of 81/81
ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK AYAM BROILER PADA POLA KEMITRAAN YANG BERBEDA DI KECAMATAN BONTOMANAI KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR SKRIPSI WINDA APSARIH.D 105960086311 PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2015

ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK AYAM BROILER PADA POLA

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK AYAM BROILER PADA POLA

ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK AYAM BROILER PADA POLA KEMITRAAN YANG BERBEDA DI KECAMATAN BONTOMANAI KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR
SKRIPSI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
i
ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK AYAM BROILER PADA POLA KEMITRAAN YANG BERBEDA DI KECAMATAN BONTOMANAI KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR
WINDA APSARIH.D 105960086311
Strata Satu (S-1)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Kemitraan yang Berbeda dikecamatan Bontomanai
Kabupaten Kepulaua Selayar
Nama : Winda Apsarih.D
Diketahui
iii
Kemitraan yang Berbeda diKecamatan Bontomanai
Kabupaten Kepulauan Selayar
Nama : Winda Apsarih.D
iv
Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul : Analisis
Pendapatan Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan Yang Berbeda Di
Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar adalah benar merupakan
hasil karya yang belum diajukan diperguruan tinggi manapun. Semua sumber data
dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Makassar, September 2015
Populasi dalam penelitian ini berjumlah tiga orang, dua orang yang bermitra dengan perusahaan perseorangan (bakul) dan satu orang yang bermitra dengan perusahaan begitupun dengan sampel yaitu keseluruhan dari populasi. Analisa data yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisa data deskriptif kuantitatif yaitu melihat pola dengan menghitung rata-rata penerimaan, dan pendapatan rata-rata peternak. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juli - September 2015 di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar Propinsi Sulawesi Selatan. Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yaitu melihat pola dan menghitung rata-rata biaya, penerimaan, dan pendapatan rata-rata.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pola kerjasama dengan kemitraan perseorangan (bakul) memberikan uang jaminan sedangkan yang bekerjasama dengan perusahaan menyepakati kontrak yang bersifat tertulis tidak memakai uang jaminan. Pendapatan peternak yang bermitra dengan perusahaan cenderung lebih tinggi dibandingkan pendapatan peternak yang bermitra dengan kemitraan perseorangan (bakul).
vi
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan iringan
rahmat, inayah dan hidayah-Nya jualah sehingga penulisan skripsii yang berjudul
Analisis Pendapatan Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di
Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ini dapat penulis selesaikan
dengan baik, Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini telah banyak
mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, Oleh karena itu penulis
tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Dr. Ir. Kasifah, MP, selaku pembimbing I atas bimbingan, arahan, waktu, dan
kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
2. St. Aisyah R, S.Pt., M.Si, selaku pembimbing II yang telah meluangkan
waktunya dalam memberikan arahan, saran dan bimbingan kepada penulis.
3. Ir. Siti Wardah, M.Si, dan Ir. Nurdin Mappa, MM, selaku dosen penguji
pada ujian skripsi yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan
saran demi perbaikan skripsi ini.
4. Seluruh peternak ayam broiler dan staf Kecamatan Bontomanai yang telah telah
membantu penulis selama menjalankan kegiatan penelitian.
5. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Pertanian Unismuh Makassar atas perhatian dan
bantuannya selama penulis menempuh studi hingga akhir.
vii
6. Ayahanda Muhammad Dahlan dan Ibunda Nur Wisama, S.Pd beserta segenap
keluarga besar yang telah tulus dan penuh kasih sayang telah memberikan doa,
perhatian, motivasi dan bantuan moril maupun materil selama penulis
menempuh pendidikan.
7. Seluruh rekan – rekan seangkatan khususnya pada Jurusan Agribisnis atas
seluruh kerjasama, kebersamaan dan bantuannya yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan, karena itu melalui kesempatan ini penulis mengharapkan kritik dan
saran dari berbagai pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini
dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Makassar, September 2015
HALAMAN PERNYATAAN ...... .. ..................................................................... iv
2.4. Kerangka Pikir ...............................................................................17
3.6. Analisa Data ..................................................................................21
3.7. Konsep Operasional .......................................................................21
4.1. Letak dan Keadaan Geografis .......................................................24
4.1.1. Keadaan Penduduk .........................................................................24
V. HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................28
5.1. Identitas Responden .......................................................................28
1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar .............................................................. 26
2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar .......................................................... 26
3. Sarana Pendidikan di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar .......................................................... 27
4. Identitas Responden di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ................... 28
5. Biaya Produksi di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ................... 32
6. Biaya Penyusutan Kandang Peternak Ayam Broiler pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 34
7. Biaya Penyusutan Peralatan Kandang Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan Yang Berbeda Di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 36
8. Biaya Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) Pada Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 38
9. Biaya Bibit (DOC) Pada Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Keputauan Selayar ........................................................... 40
10. Biaya Pakan Pada Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 41
xi
11. Biaya Vaksin Dan Obat-Obatan Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 43
12. Biaya Listrik Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan Yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 44
13. Biaya Tenaga Kerja Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 45
14. Biaya Total Pada Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan Yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 46
15. Penerimaan Hasil Penjualan Daging Ayam Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 48
16. Penerimaan Hasil Penjualan Feses Pada Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 49
17. Penerimaan Hasil Penjualan Karung Pakan Pada Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ............... 50
18. Total Penerimaan Pada Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 51
19. Total Pendapatan Pada Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ................................................ 53
20. Total pendapatan rata-rata per ekor pada peternak ayam broiler pada pola kemitraan yang berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ........................................................... 53
xii
2. Penyusutan Kandang .............................................................................................33
5. Biaya Bibit (DOC) ................................................................................................ 39
6. Biaya Pakan .......................................................................................................... 41
8. Biaya Listrik ......................................................................................................... 44
10. Total Biaya ..........................................................................................................46
1.1. Latar Belakang
Konsumsi daging ayam broiler Indonesia adalah 545.1 ribu ton per tahun
(BPS, 2012). Konsumsi daging ayam broiler sebesar 4,5 kilogram per kapita per
tahun. Konumsi per kapita tersebut didorong oleh pemerintah untuk meningkatkan
asupan gizi masyarakat mengingat kandungan ayam broiler yang baik dan juga
mudah di akses masyarakat karena harga yang relatif murah dibanding harga
daging jenis lain. Dengan jumlah konsumsi per kapita tersebut, individu
memperoleh asupan gizi harian sebesar 19,73 kalori, 1,19 protein dan 1,63 lemak.
Jumlah ini termasuk kecil dibanding dengan konsumsi per kapita negara lain.
(BPS, 2012).
merupakan wilayah yang mengembangkan peternakan ayam pedaging (broiler).
jumlah populasi untuk ayam ras pedaging yang ada di Kecamatan Bontomanai
Kabupaten selayar berdasarkan dari data Dinas Peternakan Kabupaten Selayar
tahun 2012 yaitu berjumlah 91.800 ekor.
Dalam upaya memenuhi protein hewani dan peningkatan pendapatan
peternak, maka pemerintah dan peternak telah berupaya mendayagunakan
sebagian besar sumber komoditi ternak yang dikembangkan, diantaranya adalah
ayam pedaging (broiler). Sebagaimana diketahui ayam broiler merupakan ternak
penghasil daging yang relatif lebih cepat dibandingkan ternak potong lainnya. Hal
inilah yang mendorong sehingga banyak peternak yang mengusahakan peternakan
ayam broiler ini. Perkembangan itu didukung oleh semakin kuatnya industri hilir
2
seperti perusahaan pembibitin (breeding farm), perusahaan pakan ternak (feed
mill), perusahaan obat hewan dan peralatan peternakan (Saragih, 2000).
Pengertian pola kemitraan secara konseptual adalah adanya kerja sama
antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar disertai dengan
pembinaan dan pengembangan berkelanjutan oleh usaha menengah dengan
memperhatikan prinsip-prinsip saling memerlukan, memperkuat dan
menguntungkan (Soemardjo 2004).
bahwa pengusaha memerlukan pasokan bahan baku dan pemasaran sarana
peternakan memerlukan adanya bimbingan dan penampung hasil. Saling
memperkuat berarti peteernak dan pengusaha samam-sama melaksanakan etika
bisnis,sama-sama mempunyai hak dan kewajiban masing-masing dan saling
membutuhkan sehingga memperkuat kesinambungan dalam bermitra. Saling
menguntungkan berarti peternak dan pengusaha memperoleh peningkatan
disamping adanya kesinambungan dalam usaha.
Maksud dan tujuan pola Kemitraan (Kusnaedi 1998) adalah sebagai
berikut:
1. Bentuk kerja sama yang seimbang dan saling menguntungkan antara
pengusaha besar dengan pengusaha kecil atau peternak.
2. Memberikan iklim usaha yang lebih baik pada peternakan kecil.
3. Mendorong terciptanya pemerataan berusaha dan pemerataan berusaha
dan peningkatan pendapatan semua pihak.
3
Pola kemitraan pada dasarnya merupakan suatu pola kerjasama antara
pengusaha atau pemilik modal sebagai inti dengan peternak plasma dalam upaya
pengelolaan usah peternakan. Pola kemitraan salah satu bentuk pengembangan
wilayah melalui pembangunan ekonomi lokal yang berbasis ekonomi kerakyatan
yang pelaksananannya lebih ditekankan pada pembangunan yang berpihak pada
rakyar (Marindo 2008).
Pola kemitraan usaha peternak ayam broiler yang dilaksanakan dengan
pola inti plasma, yaitu kemitraan antara peternak mitra dengan perusahaan mitra,
dimana kelompok mitra bertindak sebagai plasma, sedangkan mitra sebagai inti.
Pada pola inti plasma kemitraan ayam broiloer yang berjalan selaqma ini,
perusahaan mitra menyediakan sarana produksi peternakan (sapronak) berupa :
DOC, pakan, oabat-obatan/vaksin, bimbingan teknis dan memasarkan hasil,
sedangkan plasma menyediakan kandang dan tenaga kerja (Yunus 2009).
