of 31 /31
Auditorium Musik Klasik 11 BAB II DATA AWAL PROYEK Kasus : Auditorium Musik Klasik Sifat proyek : Semi-Fiktif Lokasi : Jl. Profesor Sutami, Setrasari, Bandung Luas lahan : + 13500 m 2 Luas bangunan : + 6051.2 m 2 , dan parkir + 7590.7 m 2 Batas lahan perancangan Utara : Perumahan Penduduk, Selatan : Jl. Prof. Sutami, Setrasari Mall Timur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, Jl. Prof. Surya Sumantri Pemilik proyek : Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal, dalam hal ini Bandung Choral Society (BCS), yang bekerjasama dengan lembaga donatur independen dan LSM internasional penyelenggara pertunjukan musik klasik berskala internasional seperti International Federation Choir Music(IFCM), Musica Mundi, dll. Pemilik dana : Interkultur Foundation dan lembaga donatur independen Garis Sepadan Bangunan (GSB): 15 dari pinggir jalan. 2.1 Lokasi 2.1.1 Pertimbangan Pemilihan Kota Lokasi perancangan auditorium musik ini terletak di kota Bandung. Kota Bandung merupakan salah satu kota di Propinsi Jawa Barat yang cukup potensial. Dalam Peraturan Pemerintah No.47 tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Kota Bandung ditetapkan sebagai salah satu Pusat Kegiatan Nasional (PKN) bersama-sama dengan 14 kota lainnya. Peta tata guna lahan kota Bandung ditunjukkan pada Gambar 2.1.

BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Embed Size (px)

Text of BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel,...

Page 1: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 11

BAB II

DATA AWAL PROYEK

Kasus : Auditorium Musik Klasik

Sifat proyek : Semi-Fiktif

Lokasi : Jl. Profesor Sutami, Setrasari, Bandung

Luas lahan : + 13500 m2

Luas bangunan : + 6051.2 m2, dan parkir + 7590.7 m2

Batas lahan perancangan

Utara : Perumahan Penduduk,

Selatan : Jl. Prof. Sutami, Setrasari Mall

Timur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid

Barat : Sawah Kering, Jl. Prof. Surya Sumantri

Pemilik proyek :

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal, dalam hal ini Bandung Choral

Society (BCS), yang bekerjasama dengan lembaga donatur independen dan LSM

internasional penyelenggara pertunjukan musik klasik berskala internasional

seperti International Federation Choir Music(IFCM), Musica Mundi, dll.

Pemilik dana :

Interkultur Foundation dan lembaga donatur independen

Garis Sepadan Bangunan (GSB): 15 dari pinggir jalan.

2.1 Lokasi

2.1.1 Pertimbangan Pemilihan Kota

Lokasi perancangan auditorium musik ini terletak di kota Bandung. Kota

Bandung merupakan salah satu kota di Propinsi Jawa Barat yang cukup potensial.

Dalam Peraturan Pemerintah No.47 tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang

Wilayah Nasional (RTRWN), Kota Bandung ditetapkan sebagai salah satu Pusat

Kegiatan Nasional (PKN) bersama-sama dengan 14 kota lainnya. Peta tata guna

lahan kota Bandung ditunjukkan pada Gambar 2.1.

Page 2: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 12

Gambar 2. 1 Peta TGL.

Sumber : Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung Tahun 2013

Bandung juga merupakan kota yang sangat padat penduduknya dan rata-rata

memiliki kesibukan tersendiri di kesehariannya sehingga menyebabkan kota

Bandung menjadi kota yang sibuk setiap waktu. Kota Bandung secara

administratif merupakan ibukota propinsi Jawa Barat dengan luas wilayah

16.729,65 ha. Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung tediri atas 6 wilayah

pengembangan, 26 kecamatan, serta 139 kelurahan dan desa. Perluasan Kota

Bandung dilakukan pada tahun 1987 berdasarkan PP No. 16 tahun 1987.

Perluasan ini dilakukan untuk mengantisipasi masalah kekurangan lahan di

Kotamadya Bandung lama. Selain itu perluasan Kotamadya Bandung ini

diharapkan juga dapat menampung fungsi-fungsi utama Kotamadya Bandung.

Pertumbuhan penduduk Kotamadya Bandung setelah perluasan kota tahun 1987

mengalami peningkatan meskipun tidak pesat. Penduduk Kota Bandung

berdasarkan hasil registrasi dari Dinas Kependudukan Pemda Kota Bandung pada

akhir tahun 2001 adalah 1.844.119 jiwa (perempuan 914.181 jiwa dan laki-laki

929.938 jiwa). Menurut sensus penduduk tahun 2000 rata-rata kepadatan

penduduk Kota Bandung 12.770 jiwa/km2, dilihat dari segi jumlah penduduk,

kecamatan di kota Bandung memiliki jumlah penduduk terbesar di Indonesia

namun sampai saat ini fasilitas untuk publik yang memadai sebagai tempat

berapresiasi, berekreasi bersama keluarga, berinteraksi dengan warga dan

Page 3: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 13

sebagainya masih kurang. Dari data Dinas Tata Kota, ternyata fasilitas–fasilitas di

kota Bandung belum dapat berfungsi dan terencana dengan baik.

Citra kota Bandung sebagai kota tujuan wisata berskala nasional dapat menarik

animo pengunjung baik dari luar kota maupun luar negeri untuk datang. Di

samping dapat berbelanja, para wisatawan dan pengunjung pun dapat

memanjakan diri, relaksasi, dan rekreasi sambil menikmati suasana asri kota.

Pemilihan lokasi ini dianggap tepat dan diharapkan fasilitas ini bisa berdiri secara

harmonis dengan bangunan-bangunan komersial yang fasilitasnya beragam.

Selain itu, pemilihan lokasi di kota Bandung juga dikarenakan kota Bandung

dikenal sebagai kota yang sarat dengan seni. Banyak seniman yang dihasilkan dari

kota ini. Bandung juga merupakan salah satu tujuan para wisatawan dalam negeri

untuk menghabiskan akhir pekan. Karena keindahan yang masih terjaga di kota

ini. Bandung sampai dijuluki orang sebagai ‘Paris van Java’, sense Paris yang

melekat di kota Bandung karena indahnya.

