of 63/63
1 ANALISIS PENGARUH INDEKS HARGA SAHAM SEKTOR KEUANGAN, TINGKAT INFLASI DAN SUKU BUNGA BANK INDONESIA TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2000-2009 DENGAN MENGGUNAKAN MODEL ARCH-GARCH Alfina Reisya PROGRAM STUDI MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011/1432 H

ANALISIS PENGARUH INDEKS HARGA SAHAM SEKTOR … · ALFINA REISYA, Analisis Pengaruh Indeks Harga Saham Sekor Keuangan, Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Indeks

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of ANALISIS PENGARUH INDEKS HARGA SAHAM SEKTOR … · ALFINA REISYA, Analisis Pengaruh Indeks Harga...

  • 1

    ANALISIS PENGARUH INDEKS HARGA SAHAM SEKTOR

    KEUANGAN, TINGKAT INFLASI DAN SUKU BUNGA

    BANK INDONESIA TERHADAP INDEKS HARGA

    SAHAM GABUNGAN DI BURSA EFEK INDONESIA

    TAHUN 2000-2009 DENGAN MENGGUNAKAN

    MODEL ARCH-GARCH

    Alfina Reisya

    PROGRAM STUDI MATEMATIKA

    FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

    SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    2011/1432 H

  • 2

    PENGESAHAN UJIAN

    Skripsi berjudul “Analisis Pengaruh Indeks Harga Saham Sektor Keuangan, Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia Tahun 2000-2009 Dengan Menggunakan Model ARCH-GARCH” yang ditulis oleh Alfina Reisya, NIM 107094002394 telah di uji dan dinyatakan lulus dalam sidang Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 8 Juni 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) Program Matematika.

    Menyetujui,

    Penguji 1, Penguji 2,

    Taufik Edy Sutanto, M.Sc.Tech Suma’inna, M.si NIP. 19790530 200604 1002 NIP. 158 408 699

    Pembimbing 1, Pembimbing 2,

    Hermawan Setiawan, M. TI Gustina Elfiyanti, M.si NIP. 19740623 199312 2001 NIP. 19820820 200901 2 006

    Mengetahui :

    Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Ketua Program Studi Matematika,

    DR. Syopiansyah Jaya Putra, M. Sis Yanne Irene, M. Si NIP. 1968117 200112 1 001 NIP. 19741231 200501 2 018

  • 3

    PERNYATAAN

    DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-

    BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN

    SEBAGAI SKRIPSI PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA

    MANAPUN.

    Jakarta, Mei 2011

    Alfina Reisya 107094002394

  • 4

    PERSEMBAHAN

    Kupersembahkan skripsi ini teruntuk

    kedua orang tuaku, Mom and Dad, kedua kakakku

    Kak Ria, Kak Youfi juga Reifin adikku tersayang yang

    tiada henti memberikan semangat sehingga

    penulis dapat menyelesaikan skripsi ini

    MOTTO

    “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan“ (Q.S Al-Insyirah:6)

    Always be yourself

    Tiada Kesuksesan Tanpa Cucuran Keringat dan Air Mata

    We Always Have A Choice

  • 5

    ALFINA REISYA, Analisis Pengaruh Indeks Harga Saham Sekor Keuangan, Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia Tahun 2000-2009 Dengan Menggunakan Model ARCH-GARCH. Di bawah bimbingan Hermawan Setiawan, M.TI dan Gustina Elfiyanti, M.Si.

    Data deret waktu seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempunyai sifat heteroskedastisitas pada ragam sisaannya. Kondisi pergerakan harga saham yang tidak konstan ini diduga dipengaruhi dari pergerakan indeks Harga Saham Sektoral dan keadaan variabel makro ekonomi. Penelitian ini bertujuan melihat apakah terdapat gejala volatilitas pada IHSG dan menganalisis pengaruh pergerakan Indeks Saham sektor Keuangan dan variabel makro ekonomi, yaitu Laju Inflasi dan Tingkat Suku Bunga (SBI) yang diduga berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode seleksi model regresi OLS dan model ARCH/GARCH. Pemilihan model terbaik berdasarkan pertimbangan kriteria kelayakan model, signifikansi, nilai R2, AIC & SIC. Variabel yang digunakan adalah Indeks Harga Saham Sektor Keuangan, Laju Inflasi dan Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia (variabel independen) serta IHSG (variabel dependen) periode Januari 2000 sampai dengan Desember 2009.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa model regresi OLS tidak tepat digunakan karena tidak terpenuhinya salah satu asumsi model, yaitu terdapat gejala heteroskedastisitas (volatilitas). Selanjutnya, untuk menanggulangi masalah heteroskedastisitas, model yang digunakan adalah ARCH-GARCH. Dari hasil pengujian, model terbaik yang digunakan untuk melihat adanya volatilitas pada pergerakan IHSG dan menjelaskan pengaruh IHSSK, Inflasi dan SBI terhadap IHSG adalah ARCH 1. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa kemampuan model dalam menjelaskan variabel dependen sebesar 98% dan seluruh variabel independen yang diajukan memiliki pengaruh yang signifikan baik secara bersama-sama maupun secara pasial.

    Kata kunci: Deret Waktu, Heteroskedastisitas, Indeks Harga Saham Gabungan,

    model ARCH/GARCH

  • 6

    ALFINA REISYA, The Influence Analysis of Composite Index of Finance Sector, Inflation Rate and SBI interest Towards Composite Index at Indonesia Stock Exchange in 2000-2009 by Using ARCH-GARCH Model under direction of Hermawan Setiawan, M.TI and Gustina Elfiyanti, M.Si.

    Time series on composite index (IHSG) has insconstant variant

    (heteroscedasticity). The movement of heteroscedasticity is possibly affected of sectoral movement index and variable macro economy condition. This survey is intended to see if any volatility on composite index and to analyze the effect of composite index of finance sector and variable macro economy, that is inflation rate and SBI interest rate that will affect towards composite index at Indonesia Stock Exchange (IDX). This survey using OLS regression and ARCH-GARCH. Model selection is based on goodness of fit criterion, significance, R2 and AIC & SIC. Variable used is Finance Sector Stock Index, Inflation Rate, BI Rate as independent variable and Composite Index as dependent variable from January 2000 up to December 2009.

    Result of survey shows an OLS regression model can not appropriate be used caused by not fulfilling of model assumption’s that shows volatility. To overcome heteroscedasticity, ARCH-GARCH is applied. Result of test shows the best model used is to see if there is any volatility on composite index rate and to explain the effect of IHSSK, Inflation and SBI towards Composite Index, is ARCH 1. From this survey is found the model capacity to explain dependent variable is 98% and all independent variables which has significant effect either as a whole or partial. Keywords: Composite Index, Heteroscedasticity, model ARCH/GARCH, Time

    Series

  • 7

    KATA PENGANTAR

    Segala puji bagi Allah SWT, Yang Maha Mulia, yang senantiasa

    melimpahkan rahmat kepada hamba-Nya. Berkat anugerah dan ridho-Nya, penulis

    dapat menyelesaikan skripsi “Analisis Pengaruh Indeks Harga Saham Sektor

    Keuangan, Tingkat Inflasi dan Suku Bunga Bank Indonesia terhadap Indeks

    Harga Saham Gabungan Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2000-2009”.

    Shalawat serta salam teruntuk Baginda Nabi Muhammad SAW, panutan paling

    hak

    Skripsi ini dimaksudnkan untuk memenuhi salah satu syarat menempuh

    ujian Sarjana Sains pada Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan

    Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Pada penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bimbingan dan

    bantuan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan

    terima kasih kepada:

    1. Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi

    Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

    2. Yanne Irene, M.Si. ketua Program Studi Matematika dan Suma’inna, M.Si,

    Sekretaris Program Studi Matematika.

    3. Hermawan Setiawan, M.Ti, selaku Pembimbing 1 yang selalu memberikan

    bimbingan, informasi dan motivasi terbaik.

    4. Gustina Elfiyanti, M.Si, selaku Pembimbing II yang telah memberikan

    bimbingan, informasi dan motivasi dalam penulisan skripsi ini.

  • 8

    5. Seluruh Dosen Program Studi, terimakasih atas pengajaran dan ilmu

    bermanfaat yang telah diberikan kepada penulis.

    6. Kedua orang tua, Mom and Dad, yang selalu mendampingi dan memberikan

    dukungan moral dan materil, ka Ria, Ka Youfi dan efin serta seluruh keluarga

    besar Beny Bakar dan Susilawaty.

    7. Desi, Zia, Epi, Dian, Iie, sahabat-sahabat tersayang yang selalu mendukung.

    8. Jefry yang telah meluangkan banyak waktunya dalam proses pembuatan

    skripsi ini serta memberikan dukungan moril dan kesabaran.

    9. Sobat-sobat Ade, Mega, Widy, Dendi, Ube, dan teman-teman 2007. Terima

    kasih persahabatan, kasih sayang, dan dukungan kalian. U’re Rock!