Pola kemitraan perseorangan adalah pola kemitraan dimana semua
kebutuhan budidaya ternak ayam broiler ditanggung sepenuhnya oleh peternak,
artinya peternak harus menyediakan sendiri mulai dari pembuatan kandang
pengaturan penyediaan bibit, pemberian pakan, penyiapan obat-obatan, aneka
perawatan sampai sistem panen.
sebuah usaha budidaya ayam broiler secara kerjasama antara perusahaan sebagai
inti dan peternak sebagai plasma. Pada sistem mitra usaha ini umumnya seorang
peternak hanya perlu menyediakan kandang dengan ukuran yang memang sudah
ditetapkan oleh perusahaan inti, kemudian tugas lainnya yaitu merawat ayam
4
potong tersebut sampai masa panen tiba jadi semuanya sudah ditanggung
perusahaan.
bahwa peternak yang memelihara ayam ras pedaging di Kecamatan Bontomanai
bekerja sama dengan beberapa perusahaan kemitraan, namun pada daerah tersebut
juga terdapat peternak yang tidak bermitra dengan perusahaan sebagaimana
peternak kebanyakan. Peternak yang dimaksud juga bukan peternak yang mandiri
melainkan peternak yang melakukan kerjasama dengan pedagang pengumpul
(bakul) atau kemitraan perseorangan.
merupakan pola yang telah dilakukan peternak lokal sebelum konsep kemitraan
perusahaan diperkenalkan oleh perusahaan-perusahaan mitra kira-kira dimulai
tahun 1997, sedangkan keberadaan perusahaan-perusahaan kemitraan menurut
masyarakat setempat diperkirakan pada awal tahun 2007, sejak masuknya
kemitraan peternak berangsur-angsur beralih untuk bermitra dengan perusahaan-
perusahaan tersebut sehingga peternak yang menggunakan kerjasama dengan
kemitraan perseorangan ini semakin berkurang.
Ditengah arus pesatnya kemitraan yang diadopsi peternak ayam broiler,
ternyata menyisakan peternak-peternak yang masih bertahan dengan pola
kerjasama dengan kemitraan perseorangan tersebut, walaupun dengan jumlah
yang sangat sedikit, misalkan saja di Kecamatan Bontomanai hanya 1.500 ekor
yang merupakan gabungan populasi dari dua peternak. Hal tersebut disertai
dengan populasi yang lebih rendah dibandingkan dengan peternak yang bermitra
5
dengan perusahaan, populasi yang dipelihara maksimal 500 ekor dikarenakan
jaminan yang sebanyak Rp.1.000.000 yang harus disediakan per 100 ekor, dan
pembatasan yang dilakukan bakul demi menghindari kerugian besar apabila
terjadi gagal panen. Sedangkan untuk bermitra dengan perusahaan minimal untuk
pemeliharaan 1.500 ekor tanpa jaminan uang namun kadang dengan jaminan
berupa sertifikat tanah, kendaraan bermotor atau surat berharga lainnya bila
peternak baru bekerja sama dengan perusahaan mitra. Adapun hal lainnya dimana
pada pola tersebut kerjasama yang berlaku tanpa kontrak perjanjian tertulis dan
penentuan harga sapronas maupun ayam hidup yang sebagaimana sebaliknya
disediakan oleh perusahaan-perusahaan kemitraan.
melakukan penelusuran lebih jauh tentang Perbedaan pendapatan peternak yang
bekerjasama dengan kemitraan perseorangan (bakul) dan peternak yang
bekerjasama dengan perusahaan kemitraan di Kecamatan Bontomanai Kabupaten
Kepulauan Selayar.
dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
perseorangan (bakul) dan pola kemitraan yang dilakukan dengan
perusahaan di kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ?
6
kemitraan perseorangan (bakul) dan bermitra dengan perusahaan
kemitraan di kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar ?
1.3. Tujuan Penelitian
bekerjasama dengan pedagang pengumpul (bakul) dan yang bermitra
dengan perusahaan tersebut di Kecamatan Bontomanai Kabupaten
Kepulauan Selayar.
1.4. Kegunaan Penelitian
memperkaya khasanah peneliti tentang analisis pendapatan peternak
pada pola kemitraan yang berbeda
b. Sebagai input bagi peternak, apakah dalam produksi selanjutnya
peternak dapat melakukan peningkatan produksi atau tidak
c. Sebagai bahan informasi dan
d. Sebagai bahan evaluasi bagi pihak pelaku kerjasama
e. Sebagai bahan referensi untuk peneliti selanjutnya
7
Ayam broiler adalah istilah untuk menyebut strain ayam hasil budidaya
teknologi yang memiliki sifat atau hasil budidaya teknologi yang memiliki
karakteristik ekonomis dengan ciri khas, pertumbuhan cepat sebagai penghasil
daging, konversi pakan irit, siap dipotong pada umur relatif muda, serta
menghasilkan kualitas daging berserat lunak. Menurut Murtidjo ( 2006). Pada
umumnya ternak unggas, khususnya ayam pedaging termasuk golongan yang
memiliki pertumbuhan yang cepat. Pertumbuhan ayam yang cepat ini harus
diimbangi dengan ketersediaan pakan yang cukup, karena kekurangan pakan akan
sangat mengganggu laju pertumbuhan (Amrullah, 2004).
Rasyaf (2002) menyebutkan bahwa ayam broiler memiliki pertumbuhan
yang sangat pesat pada umur 1 - 5 minggu dan sudah dapat dipasarkan pada umur
5 - 6 minggu dengan bobot hidup antara 1,3 - 1,4 kg. Broiler merupakan ternak
yang paling ekonomis bila dibandingkan dengan ternak lain, kelebihan yang
dimiliki adalah kecepatan pertambahan/produksi daging dalam waktu yang relatif
cepat dan singkat atau sekitar 4 - 5 minggu produksi daging sudah dapat
dipasarkan atau dikonsumsi (Murtidjo, 2003). Keunggulan ayam ras pedaging
antara lain pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan yang tinggi
dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada usia
muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak. Perkembangan yang
pesat dari ayam ras pedaging ini juga merupakan upaya penanganan untuk
8
tersebut didukung oleh semakin kuatnya industri hilir seperti perusahaan
pembibitan (Breeding Farm), perusahaan pakan ternak (Feed Mill), perusahaan
obat hewan dan peralatan peternakan (Saragih B, 2000).
Ayam pedaging atau yang lebih dikenal dengan ayam potong menempati
posisi teratas sebagai ayam yang ketersediaannya cukup banyak, disusul ayam
kampung, kemudian petelur afkir. Namun, karena permintaan daging ayam yang
cukup tinggi, terutama pada saat tertentu yaitu menjelang puasa, menjelang
lebaran, serta tahun baru, menyebabkan pasokan daging dari ketiga jenis ayam
penghasil daging tersebut tidak dipenuhi (Nuroso, 2009).
Rasyaf (2002) juga mengemukakan bahwa ciri khas ayam broiler adalah
rasanya yang khas dan enak, pengelolahannya mudah tapi mudah hancur dalam
proses perebusan yang lama, daging ayam merupakan sumber protein yang
berkualitas bila dilihat dari kandungan gizinya.
Sedangkan menurut Soekartawi (2007) menyatakan bahwa ayam broiler
mempunyai pertumbuhan yang cepat serta mempunyai dada yang lebar dengan
timbunan daging yang baik dan banyak. Pada umumnya ternak unggas, khususnya
ayam pedaging termasuk golongan yang memiliki pertumbuhan yang cepat.
Pertumbuhan ayam yang cepat ini harus diimbangi dengan ketersediaan pakan
yang cukup, karena kekurangan pakan akan sangat mengganggu laju pertumbuhan
(Amrullah, 2004).
Ayam broiler pertumbuhannya sangat fantastik sejak umur satu minggu
hingga lima minggu. Pada saat berumur tiga minggu ternak sudah menunjukkan
9
pertumbuhan bobot badan yang memuaskan, sehingga ayam broiler dapat dijual
sebelum umur delapan minggu. Adapun jenis yang banyak dikembangkan saat ini
merupakan hasil persilangan dominan dari pejantan ras White Cornish (asal
Inggris) dengan betina plymount rock (asal Amerika). Cikal bakal (parrent stock)
ayam pedaging ini merupakan tipe berat yang dikembangkan dari dua ras tersebut
untuk menghasilkan anak anak ayam umur sehari (DOC: day old chicken) dengan
kemampuan mengubah makanan menjadi daging dengan hemat.
2.2. Pola Kemitraan
menengah atau usaha besar disrtai pedoman dan pengembangan oleh usaha
menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan,
saling memperkuat dan saling menguntungkan. Maksud dan tujuan kemitraan
adalah untuk meningkatkan pemberdayaan usaha kecil dibidang manajemen,
produk, pemasaran, permodalan dan teknis, disamping agar bisa mandiri demi
kelangsunagan usahanya, sehingga bisa melepaskan diri dari sifat ketergantungan
(Tohar, 2000).
Selanjutnya dinyatakan bahwa, umtuk mengembangkan dan melaksanakan
kemitraan bisa dengan salah satu atau lebih pola - pola kemitraan yang ada.
Sekurang-kurangnya ada tujuh pola kemitraan, salah satunya adalah pola inti
plasma, dimana dalam pola ini usaha menengah atau usaha besar bertindak
sebagai inti membina dan mengembangkan usaha kecil yang menjadi plasma
dalam hal :
2. Penyediaan sarana produksi.
4. Pemberian bantuaan lainnya yang diperlukan bagi peningkatan
efisiensi dan produktifitas usaha.
Menurut Wahyuni (2006), Menyatakan bahwa kemitraan adalah kerjasama
usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah dan besar disertai pembinaan
dan pengembangan oleh usaha menengah dan besar atas dasar prinsip saling
memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Disamping itu,
kerjasama kemitraan antara usaha kecil dengan usaha besar dan usaha menengah
dapat mendorong upaya dalam rangka pemerataan pembangunan.
Kemitraan dimaksudkan sebagai upaya pengembangan usaha yang
dilandasi kerjasama antara perusahaan dari peternakan rakyat dan pada dasarnya
merupakan kerjasama vertikal (vertical partnertship). Kerjasama tersebut
mengandung pengertian bahwa kedua belah pihak harus memperoleh keuntungan
dan manfaat (Murdikdjo dan Muladna, 20008).
Peternak pola kemitraan (sistim kontrak harga) adalah peternak yang
menyelenggarakan usaha ternak dengan pola kerjasama antara perusahaan inti
dengan peternak sebagai plasma dimana dalam kontrak telah disepakati harga
output dan input yang telah ditetapkan oleh perusahaan inti. Peternak menerima
selisih dari perhitungan input dan output. Peternak plasma yang mengikuti pola
kemitraan cukup dengan menyediakan kandang, tenaga kerja, peralatan, listrik
dan air, sedangkan bibit (DOC), pakan dan obat-obatan, bimbingan teknis serta
11
pemasaran disediakan oleh perusahaan inti Pada saat panen perusahaan inti akan
memotong utang peternak plasma berupa DOC, pakan dan obat-obatan. Apabila
terjadi kerugian, maka yang menanggung risiko adalah perusahaan sebatas biaya
DOC, pakan dan obat-obatan. Plasma akan memperoleh bonus, apabila Feed
Conversion Ratio (FCR) lebih rendah dari yang ditetapkan oleh inti. Sedangkan
bagi peternak non mitra, seluruh biaya operasi dan investasi serta pemasaran
diusahakan sendiri (Gunadarma, 2008).
