46
11 BAB II LANDASAN TEORI A. Akuntansi Lingkungan Menurut AICPA (American Institute of Certified Public Accounting) dalam buletinnya, Akuntansi didefinisikan sebagai berikut : Accounting is the art of recording, classifying and summarizing in a significant manner and in the term of money, transaction and event which are and part, at least of financial character and interpreting the result there of (1998). Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi merupakan sebuah seni untuk mencatat, mengklasifikan, dan menjumlahkan nilai dari transaksi yang sudah dilakukan oleh perusahaan sebagai bagian dari pertanggungjawaban keuangan yang disajikan dalam bentuk sistematis”. Sedangkan lingkungan hidup berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Pasal 1 angka 1 adalah : “kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya”. Akuntansi lingkungan atau Environmental Accounting (EA) merupakan istilah yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktek akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya lingkungan adalah dampak yang timbul dari sisi keuangan mampun non-keuangan yang harus dipikul sebagai akibat dari kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan menurut Ikhsan (2008).

BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

11

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Akuntansi Lingkungan

Menurut AICPA (American Institute of Certified Public Accounting)

dalam buletinnya, Akuntansi didefinisikan sebagai berikut :

Accounting is the art of recording, classifying and summarizing in a significant manner and in the term of money, transaction and event which are and part, at least of financial character and interpreting the result there of (1998).

Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

merupakan sebuah seni untuk mencatat, mengklasifikan, dan menjumlahkan nilai

dari transaksi yang sudah dilakukan oleh perusahaan sebagai bagian dari

pertanggungjawaban keuangan yang disajikan dalam bentuk sistematis”.

Sedangkan lingkungan hidup berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009

tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Pasal 1 angka 1

adalah :

“kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya”.

Akuntansi lingkungan atau Environmental Accounting (EA) merupakan

istilah yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental

costs) ke dalam praktek akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya

lingkungan adalah dampak yang timbul dari sisi keuangan mampun non-keuangan

yang harus dipikul sebagai akibat dari kegiatan yang mempengaruhi kualitas

lingkungan menurut Ikhsan (2008).

Page 2: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

12

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau United

States Environment Protection Agency (US EPA) akuntansi lingkungan adalah:

“Suatu fungsi penting tentang akuntansi lingkungan adalah untuk menggambarkan biaya-biaya lingkungan supaya diperhatikan oleh para stakeholders perusahaan, yang mampu mendorong dalam pengidentifikasian cara-cara mengurangi atau menghindari biaya-biaya ketika pada waktu yang bersamaan, sedang memperbaiki kualitas lingkungan”(Ikhsan, 2008).

US EPA menambahkan bahwa istilah akuntansi lingkungan di bagi

menjadi dua. Pertama, akuntansi lingkungan merupakan biaya yang secara

langsung berdampak pada perusahaan secara menyeluruh (disebut dengan istilah

“biaya pribadi”). Kedua, akuntansi lingkungan juga meliputi biya-biaya individu,

masyarakat maupun lingkungan suatu perusahaan yang tidak dapat

dipertanggungjawabkan. Akuntansi lingkungan juga didefinisikan sebagai

pencegahan, pengurangan, dan atau penghindaran dampak terhadap lingkungan,

bergerak dari beberapa kesempatan, dimulai dari perbaikan kembali kejadian-

kejadian yang menimbulkan bencana atas kegiatan-kegiatan tersebut (Ikhsan,

2008).

Bidang akuntansi lingkungan terus berkembang dalam mengidentifikasi

pengukuran-pengukuran dan mengomunikasikan biaya-biaya aktual perusahaan

atau dampak potensial lingkungannya. Biaya ini meliputi biaya-biaya

pembersihan atau perbaikan tempat-tempat yang terkontaminasi, biaya pelestarian

lingkungan, biaya hukuman dan pajak, biaya pencegahan polusi teknologi dan

biaya manajemen pemborosan.

Biaya lingkungan dapat merupakan presentase yang signifikan dari biaya

operasional total. Melalui manajemen yang efektif, banyak dari biaya-biaya ini

Page 3: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

13

yang dapat dikurangi atau dihapuskan. Untuk melakukannya, diperlukan

informasi biaya lingkungan yang menuntut manajemen untuk mendefinisikan,

mengukur, mengklasifikasikan, dan membebankan biaya lingkungan kepada

proses, produk, dan objek biaya lainnya. Akuntansi lingkungan menunjukkan

biaya riil atas input dan proses bisnis serta memastikan adanya efisiensi biaya,

selain itu juga digunakan untuk mengukur biaya kualitas dan jasa menurut

Trisnawati (2014). Biaya lingkungan dilaporkan sebagai sebuah kelompok

terpisah agar manajer dapat melihat pengaruhnya terhadap profitabilitas

perusahaan.

1. Model biaya kualitas lingkungan

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah model biaya kualitas

lingkungan. Dalam model kualitas lingkungan total, kondisi ideal adalah tidak

adanya kerusakan lingkungan; kerusakan dianggap sebagai degradasi langsung

dari lingkungan (misalnya polusi air dan udara) atau degradasi tidak langsung

(misal penggunaan bahan baku dan energi yang tidak perlu). Biaya lingkungan

didefinisikan sebagai biaya-biaya yang terjadi karena adanya kualitas

lingkungan yang buruk atau karena kualitas lingkungan yang buruk mungkin

terjadi. Oleh karenannya biaya lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi:

a. Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention cost), yaitu biaya-

biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya

limbah dan/atau sampah yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.

Contoh: biaya seleksi pemasok, seleksi alat pengendali polusi, desain

proses dan produk, training karyawan, dll.

Page 4: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

14

b. Biaya deteksi lingkungan (environmental detection cost), yaitu biaya-biaya

untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan apakah, produk, proses,

dan aktivitas lainnya telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku

atau/tidak. Contoh: biaya audit aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk

dan proses, pelaksanaan pengujian pencemaran, pengukuran tingkat

pencemaran, dll.

c. Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure cost),

yaitu biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena diproduksinya

limbah, tetapi tidak dibuang ke lingkungan luar. Contoh: biaya operasional

peralatan pengurang/penghilang polusi, pengolahan dan pembuangan

limbah beracun, pemeliharaan peralatan, daur ulang sisa bahan, dll.

d. Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external failure

cost), yaitu biaya-biaya untuk aktifitas yang dilakukan setelah melepas

limbah/sampah ke dalam lingkungan.

1) Biaya kegagalan eksternal yang direalisasi (realized external failure

cost), yaitu biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan. Contoh :

biaya membersihakan danau atau tanah yang tercemar atau minyak

yang tumpah, penyelesaian klaim kecelakaan pribadi, hilangnya

penjualan karena reputasi lingkungan yang buruk, dll.

2) Biaya kegagalan eksternal yang tidak direalisasikan/ biaya sosial

(unrealized external failure cost/social cost), yaitu biaya sosial yang

disebabkan oleh perusahaan tetapi dialami dan dibayar oleh pihak-pihak

di luar perusahaan. Contoh: biaya perawatan medis karena kerusakan

Page 5: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

15

lingkungan, hilangnya lapangan pekerjaan karena polusi, rusakan

ekosistem,dll.

Pelaporan biaya lingkungan menurut kategori memberikan dua hasil yang

penting, yaitu : (1) dampak biaya lingkungan terhadap profitabilitas, dan (2)

jumlah relatif yang dihabiskan untuk setiap kategori. Dari sudut pandang praktis,

biaya lingkungan akan menerima perhatian manajemen hanya jika jumlahnya

signifikan. Dalam kenyataannya, biaya lingkungan dapat secara signifikan

mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Laporan biaya juga menyediakan

informasi yang berhubungan dengan distribusi relatif dari biaya lingkungan.

Biaya kegagalan lingkungan dapat dikurangi dengan menginvestasikan

lebih banyak aktivitas-aktivitas pencegahan dan deteksi. Dimungkinkan bahwa

model pengurangan biaya lingkungan akan berperilaku serupa dengan model

biasa kualitas total, yaitu bahwa biaya lingkungan yang terendah diperoleh pada

titik kerusakan nol, sama seperti titik cacat nol pada model biaya kualitas total.

