of 22 /22
PEMAKAIAN OBAT TIPE BETA BLOCKER PROPANOLOL PADA PENYAKIT “ANGINA PECTORIS dan VASODILATOR” Disusun oleh : Basuki Riyanto 12330001 Nadhil Febrian Chusnul Khotimah

Angina Pektoris ( Kimed)

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kimia mediisnal

Text of Angina Pektoris ( Kimed)

PEMAKAIAN OBAT TIPE BETA BLOCKER PROPANOLOL PADA PENYAKIT ANGINA PECTORIS dan VASODILATOR

Disusun oleh :

Basuki Riyanto 12330001

Nadhil Febrian

Chusnul Khotimah

Program Studi Farmasi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta 2014

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena berkat-Nya yang telah membantu kelancaran pembuatan makalah ini tentang penggunaan obat tipe beta blocker pada Penyakit Angina Pektoris dan Vasodilator.

Dalam penulisan makalah ini penulis banyak mengalami kesulitan. Namun, berkat bimbingan dari berbagai pihak, makalah inipun dapat terselesaikan dengan beberapa kekurangan yang ada. Karena itu sudah sepantasnya penulis mengucapkan terima kasih kepada bebagai pihak yang turut andil dalam proses pembuatan makalah ini.

1. Dosen selaku pembimbing dalam pembuatan makalah ini.

2. Keluarga yang telah banyak memberikan dorongan moral maupun spiritual, juga beberapa bantuan dalam bentuk pencarian materi dan beberapa hal lain.

3. Dan semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Penulis mengaharapkan minat pembaca untuk memberi saran yang positif untuk membangun dan melengkapi segala kekurangan yang ada pada makalah ini.

Jakarta, oktober 2014

Kata PengantarPenulis

Walaupun telah banyak kemajuan dalam penatalaksanaannya, penyakit jantungkoroner ( PJK ) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yangcukup penting. Di Negara-negara maju dan beberapa Negara berkembang sepertiIndonesia, PJK merupakan penyebab kematian utama. Di Amerika Serikat didapatkan bahwa kurang lebih 50 % dari penderita PJK mempunyai manifestasi awal AnginaPectoris Stabil ( APS ).

Jumlah pasti penderita angita pectoris ini sulit diketahui.Dilaporkan bahwa insidens angina pectoris pertahun pada penderita diatas usia 30 tahunsebesar 213 penderita per100.000 penduduk. Asosiasi jantung Amerika memperkirakanada 6.200.000 penderita APS ini di Amerika serikat. Tapi data ini nampaknya sangatkecil bila dibandingkan dengan laporan dari dua studi besar dari Olmsted Country danFramingham, yang mendapatkan bahwa kejadian infark miokard akut sebesar 3% sampai3.5% dari penderita APS pertahun, atau kurang lebih 30 penderita APS untuk setiap penderita infark miokard akut.

PendahuluanMengingat banyaknya jumlah penderita APS dan kerugian yang ditimbulkannyaterutama secara ekonomi, diperlukan penatalaksanaan yang lebih komprehensif. Tetapi APS terutama ditujukan untuk menghindarkan terjadinya infark miokard akut dankematian sehingga meningkatkan harapan hidup, serta mengurangi symptom dengan harapan meningkatnya kualitas hidup

ANTI ANGINA PEKTORIS

Anti Angina

Angina pectoris merupakan gejala utama penyakit iskemia jantung. Terjadi bila kebutuhan oksigen miokardium kurang dari pengadaan oleh arteria koroner. Nyeri angina berupa nyeri mendadak hebat, menekan di daerah sub-eksternal/pre kordinal menjalar ke bahu dan fleksor lengan kiri. Nyeri umumnya dicetuskan oleh aktifitas fisik, emosi, makan, dan seringkali terkait dengan depresi segmen-st elektrokardiogram.

Hal tersebut diakibatkan oleh aliran darah koroner berkurang, karena penyempitan pembuluh darah akibat spasme dan/atau proses alterosklerosis.

Obat angina dibagi menjadi 2 kelompok. Pertama untuk mengatasi atau mencegah serangan akut, dan kelompok kedua untuk mencegah/mengurangi jumlah serangan angina (pencegahan jangka panjang). Untuk mengatasi/mencegah serangan akut angina pectoris, digunakan preparat nitrat organik kerja pendek, yakni nitrogliserin sublingual dan isosorbid dinitrat sublingual.

Untuk pencegahan jangka panjang digunakan nitrat kerja panjang, beta bloker. Nitrat kerja panjang seringkali menimbulkan toleransi terhadap efek terapi. Untuk angina dengan spasme koroner yang dominan, antagonis kalsium merupakan obat terpilih, sedangkan beta-bloker merupakan kontraindikasi. Untuk angina of effort, beta-bloker sama efektifnya dengan antagonis kalsium, pilihan tergantung pada kondisi pasien.