    10. Kak Bambang, Kak Denis, Kak Titi, Kak Farah, Kak Niken, Selly, Mecca dan

    seluruh Keluarga besar Matematika Fakultas Sains dan Teknologi.

    Pada akhirnya penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca

    pada umumnya. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan

    skripsi ini, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif.

    Jakarta, Juni 2011

    Penulis

  • 9

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ……………………………………………………... .. i

    PENGESAHAN UJIAN ......................................................................... ...... ii

    PERNYATAAN ............................................................................................ iii

    PERSEMBAHAN DAN MOTTO

    ABSTRAK ............................................................................................ ........ v

    ABSTRACT ............................................................................................. .... . vi

    KATA PENGANTAR ........................................................................... ....... vii

    DAFTAR ISI ............................................................................................. .. . ix

    DAFTAR TABEL ...................................................................................... .. xii

    DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................... ........... xiii

    DAFTAR GAMBAR ..................................................................... ............... xiv

    BAB I PENDAHULUAN .................................................................... ...... 1

    1.1 Latar Belakang ................................................................. ........ 1

    1.2 Permasalahan ................................................................... ........ 3

    1.3 Pembatasan Masalah ......................................................... ........ 4

    1.4 Tujuan Penelitian ............................................................. ........ 4

    1.5 Manfaat Penelitian ........................................................... ........ 4

    BAB II LANDASAN TEORI ............................................................... 5

    2.1 Pasar Modal .................................................................... ........ 5

    2.2 Jenis-jenis Indeks di Pasar Modal .............................................. 5

    2.3 Volatilitas .......................................................... ..................... 7

    2.4 Hipotesis Penelitian ............................................................ ..... 8

  • 10

    2.5 Analisis Regresi Linier Berganda ........................................... . 8

    2.6 Model ARCH/GARCH ........................................................... 14

    2.7 Uji ARCH-Effect ................................................................ .... 17

    2.8 Pemilihan Model ARCH/GARCH terbaik ............................ . 17

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..................................................... 21

    3.1 Sumber Data ................................................ .......................... 21

    3.2 Identifikasi Model Regresi ………………….......................... 22

    3.3 Langkah-langkah Model ARCH/GARCH .............................. 23

    3.4 Alur Penelitian ................................................................... .... 26

    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 27

    4.1 Deskriptif Data ......... .............................................................. 27

    4.2 Identifikasi Model Regresi ........................................... ......... 28

    4.3 Identifikasi Model ARCH-GARCH ......................................... 33

    4.3.1 Pengujian Keheterogenan Ragam Bersyarat ................... 33

    4.3.2 Pendugaan Parameter Model ARCH-GARCH ................ 33

    4.3.3 Pemilihan Model Terbaik ................... ........................... 34

    4.3.4 Diagnostik Model ................... ....................................... 35

    4.3.5 Simulasi Peramalan ................... ..................................... 37

    4.3.6 Interpretasi Model ARCH-GARCH ................... ............ 39

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 41

    5.1 Kesimpulan ............................................................................. 41

    5.2 Saran ....................................................................................... 42

  • 11

    DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 43

    LAMPIRAN ............................................................................................. 45

  • 12

    DAFTAR TABEL

    Tabel 4.1 Statitika Deskriptif data bulanan IHSG ..................................... ..... 28

    Tabel 4.2 Hasil Estimasi Model Regresi ......................................................... 28

    Tabel 4.3 Uji Normalitas ………............................................................ ........ 29

    Tabel 4.4 Uji Multikolinearitas ………........................................................... 30

    Tabel 4.5 Breusch-Godfrey Serial Correlation LM test .................................. 30

    Tabel 4.6 White Heteroscedasticity Test ........................................................... 31

    Tabel 4.7 Nilai MAPE model Regresi .............................................................. 32

    Tabel 4.8 Hasil Uji ARCH LM ....................................................................... 33

    Tabel 4.9 Ringkasan Hasil Pendugaan Parameter ARCH-GARCH ................ 34

    Tabel 4.10 Nilai AIC dan BIC ......................................................................... 34

    Tabel 4.11 Hasil Pemeriksaaan model dengan pengujian autokorelasi

    sisaan dan kuadrat sisaan data bulanan IHSG selama

    periode pengamatan ....................................................................... 36

    Tabel 4.12 Nilai MAPE Model ARCH-GARCH............................................. 38

    Tabel 4.13 Hasil Model ARCH 1 .................................................................... 39

    Tabel 4.14 Uji F dan Uji t statistik .................................................................... 40

  • 13

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 : OLS ..................................................................................... 41

    Lampiran 2 : Model ARCH/GARCH ........................................................ 46

    Lampiran 3 : Residual ARCH 1 ................................................................. 48

  • 14

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 4.1 Perubahan IHSG ..................................................................... 27

    Gambar 4.2 Sebaran Sisaan data bulanan IHSG ......................................... 35

    Gambar 4.3 Plot IHSG peramalan Model ARCH-GARCH ........................ 37

  • 15

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkenalkan pertama kali pada

    tanggal 1 April 1983, sebagai indikator pergerakan harga saham di pasar modal,

    Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks ini mencakup pergerakan indeks komposit

    seluruh saham yang terdaftar di BEI. Pergerakan nilai indeks harga saham

    gabungan akan menunjukkan perubahan situasi pasar yang terjadi. IHSG dipakai

    sebagai indikator untuk mengevaluasi kondisi perekonomian suatu negara [4].

    Oleh karena itu, IHSG merupakan peubah penting dalam bidang keuangan yang

    pergerakan nilainya perlu diperhatikan dari waktu ke waktu. Pergerakan yang

    fluktuatif yang terjadi pada indeks ini terkait dengan perubahan yang terjadi pada

    indeks-indeks saham lainnya dan berbagai variabel makro ekonomi.

    Inflasi sebagai salah satu peubah makro ekonomi berpengaruh terhadap

    harga saham melalui dua cara yaitu secara langsung maupun secara tidak

    langsung. Secara langsung, inflasi mengakibatkan turunnya keuntungan

    perusahaan sedangkan secara tidak langsung inflasi berpengaruh melalui

    perubahan tingkat suku bunga. Peningkatan suku bunga dapat diikuti oleh

    peningkatan harga saham. Hal ini terjadi karena adanya harapan perusahaan untuk

    menghasilkan laba meningkat, sehingga akan dapat membayar dividen yang lebih

    besar. Selain itu, peningkatan harga saham juga dapat disebabkan oleh adanya

    pasar yang mengharapkan terjadinya penurunan suku bunga sehingga indeks naik

    [6].

  • 16

    Indeks Harga Saham Sektor keuangan (IHSSK) merupakan indeks sektor

    saham di BEI yang menarik untuk dicermati. Sektor ini merupakan sektor

    ekonomi yang terkait dengan hajat hidup orang banyak. Hal ini sesuai dengan

    penelitian Kristanto pada tahun 2007. Dari hasil penelitiannya, indeks harga

    saham sektor keuangan merupakan indeks saham terbaik dibandingkan dengan

    indeks saham sefktor lainnya [7]. Indeks Harga Saham Sektor Keuangan di tahun

    2004 mengalami kinerja yang cukup baik. IHSSK mengungguli IHSG selama

    delapan bulan. Pada tahun 2004 sektor keuangan mencatat pertumbuhan sebesar

    7,7%. Pertumbuhan terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan subsektor bank dan

    lembaga keuangan non bank serta subsektor sewa bangunan.

    Data perekonomian dan keuangan seperti data IHSG sangat tinggi

    volatilitasnya. Tingginya volatilitas ditunjukkan dari fase yang fluktuasinya relatif

    tinggi dan kemudian diikuti fluktuasi yang rendah dan kembali tinggi. Kondisi ini

    dikarenakan memiliki keragaman yang tidak konstan di setiap waktunya atau

    mengandung unsure heteroskedastisitas. Keadaan heteroskedastisitas jika

    menggunakan metode kuadrat terkecil (Ordinary Least Square) kurang tepat

    karena karena terdapat asumsi model yang tidak terpenuhi. Teorema Gauss

    Markov, mengatakan bahwa model OLS akan menghasilkan estimator yang baik

    yang dikenal dengan sebutan BLUE (Best Linear Unbiased Estimate) bila suatu

    model regresi memenuhi kriteria tertentu di antaranya, ragam sisaan sama

    (homokedastisitas). Tetapi, jika ragam dari sisaan bersifat heteroskedastisitas

    (tidak sama), maka estimator yang diperoleh tidak bersifat BLUE lagi [9].

  • 17

    Salah satu model deret waktu yang dapat mengatasi masalah

    heteroskedastisitas adalah model Autoregressive Conditional Heteroscedastic

    (ARCH) yang diperkenalkan Engle pada tahun 1982. Kemudian pada tahun 1986,

    Bollerslev mengembangkan model ARCH ke dalam model Generalized

    Conditional Heteroscedastic (GARCH) untuk memodelkan ragam sisaan yang

    tergantung pada sisaan pada periode sebelumnya [1].

