tbk dan PT.Ultra Jaya Milk Industri,Tbk yang dihitung menggunakan metode PBV menunjukkan nilai saham berada dalam posisi overvalued. Maka, keputusan yang seharusnya diambil adalah menjual atau tidak membeli dulu saham tersebut.

    Kata Kunci : Analisis Fundamental, Consumer Goods, Price Earning Ratio, Price

    Book Value

    Pembimbing : Sofyan Rizal, SE. M.Si.,

    Daftar Pustaka : Tahun 1991 - 2014

  • vi

    KATA PENGANTAR

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Bissmillahirohmanirrohim

    Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan

    rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

    Analisis Fundamental Saham Perusahaan Sektor Barang Konsumsi (Consumer

    Goods) Di Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) Periode 2011-2013.

    Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi

    Muhammad SAW, yang telah membawa umat Islam dari zaman kegelapan menuju

    zaman yang terang benderang seperti saat ini. Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis

    tidak terlepas dari segala bantuan serta dukungan dari semua pihak. Oleh karena itu,

    pada kesempatan ini izinkan penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-

    dalamnya kepada:

    1. Bapak Dr. H. JM Muslimin, MA., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum;

    2. Bapak Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag. M.H., selaku Ketua Prodi Muamalat

    Fakultas Syariah dan Hukum;

    3. Bapak Abdurrauf, M.A., sebagai Sekretaris Prodi Muamalat Fakultas Syariah

    dan Hukum;

    4. Ibu Yuke Rahmawati, MA selaku dosen penasihat akademik;

  • vii

    5. Bapak Sofyan Rizal, SE. M.Si , sebagai Dosen Pembimbing yang telah

    meluangkan waktunya untuk membimbing penulis, dari mulai awal penelitian

    hingga terselesaikannya skripsi ini, terima kasih untuk seluruh nasehat yang

    telah Bapak berikan.

    6. Kedua orang tuaku, Murtadi Salbini dan Mimi Maryati, yang tidak pernah

    lelah memberikan petuah hidup, serta keempat kakakku Ina Farrihah, Iwan

    Kurniawan, Ahmad Fariz dan Farida yang selalu memberikan doa, semangat,

    serta dukungan moril yang sangat berarti bagi penulis, kalian adalah motivasi

    terbesar dalam hidup. Skripsi ini penulis persembahkan untuk kalian, terima

    kasih;

    7. Pimpinan Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan

    Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta segenap pegawainya yanng

    telah memberikan penulis fasilitas untuk mengadakan studi perpustakaan;

    8. Keluarga besar PS-E 2010 (Nurul, Rahmi, Dea, Ros, Eha, Anis, Diki, Fahry,

    Rian, Syam, Ayu, Mahdiyah, Eko, Farid, Iqbal dan sahabat lain yang tidak

    bisa penulis sebutkan satu persatu). Terimakasih atas kebersamaan, canda

    tawa, suka duka, dan kenangan-kenangan indah yang tidak akan pernah

    penulis lupakan. Semoga Allah selalu menjaga persahabatan kita dan semoga

    kesuksesan mengiringi kita.

    9. Sahabat terbaik, Sari Febrianti, S.Pd yang selalu menghibur dalam kesedihan

    dan selalu memberikan semangat dalam setiap laku , canda, dan tawa. Semoga

    selalu dilindungi dan diliputi oleh berkah-Nya.

  • viii

    10. Sahabat-sahabat UKM Bahasa-FLAT UIN Jakarta (Albert, Kamil, Fiky, Uum,

    Dessy, Saeful, Eni, Yuni, Herry, Dina, Nurul, Epin, Basyir ) kalian sahabat

    terbaik yang selalu setia mengiringi setiap suka duka. Terimakasih atas segala

    bentuk perhatian dan kasih sayang, terimakasih telah menjadi warna dalam

    pelangi kehidupan penulis.

    11. Keluarga Paguyuban Kang Nong Kota Tangerang (Kang Martin, Kang Maul,

    Kang Ali, Kang Denny, Kang Aga, Nong Dian, Nong Olga, Aldo, Raynald,

    Shella, Mutiara, Fathia dan anggota yang lain yang tidak bisa penulis

    sebutkan satu persatu), kalian telah menjadi keluarga baru bagi penulis yang

    selalu memberikan dukungan dan semangat serta motivasi untuk menjadi

    lebih baik. Semoga tali silaturahmi keluarga ini semakin erat. Amiin

    Akhir kata, penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini

    masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik

    dan saran yang membangun agar dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang

    membacanya, Aamiin ya Rabbal Alamiin.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Jakarta, 28 November 2014

    Penulis

  • ix

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL i

    LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ii

    LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN iii

    LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH iv

    ABSTRAK v

    KATA PENGANTAR vi

    DAFTAR ISI ix

    DAFTAR TABEL xii

    DAFTAR GRAFIK xiv

    DAFTAR LAMPIRAN xv

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah 1

    B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah 7

    C. Perumusan Masalah 8

    D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 9

    E. Sistematika Penulisan 10

    BAB II LANDASAN TEORI

    A. Analisis Fundamental 13

    1. Prosedur Analisis Fundamental 17

    B. Analisis Ekonomi Makro 18

    1. Produk Domestik Bruto 19

    2. Inflasi 19

    3. Tingkat Suku Bunga 20

  • x

    4. Nilai Tukar Rupiah 21

    C. Analisis Industri 22

    D. Analisis Perusahaan 24

    1. Rasio Aktifitas 24

    2. Rasio Likuiditas 25

    3. Rasio Solvabilitas 26

    4. Rasio Profitabilitas 27

    E. Valuasi Saham 28

    F. Review Studi Terdahulu 32

    BAB III METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian 34

    B. Batasan Penelitian 34

    C. Ruang Lingkup Penelitian 36

    D. Variabel Penelitian 36

    E. Sumber Data 39

    F. Kerangka Penelitian 41

    G. Analisis Data 42

    BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    A. Gambaran Umum Perusahaan 45

    1. PT Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk 45

    2. PT Ultra Jaya Milk Industri, Tbk 45

    3. PT Mayora Indah, Tbk 45

    B. Gambaran Umum Proses Seleksi Saham Syariah 46

    C. Analisis Ekonomi Makro 47

    1. Perekonomian Dunia 48

    2. Perekonomian Indonesia 55

  • xi

    a. Produk Domestik Bruto 55

    b. Tingkat Inflasi 58

    c. Tingkat Suku Bunga 60

    d. Nilai Tukar Rupiah 61

    D. Analisis Industri Barang Konsumsi 65

    E. Analisis Perusahaan 70

    1. Rasio Aktifitas 70

    2. Rasio Likuiditas 74

    3. Rasio Solvabilitas 75

    4. Rasio Profitabilitas 79

    F. Valuasi Saham 84

    1. Metode Price Earning Ratio 84

    2. Metode Price to Book Value 86

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan 88 B. Saran 90

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • xii

    DAFTAR TABEL

    No. Keterangan Halaman

    3.1 Pedoman Keputusan Investasi 43

    4.1 PDB Menurut Lapangan Usaha 56

    4.2 Angka Inflasi Indonesia 60

    4.3 BI Rate 60

    4.4 Kurs Rupiah BI Periode 2011-2013 63

    4.5 Hasil Analisis Ekonomi Makro Tahun 2011-2013 65

    4.6 Porters Five Forces Analysis 70

    4.7 Data Rasio Aktifitas PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 71

    4.8 Data Rasio Aktifitas PT Mayora Indah Tbk 72

    4.9 Data Rasio Aktifitas PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk 73

    4.10 Data Rasio Likuiditas 74

    4.11 Data Rasio Solvabilitas PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 76

    4.12 Data Rasio Solvabilitas PT Mayora Indah Tbk 77

    4.13 Data Rasio Solvabilitas PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk 78

    4.14 Data Rasio Profitabilitas PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 79

    4.15 Data Rasio Profitabilitas PT Mayora Indah Tbk 80

    4.16 Data Rasio Profitabilitas PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk 81

    4.17 Data Earning Per Share 83

    4.18 Data Estimasi Harga Wajar Saham 84

    4.19 Hasil Perhitungan Estimasi Harga Wajar Saham 84

  • xiii

    4.20 Perbandingan Nilai Intrinsik dengan Harga Pasar 85

    4.21 Perhitungan Price to Book Value 86

    4.22 Interpretasi Hasil Perhitungan Price to Book Value 86

  • xiv

    DAFTAR GRAFIK

    No. Keterangan Halaman

    4.1 Perubahan Indeks Harga Saham 2011 50

    4.2 Volatilitas Pasar Keuangan Global 50

    4.3 Rasio Aktifitas PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 71

    4.4 Rasio Aktifitas PT Mayora Indah Tbk 72

    4.5 Rasio Aktifitas PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk 73

    4.6 Rasio Likuiditas Tahun 2011-2013 74

    4.7 Rasio Solvabilitas PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 76

    4.8 Rasio Solvabilitas PT Mayora Indah Tbk 77

    4.9 Rasio Solvabilitas PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk 78

    4.10 Rasio Profitabilitas PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 79

    4.11 Rasio Profitabilitas PT Mayora Indah Tbk 81

    4.12 Rasio Profitabilitas PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk 82

    4.13 Earning Per Share 83

  • xv

    DAFTAR LAMPIRAN

    No. Keterangan Halaman

    1. Laporan Keuangan PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk 93

    2. Laporan Keuangan PT. Ultra Jaya Milk Industri, Tbk 105

    3. Laporan Keuangan PT. Mayora Indah, Tbk 113

    4. Lembar Valuasi Saham ICBP 120

    5. Lembar Valuasi Saham ULTJ 122

    6. Lembar Valuasi Saham MYOR 124

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Investasi, suatu istilah yang erat kaitannya dengan keuangan dan

    ekonomi. Pengertian investasi menurut Bodie-Kane an investment is the

    current commitment of money or other resources in the expectation of

    reaping future benefits 1 , dimana dapat dipahami bahwa investasi

    merupakan komitmen atas uang atau sumber daya yang lain guna

    mendapatkan keuntungan di masa depan. Sedangkan menurut Jack Clark

    Francis, investasi adalah penanaman modal yang diharapkan dapat

    menghasilkan tambahan dana pada masa yang akan datang.2

    Maka merujuk kepada pengertian investasi yang telah

    dikemukakan, investasi dikatakan sebagai suatu aktifitas dengan harapan

    mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang.

    Investasi dikategorikan ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut :

    1. Investasi dalam bentuk asset riil (real assets), yakni investasi yang

    dilakukan dalam bentuk aktiva berwujud fisik seperti emas, kendaraan,

    properti dan sebagainya.