Pengetahuan akan biaya lingkungan dan hubungannya dengan produk dapat

menjadi sebuah insentif untuk melakukan inovasi dan meningkatkan efisiensi.

2. Perlakuan Akuntansi atas biaya akuntansi lingkungan

a. Biaya Lingkungan dan Belanja

PSAK No. 33 edisi revisi 2012 tentang Aktivitas Pengupasan Lapisan

Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum taksiran

biaya untuk pengelolaan lingkungan hidup yang timbul sebagai akibat kegiatan

produksi tambang diakui sebagai beban. PSAP No.2 tentang Laporan Realisasi

Anggaran bahwa biaya pengelolaan limbah termasuk dalam elemen belanja

Page 6: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

16

(Trisnawati, 2014). Kriteria menurut PSAP No. 02 bahwa belanja adalah

semua pengeluaran dari rekening kas umum Negara atau Daerah yang

mengurangi saldo anggaran lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan

yang tidak diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.

b. Pengukuran biaya akuntansi lingkungan

Dalam SAP Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan paragraf 98,

pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan

memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan. Pengukuran adalah

penentuan jumlah rupiah suatu transaksi yang harus dicatat. Pengukuran lebih

berhubungan dengan masalah penentuan jumlah rupiah yang pertama kali pada

saat suatu transaksi terjadi menurut Suwarjono, 2010 dalam Trisnawati, 2014.

c. Pengakuan biaya akuntansi lingkungan

Pengakuan ialah pencatatan suatu jumlah rupiah ke dalam sistem

akuntansi sehingga jumlah tersebut akan mempengaruhi suatu pos dan

terefleksi dalam laporan keuangan (Suwarjono, 2010) dalam dalam Trisnawati,

2014. Kriteria pengakuan menurut FASB meliputi empat aspek, yaitu

definition, measurability, relevance dan reliability. Berdasarkan kriteria

tersebut, maka biaya pengolahan limbah dapat diakui dan dicatat ke dalam

sistem pencatatan yang akan mempengaruhi laporan keuangan. Hal ini

didasarkan pada kriteria-kriteria sebagai berikut :

1) Definition (definisi), bahwa pengolahan limbah diakui sebagai belanja karena

mengurangi ekuitas atau kekayaan daerah.

Page 7: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

17

2) Measurability (keterukuran), bahwa biaya-biaya yang timbul dapat diukur

dengan satuan uang yang berdasarkan jumlah yang dikeluarkan oleh Instalasi

Sanitasi sebagi penyelenggara pengolahan limbah.

3) Relevance (keberpautan), bahwa biaya-biaya tersebut timbul sebagai akibat

dari usaha pengolahan limbah yang dihasilkan dari kegiatan pelayanan

kesehatan kepada masyarakat.

4) Reliability (keterandalan), bahwa biaya tersebut benar-benar terjadi dan dapat

dipertanggung jawabkan oleh Instalasi Sanitasi sebagai salah satu cost center

(pusat biaya).

Pada SAP Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan paragraf 84

pengakuan dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria

pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan

menjadi bagian yang melengkapi unsur asset, kewajiban, ekuitas, pendapatan-

LRA, belanja, pembiayaan, pendapatan-LO sebagaimana akan termuat pada

laporan keuangan entitas pelaporan yang bersangkutan.

d. Penyajian dan Pengungkapan biaya akuntansi lingkungan

Pelaporan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan di Indonesia diatur

oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) yang menyarankan kepada perusahaan untuk

mengungkapkan tanggung jawab mengenai sosial dan lingkungan sebagaimana

tertulis pada Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no 1 (Revisi 2009) paragraf 12

berbunyi:

“Entitas dapat pula menyajikan, terpisah dari laporan keuangan, laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor lingkungan hidup

Page 8: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

18

memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap karyawan sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting”.

Pengungkapan berkaitan dengan cara pembeberan atau penjelasan hal-hal

informatif yang dianggap penting dan bermanfaat bagi pemakai, yaitu bagaimana

suatu informasi keuangan atau kebijakan akuntansi perusahaan tersebut

diungkapkan (Suwarjono, 2010 dalam Trisnawati, 2014). Berdasarkan PSAK No.

33 edisi revisi 2012 tentang Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum entitas mengungkapkan dalam

catatan atas laporan keuangan atas pengolahan limbah adalah :

1) Kebijakan akuntansi atas pembebanan biaya pengolahan limbah.

2) Kegiatan PLH yang sudah dilakukan dan yang sedang berjalan.

3) Adanya kewajiban bersyarat sehubungan dengan pengelolaan lingkungan

hidup (PLH) dan kewajiban lainnya sebagaimana diatur pada Standar

Akuntansi Keuangan.

Berdasarkan PSAP No. 4 tentang Catatan atas Laporan Keuangan, dalam

rangka pengungkapan yang memadai, Catatan atas Laporan Keuangan

mengungkapkan hal-hal sebagai berikut (Trisnawati, 2014):

1) Informasi Umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi.

2) Kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro.

3) Ikhtisar pencapaian target keuangan berikut hambatan dan kendalanya.

4) Kebijakan akuntansi yang penting.

5) Penjelasan pos-pos Laporan Keuangan.

6) Informasi tambahan lainnya yang diperlukan.

Page 9: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

19

3. Sistem akuntansi lingkungan

Sistem akuntansi lingkungan terdiri atas akuntansi konvensional dan ekologis:

a. Akuntansi lingkungan konvensional mengukur dampak-dampak dari

lingkungan alam pada suatu perusahaan dalam istilah-istilah keuangan.

b. Akuntansi ekologis mencoba untuk mengukur dampak suatu perusahaan

berdasarkan lingkungan, tetapi pengukuran dilakukan dalam bentuk unit

fisik (sisa barang produksi dalam kilogram, pemakaian energi dalam

kiloujoules), akan tetapi standar pengukuran yang digunakan bukan dalam

bentuk satuan keuangan.

4. Ruang lingkup akuntansi lingkungan

Sedangkan lingkup akuntansi lingkungan dibagi menjadi dua bagian yaitu:

a. Bagian pertama didasarkan pada kegiatan akuntansi lingkungan suatu

perusahaan baik secara nasional maupun regional.

b. Bagian kedua berkaitan dengan akuntansi lingkungan untuk perusahaan-

perusahaan dan organisasi lainnya.

5. Faktor konsep akuntansi lingkungan

Beberapa faktor mengenai konsep akuntansi lingkungan :

a. Biaya konservasi lingkungan (diukur dengan menggunakan nilai satuan

uang).

b. Keuntungan konservasi lingkungan (diukur dengan unit fisik).

Page 10: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

20

c. Keuntungan ekonomi dari kegiatan konservasi lingkungan (diukur dengan

nilai satuan uang/rupiah).

6. Dasar akuntansi lingkungan

Dimensi dasar dari akuntansi lingkungan di bagi ke dalam beberapa

kelompok, yaitu :

1. Relevansi

2. Keandalan

3. Netralitas

4. Dapat dimengerti

5. Dapat diperbandingkan

6. Dapat diverifikasi

7. Dasar menggunakan akuntansi lingkungan

Dengan mengidentifikasi dan mengendalikan biaya-biaya lingkungan,

sistem Akuntansi Manajemen Lingkungan dapat membantu manajer lingkungan

untuk menjustifikasi perencanaan produksi pembersih, dan mengidentifikasi cara-

cara baru dan penghematan uang serta memperbaiki kinerja lingkungan pada

waktu yang bersamaan, mengidentifikasi biaya-biaya lingkungan yang sering

tersembunyi dalam sistem akuntansi umum. Polluting products akan tampak lebih

menguntungkan dibandingkan dengan yang sebenarnya karena beberapa dari

biaya produksi tersembunyi, dan mungkin dijual dibawah harga. Produk

pembersih membawa beberapa biaya lingkungan melebihi polluting products

Page 11: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

21

(seluruh overhead) mereka mungkin memiliki keuntungan di bawah estimasi dan

melebihi harga. Ketika harga produk memengaruhi permintaan, persepsi harga

yang rendah dari perbaikan permintaan polluting products mereka dan

memberanikan perusahaan untuk melanjutkan produksi mereka, barangkali

walaupun melebihi sedikit polluting product. Akhirnya, penerapan akuntansi

lingkungan akan dikalikan dengan keuntungan yang diperoleh dari alat-alat

manajemen lingkungan lainnya.