Menurut Saptana et al. (2006), kemitraan adalah suatu jalinan kerjasama
berbagai pelaku agribisnis, mulai dari kegiatan praproduksi, produksi hingga
pemasaran. Kemitraan dilandasi oleh azas kesetaraan kedudukan, saling
membutuhkan dan saling menguntungkan serta adanya persetujuan diantara pihak
yang bermitra untuk saling berbagi, risiko dan manfaat.
Penetapan konsep kemitraan antara peternak sebagai mitra dan pihak perusahaan
perlu dilakukan upaya khusus agar usaha ternak ayam broiler, baik sebagai usaha
pokok maupun pendukung dapat berjalan seimbang. Upaya khusus tersebut
meliputi antara lain pembinaan manajemen yang baik, terarah dan konsisten
terhadap peternak ayam broiler sebagai mitra akan meningkatkan kinerja usaha,
yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan (Hermawan et al, 2007).
Kemitraan usaha adalah jalinan kerjasama usaha yang saling
menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha menengah/besar
(perusahaan mitra) disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh pengusaha
besar, sehingga saling memerlukan dan menguntungkan (LIPTAN, 2000).
12
tersebut didukung oleh makin kuatnya industri hulu, seperti perusahaan
pembibitan (breding farm), perusahaan pakan ternak (feed mill), perusahaan obat
hewan, dan peralatan peternakan. Suatu pola kemitraan yang ideal mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut: (1) pola tersebut mampu mengakomodasi kepentingan
ekonomi peternak rakyat dan inti melalui secara progresif, (2) pola kemitraan
mampu mencapai efisiensi dan perbaikan kinerja sistem secara keseluruhan, dan
(3) mampu meredam gejolak yang bersumber dari faktor eksternal dan mengelola
resiko yang mungkin timbul serta mampu memanfaatkan peluang-peluang yang
ada (Ditjen Peternakan, 1997).
Kemitraan adalah pola kerjasama antara perusahaan peternakan selaku
mitra usaha inti dengan peternak rakyat selaku mitra usaha plasma, yang
dituangkan dalam bentuk ikatan kerjasama. Melalui kemitraan diharapkan terjadi
kesetaraan hubungan antara peternak dengan mitra usaha inti sehingga
memperkuat posisi tawar peternak, berkurangnya resiko usaha dan terjaminnya
pasar yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan peternak (Hertanto, 2009).
2.2. Pendapatan
Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Rumusnya,
Pd=TR-TC dimana Pd adalah pendapatan, TR adalah total penerimaandan TC
adalah total biaya, selanjutnya dikatakan bahwa penerimaan diperoleh dari
produksi fisik dikalikan dengan harga produksi. Total pendapatan bersih diperoleh
dari total penerimaan dikurangi dengan total biaya dalam suatu produksi,
Soekartawi (2006). Pendapatan selain diukur dari nilai mutlak dapat pula dilihat
13
dalam analisis efisiennya. Ukuran efisien antara lain dapat dihitung melalui
perbandingan, Kadarsan (2000) menerangkan bahwa pendapatan adalah selisih
antara penerimaan total perusahaan dengan pengeluaran. Untuk menganalisis
pendapatan diperlukan dua keterangan pokok, yaitu keadaan pengeluaran dan
penerimaan dalam jangka waktu tertentu. Rasyaf (2002) menambahkan bahwa
pendapan adalah sejumlah uang yang diperoleh setelah semua biaya variabel dan
biaya tetap tertutupi. Hasil pengurangan positif berarti untung, hasil pengurangan
negatif berarti rugi.
Suharti (2003) menambahkan bahwa pendapatan adalah sejumlah uang
yang diperoleh setelah semua biaya variabel dan biaya tetap tertutupi. Hasil
pengurangan positif berarti untung, hasil pengurangan negatif berarti rugi.
Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dari semua biaya, yang meliputi
pendapatan kotor dan pendapatan bersih. Dalam analisis pendapatan peternak pola
kemitraan ayam pedaging ada dua pendapatan yaitu: Pendapatan kotor Perusahaan
inti-plasma (Gross Farm Income) Pendapatan bersih peternak plasma (Net Farm
Income). Pendapatan kotor yaitu nilai produksi komoditas perusahaan secara
keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi, sedangkan pendapatan bersih
merupakan penerimaan atau total dari semua keuntungan yang diperoleh selama
memproduksi ayam pedaging dan tanpa melakukan potongan – potongan apapun
(Kadarsan 2008).
Pendapatan usaha tani ada 2 (dua) macam yakni pendapatan kotor dan
pendapatan bersih (keuntungan). Pendapatan kotor usaha tani yaitu keseluruhan
14
hasil atau nilaiuang dari hasil usaha tani. Pendapatan bersih usaha tani yaitu
jumlah pendapatan kotor usaha tani dikurangi dengan biaya (Cahyono, 1995).
Sedangkan Soekartawi (2003) menyatakan bahwa dalam menaksir
pendapatan kotor petani peternak semua komponen produk yang tidak dijual harus
dinilai berdasarkan harga pasar, sehingga pendapatan kotor petani peternak semua
komponen produk yang tidak terjual harus dinilai berdasarkan harga pasar,
sehingga pendapatan kotor petani peternak dihitung sebagai penjualan ternak
ditambah nilai ternak yang digunakan untuk konsumsi rumah tangga atau dengan
kata lain pendapatan kotor usaha tani adalah nilai produk total usaha tani dalam
jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Sedangkan
pendapatan bersih ussaha tani adalah selisih antara pendapatan kotor usaha tani
dengan pengeluaran total usaha tani. Dikatakan pula total pendapatan diperoleh
dari total penerimaan dikurangi dengan total biaya dalam suatu proses produksi.
Rasyaf (2002) menambahkan bahwa pendapatan adalah sejumlah uang
yang diperoleh setelah semua biaya variabel dan biaya tetap tertutupi.
2.2.1. Penerimaan
penjualan feses dan penjualan karung pakan. Menurut Himawati (2006) bahwa
penerimaan merupakan hasil kali antara harga dengan total produksi dengan
rumus sebagai berikut TR=Pq x Q, dimana TR adalah total revenue, Pq adalah
harga persatuan unit dan Q adalah total produksi.
Rasyaf menyatakan bahwa penerimaan dalam suatu peternak ayam broiler
terdiri dari : (1). Hasil produksi utama berupa penjuala daging, baik hidup
15
ataupun dalam bentuk karkas; dan (2). Hasil sampingan yaitu berupa kotoran atau
alas “litter” yang laku dijual kepada petani sayur mayur atau petani palawija
lainnya. Semua penerimaan produsen berasal dari hasil penjualan outputnya.
Apabila hasil produksi peternakan dijual kepasar atau kepihak lain, maka
diperoleh sejumlah uang sebagai produk yang terjual tersebut. Besar atau kecilnya
uang diperoleh tergantung daripada jumlah barang dan nilai barang yang dijual.
Barang yang dijual akan bernilai tinggi bila permintaan melebihi penawaran atau
produksi sedikit. Jumlah produk yang dijual dikalikan dengan harga yang
ditawarkan merupakan jumlah uang yang diterima sebagai ganti produk
peternakan yang dijual inilah yang dinamakan penerimaan. (Rasyaf, 2002).
Sedangkan soekartawi (2006) menyatakan bahwa penerimaan kotor usaha
tani adalah jumlah produksi yang dihasilkan dalam suatu kegiatan usaha tani
dikalikan dengan harga jual yang berlaku dipasaran.
Adapun penerimaan usahatani adalah merupakan hasil perkalian antara
produksi yang diperoleh dengan harga jual. Pernyataan ini dapat dirumuskan
sebagai berikut Tri = Yi x Pyi. Dimana TR adalah total penerimaan, Y adalah
produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani (i), Py adalah harga Y.
2.2.1. Biaya
Biaya merupakan dasar dalam penentuan harga, sebab suatu tingkat harga
yang tidak dapat menutupi biaya akan mengakibatkan kerugian, sebaliknya
apabila suatu tingkat harga melebihi semua biaya, baik biaya produksi, biaya
operasi atau non operasi akan menghasilkan keuntungan, selanjutnya dikatakan
bahwa pendapatan adalah selisih antara penerimaan total perusahaan dengan
16
pokok, yaitu keadaan pengeluaran dan penerimaan dalam jangka waktu tertentu.
Pendapatan pada dasarnya mempunyai sifat menambah atau menaikkan kekayaan
pemilik perusahaan, termasuk dalam bentuk tagihan Soekartawi (2007).
Secara umum ada dua golongan biaya yaitu biaya variabel dan biaya tetap.
Biaya variabel (Zulkifli; 2003) adalah biaya yang jumlahnya berubah ubah
sebanding dengan perubahan volume kegiatan, namun biaya per unitnya tetap.
Artinya jika volume kegiatan diperbesar 2 (dua) kali lipat, maka total biaya juga
menjadi 2 (dua) kali lipat dari jumlah semula. Sedangkan biaya tetap adalah biaya
yang jumlahnya sampai tingkat kegiatan tertentu relatif tetap dan tidak
terpengaruh oleh perubahan volume kegiatan.
Biaya tetap terdiri atas biaya penyusutan dari pembuatan kandang dan
pengadaan peralatan serta pajak yang besarnya tidak tergantung pada besar
kecilnya skala usaha. Biaya pembuatan kandang dikeluarkan sekali dengan masa
pemakaian selama 10 tahun. Biaya pengadaan peralatan dikeluarkan sekali dengan
masa pemakaian selama 5 tahun. Sedang pajak bumi dan bangunan (PBB)
dikeluarkan sekali setahun (6 periode). Selanjutnya, semua biaya dihitung pada
satuan waktu yang sama, yaitu satu periode pemeliharaan ayam mulai dari DOC
sampai dengan ayam yang siap jual (Yunus 2009).
Menurut Soekartawi (2006), menyatakan bahwa biaya total usahatani
diartikan sebagai nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam
produksi, berdasarkan jumlah output yang dihasilkan biaya terdiri atas :
17
1. Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh besar
kecilnya produksi, misalnya : pajak, sewa tanah, penyusutan dan bunga
pinjaman.
2. Biaya variabel adalah biaya yang berhubungan langsung dengan jumlah
produksi. Misalnya : pengeluaran-pengeluaran untuk bibit, pupuk, obat-
obatan dan biaya tenaga kerja langsung.
