BAB II KAJIAN TEORI 1.1 Kajian Teori 2.1 - II.pdf  yang lain serta peranan guru sebagai fasilitator

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II KAJIAN TEORI 1.1 Kajian Teori 2.1 - II.pdf  yang lain serta peranan guru sebagai...

5

BAB II

KAJIAN TEORI

1.1 Kajian Teori

2.1.1 Pengertian IPA

Sains menurut Suyoso (1998: 23) merupakan pengetahuan hasil kegiatan

manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh

melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobyek, bermetode dan berlaku

secara universal. Sementara Carin (1993:3) mendefinisikan Sains sebagai The

activity of questioning and exploring the universe and finding and expressing its

hidden order, yaitu Suatu kegiatan berupa pertanyaan dan penyelidikan alam

semesta dan penemuan dan pengungkapan serangkaian rahasia alam.

Merujuk pada pengertian IPA itu, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat

IPA meliputi empat unsur utama yaitu; sikap, proses, produk, aplikasi.

a. Sikap : rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta

hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat

dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended;

b. Proses : prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah

meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan,

evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan;

c. Produk : berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;

d. Aplikasi : penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-

hari.

2.1.2 Prinsip dan Tujuan Pembelajaran IPA

Prinsip pembelajaran IPA

Prinsip-prinsip Piaget dalam pengajaran IPA (Abruscato, 1999) diterapkan

dalam program-program yang menekankan pembelajaran melalui penemuan dan

pengalaman-pengalaman nyata dan pemanipulasian alat, bahan, atau media belajar

5

6

yang lain serta peranan guru sebagai fasilitator yang mempersiapkan lingkungan

dan memungkinkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman belajar.

Implikasi teori kognitif Piaget pada pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar

kepada hasilnya. Selain kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami

proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut

2. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif

dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu, selain mengajar secara klasik, guru

mempersiapkan beranekaragam kegiatan secara langsung dengan dunia fisik

3. Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan

perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan

melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu

berlangsung pada kecepatan yang berbeda.

2.1.3 Tujuan pembelajaran IPA Bernal (1998: 3) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran IPA bagi

peserta didik agar peserta didik memiliki berbagai kemampuan. Kemampuan

tersebut diantaranya sebagi berikut:

a. Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan

keberadaan,keindahan,dan keteraturan alam ciptaan-Nya.

b. Mengembangkan konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat di

terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

c. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang

adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,

teknologi, dan masyarakat.

d. Mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,

memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar dan

MI, bahwa mata pelajaran IPA di SD/MI memiliki beberapa tujuan. Tujuan

tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

7

a. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang

bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya

hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan

masyarakat.

Kesimpulan dari beberapa pengertian prinsip dan tujuan IPA yaitu belajar

sains bukan hanya merupakan hafalan yang harus hafal diluar kepala, melainkan

belajar sains adalah suatu ilmu yang harus dimengerti dan dipahami. Ilmu

Pengetahuan Alam (sains) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan,

gagasan, dan konsep yang terorganisir, tentang alam sekitar yang diperoleh dari

pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah. Hal ini berarti bahwa fisika harus

diajarkan pada siswa secara utuh baik sikap ilmiah, proses ilmiah, maupun produk

ilmiah, sehingga siswa dapat belajar mandiri untuk mencapai hasil yang optimal.

Kemampuan siswa dalam menggunakan metode ilmiah perlu dikembangkan

untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan nyata.

2.1.4 Pengertian motivasi

Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut

bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat

diinterpretasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan, dorongan, atau

pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu. Dengan demikian,

motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha

mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi

kebutuhannya (Uno, 2008).

Usman (2003) berpendapat bahwa motif merupakan daya atau kemauan

dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah usaha

membangkitkan motif-motif sehingga menjadi suatu perbuatan. Hakikat motivasi

belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang

belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan

beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal tersebut mempunyai peranan

8

besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar

dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Adanya hasrat dan keinginan berhasil;

b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar;

c. Adanya harapan dan cita-cita masa depan;

d. Adanya penghargaan dalam belajar;

e. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar;

f. Adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan

seorang siswa dapat belajar dengan baik (Hamzah B. Uno, 2008).

Mengutip pendapat Mc. Donald (Tabrani, 1992: 100), motivation is energy

change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal

reaction. Motivasi adalah sesuatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang

yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Menurut Hamalik (2003), dalam kegiatan belajar, motivasi dapat

dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang

menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar

dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang

dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.

Sardiman A.M (2007), menyatakan bahwa siswa yang memiliki motivasi

kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Dalam

belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Motivation is an essential condition of

learning. Hasil belajar akan menjadi optimal, apabila terdapat motivasi. Makin

tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Dengan

kata lain, adanya usaha yang tekun dan didasari adanya motivasi, maka seseorang

yang belajar akan dapat melahirkan hasil yang baik. Intensitas motivasi seorang

siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian hasil belajarnya.

Fungsi-fungsi motivasi adalah:

a. Mendorong manusia untuk bertindak/berbuat. Motivasi berfungsi

sebagai pengerak atau motor yang memberikan energi/kekuatan

kepada seseorang untuk melakukan sesuatu.

9

b. Menentukan arah perbuatan. Yakni ke arah perwujudan tujuan atau

cita-cita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus

ditempuh untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan itu, makin jelas

pula jalan yang harus ditempuh.

c. Menyeleksi perbuatan. Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana

yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan

menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan.

(Ngalim Purwanto, 2002: 71)

Jenis-jenis motivasi berdasarkan sumbernya adalah:

Motivasi intrinsik, yang timbul dari dalam diri individu, misalnya

keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperolah informasi

dan pengertian, mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi

kehidupan, keinginan diterima oleh orang lain.

Motivasi ekstrinsik, yang timbul akibat adanya pengaruh dari luar

individu. Sperti hadiah, pujian, ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang

lain sehingga dengan keadaan demikian orang mau melakukan sesuatu.

(Tabrani, 1992: 120)

Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan

motivasi belajar siswa, sebagai berikut:

a. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.

Pada permulaan belajar mengajar hendaknya seorang guru menjelaskan mengenai

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang akan dicapai siswa. Tidak cukup sampai

di situ saja, tapi guru juga bisa memberikan penjelasan tentang pentingnya ilmu

yang aka