    2. Investasi dalam bentuk asset finansial (financial assets) yakni investasi

    yang dilakukan dalam bentuk surat-surat berharga yang menyatakan

    1 Zvi Bodie,dkk,Essential of Investments (Singapura : The McGraw-Hill Companies,

    2003)edisi ke-5, h.3. 2Jack Clark Francis, Investment: Analysis and Management ( Singapura : McGraw-Hill

    Inc, 1991)edisi ke-5, h.1.

  • 2

    klaim atas aktiva riil yang dimiliki oleh suatu lembaga atau

    perusahaan. Investasi aset finasial dilakukan melalui berbagai

    instrumen seperti instrument pasar uang, saham, obligasi, reksadana.

    Pada dasarnya, kedua jenis investasi tersebut merupakan investasi yang

    bertujuan sama dan sama-sama bisa dipertimbangkan sebagai sarana

    dalam rangka mencapai tujuan keuangan 3 . Pada masa sekarang ini ,

    investasi pada aset finansial merupakan pilihan investasi yang umumnya

    investor pilih, tentunya dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya.

    Investasi pada aset finansial tidak bisa dilakukan di tempat dan media

    yang bebas, tetapi hanya bisa dilakukan di tempat dan melalui media yang

    terbatas. Aset finansial terdiri dari berbagai macam instrument yakni

    instrument pasar uang, saham, obligasi dan reksa dana.

    Diantara berbagai instrumen aset finansial tersebut, saham merupakan

    produk investasi yang menawarkan para investor untuk lebih leluasa dalam

    berinvestasi dikarenakan para investor dimungkinkan untuk bisa

    melakukan perubahan arah terkait jual beli saham yang dimiliki, apakah di

    suatu waktu ingin melakukan penjualan atau pembelian demi mendapatkan

    keuntungan atas hasil investasinya. Investasi pada saham dilakukan

    melalui pasar modal (capital market).

    3Danareksa Online,Jenis Investasi, artikel diakses pada 20 Desember 2013 pukul 15.47

    dari http://www.danareksaonline.com/PerencanaanKeuangan/JenisInvestasi/tabid/146/language/id-ID/Default.aspx 30-12-2013

  • 3

    Di Indonesia, pasar modal dioperasionalkan kembali pada tanggal 10

    Agustus 1977. Tujuan Pasar Modal di Indonesia adalah untuk

    mengerahkan dana, dari masyarakat guna disalurkan ke sektor-sektor yang

    lebih produktif, serta ikut mewujudkan pemerataan pendapatan melalui

    pemilikan saham saham perusahaan. Pencapaian tujuan ini dapat dilihat

    dengan semakin banyaknya jumlah perusahaan yang go-public yang

    berarti masyarakat semakin mudah untuk mencari dan menemukan saham

    perusahaan manakah yang akan dijadikan sebagai instrumen investasi.

    Tidak hanya membantu masyarakat dalam berinvestasi, pasar modal pun

    berfungsi sebagai alternatif pendanaan bagi perusahaan yang

    membutuhkan dana jangka menengah dan jangka panjang. Di negara-

    negara maju, saham dinilai lebih menarik oleh masyarakat dkarenakan

    saham mampu memberikan keuntungan yang lebih besar yang diperoleh

    dari perubahan harga surat berharga tersebut.4

    Pasar modal Indonesia dikelola oleh PT.Bursa Efek Indonesia, baik

    konvensional maupun syariah. Terkait dengan pasar modal syariah, maka

    setiap transaksi perdagangan surat berharga di pasar modal dilaksanakan

    sesuai dengan ketentuan syariah Islam5, termasuk di dalamnya efek-efek

    yang diperjualbelikan harus memenuhi segala persyaratan dan kualifikasi

    untuk bisa dikategorikan sebagai efek syariah, dimana pedoman mengenai

    prinsip-prinsip syariah sebagai syarat bagi efek syariah bisa ditemukan di

    4Erna Retna Rahadjeng, Metode Penilaian Harga Wajar Saham Perusahaan Manufaktur yang Tercatat di BEI, Jurnal Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang.

    5Abdul Manan, Aspek Hukum dalam Penyelenggaraan Investasi di Pasar Modal Syariah Indonesia (Jakarta : Kencana, 2009) ,h. 77.

  • 4

    dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-

    MUI). Pasar modal syariah di Indonesia memiliki dua indeks yakni

    Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).

    Jakarta Islamic Index (JII) dibentuk oleh PT. Bursa Efek Indonesia pada

    tanggal 3 Juli 2000, sedangkan ISSI diluncurkan pada tanggal 12 Mei

    2011.

    ISSI memiliki kapasitas lebih besar dibanding JII, karena ISSI per

    update terakhir pada 18 Desember 2013 memuat sebanyak 312 saham

    syariah 6 dimana JII hanya memuat 30 saham syariah yang memiiki

    likuiditas paling baik. Komposisi saham syariah pada ISSI ditetapkan

    secara periodic yakni 6 bulan sekali, tetapi ini tidak berarti di antara

    rentang waktu 6 bulan tidak ada saham syariah yang bisa masuk ke dalam

    komposisi saham . Hal ini dikarenakan pada pelaksanaannya, BEI bisa

    memperbarui saham-saham syariah yang dianggap memenuhi kriteria

    untuk masuk ke dalam komposisi ISSI pada periode tersebut.Seperti

    halnya indeks saham lain, komposisi saham ISSI pun terdiri dari saham-

    saham berbagai sektor.

    ISSI merupakan salah satu referensi alternatif bagi para investor untuk

    menanamkan modalnya pada saham-saham syariah.Seperti halnya

    investasi-investasi pada bidang-bidang lain, investasi di pasar modal

    syariah juga memerlukan adanya pengukuran kinerja baik langsung

    6PT Bursa Efek Indonesia,Indeks Saham Syariah, artikel diakses pada 8 Januari 2014

    pukul 13.56 dari http://www.idx.co.id/id-id/beranda/produkdanlayanan/pasarsyariah/indekssahamsyariah.aspx

  • 5

    maupun tidak langsung, dengan harapan pada waktu yang akan datang

    pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman

    modal tersebut. Investor yang akan melakukan investasi di bursa saham

    akan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang berguna dalam

    pengambilan keputusan investasi tersebut atau sering disebut proses

    penilaian 7 . Proses penilaian terhadap saham-saham perusahaan dapat

    dilakukan melalui dua pendekatan analisis, yakni analisis teknikal dan

    analisis fundamental.

    Penilaian saham perusahaan melalui analisis fundamental ialah proses

    yang dilakukan dalam hal penentuan harga wajar atau nilai intrinsik

    sekuritas atas suatu aset modal (capital asset). Analisis fundamental atas

    harga saham dapat dilakukan terhadap saham-saham dari berbagai sektor

    industri. Proses analisis ini dilakukan melalui berbagai tahapan yang

    sistematis yakni tahapan analisis kondisi makro ekonomi, kemudian

    analisis industri (sektor) , dilanjutkan dengan analisis kondisi spesifik

    perusahaan yang akan didapatkan nilai dari saham perusahaan-perusahaan

    tersebut. Di antara berbagai sektor industry yang terdapat di Indeks Saham

    Syariah Indonesia (ISSI), ada di dalamnya sektor consumer goods yang

    menurut penulis merupakan salah satu sektor industri dengan tingkat

    pengaruh yang besar, dikarenakan sektor consumer goods merupakan

    salah satu sektor industri yang paling sering bersentuhan dengan

    7M. Anwar Syaifulloh,Analisis Perbandingan Kinerja Saham Antara yang Konsisten dan

    yang Tidak Konsisten Terdaftar di Jakarta Islamic Index (2006-2007) , (Skripsi S1 Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008), h.3.

  • 6

    masyarakat dikarenakan hasil produksi industri pada sektor ini adalah

    barang-barang yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat, yang memiliki

    peran strategis dalam upaya menyejahterakan kehidupan masyarakat

    dimana produknya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, baik berupa

    barangbarang maupun berupa makanan dan minuman.

    Tingkat kapitalisasi pasar yang besar menjadi salah satu alasan yang

    menjadikan saham suatu perusahaan memiliki keunggulan dibanding

    saham-saham dari sektor industri sejenis, tentunya pencapaian ini tidak

    terlepas dari kinerja keuangan perusahaan yang sangat baik yang

    dilaksanakan oleh pihak perusahaan. Namun, sebagai investor tidaklah

    cukup jika hanya mengetahui suatu saham memiliki prospek yang cerah

    tanpa mencari tahu dan menganalisa sendiri apakah benar saham

    perusahaan tersebut merupakan saham yang layak dibeli dan dimiliki.

    Maka investor perlu melakukan analisa terhadap saham ini melalui

    berbagai cara dan metode yang akan menghasilkan kesimpulan yang

    berguna sebagai referensi pengambilan keputusan sebelum melakukan

    investasi pada saham perusahaan yang bergerak , terutama di sektor

    consumer goods. Dalam hal ini, analisis fundamental saham ialah suatu

    cara yang paling banyak digunakan untuk mengetahui gambaran mengenai

    kondisi perusahaan apakah perusahaan tersebut memiliki kemampuan

    untuk tumbuh dan berkembang di masa mendatang (prospektif) yang

    diteliti melalui berbagai faktor yakni faktor makro ekonomi, faktor kondisi

    industry atau pasar serta faktor perusahaan itu sendiri, sehingga hasil dari

  • 7

    penelitian ini menjadi suatu informasi yang berguna bagi investor dalam

    pengambilan keputusan berinvestasi pada saham-saham perusahaan yang

    bergerak di sektor barang konsumsi atau consumer goods.

    Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu diketahui kinerja

    perusahaan sektor barang konsumsi, dengan melakukan analisis kondisi

    makro ekonomi, analisis industri barang konsumsi, analisis rasio keuangan

    perusahaan, serta dengan melakukan penilaian (valuasi) harga saham

    ketiga perusahaan. Penelitian ini akan dibahas dalam skripsi berjudul

    Analisis Fundamental Saham Perusahaan Sektor Barang Konsumsi

    (Consumer Goods) di Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) Periode

    2011-2013 dengan Metode Top Down Analysis.

    B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah

    Di dalam transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia ,saham-

    saham yang diperdagangkan merupakan saham-saham dari perusahaan

    yang tercatat (listing). Secara umum, saat ini terdapat 457 perusahaan yang

    tercatat sebagai emitten di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan-perusahaan

    yang telah tercatat tersebut merupakan perusahaan dari beberapa sektor

    industri , termasuk di antaranya sektor barang-barang konsumsi

    (consumer) dengan jumlah 35 perusahaan. Kemudian, dari 35 perusahaan

    sektor consumer goods tersebut, penulis membatasi pada tiga perusahaan

    yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk Industri

    Tbk, PT Mayora Indah Tbk.