Biaya produksi dapat digolongkan dalam biaya tetap dan biaya tidak tetap.
Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap dan tidak bergantung pada besar
kecilnya jumlah produksi, sehingga batas kapasitasnya memungkinkan, misalnya
sewa tanah, bunga pinjaman, listrik. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang
berubah ubah mengkuti besar kecilnya volume produksi, misalnya pengeluaran
untuk sarana produksi biaya pengadaan bibit, pupuk, obat obatan, pakan, dan lain
sebagainya. (Soekartawi, 2006).
Selanjutnya dikatakan bahwa biaya usaha tani biasanya diklasifikasikan
menjadi dua yaitu : (a). Biaya tetap ( fixed cast ); dan biaya tidak tetap ( variable
cast ). Biaya tetap ini umumnya didefenisikan sebagai biaya yang relatif tetap
jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau
sedikikit. Jadi besarnya biaya tetap bergantung pada besar kecilnya produksi yang
diperoleh. (b). Biaya tidak tetap biasanya didefenisikan sebagai biaya yang besar
kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. (soekartawi, 2006).
18
dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya peternak. Kenyataan
ini tidak terlepas dari keunggulan yang dimiliki oleh usaha ternak ayam broiler
yaitu masa produktif yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan usaha
ternak lainnya.
Peternak mempunyai dua sistem pola kemitraan antara lain pola kemitraan
dengan pedagang pengumpul (Bakul) dan pola kemitraan dengan perusahaan.
Program kemitraan dengan pedagang pengumpul (bakul) merupakan sistem pola
kemitraan perseorangan antara peternak menjual hasil produksi kepedagang
pengumpul (bakul) kemudian menjual kembali kekonsumen, sedangkan kemitraan
dengan perusahaan merupakan pola kemitraan dimana produksi peternak dijual
langsung ke perusahaan oleh peternak itu sendiri.
Peternak yang mengikuti pola kemitraan dengan perusahaan melakukan
proses produksi dan mengeluarkan biaya produksi. Setelah proses produksi
peternak memperoleh penerimaan sesuai dengan harga pasar dan sistem bagi hasil
yang ditetapkan dalam pola kemitraan tersebut. Dari hasil penerimaan tersebut
didapatkan pendapatan akhir peternak setelah dikurangkan dengan total biaya
produksi begitu juga dengan peternak pengumpul hanya saja total penerimaan
yang didapat peternak tidak dibagi lagi.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar 1.
19
Gambar 1 Kerangka pikir Analisis Pendapatan Peternak Ayam Broiler Pada Pola
Kemitraan Yang Berbeda Di Kecamatan Bontomanai Kabupaten
Kepulauan Selayar
3.1. Waktu Dan Tempat
Penelitian ini dilaksakan selama kurang lebih dua bulan yaitu dimulai pada
juli sampai september 2015 di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan
Selayar, Sulawesi Selatan. Penentuan lokasi tersebut diambil karena adanya dua
bentuk kerjasama yang berbeda dikecamatan tersebut yaitu kerjasama dengan
kemitraan perseorangan (bakul) dan kerjasama dengan perusahaan kemitraan.
3.2. Jenis Penelitian
peternakan ayam broiler yang bekerjasama dengan kemitraan perseorangan
(bakul) dan yang bekerjasama dengan perusahaan di Kecamatan Bontomanai
Kabupaten Kepulauan Selayar.
Selayar yang bekerjasama dengan kemitraan perseorangan (bakul) berjumlah 2
orang yang masing-masing memiliki populasi ternak 500-1.000 ekor dan peternak
yang bermitra dengan perusahaan yang memiliki populasi ternak berjumlah 1.500
ekor di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar yakni berjumlah 1
orang. Sedangkan untuk sampel digunakan sekaligus merupakan keseluruhan dari
jumlah populasi, hal tersebut dikarenakan jumlahnya yang cukup kecil. Khusus
21
melakukan perbandingan dengan pola kerjasama antara peternak dengan
kemitraan perseorangan (bakul) yang memiliki populasi maksimal 500 ekor.
3.4. Jenis Dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif yaitu data yang berupa
angka-angka berdasarkan hasil kuesioner dari hasil usaha ayam ras pedaging
meliputi jumlah penjualan ayam, feses, dan karung pakan serta biaya-biaya di
Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar.
Adapun sumber data yang digunakan pada penelitian yaitu :
1. Data Primer yaitu data mentah yang bersumber dari hasil wawancara
langsung dengan peternak meliputi identitas responden, hasil usaha dan
biaya-biaya.
2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi-instansi terkait,
seperti gambaran umum lokasi, keadaankondisi wilayah, kependudukan
dan sejarah singkat dan lain sebagainya.
3.5. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini antara lain :
a. Observasi yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui
pengamatan secara langsung terhadapa kondisi lokasi penelitian, serta
berbagai aktifitas peternak dalam melakukan usaha peternakan ayam
ras pedaging.
peternakan ayam ras pedaging.
mengalir atau mengambil data-data dari catatan, dokumentasi,
administrasi yang sesuai dengan masalah yang diteliti.
3.6. Analisa Data
Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa statistik
deskriptif yaitu dengan menghitung pendapatan dan melakukan penyederhanaan
data serta penyajian data dengan menggunakan tabel. Untuk mengetahui seberapa
besar pendapatan peternak dari usaha ayam broiler digunakan rumus menurut
Soekarwati (2006):
TR = Total Penerimaan (Rp)
TC = Total Biaya (Rp)
kemitraan perseoranagn (bakul) dan yang bermitra dengan perusahaan
di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar.
23
plasma.
peternak ayam broiler dengan seorang pedagang pengumpul ayam.
4. Ayam ras pedaging adalah ayam yang akan dimanfaatkan dagingnya
untuk suatu usaha dan mempunyai kriteria untuk dijadikan alat
produksi yang mampu menghasilkan daging dengan keuntungan lain
berupa feses (pupuk kandang) yang dipelihara oleh peternak di
Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar.
5. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan oleh peternak yang
dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi, yang terdiri atas biaya
penyusutan kandang, penyusutan peralatan, dan pajak bumi dan
bangunan yang dinyatakan dalam rupiah/periode.
6. Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh
jumlah produksiseperti bibit (DOC) , pakan, vaksin dan obat obatan,
listrik dan tenaga kerja yang dinyatakan dalam rupiah (Rp).
7. Biaya total adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam satu
periode produksi yang meliputi biaya variabel yang dinyatakan dalam
rupiah (Rp).
8. Penerimaan adalah nilai ternak ayam, feses serta karung pakan ayam
yang diperoleh dengan mengalikan harga jual yang dinyatakan dalam
rupiah/periode.
24
pedaging (pendapatan kotor) dengan total biaya yang dikeluarkan
selama proses pemeliharaan dinyatakan dalam rupiah/periode.
10. Satu periode produksi adalah mulai dari anak ayam berumur satu hari
(DOC), hingga anak ayam tersebut dijual oleh peternak selama 25-35
hari atau berat 1,5-2 kg.
25
Kecamatan Bontomanai merupakan salah satu dari 11 Kecamatan yang ada
di Kabupaten Kepulauan Selayar dan merupakan salah satu Kecamatan yang
memiliki banyak Desa dengan luas wilayah 115,56 km2. adapun batas-batas
wilayah Kecamatan Bontomanai sebagai berikut :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Buki
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Laut Flores
Sebelah Barat : Selat Makassar
4.1.1. Keadaan Penduduk
suatu daerah, penduduk dengan jumlah tinggi disuatu daerah padat, diimbangi
dengan kualitas sumber manusia yang handal diberbagai bidang akan
mempercepat kemajuan suatu daerah dan sebaliknnya, tak terkecuali di
Kecamatan Bontomanai. Oleh karena itu pengembangan dan peningkatan kualitas
sumber daya manusia sangat penting untuk dapat meningkatkan persainngan
hingga menjadi sumber daya yang handal dalam pembangunan daerah. Adapun
kondisi penduduk di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
berdasarkan data sensus 2014 dan penyebarannya di 10 Kelurahan/Desa dapat di
lihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Persentaase jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
NO Jenis Kelamin Jumlah orang
(jiwa)
Persentase
berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 6.064 jiwa (49 %) dan berjenis
kelamin perempuan sebanyak 6.259 jiwa (51 %). Jadi jumlah penduduk
keseluruhan di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar sebanyak
12.326 jiwa (100 %).
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan
pertanian, karena petani akan lebih respon terhadap teknologi baru bagi yang
berpendidikan dibandingkan yang kurang pendidikanya untuk lebih jelasnya
tingkat pendidikan di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
No Tingkat Pendidikan Jumlah (jiwa)
Persentase (%)
Tidak Tamat SD SD SMP SMA Diploma III Diploma IV/S1
510 1428 1265 1539 937 821
18,18 14,54 29,49 30,11 6,08 1,60
Total 6500 100 Sumber : Kecamatan Bontomanai 2014
27
pernah mengikuti pendidikan formal sebanyak 6500 orang (81,18 %) dari total
penduduk yang ada. Tingkat pendidikan yang terbesar adalah Sekaloh Menengah
Atas sebanyak 1265 orang (30,11 %), Sekolah Menengah Pertama sebanyak 1539
orang (29,49 %), Sekolah Dasar sebanyak 1428 orang (14,54 %), Diploma III
sebanyak 937 orang (6,08%) dan Diploma IV/S1 sebanyak 821 orang (1,60 %).
Dari informasi diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan formal di
Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar tergolong tinggi.
4.1.3. Jumlah Penduduk Berdasakan Pekerjaan
Penduduk Kecamatan Bontomanai didominasi oleh PNS,Keadaan
penduduk di Kecamatan Bontomanai berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat
pada Tabel 3.
Tabel 3. Mata Pencaharian Penduduk di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
No Mata Pencaharian Jumlah (Orang) Persentase(%) 1 2 3 4 5
Petani Pedagang PNS/TNI/POLRI Tukang/Buruh Peternak
475 86
Total 2287 100 Sumber : Kecamatan Bontomanai 2014
Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang terdata memiliki
pekerjaan tetap sebanyak 2287 kepala rumah tangga, yang terdiri dari petani 475
orang (83,77 %), pedagang 86 orang (6,77 %), PNS/TNI/POLRI 1420 orang
(7,41 %), tukang/buruh 231 orang (1,59 %) dan lainnya 75 orang (1,06%)
dengan berbagai profesi.
