of 25 /25
BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indra seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun, dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik (Maramis, 2004). Halusinasi adalah perubahan persepsi sensori : keadaan dimana indifidu atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah, pola atau interpretasi stimulus yang datang ( Carpenito, 2000). Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan jiwa, halusinasi sering diidentifisikasikan dengan skizofrenia. Dari seluruh klien skizofrenia 70% diantaranya mengalami halusinasi. Gangguan jiwa lain yang disertai dengan gejala halusinasi adalah gejala panik defensif dan delirium. Berbeda dengan ilusi dimana klien mengalami persepsi yang salah terhadap stimulus, salah satu persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya stimulus internal dipersepsikan sebagai suatu yang nyata pada klien-klien. Dari beberapa pengertian halusinasi diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa halusinasi adalah suatu persepsi klien terhadap stimulus dari luar tanpa dari obyek yang nyata. Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan suatu obyek yang sebenarnya tidak terjadi.

BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

BAB II

KONSEP DASAR

A. Pengertian

Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca

indra seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun, dasarnya

mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik (Maramis, 2004).

Halusinasi adalah perubahan persepsi sensori : keadaan dimana indifidu

atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dalam

jumlah, pola atau interpretasi stimulus yang datang ( Carpenito, 2000).

Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien

dengan gangguan jiwa, halusinasi sering diidentifisikasikan dengan skizofrenia.

Dari seluruh klien skizofrenia 70% diantaranya mengalami halusinasi. Gangguan

jiwa lain yang disertai dengan gejala halusinasi adalah gejala panik defensif dan

delirium. Berbeda dengan ilusi dimana klien mengalami persepsi yang salah

terhadap stimulus, salah satu persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya

stimulus internal dipersepsikan sebagai suatu yang nyata pada klien-klien.

Dari beberapa pengertian halusinasi diatas penulis dapat menyimpulkan

bahwa halusinasi adalah suatu persepsi klien terhadap stimulus dari luar tanpa

dari obyek yang nyata. Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien

mempersepsikan suatu obyek yang sebenarnya tidak terjadi.

Page 2: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

1. Rentang Respon Halusinasi

Halusinasi merupakan salah satu respon maldaptive individual yang

berbeda rentang respon neurobiologi (Stuart and Laraia, 2005). Ini merupakan

persepsi maladaptive. Jika klien yang sehat persepsinya akurat, mampu

mengidentifisikan dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi

yang diterima melalui panca indera (pendengaran, pengelihatan, penciuman,

pengecapan dan perabaan) klien halusinasi mempersepsikan suatu stimulus

panca indera walaupun stimulus tersebut tidak ada. Diantara kedua respon

tersebut adalah respon individu yang karena suatu hal mengalami kelainan

persensif yaitu salah mempersepsikan stimulus yang diterimanya, yang

tersebut sebagai ilusi. Klien mengalami jika interpresentasi yang dilakukan

terhadap stimulus panca indera tidak sesuai stimulus yang diterimanya,

rentang respon tersebut sebagai berikut:

Page 3: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

Gambar 1. Rentang Respon Neurobiologi.

(Stuart & Laraia 2005).

1. Jenis-Jenis Halusinasi

Halusinasi menurut Rasmun (2001), itu dapat menjadi :

a. Halusinasi penglihatan (visual, optik): tak berbentuk(sinar, kilapan atau

pola cahaya) atau yang berbentuk(orang, binatang, barang yang dikenal)

baik itu yang berwarna atau tidak

b. Halusinasi pendengaran (autif, akustik): suara manusia, hewan, binatang

mesin, barang, kejadian alamiah atau musik

c. Halusinasi Penciuman (olfaktorius): mencium sesuatu bau

d. Halusinasi pengecap (gustatorik) : merasa/ mengecap sesuatu

e. Halusinasi peraba (taktil) : merasa diraba, disentuh, ditiup,disinari atau

seperti ada ulat bergerak di bawah kulitnya

Adaptif Maladaptif

Respon Adaptif

- Respon logis

- Persepsi akurat

- Perilaku sesuai

- Emosi sosial

Distorsi pikiran

- Distorsi pikiran

- Perilaku aneh /

tidak sesuai

- Menarik diri

- Emosi berlebihan

Gejala pikiran

- Delusi halusinasi

- Perilaku disgonisasi

- Sulit berespon

dengan pengalaman

Page 4: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

f. Halusinasi kinestetik : merasa badannya bergerak dalam sebuah

ruangan, atau anggota badannya bergerak (umpamanya anggota badan

bayangan atau phantom limb)

g. Halusinasi viseral : perasaan tertentu timbul didalam tubuhnya

h. Halusinasi Hipnagogik : terdapat ada kalanya pada seorang yang

normal, tetap sebelum tertidur persepsi sensorik bekerja salah

i. Halusinasi hipnopompik : seperti pada halusinasi Hipanogogik, tetapi

terjadi tepat sebelum terbangun samasekali dari tidurnya. Disamping itu

ada pula pengalaman halusinatorik dalam impian yang normal

j. Halusinasi histerik : Timbul pada nerosa histerik karena konflik

emosional

B. Tahapan Intensitas Halusinasi

Tingkat intensitas halusinasi ( Stuart dan Sundeen, 1995 : 328 ) :

Tahap I : Menyenangkan – Ansietas tingkat sedang.