Kota Bandung juga bisa dikatakan sebagai kota pengembang paduan suara di

Indonesia, karena beberapa paduan suara yang berhasil berprestasi di

Internasional berasal dari kota Bandung, contohnya PSM Universitas

Parahyangan (WCG 2000, WCG 2002, Magdhobedoorf 2003), PSM Universitas

Padjadjaran (WCG 2000, WCG 2002, Grand Prix di Inggris), PSM Universitas

Kristen Maranatha (Kompetisi di Yunani, dan Prancis), PSM Institut Teknologi

Bandung (WCG 2004, WCG 2006). Dari paduan suara-paduan suara inilah juga

lahir tokoh-tokoh musik dan pelatih vokal yang terkenal di Indonesia. Seperti;

Catharina W. Leimena, Avip Priatna, Indra Listiyanto, Yohanna Nurindro, Ivan

Yohan, Ign. Bambang Jusana.

Selain itu, setiap tahunnya kota Bandung pasti akan selalu dikunjungi oleh para

pecinta paduan suara dan musik klasik karena diadakannya kompetisi paduan

suara dengan skala nasional yang paling bergengsi, dan simposium musik klasik.

Page 4: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 14

Kompetisi paduan suara yang dimaksud adalah Festival Paduan Suara ITB

(diadakan pada tahun genap), dan Kompetisi Paduan Suara Unpar (diadakan pada

tahun ganjil). Untuk symposium sendiri diadakan oleh Bandung Choral Society

pada tahun ganjil (terakhir kali diadakan pada Juni 2007 ). Bandung Choral

Society merupakan organisasi yang menaungi kegiatan paduan suara yang ada di

kota Bandung.

Melihat padatnya agenda kegiatan paduan suara di kota ini, maka sangat tepat bila

auditorium ini dibangun di kota Bandung, selain mewadahi kegiatan tersebut juga

sebagai sarana meningkatkan apresiasi masyarakat umum terhadap musik klasik

di kota ini.

2.1.2 Lokasi Proyek

Lokasi perancangan auditorium musik klasik ini berada di daerah Propinsi Jawa

Barat, Kotamadya Bandung, Kelurahan Pasteur, Kecamatan Sukajadi, Jl. Prof.

Sutami. Lokasi proyek ditunjukkan pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Lokasi Proyek.

Sumber : RTRW Kota Bandung 2013

Lokasi Proyek

Page 5: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 15

2.2 Peraturan dan Standar yang Digunakan

2.2.1 Asumsi

Beberapa asumsi yang diambil adalah:

- Pengadaan biaya untuk pembangunan fasilitas ini telah disanggupi dan

ditanggung oleh pihak Direktorat Jendral Kebudayaan dan Pariwisata dengan

bekerjasama dengan IFCM.

- Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak secara ekonomi

dan sosial.

- Bagaimana mengantisipasi timbulnya pedagang atau tukang ojek kagetan

yang mengerumuni fasilitas ini sebagaimana yang seringkali terjadi pada

fasilitas hiburan yang sedang ramai dikunjungi oleh wisatawan sehingga kerap

mengganggu ketertiban fasilitas itu sendiri, juga kawasan di sekitarnya.

2.2.2 Standar yang Digunakan

2.2.2.1 Standar-standar akustik Akustik lingkungan, atau pengendalian bunyi secara arsitektural merupakan suatu

cabang pengendalian lingkungan pada ruang-ruang arsitektural yang dapat

menciptakan suatu lingkungan yang kondisi mendengarkannya ideal untuk

manusia. Bunyi yang ada dapat diserap, atau dipantulkan agar tetap terdengar

dengan nyaman. Pengendalian bunyi secara arsitektural mempunyai dua sasaran,

yaitu :

a. Menyediakan keadaan yang paling disukai untuk produksi, perambatan, dan

penerimaan bunyi yang diinginkan di dalam ruang.

b. Peniadaan atau pengurangan bunyi yang tidak diinginkan di dalam ruangan.

Dalam setiap situasi akustik, terdapat tiga elemen yang harus diperhatikan,

sumber bunyi, jejak (perambatan bunyi) dan penerima bunyi (penonton).

Page 6: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 16

2.2.2.1.1 Pendengaran Manusia

Telinga manusia dapat mendengar bunyi yang kekuatannya berada dalam

jangkauan 20 sampai 20.000 Hz, namun hanya peka terhadap bunyi yang

kekuatannya berada dalam jangkauan 400 sampai 5000 Hz, yaitu frekuensi

yang penting untuk integibilitas pembicaraan dan kenikmatan musik yang

sempurna. Pada kasus sekolah musik, bunyi-bunyian yang akan diperhatikan

adalah bunyi alat musik. Pada kenyataannya, skala Hertz yang banyak

digunakan mempunyai jangkauan yang lebar. Skala ini tidak

memperhitungkan kenyataan bahwa telinga tidak tanggap terhadap perubahan

tekanan bunyi pada semua tingkat intensitas. Karena alasan ini, tekanan bunyi

diukur dalam skala logaritmatik, yang disebut skala decibel (dB). dB hampir

sesuai dengan tanggapan manusia terhadap perubahan kekerasan bunyi.

Hubungan antara Hz dan dB dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Hubungan antara Hz dan dB

Sumber : Doelle, L. L. 1986. Akustik Lingkungan. Penerbit Erlangga : Jakarta.