Responden pada penelitian ini berjumlah tiga orang peternak ayam broiler,
dua orang bermitra dengan perusahaan perseorangan (bakul) dan satu orang yang
bermitra dengan perusahaan. Adapun penjelasan lebih lanjut dari responden
tersebut dapat dilihat dari Tabel 4.
Tabel 4. Identitas Responden
No Nama Jenis Kelamin
2 Zainal L 36 SMA 6 500
3 H.Syaripuddin L 39 SMP 6 1000
Sumber : Kecamatan Bontomanai 2014
Tabel 4 menunjukkan peternak yang bermitra dengan perusahaan
perseorangan (bakul) ada 2 orang dan yang bermitra dengan perussahaan 1 orang.
Nama saiyed Murtalak, jenis kelamin laki-laki, umur 41 tahun, pendidikan
terakhir S1, lama betrnak 10 tahun dengan jumlah populasi 500 ekor bermitra
dengan perusahaan perseorangan (bakul). Nama Zainal, jenis kelamin laki-laki,
umur 36 tahun, pendidikan terakhir SMA, lama beternak 6 tahun, jumlah populasi
1000 ekor juga bermitra dengan perusahaan perseorangan (bakul). Sedangkan
H.Syaripuddin, jenis kelamin laki-laki, umur 39 tahun, pendidikan terakhir SMP,
lama beternak 6 tahun dengan jumlah populasi 1500 ekor, bermitra dengan
perusahaan.
29
menjelaskan perbedaan pola kemitraan yang dilakukan oleh peternak ayam broiler
di Kecamatan Bontomanai.Sejak tahun 2003 peternak ayam broiler di kecamatan
tersebut telah mengenal dua bentuk kemitraan yang berbeda, selanjutnya masing-
masing akan dijelaskan secara lebih rinci berdasarkan hasil wawancara dengan
peternak yang berbeda.
kemitraan yang lebih awal dikenal oleh masyarakat (peternak) pada lokasi
tersebut ataupun kabupaten kepulauan selayar secara umum. Pola yang berlaku
antara peternak dengan perusahaan yakni:
a. Awal kerjasama yang dilakukan tidak menggunakan perjanjian secara
tertulis, namun mengharuskan penggunaan jaminan berupa uang
RP.1.000.000/ boks DOC. Perusahaan mitra hanya mampu menyediakan
maksimal 10 boks DOC dikarenakan kekhawatiran resiko kerugian besar.
b. Saat berlangsungnya pemeliharaan pihak perusahaan tidak melakukan
pengawasan (intensif) dan pembinaan budidaya kepada peternak.
c. Resiko kerugiaan atas kegagalan pemeliharaan atau panen ditanggung
secara sepihak kepada peternak.
permintaan dari pihak peternak.
e. Hasil produksi hanya dapat dipasarkan oleh pihak perusahaan yang juga
sebagai pedagang pengumpul (bakul)
g. Semua biaya yang dikeluarkan(ditanggung) oleh perusahaan selama
pemeliharaan dibayar setelah panen dengan memotong dari hsil
penjualan.
peternak.
diperkenalkan oleh perusaan CELEBES (inti) diperkenalkan pada tahun 2003
yang hingga sat ini telah menyusul masuknya tiga perusahaan mitra lainnya antara
lain :
Secara umum pola yang berlaku dari bentuk kemitran dengan perusahaan mitra
(inti) yaitu:
oleh perusahaan kepada peternak.
b. Kesepakatan atas penentuan harga kontrak oleh perusahaan yang berupa
sapronak (DOC, pakan, obat-obatan dan vaksin) selanjutnya kontrak harga
jual ayam hidup dan berbagai bonus atas prestasi peternak.
c. Penyediaan jasa penyuluh oleh pihak perusahaan yang berperan untuk
mengontrol, mengawasi , dan membina peternak
d. Hasil penjualan dan tambahan bonus secara langsung akan mendapat
potongan berdasarkan semua biaya sapronak pada saat pemeliharaan yang
kemudian menjadi pendapatan peternak.
perusahaa
f. Resiko kegagalan perusahaan dan panen akan mendapat keringanan oleh
perusahaan berupa uang atas biaya persiapan kandang
Dengan melihat perbedaan pola tersebut dapat dilihat kedua pola tersebut
sangat jauh berbeda mulai dari awal kerjasama, pengawasan, resiko kerugian
sampai penyediaan sapronak.
Hal ini sesui dengan pendapat Sumardjo (2004) ada beberapa jenis pola
kemitraan yang telah banyak dilaksanakan yaitu :
a. Pola inti plasma, merupakan hubungan kemitraan antara peternak mandiri
sebagai inti dengan peternak kecil yang disebut dengan peternak plasma.
b. Poloa sub kontrak, merupakan hubungan kemmitraan antara kelompok
mitra dengan perusahaan mitra, yang didalamnya kelompok mitra
memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian
dari produksinya.
mitra dengan perusahaan mitra, yang didalamnya perusahaan mitra
memasarkan hasil produksi kelompok mitra atau kelompok mitra
memasok kebutuhan yang diperlukan perusahhan mitra.
d. Pola keagengan, merupakan hubungan kemitraan yang didalamnya
kelompok mitra diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa
usaha perusahaan mitra.
kemitraan yang didalamnya kelompok mitra menyediakan lahan, sarana dan
tenaga, sedangkan perusahaan mitra menyediakan biaya atau modal atau
sarana lainnya untuk mengusahakan suatu komoditi.
5.3. Pendapatan
Untuk mengetahui biaya produksi maka dapat dilihat pada Tabel 9
Tabel 5. Biaya Produksi
b. Penyusutan Peralatan b. Pakan
c. Pajak Bumi dan Bangunan c. Vaksin dan obat-obatan
d. Listrik
Biaya merupakan dasar dalam penentuan harga, sebab suatu tingkat harga
yang tidak dapat menutupi biaya akan mengakibatkan kerugian. Sebaliknya,
apabila suatu tingkat harga melebihi semua biaya, baik biaya produksi, biaya
operasi maupun biaya non operasi akan menghasilkan keuntungan. Pada saat
produksi dimulai maka saat itu pula peternak akan mengeluarkan biaya produksi.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Rasyaf (1995) bahwa sejak
33
awal anak ayam masuk sebagai tanda dimulainya kegiatan produksi dikandang
yang bersangkutan maka saat itu pula biaya produksi di kandang tersebut mulai
sudah terbentuk. Biaya produksi dapat digolonngakan dalam biaya tetap dan biaya
tidak tetap. Biaya tetap adalah biayaya yang jumlahnya tetap dan tidak tergantung
pada besar kecilnya jumlah produksi. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang
berubah ubah mengikuti besar kecilnya volume produksi, misalnya pengeluaran
untuk sarana produksi biaya pngadaan bibit, pupuk, obat-obatan, pakan dan lain
sebagainya (Soekartawi,2006).
Adapun biaya produksi pada peternak ayam ras pedaging di Kecamatan
Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar sebagai berikut :
5.3.1.1 Biaya Tetap (FC)
Biaya tetap adalah biaya tetap yang terlibat dalam produksi dan tidak
berubah meskipun ada perubahan jumlah daging yang dihasilkan. Termasuk biaya
penyusutan, seperti penyusutan alat-alat kandang (tempat makan,tempat minum
dan lain-lain), penyusutan kandang, bunga atas pinjaman, pajak dan sejenisnya
dan biaya lain-lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2001), bahwa
biaya tetap dalam usaha peternak ayam ras petelur adalah biaya tetap yang terlibat
dalam proses produksi dan tidak berubah meskipun ada perubahan jumlah daging
yang dihasilkan.
kandang dilakukan dengan membagi biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan
34
kandang dengan periode pemakaian kan dang tersebut. Adapun biaya penyusutan
kandang pada peternak ayam broiler pada pola kemitraan yang berbeda di
Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Biaya penyusutan kandang peternak ayam broiler pada pola kemitraan yang berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
No Jenis Kemitraan
2. Kemitraan Perusahaan 1500 8 468.750
Primer yang telah Diolah 2014
Tabel 6 menunjukkan biaya penyusutan kandang pada peternak dengan
pola kemitraan perseorangan (bakul) pada skala usaha 500 memiliki biaya
penyusutan kandanng Rp122.656./periode, sedangkan skala usaha 1.000 memiliki
biaya penyusutan Rp.386718/periode. Lama pemakaian dari kandang tersebut
adalah 8 tahun atau sekitar 64 periode. Sedangkan biaya penyusutan kandang pada
pola kemitraan perusahaan pada skala usaha 1.500 memiliki biaya penyusutan
Rp.468.750/periode. Adapun pemakaian kandang tersebut adalah 8 tahun atau
sekitar 64 periode. Biaya penyusutan kandang dihitung dengan biaya
35
menggunakan metode garis lurus yaitu dengan cara membagi biaya pembuatan
kandang dengan lama pemakaian.
bermitra dengan perusahaan harus memenuhi standar perusahaan, karena
dikhawatirkan ayam yang akan dikandangkan akan mengalami stres, pendapat ini
sesuai dengan pendapat Hardjosworo dan Rukmiasih (2000) yang menyatakan
bahwa ukuran luas kandang tergantung dari kepadatan jumlah populasi ternak
yang dipelihara. Luas yang cukup bagi ayam untuk ruang geraknya maka tidak
akan terjadi saling patuk dan stres.
Disamping itu model kandang kedua pola tersebut berbeda dimana pola
yang bermitra dengan perseorangan model kandang mengikuti bentuk lahan atau
tidak sesuai dengan prosedur arah kandang yang baik sedangkan bentuk kandang
yang bermitra dengan perusahaan bentuknya memanjang dari arah timur ke barat
sesuai dengan prosedur kandang yang baik. Untuk ukuran populasi tiap
perseginya yang bermitra dengan perusahaan yaitu 4 x 4 meter untuk 100 ekor
populasi, sedangkan yang kemitraan perseorangan tidak memakai aturan seperti
kemitraan perusahaan.
penyusutan peralatan termasuk dalam biaya tetap karena nilai peralatan kandang
dari tahun ke tahun menyusut meskipun kandang di kosongkan. Adapun biaya
36
pada Tabel 7.