8. Fungsi dan peran akuntansi lingkungan

a. Fungsi Internal

Fungsi internal (pihak penyelenggara usaha) memungkinkan untuk

mengatur biaya konservasi lingkungan dan menganalisis biaya dari

kegiatan-kegiatan konservasi lingkungan yang efektif dan efisien serta

sesuai dengan pengambilan keputusan.

b. Fungsi Eksternal

Fungsi ini berkaitan dengan aspek pelaporan keuangan SFAC No.1

menjelaskan bahwa pelaporan keuangan memberikan informasi yang

bermanfaat bagi investor dan kreditor, dan pemakai lainnya dalam

mengambil keputusan investasi, kredit dan yang serupa secara rasional.

Faktor penting yang perlu diperhatikan perusahaan adalah pengungkapan

hasil dari kegiatan konservasi lingkungan dalam bentuk data akuntansi.

Informasi yang diungkapkan merupakan hasil yang diukur secara

kuantitatif dari kegiatan konservasi lingkungan. Diharapkan dengan

Page 12: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

22

publikasi hasil akuntansi lingkungan akan berfungsi bagi perusahaan-

perusahaan dalam memenuhi pertanggungjawaban serta transparansi

mereka bagi para stakeholder yang secara simultan sangat berarti untuk

kepastian evaluasi dari kegiatan konservasi lingkungan.

9. Manfaat potensial akuntansi manajemen lingkungan

a. Bagi pemerintah

1) Semakin banyak industri yang mampu membenarkan program-

program lingkungan berdasarkan pada kepentingan keuangan

perusahaan sendiri, penurunan keuangan, politik dan beban

perlindungan lingkungan lainnya bagi pemerintah.

2) Penerapan akuntansi lingkungan oleh industri dapat memperkuat

efektifitas keberadaan kebijakan pemerintah/regulasi dengan

lingkungan sebagai hasil dari kebijakan/aturan-aturan.

3) Pemerintah dapat menggunakan data akuntansi manajemen lingkungan

industri untuk menaksir dan melaporkan ilmu tentang ukuran kinerja

lingkungan dan keuangan untuk pemerintah.

4) Data akuntansi manajemen lingkungan industri digunakan untuk

menginformasikan program kebijakan pemerintah.

5) Pemerintah dapat menggunakan data akuntansi manajemen lingkungan

industri untuk mengembangkan ilmu tentang pengukuran dan

pelaporan manfaat lingkungan serta pengungkapan keuangan suka rela

Page 13: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

23

dari industri, pendekatan inovatif dalam perlindungan lingkungan dan

program lain serta kebijakan-kebijakan pemerintah.

6) Data akuntansi manajemen lingkungan industri dapat digunakan untuk

akuntansi tingkat nasional atau regional.

b. Bagi masyarakat

1) Mampu untuk lebih efisien dan efektif menggunakan sumber-sumber daya

alam, termasuk air dan energi.

2) Mampu untuk mengurangi efektifitas biaya dari emisi.

3) Mengurangi biaya-biaya masyarakat luar yang berhubungan dengan polusi

seperti biaya terhadap monitoring lingkungan, pengendalian dan perbaikan

sebagaimana biaya kesehatan publik yang baik.

4) Menyediakan peningkatan informasi untuk meningkatkan kebijakan

pengambilan keputusan publik.

5) Menyediakan informasi kinerja lingkungan industri yang dapat digunakan

dalam luasnya kontek dari evaluasi kinerja lingkungan dan kondisi-kondisi

ekonomi area geografik.

c. Manfaat ekofisensi

Ekofisiensi menyatakan bahwa organisasi dapat menghasikan barang dan

jasa yang lebih bermanfaat sambil secara bersamaan mengurangi dampak

lingkungan yang negatif, konsumsi sumber daya, dan biaya. Ekofisiensi

mengimplikasikan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi berasal dari perbaikan

kinerja lingkungan. Beberapa penyebab dan insentif untuk ekofisiensi antara

lain:

Page 14: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

24

1) Permintaan pelanggan atas produk yang lebih bersih.

2) Pegawai yang lebih baik dan produktifitas yang lebih besar.

3) Biaya modal dan biaya asuransi yang lebih rendah.

4) Keuntungan sosial yang signifikan sehingga citra perusahaan menjadi

lebih baik.

5) Pengurangan biaya dan keunggulan bersaing.

10. Membebankan biaya lingkungan

Produk dan proses merupakan sumber biaya lingkungan. Proses produksi

dapat menciptakan residu/limbah padat, cair dan gas yang selanjutkan dilepas ke

lingkungan dan berpotensi merusak lingkungan. Setelah produk dijual,

penggunaan dan pembuangannya oleh pelanggan juga dapat mengakibatkan

kerusakan lingkungan. Biaya lingkungan pasca pembelian (environmental

postpurcase cost) semacam ini sering kali ditanggung oleh masyarakat, dan bukan

oleh perusahaan, sehingga merupakan biaya sosial. Perusahaan harus dapat

menentukan bagaimana membebankan biaya lingkungan ke produk dan proses.

Beberapa hal mendapat perhatian seperti berikut :

a. Biaya lingkungan penuh atau biaya privat penuh

1) Biaya lingkungan penuh (full environmental costing) adalah

pembebanan semua biaya lingkungan, baik yang bersifat privat

maupun sosial, ke produk. Biaya penuh memerlukan pengumpulan

data dari pihak luar perusahaan.

Page 15: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

25

2) Biaya privat penuh (full private costing) adalah pembebanan biaya

privat ke produk individual. Biaya lingkungan yang disebabkan

oleh proses internal perusahaan dibebankan ke produk. Biaya

privat menggunakan data yang dihasilkan di dalam perusahaan.

Pembebanan biaya secara tepat dapat digunakan untuk mengetahui

profitabilitas suatu produk dan memungkinkan peluang perbaikan dalam

desain produk, efisiensi ekonomi, dan kinerja lingkungan.

b. Biaya lingkungan berbasis fungsi atau berbasis aktivitas

1) Perhitungan biaya berbasis fungsi membentuk suatu kelompok biaya

lingkungan dan menghitung tingkat/tarifnya dengan menggunakan

penggerak tingkat unit seperti jumlah jam tenaga kerja atau jam mesin.

Biaya lingkungan dibebankan ke setiap produk berdasarkan pemakaian

jam pemakaian jam tenaga kerja atau jam mesin. Pendekatan ini cukup

memadai untuk produk yang relatif homogen, namun untuk banyak

produk yang bervariasi, pendekatan berbasis fungsi ini dapat

mengakibatkan distorsi biaya, misalnya jika ternyata dari sekian

banyak produk, hanya satu jenis produk yang menghasilkan emisi

maka biaya lingkungan seharusnya hanya dibebankan pada produk

yang bersangkutan.

2) Perhitungan berbasis aktivitas membebankan biaya ke aktivitas

lingkungan dan kemudian menghitung tingkat atau tarif aktivitas.

Tingkat ini digunakan untuk untuk membebankan biaya lingkungan ke

Page 16: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

26

produk berdasarkan penggunaan aktivitas. Untuk perusahaan yang

menghasilkan beragam produk, pendekatan berbasis aktivitas lebih

tepat digunakan

11. Penilaian biaya siklus

Biaya produk lingkungan dapat menunjukan kebutuhan untuk

meningkatkan pembenahan produk perusahaan. Pembenahan produk meliputi

praktik mendesain, membuat, mengolah, dan mendaur ulang produk untuk

meminimalkan dampak buruknya terhadap lingkungan. Untuk meningkatkan

pembenahan produk dilakukan penilaian siklus hidup (life cycle), yaitu

pengidentifikasian pengaruh lingkungan dari suatu produk selama siklus hidupnya

dan kemudian mencari peluang untuk memperoleh perbaikan lingkungan.

Penilaian siklus hidup membebankan biaya dan keuntungan pada pengaruh

lingkungan dan perbaikan.

Siklus hidup suatu produk meliputi: (1) ekstraksi sumber daya, (2)

pembuatan produk, (3) penggunaan produk, serta (4) daur ulang dan pembuangan.