  • 8

    Dalam indeks pasar saham, PT Indofood CBP Sukses Makmur

    Tbk, PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk masuk dan

    tetap konsisten dalam jajaran Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan

    Jakarta Islamic Index (JII).

    Pergerakan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT

    Ultra Jaya Milk Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk setiap harinya dpat

    dipantau di BEI. Sama seperti pergerakan saham pada umumnya

    pergerakan saham ketiga perusahaan ini juga bergerak secara fluktuatif.

    Analisis fundamental saham yang dilakukan terhadap PT Indofood

    CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk, PT Mayora

    Indah Tbk menggunakan pendekatan atau metode Top Down Analysis.

    Dalam penelitian ini, data yang digunakan untuk melakukan

    analisis fundamental saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT

    Ultra Jaya Milk Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk , menggunakan data

    perekonomian Indonesia tahun 2011-2013, data industri barang konsumsi

    tahun 2011-2013, data perusahaan seperti data deviden tahunan, data

    laporan keuangan, serta data-data lain yang terkait dengan penelitian pada

    periode 2011-2013.

    C. Perumusan Masalah

    1. Bagaimanakah hasil analisis ekonomi makro yang dilakukan terhadap

    ketiga perusahaan ?

    2. Bagaimanakah posisi ketiga perusahaan berdasarkan analisis industri

    sektor barang konsumsi ?

  • 9

    3. Melalui analisa terhadap rasio-rasio keuangan, apakah PT Indofood

    CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk, PT

    Mayora Indah Tbk memiliki prospek di masa depan sebagai tujuan

    investasi bagi para investor ?

    4. Setelah melalui proses penilaian saham dengan metode Price Earning

    Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) , apakah saham PT

    Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk,

    PT Mayora Indah Tbk dalam posisi undervalued, fairvalued, atau

    overvalued ?

    D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan

    Penelitian ini bertujuan untuk :

    a. Menganalisis kondisi ketiga perusahaan berdasarkan analisis

    ekonomi makro.

    b. Menganalisis posisi ketiga perusahaan dalam industri sektor

    barang konsumsi.

    c. Menganalisis prospek masa depan ketiga perusahaan sebagai

    tujuan investasi bagi para investor dengan melakukan analisa

    terhadap rasio-rasio keuangan perusahaan.

    d. Menganalisis posisi saham dengan metode Price Earning Ratio

    (PER) dan Price to Book Value (PBV) untuk mengetahui

  • 10

    apakah saham ketiga perusahaan undervalued, fairvalued, atau

    overvalued

    2. Manfaat

    a. Bagi Peneliti

    Menambah pengetahuan dan wawasan terkait teknik dan proses

    analisis fundamental perusahaan.

    b. Bagi Investor

    Dapat dijadikan salah satu referensi sebagai dasar pengambilan

    keputusan investasi bagi investor yang ingin menginvestasikan

    dananya di dunia sekuritas, terutama saham.

    c. Bagi Akademisi

    Penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai sumber

    rujukan yang berguna serta memperkaya koleksi dalam

    khasanah keilmuan yakni ilmu ekonomi, terutama terkait

    manajemen investasi dan resiko dan ekonomi makro.

    E. Sistematika Penulisan

    Skripsi ini disusun menjadi lima bab, dimana masing-masing bab

    terdiri dari beberapa sub bab, diawali dengan pendahuluan dan diakhiri

    dengan kesimpulan serta saran-saran. Adapun penyusunan skripsi ini

    adalah sebagai berikut :

    BAB I Pendahuluan, Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai

    latar belakang masalah, identifikasi dan pembatasan masalah,

  • 11

    perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika

    penulisan.

    BAB II Landasan Teori, Bab ini akan membahas teori analisis

    fundamental, analisis ekonomi makro, analisis industri serta analisis

    perusahaan. Pembahasan analisis ekonomi makro berisi teori mengenai

    produk domestik bruto, inflasi, suku bunga, dan nilai tukar rupiah.

    Kemudian analisis industri berisi teori siklus kehidupan industri.

    Sedangkan pembahasan mengenai analisis perusahaan akan dijelaskan

    teori-teori terkait dengan laporan keuangan serta rasio-rasio keuangan

    perusahaan, selanjutnya di dalam teori analisis perusahaan juga akan

    dijelaskan mengenai pendekatan untuk penilaian saham perusahaan

    dengan pendekatan Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book

    Value (PBV). Pada akhir bab ini , juga akan disajikan review studi

    terdahulu.

    BAB III Metode Penelitian, Dalam bab ini akan dijelaskan

    tentang bagaimana penelitian ini dilaksanakan, variabel-variabel apa

    yang digunakan serta metode analisis data yang akan akan digunakan

    dalam menganalisa data dalam penelitian ini.

    BAB IV Analisis dan Pembahasan, Dalam bab ini akan dibahas

    mengenai gambaran umum dari perusahaan-perusahaan yang diteliti

    serta gambaran umum proses seleksi saham syariah. Pada bab ini juga

    akan menjabarkan tahapan dalam melakukan penilaian perusahaan

    melalui analisis fundamental, dimulai dari analisis ekonomi makro ,

  • 12

    analisis industri barang konsumsi, serta analisis perusahaan-

    perusahaan sebagai objek penelitian. Kemudian akan dilakukan

    analisis data laporan keuangan perusahaan dengan tujuan membuat

    penilaian saham perusahaan dengan menggunakan pendekatan Price

    Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value, yang pada akhirnya

    dapat menghasilkan kesimpulan harga wajar dari perusahaan-

    perusahaan yang diteliti.

    BAB V Penutup, Bab ini akan memberikan kesimpulan dari hasil

    pembahasan pada bab-bab sebelumnya, serta saran-saran yang perlu

    yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dan kontribusi pemikiran.

  • 13

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Analisis Fundamental

    Penelitian terkait pasar modal mengenai analisis fundamental , menjadi

    sangat populer beberapa tahun belakangan terakhir, ini disebabkan oleh

    meningkatnya bukti dalam literatur ekonomi keuangan terhadap hipotesis

    pasar efisien.8

    Pasar modal efisien didefinisikan sebagai pasar dengan harga

    sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi relevan. Semakin cepat

    informasi baru tercermin pada harga sekuritas, semakin efisien pasar modal

    tersebut. Menurut Arifin, hipotesis pasar modal yang efisien menyatakan

    bahwa:

    1. Harga sekuritas umumnya pada ekuilibrium, yaitu samanya expected return

    dan required return.

    2. Harga-harga saham selalu mencerminkan seluruh informasi yang tersedia

    berkaitan dengan perusahaan penerbit dan sahamnya.

    8 Seng, Dyna. Fundamental Analysis and the Prediction of Earnings. International

    Journal of Business and Management. Vol. 7, NO. 3 (February 2012): h.32

  • 14

    3. Karena harga saham sudah mencerminkan harga yang benar maka investor

    mestinya tidak perlu menyia-nyiakan waktu untuk mencari saham yang

    mispriced (undervalued atau overvalued).9

    Bursa efek di berbagai negara dikatakan sebagai salah satu pilar dalam

    perekonomian yang mana menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi. 10

    Komponen yang penting dalam bursa efek yakni pialang saham atau analis

    pasar modal yang memiliki berbagai macam tugas dan fungsi seperti jual beli

    saham, layanan jasa keuangan, serta penasihat nasabah. Analis menggunakan

    informasi dan pendekatan yang berbeda dalam melakukan analisisnya terkait

    aktivitas di pasar modal. Secara keseluruhan, terdapat dua cara yang sudah

    dikenal dalam melakukan analisa terhadap saham yaitu analisis teknikal dan

    analisis fundamental.

    Sebagaimana diketahui, analisis teknikal adalah cara yang digunakan

    untuk memprediksikan fluktuasi harga sekuritas dan untuk menemukan pola

    harga saham.11 Lebih jelas lagi, analisis teknikal adalah analisis sekuritas

    dengan menggunakan grafik harga dan volume historis. Analisis sekuritas

    yang dimaksud adalah pergerakan grafik harga (atau volume) saham, obligasi,

    option, future, dan instrumen keuangan lain. Analisis ini menganggap bahwa

    9 Siti Bilqis Sabrini,Analisis Harga Saham Industri Rokok di Bursa Efek Indonesia Periode

    2004-2007 dengan Analisis Fundamental dan Teknikal, (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, 2008), h. 8

    10 Jamshidi, Nasser dkk. Studying Affecting Factors on Analysts Decisions Regarding Share Analysis in Tehran Stock Exchange: A Fundamental Analysis Approach. European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences ISSN 1450-2275 Issue 44 (2012) : h.77

    11 Ibid., h.78

  • 15

    grafik harga masa lalu adalah pencerminan harapan, emosi, dan konsensus

    pasar.12

    Pendekatan kedua dalam melakukan analisa saham yakni dengan

    menggunakan analisis fundamental.

    Ada beberapa pengertian analisis fundamental, diantaranya sebagai

    berikut :

    a. Analisis fundamental adalah salah satu jenis analisa investasi yang

    dilakukan investor dengan memperhatikan laporan keuangan dan

    fundamental perusahaan. Faktor fundamental perusahaan yaitu hal-hal

    yang berkaitan dengan operasional suatu perusahaan dan kemampuannya

    mendatangkan keuntungan.13

    b. Analisis fundamental adalah analisis sekuritas yang menggunakan data

    data internal (fundamental) dan faktorfaktor eksternal yang berhubungan

    dengan perusahaan/ badan usaha tersebut. Data fundamental yang

    dimaksud adalah data keuangan, data pangsa pasar, siklus bisnis, dan

    sejenisnya sementara data faktor eksternal yang berhubungan dengan

    badan usaha adalah kebijakan pemerintah, tingkat suku bunga, inflasi, dan

    sejenisnya. Melalui pertimbangan datadata di atas, analisis fundamental

    12 Siti Bilqis Sabrini, op.cit. h. 19 13 Siti Bilqis Sabrini, op.cit. h. 14

  • 16

    menghasilkan analisis penilaian badan usaha dengan kesimpulan bahwa

    perusahaan yang dianalisis sahamnya layak di beli atau tidak.14

    c. Analisa fundamental adalah studi tentang ekonomi, industri dan kondisi

    perusahaan untuk memperhitungkan nilai dari saham perusahaan.15

    d. Fundamental analysis involves the use of current and past financial

    statements in conjunction with industry and economic data in order to

    determine firms intrinsic value and identify mispriced securities. 16

    Maksud dari pernyataan ini, bahwa analisis fundamental ialah analisis

    yang melibatkan penggunaan laporan keuangan saat ini dan masa lalu

    dalam hubungannya dengan data industri dan data ekonomi untuk

    menentukan nilai intrinsik perusahaan dan mengidentifikasi efek kesalahan

    harga.