Tabel 7. Biaya penyusutan peralatan kandang pada peternak ayam broiler pada pola kemitraan yang berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
No Jenis
Tabel 7 menunjukkan bahwa biaya penyusutan peralatan kandang pada
peternak dengan pola kemitraan perseorangan (bakul) pada skala usaha 500
memiliki biaya penyusutan peralatan Rp.61.563/periode, sedangkan sakala usaha
1.000 memiliki penyusutan Rp.123.125/periode. Lama pemakaian dari tersebut
adalah 4 tahun atau sekitar 32 periode. Sedangkan biaya penyusutan kandang pada
pola kemitraan perusahaan pada skala usaha 1.500 memiliki biaya penyusutan
Rp.139.000 /periode. Besar kecilnya biaya penyusutan peralatan kandang yang
ditanggung tiap periodenya dipengaruhi skala usaha. Besarnya nilai penyusutan
peralatan kandang diperoleh dari nilai investasi yang dikeluarkan di bagi dengan
masa pemakain.
kemitraan perseorangan lebih rendah dibandingkan yang bermitra dengan
perusahaan. Perbedaan tersebut dikarenakan jumlah ternak yang dimiliki oleh
mitra perseorangan lebih kecil dibanding yang mitra perusahaan. Pendapat ini
sesuai dengan pendapat Cahyano (2004) yang menyatakan bahwa kebutuhan
tempat pakan dan minum tergantung dari jumlah ayam yang dipelihara dan umur
ayam. Pemeliharaan awal dengan jumlah ayam 500 ekor diperlukan tempat pakan
sejumlah 10 buah dan tempat minum sebanyak 12 buah, sedangkan pada
pemeliharaan akhir dengan jumlah ayam 500 ekor diperlukan tempat pakan 14
buah dan tempat minum 16 buah.
3. Pajak Bumi dan Bangunan
Pajak, bumi dan bangunan (PBB) termasuk dalam biaya tetap karena
peternak wajib membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) meskipun tidak ada
kegiatan produksi. Biaya pajak bumi dan bangunan (PBB) yaitu jumlah luas
kandang dibagi dengan luas lahan kandang dikali dengan jumlah pajak yang
dibayar. Adapun besarnya jumlah pajak bumi dan bangunan yang harus
dikeluarkan peternak di Kecamatan Bontomanai Kabupatan Kepulauan Selayar
dapat dilihat pada Tabel 8.
38
Tabel 8. Biaya pajak bumi dan bangunan (PBB) pada peternak ayam broiler pada pola kemitraan di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
No Jenis
1.875 2. Kemitraan Perusahaan 1.500 75.000 9.375
Sumber : Data Primer yanng telah Diolah, 2014
Tabel 8 menunjukkan bahwa biaya pajak bumi dan bangunan (PBB) yang
bermitra dengan perusahaan perseorangan (bakul) pada skala usaha 500 memiliki
biaya pajak Rp.1.225/periode. Sedangkan pada skala usaha 1.000 memiliki biaya
pajak Rp.1875/periodenya. Sedangkan biaya pajak bumi dan bangunan (PBB)
yang barmitra dengan perusahaan pada skala usaha 1.500 memiliki biaya pajak
Rp.93775/periodenya.
Berdasarkan tabel 8 tersebut biaya pajak bumi dan bangunan yang paling
tinggi adalah yang bermitra dengan kemitraan perseorangan (bakul) dengan skala
1000 karena lahan yang digunakan hampir ½ dari luas lahan.
5.3.1.2 Biaya Variabel (VC)
Biaya variabel atau disebut dengan biaya tidak tetap biasa didefenisikan
sebagai biaya yang dikeluarkan atau ditanggungoleh peternak selaama masa
produksi yang besar kecilnya dipengaruhi oleh skala atau jumlah produksi.
Artinya bahwa semakin tinggi skala produksi maka akan semakin meningkat pula
biaya variabel yang harus ditanggung oleh peternak selama masa produksi
39
berlangsung.Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel (2000), bahwa biaya variabel
adalah biaya yang berubah-ubah mengikuti besar kecilnya volume produksi,
misalnya pengeluaran sarana untuk produksi biaya pengadaan bibit,pupuk,obat-
obatan,pakan dan lain sebagainya.
Yang termasuk dalam komponen biaya variabel untuk usaha peternakan
ayam broiler yaitu bibit (DOC), biaya pakan, biaya vaksin obat-obatan, biaya
tenaga kerja, biaya listrik dan air dan biaya lain-lain yang dikeluarkan untuk
mendukung biaya operasional lainnya.
1. Biaya Bibit (DOC)
Bibit merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan, bibit ayam broiler yang
berkualitas baik yaitu bibit dengan produksi daging yang tinggi dengan konversi
pakan yang sedikit. Bibit ayam ras yang digunakan oleh peternak dikenal sebagai
DOC (day old chick) baik untuk ayam ras pedaging maupun ayam ras petelur.
Bibit ini umumnnya berasal dari ternak golongan commersial stock yang sudah
diketahui prestasinya dalam penyediaan bibit ayam yang bagus dimana bibit yang
bagus biasanya dapat diketahui dengan ciri-ciri berwarnah cerah, bersih atau tidak
cacat, pendapat serupa juga dikemukakan oleh Rasyaf (2004) yang menyatakan
bahwa pedoman untuk memilih DOC yaitu anak ayam harus berasal dari induk
yang sehat agar tidak membawa penyakit bawaan; ukuran atau bobopt ayam yaitu
sekitar 35 sampai 40 gram; anak ayam memiliki mata yang cerah dan bercahaya,
aktif serta tampak tegar,tidak memperlihatkan cacat fisik seperti kaki bengkok,
mata buta atau kelainan fisik lainnya yang mudah dilihat dan tidak ada lekatan
40
tinja di duburnya.Adapun rata-rata biaya bibit (DOC) peternakan di Kecamatan
Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Biaya Bibit (DOC)
No Jenis
Sumber : Data Primer yang telah diolah 2014
Tabel 9 menunjukkan biaya yang dikeluarkan oleh peternak yang bermitra
dengan perusahaan perseorangan (bakul) pada skala usaha 500 yaitu total biaya
DOC Rp.2.500.000 dengan harga per ekornya Rp.5000, sedangkan skala usaha
1.000 total biaya DOC adalah Rp.5.000.000 dengan harga per ekornya Rp.5000.
sedangkan biaya yang dikeluarkan oleh peternak yang bermitra dengan
perusahann dengan skala usaha 1.500 yakni total biaya DOC Rp.6.375.000
dengan harga per ekornya Rp.4.250.
Berdasarkan tabel 9 tersebut dapat terlihat bahwa biaya DOC yang
bermitra dengan perusahaan perseorangan (bakul) lebih mahaldibanding dengan
yang bermitra dengan perusahaan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara
lain harga bibit atau jumlah bibit yanng dibeli
41
laju pertumbuhan broiler. Dalam usaha perternakan ayam broiler, pakan ternak
memegang peranan yang sangat penting dalam menjamin kelangsungan hidup
usaha tersebut. Pakan merupakan hal yang sangat pentingdan lebih penting lagi
adalah harga daripakan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2001),
yang yang menyatakan bahwa biaya variabel terdiri dari biaya bibit ayam yang
porsinya antara10-16% dari total biaya produksi, biaya kesehatan dalam kondisi
normal porsinya hanya 1-2%, serta biaya pakan yang porsinya 70-80% dari total
biaya produksi. Dengan demikian, keberadaan pakan sangat mempengaruhi
keberhasilan usaha perternakan ayam broiler.
Besarnya biaya pakan yang di keluarkan oleh peterak di Kecamatan
Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Biaya Pakan Peternak Ayam Broiler Pada Pola Kemitraan yang
Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar.
No Jenis Kemitraan Skala
Sumber : Data primer yang telah diolah.2014
Tabel 10 menunjukkan bahwa biaya pakan yang bermitra dengan
perusashaan perseorangan (bakul) pada skala 500 total biaya pakan yakni
42
Rp.21.760.000 dengan jumlah pemakaian 8 karung dan setiap karung itu
mempunyai harga Rp.340.000/karung. Sedangkan pada skala usaha 1.000 total
biaya pakan yaitu Rp.43.520.000 dengan jumlah pemakaian 16 karung dan harga
setiap karung tersebut adalah Rp.340.000/karung.biaya pakan yang bermitra
dengan perusahaan dengan skala 1.500 memiliki biaya pakan total Rp.97.600.000
dengan jumlah pemakaian 37 karung dan setiap karung itu mempunyai harga
Rp.330.000/karung.
Berdasarkan tabel 10 tersebut biaya yang paling tinggi adalah yang
bermitra dengan perusahan perseorangan (bakul) di karenakan jumlah pemakaian
dalam setiap periode banyak di bandingkan dengan yang bermitra dengan
perusahaan ini disebabkan perusahaan perseorangan ini membeli pakan dengan
eceran atau tidak dalam parti besar.
2. Biaya Vaksin dan obat-obatan
Untuk memperoleh hasil ayam broiler yang menguntungkan, maka salah
satu cara yang harus di lakukan dengan memperhatikan kondisi kesehatan ayam
yang di pelihara. pecahan secara cepat dan tepat dapat mennghindarkan
kemungkinan kemungkinan terserang penyakit bagi broiler.salah satu tindakan
pencegahan penyakit yangdilakukan yaitu melakukan vaksinasi guna menciptakan
kekebalam virus yang dapat menular. Besarnyabiaya vaksin dan obat-obatan yang
dikeluarkan perternakan pada Tabel 11.
43
Tabel 11. Biaya Vaksin dan Obat-Obatan Peternak Pada Pola Kemitraan yang Berbeda Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar.
No Jenis Kemitraan Skala Usaha Total
Biaya/periode
Sumber :Data Primer yang telah diolah 2014
Tabel 11 menunjukkan bahwa biaya vaksin dan obat-obatan pada pola
kemitraan perseorangan (bakul) pada skala 500 biaya totalnya Rp.1.008.000
sedangkan biaya vaksin dan obat-obatan pada skala 1.000 adalah senilai
Rp.2.016.000, sedangkan biaya vaksin dan obat-obatan pada pola kemitraan
perusahaan yaitu sebesar Rp.2.758.000
Berdasarkan tabel 11 tersebut biaya vaksin dan obat-obatan yang tertinggi
yaitu yang bermitra dengan perusahaan. Hal ini disebabkan yang bermitra dengan
perusahaan memilikki banyak macanm obat-obatan dibandingkan dengan yang
bermitra dengan perusahaan perseorangan (bakul), disamping itu yang bermitra
dengan perusahaan memiliki sandar dan ketentuan dalam pemberian obat-obattan,
demi penanggaan penyakit untuk meningkatkan penghasilan. Senada dengan
pendapat tersebut Rasyaf (2004) menyatakan bahwa pengobatan terhadap ayam
yang sakit dilakukan dengan pemberian obat sesui anjuran mantri hewan serta
melakukan isolasi terhadap ayam sakit dengan tujuan penularan penyakit. Nilai
mortalitas yang rendah secara tidak langsung akan menambah pendapatan namun
44
disisi lain hal tersebut perlu didukung penanganan penyakit yang juga menambah
biaya dalam produksi.