Pengemasan produk merupakan bagian siklus hidup semacam ini menggabungkan

sudut pandang pemasok, produsen dan pelanggan. Penilaian biaya siklus hidup

merupakan bagian mendasar dari penilaian siklus hidup. Penilaian biaya siklus

hidup membebankan biaya ke dampak lingkungan dari beberapa desain produk.

Biaya ini adalah fungsi dari penggunaan bahan baku, energi yang dikonsumsi, dan

pelepasan ke lingkungan yang berasal dari manufaktur produk.

Penilaian siklus hidup didefinisikan oleh tiga tahapan formal:

Page 17: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

27

a. Analisis persediaan (inventory analysis): memberikan perincian bahan

baku, energi, dan pelepasan ke lingkungan dari suatu produk.

b. Analisis dampak (impact analysis): menilai pengaruh lingkungan dari

beberapa desain dan memberikan peringkat relatif/penilaian biaya dari

pengaruh-pengaruh tersebut.

c. Analisis perbaikan (improvement analysis): bertujuan untuk mengurangi

dampak lingkungan yang ditunjukkan oleh analisis persediaan dampak.

12. Akuntansi pertanggungjawaban lingkungan berbasis strategi

Jika paradigma ekofiensi diterima, maka perspektif lingkungan dapat

diterima sebagai perfektif tambahan dalam Balance Scorecard karena perbaikan

kinerja lingkungan dapat menjadi sumber dari keunggulan bersaing. Sistem

manajemen berbasis strategi menyediakan kerangka kerja operasional untuk

memperbaiki kinerja lingkungan.

Perspektif lingkungan memiki lima tujuan utama, yaitu: (1) meminimalkan

penggunaan bahan baku atau bahan yang yang masih asli; (2) meminimalkan

penggunaan bahan berbahaya; (3) meminimalkan kebutuhan energi untuk

produksi dan penggunaan produk; (4) meminimalkan pelepasan limbah padat,

cair, dan gas; dan (5) memaksimalkan peluang untuk daur ulang.

Manajemen berbasis aktivitas menyediakan sistem operasional yang

menghasilkan perbaikan lingkungan. Aktivitas lingkungan diklasifikasikan

sebagai aktivitas bernilai tambah (value added) dan tidak bernilai tambah

(nonvalue added). Kunci dari pendekatan lingkungan ini adalah mengidentifikasi

Page 18: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

28

akar penyebab aktivitas tak bernilai tambah kemudian mendesain ulang produk

serta proses untuk meminimalkan dan akhirnya menghilangkan aktivitas tak

bernilai tambah tersebut.

Perbaikan keuntungan harus menghasilkan keuntungan keuangan yang

signifikan. Hal ini berarti bahwa perusahaan telah mencapai trade off yang

menguntungkan antara aktivitas kegagalan dan aktivitas pencegahan. Jika

keputusan ekofisien yang dibuat, maka total biaya lingkungan harus terhapus

bersamaan dengan perbaikan kinerja lingkungan. Hal ini bisa diukur dengan

menggunkan tren biaya lingkungan tak bernilai tambah dan tren total biaya

lingkungan, yaitu dengan: (1) mempersiapkan laporan biaya lingkungan yang tak

bernilai tambah dari periode berjalan dan membandingkannya dengan periode

sebelumnya, atau (2) menghitung biaya lingkungan total sebagai presentanse

penjualan dan menelusuri nilai ini selama beberapa periode.

Page 19: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

29

B. Rumah Sakit

1. Pengertian Rumah Sakit

Rumah sakit menurut WHO yang dimuat dalam WHO Technical Report

series No. 122/1957 yang berbunyi : “Rumah Sakit adalah bagian integral dari

suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan

kesehatan paripurna, kuratif dan preventif kepada masyarakat, serta pelayanan

rawat jalan yang diberikannya guna menjangkau keluarga di rumah. Rumah

sakit juga merupakan pusat pendidikan dan latihan tenaga kesehatan serta pusat

penelitian bio-medik” (Bastian, 2008).

2. Fungsi utama Rumah Sakit

Fungsi utama rumah sakit adalah sebagai sarana pelayanan kesehatan

maupun bagian mata rantai rujukan pelayanan kesehatan. Berdasarkan

pengalaman sampai saat ini, pengaduan mengenai pelanggaran maupun

malpraktek yang dilakukan oleh dokter tidak kurang 80% terjadi di rumah

sakit. Lagi pula, segala prinsip yang berlaku di rumah sakit secara

proporsional dapat juga diberlakukan di sarana pelayanan kesehatan lainnya

(Bastian,2008).

3. Perkembangan Rumah Sakit

Rumah Sakit merupakan suatu lembaga yang padat modal, padat karya,

dan padat ilmu serta teknologi, di mana untuk mencapai efisiensi yang tinggi,

diperlukan profesionalisme yang andal dalam hal pengelolaan lembaga bisnis

yang modern. Namun, undang-undang No.23 tahun 1992 tentang kesehatan

(Khususnya dalam BAB III, Pasal 8, dan BAB VI, Pasal 57) mewajibkan

Page 20: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

30

setiap peran serta masyarakat dalam berbagai penyelengggaraan upaya

kesehatan untuk selalu memperhatikan fungsi sosialnya. Demikian pula,

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dalam kode etik

Rumah Sakit Indonesia (KODERSI) yang baru disahkan dalam kongresnya

yang ke VIII, dibulan november 2000, di Jakarta, menetapkan Rumah Sakit

sebagai suatu “Unit Sosio-Ekonomi” yang majemuk (Bastian, 2008).

4. Sistem pengelompokan Rumah Sakit

Berikut ini sistem pengelompokan rumah sakit yang paling umum

digunakan saat ini :

a. Sistem pengelompokan yang paling dirasa bermanfaat dan bertahan lama

digunakan oleh Asosiasi Rumah Sakit Amerika (AHA), di mana

klasifikasi rumah sakit terbagi menjadi rumah sakit pemerintah

(komunitas) dan nonpemerintah (nonkomunitas) sesuai dengan tingkat

akses pemerintah pada rumah sakit itu.

b. Jenis pengelompokan lain adalah berdasarkan kepemilikan atau kontrol

atas kebijakan dan cara operasi rumah sakit. Rumah sakit di bawah

kepemilikan kelembagaan atau institusi dibagi dalam 4 kelompok : (1)

pemerintah nonfederal, (2) nonpemerintah nirlaba, (3) rumah sakit yang

dimiliki investor, dan (4) rumah sakit milik pemerintah daerah.

c. Berdasarkan rata-rata lama tinggal, rumah sakit dikelompokkan menjadi

rumah sakit jangka pendek atau jangka panjang. Menginap di rumah sakit

dikatakan singkat bila rata-rata tinggal kurang dari 30 hari; sementara rata-

Page 21: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

31

rata nasional berada di bawah tujuh hari. Sedangkan dikatakan lama bila

tinggal lebih dari 30 hari.

d. Rumah sakit juga dapat dikelompokan menurut jumlah tempat tidur : 6-24

tempat tidur, 25 sampai 46, 50 sampai 99, 100-199, 200-299, 300-

399,400-499 dan 500 atau lebih. Kategori ini biasanya dikombinasikan

dengan pengelompokan lain misalnya Rumah Sakit Daerah, atau Rumah

Sakit pendidikan dan nonpendidikan dalam rangka menentukan biaya rata-

rata per jenis lembaga.

e. Rumah sakit juga dikelompokan menurut rumah sakit yang di akreditasi

dan yang bukan. Akreditasi menjadi sangat penting bagi rumah sakit untuk

alasan keuangan. Akreditasi juga merupakan tanda pembeda atas kualitas

pelayanan terhadap pasien yang diberikan oleh rumah sakit, dan bagi

banyak program non rumah sakit yang juga harus memenuhi syarat itu.

f. Rumah sakit pendidikan dan nonpendidikan. Rumah sakit pendidikan

berpartisipasi dalam pendidikan para dokter melaui program residensi.