    Jadi dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa analisis

    fundamental ialah proses analisis sekuritas dengan memperhatikan berbagai faktor

    baik internal (data-data keuangan perusahaan) maupun eksternal perusahaan

    (sektor industri serta kondisi ekonomi secara makro) dengan tujuan untuk

    menentukan nilai intrinsik perusahaan.

    14 Andriani,Friska dkk. Pengambilan Keputusan Investasi Saham dengan Menggunakan Analisis Fundamental Internal Melalui Pendekatan Analisis Fundamental Internal Melalui Pendekatan Price Earning Ratio (Studi Pada Perusahaan Otomotif dan Komponennya yang Listing di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2012). Jurnal Universitas Brawijaya : h. 2

    15 David Sukardi Kodrat dan Kurniawan Indonanjaya, Manajemen Investasi : Pendekatan Teknikal dan Fundamental Untuk Analisis Saham (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h.203.

    16 Seng, Dyna, loc.cit. h.32

  • 17

    A.1 Prosedur Analisis Fundamental

    Seperti yang telah disebutkan bahwa analisis fundamental adalah sebuah

    cara untuk menemukan level fundamental keuangan perusahaan. Analisis ini

    bertujuan mengetahui kondisi kesehatan keuangan dan memperkirakan nilai

    intrinsik. Ada 3 elemen dalam analisis fundamental yakni analisis makro

    ekonomi, analisis industri, dan analisis perusahaan. Secara umum, ada dua

    pendekatan yang biasa digunakan dalam melakukan analisis fundamental.

    Fundamental analysis can be conducted by two top down and down top approaches. In top down approach, economy/market, industry and firm are analyzed respectively. Economy and market for securities are analyzed to see whether it is the right time to allocate additional sums to stocks or not..Then, industries and sections are analyzed to decide which one has the best outlook in future. Finally, company is analyzed. In down top approach, investors focus on firms pillars or foundations directly. Analyzing such data as firms products, competitive status and financial situation lead to estimate potential profits and, ultimately, its value in the market. In this approach, it is emphasized on finding companies with long term growth perspective and on right estimations on profit.17

    Artinya : analisis fundamental bisa dilakukan melalui dua pendekatan

    yakni pendekatan top-down dan pendekatan down-top. Pada pendekatan

    top-down, keadaan ekonomi atau pasar, industri dan perusahaan dianalisa

    secara berurutan. Ekonomi dan pasar sekuritas dianalisis untuk melihat

    waktu yang tepat untuk mengalokasikan tambahan saham atau tidak.

    Kemudian, industri dan bagian-bagiannya dianalisis untuk menetukan

    mana yang memiliki prospek terbaik di masa depan. Pada akhirnya

    perusahaan dianalisis. Dalam pendekatan down-top, investor fokus kepada

    pilar-pilar perusahaan secara langsung. Menganalisis data seperti produk

    17 Jamshidi, Nasser dkk., op.cit. h.79.

  • 18

    perusahaan, status kompetitif dan kondisi keuangan untuk memperkirakan

    potensi keuntungan dan pada akhirnya nilainya di pasar. Dalam

    pendekatan ini ditekankan pada pencarian perusahaan dengan

    pertumbuhan jangka panjang dan perkiraan keuntungan yang tepat.

    Lebih jelasnya, dua pendekatan yang bisa ditempuh yakni pendekatan

    Top-down dan pendekatan Down-top. Pendekatan top down dimulai dengan

    menganalisis ekonomi secara global, yang terdiri dari indikator internasional dan

    nasional seperti tingkat pertumbuhan PDB, nilai tukar, tingkat suku bunga,

    produktivitas serta inflasi. Berikutnya dilanjutkan dengan menganalisis industri ,

    serta diakhiri dengan menganalisis perusahaan yang sekaligus melakukan

    pencarian nilai intrinsik saham perusahaan.

    Sedangkan analisis fundamental dengan pendekatan Down-top dimulai

    dengan proses analisis perusahaan, dilanjutkan dengan analisis industri dan

    diakhiri dengan melakukan analisis terhadap kondisi makro ekonomi. Penulis

    dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Top-down dalam melakukan

    analisa fundamental atas saham perusahaan-perusahaan sektor barang konsumsi,

    dimana analisis dilakukan mulai dari hal yang bersifat umum ke hal yang bersifat

    khusus.

    B. Analisis Ekonomi Makro

    Pada tahapan ini, analisis dilakukan dengan melihat kondisi

    perekonomian secara makro untuk mendapatkan penilaian perekonomian

    secara umum dengan tujuan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kondisi

  • 19

    pasar modal khususnya pergerakan harga saham. Analisis ini dilakukan

    dengan menggunakan indikator-indikator yang sesuai.

    Secara teoritis ada beberapa indikator makroekonomi yang

    mempengaruhi pergerakan harga saham. Indikator makroekonomi yang

    dimaksud yaitu Produk Domestik Bruto (PDB), Tingkat Inflasi, Tingkat Suku

    Bunga, dan Nilai Tukar Rupiah. 18 Sub bab berikutnya akan menjelaskan

    mengenai teori atas indikator-indikator yang telah disebutkan di atas.

    B.1 Produk Domestik Bruto (PDB)

    Di dalam suatu perekonomian, baik di negara maju maupun negara

    berkembang, barang dan jasa diproduksikan bukan saja oleh perusahaan milik

    penduduk negara tersebut tetapi juga oleh penduduk negara lain. Selalu

    didapati produksi nasional diciptakan oleh faktor-faktor produksi yang berasal

    dari luar negeri. Konsep ini merupakan konsep pendapatan nasional yang

    dikenal dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product

    (GDP).19 Secara singkat, PDB adalah nilai barang dan jasa dalam suatu negara

    yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi milik warga negara tersebut

    dan warga negara asing yang ada di negara tersebut.

    B.2 Inflasi

    18 Werner R.Murhadi, Analisis Saham Pendekatan Fundamental (Jakarta :PT Indeks,

    2009), h.19. 19 Sadono Sukirno, Makroekonomi : Teori Pengantar (Jakarta : PT Raja Grafindo persada,

    2004), h.35.

  • 20

    Inflasi merupakan kondisi dimana jumlah barang yang beredar lebih

    sedikit dari jumlah permintaan sehingga akan mengakibatkan terjadinya

    kenaikan harga yang meluas dalam sistem perekonomian. Kenaikan inflasi

    secara signifikan akan mempengaruhi daya beli konsumen yakni penurunan

    kemampuan daya beli. Inflasi yang tinggi dan bersifat uncertainty (tidak

    menentu) yang dialami oleh suatu negara akan meningkatkan risiko investasi

    dalam aset-aset keuangan, serta akan melemahkan kredibilitas mata uang

    domestik terhadap mata uang global. Tingkat inflasi biasanya diukur melalui

    tingkat perubahan indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index

    (CPI).20

    B.3 Tingkat Suku Bunga

    Tingkat suku bunga pinjaman mencerminkan biaya yang dikeluarkan

    perusahaan akibat dari meminjam uang dan hal ini akan mempengaruhi

    kinerja bisnis melalui dua cara. Pertama, interest rate akan mempengaruhi

    dalam menentukan harga yang perusahaan harus bayar atas pinjaman yang

    telah diterimanya. Dengan mengasumsikan ceteris paribus (hal-hal lain

    dianggap konstan) maka tingkat suku bunga yang rendah berarti berkurangnya

    biaya bunga dan meningkatnya profit. Perlu dicatat pula bahwa perubahan

    dalam interest rate akan mempengaruhi pola pembelanjaan dari konsumen

    (consumer spending). Interest rate tidak hanya mencerminkan biaya konsumsi

    20 Werner R.Murhadi, op. cit. h. 21.

  • 21

    saat ini dan masa yang akan datang, tetapi juga mencerminkan harapan inflasi

    dan resiko kredit.21

    B.4 Nilai Tukar Rupiah

    Kurs valuta asing atau nilai tukar rupiah menunjukkan harga atau nilai

    mata uang rupiah dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain. 22 Kurs

    pertukaran valuta asing adalah faktor yang sangat penting dalam menentukan

    apakah barang-barang di negara lain adalah lebih murah atau lebih mahal dari

    barang-barang yang diproduksikan di dalam negeri.

    Dampak dari perubahan nilai tukar atas suatu bisnis tidak hanya dilihat

    dari penguatan atau pelemahan suatu mata uang, tetapi juga dengan

    memperhatikan apakah negara tersebut adalah net exporter atau net importer.

    Dalam bukunya, Sadono Sukirno menyebutkan ada beberapa faktor

    yang mempengaruhi nilai tukar. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

    a. Perubahan dalam citarasa masyarakat

    b. Perubahan harga barang ekspor impor

    c. Kenaikan harga umum (inflasi)

    d. Perubahan suku bunga dan Tingkat pengembalian investasi.

    Sedangkan menurut Madura, perubahan nilai tukar dipengaruhi oleh

    suku bunga, inflasi, jumlah uang beredar, defisit perdagangan, perilaku bank

    21Werner R.Murhadi, op. cit. h.20-21. 22 Sadono Sukirno, loc. cit. h.35.

  • 22

    sentral yang terkait dengan independensi bank sentral, dan harapan pasar

    (market expectation).23

    C. Analisis Industri

    Untuk melakukan analisis industri, langkah pertama adalah

    mengidentifikasi siklus hidup industri. Kemudian langkah berikutnya

    adalah melakukan analisis terhadap kekuatan-kekuatan yang

    mempengaruhi persaingan industri.

    1. Siklus Hidup Industri

    Kondisi industri berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Investor

    harus mengetahui bahwa industri tersebut mampu memberikan

    prospek investasi yang mampu mendatangkan keuntungan. Maka harus

    diketahui terlebih dahulu siklus hidup industri yang akan dimasuki.

    Porter dalam bukunya mengemukakan bahwa siklus hidup industri

    memiliki beberapa tahap atau fase, yaitu:

    a. Tahap Perkenalan , tahapan ini mencerminkan kesulitan dalam

    mengatasi kelambanan pembeli dan merangsang percobaan akan

    produk baru.

    b. Tahap Pertumbuhan, tahapan ini terjadi manakala banyak pembeli

    menyerbu pasar begitu produk baru tersebut terbukti berhasil.

    c. Tahap Kedewasaan, pada tahap ini penetrasi para pembeli produk

    yang potensial akhirnya tercapai, yang menyebabkan pertumbuhan

    23 Werner R.Murhadi, loc.cit. h.21.

  • 23

    yang cepat terhenti dan menuju ke tingkat pertumbuhan yang

    normal.

    d. Tahap Penurunan, dimana industri mengalami pertumbuhan yang

    menurun karena munculnya produk pengganti yang baru. 24

    2. Analisa terhadap kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi persaingan

    industri melalui Porters Five Forces. Porter menawarkan model

    persaingan yang dipengaruhi lima kekuatan dalam industri.