1. Tingkat :

Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan

2. Karakteristik

Orang yang berhalusinasi mengalami keadaan emosi seperti ansietas,

kesepian, merasa bersalah, dan takut serta mencoba untuk memusatkan pada

penenangan pikiran untuk mengurangi ansietas, individu mengetahui bahwa

Page 5: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

pikiran dan sensori yang dialami tersebut dapat dikendalikan jika ansietasnya bisa

diatasi (Non Psikotik).

3. Prilaku klien

a. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai.

b. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara.

c. Gerakan mata yang cepat.

d. Respon verbal yang lamban.

e. Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan.

Tahap II : Menyalahkan – Ansietas tingkat berat.

1. Tingkat

Secara umum halusinasi menjijikkan.

2. Karakteristik

Pengalaman sensori bersifat menjijikkan dan menakutkan, orang

yang berhalusinasi mulai merasa kehilangan kendali dan mungkin berusaha

untuk menjauhkan dirinya dari sumber yang dipersepsikan, individu

mungkin merasa malu karena pengalaman sensorinya, dan menarik diri dari

orang lain ( Non Psikotik ).

3. Perilaku klien

a. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas, misal

peningkatan tanda – tanda vital.

b. Penyempitan kemampuan konsentrasi.

Page 6: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

c. Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan

kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realita.

Tahap III : Mengendalikan – Ansietas tingkat berat

1. Tingkat

Pengalaman sensori menjadi penguasa

2. Karakteristik

Orang yang berhalusinasi menyerah untuk melawan pengalaman

halusinasi dan membiarkan halusinasi menguasai dirinya, isi halusinasi dapat

berupa permohonan, individu mungkin mengalami kesepian jika pengalaman

sensori tersebut berakhir (Psikotik).

3. Perilaku klien

a. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya

dari pada menolaknya.

b. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.

c. Rentang perhatian hanya beberapa menit.

d. Gejala fisik ansietas berat (berkeringat, tremor, ketidakmampuan untuk

mengikuti petunjuk).

Tahap IV : Menaklukkan – Ansietas tingkat panik

1. Tingkat

Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait

dengan delusi.

2. Karakteristik

Page 7: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak

mengikuti perintah, halusinasi bisa berlangsung dalam beberapa jam atau

beberapa hari bila tidak ada intervensi terapeutik (Psikotik).

3. Prilaku klien

a. Perilaku menyerang seperti panik.

b. Potensial melakukan bunuh diri.

c. Amuk, agitasi, menarik diri, dan katakonik.

d. Tidak mampu berespon terhadap lingkungan

C. Etiologi

1. Faktor predisposisi ( stuart and sundeen,1995 )

a. Faktor perkembangan

Pada tahap perkembangan individu mempunyai tugas

perkembangan yang berhubungan dengan pertumbuhan interpersonal, bila

dalam pencapaian tugas perkembangan tersebut mengalami gangguan

akan menyebabkan seseorang berperilku menarik diri.

b. Faktir biologik

Abnormalitas otak yang menyebabkan respon neurobiologist yang

mal adaptif yang baru di mulai di pahami,ini termasuk hal hal sebagai

berikut :

Penilaian pencitraan otak sudah mulai menuunjukan keterlibatan

otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia:lesi pada area

frontal temporal dan limbic paling berhubunggan dengan perilaku

Page 8: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

psikotik,beberapa kimia otak dikaitkan dengan gejalaskizofrenia antara

lain:dopain,neurotransmitter dan lain lain.

c. Faktor sosiokultural.

Teori social budaya atau lingkungan meyakini bahwa oang yang

berasal dari sosial ekonomi rendah aatu kondisi orang tua tunggal dan

tidak mempunyai kesempatan mendaptkan penghargaan dari orang lain

yang dapt mempengaruhi gangguan orientasi realita sehingga

memberikan reaksi yang salah dan tidak mampu berespon terhdap

stimulus dari luar.isolasi sosial merupakan factor dalam gangguan

berhubungan.akibat dari dari norma yanfg tuidak mendukung pendekatan

terhadap orang lain atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tiak

produktif seperti lansia,orang cacat dan berpenyakit kronis.

d. Faktor keluarga.