Angina menyebabkan rasa sakit seperti tertekan atau sensasi berat , biasanya di daerah dada atau dibawah tulang dada (sternum) . Hal ini terkadang menjalar ke lengan , bahu , leher, atau daerah rahang . Karena episode angina terjadi bila jantung membutuhkan lebih banyak oksigen darah di banding yang tersedia dalam pembuluh darah , kondisi ini sering dipicu oleh aktivitas fisik.Dalam kebanyakan kasus , gejala dapat mereda dalam beberapa menit dengan beristirahat atau dengan meminum obat angina.Stress emosional , suhu ekstrim , makanan berat , merokok , dan alkohol juga dapat menyebabkan atau memberikan kontribusi terjadinya .

Rasa nyeri berawal dari tulang dada, kemudian menyebar ke pundak, leher, rahang, lengan, dan punggung. Umumnya nyeri hanya dirasakan pada bahu dan lengan kiri, jarang terjadi pada lengan kanan.Selain rasa nyeri, gejala lainnya dapat berupa berkeringat dingin, sukar bernafas, nyeri ulu hati, pusing dan mual.

Penyebab dan gejala angina pectorisNyeri dada, berupa rasa sesak seperti terhimpit, rasa terbakar atau rasa tertekan pada daerah dada. Intensitas nyeri meningkat secara bertahap kemudian berangsur-angsur hilang kembali. Serangan terjadi selama 30 detik sampai 30 menit.

Dokter biasanya dapat mendiagnosis angina pektoris berdasarkan gejala pasien dan faktor- faktor pencetus . Namun , pengujian diagnosti lainnya sering diperlukan untuk mengkonfirmasi atau menyingkirkan angina , atau untuk menentukan tingkat keparahan penyakit jantung yang mendasari.a. Elektrokardiogram ( EKG )

Adalah test yang mencatat impuls listrik dari jantung . Grafik yang dihasilkan dari aktivitas listrik dapat menunjukan jika otot jantung tidak berfungsi dengan baik sebagai akibat dari kekurangan oksigen . Elektrocardiogram juga berguna dalammenyelidiki kemungkinan abnormalitas jantung. b. Stress testBagi banyak orang dengan angina , hasi elektrocardiogram saat istirahat tidak akan menunjukan adanya kelainan . Karena gejala angina terjadi selama stress ( latihan fisik ), fungsi jantung mungkin perlu di evaluasi dibawah tekanan fisik dari latihan . Tes stress dilakukan bersamaan dengan EKG sebelum, selama , setelah latihan untuk mencari kelainan terkait stress (latihan fisik) . Tekanan darah juga diukur selama uji stress .c. Angiogram

Angiogram yang pada dasarnya sinar x dari arteri koroner , telh menjadi test diagnostik yang paling akurat untu menunjukan keberadaan dan luasnya penyakit koroner . Dalam prosedur ini digunakan tabung fleksible ( kateter ) yang panjang dan tipis untuk melakukan manuver kedalam arteri yang terletak di lengan atau pangkal paha , kateterini akan dilewatkan lebih lanjut melalui arteri ke salah satu dari dua arteri koroner utama

Diagnosa angina pektoris. Sebuah pewarna disuntikan pada waktu itu untuk membantu sinar x melihat jantung dan arteri lebih jelas . Banyak sinar x singkat dibuat untuk menciptakan sebuah film yang mungkin dapat menyebabkan penurunan alirah darah ke otot jantung dan gejala terkait angina .

a. Pengobatan Konservativ

Penyakit pembulu darah arteri dapat menyebabkan angina .Sehingga dapat dicegah dengan mengontrol faktor risikonya termasuk merokok , tekanan darah tinggi , kadar kolesterol tinggi, dan obesitas . Angina sering diterapi dengan obat , paling sering dengan nitrogliserin . Obat ini mengurangi gejala angina dengan meningkatkan diameter pembuluh darah yang membawa darah ke otot jantung . Dapat diminum dengan menempatkan tablet dibawah lidah ata transdermal , dengan menempatkan sebuah patuh obat langsung pada kulit . Selain itu , beta blockers atau calcium channel blocker mungkin mengurangi laju dan beban kerja jantung .

b. Terapi bedah

Bila pengobatan konservativ tidak efektif dalam pengurangan nyeri angina dan resiko serangan jantung tetap tinggi . Dokter mungkin merekomendasikan angioplasti atau operasi . Operasi bypass arteri koroner adalah suatu operasi dimana pembuluh darah ( biasanya vena panjang pada kaki ) dicngkokan ke arteri yang tersumbat untuk melewati bagian yang tersumbat . Sehingga terbentuk jalan baru yang memungkinkan darah mengalir secara memadai ke otot jantung.