    Lima kekuatan tersebut adalah:

    a. Hambatan bagi pemain baru (barrier to entry) Yaitu seberapa

    mudah pemain baru masuk sebagai pesaing baru dalam industri.

    Semakin mudah pemain baru masuk, artinya tingkat persaingan

    dalam industri semakin tinggi.

    b. Ancaman dari produk substitusi (threat of substitute) Jika produk

    perusahaan mempunyai produk substitusi atau produk pengganti,

    maka substitusi ini harus diperhitungkan sebagai pesaing.

    c. Kekuatan tawar dari konsumen (bargaining power of buyers)

    Posisi tawar menawar dari konsumen akan mempengaruhi

    perusahaan untuk menetapkan harga jual dan volume produksi.

    d. Kekuatan tawar dari pemasok (bargaining power of suppliers)

    Semakin banyak pemasok maka semakin kuat posisi tawar

    24 Michael E.Porter, Strategi Bersaing : Teknik Menganalisis Industri dan Pesaing. Penerjemah Agus Maulana (Jakarta : Penerbit Erlangga, 1992), h.140-141.

  • 24

    menawar perusahaan dalam menegosiasikan harga, volume dan

    diferensiasi pasokan.

    e. Tingkat persaingan diantara pemain yang ada (rivalry among

    existing competitor) Tingkat persaingan diantara pemain dalam

    industri ditentukan beberapa faktor, diantaranya potensi

    pertumbuhan industri, beban tetap perusahaan (fixed cost),

    diferensiasi produk, identitas merk (brand identity) dan informasi

    yang dimiliki. 25

    D. Analisis Perusahaan

    Analisis perusahaan dilakukan dengan metode analisis rasio

    keuangan, dimana ada beberapa rasio-rasio yang digunakan yakni Rasio

    Aktifitas, Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, dan Rasio Profitabilitas.

    1. Rasio Aktivitas

    Rasio aktivitas mengukur tingkat efektivitas dalam memanfaatkan

    sumber-sumber daya yang dimiliki. Semua rasio yang tergolong dalam

    kelompok rasio ini menunjukkan perbandingan antara hasil penjualan

    dengan investasi dalam beberapa aktiva. Rasio ini sering disebut rasio

    perputaran modal (capital turnover ratio).26.

    A. Inventory Turnover adalah rasio yang digunakan untuk mengukur

    berapa kali dana yang ditanam dalam persediaan ini berputar dalam

    satu periode.

    25 Siti Bilqis Sabrini, op.cit. h. 14-15 26 David Sukardi Kodrat dan Kurniawan Indonanjaya, op.cit. h.237-239.

  • 25

    Rumus 2.1

    B. Fixed Asset Turnover adalah rasio yang digunakan untuk

    mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap

    berputar dalam satu periode. Rasio ini mengukur apakah

    perusahaan sudah menggunakan kapasitas aktiva tetap sepenuhnya

    atau belum.

    Rumus 2.2

    C. Total Asset Turnover adalah rasio yang digunakan untuk mengukur

    perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dalam

    menciptakan penjualan.

    Rumus 2.3

    2. Rasio Likuiditas

    Likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi

    kewajiban yang segera harus dipenuhi (jatuh tempo) dan membayar

    tepat pada waktunya. Perusahaan dapat dikatakan dalam keadaan

    likuid, apabila perusahaan tersebut mempunyai alat pembayaran

    =

    =

    =

  • 26

    ataupun aktiva lancar yang lebih besar dibandingkan dengan utang

    lancarnya. Sebaliknya kalau perusahaan tidak dapat segera memenuhi

    kewajiban keuangannya pada saat ditagih, berarti perusahaan tersebut

    dalam keadaan tidak likuid.27

    Likuiditas dapat dihitung dengan menggunakan current ratio. Rumus

    current ratio sebagai berikut :

    Rumus 2.4

    3. Rasio Solvabilitas

    Rasio yang menunjukkan besarnya aktiva sebuah perusahaan yang

    didanai dengan utang. Artinya, seberapa besar beban utang yang

    ditanggung oleh perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.

    Formula-formula dalam rasio solvabilitas :

    A. Debt to Asset Ratio (DAR) adalah rasio untuk mengukur seberapa

    besar aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang.

    Rumus 2.5

    B. Debt to Equity Ratio (DER) merupakan perbandingan antara

    hutang-hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan

    27 David Sukardi Kodrat dan Kurniawan Indonanjaya, op.cit. h. 236-237

    =

    =

  • 27

    menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk

    memenuhi seluruh kewajibannya.

    Rumus 2.6

    4. Rasio Profitabilitas

    Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

    menghasilkan laba. Kemampuan menghasilkan laba merupakan rasio

    dari efektivitas manajemen dalam mengelola perusahaan, artinya

    kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan pada tingkat

    penjualan, asset, dan modal saham tertentu. Efektivitas ini dinilai

    dengan mengaitkan laba bersih dengan aktiva yang digunakan untuk

    menghasilkan laba tersebut.28

    Rumus-rumus dalam rasio profitabilitas :

    A. Return On Asset (ROA) merupakan ukuran dari efektifitas

    perusahaan dalam mengelola aktiva untuk menghasilkan laba

    Rumus 2.7

    28 David Sukardi Kodrat dan Kurniawan Indonanjaya, op.cit. h. 239-240

    =

    =

  • 28

    B. Return On Equity (ROE) merupakan ukuran seberapa efektif

    kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari dana yang

    diinvestasikan pemilik. Semakin tinggi rasio ini akan semakin baik

    karena akan memberikan pengembalian yang lebih besar bagi

    pemegang saham.

    Rumus 2.8

    C. Net Profit Margin (NPM), rasio ini menggambarkan besarnya laba

    bersih yang diperoleh perusahaan pada setiap penjualan yang

    dilakukan.

    Rumus 2.9

    D. Earning per Share (EPS) , rasio ini menggambarkan besarnya

    pengembalian modal untuk setiap satu lembar saham.

    Rumus 2.10

    E. Valuasi Saham

    Selanjutnya ialah tahapan penilaian saham perusahaan melalui

    proses valuasi. Sebelum membahas definisi valuasi, ada suatu pendapat

    dari Oscar Wilde yang menyatakan knows the price of everything, but the

    value of nothing. Pernyataan ini didasarkan pada suatu anggapan di

    =

    =

    =

  • 29

    kalangan analis dan investor yang berargumen bahwa nilai dari suatu aset

    adalah irrelevant. Pernyataan tersebut tidak dapat dibenarkan karena nilai

    dari suatu aset mengimplikasikan harga yang harus dibayar atas setiap aset

    yang memiliki harapan untuk menghasilkan arus kas dimasa yang akan

    datang. 29

    Nilai suatu aset dapat diketahui dengan cara valuasi. Valuasi

    menurut Gitman is the process that links risk and return to determine the

    worth of an asset. Maksudnya adalah bahwa valuasi adalah proses yang

    menghubungkan antara resiko dengan return untuk menentukan nilai aset,

    sehingga melalui valuasi dapat diketahui nilai dari suatu aset yang mana

    bila dilihat dari perbandingan antara harga saham di pasar dengan nilai

    intrinsik saham itu sendiri maka akan diketahui apakah saham tersebut

    undervalued, overvalued atau fair.

    Secara umum, ada dua pendekatan dalam melakukan valuasi yakni:

    1. Discounted Cash Flow (DCF) Valuation, yang menghubungkan nilai suatu

    asset terhadap present value (nilai saat ini) dari harapan arus kas di masa

    yang akan datang dari asset tersebut.

    2. Relative Valuation, mengestimasi nilai asset dengan menlihat pada harga

    dari comparable asset (asset yang dapat diperbandingkan) dengan relative

    terhadap variable umum lainnya seperti earnings (pendapatan), arus kas,

    29 Dr. Werner. Murhadi , op.cit. h.3-4

  • 30

    book value (nilai buku asset berdasarkan harga perolehan metode

    akuntansi), ataupun penjualan.30

    Dalam penelitian ini, penilaian saham dilakukan menggunakan

    model valuasi Price Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value

    (PBV).

    1. Model Valuasi Price Earnings Ratio (PER).

    Price Earning Ratio adalah ukuran kinerja saham yang didasarkan atas

    perbandingan antara harga pasar saham terhadap pendapatan per lembar

    saham. PER dapat digunakan sebagai pembanding harga saham antara

    yang paling murah dan yang paling mahal dalam satu industri. Perusahaan

    yang mempunyai PER yang paling tinggi merupakan perusahaan yang

    mempunyai harga saham yang paling mahal. Sedangkan perusahaan yang

    memiliki PER paling rendah merupakan perusahaan yang harga sahamnya

    paling murah. 31

    Rumus 2.14

    Dimana :

    P0 = Harga Saat Ini

    EPS = Laba per lembar saham

    2. Model Valuasi Price to Book Value (PBV).

    30 Dr. Werner. Murhadi , op.cit. h. 10-11 31 Siti Bilqis Sabrini, op.cit. h. 29

    =

  • 31

    Price Book Value (PBV) merupakan metode penilaian saham yang

    berdasarkan pada book value suatu saham. Book value adalah nilai buku

    yang diperoleh dari total ekuitas dibagi dengan jumlah lembar saham

    beredar. Untuk mencari nilai book value, digunakan rumus sebagai

    berikut:

    Nilai buku per lembar saham adalah rasio untuk membandingkan harga

    pasar sebuah saham dengan nilai buku (book value) sebenarnya.

    Sementara Syamsudin menjelaskan bahwa pengertian Price Book Value

    adalah rasio yang menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai

    buku saham suatu perusahaan. Semakin tinggi PBV, maka menunjukkan

    semakin besar kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan tersebut.

    Untuk perusahaan yang berjalan baik, umumnya rasio ini mencapai diatas

    satu, yang menunjukkan bahwa nilai pasar saham lebih besar dari nilai

    bukunya Rasio PBV dihitung dengan membagi nilai pasar dari saham

    dibagi dengan nilai buku dari ekuitas saat ini. Secara matematis PBV dapat

    ditulis:

    =

    =

  • 32

    Metode Price Book Value tidak mencari nilai intrinsik dari saham yang

    diteliti, melainkan menghitung nilai PBV kemudian mengukur harga

    saham mahal atau murah dengan cut off 1 yang berarti jika nilai PBV

    diatas 1 menunjukkan bahwa nilai pasar saham lebih besar dari nilai

    bukunya (overvalued), sebaliknya jika nilai PBV dibawah 1 berarti nilai

    pasar saham lebih kecil dari nilai bukunya (undervalued).