2.2.2.1.2 Pemantulan dan Penyerapan Bunyi

Benda-benda keras seperti beton, batu bata, plester, dan gelas memantulkan

semua energi bunyi yang jatuh padanya. Sebaliknya bahan lembut, berpori

seperti kain dan juga manusia menyerap sebagian besar gelombang bunyi

yang jatuh padanya. Dalam auditorium, kondisi mendengar dapat diperbaiki

dengan penggunaan pemantul-pemantul bunyi yang besar, yang ditempatkan

Page 7: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 17

di tempat yang sesuai. Pemantulan dan Penyerapan Bunyi ditunjukkan pada

Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Pemantulan dan Penyerapan Bunyi

Sumber : Doelle, L. L. 1986. Akustik Lingkungan. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Akustik ruangan dirancang agar bunyi tidak memantul pada permukaan pantul

yang tidak diinginkan agar bunyi tidak terdengar saling menumpuk antara

bunyi asli dan bunyi pantulan. Dalam akustik lingkungan unsur-unsur berikut

dapat menunjang penyerapan bunyi:

1. Lapisan permukaan dinding, lantai dan atap.

2. Isi ruang seperti penonton, bahan tirai, tempat duduk dengan lapisan

lunak dan karpet.

3. Udara dalam ruang1.

Difusi bunyi (penyebaran bunyi) yang cukup diperlukan pada jenis-jenis

ruang tertentu untuk menghasilkan akustik ruang yang baik. Difusi bunyi

dapat diciptakan dengan beberapa cara :

1. Pemakaian permukaan dan elemen penyebar tak teratur dalam jumlah

yang banyak.

2. Penggunaan lapisan permukaan-permukaan pemantul bunyi dan

penyerapan secara bergantian.

3. Distribusi lapisan penyerapan bunyi yang berbeda secara teratur dan

acak1.

1 Doelle, L. L. 1986:26

Page 8: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 18

2.2.2.1.3. Bahan dan Konstruksi Penyerapan Bunyi2

Bahan-bahan dan konstruksi penyerapan bunyi yang digunakan dalam

rancangan akustik dapat diklasifikasi menjadi bahan berpori-pori, penyerapan

panel atau penyerap selaput, dan resonator tangga.

1. Bahan berpori

a. Unit akustik siap pakai

Material yang termasuk di dalamnya adalah bermacam-macam ubin

selulosa dan serat mineral yang berlubang maupun tak berlubang,

bertekstur, panel penyisip, lembaran logam berlubang dengan bantalan

penyerap. Penggunaan unit akustik siap pakai memberikan beberapa

keuntungan :

• Penyerapan bunyi dapat diandalkan dan dijamin oleh pabrik

pembuatnya.

• Pemasangan dan perawatan mudah serta murah.

• Dapat dihias kembali tanpa mempengaruhi jumlah

penyerapannya.

• Penggunaan pada sistem langit-langit dapat digabungkan

secara fungsional dan visual dengan persyaratan penerangan,

pemanasan atau pengkondisian udara.

• sebagian besar unit akustik.

Gambar 2.5 Macam-macam sambungan unit akustik siap pakai

Sumber : Doelle, L. L. 1986. Akustik Lingkungan. Penerbit Erlangga : Jakarta.

2 Doelle, L. L. 1986:30-43

Page 9: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 19

b. Plesteran akustik dan bahan yang disemprotkan

Biasa digunakan jika usaha akustik lain tidak dapat dilakukan karena

bentuk permukaan yang melengkung atau tidak teratur. Efisiensi

akustiknya tergantung pada kondisi pekerjaan seperti ketebalan,

komposisi campuran plesteran, jumlah perekat, keadaan lapisan dasar

pada saat digunakan, dan cara lapisan digunakan.

c. Selimut akustik

Dibuat dari serat-sert karang, serat-serat gelas, serat-serat kayu, rambut

dan sebagainya. Biasanya dipasang pada sistem rangka kayu atau

logam dengan ketebalan bervariasi antara 25 hingga 125 mm.

Penyerapan bergantung pada ketebalan lapisan.

d. Karpet dan kain

Mereduksi bahkan meniadakan dengan sempurna bising dari benturan

atas, dan bising permukaan (langkah kaki, perpindahan perabot).

Digunakan untuk dinding dan penutup lantai. Karpet pada dinding

harus tahan api.

2. Penyerap panel

Penyerap panel menyebabkan karakteristik dengung yang serba sama pada

seluruh jangkauan frekuensi radio.

Gambar 2.6 Penyerapan bunyi pada plywood 6 mm dengan jarak pisah 75 mm.

Sumber : Doelle, L. L. 1986. Akustik Lingkungan. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Page 10: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 20

Beberapa bahan penyerap panel adalah panel kayu dan hard board,

gypsum boards, langit-langit plesteran yang digantung, plesteran berbulu,

plastic board tegar, jendela, kaca, pintu,lantai kayu dan panggung, pelat-

pelat logam (radiator).

3. Resonator tangga

Terdiri dari sejumlah udara tertutup yang dibatasi oleh dinding-dinding

tegar dan dihubungkan oleh lubang/celah sempit ke ruang sekitarnya, di

mana gelombang bunyi merambat.

a. Resonator rongga individual.

Balok beton standar yang menggunakan campuran yang biasa

tetapi dengan rongga yang telah ditetapkan, disebut soundbox,

merupakan jenis resonator berongga jaman sekarang. Balok dicor

dalam dua seri, disebut tipe A dan tipe B. Unit tipe A mempunyai

celah sekitar ¼ inci dan elemen pengisi yang tak mudah terbakar

dalam rongganya. Dalam kedua tipe ini, rongga tertutup di atasnya,

dan celah memungkinkan rongga tertutup tersebut berfungsi

sebagai resonator Helmholtz. Balok dibuat dengan ketebalan 10,

15 dan 20 cm, semuanya mempunyai ukuran muka nominal 20x41

cm. Penyerapan bunyi maksimum terjadi pada frekuensi rendah,

dan berkurang pada frekuensi yang lebih tinggi. Bagian permukaan

balok yang terlihat dapat dicat dengan pengaruh pada penyerapan

dapat diabaikan. Keuntungan yang besar terletak pada daya

tahannya yang tinggi.

b. Resonator panel berlubang

Diletakkan pada lapisan penunjang padat yang diberi jarak pisah.

Mempunyai jumlah leher yang banyak, yang membentuk lubang-

lubang panel. Lubang biasanya berbentuk lingkaran (kadang

pipih). Rongga udara di belakang lubang membentuk bagian

resonator yang tak terbagi, dan dipisahkan ke dalam lekukan oleh

elemen-elemen system kerangka yang horizontal dan vertikal.