3. Biaya Listrik
Pada usaha peternak ayam broiler, kebutuhan listrik digunakan sebagai
penerangan serta menghangatkan tubuh ayam broiler pada malam hari saat udara
dingin dan juga penggerak dinamo untuk air. Listrik salah satu penunnjang
peningkatan produktivitas usaha peternakan. Besarnya biaya tergantung
pemakaian tiap bulannya. Adapun biaya listrik yang dikeluarkan peternak di
Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada Tabel
Tabel 12. Biaya Listrik Peternak Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar.
No Jenis kemitraan Skala Usaha
(ekor)
Sumber : Data Primer yang telah Diolah. 2014
Tabel 12 menunjukkan biaya listrik yang bermitra dengan perusahaan
perseorangan (bakul) dengan skala usaha 500 memiliki total biaya listrik adalah
Rp.14.000/bulannya. Sedangkan skala usaha 1.000 memiliki total biaya listrik
adalah Rp.21.000. sedangkan biaya listrik yang bermitra dengan perusahaan
dengan skala usaha 1.500 memiliki biayabtotal Rp.30.000/bulannya.
Berdasarkan tabel 12 tersebut biaya listrik yang bermitra dengan
perusahaan tinggi ini dikarenakan air yang digunakan untuk galong otomatis
45
memerlukan listrik untuk menggerakkanya, berbeda dengan yang bermitra dengan
perusahaan perseorangan (bakul) hanya mengambil air di sumur dan hanya pda
saat cuci kandang saja dia menggunakan air yang digerakkan oleh listrik.
4. Biaya Tenaga Kerja
Kebutuhan tenaga tenaga kerja pada usaha ternak ayam broiler juga penting.
Hal ini disebabkan karena pada usaha ternak ayam broiler tenaga kerja sibuk pada
waktu-waktu tertentu, yaitu pada saat pemberian pakan, membersihkan dan
pengawasan di malam hari jika perlu. Adapun biaya tenaga kerja yang di
keluarkan peternak di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Biaya Tenaga Kerja Peternak Pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar.
No Jenis kemitraan Skala Usaha
(ekor)
Tabel 13 menunjukkan biaya tenaga kerja pada pola kemitraan
perseorangan (bakul) dengan skala 500 adalah senilai Rp.480.000/periode, skala
1.000 sebesar Rp.480.000/periode. Sedangkan pada pola kemitraan perusahaan
sebesar Rp.560.000/periode.
Biaya total merupakan keseluruhan biaya yang di keluarkan oleh peternak
ayam ras pedaging selama proses produksi (satu periode). Biaya ini merupakan
hasil penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel selama satu periode.
Hal ini disesuai dengan pendapat Swastha dan Skutjo (1997), yang menyatakan
bahwa biaya total adalah seluruh biaya yang di keluarkan oleh perusahaan untuk
proses produksi atau dengan kaya lain biaya total merupakan jumlah dari biaya
variabel dan biaya tetap.
Adapun total biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak di Kecamatan
Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada Tabel 14 :
Tabel 14. Biaya Total peternak pada pola kemitraan yang berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
No Jenis Kemitraan
Tabel 14 menunjukkan bahwa total biaya produksi tersebut biaya variabel
merupakan biaya yang paling besar dikeluarkan oleh peternak dalam masa satu
47
periode produksi dibandingkan dengan biaya tetap. Biaya variabel merupakan
komponen biaya terbesar karena berkaitan dengan jumlah skala usaha atau jumlah
ternak yang dipelihara peternak dimana semakin tinggi jumlah ternak makin
tinggi juga biaya variabel yang dikeluarkan.
5.4. Penerimaan Hasil Produksi
penjualan fases dan penjualan karung pakan. Menurut Himawti (2006) bahwa
penerimaan merupakan hasil kali antara harga dengan total produksi dengan
sebagai berikut TR=Pq x Q, dimana TR adalah total revenu, Pq adalah harga per
satuan unit dan Q, adalah total produksi.
Apabila hasil produksi peternakan dijual ke pasar atau ke pihak lain, maka
di peroleh sejumlah uang sebagai produksi yang terjual tersebut. Besar atau
kecilnya uang di peroleh tergantung dari pada jumlah barang dan nilai barang
yang di jual. Barang yang di jual akan bernilai tinggi bila permintaan melebihi
penawaran atau produksi sedikit. Jumlah produk yang dijual di kalikan dengan
harga yang di tawarkan merupakan jumlah uang yang di terima sebagai ganti
produk peternakan yang di jual inilah yang dinamakan penerimaan (Rasyaf,
2002).Pada usaha peternakan ayam broiler di Kecamatan Bontomanai Kabupaten
Kepulauan Selayar sumber penerimaan peternak berasal dari 3 komponen yaitu :
48
Ayam broiler memliki pertumbuhan yang sangat pesat pada umur 1-5
minggu atau kurang dari 1 bulan dan sudah dapat di pasarkan pada umur 5-6
minggu dengan bobot hidup antara 1,3-1,7 kg. Adapun besarnya penerimaan yang
di dapatkan peternak dari penjualan daging/ayam di Kecamatan Bontomanai
kabupaten kepulauan Selayar dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Penerimaan Hasil Penjualan Daging Ayam Peternak pada Pola Kemitraan yang berbeda di Kecamatan Bontomanani Kabupaten Kepulauan Selayar.
No Jenis kemitraan
Sumber : Data Primer yang Telah Diolah. 2014
Tabel 15 Merupakan penerimaan hasil penjualan daging /ayam yang
bermitra dengan perusahaan perseorangan (bakul) pada skala usaha 500 yakni
Rp.199.920.000 sedangkan pada skala usaha 1000 yakni Rp.338.560.000 dengan
harga perkilonya yakni Rp. 30.000/Kg. Sedangkan penerimaan hasil penjualan
daging/ ayam yang bermitra dengan perusahaan dengan skala usaha 1500
memperoleh penerimaan sebesar Rp. 485.220.000 dengan harga perkilonya
Rp.25.000/Kg.
49
merupakan kommponen terbesar dalam penerimaan, sehingga hasil dari penjuala
dapat menekan biaya produksi agar keuntungan yang diperoleh dapat maksimal
sesuai apa yang diharapkan peternak.
2. Penjualan Feses
dapatkan peternak dari usaha peternakan broiler adalah penjualan sisa makanan
yang tidak diceerna oleh ternak dalam bentuk fases, pejualan fases di lakukan tiap
periodenya dalam per karung. Adapun besarnya penerimaan yang didapat petrnak
dari penjualan fases di Kecamatan Bontomanai kabupaten kepulauan Selayar
dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Penerimaan hasil penjualan feses peternak pada pola kemitraan yang berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
No Jenis Kemitraan Skala
Tabel 16 menunjukkan penerimaan hasil penjualan feses yang bermitra
dengan perusahaan (bakul) pada skala usaha 500 yakni Rp.800.000 Sedangkan
pada skala usaha 1.000 yaitu Rp.1.760.000dengan harga per karungnya yakni
Rp.10.000/karungnya. Sedangkan yang penerimaan hasil penjualan daging/ayam
50
sebesar Rp.2.480.000 dengan harga per karungnya Rp.10.000/karungnya. Feses
yang dihasilkan oleh ayam biasanya dijual ke petani untuk dimnfaatkan sebagai
pupuk kandang untuk tanaman
3. Penjualan Karung Pakan
Selain penjualan daging/ayam dan fases komponen penerimaan lainnya
yang masih baru yakni penjualan karung pakan yang di lakukan tiap periodenya.
Adapun besarnya penerimaan yang didapatkan peternak dari penjualan karung
pakan di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada
Tabel 17.
Tabel 17. Penerimaan Hasil penjualan karung pakan peternak pada pola kemitraan yang berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
No Jenis kemitraan Skala
Tabel 17 menunjukkan penerimaan hasi penjualan karung pakan yang
bermitra dengan perusahaan perseorangan (bakul) pada skala usaha 500 yakni
Rp.160.000 sedangkan pada skala usaha 1.000 yaitu Rp.320.000 dengan harga per
karungnya yakni Rp.2.500/karungnya. Sedangkan yang penerimaan hasil
51
memperoleh penerimaan sebesar Rp.740.000 dengan harga per karungnya
Rp.2.500/karung. Karung pakan yang dihasilkan biasanya dijual ke petani sawah
untuk dimanfaatkan sebagai tempat beras atau gabah.
5.4.1 Total penerimaan (TR)
produksi dinyatakan dalam bentuk rupiah yaitu penjualan daging/ayam, penjualan
fases dan penjualan karung pakan. Adapun total penerimaan yang di dapatkan
peternak di Kecamatan Bontomanai kabupaten kepulauan Selayar dapat di lihat
pada Tabel 18.
Tabel 18. Total Penerimaan Peternak pada Pola Kemitraan yang Berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Keepulauan Selayar
Sumber data primer yang telah diolah 2014
Tabel 18 menunjukkan total penerimaan dari semua komponen yang
bermitra dengan perusahaan perseorangan pada skala usaha 500 yakni
Rp.199.920.000 sedangkan pada skala usaha 1.000 total penerimaannya adalah
Rp.338.560.000 sedangkan yang bermitra dengan perusahaan total penerimaanya
adalah Rp.485.220.000.
Daging/
2. Kemitraan perusahaan 1.500 482.000.000 2.480.000 740.000 485.220.000
52
Berdasarkan tabel 18 tersebut komponen penerimaan usaha peternakan
ayam, penjualan fases dan penjualan karung pakan. Dari tabel tersebut juga di
lihat sumber penerimaan daging/ayam yang paling besar memperoleh penerimaan
adalah dari penjualan daging ayam.
5.5. Pendapatan Penternak
Pendapatan atau keuntungan merupakan tujuan setiap jenis usaha.
Keuntungan dapat dicapai jika jumlah penerimaan yang diperoleh dari hasil usaha
lebih besar dari pada julah pengeluarannya. Semakin tinggi selisih tersebu,
semakin mmeningkat keuntungan yang dapat diperoleh. Bisa diartikan pula bahwa
secara ekonomi usaha tersebut layak dipertahankan atau di lanjutkan.
Jika situainya terbalik, usaha tersebut mengalmi kerugian dan secara
ekonomis sudah tidak layak di lanjutkan. Hal inin sesuai dengan pendapat
Soekartawi (2002), yang menyatakan bahwa pendapatan (keuntungan) adalah
selisih antara penerimaan dengan semua biaya.