Berdasarkan jenis dan jumlah program residensi yang ditawarkan, sebuah

rumah sakit juga dapat dikelompokan sebagai lembaga yang

pendidikannya lebih diutamakan atau sebaliknya hanya sebagai pelengkap.

g. Rumah sakit menurut integrasi vertikal atau konsep regionalisasi . menurut

sistem ini, rumah sakit dibagi menjadi pusat layanan pertama, layanan

kedua dan layanan ketiga.

Page 22: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

32

5. Tujuan organisasi

Rumah sakit yang ideal adalah tempat di mana orang-orang yang sakit bisa

mencari dan menerima perawatan, di samping memberikan pendidikan klinis

kepada para mahasiswa kedokteran, perawat serta seluruh ahli kesehatan.

Rumah sakit yang dimaksud juga memberikan pendidikan berkelanjutan bagi

para dokter praktek, dan secara bertahap menjalankan fungsi lembaga

pembelajaran yang lebih tinggi bagi seluruh lingkungan, komunitas serta

daerah. Selain peran pendidikannya, rumah sakit modern juga memimpin

studi penyelidikan dan penelitian dalam ilmu pengetahuan kedokteran, baik

tentang catatan klinis maupun para pasien, serta penelitian dasar dalam ilmu

fisika dan ilmu kimia. Pembangunan rumah sakit diatur atau dipengaruhi oleh

undang-undang negara, peraturan departemen kesehatan, peraturan daerah

dan standar lainnya (Bastian, 2008).

6. Modal

Pemberlakuan UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan

UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan

Daerah akan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pembangunan,

termasuk pembangunan kesehatan.

Desentralisasi upaya kesehatan memberi wewenang kepada kabupaten dan

kota untuk menentukan sendiri prioritas pembangunan kesehatan daerahnya

sesuai dengan kemampuan, kondisi, dan kebutuhan setempat. Dengan

sendirinya, keberhasilan pembangunan kesehatan di masa mendatang sangat

tergantung pada kemampuan sumber daya manusia yang ada di daerah.

Page 23: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

33

Dewasa ini terjadi peningkatan peran pihak ketiga dalam mengatur

pembiayaan kesehatan melaui sistem asuransi, baik publik maupun swasta.

Keadaan ini akan semakin berkembang di Indonesia di masa yang akan

datang bila perdagangan antar negara menjadi semakin bebas. Dengan

demikian, kebijakan untuk menganut upaya pembangunan kesehatan dengan

sistem praupaya sangat menentukan arah pemberian pelayanan kesehatan

kepada masyarakat. Pelayanan diharapkan semakin merata dengan kualitas

yang lebih memadai.

7. Pertanggungjawaban

Sebagai bukti pertanggungjawaban unit pelayanan rumah sakit pemerintah

daerah, setiap Unit Rumah Sakit berkewajiban memberikan laporan akhir

sebagai bukti pertanggungjawaban atas pelakasanaan kegiatan usaha selama

suatu periode pelaporan. Laporan tersebut meliputi laporan alokasi dana,

laporan pendapatan, dan laporan pengeluaran ke pemerintah daerah setempat.

Dengan dikeluarkannya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah dan UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara

Pusat dan Daerah, pemerintah daerah berhak menerima laporan

pertanggungjawaban akhir dari unit Rumah Sakit Pemerintah. Dana yang

digunakan sebagai biaya opersional untuk pelayanan kesehatan unit

pelayanan kesehatan juga berasal dari pemerintah daerah setempat.

Sedangkan untuk unit pelayanan kesehatan nonpemerintah, modal berasal

dari pemilik yang biasanya berbentuk yayasan. Oleh karena itu, yayasan

Page 24: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

34

merupakan pemilik unit tersebut, sehingga laporan pertanggungjawaban

diserahkan kepada pimpinan yayasan.

C. Limbah Rumah Sakit

Limbah Rumah Sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan

rumah sakit dalam bentuk padat, cair, pasta (gel), dan gas yang dapat mengandung

mikroorganisme patogen bersifat infeksius, bahkan kimia beracun, dan sebagian

bersifat radioaktif (Depkes, 2006). Menurut Kepmenkes

No.1204/Menkes/SK/X/2004, limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-

macam mikroorganisme bergantung pada jenis rumah sakit dan tingkat

pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang (Djohan dan Halim, 2013).

Jenis-Jenis limbah rumah sakit

Berdasarkan Bentuknya

1. Limbah padat

Limbah padat rumah sakit adalah semua limbah yang berbentuk padat

akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri atas limbah medis padat dan

nonmedis (Keputusan Menkes RI NO.1204/MENKES/SK/X/2004), yaitu

sebagai berikut :

a) Limbah non-medis yaitu limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di

rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman,

dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada

teknologinya.

Page 25: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

35

b) Limbah medis padat, yaitu limbah pada yang terdiri atas limbah

infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi,

limbah sitoksis, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan

kandungan logam berat yang tinggi.

c) Limbah infeksius adalah limbah yang terkontaminasi organisme

patogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme

tersebut dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan

penyakit pada manusia yang rentan.

d) Limbah sangat infeksius adalah limbah berasal dari pembiakan dan

sediaan bahan sangat infeksius, otopsi, organ binatang percobaan dan

bahan lain yang telah diinokulasi, terinfeksi atau kontak dengan bahan

yang sangat infeksius.

2. Limbah medis cair

Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal

dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung

mikroorganisme, bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi

kesehatan (Depkes,2006) (Djohan dan halim,2013). Air limbah rumah

sakit adalah seluruh buangan cair yang berasal dari hasil proses seluruh

kegiatan rumah sakit yang meliputi limbah cair domestik yakni buangan

kamar dari rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme,

bahan kimia beracun, dan radioaktif (Said, 1999) (Djohan dan Halim,

2013).

Page 26: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

36

3. Limbah medis gas

Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal

dari kegiatan pembakaran di rumah sakit seperti insinerator, dapur,

perlengkapan generator, anastesi, dan pembuatan obat sitotoksik.

4. Limbah sitotoksis adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi dari

persiapan dan pemberian obat sitotoksis untuk kemoterapi kanker yang

mempunyai kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan

sel hidup.

Berdasarkan bahaya

1) Limbah Nonmedis

Limbah nonmedis di rumah sakit merupakan limbah yang

dihasilkan dari kegiatan rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur,

perkantoran, taman dan halaman, unit pelayanan berupa karton, kaleng dan

botol, serta sampah dari ruangan pasien yang dapat dimanfaatkan kembali

apabila ada teknologinya.

2) Limbah Medis

Limbah medis merupakan limbah merupakan limbah yang berasal

dari pelayanan medis, perawatan, gigi, farmasi atau sejenis, pengobatan,

serta penelitian atau pendidikan yang menggunakan benda-benda beracun,

infeksius berbahaya atau bisa membahayakan kecuali jika dilakukan

pengamanan tertentu. Bentuk limbah medis bermacam-macam dan

berdasarkan potensi yang terkandung di dalamnya dapat dikelompokan

sebagai berikut.

Page 27: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

37

a) Limbah benda tajam

Limbah benda tajam adalah objek atau alat yang memiliki sudut

tajam, sisi, ujung, atau bagian menonjol yang dapat memotong atau

menusuk kulit seperti jarum hipodermik, perlengkapan intravena, pipet

pasteur, pecahan gelas, dan pisau bedah. Semua benda tajam ini

mempunyai potensi bahaya dan dapat menyebabkan cedera melalui

sobekan dan tusukan. Benda-benda tajam yang tebuang mungkin

terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi, bahan

beracun, atau radioaktif.

b) Limbah Infeksius

Limbah infeksius adalah limbah yang terkontaminasi organisme

patogen yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan organisme tersebut

dalam jumlah dan virulensi yang cukup untuk menularkan penyakit pada

manusia rentan.

Limbah infeksius mencakup pengertian sebagai berikut :

1) Limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi

penyakit menular (perawatan intensif).

2) Limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan

mikrobiologi dari poliklinik dan ruang perawatan/isolasi penyakit

menular.

c) Limbah jaringan tubuh

Limbah jaringan tubuh meliputi organ, anggota badan,darah, dan

cairan tubuh yang biasanya dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi.