Pengobatan Angina PektorisProsedur lain yang digunakan untuk meningkatkan aliran darah ke jantung adalah balon angiosplasty . Dalam prosedur ini , dokter memasukan kateter dengan balon kecil di ujungnya kedalam lengan atau arteri pangkal paha .Kateter ini kemudian bergulir naik ke arteri koroner dan balon mengembang untuk membuka bagian yang sempit . Teknik lainnya menggunakan laser dan alat mekanik yang sedang dikembangkan dan diterapkan juga melalui kateter.

c. Pengobatan Alternatif

Antioksidan , termasuk vitamin A ( Beta Karoten ) , vitamin c , vitamin e , dan selenium dapat membatasi kerusakan oksidatif pada dinding pembuluh darah yang mungkin menjadi pelopor pembentukan plak ateroskerotik.

Prognosa angina pectoris

Prognosis untuk pasien dengan angina pectoris tergantung pada penyebabnya , jenis keparahan , dan kesehatan umum individu . Seseorang yang memiliki angina ,

memiliki prognosis yang baik jika ia mencari perhatian medis yuang segera dan belajar pola-nya atau angina-nya . Seperti apa yang menyebabkan serangan , apa yang mereka rasakan , berapa lama episode biasanya berlangsung , dan apakah obat meringankan serangan . Jika gejala itu berarti , atau jika gejala mirip dengan serangan jantung bantuan medis harus segera dicari .

Macam-Macam Anti Angina

A. Nitrat

Nitrat meningkatkan pemberian D2 miokard dengan dialatasi arteri epikardial tanpa mempengaruhi, resistensi arteriol arteri intramiokard. Dilatasi terjadi pada arteri yang normal maupun yang abnormal juga pada pembuluh darah kolateral sehingga memperbaiki aliran darah pada daerah isomik. Toleransi sering timbul pada pemberian oral atau bentuk lain dari nitrat long-acting termasuk pemberian topikal atau transdermal. Toleransi adalah suatu keadaan yang memerlukan peningkatan dosis nitrat untuk merangsang efek hemodinamik atau anti-angina. Nitrat yang short-acting seperti gliseril trinitrat kemampuannya terbatas dan harus dipergunakan lebih sering. Sublingual dan jenis semprot oral reaksinya lebih cepat sedangkan jenis buccal mencegah angina lebih dari 5 jam tanpa timbul toleransi. Contoh nitat yang sering dipakai adalah nitroglycerin.

B. Beta- Bloker

Beta Bloker tetap merupakan pengobatan utama karena pada sebagian besar penderita akan mengurangi keluhan angina. Kerjanya mengurangi denyut jantung, kontasi miokard, tekanan arterial dan pemakaian O2. Beta Bloker lebih jarang dipilih diantara jenis obat lain walaupun dosis pemberian hanya sekali sehari. Efek samping jarang ditemukan akan tetapi tidak boleh diberikan pada penderita dengan riwayat bronkospasme, bradikardi dan gagal jantung.

Obat-obatan ini menrunkan beban kerja jantung. Bisa juga digunakan untuk mengurangi nyeri dada atau ketidaknyamanan dan juga mencegah serangan jantung tambahan. Beta bloker juga bisa digunakan untuk memperbaiki aritmia.

Terdapat dua jenis yaitu cardioselective (metoprolol, atenolol, dan acebutol) dan non- cardioselective (propanolol, pindolol, dan nadolol)

C. Ca-antagonis

Kerjanya mengurangi beban jantung dan menghilangkan spasma koroner, Nifedipin dapat mengurangi frekuensi serangan anti-angina, memperkuat efek nitrat oral dan memperbaiki toleransi exercise. Merupakan pilihan obat tambahan yang bermanfaat terutama bila dikombinasi dengan beta-bloker sangat efektif karena dapat mengurangi efek samping beta bloker. Efek anti angina lebih baik pada pemberian nifedipin ditambah dengan separuh dosis beta-bloker daripada pemberian beta-bloker saja.

Jadi pada permulaan pengobatan angina dapat diberikan beta-bloker di samping sublingual gliseril trinitrat dan baru pada tingkat lanjut dapat ditambahkan nifedipin. Atau kemungkinan lain sebagai pengganti beta-bloker dapat diberi dilti azem suatu jenis ca- antagonis yang tidak merangsang tahikardi. Bila dengan pengobatan ini masih ada keluhan angina maka penderita harus direncanakan untuk terapi bedah koroner.