    F. Review Studi Terdahulu

    No Penelitian Isi penelitian terdahulu

    Perbedaan dengan penulis

    1 Annisa Fathih Kurnia, Skripsi FSH UIN Jakarta, 2012. Analisis Fundamental Saham dalam keputusan investasi di PT Telekomunikasi Tbk

    Nilai intrinsik saham PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk undervalued terhadap nilai pasarnya.

    Penulis tidak hanya melakukan analisis fundamental pada satu perusahaan

    2 Nazwirman,Penilaian Harga Saham dengan Price Earning Ratio (PER) : Studi Kasus Pada Saham Industri Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia, Makara, Sosial Humaniora, vol.12, no.2, (Desember 2008):h.98-106

    Saham PT. Multi Bintang Indonesia Tbk layak dibeli karena dari tiga alternatif k* yang digunakan (11%,16% dan 21%) menghasilkan PER yang lebih besar dari PER BEJ Mei 2005.

    Penulis tidak hanya mengguna-kan metode PER dalam menentukan sebuah saham apakah undervalued, overvalued, atau fair.

    3 Ulfa Yulfita,Penilaian Harga Saham Sektor Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Periode 2009-2011),Jurnal EMBA, vol.1,no.3,(September 2013),Hal.1089-1099

    Melalui metode DDM (Dividend Discounted Model) dan metode DCF (Discounted Cash Flow) tidak terlalu memiliki perbedaan harga atas harga wajar saham sektor manufaktur tahun 2009-2011.

    Penulis melakukan penilaian saham terhadap 3 perusahaan dengan top down analysis.

  • 33

    4 Radim Gottwald,The Use of the P/E Ratio to Stock Valuation, GRANT journal ISSN 1805-062X, (IGA 31/2012)

    Menjelaskan penggunaan metode PER sebagai cara untuk mencari nilai intrinsik saham

    Penulis mengaplikasi-kan PER dan PBV dalam mencari nilai intrinsik saham.

    5 Seng, Dyna,Fundamental Analysis and the Prediction of Earnings International Journal of Business and Management, vol.7,no.3 (February 2012)

    Memprediksikan tingkat pendapatan dengan menggunakan analisis fundamental.

    Penulis melakukan analisis fundamental dalam mencari nilai intrinsik saham.

  • 34

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian

    Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif, yakni

    penelitian yang menggambarkan data informasi berdasarkan pada

    fakta yang diperoleh di lapangan32.

    Selain itu, metode deskriptif kuantitatif juga dilakukan

    dalam penelitian ini dalam bentuk desain deskriptif dan metode

    pengumpulan data. Dalam pengertian ini penelitian deskriptif

    menggunakan data-data dan angka-angka yang telah diperoleh lalu

    dijelaskan maksud dari hasil pengolahan angka-angka tersebut.

    Analisis ini digunakan untuk mengetahui nilai intrinsik saham

    perusahaan dengan menggunakan model Price Earning Ratio

    (PER) dan Price to Book Value (PBV).

    B. Batasan Penelitian

    Secara umum, saat ini terdapat 457 perusahaan yang

    tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia. Selanjutnya per 18

    Desember 2013, sebanyak 312 saham syariah masuk ke dalam

    32 Suharsimi Ari Kunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta : PT Renika Cipta, 1993), cet ke-

    2,h. 309

  • 35

    jajaran Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)33. Menurut sektor

    industrinya yaitu sektor barang konsumsi (consumer goods),

    terdapat beberapa emiten yang tercatat di Indeks Saham Syariah

    Indonesia (ISSI) dimana dalam penelitian ini, penulis membatasi

    pada tiga emiten yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT

    Ultra Jaya Milk Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk. Ketiga

    perusahaan tersebut merupakan sampel yang dipilih penulis dari

    keseluruhan populasi yakni perusahaan-perusahaan yang terdaftar

    dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).

    Pemilihan ketiga emiten tersebut disebabkan oleh kondisi

    indeks pasar saham, dimana PT Indofood CBP Sukses Makmur

    Tbk, PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk selalu

    masuk dan tetap konsisten dalam jajaran Indeks Saham Syariah

    Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII), yang mana ketiga

    perusahaan ini telah melalui proses review atau seleksi untuk bisa

    masuk ke dalam Daftar Efek Syariah (DES) melalui kualifikasi

    kriteria bisnis dan kriteria keuangan yang berdasarkan pada

    Peraturan Bapepam LK No. IX.A.13 Tahun 2009 tentang

    Penerbitan Efek Syariah

    33PT Bursa Efek Indonesia,Indeks Saham Syariah, artikel diakses pada 8 Januari 2014

    pukul 13.56 dari http://www.idx.co.id/id-id/beranda/produkdanlayanan/pasarsyariah/indekssahamsyariah.aspx

  • 36

    C. Ruang Lingkup Penelitian

    Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan mengetahui nilai

    wajar dari saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra

    Jaya Milk Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk. Nilai wajar saham

    atau nilai intrinsik ketiga perusahaan tersebut diperoleh dari

    analisis fundamental saham yang memiliki tiga tahapan yakni

    analisis makro ekonomi, analisis industri dan analisis perusahaan.

    Nilai wajar saham yang telah diperoleh akan dibandingkan dengan

    nilai pasar saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra

    Jaya Milk Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk, yang pada akhirnya

    akan menghasilkan suatu keputusan investasi atas saham ketiga

    perusahaan tersebut..

    D. Variabel Penelitian

    Beberapa variabel yang digunakan dalam penelitian ini,

    untuk menghitung nilai wajar saham PT Indofood CBP Sukses

    Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk, dan PT Mayora

    Indah Tbk dilakukan dengan beberapa pendekatan.

    Variabel-variabel yang digunakan ialah sebagai berikut :

    1. Growth, ialah tingkat pertumbuhan dividen dari saham, yang

    diharapkan akan diterima oleh investor.

    Rumus 3.1 =

  • 37

    dimana :

    b = retention ratio, rasio laba yang tidak dibayarkan

    sebagai dividen

    = 1 payout ratio

    ROE = Return On Equity, tingkat pengembalian ekuitas

    pemegang saham

    2. Estimated Earning Per Share (EPS), ialah estimasi atau

    perkiraan EPS yang akan didapatkan oleh investor.

    Persamaan untuk menghitung estimated EPS :

    Rumus 3.2 EPSt = EPS saham tahun terakhir

    EPSt+1 = EPS saham pada tahun ke t + 1

    3. Estimated Cash Dividend per Share ialah perkiraan dividen

    yang akan didapatkan pada tahun t+1 atas setiap lembar saham

    yang dimiliki. Persamaannya sebagai berikut :

    Rumus 3.3

    DIVt+1 = jumlah dividen yang akan didapatkan

    = (1 + )

    =

  • 38

    DPR rata-rata = jumlah dividend payout ratio dibagi

    jumlah periode

    4. Discount Rate (k) ialah tingkat diskonto atas saham. Discount

    rate dapat dicari dengan rumus berikut :

    Rumus 3.4 Dimana :

    k = discount rate

    POt+1 = harga pasar saham t+1

    5. Estimated Price Earning Ratio (PER) adalah perkiraan tingkat

    PER atas saham. Estimated PER dapat dihitung dengan

    persamaan sebagai berikut :

    Rumus 3.5

    6. Intrinsic Value adalah nilai intrinsik dari saham yang diteliti.

    Nilai intrinsik ini merupakan nilai saham sebenarnya, yang

    akan dibandingkan dengan harga pasar saham saat ini.

    Penelitian ini menggunakan model PER untuk pencarian nilai

    intrinsik yaitu :

    =

    =

    +

  • 39

    Rumus 3.6

    7. Book Value adalah nilai buku saham, yang didapatkan dengan

    cara membagi total ekuitas perusahaan dengan jumlah lembar

    saham yang beredar. Rumus untuk mencari Book Value ialah

    sebagai berikut :

    Rumus 3.7

    8. Price to Book Value (PBV) ialah rasio harga terhadap nilai buku tiap lembar saham perusahaan. Berikut ini persamaan untuk mencari PBV :

    Rumus 3.8

    E. Sumber Data

    Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data

    sekunder. Untuk melakukan analisis fundamental saham PT

    Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk

    Industri serta PT Mayora Indah Tbk, dibutuhkan data-data

    sebagai berikut :

    =

    = +

    =

  • 40

    1. Data-data variabel ekonomi yang merupakan indikator

    perekonomian makro Indonesia yakni Produk Domestik

    Bruto (PDB), Tingkat Inflasi, Tingkat Suku Bunga (BI rate)

    dan Nilai Tukar Rupiah (kurs).

    2. Laporan keuangan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk,

    PT Ultra Jaya Milk Industri dan PT Mayora Indah Tbk,

    dimana akan dilakukan analisis laporan keuangan.

    3. Data jumlah dividen yang pernah dibagikan kepada

    pemegang saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk,

    PT Ultra Jaya Milk Industri dan PT Mayora Indah Tbk.

    4. Data Indeks Saham Syariah Indonesia tahun 2011-2013.

    5. Publikasi lain yang berkaitan dengan PT Indofood CBP

    Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk Industri dan PT

    Mayora Indah Tbk sebagai objek penelitian.

  • 41

    F. Kerangka Penelitian

    Perusahaan Sektor Barang Konsumsi

    Analisis Fundamental

    Analisis Makro Ekonomi

    1.Produk Domestik Bruto

    2.Tingkat Inflasi

    3.Tingkat Suku Bunga

    4.Nilai Tukar Rupiah

    Analisis Industri

    1.Siklus Kehidupan Industri

    2.Analisis Kekuatan Industri

    Analisis Perusahaan

    1.Rasio Aktifitas

    2.Rasio Likuiditas

    3.Rasio Solvabilitas

    4.Rasio Probabilitas

    Penilaian Saham

    1. Price Earning Ratio(PER) 2. Price to Book Value (PBV)

    NI < NP

    Saham Undervalued, layak dibeli atau

    dipertahankan oleh investor

    NI > NP

    Saham Overvalued, investor disarankan

    untuk menjual.

    NI = NP

    Saham Fairvalued, nilai intrinsik sama dengan nilai saham di pasar

    Keputusan Investasi

  • 42

    G. Analisis Data

    Dalam rangka melakukan penelitian saham, data-data

    dianalisis secara deskriptif analisis dengan menggunakan analisis

    kuantitatif. Analisis ini bertujuan untuk menilai kinerja perusahaan

    yakni dengan melakukan analisis terhadap laporan keuangan dan

    menghitung nilai intrinsik saham dari perusahaan yang diteliti

    dengan menggunakan metode Price Earning Ratio. Langkah-

    langkah yang digunakan ialah sebagai berikut :

    1. Menghitung expected earning growth rate (g) saham PT

    Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk

    Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk.

    2. Menentukan estimated Earning Per Share (EPS) saham PT

    Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk

    Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk.

    3. Menghitung estimated cash dividend per share saham PT

    Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk

    Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk.