Page 28: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

38

d) Limbah sitotoksik

Libah sitotoksik adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi dari

persiapan dan pemberian obat sitotoksik untuk komoterapi kanker yang

mempunyai kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan

sel hidup. Limbah yang terdapat limbah ini di dalamnya harus dibakar

dalam insinerator dengan suhu di atas 1.000°C.

e) Limbah farmasi

Limbah farmasi dapat berasal dari obat-obatan kadaluarsa,obat-

obat yang terbuang karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau

kemasan yang terkontaminasi, obat-obatan yang dibuang oleh pasien atau

masyarakat, obat-obatan yang tidak lagi diperlukan oleh institusi yang

bersangkutan, dan limbah yang dihasilkan selama produksi obat-obatan.

f) Limbah kimia

Limbah kimia adalah limbah yang dihasilkan dari penggunaan

bahan kimia dalam tindakan medis, laboratorium, proses sterilisasi, dan

riset.

g) Limbah radioaktif

Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio

isotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radio nukleida.

Limbah ini dapat berasal dari tindakan kedokteran nuklir dan

bakteriologis, yang dapat berbentuk padat, cair atau gas.

Page 29: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

39

h) Limbah plastik

Limbah plastik adalah bahan plastik yang dibuang oleh klinik,

rumah sakit, dan sarana pelayanan kesehatan lain seperti barang-barang

disposable (sekali pakai) yang terbuat dari plastik dan juga plastik

peralatan serta perlengkapan medis.

Pemilahan dan cara pengumpulan limbah Rumah Sakit

1. Limbah Rumah Tangga

Limbah rumah tangga atau sampah berbentuk padat yang terdapat

di Rumah Sakit pada umumnya diidentifikasi, apakah sampah tersebut

merupakan sampah basah, seperti sisa makanan, minuman, sayuran, serta

sampah lain yang dapat membusuk, atau sampah kering, seperti kemasan

plastik, kertas, dan sebagainya. Sampah basah ini harus dikumpulkan

dalam tempat sampah yang dilapis dengan kantong plastik hitam dan

tempat sampah tersebut harus tertutup.

Limbah padat rumah tangga yang bersifat kering seperti kertas dan

plastik dimasukan ke dalam tempat sampah yang dilapisi kantong plastik

berwarna hitam. Berdasarkan Kepmenkes No.

1204/MENKES/SK/X/2014 persyaratan tempat sampah atau pewadahan

untuk limbah padat rumah tangga antara lain sebagai berikut :

1) Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan

mempunyai permukaan yang mudah dibersikan pada bagian dalamnya,

misalnya fiberglass.

2) Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan

Page 30: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

40

3) Terdapat minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan

kebutuhan.

4) Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadah melebihi 3 x 24 jam atau

apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah maka harus diangkut

supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang

pengganggu.

Pewadahan limbah padat nonmedis harus dipisahkan dari limbah medis

padat dan ditampung dalam kantong plastik warna hitam. Setiap tempat

pewadahan limbah padat harus dilapisi kantong plastik warna hitam

sebagai pembungkus limbah padat dengan lambang “domestik” warna

putih. Bila kepadatan lalat di sekitar tempat limbah padat melebihi 2 (dua)

ekor per block grill, maka perlu dilakukan pengendalian lalat.

2. Limbah Medis

Limbah medis di rumah sakit dipilah berdasarakan limbah

infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah

sitoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan,

dan limbah dengan kandungan logam, limbah kontainer bertekanan, dan

limbah dengan kandungan logam.

Berikut persyaratan untuk pewadah limbah medis padat :

1) Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan

mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya, misalnya

fiberglass.

Page 31: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

41

2) Di setiap sumber penghasilan limbah medis harus tersedia tempat

pewadahan yang terpisah dengan limbah padat nonmedis.

3) Kantong plastik diangkat setiap hari atau kurang sehari apabila 2/3 bagian

telah terisi limbah.

4) Untuk benda-benda tajam hendaknya ditampung pada tempat khusus

(safety box) seperti botol atau karton yang aman.

5) Tempat pewadahan limbah padat medis infeksius dan sitotoksis yang tidak

langsung kontak dengan limbah harus segera dibersikan dengan larutan

disinfektan apabila akan dipergunakan kembali, sedangkan untuk kantong

plastik yang telah dipakai dan kontak langsung dengan limbah tersebut

tidak boleh digunakan lagi.

3. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Menurut Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang

perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, bahan berbahaya dan

beracun (B3) adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat,

konsentrasi, dan/atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak

langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup,

dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan

hidup manusia dan makhluk hidup lain. Adapun limbah B3 adalah sisa

suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3.

Limbah B3 di rumah sakit dipilah berdasarkan karakteristik dari

limbah B3 tersebut. Limbah B3 di kumpulkan dalam suatu

wadah/kemasan (apabila cair) dan suatu lokasi yang memang diperuntukan

Page 32: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

42

untuk menampung limbah B3. Setiap penghasil limbah B3 termasuk

rumah sakit harus memiliki tempat penyimpanan sementara ini harus

mendapatkan izin dari pemerintah setempat. Penyimpanan limbah B3

maksimal 90 hari, kecuali bagi penghasil dengan jumlah timbunan limbah

B3 lebih kecil dari 50 kg per hari (Djohan dan Halim, 2013).

4. Limbah Cair

Limbah cair di rumah sakit dipilah berdasarkan sumber dan

kandungan/sifat dari limbah cair itu sendiri. Limbah cair yang serupa

dikumpulkan melalui sistem perpipaan dalam bak penampung dengan

perlakuan yang berbeda bergantung pada sifat limbah cair yang akan

ditampung. Proses pengumpulan ini memerlukan grativikasi agar air

limbah yang dihasilkan dapat mengalir dan terkumpul di bak pengumpul

untuk mendapat perlakuan selanjutnya. Pada bangunan rumah sakit yang

bertingkat (vertikal), proses pengumpulan air limbah tentu akan lebih

mudah dengan pengaliran langsung ke bawah melalui sistem perpipaan,

tetapi pada bangunan rumah sakit yang tidak bertingkat (horizontal),

pengumpulan air limbah lebih sulit sehingga diperlukan bantuan pompa

dalam proses pengumpulan (Djohan dan Halim,2013).

5. Limbah Gas

Berbeda dengan bentuk limbah lainnya, limbah gas tidak dapat

dipilah dan dikumpulkan pada penampungan dan dalam kurun waktu

tertentu. Tidak tercampurnya limbah gas tertentu dengan limbah gas

lainnya bukan disebabkan karena pemilahan, tetapi lokasi setiap

Page 33: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

43

peralatan/aktivitas penghasil limbah gas yang tidak berdekatan. Limbah

gas yang dihasilkan biasanya disalurkan ke udara terbuka dengan

menggunakan cerobong pada ketinggian tertentu hingga limbah gas

tersebut terbawa angin dan terurai.

6. Limbah Radoaktif

Limbah radioaktif harus dikategorikan dan dipilah berdasarkan

ketersediaan pilihan cara pengolahan, pengondisian, penyimpanan, dan

pembuangan. Pengumpulan limbah radioaktif bergantung pada bentuk dari

limbah itu sendiri. Pada limbah radioaktif cair, pengumpulan dapat

dilakukan dengan menggunakan saluran dan tangki penampung (apabila

volume limbah besar) atau dengan pewadahan berupa botol plastik yang

ditempatkan dalam ember atau baki yang dapat menampung seluruh isi

botol tersebut bila tumpah atau bocor, kecuali untuk limbah yang karena

sifat kimianya harus ditampung di dalam botol gelas.

Wadah yang diberi bahan penyerap dapat dipergunakan untuk

menampung limbah radioaktif cair sehingga menjadi bentuk padat.

Sementara untuk wadah penampung limbah radioaktif padat dapat berupa

drum atau tong tertutup yang bagian dalamnya dilapisi dengan kantong

plastik atau kertas kedap air yang kuat dan mudah diambil supaya dengan

demikian limbah dapat dipindahkan tanpa menimbulkan kontaminasi.

Limbah radioaktif padat yang mudah terbakar ditampung dalam kertas

kedap air atau kantong plastik tebal. Bahan-bahan tertentu seperti

polyvinyl chloride (plastik) dengan volume yang besar mungkin perlu

Page 34: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

44

ditampung tersendiri, karena bahan tersebut menimbulkan gas asam pada

waktu pembakaran dan besar kemungkinan dapat menibulkan karat pada

baja dan komponen-komponen instalasi pembakaran.