Pengobatan pada angina tidak stabil prinsipnya sama tetapi penderita harus dirawat di rumah sakit. Biasanya keluhan akan berkurang bila ca-antagonis ditambah pada beta-bloker akan tetapi dosis harus disesuaikan untuk mencegah hipertensi. Sebagian penderita sengan pengobatan ini akan stabil tetapi bila keluhan menetap perlu dilakukan test exercise dan arteriografi koroner. Sebagian penderita lainnya dengan risiko tinggi harus diberi nitrat i.v dan nifedipin harus dihentikan bila tekanan darah turun. Biasanya kelompok ini harus segera dilakukan arteriografi koroner untuk kemudian dilakukan bedah pintas koroner atau angioplasti.D. Antipletelet, trombolitik dan antikoagulan

Segi lain dari pengobatan angina adalah pemberian antipletelet dan antikoagulan. Cairns dkk 1985 melakukan penelitian terhadap penderita angina tak stabil selama lebih dari

2 tahun, ternyata aspirin dapat menurunkan mortalitas dan insidens infark miokard yang tidak fatal pada penderita angina tidak stabil.Pemberian heparin i.v juga efeknya sama dan sering diberikan daripada aspirin untuk jangka pendek dengan tujuan menstabilkan keadaan penderita sebelum arteriografi.

Obat-obatan trombolitik ini ditujukan untuk memperbaiki kembali airan darah pembuluh darah koroner, sehingga referfusi dapat mencegah kerusakan miokard lebih lanjut. Obat-obatan ini digunakan untuk melarutkan bekuan darah yang menyumbat arteri koroner. Waktu paling efektive pemberiannya adalah 1 jam stelah timbul gejal pertama dan tidak boleh lebih dari 12 am pasca serangan. Selain itu tidak boleh diberikan pada pasien diatas 75 tahun Contoh obatnya adalah streptokinase

Terdapat obat-obatan pada angina pektoris tak stabil secara praktis dapat disimpulkan sebagai berikut:- Heparin i.v dan aspirin dapat dianjurkan sebagai pengobatan rutin selama fase akut maupun sesudahnya- Pada penderita yang keadaannya cenderung tidak stabil dan belum mendapat pengobatan, beta-bloker merupakan pilihan utama bila tidak ada kontra indikasi. Tidak ada pemberian kombinasi beta-bloker dengan ca-antagonis diberikan sekaligus pada permulaan pengobatan.- Pada penderita yang tetap tidak stabil dengan pemberian beta-bloker dapat ditambah dengan nifedipin.- Pengobatan tunggal dengan nifedipin tidak dianjurkan.

Pencegahan Angina Pectoris

Dalam kebanyakan kasus , pencegahan terbaik adalah mencegah sesuatu yang dapat menyebabkan serangan angina . Jika ia telah diberi obat darah tinggi oleh dokter, kepatuhan adalah suatu keharusan dan harus menjadi prioritas . Banyak profesional kesehatan termasuk dokter , ahli gizi , dan perawat , dapat memberikan saran berharga pada diet yang tepat , mengontrol berat badan , kadar kolesterol darah , dan tekanan darah . Para profesional ini juga menawarkan tentang perawatan ini dan informasi untuk membantu berhenti merokok . Secara umum, mayoritas dari mereka dengan angina menyesuaika hidup mereka untuk meminimalkan episode angina . Dengan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan dan menggunakan obat jika dianjurkan dan perlu .

Penyakit arteri koroner adalah masalah mendasar yang harus ditangani .

Kesimpulan

Angina pectoris merupakan nyeri atau ketidaknyamanan atau tekanan lokal di dada yang disebabkan oleh kekurangan pasokan darah pada otot jantung .Kondisi angina disebabkan hasil dari kegiatan yang berat seperti oahraga.Angina juga jarang menyebabkan kerusakan permanen otot jantung .Rasa nyeri berawal dari tulang dada, kemudian menyebar ke pundak, leher, rahang, lengan, dan punggung. Umumnya nyeri hanya dirasakan pada bahu dan lengan kiri, jarang terjadi pada lengan kanan.Selain rasa nyeri, gejala lainnya dapat berupa berkeringat dingin, sukar bernafas, nyeri ulu hati, pusing dan mual.

Nyeri dada, berupa rasa sesak seperti terhimpit, rasa terbakar atau rasa tertekan pada daerah dada. Intensitas nyeri meningkat secara bertahap kemudian berangsur-angsur hilang kembali. Serangan terjadi selama 30 detik sampai 30 menit.

Daftar Pustaka

Departemen Farmakologi da Terapeutik Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru. Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat. Bandung: Penerbit ITB.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Edisi Ke Tiga, Penerbit Balai Pustaka

FKUI, Jakarta 1996.

Ely Ismudianti Rilantono dkk, Buku Ajar Kardiologi, Balai Penerbit FKUI, 1998.