    Pada tahun 2000 sampai 2009, pergerakan IHSG selalu menunjukkan

    adanya peningkatan walaupun ada penurunan namun tidak drastis. Terlihat bahwa

    IHSG mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun selama 10 tahun terakhir. Oleh

    karena itu, peneliti ingin mencari apakah terdapat gejala volatilitas pada

    pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan melihat seberapa besar

    pengaruh pergerakan Indeks Harga Saham Sektor Keuangan (IHSSK), tingkat

    inflasi dan tingkat suku bunga Bank Indonesia (SBI) terhadap pergerakan IHSG

    periode Januari 2000 sampai dengan Desember 2009.

    1.2 Permasalahan

    Permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

    1. Bagaimana penerapan modefl ARCH-GARCH untuk memprediksi volatilitas

    indeks harga saham gabungan (IHSG).

    2. Seberapa besar Indeks Harga Saham sektor keuangan (IHSSK), tingkat inflasi

    dan tingkat suku bunga Bank Indonesia (SBI) mempengaruhi IHSG.

  • 18

    1.3 Pembatasan masalah

    Dari permasalahan yang telah disebutkan di atas, maka batasan-batasan

    dalam tugas akhir ini adalah melakukan prediksi tentang volatilitas berdasarkan

    indeks IHSG di pasar modal pada bulan januari 2000 sampai dengan desember

    2009 IDX statistic. Peubah makro ekonomi yang digunakan hanya tingkat Inflasi

    dan tingkat Suku Bunga Bank Indonesia (SBI).

    1.4 Tujuan Penelitian

    Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan tugas akhir ini adalah:

    1. Mengetahui apakah pada pergerakan IHSG terdapat gejala volatilitas.

    2. Menganalisa pengaruh Indeks saham sektor keuangan (IHSSK), tingkat inflasi

    dan tingkat suku bunga Bank Indonesia (SBI) terhadap pergerakan Indeks

    Harga Saham Gabungan (IHSG).

    1.5 Manfaat Penelitian

    Manfaat penelitian ini adalah:

    1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bagi pembaca pada

    umumnya dan bagi mahasiswa pada khususnya mengenai pasar modal.

    2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan sebagai

    referensi bagi peneliti selanjutnya di bidang pasar modal.

  • 19

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1 Pasar Modal

    Pasar modal merupakan tempat bagi perusahaan yang membutuhkan dan

    menawarkan surat berharga dengan cara mendaftar terlebih dahulu di pasar

    modal. Secara umum, pasar modal adalah suatu sistem keuangan yang

    terorganisasi, termasuk di dalamnya adalah bank-bank komersial dan semua

    lembaga perantara di bidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga

    yang beredar [6].

    Pasar modal menjadi instrumen perekonomian yang sangat penting bagi

    suatu Negara [6]. Pasar modal memiliki dua daya tarik bagi perekonomian suatu

    negara. Pertama, diharapkan pasar modal ini akan bisa menjadi alternatif

    penghimpunan dana selain perbankan. Kedua, pasar modal memungkinkan para

    pemodal mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai dengan pilihan resiko

    mereka.

    2.2 Jenis-Jenis Indeks di Pasar Modal

    Di Pasar modal Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) terdapat 6 jenis

    indeks, antara lain:

    1. Indeks Individual, menggunakan indeks harga masing masing saham

    terhadap harga dasarnya, atau indeks masing-masing saham yang

    tercatat di BEI.

  • 20

    2. Indeks Harga Saham Sektoral, menggunakan semua saham termasuk

    dalam masing-masing sektor, misalnya sektor keuangan,

    pertambangan, dan lain-lain. Di BEI indeks sektoral terbagi atas

    Sembilan sektor yaitu: pertanian, pertambangan, industri dasar, aneka

    industro, konsumsi, properti, infrastruktur, keuangan, perdagangan dan

    jasa, dan manufaktur.

    3. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG, menggunakan semua

    saham yang tercatat sebagai komponen perhitungan indeks.

    4. Indeks LQ 45, yaitu indeks yang terdiri dari 45 saham pilihan dengan

    mengacu kepada 2 peubah yaitu likuiditas perdagangan dan

    kapitalisasi pasar. Setiap 6 bulan terdapat saham-saham baru yang

    masuk kedalam LQ 45.

    5. Indeks Syariah atau JII (Jakarta Islamic Index), JII merupakan indeks

    yang terdiri dari 30 saham mengakomodasi syarat investasi dalam

    islam atau indeks yang berdasarkan syariah islam.

    6. Indeks Papan Utama dan Papan Pengembangan. Indeks harga saham

    yang secara khusus didasarkan pada kelompok saham yang tercatat di

    BEI yaitu kelompok papan utama dan papan pengembangan.

    Metodologi perhitungan indeks-indeks BEI adalah indeks yang

    menggunakan rata-rata tertimbang dari nilai pasar. Rumus dasar perhitungannya

    adalah:

    Indeks :

    100 2.1

  • 21

    Nilai pasar adalah kumulatif jumlah saham hari ini dikali dengan harga pasar hari

    ini, atau ditulis dengan formula:

    Nilai Pasar = ∑ 2.2

    dimana,

    c = closing price (harga yang terjadi) utnuk emiten ke-h

    d = jumlah saham yang digunakan untuk perhitungan indeks

    D = jumlah emiten yang tercatat di BEJ

    Nilai dasar adalah kumulatif jumlah saham pada hari dasar dikali harga dasar pada

    hari dasar.

    2.3 Volatilitas

    Volatilitas adalah suatu kondisi di mana rata-rata dan ragam tidak konstan

    [10]. Data deret waktu terutama data di sektor keuangan sangat tinggi

    volatilitasnya. Volatilitas yang tinggi ditunjukkan dari suatu fase yang

    fluktuasinya relatif tinggi kemudian diikuti fluktuasi yang rendah dan kembali

    tinggi.

    Untuk kasus data ekonomi dan keuangan, ragam sisaan yang konstan

    (homoskedastisitas) sering tidak terpenuhi. Volatilitas tidak selalu konstan dari

    waktu ke waktu, inilah yang disebut heteroskedastisitas.

  • 22

    2.4 Hipotesis Penelitian

    Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

    1. Diduga bahwa Indeks Saham Sektor Keuangan IHSSK (X1) secara parsial

    mempunyai pengaruh signifikan terhadap IHSG (Y) di Bursa Efek Indonesia

    tahun 2000-2009.

    2. Diduga bahwa Inflasi (X2) secara parsial mempunyai pengaruh signifikan

    terhadap IHSG (Y) di Bursa Efek Indonesia tahun 2000-2009.

    3. Diduga bahwa tingkat suku bunga SBI (X3) secara parsial mempunyai

    pengaruh signifikan terhadap IHSG (Y) di Bursa Efek Indonesia tahun 2000-

    2009.

    4. Diduga bahwa peubah-peubah bebas IHSSK (X1), Inflasi (X2) dan SBI (X3)

    secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap IHSG (Y) di

    Bursa Efek Indonesia tahun 2000-2009.

    2.5 Analisis Regresi Linier Berganda

    Analisis regresi digunakan untuk mengetahui hubungan antara suatu

    peubah tak bebas dengan peubah bebas [11]. Model regresi yang terdiri dari lebih

    satu peubah bebas disebut model regresi berganda [10]. Bentuk umum regresi

    berganda sebagai berikut:

    Yi= 0 + 1X1i + jXji +…+ mXmi + i, i = 1, 2, …,n 2 .3

    dengan:

    Yi : peubah tak bebas ke-i

    Xi : peubah bebas ke-i

    0 : konstanta

  • 23

    1 : koefisien regresi peubah X1i

    2 : koefisien regresi peubah X2i

    j : koefisien regresi peubah Xmi, j = 1,2,…,m

    i : sisaan model ke-i

    : banyaknya data

    : banyaknya parameter

    Teknik estimasi peubah tak bebas yang melandasi analisis regresi disebut

    Ordinary Least Square (OLS). OLS memiliki beberapa sifat statistik yang

    menjadikan satu metode analisis regresi yang paling kuat dan populer [3]. Teknik

    ini memiliki asumsi-asumsi dalam penggunaannya antara lain: asumsi

    kenormalan, non-autokorelasi, non-multikolinearitas dan homoskedastisitas.

    Parameter yang diestimasi antara lain bersifat:

    - Parameter tidak bias, artinya nilai penaksiran parameter mendekati parameter

    yang sebenarnya.

    - Parameter mempunyai ragam yang minimum, artinya parameter taksiran

    dengan ragam terkecil diantara semua parameter taksiran yang sama.

    - Parameter bersifat konsisten, artinya semakin besar jumlah sampel yang

    diambil, parameter taksiran mendekati parameter yang sebenarnya.

    a. Normalitas

    Uji normalitas menggunakan uji Jarque-Bera (JB). Aturan keputusannya

    adalah H0 ditolak pada tingkat signifikansi 0.05 jika nilai probability JB >

    0.05. penolakan H0 berarti sisaan data tidak berdistribusi normal.