D. Limbah Medis

1. Pengertian limbah medis

Djojodibroto (1997) Djohan dan Halim (2013) menyatakan bahwa limbah

medis atau limbah klinis adalah limbah yang berasal dari pelayanan medis,

pelayanan perawatan, farmasi, laboratorium, radiografi, dan riset atau

pemelitian. kemudian, limbah tersebut digolongkan menjadi limbah benda

tajam,limbah infeksius, limbah jaringan tubuh, limbah sitotoksis, limbah

farmasi, limbah kimia, dan limbah radioaktif.

2. Kategori limbah medis

Berikut pembagian golongan limbah medis di rumah sakit :

a. Golongan A

1) Dressing bedah (seperti kasa/perban,kapas,plester), swab (kain/kasa

penyeka), dan semua limbah terkontaminasi.

2) Bahan linen khusus penyakit infeksi.

3) Seluruh jaringan tubuh manusia, hewan dari laboratorium, dan hal lain

yang berkaitan dengan swab dan dressing.

b. Golongan B

Syringe (suntikan) bekas, jarum, catidge (kemasan yang keras untuk obat),

pecahan gelas, dan benda tajam lainya.

Page 35: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

45

c. Golongan C

Limbah laboratorium dan postpartum kecuali yang masuk golongan A.

d. Golongan D

Limbah bahan kimia dan farmasi tertentu.

e. Golongan E

Pelapis bed-pan disposable,urinoir,incontinence-pad, dan stamag bags.

3. Pengelolaan limbah medis

Pengelolaan limbah medis adalah suatu tindakan-tindakan yang dilakukan

terhadap limbah, yang dimulai dari tahap pengumpulan di tempat sumber,

pengangkutan, penyimpanan/penampungan, serta tahap pengelolaan akhir yang

berarti pembuangan atau pemusnahan (Kusnoputranto, 2000) (Djohan dan

Halim, 2013). Dalam ilmu kesehatan lingkungan, suatu pengelolaan limbah

dianggap baik jika limbah yang diolah tidak menjadi tempat

perkembangbiaknya bibit penyakit, serta tidak menjadi perantara

penyebarluasan suatu penyakit. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah tidak

mencemari udara, air atau tanah, tidak menimbulkan bau, dan tidak

menimbulkan kebakaran (Azwar, 1996) (Djohan dan Halim, 2013).

a. Pengumpulan

Limbah padat medis yang dihasilkan dari setiap unit di perawatan

dan penunjang perawatan dikumpulkan sesuai dengan peraturan dan

kebijakan masing-masing rumah sakit yang mengacu pada Kepmenkes

No. 1204 Tahun 2004. Pengumpulan limbah ini berdasarkan pemilahan

jenis limbah medis padat. Persyaratan tempat pengumpulan sama seperti

Page 36: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

46

pada penjelasan mengenai “Pemilahan dan Cara Pengumpulan Limbah

Rumah Sakit” di atas. Penggunaan label yang sesuai dengan kategori

limbah. Detail warna dan lambang label pada wadah limbah medis adalah

sebagai berikut :

Gambar 2.1

Sumber: Djohan. A. J., and Devi Halim. 2013. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit.

Buku, Penerbit Salemba Medika, Indonesia

Standar pengumpulan serta penggunaan kode dan label medis ini berfungsi

untuk memilah-milah limbah di seluruh rumah sakit sehingga limbah dapat

dipisahkan di tempat sumbernya. Beberapa ketentuan juga memuat hal berikut :

Page 37: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

47

1. Bangsal harus memiliki minimal dua macam tempat limbah, satu untuk

limbah medis (dilapisi kantong plastik berwarna kuning) dan satunya lagi

untuk nonmedis (dilapisi kantong warna hitam).

2. Semua limbah dari kamar operasi dianggap limbah medis.

3. Semua limbah dari kantor (seperti alat-alat tulis) dianggap limbah non

medis.

4. Semua limbah yang keluar dari unit patologi harus dianggap sebagai

limbah medis dan perlu dinyatakan aman sebelum dibuang.

b. Pengangkutan

Hal yang perlu diperhatikan saat proses ini adalah :

1. Kantong limbah harus diletakan dalam kontainer yang kuat dan tertutup.

2. Kantong limbah medis padat harus aman dari jangkauan manusia atau

binatang.

3. Petugas yang menagani limbah harus menggunakan alat pelindung diri.

c. Penampungan

Limbah medis padat yang telah diangkut, ditampung di tempat

penampungan sementara (TPS) yang terdapat di rumah sakit. Kosntruksi TPS

limbah medis padat harus berupa bak penampungan yang permanen, tertutup,

dan memiliki kemiringan pada dasar bangunan agar mudah dibersihkan. Pada

TPS harus diberi simbol atau petunjuk yang menginformasikan bahwa bak

tersebut menampung limbah-limbah yang berbahaya sehingga tidak ada orang

lain selain petugas yang besentuhan dengan kantong limbah yang telah

dikumpulkan.

Page 38: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

48

d. Pemusnahan atau Pembuangan Akhir

Metode yang digunakan untuk mengolah dan membuang limbah medis

bergantung pada faktor-faktor khusus yang sesuai dengan institusi yang

berkaitan dengan peraturan yang berlaku dan aspek lingkungan yang

berpengaruh terhadap masyarakat. Teknik pengolahan limbah medis (medical

waste) yang mungkin diterapkan adalah sebagai berikut :

1. Insinerasi

2. Sterilisasi dengan uap panas/autoclaving (pada kondisi uap jenuh bersuhu

121°C).

3. Sterilisasi dengan gas (gas yang digunakan berupa ethylene exide atau

formaldehida).

4. Desinfeksi zat kimia dengan proses penggilingan atau grinding

(menggunakan cairan kimia sebagai desinfektan).

5. Inaktivasi suhu tinggi.

6. Radiasi.

7. Microwave treatment.

8. Grinding dan shredding / pengoyak (proses homogenisasi bentuk atau

ukuran sampah).

9. Pemantapan/pemadatan, dengan tujuan untuk mengurangi volume yang

terbentuk.

Cara pemusnahan berdasarkan Kepmenkes No. 1204 Tahun 2004 tentang

persyaratan Kesehatan lingkungan rumah sakit tentang Persyaratan kesehatan

lingkungan rumah sakit adalah sebagai berikut :

Page 39: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

49

1. Limbah infeksius atau benda tajam

a. Disterilisasi dengan pengolahan panas dan basah seperti dalam

autoclave. Limbah infeksius lainnya dengan cara disinfeksi.

b. Benda tajam diolah dengan insinerator dan kapsulnisasi.

c. Residu dari insinerator di buang ke pembuangan B3 atau dibuang ke

TPA.

2. Limbah Farmasi

Diolah dengan insinerator pirolitik, rotary klin, dikubur secara aman,

sanitary landfill, dibuang ke air limbah.

3. Limbah sitotoksis

Limbah ini dianjurkan untuk dikembalikan kepada distributor, atau

insinerasi pada suhu tinggi (1.200° C), dan degradasi kimia. Cara lainnya

dengan kapsulnisasi.

4. Limbah bahan kimiawi

Limbah kimia biasa bisa dibuang ke saluran air kotor. Limbah kimia

berbahya dalam jumlah kecil dimusnahkan dengan insinerator pirolitik,

kapsulnisasi, atau di timbun (landfill). Bila dalam jumlah besar harus

dimusnahkan dalam insinerator yang dilengkapi dengan alat pembersih

gas. Cara lainnya dengan mengembalikan kepada distributor.

5. Limbah dengan kandungan logam yang tinggi

Limbah seperti merkuri atau kandium disarankan dikirim ke negara yang

mempunyai fasilitas pengolahan limbah dengan kandungan logam berat

tinggi. Cara lain dengan membuang ke tempat penyimpanan yang aman

Page 40: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

50

untuk limbah industri berbahaya. Bisa juga dengan cara kapsulnisasi

kemudian landfill.

6. Kontainer bertekanan

Menangani limbah ini dengan cara daur ulang atau penggunaan kembali.

Bisa juga dikembalikan kepada distributor.