Page 11: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 21

Selimut isolasi menambah efisiensi penyerapan keseluruhan

dengan memperlebar daerah frekuensi di mana penyerapan yang

cukup besar dapat diharapkan.

Gambar 2.7 Resonator rongga individual

Sumber : Doelle, L. L. 1986. Akustik Lingkungan. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Gambar 2.8 Pemasangan resonator panel berlubang tertentu A) papan berlubang, (B) harboard, (C) logam atau plastik berlubang.

Sumber : Doelle, L. L. 1986. Akustik Lingkungan. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Karakteristik dengung yang cukup seimbang dan merata dapat

diadakan dengan mengubah tebal panel berlubang, ukuran dan

jarak antar lubang, ke dalam rongga udara di belakang panel

berlubang, dan jarak pisah antara elemen-elemen sistem bulu

(furring system).

Page 12: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 22

c. Resonator celah

Selimut isolasi membutuhkan perlindungan terhadap goresan-

goresan, memberikan kesempatan pada arsitek untuk merancang

suatu lapisan permukaan atau layer perlindungan yang dekoratif,

dengan elemen-elemen yang penampangnya relatif kecil dan

dengan jarak antara yang cukup untuk memungkinkan gelombag

bunyi menembus antara elemen-elemen layer ke bagian

belakangnya yang berpori.

Gambar 2.9 Resonator panel berlubang

Sumber : Doelle, L. L. 1986. Akustik Lingkungan. Penerbit Erlangga : Jakarta.

2.2.2.1.3 Pemasangan dan Distribusi Bahan-bahan Penyerap

Karakteristik penyerapan bunyi sangat bergantung pada sifat-sifat fisik, detail

pemasangan, dan kondisi lokal. Cara pemasangan bahan akustik mempunyai

pengaruh yang besar pada sifat-sifat penyerapannya. Gambar berikut adalah

beberapa cara pemasangan yang digunakan dalam melakukan percobaan

penyerapan bunyi yang distandarisasi oleh The Acoustical and Insulating

Material Association tahun 1968.

Page 13: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 23

Gambar 2.10 Bahan Penyerap

Sumber : Doelle, L. L. 1986. Akustik Lingkungan. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Tidak ada cara yang dapat dikatakan paling optimum untuk tiap pemasangan.

Bermacam-macam perincian yang harus diperhatikan secara serentak adalah

sebagai berikut :

1. Sifat-sifat bahan akustik

2. Kekuatan, tekstur permukaan, dan lokasi dinding-dinding ruangan di mana

bahan akustik akan dipasang

3. Ruang yang tersedia untuk lapisan permukaan tersebut

4. Waktu yang dibutuhkan

5. Kemungkinan penggantiannya dalam waktu yang akan datang

6. Biaya

2.2.2.1.4 Pemilihan Bahan Penyerap Bunyi

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan lapisan-lapisan penyerap

bunyi menurut Doelle tahun 1986 adalah

1. Koefisiensi penyerapan bunyi pada jangkauan frekuensi audio

2. Penampilan

3. Daya tahan terhadap kebakaran dan hambatan terhadap penyebaran api

4. Biaya instalasi

Page 14: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 24

5. Kemudahan instalasi

6. Keawetan

7. Pemantulan cahaya

8. Perawatan, pembersihan, pengaruh dekorasi terhadap penyerapan bunyi

9. Kondisi pekerjaan (temperatur, kelembaban)

10. Kesatuan elemen-elemen ruang dengan lapisan akustik

11. Ketebalan dan berat

12. Tahanan terhadap uap lembab dan kondensasi

13. Kemungkinan adanya langit-langit gantung

14. Nilai insulasi termis

15. Daya tarik terhadap kutu, kutu busuk, jamur

16. Kemungkinan penggantiannya

17. Kebutuhan serentak akan insulasi bunyi yang cukup

2.2.2.2 Persyaratan Akustik dalam Rancangan Theatre

1. Tingkat kekerasan yang cukup dalam tiap bagian auditorium terutama

ditempat-tempat duduk yang jauh.

• Penempatan penonton sedekat mungkin dengan sumber bunyi. Adanya

balkon sangat membantu dalam medekatkan penonton sebanyak mungkin

kepada sumber bunyi.

• Sumber bunyi harus dinaikkan agar bunyi sebanyak mungkin dapat

tersebar dengan merata

• Lantai penonton harus miring tetapi cukup landai

• Sumber-sumber bunyi harus dikelilingi oleh permukaan-permukaan

pemantul bunyi

• Permukaan pemantul bunyi yang paralel

• Menghindari tempat duduk penonton yang terlalu lebar

Page 15: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 25

Gambar 2.11 Persyaratan Akustik

Sumber : Doelle, L. L. 1986. Akustik Lingkungan. Penerbit Erlangga : Jakarta.

2. Energi bunyi yang didistribusi secara merata (difusi bunyi)

Dua hal penting yang harus diperhatikan :

a. Permukaan dinding tak teratur yang banyak (elemen-elemen bangunan

yang ditonjolkan, langit-langit yang ditutup, dinding-dinding yang

bergerigi, dekorasi permukaan yang dipahat, bukaan jendela yang dalam)

b. Permukaaan dinding tak teratur yang besar

3. Karakteristik dengung yang optimum

Gambar dibawah menunjukkan waktu dengung optimum pada berbagai

volume ruang.

Gambar 2.12 Hubungan antara Volum Ruang dan Waktu Dengung Sumber : Doelle, L. L. 1986. Akustik Lingkungan. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Page 16: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 26

Dalam perancangan akustik suatu auditorium, waktu dengung (RT) harus

ditetapkan. Pengendalian dengung dilakukan dengan menetapkan jumlah

penyerapan ruang total yang harus diberikan oleh lapisan-lapisan akustik,

penghuni, isi ruang dan lainnya.