  • 24

    b. Multikolinearitas

    Multikolinearitas adalah terdapat hubungan antara peubah bebas dalam

    satu regresi. Multikolinearitas dalam model dapat dilihat dari hubungan secara

    individual antara satu peubah bebas dengan satu peubah bebas yang lain.

    Mengetahui apakah peubah bebas X yang satu berhubungan dengan peubah

    bebas X yang lain adalah dengan melakukan regresi setiap peubah bebas X

    dengan sisa peubah bebas X yang lain. Regresi ini disebut regresi auxiliary.

    Setiap koefisien determinasi (R2) dari regresi auxiliary digunakan menghitung

    distribusi F kemudian digunakan untuk mengevaluasi ada multikolinearitas

    atau tidak. Formula untuk menghitung nilai F hitung adalah sebagai berikut:

    F = … /( )( … )/( )

    2.4

    n menunjukkan jumlah observasi, k menunjukkan jumlah peubah bebas

    termasuk konstanta, dan … adalah koefisien determinasi setiap

    peubah X dengan sisa peubah bebas X yang lain. Sedangkan nilai F tabel

    didasarkan pada derajat kebebasan k-2 dan n-k+1.

    Aturan keputusannya adalah jika nilai F hitung lebih besar dari F tabel

    dengan tingkat signifikansi alpha dan derajat bebas tertentu maka disimpulkan

    model mengandung unsur multikolinearitas. Apabila terdapat

    multikolinearitas maka standard error m juga naik atau membesar. Dampak

    adanya multikolinearitas dalam model regresi jika menggunakan teknik

    estimasi OLS, antara lain [10]:

    1. Estimator masih bersifat BLUE namun mempunyai ragam dank ovarian

    yang besar sehingga sulit mendapatkan estimator yang tepat.

  • 25

    2. Interval estimasi akan cenderung lebih lebar dan nilai hitung statistik uji t

    kecil sehingga membuat peubah bebas secara statistik tidak signifikan

    mempengaruhi peubah bebas.

    3. Melalui uji statistik t, secara parsial peubah bebas tidak berpengaruh

    terhadap peubah tak bebas, namun nilai koefisien determinasi (R2) masih

    bisa relatif tinggi..

    c. Autokorelasi

    Autokorelasi adalah terdapat hubungan antara anggota pengamatan satu

    dengan pengamatan lain yang berlainan waktu. Uji autokorelasi dapat

    dilakukan dengan menggunakan uji Lagrange Multiplier (LM). Aturan

    keputusannya adalah H0 ditolak pada tingkat signifikansi 0.05 jika nilai

    Probability>0.05 maka terima H0, berarti tidak ada autokorelasi. Jika terdapat

    autokorelasi dalam regresi maka estimator yang didapat akan memiliki

    karakteristik sebagai berikut:

    1. Estimator metode OLS masih linier

    2. Estimator metode OLS masih tidak bias

    3. Estimator metode OLS tidak mempunyai ragam yang minimum lagi.

    Ragam tidak minimum maka menyebabkan perhitungan standar error

    metode OLS tidak lagi bisa dipercaya kebenarannya dan interval estimasi

    maupun uji hipotesis tidak lagi dapat dipercaya untuk evaluasi hasil regresi.

    d. Homoskedsatisitas

    Homoskedastisitas adalah ragam sisaan sama untuk setiap periode.

    Lambang homoskedastisitas adalah:

  • 26

    E(ei2) = 2 i = 1,2,…,n 2.5

    Dalam regresi dua peubah homoskedastisitas terihat pada Gambar 2.1.

    Gambar 2.1 Sisaan homoskedastisitas

    Ragam bersyarat dari Yi meningkat dengan meningkatnya X. Sehingga, ragam

    Yi tidak lagi sama, artinya terdapat heteroskedastisitas.

    E(ei2) = i2 i = 1,2,…,n 2.6

    Indeks bawah pada 2, yang menunjukkan bahwa ragam bersyarat dari ei

    tidak lagi konstan.

    Gambar 2.2 Sisaan heteroskedastisitas

  • 27

    Heteroskedastisitas merupakan ragam dari sisaan tidak konstan.

    Heteroskedastisitas dapat dideteksi dengan menggunakan white test. Uji ini

    digunakan karena tidak memerlukan asumsi adanya normalitas pada

    sisaannya. Uji white didasarkan pada jumlah sampel (n) dikalikan dengan R2

    yang akan mengikuti distribusi chi-squares dengan derajat kebebasan

    sebanyak peubah bebas tidak termasuk konstanta. Jika nilai (Obs*R2) lebih

    besar dari nilai 2 tabel dengan tingkat signifikansi alpha 0.05 maka H0

    ditolak, berarti terdapat heteroskedastisitas pada sisaan. Sebaliknya, jika chi

    squares hitung lebih kecil dari nilai 2 tabel menunjukkan tidak adanya

    heteroskedastisitas.

    Aturan keputusannya adalah H0 ditolak pada tingkat signifikansi 0.05 Jika

    nilai Probability

  • 28

    2.6 Model ARCH-GARCH

    Penelitian yang menggunakan data-data deret waktu khususnya bidang

    pasar keuangan, biasanya memiliki tingkat volatilitas yang tinggi di mana

    fluktuasinya relatif tinggi dan kemudian diikuti fluktuasi rendah, kemudian

    kembali tinggi dan seterusnya berubah-ubah [10].

    Kondisi volatilitas data mengindikasikan bahwa perilaku data deret waktu

    memiliki ragam sisaan yang tidak konstan dari waktu ke waktu atau mengandung

    gejala heteroskedastisitas karena terdapat ragam sisaan yang bergantung dengan

    ragam sisaan masa lalu. Akibatnya dengan memakai analisis deret waktu biasa

    yang mempunyai asumsi homoskedastisitas tidak dapat digunakan. Selanjutnya,

    ditambahkan model keragaman untuk mengatasi masalah volatilitas dalam

    penelitian.

    Model pendekatan untuk data yang mengandung volatilitas pertama kali

    dikembangkan oleh Engle dan Bollerslev adalah model ARCH-GARCH.

    Menurut Engle, ragam sisaan yang berubah-ubah ini terjadi karena ragam sisaan

    tidak hanya fungsi dari peubah bebas tetapi tergantung dari seberapa besar sisaan

    di masa lalu. Model ARCH yang dibentuk, sebagai berikut [1]:

    Yt= 0 + 1X1t + 2X2t + 3X3t + t 2.7

    dengan:

    Yt = peubah bebas ke-t

    X1t = pengamatan ke-t dari peubah bebas ke-1

    X2t = pengamatan ke-t dari peubah bebas ke-2

    X3t = pengamatan ke-t dari peubah bebas ke-3

  • 29

    t = sisaan model ke-t

    0 = konstanta

    1 = koefisien regresi peubah X1t

    2 = koefisien regresi peubah 31t

    3 = koefisien regresi peubah X3t

    Heteroskedastisitas dalam model ARCH terjadi karena adanya unsur

    volatilitas data deret waktu. Persamaan ragam sisaan dalam model ARCH (1)

    dapat ditulis sebagai berikut:

    t2 = 0 + 1 2.8

    dengan:

    t2 : ragam sisaan periode ke-t

    0 : konstanta ragam sisaan

    1 : koefisien sisaan periode lalu

    2t-1 : sisaan periode t-1

    Persamaan 2.4 menyatakan bahwa ragam dari hubungan sisaan yakni t2

    mempunyai dua komponen yaitu konstanta dan hubungan sisaan periode lalu

    yang diasumsikan sebagai kuadrat dari hubungan sisaan periode lalu. Secara

    umum, model ARCH (p) dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

    t2 = 0 + 1 + 2 + 3 + … . + p 2.9

    dengan:

    t2 : ragam sisaan periode ke-t

    0 : konstanta ragam sisaan

    1 : koefisien sisaan periode 1 dan p

  • 30

    ap : koefisien sisaan periode p

    : sisaan model periode t-1

    : sisaan model periode t-2

    : sisaan model periode t-p

    Cara estimasi model 2.9 adalah dengan metode maximum likelihood

    Estimation (MLE). Kemudian dalam perkembangannya, pada tahun 1986 model

    ARCH dari Engle disempurnakan oleh Bollerslev yang menyatakan bahwa ragam

    sisaan tidak hanya bergantung dari sisaan periode lalu tetapi juga ragam sisaan

    periode lalu. Model ini dikenal dengan GARCH. Kemudian ragam sisaan dari

    model GARCH (1,1) ditulis sebagai berikut:

    t2 = 0 + 1 + 1 2.10

    Secara umum model GARCH yakni GARCH (p,q) mempunyai bentuk

    persamaan sebagai berikut [10]:

    t2 = 0 + 1 +…. + p + 1 + …+ q 2.11

    dengan:

    p : orde ARCH

    q : orde GARCH

    t2 : ragam model GARCH (p,q)

    0 : konstanta ragam sisaan

    p : koefisien sisaan ke-p

    1 : koefisien ragam sisaan ke-1

    q : koefisien ragam sisaan ke-q

    : sisaan model periode t-p

  • 31

    t-q2 : ragam sisaan periode t-q

    Dalam model tersebut, huruf p menunjukkan orde ARCH, sedangkan

    huruf q menunjukkan orde GARCH.