System keluarga yang terganggu dan Norma keluarga yang tidak

mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain diluar keluarga dengan

pihak lain diluar keluarga dapat mengembangkan perilaku menarik

diri.faktor genetic dapat mendukung terjadinya gangguan dalam

hubungan sosial sehingga menimbulkan perilaku menarik diri sampai

engan halusinasi.

e. Faktor presipitasi (stuart and sundeen,1995).

a. Stressor sosio kuktural

Page 9: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

Menurunnya stabilitasi unit keluarga.

Berpisah dari orang yang berarti dalam keluarga dalam

kehidupannya missalnya karena dirawat di rumah

sakit,perceraian.

b. Stresor psikologik.

Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan

dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya.

c. Biologis

Stressor biologis yang berhubungan dengan respon

neurobiologist yang maladptif.

d. Gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses

informasi.

D. Tanda dan gejala.

Beberapa tanda dan gejala perilaku halusinasi adalah tersenyum atau

tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, bicara

sendiri,pergerakan mata cepat, diam, asyik dengan pengalaman

sensori,kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dan realitas rentang

perhatian yang menyempit hanya beberapa detik atau menit, kesukaran

berhubungan dengan orang lain, tidak mampu merawat diri,perubahan

Page 10: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

Tabel 2 : Karakteristik Halusinasi (Stuart and Farala 2003)

Jenis halusinasi Karakteristik

Pendengaran

Penglihatan

Penciuman

Pengecapan

Perabaan

Canesthetic

Klinestetic

Mendengar suara-suara / kebisingan, paling sering suara kata

yang jelas, berbicara dengan klien bahkan sampai percakapan

lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran

yang terdengar jelas dimana klien mendengar perkataan bahwa

pasieb disuruh untuk melakukan sesuatu kadang-kadang dapat

membahayakan.

Stimulus penglihatan dalam kilatan cahaya, gambar giometris,

gambar karton dan atau panorama yang luas dan komplek.

Penglihatan dapat berupa sesuatu yang menyenangkan /sesuatu

yang menakutkan seperti monster.

Membau bau-bau seperti bau darah, urine, fases umumnya bau-

bau yang tidak menyenangkan. Halusinasi penciuman biasanya

sering akibat stroke, tumor, kejang / dernentia.

Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urine, fases.

Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang

jelas rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati

atau orang lain.

Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah divera (arteri),

pencernaan makanan.

Page 11: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

E. Pengkajian

Menurut ( Keliat, 2005 )

Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses

keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan

kebutuhan, atau masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis,

psikologis, social, dan spiritual. Data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat

dikelompokkan menjadi factor predisposisi, factor presipitasi penilaian terhadap

stressor, sumber koping, dan kemampuan koping yang dimiliki klien, cara ini

yang akan dipakai pada uraian berikut. Cara pengkajian lain berfokus pada 5

(lima) dimensi, yaitu fisik, emosional, intelektual, social, dan spiritual.

a. Faktor Predisposisi

1) Faktor genetik dianggap mempengaruhi transmisi gangguan afektif

melalui riwayat keluarga atau keturunan.

2) Teori agresif menyerang menunjukkan bahwa depresi terjadi karena

perasaan marah yang ditunjukkan pada diri sendiri.

3) Teori kehilangan obyek merujuk kepada perpisahan traumatik individu

dengan benda atau yang sangat berarti.

4) Teori organisasi kepribadian menguraikan bagaimana konsep diri yang

negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan

penilaian seseorang terhadap stressor.

Page 12: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

5) Model kognitif menyatakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif

yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri seseorang,

dunia seseorang dan masa depan seseorang.

6) Model ketidakberdayaan yang dipelajari menunjukkan bahwa bukan

semata – mata trauma menyebabkan depresi tetapi keyakinann bahwa

seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yang penting dalam

kehidupannya.

7) Model perilaku mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya

keinginan positif dalam berinteraksi dengan lingkungan.

b. Faktor Presipitasi

1) Kehilangan keterkaitan yang nyata atau yang dibayangkan, termasuk

kehilangan cinta seseorang, fungsi fisik, kedudukan atau harga diri.

2) Peristiwa besar dalam kehidupan.

3) Peran dan ketegangan peran.

4) Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat – obatan atau berbagai

penyakit fisik.

5) Sumber – sumber koping meliputi status sosial ekonomi, keluarga,,

jaringan interpersonal dan organisasi yang dianungio oleh lingkungan

sosial yang lebih luas.