RT = xVAV

+16,0

RT = waktu dengung, sekon

V = volume ruang, m2

A = penyerapan ruang total, sabin/m2

x = koefisien penyerapan udara

4. Ruang yang bebas dari cacat akustik seperti gema, pemantulan yang

berkepanjangan, gaung, pemusatan bunyi, distorsi, bayangan bunyi, dan

resonansi ruang.

5. Menghindari bising dan getaran

Konstruksi bangunan sangat berpengaruh dalam mengeliminasi bising dari

luar. Tembok pemisah antara dinding bangunan harus terdiri dari dua lapisan

terpisah, dan dibangun dari dasar bangunan sampai atap.

Gambar 2.13 Insulasi Bunyi

Page 17: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 27

Lantai dan langit-langit juga dapat mengeliminasi bising di udara dan bising

benturan.

Gambar 2.14 Pemantul Bunyi

Gambar 2.15 Detil Lantai

Gambar 4.24 Hubungan antara Pintu Pintu yang ditempatkan secara selang-seling dapat membantu secara efektif pada

privasi akustik ruang-ruang yang ditempatkan sepanjang kedua sisi lorong.

Page 18: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 28

2.3 Pemahaman Tipologi Bangunan

2.3.1 Literatur

Beberapa Studi literatur yang digunakan adalah pada Walt Disney Concert Hall,

Los Angeles, USA, Esplanade, Theatres on the Bay, Singpura, dan PPHUI.

2.3.1.1 Walt Disney Concert Hall, Los Angeles, USA, 2003

Arsitek bangunan ini adalah Frank Gehry, dan ahli akustik bernama Yasuhisa

Toyota, dari Nagata Acoustics (Tokyo, Japan). Gehry sebagai sang arsitek, ingin

merancang bangunan seperti patung yang menggambarkan musik, yang

diharapkan dapat memberikan kesatuan antara pemain musik dan penonton.

Toyota sebagai ahli akustik, ingin membangun sebuah ruangan yang dapat

menciptakan musik yang hangat tanpa mengesampingkan kejernihan suara. Pihak

owner, keluarga Walt Disney, menginginkan sebuah Concert Hall yang memiliki

kualitas akustik yang terbaik di dunia. Walt Disney Concert Hall ditunjukkan

pada Gambar 2.17 a, b, c, d, e, f, g, dan h.

Dalam perancangan akustik, tim perancang dan pemain orkestra (Los Angeles

Philharmonic) mengunjungi beberapa concert hall di Berlin, Amsterdam dan

Boston. Keputusan yang dibuat adalah Suntory Hall (Tokyo) akan dijadikan.

standar akustik. Mereka menyukai keintiman yang diciptakan oleh lokasi

panggung dengan lokasi tempat duduk penonton.

Gambar 2.17a Ruang konser Gambar 2.17b Panggung

Page 19: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 29

Rancangan bangunan dimulai dengan merancang ruang pementasan yang

merupakan ruang utama. Konsep desainnya adalah perpaduan antara bentuk

tempat duduk penonton yang menyerupai patung yang dibentuk menjadi kotak.

Gehry mendeskripsikannya seperti perahu yang terbuat dari kayu yang diletakkan

disebuah boks, menggambarkan perjalanan penonton dalam musik (a journey

through music). Idenya adalah musik bukanlah pendengaran semata, namun juga

sebuah pengalaman. Kenyamanan duduk, kualitas visual dan suhu ruangan

menggambarkan musik itu sendiri. Psychoacoustic berperan penting dalam

pembangunan bangunan ini. Toyota memilih kayu sebagai material utama

ruangan, sebagai metamorfosa dari sebuah perahu dan juga dapat memberikan

akustik ruangan yang baik. Sebagai detail, layer yang seperti gelombang pada

bagian ceiling dan dinding interior yang bergelombang. Kedua detail tersebut

bertujuan juga untuk menyebarkan bunyi dan menciptakan lebih banyak pantulan

bunyi.

Ruang pementasan utama yang berkapasitas 2265 penonton, dibentuk 360° untuk

menciptakan kesatuan antara penonton dan performa dalam mengarungi

perjalanan musik dalam satu kesatuan. Jendela yang diletakkan setinggi 36 kaki

pada bagian North Window Terrace di atas balkon atas, memberikan pencahayaan

alami pada siang hari.

Gambar 2.17c Ruang Tunggu Gambar 2.17d Ruang Lobby Utama

Page 20: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 30

Walt Disney Concert Hall juga memiliki fasilitas edukasi, ruang theatre kedua

yaitu Roy and Edna Disney/CalArts Theatre (REDCAT) berkapasitas 266 bangku,

galeri seluas 3000 square foot yang dioperasikan oleh California Institute of the

Arts.

Dalam memfasilitasi para pengunjung, Walt Disney Concert Hall juga memiliki

reception hall, foyer yang berupa hall, perpustakaan musik, Starr Foundation

Green Room yang dapat mempersatukan antara penonton, artis, konduktor dan

pemain orkestra, The Founders Room yang dibuat untuk memfasilitasi

penyandang dana utama, bar, restaurant yang dapat melayani fine dining pada saat

ada pertunjukan dan pada saat tidak ada pertunjukan, dan sebuah café yang

beroperasi untuk makan siang dan makan malam.

Bagian performa difasilitasi dengan ruang latihan yang banyak, ruang ganti, ruang

baca, lounge dan café. Choral Hall adalah ruang gladi terbesar dengan kapasitas

pemain musik sebanyak 109, 120 paduan suara dan 137 bangku untuk educational

program dan special events. Untuk memfasilitasi konduktor dan music director

disediakan ruang khusus untuk mempersiapkan pementasan. Bagian administrasi

gedung diletakkan pada bagian selatan kompleks Concert Hall.

Gambar 2.17e Perspektif Gambar 2.18f

Eksterior Urban Park Dinding eksterior bangunan ditutup menggunakan panel stainless steel. Orientasi

bangunan yang dipadukan dengan rancangan blok plan memberikan tampak yang

indah jika dilihat dari sisi manapun. Los Angeles Stairway dan Courtyard yang

terletak di sudut First Street dan Grand Avenue akan menjadi jalan utama dalam

Page 21: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 31

Concert Hall dan akan memberikan kesinambungan antara bangunan eksisting

dan bangunan baru. Tower panel kaca akan memberikan kesan spektakuler pada

lobi utama. Backstage dapat diakses melalui Sempra Energy Grand Stariway dan

Edison International Plaza dan akses public kearah Urban Park dan the W.M.