    2.7 Uji ARCH-Effect

    Engle mengembangkan uji untuk mengetahui masalah heteroskedastisitas

    dalam data deret waktu adalah dengan menggunakan uji Lagrange Multiplier

    [10].

    LM = (∑ )

    ∑ 2.12

    dengan, n : banyaknya pengamatan

    : nilai rata-rata tiap pengamatan yang dikuadratkan

    : nilai peramalan tiap pengamatan

    Ide dasar dari uji ini adalah bahwa ragam sisaan ( 2t) bukan hanya

    merupakan fungsi dari peubah bebas tetapi bergantung dari sisaan kuadrat pada

    periode sebelumnya ( ). Apabila nilai probability lebih kecil dari derajat

    kepercayaan ( = 5%) maka terdapat ARCH effect dalam model. Apabila terdapat

    ARCH effect dalam model maka estimasi dapat dilakukan dengan menggunakan

    ARCH-GARCH.

    2.8 Pemilihan Model ARCH-GARCH terbaik

    a. Uji Kelayakan/Kesahihan Model

    Pemilihan kelayakan/kesahihan suatu model ARCH-GARCH dilakukan

    dengan uji Ljung Box sisaan yang mencakup uji correlogram Q-Statistic,

    correlogram squared residual, histogram-normality test dan ARCH LM test.

  • 32

    Model dikatakan layak apabila sisaan sudah tidak ada autokorelasi antar sisaan

    untuk semua lag k. Selain itu, uji ini dilakukan untuk melihat apakah dalam model

    masih ada ARCH effect.

    b. Penentuan Koefisien Determinasi (R2)

    Suatu model mempunyai kebaikan dan kelemahan jika diterapkan dalam

    masalah yang berbeda. Mengukur kebaikan suatu model (goodness of fit tests)

    dapat menggunakan koefisien determinasi (R2). Koefisien determinasi (R2)

    mengukur seberapa besar proporsi variasi peubah bebas dijelaskan oleh semua

    peubah bebas [10].

    Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan peubah bebas dalam menjelaskan

    ragam peubah tak bebas terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti peubah-

    peubah bebas memberikan keragaman semua informasi yang dibutuhkan untuk

    memprediksi ragam peubah tak bebas.

    c. Pengujian Hipotesis

    Pengujian hipotesis ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh IHSSK,

    Inflasi dan SBI terhadap IHSG di BEI periode 2000-2009. Pengujian hipotesis

    yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

    - Uji Statistik t

    Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari tiap-tiap peubah

    bebas (IHSSK, Inflasi, dan SBI) terhadap IHSG untuk periode tahun 2000-

    2009, dengan hipotesis:

    H0 : 1= 2= 3=0

    H1 : ∃ ∋ m ≠ 0, m =1,2,3

  • 33

    Aturan keputusannya adalah jika thitung> ttabel, penolakan H0 pada tingkat

    signifikansi 0.05 memiliki kesimpulan bahwa terdapat parameter di antara

    m yang secara individual berpengaruh posistif signifikan terhadap IHSG.

    - Uji Statistik F

    Pengujian ini dilakukan untuk menguji peubah bebas secara menyeluruh

    atau secara bersama-sama berpengaruh terhadap peubah tak bebas dengan

    hipotesis:

    H0 : 1= 2= 3=0

    H1 : ∃ ∋ m ≠ 0

    Aturan keputusannya adalah jika Fhitung.> Ftabel, penolakan H0 pada tingkat

    signifikansi 0.05 memiliki kesimpulan bahwa semua parameter merupakan

    penjelas yang signifikan terhadap IHSG.

    d. Uji Akaike Information Criterion (AIC) dan Bayesian Schwartz

    Information Criteria (BIC)

    Pengukuran yang sering digunakan mencari model yang terbaik yang

    dapat digunakan adalah Akaike Information Criteria (AIC) dan Bayesian

    Schwartz Information Criteria (BIC) [5]. Rumusan AIC dan BIC adalah sebagai

    berikut [5]:

    AIC = -2( +k)/n 2.13

    Nilai BIC dapat didefinisikan sebagai:

    BIC = −2ℓ + ( ) 2.14

    Nilai log likelihood untuk model yang mengandung seluruh variabel

    independent adalah ℓ .

  • 34

    dengan :

    k : banyaknya parameter termasuk konstanta

    n : banyaknya pengamatan

    : nilai log fungsi kemungkinan

    Semakin kecil nilai AIC dan BIC maka semakin baik modelnya [10].

  • 35

    BAB III

    METODOLOGI PENELTIAN

    3.1 Sumber Data

    Data penelitian diambil pada bulan Februari 2011. Jenis data yang

    digunakan adalah data sekunder. Data berasal dari Bursa Efek Indonesia dan Bank

    Indonesia. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

    a. Variabel dependen

    Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks Harga

    Saham Gabungan (IHSG). IHSG menggambarkan suatu rangkaian informasi

    historis mengenai pergerakan saham gabungan seluruh saham yang tercatat di

    bursa.

    b. Variabel independen

    Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain:

    1. Indeks Harga Saham Sektor Keuangan (X1).

    Indeks Harga Saham Sektor Keuangan (IHSSK) merupakan satu dari

    sembilan indeks sektoral yang telah diklasifikasikan Bursa Efek Indonesia

    dan diberi nama JASICA (Jakarta Stock Exchange Industrial

    Classification), yang terdiri dari saham-saham perbankan yang dievaluasi

    setahun sekali setiap bulan juni [6].

    2. Inflasi (X2)

    Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum

    dan terus menerus selama periode tertentu.

  • 36

    3. Suku Bunga Bank Indonesia (X3).

    Suku Bunga Bank Indonesia (SBI) adalah suku bunga kebijakan yang

    mencerminkan sikap atau kebijakan moneter yang ditetapkan Indonesia

    dan diumumkan kepada publik [12].

    3.2 Indentifikasi Model Regresi

    Sebelum menganalisis dengan berbagai model ARCH-GARCH, akan

    digunakan regresi dengan teknik OLS [11]: Langkah-langkah pengolahan data

    adalah sebagai berikut:

    a. Uji Normalitas

    Uji normalitas menggunakan uji Jarque-Bera (JB).Aturan keputusannya

    adalah H0 ditolak pada tingkat signifikansi 0.05 jika nilai probability JB >

    0.05. penolakan H0 berarti sisaan data tidak berdistribusi normal.

    b. Uji Multikolinearitas

    Multikolinearitas dalam model dapat dilihat dari hubungan secara

    individual antara satu variabel independen dengan satu variabel independen

    yang lain. Aturan keputusannya adalah jika nilai F hitung lebih besar dari F

    tabel dengan tingkat signifikansi alpha dan derajat bebas tertentu maka

    disimpulkan model mengandung unsur multikolinearitas.

    c. Uji autokorelasi

    Uji autokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji Lagrange

    Multiplier (LM). Aturan keputusannya adalah H0 ditolak pada tingkat

    signifikansi 0.05 jika nilai Probability>0.05 maka terima H0, berarti tidak ada

    autokorelasi.

  • 37

    d. Uji Heteroskedastisitas

    Heteroskedastisitas dapat dideteksi dengan menggunakan white test. Uji

    ini digunakan karena tidak memerlukan asumsi adanya normalitas pada

    variabel sisaannya. Uji white didasarkan pada jumlah sampel (n) dikalikan

    dengan R2 yang akan mengikuti distribusi chi-squares dengan derajat

    kebebasan sebanyak variabel independen tidak termasuk konstanta. Nilai

    hitung statistik chi squares ( 2) dengan formula sebagai berikut:

    Obs*R2≈

    Jika nilai (Obs*R2) lebih besar dari nilai 2 tabel dengan tingkat signifikansi

    alpha 0.05 maka H0 ditolak, berarti terdapat heteroskedastisitas pada sisaan.

    Sebaliknya, jika chi squares hitung lebih kecil dari nilai 2 tabel menunjukkan

    tidak adanya heteroskedastisitas.

    3.3 Langkah-langkah Model ARCH-GARCH

    ARCH 1

    ARCH effect ARCH 2

    ARCH/GARCH Model Terbaik GARCH 1.1

    GARCH 2.1

    GARCH 1.2

    GARCH 2.2

  • 38

    Penjelasan langkah-langkah model ARCH-GARCH adalah sebagai berikut:

    1. Pengujian Keheterogenan Ragam Bersyarat

    Pengujian untuk mengetahui keberadaan proses ARCH-GARCH dengan

    menggunakan uji Lagrange Multiplier.

    2. Pendugaan Parameter Model ARCH-GARCH

    Penentuan dugaan parameter model dilakukan dengan menggunakan metode

    kemungkinan maksimum (MLE).

    3. Simulasi Peramalan

    Kesalahan peramalan dapat dievaluasi menggunakan Mean absolute

    Percentage Error (MAPE).