7. Limbah radioaktif

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1999, tentang

Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, pasal 5, dan dan

penjelasannya ditentukan limbah ini dikumpulkan dalam kurun waktu

tertentu lalu mengirimkannya ke Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN)

adalah instansi pengelola limbah radioaktif.

E. Lingkungan Hidup

Pengertian lingkungan hidup

Pengertian lingkungan hidup menurut Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 23 Tahun 1997 pasal 1 (satu) ayat 1 (satu) tentang Pengelolaan

Lingkungan Hidup sebagai berikut :

“Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain”

Pengertian lainnya menurut kamus bahasa Indonesia online lingkungan hidup

adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup,

termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi perikehidupan dan

Page 41: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

51

kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya; (2) lingkungan di luar suatu

organisme yang terdiri atas organisme hidup, seperti tumbuhan, hewan, dan

manusia. Lingkungan juga dapat diartikan menjadi segala sesuatu yang ada di

sekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia.

Darwin, 2007 (Pratiwi), melihat ada empat hal alasan isu lingkungan

semakin signifikan, yaitu :

1. Ukuran perusahaan yang semakin besar. Semakin besar perusahaan,

diperlukan akuntabilitas yang lebih tinggi dalam pembuatan keputusan

berkaitan dengan operasi, produk dan jasa yang dihasilkan.

2. Aktivis dan LSM bidang lingkungan hidup telah tumbuh dengan pesat di

seluruh dunia termasuk Indonesia. Mereka akan mengungkap sisi negatif

perusahaan yang terkait dengan isu lingkungan hidup dan akan menuntut

tanggung jawab atas kerusakan lingkungan atau dampak sosial yang timbul

oleh operasi perusahaan.

3. Reputasi dan citra perusahaan. Perusahaan-perusahaan saat ini menyadari

bahwa reputasi, merek, dan citra perusahaan merupakan isu strategis bernilai

tinggi dan harus dilindungi.

4. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat. Isu lingkungan dan

sosial yang berdampak negatif akan menyebar dan dapat diakses dengan

mudahnya menggunakan teknologi informasi.

Dari kelima judul di landasan teori di atas mempunyai hubungan yang kuat

dalam penelitian yang penulis lakukan. Hubungan ini juga sudah dipertegas oleh

peneliti-peneliti sebelumnya. Hubungan itu antara akuntansi lingkungan, yang

Page 42: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

52

diterapkan di rumah sakit, untuk terkait penanganan secara akuntansi dari adanya

limbah rumah sakit dan limbah medis yang kemungkinan besar jika tidak diolah

dengan baik akan mengakibatkan pencemaran lingkungan. Sebuah perusahaan

dalam menjalankan kegiatannya bisa menimbulkan kerusakan lingkungan yang

diakibatkan oleh limbah namun ada cara yang bisa dilakukan untuk mencegah

(bila pencemaran belum terjadi) dan mendeteksi (jika ada kemungkinan terjadi

pencemaran) dan memperbaiki (jika sudah terjadi pencemaran). Cara itu adalah

dengan adanya penerapan akuntansi lingkungan dalam rumah sakit. Akuntansi

lingkungan ini dilakukan dengan memasukan biaya lingkungan dalam anggaran

perusahaan. Dengan biaya lingkungan yang terdiri atas biaya pencegahan

lingkungan, biaya deteksi lingkungan, biaya kegagalan internal lingkungan dan

biaya kegagalan eksternal lingkungan ini, kinerja lingkungan dapat ditingkatkan

hal ini dikemukakan Hansen dan Mowen, 2007 (Burhany, 2014).

F. Kajian Pustaka

Hasil-hasil penelitian terdahulu. Ada beberapa penelitian terdahulu yang

berkaitan dengan akuntansi lingkungan diantaranya terdapat dalam tabel berikut :

Tabel 2.2

No Nama

Peneliti Dan

Tahun

Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian

Page 43: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

53

1 Moh. Syarif

Hidayatullah

(2015)

Analisis

Penerapan

Akuntansi

Lingkungan

Untuk

Mengetahui

Proses

Pengolahan

Limbah dan

Tanggung

Jawab Sosial

Pada Rumah

Sakit Ibnu Sina

Kota Gresik

Penelitian kualitatif

dengan model study

kasus. Tujuan penelitian

ini adalah untuk

mengetahui bagaiman

penerapan akuntansi di

perusahaan jasa yang

berpotensi menghasilakn

limbah dari kegiatan

operasionalnya

Rumah sakit Ibnu Sina Kota

Gresik sudah menerapkan

akuntansi. Proses

pengidentifikasian, pengakuan,

pengukuran, pencatatan,

penyajian, dan pengungkapan

dilakukan sesuai SAP per 31 Juni

2010. Biaya-biaya lingkungan

diakui sebagai biaya operasional.

Pengakuan menggunakan metode

akrual basis. Pengukuran

menggunakan harga perolehan

yang di keluarkan oleh pihak

rumah sakit dan berdasarkan

realisasi anggaran tahun

sebelumnya. Penyajian komponen

biaya lingkungan pada laporan

keuangan umum. Mencatat biaya-

biaya lingkungan secara

keseluruhan yakni dalam lingkup

satu ruang rekening secara umum

bersama rekening lain yang

serumpun. RS Ibnu Sina sudah

Page 44: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

54

mengungkapkan adanya

pengelolahan limbah pada Catatan

Atas Laporan Keuangan mereka

namun belum mengungkapkan

secara khusus.

2 Nita Sri

Mulyani

(2013)

Analisis

Penerapan

Akuntansi Biaya

Lingkungan

pada Pabrik

Gondorukem

dan Terpentin

(PGT) (2013)

Penelitian kualitatif

dengan model studi

kasus. Fokus utama pada

masalah pengakuan,

pengukuran, penyajian

dan pengungkapan

mengenai alokasi biaya

pengelolaan lingkungan.

Jenis data yang

digunakan adalah data

primer dan sekunder.

Metode analisis data

menggunakan metode

analisis deskriptif

komparatif.

- Sudah mengeluarkan

biaya-biaya lingkungan

dalam akuntansi

perusahaannya

- tidak secara khusus

mengidentifikasi biaya-

biaya lingkungan.

- Biaya lingkungan diakui

sebagai biaya produksi

- Biaya lingkungan

dianggarkan pada awal

periode dan diakui pada

saat biaya tersebut

digunakan untuk

operasional pengelolaan

lingkungan.

- Pengukuran menggunakan

satuan rupiah yang

Page 45: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

55

dikeluarkan perusahaan

dan berdasarkan realisasi

rata-rata dari tiga periode

sebelumnya

- Penyajian biaya

lingkungan menganut

model normatif, yaitu

mengakui dan mencatat

biaya-biaya lingkungan

secara lingkungan yakni

dalam lingkup satu ruang

rekening secara umum

bersama rekening lain

yang serumpun.

3 Reni

Trisnawati

(2014)

Analisis

Perlakuan

Akuntansi atas

Pengelolahan

Limbah dalam

Laporan

Keuangan pada

RSD dr.

Soebandi

Metode kualitatif. Data

primer diperoleh dari

hasil wawancara. Data

sekunder berupa data

laporan keuangan

perusahaan dan pedoman

kebijakan perusahaan

untuk pengolahan

limbah. Data dioeroleh

Biaya pengolahan limbah

berdasarkan jenis belanja seperti

belanja barang dan jasa terdiri dari

belanja service. Perlakuan

akuntansinya sudah sesuai dengan

PSAP No.2. pengukuran biaya

pengelolaan limbah dengan satuan

mata uang rupiah. Pengakuan

biaya pengolahan limbah diukur

Page 46: BAB II Akuntansi Lingkungan - eprints.mercubuana-yogya.ac.ideprints.mercubuana-yogya.ac.id/797/3/BAB II.pdf · Pengertian di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut “akuntansi

56

Jember dari bagian keuangan dan

instalasi sanitasi. Metode

analisis data yang

digunakan adalah metode

analisis deskriptif yaitu

dengan menggunakan

analisa perbandingan.

dimasukan sebagai elemen dari

belanja barang dan jasa, dan

belanja modal. Penyajian biaya

pengolahan limbah masih

menyatu dalam laporan keuangan

secara umum.