Keck Foundation Children’s Amphitheatre.

Urban Park yang dibangun oleh pemerintah California merupakan taman publik

yang luas, berwarna, dan memiliki ornamen landscape dan bentuk vegetasi yang

mengitari Walt Disney Concert Hall. W.M. Keck Foundation Children’s

Amphitheatre adalah sebuah amphitheatre outdoor yang berkapasitas 300 orang

yang dapat menampung pementasan children and community programming.

Gambar 2.17g Amphitheatre Outdoor

2.3.1.2 Esplanade, Theatres on the Bay, Singapura

Esplande merupakan salah satu auditorium terbesar yang ada di Asia Tenggara.

Fasilitas yang ada di dalamnya cukup banyak antara lain concert hall, theater,

recital studio, outdoor theater, pertokoan, perpustakaan. Kapasitas yang dapat

ditampung oleh concert hall 1600 orang dan theater 1600 orang. Recital studio

dapat menampung 250 orang, sedangkan outdoor amphitheater 1000 orang.

Arsitek utamanya adalah Vikas M. Gore, yang kemudian dikembangkan oleh DP

Architects of Singapore. Penyelesaian desain yang dilakukan juga sangat menarik,

karena sangat user friendly untuk orang cacat. Karena biasanya orang cacat

terhambat untuk menonton di gedung pertunjukan karena tempat duduk yang

bertangga, namun di esplanade terdapat fasilitas khusus untuk orang-orang cacat.

Page 22: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 32

Dalam interior lobby terlihat bahwa Struktur sebuah bentang lebar dijadikan

elemen dekoratif sehingga selain monumental tapi juga enak untuk dilihat.

Dimana fasade bangunan yang terdiri atas 10998 duri ini menjadi elemen yang

sangat menarik. Di siang hari sinar matahari dapat masuk, namun tidak

menyilaukan hal itu dikarenakan oleh duri-duri yang saling menyirip dan

transparan.

Gambar 2.18a Perspektif Eksterior Gambar 2.18b Recital Hall

G

a

m

Gambar 2.18c Interior Gambar 2.18d Concert hall

Lobby

Page 23: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 33

2.3.2 Studi Banding Proyek Sejenis

2.3.2.1 Gedung Pertunjukan Usmar Ismail

Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) di Jakarta yang didirikan pada tahun

1997 saat ini telah merenovasi gedungnya menjadi sebuah tempat pertunjukan

dengan konsep the first integrated concert and cinema hall, diresmikan 16 Mei

2006.

Awalnya (PPHUI) merupakan tempat khusus untuk berbagai pertunjukan dan

biasanya hanya dipakai kedutaan, namun mengingat tidak kondusifnya keadaan

ini, maka tercipta ide sejak tahun 2005 lalu untuk membuat satu tempat yang

benar-benar cocok untuk mengadakan berbagai pertunjukan seperti, konser,

pertunjukan film, dan sebagainya. Ketiadaan gedung konser dengan standar

Internasional di Jakarta menjadi ide utama renovasi gedung ini.

Berbagai fasilitas dan peralatan yang tersedia di gedung pertunjukan bertaraf

internasional ini yaitu: acoustic concert hall, proyektor untuk pemutaran film,

sound system, layar bioskop, panggung, ruang ganti, serta lobi dan ruang

serbaguna.

Concert hall Usmar Ismail Hall ini berukuran 642 meter persegi dilengkapi

panggung berukuran panjang 18,14 meter dan lebar 5,7 meter serta tinggi 0,8

meter. Gedung itu berkapasitas 500 tempat duduk. Sebagai gedung bioskop,

gedung dilengkapi layar berukuran 13,5 x 5,5 meter. Jika digunakan untuk konser

musik, maka layar akan ditutup dengan papan tebal.

Gambar 2.19a Langit-langit Gambar 2.19b Dinding belakang

Page 24: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 34

Perancang akustik ruangan ini adalah Pakar akustik dari ITB, Prof Sugijanto.

Menurut beliau concert hall ini memiliki tingkat akustik yang cukup untuk

pertunjukan orkestra. Hal ini dibuktikan melalui konser Twilite Orchestra di

gedung ini yang tidak dibantu oleh pengeras suara sama sekali.

Sebuah gedung konser, menurut Prof. Soegijanto, mempunyai beberapa

persyaratan dan kondisi berbeda dengan gedung sinema. Untuk mendapat suasana

yang lebih hidup, suara yang datang harus memiliki waktu dengung

(reverberation time) lebih panjang. Waktu dengung adalah rentang waktu antara

saat bunyi terdengar hingga melenyap. Untuk ruang konser, waktu dengung ideal

adalah sekitar 1,6 detik.

Waktu dengung yang berlebihan akan mengakibatkan bertumbukannya antara

satu not yang telah dimainkan dengan not yang sedang dimainkan.

Bertumbukannya bunyi dengung not-not itu akan mengganggu kenikmatan

penonton dan memecah konsentrasi musisi. Usmar Ismail Hall dirancang untuk

menangkap utuh-utuh waktu dengung ideal.

Untuk itu, Usmar Ismail Hall dilengkapi pemantul bunyi (reflektor). Pemantul

bunyi ini dipasang pada langit-langit di atas panggung, mulai dari depan layar

hingga sedikit ke depan panggung. Reflektor berfungsi sebagai pemantul bunyi,

khususnya ke bagian paling belakang dari gedung. Reflektor terbuat dari bahan

plywood setebal 2 sentimeter.