    4. Menentukan discount rate (k) atas setiap saham PT Indofood

    CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk Industri Tbk,

    PT Mayora Indah Tbk.

  • 43

    5. Menghitung estimated Price Earning Ratio (PER) atas setiap

    saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya

    Milk Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk.

    6. Mengitung nilai intrinsik saham atas setiap saham PT

    Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Ultra Jaya Milk

    Industri Tbk, PT Mayora Indah Tbk.

    Setelah nilai intrinsik saham diperoleh, selanjutnya

    dilakukan pengambilan keputusan investasi dengan

    berdasarkan kepada pedoman berikut :

    Tabel 3.1

    Pedoman Keputusan Investasi

    Keterangan Hasil

    Perbandingan

    Keputusan

    Harga pasar

    saham < Nilai

    intrinsic

    Saham dihargai

    terlalu rendah

    (undervalued)

    Dibeli (buy)

    atau ditahan

    (hold)

    Harga pasar

    saham > Nilai

    intrinsic

    Saham dihargai

    terlalu tinggi

    (overvalued)

    Dijual (sell)

    Harga pasar

    saham = Nilai

    intrinsic

    Harga saham

    seimbang (fair)

    Ditahan (hold)

  • 44

    a. Jika harga pasar saham lebih kecil dari nilai intrinsiknya

    (undervalued) maka saham tersebut lebih baik dibeli

    (buy) atau ditahan sementara (hold) oleh investor , yang

    bertujuan untuk memperoleh capital gain jika pada

    waktu berikutnya harga saham kembali naik.

    b. Jika harga pasar saham lebih besar dari nilai

    intrinsiknya (overvalued), maka untuk menghindari

    kerugian dengan turunnya harga , investor lebih baik

    menjual saham tersebut (sell).

    c. Jika harga pasar saham sama dengan nilai intrinsiknya,

    maka saham tersebut berada dalam kondisi

    keseimbangan, sehingga jangan melakukan transaksi

    (hold) karena tidak ada keuntungan yang diperoleh dari

    transaksi.

  • 45

    BAB IV

    ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    A. Gambaran Umum Perusahaan 1. Gambaran Umum PT Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk

    PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk merupakan produsen

    makanan dengan berbagai pilihan produk makanan sehari-hari seperti

    Indomie, Sarimi, Indomilk, Chitato, Penyedap Makanan Indofood,serta

    berbagai minuman kemasan yang kesemua produknya telah dikenal

    luas oleh masyarakat. Kemudian sebagai perusahaan terbuka, PT

    Indofood CBP Sukses Makmur Tbk telah terdaftar di Bursa Efek

    Indonesia dan masuk dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

    dengan kode emiten ICBP.

    2. Gambaran Umum PT Ultra Jaya Milk Industri, Tbk

    PT Ultra Jaya Milk Industri, Tbk bergerak dalam bidang industri

    makanan dan minuman. Produk-produk yang dihasilkan antara lain

    susu UHT Ultra Milk, Teh Kotak, dan Sari Kacang Ijo. Perusahaan ini

    listing di Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dengan kode emiten

    ULTJ.

    3. Gambaran Umum PT Mayora Indah, Tbk

    Di Indonesia, PT Mayora Indah, Tbk dikenal sebagai perusahaan

    yang memproduksi makanan dan minuman olahan. Produk-produk

    hasil inovasi perusahaan diantaranya, permen Kopiko, Astor, Beng

  • 46

    Beng, Choki-choki, Energen, dan Kopi Torabika. Pada Indeks Saham

    Syariah Indonesia (ISSI), PT Mayora Indah Tbk terdaftar dengan kode

    emiten MYOR.

    B. Gambaran Umum Proses Seleksi Saham Syariah

    Pada dasarnya, prinsip pasar modal syariah serta seleksi saham syariah

    di Indonesia berlandaskan pada fatwa DSN-MUI No.40/DSN-

    MUI/X/2003 , yang juga kemudian dijadikan dasar regulasi oleh

    Bapepam-LK dalam membuat regulasi mengenai seleksi saham syariah

    untuk bisa masuk ke dalam Daftar Efek Syariah (DES), karena tidak

    semua perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia bisa tercatat ke

    dalam Daftar Efek Syariah (DES) tersebut. Hal ini dikarenakan adanya

    persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh setiap perusahaan atau

    emiten. Sesuai dengan peraturan Bapepam-LK No.IX.A.13 tentang

    Penerbitan Efek Syariah, seleksi saham syariah didasarkan pada dua

    kriteria yaitu kriteria bisnis dan kriteria keuangan, yang dimaksud dengan

    kriteria bisnis adalah kriteria yang disusun berdasarkan jenis usaha dari

    setiap emiten. Pada kriteria bisnis ini, emiten dilihat apakah jenis usahanya

    bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah atau tidak. Indikator dalam

    kriteria bisnis adalah kehalalan dari jenis usaha tersebut, baik karena halal

    zatnya (produknya) maupun prosesnya. Kriteria kedua yakni kriteria

    keuangan, dimana seleksi berdasarkan kriteria ini dilakukan untuk melihat

    komposisi dari pendapatan dan pembiayaan emiten yang berasal dari

    sumber non halal. Pada kriteria ini terdapat dua tahap seleksi, dimana

  • 47

    tahap pertama seleksi berdasarkan komposisi sumber pembiayaan yang

    berasal dari sumber non halal atau pinjaman berbasis bunga dibandingkan

    dengan modal perusahaan. Saat ini, persentase yang berlaku di pasar

    modal syariah Indonesia untuk komposisi hutang dibandingkan modal

    perusahaan ialah tidak lebih dari 82%. Kemudian tahap kedua, seleksi

    berdasarkan pada komposisi sumber pendapatan yang berasal dari non

    halal dibandingkan dengan total pendapatan termasuk pendapatan lain-

    lain. Persentase untuk perbandingan antara pendapatan non halal terhadap

    total pendapatan adalah tidak lebih dari 10%. Dikarenakan proses seleksi

    ketat yang dilakukan untuk menentukan saham syariah, maka seharusnya

    sudah tidak ada lagi keraguan kepada setiap emiten yang telah tercatat ke

    dalam Daftar Efek Syariah (DES), termasuk di antaranya PT Indofood

    CBP Sukses Makmur Tbk, PT Mayora Indah Tbk serta PT Ultra Jaya Milk

    Industri Tbk yang sampai saat ini telah tercatat dalam Indeks Saham

    Syariah Indonesia (ISSI).

    C. Analisis Ekonomi Makro

    Kondisi makro ekonomi yang mana di dalamnya terdapat variabel-

    variabel makro ekonomi akan memberikan dampak pada kinerja

    perusahaan. Maka analisis ekonomi makro adalah salah satu cara menilai

    kinerja perusahaan dengan didasarkan pada variabel-variabel makro

    ekonomi, baik makro ekonomi secara nasional maupun global. Variabel-

    variabel ekonomi yang dimaksud yakni produk domestik bruto, tingkat

    inflasi, tingkat suku bunga, dan nilai tukar rupiah.

  • 48

    1. Perekonomian Dunia

    Perkembangan ekonomi global pada tahun 2011 diwarnai oleh

    peningkatan ketidakpastian yang muncul akibat berlarutnya penyelesaian

    krisis utang dan kekhawatiran terhadap prospek pemulihan ekonomi di

    negara maju. Di AS, sejumlah indikator menunjukkan proses pemulihan

    ekonomi tidak sekuat yang diperkirakan. Sementara itu di Eropa, berlarut-

    larutnya penanganan krisis utang semakin memperburuk kondisi sektor

    keuangan dan pemulihan ekonomi di kawasan itu. Meningkatnya

    ketidakpastian di dua kawasan negara maju tersebut telah memicu gejolak

    di pasar keuangan global dan ditambah dengan terjadinya bencana alam di

    Jepang dan krisis geopolitik di kawasan Timur Tengah, memperlemah

    proses pemulihan ekonomi global tahun 2011.

    Pada awal tahun, optimisme mengenai semakin baiknya proses

    pemulihan ekonomi global sangatlah tinggi. Pada Januari 2011, IMF

    merevisi ke atas angka perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2011

    menjadi 4,4%, setelah pada Oktober 2010 diperkirakan mencapai 4,2%.

    Perkiraan pertumbuhan yang berada di atas rata-rata historisnya tersebut

    menunjukkan adanya harapan mengenai percepatan proses pemulihan

    ekonomi global pada waktu itu. Namun, memasuki semester II tahun

    2011, pesimisme pemulihan global mulai muncul seiring dengan

    meningkatnya ketidakpastian akibat penanganan krisis utang di Eropa

    yang berlarut-larut dan terhambatnya pemulihan ekonomi AS. Pada

    Oktober 2011 IMF merevisi ke bawah angka perkiraan pertumbuhan

  • 49

    global tahun 2011 menjadi hanya 4%, kembali tumbuh di bawah level

    normalnya.

    Gejolak di pasar keuangan tidak hanya terjadi di negara maju,

    namun juga berdampak langsung ke pasar keuangan di negara-negara

    emerging markets. Memburuknya sentimen negatif di pasar keuangan

    global semakin mendorong investor global melakukan pelepasan investasi

    pada surat utang pemerintah negara maju (proses deleveraging), terutama

    negara- negara yang mengalami krisis. Pada saat bersamaan, tingginya

    ketidakpastian dan persepsi risiko juga mendorong investor global

    melakukan pengalihan investasi ke instrumen keuangan yang dianggap

    lebih aman dan likuid (flight to quality), seperti surat utang pemerintah dan

    mata uang dolar AS. Melalui dua proses yang bersamaan ini, krisis di

    negara maju telah mengakibatkan keketatan likuditas dan jatuhnya harga

    aset-aset keuangan global. Pasar keuangan di negara- negara emerging

    markets juga tidak terlepas dari imbas gejolak di pasar keuangan negara

    maju tersebut. Proses deleveraging dan perilaku flight to quality juga

    mendorong investor global melikuidasi dan menarik kembali sebagian

    dananya yang ditanamkan di emerging markets untuk menjaga

    likuiditasnya ataupun karena meningkatnya persepsi risiko global.

    Pembalikan arus modal asing tersebut telah menimbulkan jatuhnya harga

    saham dan obligasi serta memberikan tekanan pelemahan terhadap nilai

    tukar di negara-negara emerging markets, khususnya pada semester II-

  • 50

    2011. Memburuknya kondisi pasar keuangan global tercermin pada

    penurunan harga aset keuangan dengan volatilitas yang cukup tinggi.34

    Grafik 4.1 Perubahan Indeks Harga Saham 2011

    Sumber : Bank Indonesia, Laporan Perekonomian Indonesia tahun 2011

    Grafik 4.2 Volatilitas Pasar Keuangan Global

    Sumber : Bank Indonesia, Laporan Perekonomian Indonesia tahun 2011

    34 Laporan Perekonomian Indonesia tahun 2011 oleh Bank Indonesia

  • 51

    Pasar keuangan global menunjukkan pemulihan sepanjang tahun

    2012 yang ditunjukkan oleh kembali meningkatnya harga aset keuangan.