    MAPE = ∑ | – |

    3.1

    dengan:

    : nilai aktual Y

    : nilai peramalan Y

    4. Diagnostik Model

    Pemeriksaan model dilakukan dengan memeriksa kebebasan pada sisaan

    (tidak autokorelasi) dilakukan dengan pengujian koefisien autokorelasi sisaan

    baku dengan Uji Ljung-Box, dengan formula [10]:

    LB = n (n+2) ∑ ( ) ~ 2r 3.2

    dengan,

    n : banyaknya pengamatan

    : autokorelasi pada saat lag ke-k

  • 39

    : banyaknya lag

    2 : fungsi persen titik dari distribusi chi-square.

    Kemudian, diperiksa juga apakah masih terdapat proses ARCH dengan Uji

    LM, apabila proses ARCH sudah tidak ada, maka model sudah baik.

  • 40

    3.4 Alur Penelitian

    yes

    no

    Gambar 3.1 Alur Penelitian

    Analisis Regresi

    Uji ARCH effect (Uji Lagrange Multiplier)

    ARCH/GARCH

    Heteroskedastisitas

    Mulai

    Selesai

    Pengumpulan Data

    Model Terbaik

    Uji Asumsi Klasik

  • 41

    BAB IV

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 Deskriptif Data

    Data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang digunakan pada

    penelitian ini periode Januari 2000 sampai Desember 2009, dengan 120

    pengamatan. Gambar 4.1 merupakan grafik antara IHSG dengan waktu.

    Gambar 4.1 Perubahan IHSG

    Pola deret waktu dari nilai penutupan bulanan Indeks Harga Saham

    Gabungan, dapat dilihat pada Gambar 4.1. Terlihat bahwa adanya siklus indeks

    yang berangsur naik yang puncaknya pada bulan Februari 2008. Pola siklus ini

    diikuti dengan siklus turun pada bulan Oktober 2009 kemudian kembali terjadi

    siklus naik pada bulan Desember 2009.

    IHSG bergerak secara fluktuatif pada kisaran level 350-650 sepanjang

    tahun 2000 sampai 2001. Pada awal sampai pertengahan tahun 2002, IHSG

    mengalami kenaikan. Pada akhir 2002, IHSG sempat mengalami penurunan

    sebelum mengalami kenaikan pada awal 2003. Selama tahun 2004 sampai 2008,

    0500

    10001500200025003000

    Jan-

    00Se

    p-00

    Mei

    -01

    Jan-

    02

    Sep-

    02M

    ei-0

    3Ja

    n-04

    Sep-

    04M

    ei-0

    5Ja

    n-06

    Sep-

    06M

    ei-0

    7Ja

    n-08

    Sep-

    08M

    ei-0

    9

    IHSG

  • 42

    IHSG cenderung mengalami kenaikan dengan sesekali adanya penurunan. Pada

    saat krisis ekonomi global akhir tahun 2008, IHSG sempat jatuh ke level 1256.7.

    Kemudian, IHSG kembali meningkat menuju level 2534.36 pada akhir 2009.

    Tabel 4.1 Statistika deskriptif data bulanan IHSG Statistika Deskriptif IHSG

    Rata-rata 823.4253 Median 621.315 Maximum 2139.28 Minimum 358.23 Std. Dev. 470.7858

    Jumlah pengamatan sebanyak 90 data, dari 90 data IHSG nilai IHSG

    terendah adalah sebesar 358.23 poin dan nilai IHSG terbesar adalah 2139.28.

    Rata-rata nilai IHSG bulanan selama 10 tahun terakhir adalah sebesar 823.423

    dengan standar deviasi sebesar 470.785.

    4.2 Indentifikasi Model Regresi

    Model regresi dinyatakan dan diestimasi menggunakan teknik Ordinary Least

    Square (OLS). Hasil estimasi pengamatan disajikan pada Tabel 4.2.

    Tabel 4.2 Hasil Estimasi model regresi Variabel Koefisien Std. Error Statistik t Prob.

    C -211.2347 37.60631 -5.617002 0.0000 IHSSK 8.954685 0.142290 62.93274 0.0000

    INFLASI -1.102807 6.451614 -0.170935 0.8647 SBI 17.98792 2.434196 7.389676 0.0000

    F-statistic 1689.768

    Nilai statistik F, model terestimasi cukup baik yang ditunjukkan dari nilai

    Fhitung lebih besar dari Ftabel (1689.76>3.13). Dapat disimpulkan bahwa ketiga

    variabel independen (IHSSK, Inflasi, dan SBI) mempengaruhi variabel dependen

  • 43

    (IHSG) secara signifikan. Kemudian, dilihat dari masing-masing nilai probablitas

    statistik-t dari tiap-tiap variabel, kecuali variabel Inflasi memiliki nilai

    probabilitas t-statistic yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 5%, dapat

    disimpulkan bahwa masing-masing variabel kecuali variabel Inflasi

    mempengaruhi variabel dependen. Untuk melihat apakah OLS merupakan model

    yang tepat dalam menjelaskan pengaruh IHSSK, Inflasi dan SBI terhadap IHSG,

    akan dilakukan uji asumsi klasik regresi terhadap nilai sisaan dari model.

    a. Uji Normalitas

    Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah sisaan data yang

    digunakan mempunyai sebaran normal atau tidak.

    Tabel 4.3 Uji Normalitas Series : Residuals Sample : 1 90 Observations : 90 Jarque-Bera 5.624922 Pobability 0.060057

    Berdasarkan Tabel 4.3, terlihat bahwa nilai probability Jarque Bera lebih

    besar dari tingkat signifikansi 5% (0.06 > 0.05). Sehingga, H0 ditolak, artinya

    sisaan data berdistribusi normal.

    b. Uji Multikolinearitas

    Uji multikolinearitas menguji apakah dalam model regresi terdapat adanya

    korelasi antar variabel bebas. F1 adalah nilai F hitung dari regresi auxiliary antara

    IHSSK (X1) dengan Inflasi (X2) dan SBI (X3). F2 adalah nilai F hitung dari regresi

    auxiliary antara inflasi (X2) dengan IHSSK (X1) dan SBI (X3). F3 adalah nilai F

    hitung dari regresi auxiliary antara SBI (X3) dengan IHSSK (X1) dan Inflasi (X2).

  • 44

    Tabel 4.4 Uji Multikolinearitas F hitung F tabel = 3.13 F1=19.58 H0 ditolak F2=0.77 H0 diterima F3=20.36 H0 ditolak

    Nilai F tabel dengan tingkat signifikansi 5% dan derajat kebebasan 1 dan 88

    adalah sebesar 3.95. Dari hasil regresi auxiliary, nilai F1 lebih besar dari F tabel

    (19.85>3.13) yang berarti H0 ditolak, artinya terdapat multikolinearitas antara X1

    dengan X2 dan X3. Nilai F2 lebih kecil dari F tabel (0.77>3.13), penerimaan H0

    artinya tidak terdapat multikolinearitas antara antara X2 dengan X1 dan X3.

    Kemudian, nilai F3 lebih besar dari F tabel , penolakan H0 artinya terdapat

    multikolinearitas antara X3 dengan X1 dan X2. Jika model mengandung

    multikolinearitas, salah satu pilihannya adalah membiarkan model tetap

    mengandung multikolinearitas. Model tetap menghasilkan estimator yang BLUE

    karena masalah estimator yang BLUE tidak memerlukan asumsi tidak adanya

    korelasi antar variabel independen. Multikolinearitas hanya menyebabkan

    kesulitan dalam memperoleh estimator dengan standard eror yang kecil [10].

    c. Uji Autokorelasi

    Uji autokorelasi digunakan untuk melihat apakah terdapat korelasi antara

    anggota pengamatan satu dengan lain. Banyak metode yang digunakan untuk

    mendeteksi masalah autokorelasi, salah satunya dengan metode Breusch-Godfrey.

    Tabel 4.5 Breusch-Godfrey Serial Correlation LM test: F-Statistic 108.5874 Prob F(2,84) 0.000000 Obs*R-squared 64.89829 Prob.Chi-Square(2) 0.000000

  • 45

    Nilai probability sisaan sebesar 0.0000, artinya jauh lebih kecil dari tingkat

    signifikansi 0.05 (0.00

  • 46

    Tabel 4.7 Nilai MAPE model Regresi IHSG IHSGF eror

    2348.67 2170.476 0.07587 2194.34 2035.496 0.072388 2359.21 2143.524 0.091423 2643.49 2341.254 0.114332 2688.33 2267.334 0.156601 2745.83 2264.778 0.175194 2627.25 2121.212 0.192611 2721.94 2155.663 0.208042

    2447.3 2010.806 0.178357 2304.52 1865.266 0.190605 2444.35 1887.11 0.227971

    2349.1 1767.514 0.247578 2304.51 1997.1 0.133395 2165.94 1969.308 0.090784 1832.51 1783.473 0.02676

    1256.7 1345.008 -0.07027 1241.54 1342.079 -0.08098 1355.41 1562.598 -0.15286 1332.67 1390.09 -0.04309 1285.48 1243.87 0.032369 1434.07 1474.493 -0.02819 1722.77 1855.811 -0.07722 1916.83 1957.668 -0.0213 2026.78 2096.458 -0.03438 2323.24 2352.436 -0.01257 2341.54 2416.5 -0.03201 2467.59 2597.203 -0.05253

    2367.7 2487.292 -0.05051 2415.84 2533.741 -0.0488 2534.36 2604.444 -0.02765

    Rata-rata 0.049397

    MAPE 4.9397

    Nilai MAPE error yang kecil, namun estimator yang dihasilkan tidak BLUE,

    sehingga model tidak dapat digunakan untuk analisis maupun peramalan. Model

    yang mengasumsikan adanya heteroskedastisitas adalah model ARCH-GARCH.