Adapun besarnya pendapatan peternak di Kecamatan Bontomanai
Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada Tabel 19
53
Tabel 19. Total pendapatan peternak pada pola kemitraan yang berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
No Jenis Kemitraan
2. Kemitraan perusahaan 1500 480.220.000 108.085.750 337.134.250
Hal ini sejalan dengan pendaapat Gusasi dan Saade (2006) bahwa
perbedaan pendapatan pada setiap tingkatan skala usaha sangat nyata sehingga
manfat dan keuntungan dapat diperoleh pada skala usaha yang lebih besar.
Dari data tersebut rata-rata pendapatan per ekor dari dua pola kemitraan
berbeda ini adalah sebagai berikut :
Tabel 20. Total pendapatan peternak pada pola kemitraan yang berbeda di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan Selayar
No Jenis Kemitraan Skala Usaha
(ekor) Total Pendapatan
Sumber : Data Primer yang telah Diolah, 2014
Dari Tabel 20 diatas menunjukkan pendapatan yang tinggi adalah peternak
yang bermitra dengan perusahaan skala usaha 1.500 dengan pendapatan
Rp.337.134.250/ekor, sedangkan yang bermitra dengan perusahaan perseorangan
54
memperoleh pendapatan Rp. 337.134.250/ekor. Jadi kemitraan perseorangan atau
(bakul) dengan skala 500 dan 1000 ekor memiliki selisih pendapatan sebanyak
Rp. 112.284.174 sedangkan skala 1000 dan 1500 ekor memiliki selisih sebanyak
Rp.50.126.093/ekor.
55
Dari hasil dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
sedangkan peternak yang bermitra dengan perusahaan tidak
memberikan uang jaminan namun terdapat kesepakatan kontrak yang
bersifat tertulis.
kemitraan perseorangan (bakul).
mempertimbangkan tawaran kemitraan oleh perusahaan yang berdasarkan
pola dan pendapatannya lebih menguntungkan.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik, 2012. Profil Pangan dan Pertanian. diakses 25 Januari 2013.
Cahyono, B. 1995. Beternak Ayam Buras. CV Aneka. Yogyakarta2004. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging (Broiler). Pustaka Nusatama. Yogyakarta
Gusasi. A dan Saade. M.A 2006. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Ternak Ayam Potong pada Skala Usaha Kecil. Jurnal Agrisistem, Juni 2006 Vol 2 No.1
Himawati, D. 2006. Analisa Resiko Finansial Usaha Peternakan Ayam Pedaging Kabupaten Malang. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.
Hardjosworo, P. S. dan Rukmiasih, M. S. 2000. Meningkatkan Produksi Daging. Penebar Swadaya. Yogyakarta.
Maulana, M.L. 2008. Analisis Pendapatan Peternak Ayam Ras Pdaging Pola Kemitraan Inti Plasma. Skripsi Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Mutidjo,B.A. 1994. Usaha Peternakan Ayam Broiler. Penerbit Kanisius,yogyakartaa
Rasyaf, M. 2004. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta. 2002. Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 2001. Pengolahan Produksi Ayam Pedaging. Kanisius, Yogyakarta
Salam, T dkk. 2006. Analisis Finansial Usaha Peternakan Ayam Broiler Pola Kemitraan, Jurnal Agrisistem, Juni 2006 Vol 2 No.1
Saragih B. 2000. Agrbisnis Berbasis Peternakan. Pustaka Wirausaha Muda,Bogor.
Suharno, B. 2003. Kiat Sukses Berbisnis Ayam. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta
Soekartawi, 2006. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. 2002. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian Edisi Revisi. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sumardjo, J. Sukalaksana dan W. A. Darmono. 2004. Teori dan Praktik Kemitraan Agribisnis. Penerbit Swadaya, Jakarta
Swastha dan Sukotjo. 1997. Pengantar Bisnis Modern. Penerbit Liberty, Yogyakarta.
Tohar, M. 2002. Membuka Usaha Kecil. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Yunus, M dkk. 2007. Analisis Usaha Peternakan Ayam Broiler (Studi Kasus Pada Usaha Peternakan Ayam Broiler di Kelurahan Borongloe, Kecamatan Bontomaranno, Kabupaten Gowa ) Jurnal Agrisistem,juli 2007,Vol 3 No.1
Lampiran 1 : Keadaan Umum Respoden
Nama Jenis Kelamin
Populasi (ekor) Jenis Mitra
Saiyed Murtalak L 41 S1 Peternak Parak 10 1.500 Kemitraan Perusahaan
Zinal L 36 SMA Peternak Parak 6 500 Kemitraan perseorangan bakul 1
H. Syaripuddin L 39 SMA Peternak Barugaia 6 1.000 Kemitraan perseorangan bakul 2
Lampiran 2 : Penyusutan Kandang Tabel penyusutan kandang untuk yang bermitra dengan kemitraan perseorangan (bakul)
No Skala Usaha Biaya Pembuatan Kandang (Rp)
Lama Pemakaian
(periode/Rp)
1 500 7.850.000 8 64 122.656
2 1000 24.750.000 8 64 386.718 Tabel penyusutan kandang untuk yang bermitra dengan perusahaan
No Skala Usaha Biaya Pembuatan Kandang (Rp)
Lama Pemakaian
Lampiran 3 : Penyusutan Peralatan
No Skala usaha
(Rp)/unit Harga
Penyusutan(Rp)/Periode
1 500 Tempat Minum 10 21.000 210.000 8 2.500 25.000 23.125
Tempat Pakan 15 23.000 345.000 8 2.500 37.500 38.438
2 1000 Tempat Minum 20 21.000 420.000 8 2.500 50.000 46.250
Tempat Pakan 30 23.000 690.000 8 2.500 75.000 76.875
Tabel Penyusutan Untuk yang Bermitra dengan Perusahaan
No Skala usaha
(Rp)/unit Harga
Penyusutan(Rp)/Periode
1 1500 Tempat Minum 16 21.000 336.000 8 2.500 40.000 37.000
Tempat Makan 40 23.000 920.000 8 2.500 100.000 102.000
Lampiran 4 : Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
No Jenis Kemitraan Luas Kandang (meter) Skala Usaha Pajak (Rp)
1 Kemitraan Perseorangan Bakul
Bakul 1 50 500 9.800 Bakul 2 120 1000 15.000
2 Kemitraan Perusahaan 192 1500 75.000
LAMPIRAN 5 : Biaya Bibit DOC
Tabel biaya bibit DOC yang bermitra dengan perusahaan perseorangan (bakul)
No Skala Usaha Harga (Rp)/ekor
Harga Total (Rp)
No Skala Usaha Harga (Rp)/ekor
Harga Total (Rp)
No Skala Usaha Merek Jumlah Pakan(Karung)
Harga (Rp)/Karung
Harga Total (Rp)
1 500 BP 11 8 340.000 21.760.000 2 1000 BP11 16 340.000 43.520.000
Tabel biaya pakan yang bermitra dengan perusahaan
No Skala Usaha Merek Jumlah Pakan(Karung)
Harga (Rp)/Karung
Harga Total (Rp)
1 1500 s10 16 330.000 42.240.000 s11 10 330.000 26.400.000 s12 11 330.000 29.040.000
97.680.000
Tabel Biaya vaksin dan obat-obatan yang bermitra dengan perusahaan perseorangan (bakul)
No Skala Usaha Merek Jumlah (Unit)
Jumlah (Periode)
Harga (Rp)/Unit
Harga Total (Rp)
1 500 Vitachick 3 8 17.000 408.000 Vitastress 3 8 17.000 408.000
ND Lasota 1 8 24.000 192.000 1.008.000
2 1000 Vitachick 6 8 17.000 816.000 Vitastress 6 8 17.000 816.000
ND Lasota 2 8 24.000 384.000
2.016.000
No Skala Usaha Merek Jumlah (unit) Jumlah
(periode) Harga (Rp)/unit Harga Total (Rp)
1 1500 Anasol 2 8 12.400 198.400
Collie Am 1 8 42.000 336.000
Orange 1 8 100.000 800.000
Virukil 1 8 120.000 960.000
ND Lassota 1 8 24.000 192.000
Susu Skim 1 8 34.000 272.000
2.758.400
NO Jenis Kemitraan Skala Usaha Biaya Listrik (Rp/Bulan)
1 Kemitraan perseorangan
2 Kemitraan perusahaan 1500 30.000
Lampiran 9 : Biaya Tenaga Kerja (Biaya Variabel)
No Jenis Kemitraan Skala Usaha Jumlah Tenaga Kerja Upah/hari Biaya Tenaga Kerja
1 Kemitraan perseorangan
Bakul 1 500 2 12.000 480.000 Bakul 2 1000 2 12.000 480.000
2 Kemitraan perusahaan 1500 2 14.000 560.000
Lampiran 10 : Total Biaya
Total Biaya Tetap (Rp/Periode)
Total Biaya Variabel (Rp/Periode)
Total Biaya (Rp/Periode)
1 Kemitraan Perseorangan
Bakul 1 500 194.017 25.002.000 25.196.017 Bakul 2 1000 514.843 51.037.000 51.551.843
2 Kemitraan Perusahaan 1500 682.750 107.403.000 108.085.750
Lampiran 11 : Penerimaan
Lampiran 12 : Pendapatan
500 199.920.000 25.196.017 174.723.983 1000 338.560.000 51.551.843 287.008.157 1500 485.220.000 108.085.750 337.134.250
No Jenis Kemitraan
Skala Usaha (ekor)
Penjualan Ayam (Kg)
1 Kemitraan Perseorangan
500 829 30.000 198.960.000 10 10000 800.000 8 2500 160.000 199.920.000 1000 1527 30.000 336.480.000 22 10000 1.760.000 16 2500 320.000 338.560.000
2 Kemitraan perusahaan 1500 2410 25.000 482.000.000 31 10000 2.480.000 37 2500 740.000 485.220.000
PETA LOKASI PENELITIAN
LAMPIRAN DOKUMENTASI PENELITIAN
Gambar 1 Kandang ayam broiler
Gambar 2 Jenis ayam broiler yang dipelihara
RIWAYAT HIDUP
Kepulauan Selayar pada tanggal 23 April 1993, Penulis
merupakan putri tunggal dari ayah Muhammad Dahlan dan
Ibu Nur Wisama, S.Pd. Tahun 2005 tamat pada Sekolah
Dasar Negeri 63 Dodak Jampea, tahun 2008 tamat pada
Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Benteng Selayar. Pada tahun 2011 tamat
pada Sekolah Madrasah Aliya (MAN) Negeri Benteng Selayar. Tahun 2011
melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar Jurusan
Agribisnis.
1SAMPUL.pdf