    Sebagian besar negara baik negara-negara maju maupun negara- negara

    emerging market, mengalami kenaikan harga saham dan obligasi. Namun,

    dalam perkembangannya kenaikan harga aset keuangan tersebut tidak

    terjadi secara terus menerus sepanjang tahun. Dalam beberapa periode,

    terutama di triwulan II 2012, harga aset keuangan sempat mengalami

    koreksi tajam, sejalan dengan memburuknya persepsi risiko dan sentimen

    pasar. Meskipun risiko pasar keuangan global masih tinggi, perkembangan

    harga aset sepanjang tahun relatif lebih stabil yang tercermin pada

    turunnya volatilitas harga.

    Peningkatan kinerja pasar keuangan global terutama didukung oleh

    pertumbuhan harga aset di negara- negara berkembang. Kinerja positif

    pasar keuangan negara-negara berkembang sejalan dengan fundamental

    ekonomi yang lebih solid. Sementara itu, pertumbuhan harga aset

    keuangan yang tinggi di negara-negara maju di tengah pertumbuhan

    ekonomi yang masih rentan, ditopang oleh besarnya likuiditas terkait

    berbagai kebijakan quantitative easing bank sentral di negara-negara maju.

    Kebijakan quantitative easing tersebut selain meredakan tekanan

    likuiditas juga meningkatkan kepercayaan pelaku pasar dan investor serta

    menurunkan tingkat risiko. Kondisi tersebut mendorong pembelian aset-

    aset keuangan, termasuk aset yang lebih berisiko seperti saham. Bahkan,

    besarnya likuiditas yang dikeluarkan bank sentral di negara-negara maju

  • 52

    tercermin pada ekspansi neraca masing-masing bank sentral, juga mengalir

    ke pasar keuangan negara berkembang. Pada tahun 2012, aset the Fed

    meningkat sekitar 42%, aset ECB meningkat 10,9%, sementara aset BOJ

    meningkat 9,3% .

    Perkembangan di bursa saham global tidak terlepas dari pergerakan

    indikator risiko di pasar keuangan global. Penurunan tingkat risiko dan

    membaiknya risk appetite investor global terindikasi pada tren penurunan

    credit default swap (CDS) dan volatilitas harga di pasar keuangan global.

    Perkembangan serupa juga terjadi di pasar obligasi yang tercermin dari

    pergerakan imbal hasil baik obligasi negara-negara emerging market

    maupun obligasi negara-negara maju, termasuk negara- negara yang

    terkena krisis utang. Selain itu, tingkat likuiditas pasar keuangan global

    juga membaik yang diindikasikan oleh penurunan selisih suku bunga

    LIBOR terhadap overnight index swap (OIS), meski demikian, selisih

    suku bunga tertinggi dan terendah dari 16 bank Eropa, sebagai gambaran

    counterparty risk, mengalami peningkatan.

    Solidnya pasar keuangan global dan meningkatnya toleransi

    terhadap tingkat risiko mendorong investor membeli aset-aset keuangan

    negara-negara emerging market. Bursa saham di negara-negara emerging

    market Asia mencatat net foreign buy pada triwulan I 2012. Sejalan

    dengan derasnya aliran modal masuk tersebut, nilai tukar negara-negara

  • 53

    emerging market Asia secara umum cenderung menguat terhadap dolar AS

    35.

    Pasar keuangan global tahun 2013 masih diliputi ketidakpastian

    seiring pengaruh beralihnya arus modal dunia dari negara-negara EM ke

    negara-negara maju. Ketidakpastian terutama dirasakan sampai dengan

    triwulan III 2013 yang dipicu oleh belum jelasnya prospek ekonomi

    Kawasan Eropa dan rencana tapering off the Fed. Pada periode ini, kinerja

    pasar keuangan, terutama di negara-negara EM, berada dalam tren

    menurun dipengaruhi aliran keluar modal asing di negara-negara EM.

    Pada triwulan IV 2013, perbaikan kinerja pasar keuangan mulai terlihat

    terutama ditopang oleh kenaikan harga aset di bursa saham negara-negara

    maju. Sebaliknya, indeks komposit bursa saham negara-negara EM di Asia

    masih menurun akibat sentimen negatif tapering off yang mendorong

    terjadinya aliran keluar modal dari negara-negara EM. Sementara itu,

    imbal hasil obligasi sebagian besar negara mengalami kenaikan, termasuk

    United States Treasury (UST) bill (10 tahun/ 10Y) seiring dengan perilaku

    menghindari risiko (risk off) para investor global yang lebih memilih

    memegang uang tunai menyusul ketidakpastian rencana pengurangan

    stimulus moneter tersebut.

    Ketidakpastian di pasar keuangan global tercermin pada kinerja

    pasar modal. Pada semester I 2013, kinerja pasar modal global menurun

    akibat sentimen negatif terhadap beberapa hal seperti downgrade credit 35 Laporan Perekonomian Indonesia tahun 2012 oleh Bank Indonesia

  • 54

    rating negara Inggris, krisis di Siprus, kekhawatiran pemilu Italia, belum

    terselesaikannya kompromi politik terkait debt ceiling dan automatic

    spending cut (sequester) di AS, serta spekulasi tapering off. Penurunan

    kinerja terlihat di Eropa sebagaimana tercermin dari menurunnya kinerja

    bursa saham, melebarnya yield spread government bond, dan

    meningkatnya Credit Default Swap (CDS) sovereign negara Eropa. Di

    Asia, penurunan kinerja ditandai dengan koreksi di bursa saham

    sebagaimana menurunnya Morgan Stanley Composite Index (MCSI)

    negara-negara EM Asia, meningkatnya CDS sovereign dan Emerging

    Markets Bond Index Global (EMBIG), serta melemahnya indeks mata

    uang regional Asia (Asia Dollar Index) terhadap dolar AS.

    Kinerja pasar modal sempat membaik pada semester II 2013,

    meskipun secara umum masih turun. Perbaikan tersebut terjadi pada awal

    semester II 2013 yang merupakan sentimen positif terhadap kebijakan

    terkait stimulus moneter (quantitative easing/ QE) dari BOJ, tercapainya

    resolusi krisis di Siprus, pernyataan Bernanke terkait penundaan tapering

    off dan komitmen ECB untuk menjaga level suku bunga tetap rendah.

    Namun demikian, bursa saham global kembali terkoreksi secara tajam

    dipicu rilis data ekonomi dunia yang di bawah perkiraan dan belum adanya

    kejelasan bentuk reformasi struktural yang diusung dalam program kerja

    Abenomics.

    Perbaikan kondisi pasar tenaga kerja dan ekspektasi berlanjutnya

    pemulihan ekonomi AS tidak mendapat respons positif dari pelaku pasar,

  • 55

    tertutup oleh rencana tapering off the Fed yang dikhawatirkan akan

    mengurangi ekses likuiditas global. Risiko di pasar keuangan global yang

    meningkat tercermin dari meningkatnya volatilitas disertai dengan koreksi

    tajam bursa saham Nikkei, bursa saham negara-negara EM Asia, bursa

    saham Eropa, dan bursa saham Amerika. Koreksi tajam di bursa saham

    dipercepat oleh spekulasi tapering off yang akan dilakukan lebih awal

    sehingga mendorong aksi jual investor global di pasar keuangan negara-

    negara EM. Aksi ini pada gilirannya memberi tekanan depresiasi terhadap

    mata uang negara-negara EM Asia (Asia Dollar Index), termasuk

    Indonesia.

    Pada akhir tahun 2013, tekanan di pasar keuangan Asia mereda.

    Hal ini seiring dengan perkembangan positif pada sektor manufaktur

    China yang menjadi landasan bagi perkembangan bursa saham global.

    Selain itu, bursa saham Asia kembali mencatat net inflow dari nonresiden

    dan yield spread obligasi negara EM dengan US Treasury telah kembali

    menyempit sejalan dengan berakhirnya partial shutdown oleh pemerintah

    AS. Perkembangan tersebut telah memberikan daya dorong bagi

    penguatan mata uang negara-negara Asia terhadap dolar AS meski dengan

    volatilitas yang meningkat pada akhir 2013.36

    2. Perekonomian Indonesia

    a. Produk Domestik Bruto

    36 Laporan Perekonomian Indonesia tahun 2013 diunduh pada 3 Oktober 2014 di

    www.bi.go.id

  • 56

    Perekonomian Indonesia memiliki pertumbuhan setiap tahun yang

    masing-masing sebesar 6,22% (2010), 6,49% (2011), 6,23% (2012)37.

    Setiap tahunnya, struktur PDB mengalami perubahan yang mana

    hal ini menandakan bahwa setiap lapangan usaha tidak selalu memiliki

    angka kontribusi yang konstan atas PDB, dimana hal ini didasarkan

    kepada kondisi perekonomian yang turut mempengaruhi kemampuan

    setiap lapangan usaha dalam menghasilkan pendapatan. . Berikut ini tabel

    pertumbuhan PDB dan tabel struktur PDB menurut lapangan usaha (2009-

    2013) :

    Tabel 4.1 PDB menurut Lapangan Usaha

    37 Laporan Data Strategis BPS Tahun 2013 diunduh pada 3 Oktober 2014 di

    www.bps.go.id

    No Lapangan Usaha Laju Pertumbuhan 2009 2010 2011 2012

    1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan

    3,96 3,01 3,37 3,97

    2. Pertambangan dan Penggalian 4,47 3,86 1,39 1,49 3. Industri Pengolahan 2,21 4,74 6,14 5,73 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 14,2

    9 5,33 4,82 6,40

    5. Konstruksi 7,07 6,95 6,65 7,50 6. Perdagangan, Hotel dan

    Restoran 1,28 8,69 9,17 8,11

    7. Pengangkutan dan Komunikasi 15,85

    13,41

    10,70 9,98

    8. Keuangan, Real Estate, Jasa Perusahaan

    5,21 5,67 6,84 7,15

    9. Jasa-jasa 6,42 6,04 6,75 5,24 PDB 4,63 6,22 6,49 6,23

    No Lapangan Usaha Persentase Kontribusi 2009 2010 2011 2012 Smt 1-

    2013 1. Pertanian, 15,29 15,29 14,7 14,44 15,01

  • 57

    S

    Sumber : Badan Pusat Statistik

    Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sektor industri

    pengolahan (manufacturing industry) selalu memiliki kontribusi terbesar

    atas PDB setiap tahunnya dengan angka di atas 20%, yakni 24,80%

    (2010), 24,33% (2011), 23,94%