  • 47

    4.3 Identifikasi Model ARCH-GARCH

    4.3.1 Pengujian Keheterogenan Ragam Bersyarat

    Proses ARCH dapat diketahui dari sisaan data yang diperoleh dengan

    menguji keheterogenan ragam sisaannya dengan uji Lagrange Multiplier.

    Table 4.8 Hasil Uji ARCH LM

    F-Statistic 50.49670 Prob. F(1,87) 0.00000

    Obs*R-Squared 32.68592 Prob. Chi –Square (1) 0.00000

    Adanya ARCH effect dapat dilihat pada nilai probabilitas (p-value) pada F

    statistic, apabila nilai probabilitas (p-value) pada F statistic lebih kecil dari tingkat

    signifikansi ( =5%) maka terdapat ARCH effect, begitu pula sebaliknya. Hasil

    Tabel 4.8 menunjukkan bahwa untuk data IHSG memiliki nilai LM yang

    signifikan (lebih kecil dari tingkat signifikansi 0.05). Hal ini mengindikasikan

    bahwa ragam sisaan tidak homogen dan adanya proses ARCH.

    4.3.2 Pendugaan Parameter Model ARCH-GARCH

    Pendugaan parameter dilakukan dengan mengurangi atau menambah ordo

    p dan q secara iteratif dengan Algoritma Marquardt. Ordo yang dipilih hanya

    sampai ordo 2, karena parameter yang diduga sudah kurang signifikan ketika ordo

    yang digunakan lebih dari 2.

  • 48

    Tabel 4.9 Ringkasan hasil pendugaan parameter ARCH-GARCH

    Koefisien ARCH 1 ARCH 2 GARCH

    (1,1)

    GARCH

    (2,1)

    GARCH

    (1,2)

    GARCH

    (2,2)

    C 221.48 201.22 200.16 1264.21 320.67 920.15

    1 1.24 1.07 1.15 1.09 0.874 0.977

    2 0.13 0.65 0.997

    1 0.05 -0.84 0.382 -0.867

    2 -0.213 0.067

    Dari beberapa model yang dicobakan, yang dipilih hanya model yang

    memiliki dugaan parameter yang signifikan dan nilai AIC dan BIC yang minimum.

    Setelah itu dipilih model yang memiliki koefisien yang positif pada model

    ragamnya.

    4.3.3 Pemilihan Model Terbaik

    Untuk memilih model ragam yang terbaik dilakukan dengan melihat nilai

    AIC dan BIC yang paling rendah dan memiliki koefisien yang signifikan.

    Tabel 4.10 Nilai AIC dan BIC

    Nilai ARCH 1 ARCH 2

    GARCH

    (1,1)

    GARCH

    (2,1)

    GARCH

    (1,2)

    GARCH

    (2,2)

    AIC 10.62214 10.64060 10.64243 10.73254 10.60947 10.67112

    BIC 10.78880 10.83503 10.83686 10.95474 10.83168 10.92110

    Nilai AIC paling rendah dimiliki oleh model GARCH (1,2), yaitu sebesar

    10.60947. Namun, untuk nilai BIC paling rendah dimiliki oleh Model ARCH 1

    sebesar 10.62214. Jika ada kontradiksi antara nilai AIC dan BIC maka yang

  • 49

    digunakan adalah kriteria dari BIC [10]. Oleh karena itu, model ARCH 1 akan

    menjadi model untuk menjelaskan volatilitas IHSG selama periode pengamatan.

    4.3.4 Diagnostik Model

    Uji kelayakan model dapat dilakukan diagnostik model terhadap sisaan.

    Ditunjukkan pada Gambar 4.2 secara eksploratif untuk data bulanan IHSG

    sisaannya menyebar normal, sehingga model dapat ARCH 1 dikatakan layak.

    Gambar 4.2 Sebaran sisaan data bulanan IHSG

    Grafik ini didukung secara statistik berdasarkan probability Jarque Berra

    yang lebih besar dari tingkat signifikansi 0.05 (0.211 > 0.05). Kemudian,

    pemeriksaan model pada data IHSG diperoleh hasil bahwa pada sisaan masih

    terdapat autokorelasi yang ditunjukkan dari nilai prob. < 0.00 untuk lag 1 hingga

    lag 36. Namun, pada kuadrat sisaan (prob. > 0.05) untuk lag 1 sampai lag 36 tidak

    terdapat autokorelasi antar kuadrat sisaan, yang mengindikasikan ragam sudah

    homogen.

    Series : Standardized Residual Sampel 1 90 Observations 90 Jarque Bera 3.105068 Probability 0.211711

  • 50

    Tabel 4.11 Hasil pemeriksaan model dengan pengujian autokorelasi sisaan dan

    kuadrat sisaan data bulanan IHSG selama periode pengamatan.

    Lag ke- Terhadap sisaan ( ) Terhadap kuadrat sisaan ( 2) Q-stat Prob Q-stat Prob

    1 31.2640 0.0000 0.7937 0.3730 2 47.2570 0.0000 0.8139 0.6660 3 54.9190 0.0000 1.0021 0.8010 4 58.0840 0.0000 1.0048 0.9090 5 62.5440 0.0000 1.0104 0.9620 6 67.5440 0.0000 1.4245 0.9640 7 71.4860 0.0000 1.7938 0.9700 8 75.9900 0.0000 1.7938 0.9870 9 77.5110 0.0000 3.6982 0.9300 10 79.3340 0.0000 3.8575 0.9540 11 79.3830 0.0000 3.9208 0.9720 12 79.7810 0.0000 4.5292 0.9720 13 80.0560 0.0000 6.0233 0.9450 14 82.1880 0.0000 8.1053 0.8840 15 82.9920 0.0000 8.1228 0.9190 16 84.2660 0.0000 10.0590 0.8640 17 91.0350 0.0000 10.0650 0.9010 18 97.7030 0.0000 13.1740 0.7810 19 106.5200 0.0000 13.7980 0.7950 20 110.5400 0.0000 15.6040 0.7410 21 116.2200 0.0000 15.8560 0.7780 22 118.8200 0.0000 17.2590 0.7490 23 119.6000 0.0000 17.5670 0.7810 24 122.5200 0.0000 19.3940 0.7310 25 126.7300 0.0000 19.5790 0.7690 … … … … … … … … … … … … … … … 33 142.7200 0.0000 29.9510 0.6200 34 142.8600 0.0000 29.9970 0.6640 35 143.5000 0.0000 30.3550 0.6920 36 144.3900 0.0000 30.6560 0.7200

  • 51

    4.3.5 Simulasi Peramalan

    Simulasi peramalan dilakukan untuk mengetahui seberapa baik model

    yang diduga yang dapat digunakan untuk meramal dengan data yang berbeda.

    Hasil peramalan akan dibandingkan dengan data aktual.

    Gambar 4.3 Plot IHSG peramalan model ARCH-GARCH

    Data IHSG yang diperlihatkan pada Gambar 4.3, perbandingan hasil

    peramalan dengan data aktual memperlihatkan adanya perbedaan yang awalnya

    besar, menjadi hampir mirip antara hasil peramalan dengan data aktual. Ini

    menunjukkan bahwa model ARCH 1 dapat mewakili pergerakan IHSG selama

    periode pengamatan. Berikut ini juga ditampilkan nilai Mnna Absolute

    Percentage Erorr (MAPE) dari model ARCH 1.

  • 52

    Tabel 4.12 Nilai MAPE model ARCH-GARCH

    IHSG IHSGF Error 2348.67 2091.02 0.11 2194.34 1963.14 0.11 2359.21 2065.80 0.12 2643.49 2253.27 0.15 2688.33 2180.55 0.19 2745.83 2180.92 0.21 2627.25 2047.66 0.22 2721.94 2075.19 0.24 2447.30 1939.25 0.21 2304.52 1799.73 0.22 2444.35 1825.55 0.25 2349.10 1718.61 0.27 2304.51 1933.95 0.16 2165.94 1904.13 0.12 1832.51 1731.87 0.05 1256.70 1319.73 -0.05 1241.54 1316.73 -0.06 1355.41 1523.26 -0.12 1332.67 1349.88 -0.01 1285.48 1210.11 0.06 1434.07 1426.53 0.01 1722.77 1784.70 -0.04 1916.83 1881.64 0.02 2026.78 2012.40 0.01 2323.24 2255.45 0.03 2341.54 2315.51 0.01 2467.59 2488.99 -0.01 2367.70 2381.05 -0.01 2415.84 2424.15 0.00 2534.36 2492.75 0.02

    JUMLAH rata2

    2.47 0.08

    MAPE 8.23

  • 53

    Model ARCH 1 memiliki nilai MAPE sebesar 8.23%. Hal ini

    menunjukkan bahwa model ARCH 1 menangkap banyak informasi dan dapat

    menjelaskan pergerakan dari data deret waktu IHSG.