Gambar 2.19c Dinding samping Gambar 2.19d Ruang Kontrol

Page 25: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 35

Selain itu, medan suara harus menyebar (diffuse) secara merata. Caranya dengan

membuat dinding dan langit-langit sedemikian rupa sehingga suara terpantul dan

tersebar merata ke seluruh posisi penonton. Dengan demikian, suara yang datang

akan melingkupi pendengar atau penonton di dalam gedung tersebut.

Untuk itu, dinding Usmar Ismail Hall dirancang tidak rata layaknya dinding

rumah. Ada beberapa pilihan, antara lain tampak bentuk kotak-kotak serupa

prisma dengan sedikit tonjolan.

Begitu pula langit-langit gedung dibuat tidak rata, tetapi dirancang dengan model

bergelombang. Rancang artistik dinding dengan bentuk prisma dan langit-langit

yang menggelombang itu sudah diperhitungkan dengan kaidah-kaidah akustik.

Untuk meminimalisasi penyerapan suara, gedung tidak seluruhnya dilapisi karpet.

Karpet hanya dipasang di gang tengah yang membelah gedung dan sedikit pada

bagian depan panggung.

Penataan sistem akustik menjadi lebih rumit karena gedung tersebut juga

berfungsi sebagai gedung bioskop. Keduanya memerlukan syarat tersendiri.

Untuk konser musik idealnya diperlukan waktu dengung sekitar 1,6 detik.

Sedangkan untuk gedung bioskop sekitar 1,1 detik.

Tirai dipasang pada dinding samping kiri dan kanan serta dinding pada bagian

belakang. Jika ditutup, tirai akan berfungsi sebagai penyerap suara dengan cara

meletakkan gorden atau tirai penutup pada dinding.

Untuk urusan penyerapan suara, bahan jok dan sandaran kursi harus dipilih yang

tidak menyerap suara, tetapi tetap membuat penonton nyaman. Prinsipnya, dalam

keadaan kosong atau diduduki, diusahakan agar tingkat penyerapan suara sama.

Page 26: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 36

Rancangan akustik gedung konser juga mempertimbangkan faktor suara yang

berasal dari luar gedung. Usmar Ismail Hall untungnya berjarak relatif cukup jauh

dari Jalan Rasuna Said yang bising pada jam-jam padat. Getaran suara dari luar

gedung berpotensi masuk melalui atap, dinding, atau ventilasi yang disebut

sebagai airborne sound atau suara yang merembet melalui udara.

Potensi suara dari luar justru datang dari bagian belakang gedung yang

merupakan lapangan sepak bola. Jika ada aktivitas di lapangan, suara gemuruh

sorak berpotensi merambat ke dinding gedung. Untuk itu, dinding pada bagian

belakang gedung dibuat dari bata tebal, rockwool yang meredam suara luar.

Gambar 2.19e dan 2.19f Interior dalam ruang konser (2.19e sisi dan 2.19f belakang)

2.3.2.2 Goethe House Institute Internationals

Merupakan bagian dari sebuah gedung pusat kebudayaan Jerman di Jakarta.

Auditorium ini bukanlah fungsi utama bangunan ini, melainkan sebagai fungsi

pendukung. Fungsi utamanya merupakan pelatihan bahasa Jerman.

Daya tampung auditorium ini sekitar 300 orang, dengan luas lebih kurang

mencapai 350 m2. Bagi pengelola Goethe House Auditorium ini biasa digunakan

untuk pertunjukan murid-murid dalam bermain musik, tari, dan teater. Namun

bukan berarti tertutup bagi orang luar untuk menggunakan. Auditorium ini sering

disewa oleh beberapa sekolah musik dan musisi untuk menampilkan karya-karya

mereka. Atap auditorium melengkung seperti sebuah badan perahu. Ukuran

Page 27: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 37

panggung 4,5x10 m, dengan panggung kecil tambahan 2x10 m. Panggung dilapisi

karpet yang bahannya menyerupai karet. auditorium juga dilengkapi dengan

screen 6x8 m yang dapat digulung untuk keperluan menonton film bersama. Di

dekat back stage terdapat ruang kecil yang dapat digunakan untuk menyimpan

piano.

Lantai penonton terbuat dari bahan parket, dan pemantul terbuat dari kayu

lengkung yang diletakan di dinding dan di langit-langit. Langit-langit balok

diekspos untuk membantuk pemantulan suara, namun tidak begitu saja dibiarkan

’telanjang’ reflektor juga diletakan dipasang di langit-langit untuk membantu

pemantulan.

Memiliki lobby dan foyer khusus untuk auditorium, namun karena pintu masuk

utama bukan melalui lobby tersebut sering kali ketika ada pertunjukan orang lebih

sering memilih lewat pintu utama dan masuk melalui inner court yang ada di

belakang auditorium. Tabel 2.1 menampilkan perbandingan antara PPHUI dengan

Goethe, Disney, dan Esplanade.

Page 28: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 38

Tabel 2.1 Perbandingan antara PPHUI dengan Goethe, Disney, dan Esplanade.

PPHUI Goethe Disney Esplanade Ruangan - Lobby

- Cafetaria - Concert hall - Theater - Perpustakaan

- Lobby - Kantin - Concert

Hall - Theater - Foyer - Perpustak

aan - Kelas

- Lobby - Cafetaria - Concert hall - Theater - Foyer - Perpustakaan - Ruang kelas - Choral Hall - 2 Ampiteater - Taman

- Lobby - Cafetaria - Concert hall - Theater - Perpustakaan - Ruang kelas - 1 Ampiteater - Studio - Recital Hall - Pertokoan

Material pembentuk Akustik

- Plywood 2cm - Karpet - Parket - Kain

- Kayu cembung 2cm

- Parket - Gipsum - Karet - Kayu Douglas

- Kayu

Kapasitas - 500 orang (Concert hall)

- 300 orang (Concert hall)

- 2265 orang (CH) - 300 orang (Ampi) - 266 orang (teater)

- 1600orang (CH) - 1000 orang (Ampi) - 1600 orang (teater) - 250 orang (resital)

2.4 Tinjauan Teori3

Dalam perkembangan sejarahnya sebuah ruang pertunjukan mulai berkembang

sejak jaman kerajaan Yunani. Seiring dengan perjalanannya sebuah ruang

pertunjukan ditata sedemikian rupa sehingga sebuah ruang pertunjukan atau

gedung pertunjukan menjadi bagian yang tidak terlupakan bahkan tidak bisa

dipisahkan dari perkembangan kebudayaan dalam masyarakat.

1. Teater Yunani dengan panggung terbuka.

Teater : ”the place from where one can see”. Diletakkan di

luar kota, di lahan yang miring. Awalnya dibangun dengan

menggunakan bahan kayu dan batu yang mulai

diperkenalkan sejak 4 SM. Area penonton diletakkan pada

sisi lembah, di atur seperti bentuk kipas 1800, mengelilingi

tempat pemain orkestra yang berbentuk lingkaran.

Gambar 2.20. Teater Yunani dengan panggung terbuka

3 Breton, G. 1989

Page 29: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 39

2. Teater Romawi berbentuk setengah lingkaran

Teater di Romawi dipengaruhi oleh teater dari

Yunani. Teater dibangun di dalam kota, di tanah yang

datar. Daerah penonton ditutupi oleh portico.

Gambar 2.21. Teater Romawi

3. Teater Mediaeval

Setelah kerajaan Romawi jatuh, teater diambil alih

oleh pihak gereja. Pada abad 11, drama

dipertunjukkan di depan altar atau tengah gereja.

Kemudian, ketika pertunjukan dilakukan di gereja

atau di area publik, walaupun instalasinya bersifat

temporer, dibangun dengan agung. Panggungnya

dari plat atau pedati. Pertunjukan menggabungkan

lagu-lagu, musik dan puisi.

Gambar 2.22. Teater Mediaeval

4. Galeri Elizabeth

Pada pertengahan abad 16 di Inggris, pertunjukan dilakukan

secara berpindah-pindah, dengan menaruh panggung di

halaman penginapan. Penonton berdiri di halaman di sekitar

panggung. Teater yang permanen dibangun di London pada

zaman Elizabeth I, dengan denah yang poligonal atau lingkaran.

Pada 1576, dibangun teater yang merupakan model teater

Elizabeth dan kemudian bentukan itu diikuti oleh teater publik.

Gambar 2.23. Galeri

Elizabeth

5. Amphiteater Renaisans

Pada 1580, Paladio membuat teater permanen dengan area

penonton yang berbentuk semi-elips di dalam hall

berbentuk kotak. Terdapat dinding panggung yang

didekorasi dan memiliki tiga pintu. Gambar 2.24. Amphiteater

Renaisans

Page 30: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 40

6. Masa kejayaan model dari Italia

Pada akhir abad 18, pertunjukkan opera menyebar ke seluruh

Eropa. Terdapat beberapa variasi bentuk geometri dari auditoria

Italia (tapal kuda, lyre, U dan elips yang memepat). Bentuk

auditorium dipengaruhi dari kebutuhan akustik dan garis

pandang penonton. Teater menjadi sebuah bangunan yang

berdiri sendiri, yang sebelumnya terdapat pada bangunan yang

sudah ada. Contoh dari model ini adalah La Scala di Milan.

Gambar 2.25. Auditorium

dari Italia

7. Amphiteatre

Konsep dari amphiteater adalah membangun kembali hubungan

yang tidak terputus antara panggung dan auditorium.

Gambar 2.26. Amphiteater

2.5 Kriteria Perancangan

Kegiatan yang diwadahi dalam gedung auditorium ini:

• Pertunjukan/pementasan yang meliputi kegiatan pementasan rutin dan insidental

dari kalangan musisi muda atau profesional dari Bandung dan seluruh Indonesia.

• Mewadahi jumlah pengunjung yang besar dengan aktivitas yang beragam seperti :

penonton pertunjukan, antrian untuk mendapatkan tiket, kepanitiaan atau Event

organizer, kedatangan dan kepulangan para artis penampil, aktivitas kendali

audio/visual effect, alur para official serta kegiatan administrasi pengelola.

• Pendidikan musik melalui workshop rutin ataupun insidental baik yang

diselenggarakan pengelola ataupun pihak lain.

• Fungsi komersial seperti kafetaria, lounge bar, toko buku, serta toko musik.

• Fungsi maintenance seperti jalur perawatan fasilitas dan area penyimpanan alat

musik.

Page 31: BAB II DATA AWAL PROYEK - Perpustakaan Digital · PDF fileTimur : Sawah kering, Bengkel, Mesjid Barat : Sawah Kering, ... - Studi kelayakan proyek telah dilakukan dan dinyatakan layak

Auditorium Musik Klasik 41

2.5.1 Langit-Langit

Langit-langit auditorium dirancang tidak datar(permukaan dimiringkan atau

dilengkungkan). Hal ini diatur sedemikian rupa sehingga membantu

menghasilkan sebuah reverberation time yang cukup untuk sebuah auditorium

musik klasik.

2.5.2 Ruang Duduk

• Lorong antar tempat duduk tidak boleh tersusun pada Sumbu Longitudinal

• Volume Tempat duduk; minimum 6,2 m3, optimal 7,8 m3, dan maksimum

10,8 m3

• Pola tempat duduk; 7-14-7 (Tradisional), maksimum 100 (kontinental)

• Lantai dibuat berundak, dimaksudkan agar pernerimaan suara dapat

langsung dan optimal, selain itu juga memungkinkan untuk melihat ke

depan dengan jelas.

2.5.3 Utilitas

• Utilitas disamarkan dengan penggabungan pada elemen akustik ruang

seperti dinding dan langit-langit.

• Loftblocks ditambahkan pada struktur atap sebagai area maintenance

utilitas.

2.5.4 Balkon

• Sudut angkat lantai balkon Maksimum. 350 .

• Ruang kontrol diletakkan di belakang balkon atau di sisi belakang lantai

dasar auditorium

2.5.5 Panggung

• Dimensi panggung; Panjang min. 12 m, dan lebar 16 m

• Ketinggian dinamis dengan menggunakan sistem elevator, terutama untuk

orchestra pit. Material yang digunakan kayu.