    4.3.6 Interpretasi model ARCH-GARCH

    Setelah melalui uji kelayakan mode, model ARCH 1 dikatakan layak

    untuk mewakili volatilitas IHSG selama perode pengamatan. Dari Tabel 4.13

    didapat persamaan ARCH-GARCH sebagai berikut:

    Tabel 4.13 Hasil Model ARCH 1 Dependent Variable : IHSG Method : ML-ARCH (Marquardt)-Normal Distribution Sample 1 90 Bollerslev-Wooldrige robust standard errors & covariance GARCH = C(5) + C(6)*RESID(-1)^2

    Coefficient Prob 0.0000 0.0000 0.0360 0.0000

    C -208.9989 IHSSK 8.491874

    INFLASI 3.262884 SBI 21.7008

    Variance Equation C 221.4802 0.0009

    0.0000 RESID(-1)^2 1.239293

    IHSGt = -208.99 + 8.49 IHSSKt + 3.26 INFLASIt + 21.70 SBIt

    sebagai persamaan regresi,

    t2 = 221.48 + 1.24 t-12

    sebagai persamaan ragam.

    Pada model regresi, maka terlihat bahwa koefisien regresi untuk variabel

    IHSSK positif, yang berarti bahwa hubungan IHSSK terhadap IHSG searah.

  • 54

    Besarnya koefisien regresi variabel IHSSK adalah sebesar 8.49, yang berarti

    bahwa setiap peningkatan 1 poin IHSSK akan mengakibatkan IHSG naik sebesar

    8.49 poin.

    Hubungan yang sama juga terlihat pada tingkat Inflasi. Koefisien sebesar

    3.26 memberi arti bahwa setiap kenaikan 1 poin Inflasi, maka akan

    mengakibatkan naiknya IHSG sebesar 3.26 poin. Kemudian, hubungan searah

    juga diperlihatkan oleh variabel SBI, dengan koefisien sebesar 21.70 ini memberi

    arti bahwa setiap kenaikan 1 poin Tingkat SBI, mengakibatkan IHSG naik sebesar

    21.70 poin. Kemudian, dilihat dari persamaan ragam, artinya ragam bersyarat

    periode sekarang dipengaruhi oleh kuadrat sisaan periode yang lalu sebesar 1.24.

    Tabel 4.14 Uji F dan Uji t Statistik

    T hitumg T tabel= -1.67 2.602566 2.097427 33.88293 F tabel F hitung

    3.13 737.6821 Hasil uji F dan Uji t statistik pada Tabel 4.13 menunjukkan bahwa nilai F

    hitung dan t hitung lebih besar dari nilai F tabel dan t tabel. Hal ini berarti ketiga

    variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Ini

    mengindikasikan bahwa model ARCH 1 memang tepat dalam menjelaskan

    volatilitas IHSG selama periode pengamatan.

  • 55

    BAB V

    KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Kesimpulan

    Hasil permodelan data historis IHSG memperlihatkan bahwa model

    ARCH-GARCH menunjukkan adanya gejala volatilitas pada pergerakan IHSG.

    Pengujian hipotesis melalui pemodelan ARCH (1) dapat dibuktikan bahwa

    IHSSK, Inflasi dan SBI berpengaruh positif. Dilihat dari Uji F, signifikan artinya

    secara bersama-sama ketiga variabel independen memiliki pengaruh signifikan

    pada volatilitas IHSG. Pengaruhnya cukup besar yaitu 98% (R-Squared).

    Persamaan yang didapat adalah sebagai berikut,

    IHSGt = -208.99 + 8.49 IHSSKt + 3.26 INFLASIt + 21.70 SBIt

    sebagai persamaan regresi,

    t2 = 221.48 + 1.24 t-12

    sebagai persamaan ragam.

    Model ini terbaik dari model lainnya yaitu memiliki data dengan distribusi

    normal, tidak ada autokorelasi, memiliki AIC dan BIC paling rendah.

    Berdasarkan hasil MAPE, kesalahan peramalan yang dihasilkan sebesar 8%. Ini

    menunjukkan keakuratan model ARCH 1 untuk peramalan.

  • 56

    5.3 Saran

    Berdasarkan kesimpulan yang diambil, maka saran yang dapat diberikan

    berdasarkan hasil penelitian adalah:

    1. Jika hendak melakukan pemodelan ARCH-GARCH untuk obyek yang

    mempunyai perubahan yang ekstrim, maka peneliti harus memperpanjang

    rentang waktu data penelitian.

    2. Karena Indeks IHSSK, Inflasi dan tingkat suku bunga BI terbukti

    berpengaruh terhadap pergerakan harga saham, maka perlu adanya upaya

    dari pemerintah dan otoritas moneter untuk menjadi kestabilan variabel

    tersebut supaya pergerakan harga saham terkendali dan sesuai dengan yang

    diharapkan.

  • 57

    DAFTAR PUSTAKA

    [1] Engle, R.F. The Use of ARCH/GARCH models in Applied Econometrics.

    Journal of Economic Perspective, 157-168, 2001.

    [2] Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis Multivarate dengan Program SPSS.

    Semarang:Badan Penerbit Undip, 2008.

    [3] Gujarati, Damodar. Basic econometric.Singapore: Mc Graw Hill, 2003.

    [4] Gunanjar, Bayu, Penerapan Model ACRh-GARCH dan model MSAR

    (Markov-Switching Autoregressive) pada Nilai Tukar Rupiah terhadap

    Dolar Amerika dan IHSG. Skripsi tidak dipublikasikan, Institut Pertanian

    Bogor, Bogor, 2006.

    [5] Hilbe, Joseph M, Negative binomial regression, UK, Cambridge, 2007.

    [6] Ishomuddin, Analisis Pengaruh Variabel Makroekonomi Dalam dan Luar

    Negeri Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI periode

    1999.1–2009.12 (Analisis Seleksi Model OLS-ARCH/GACRH),

    Universitas Diponegoro, Semarang, 2010.

    [7] Kristanto, yunivan, Analisis Kinerja Indeks Saham Sektoral di Bursa Efek

    Jakarta Periode Tahun 2004-2006. Studi Kasus: Indeks Saham Sektor

    Pertanian, Pertambangan, Properti, Infrastruktur, dan Keuangan, Institut

    Pertanian Bogor, Bogor, 2007.

    [8] Marwan B. Asriandhini, Permodelan Ragam Indeks Harga Saham sektor

    keuangan menggunakan model GARCH, Institut Pertanian Bogor, Bogor,

    2003.

  • 58

    [9] Nachrowi, Nachrowi D. dan Hardius Usman, Prediksi IHSG dengan

    model GARCH dan model ARIMA. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan

    Indonesia, Vol 7 (2), hal 73-91, Januari, 2007.

    [10] Widarjono, Agus. Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya, Yogyakarta,

    Ekonosia, 2005.

    [11] Winarno, wing wahyu, Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan

    Eviews, Yogyakarta, UPP STIM YKPN, 2007.

    [12] (http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/BI+Rate/Penjelasan+BI+Rate/)

    [15/02/2011 10.00 WIB]

  • 59

    LAMPIRAN 1 OLS

    Uji normalitas

    Uji multikolinearitas

  • 60

    Uji autokorelasi

    Uji heteroskedastisitas

    Uji ARCH LM

    LAMPIRAN 2 HASIL MODEL ARCH-GARCH

    Arch 1 ARCH 2

  • 61

    GARCH (1,1) GARCH (1,2)

    GARCH(2,1) GARCH (2,2)

  • 62

    LAMPIRAN 3 Residual ARCH 1

    Residual

  • 63

    Nama : Alfina Reisya

    NIM : 107094002394

    Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 22 Februari 1989

    Alamat Rumah : Jl. Cemara II Rt 01/002 No.7

    Tangerang 15417

    Phone / Hand Phone : 0856-9777-6793

    Email : [email protected]

    Jenis Kelamin : Perempuan

    1. S1 : Program Studi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun 2007 – 2011

    2. SMA : SMAN Ciputat 1, Tahun 2004 – 2007 3. SMP : SMPN 1 Pamulang, Tahun 2001 – 2004 4. SD : SDN Pamulang 1, 1995 – 2001 5. TK : Pertiwi, 1994-1995

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP

    Data Pribadi

    Riwayat Pendidikan

    Format Biodata