( Stuart dan Sundeen, 1998: 257 – 261 )

Page 13: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

F. Masalah Keperawatan

Adapun masalah yang mungkin muncul pada klien dengan gangguan

sensorori persepsi halusinasi pendengaran antara lain adalah :

a. Isolasi social : menarik diri (Townsend, 1998 : 192)

b. Resiko tinggi mencederai (diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan) (

Keliet, 1998 : 28-29)

c. Kerusakan komunikasi verbal (Townsend, 1998 : 73)

d. Gangguan konsep diri : harga diri rendah. (Townsend, 1998 : 73)

G. Pohon Masalah.

(Keliat,2006)

H. Diagnosa Keperawatan

a. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

b. Perubahan persepsi sensori : Halusinasi dengar.

c. Isolasi sosial : Menarik diri.

(Keliat 2006)

Resiko Menciderai Diri Sendiri, Orang Lain,

Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran

Isolasi Sosial: Menarik Diri

Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah

problem

Page 14: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

I. Fokus Intervensi

Perencanaan keperawatan terdiri dari tiga aspek, yaitu tujuan umum,

tujuan khusus, dan rencana tindakan tindakan keperawatan. Tujan umum berfokus

pada penyelesaian permasalahan (P) dari diagnoses tertentu. Tujuan umum dapat

dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai.

1. Risiko Perilaku Mencederai Diri (Keliat, 2002)

a. Tujuan Umum:

Klien tidak mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

b. Tujuan Khusus:

1) Membina hubungan saling percaya

Tindakan:

a) Salam terapeutik - perkenalkan diri - jelaskan tujuan - ciptakan

lingkungan yang tenang - buat kontrak yang jelas (waktu, tempat,

topik)

b) Beri kesempatan mengungkapkan perasaan

c) Empati

d) Ajak membicarakan hal - hal nyata yang ada di lingkungan

2) Strategi pelaksanaan (Sp 1p)

a) Mengidentifikasi penyebab perilaku ekerasan

b) Mengidentififikasi tanda dan gejala kekerasan

c) Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan

d) Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan

e) Mengajarkan cara mengontrol perilaku kekerasan

Page 15: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

f) Melatih pasien cara konttol perilaku kekerasan fisik 1 (nafas

dalam)

g) Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

3) Strategi pelaksanaan (Sp 2p)

a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

b) Melatih pasien cara control perilaku kekerasan fisik II (memukul

bantal / kasur atau konversi energi)

c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian

4) Startegi pelaksanaan (Sp 3p)

a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

b) Melatih pasien cara control perilaku kekerasan secara

verbal(meminta,menolak,dan mengungkapkan marah secara baik)

c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian

5) Strategi pelaksanaan (Sp 4p)

a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

b) Melatih pasien cara control perilaku kekerasan secara

spiritual(berdoa,berwudu,solat)

c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian

6) Strategi pelaksanaan (Sp 5p)

a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

b) Menjelaskan cara control perilaku kekerasan dengan meminum

obat(prinsip lima benar minum obat)

c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian

2. Perubahan persepsi sensori : Halusinasi.

Page 16: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

a. Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga

tidak terjadi halusinasi

b. Tujuan khusus :

1). Klien dapat Bina Hubungan Saling Percaya

Intevensi:

a) Salam terapeutik - perkenalkan diri - jelaskan tujuan - ciptakan

lingkungan yang tenang - buat kontrak yang jelas (waktu, tempat,

topik)

b) Beri kesempatan mengungkapkan perasaan

c) Empati

d) Ajak membicarakan hal - hal nyata yang ada di lingkungan

2). Klien dapat mengenal halusinasinya

Tindakan :

a) Kontak sering dan singkat

b) Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal dan

non verbal)

c) Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah ada

suara yang didengar - apa yang dikatakan oleh suara itu Katakan

bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, tetapi perawat

tidak mendengamya. Katakan bahwa perawat akan membantu.

Page 17: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

d) Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi, waktu,

frekuensi terjadinya halusinasi serta apa yang dirasakan jika terjadi

halusinasi.

3). Dorong untuk mengungkapkan perasaannya

Tindakan:

a) Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika teriadi halusinasi

b) Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru untuk

mengontrol halusinasinya

c) Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi: bicara dengan

orang lain bila muncul halusinasi, melakukan kegiatan, mengatakan

pada suara tersebut " saya tidak mau dengar!"

d) Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih / dilakukan

e) Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri pujian

jika berhasil

4) Klien dapat dukungan dari keluarga

Tindakan:

a) Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala,

cara memutus halusinasi, cara merawat, informasi waktu follow up

atau kapan perlu mendapat bantuan

b) Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

Page 18: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

5) Klien dapat menggunakan obat dengan benar

Tindakan:

a) Diskusikan tentang dosis, nama, frekuensi, efek dan efek samping

minum obat

b) Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama, pasien,

obat, dosis, cara dan waktu)

c) Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang

dirasakan

d) Beri reinforcement positif bila klien mintun obat yang benar

3. Kerusakan interaksi sosial : Menarik diri.

a. Tujuan Umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara

optimal.

b. Tujuan khusus :

1). Klien dapat membina hubungan saling percaya

Intervensi :

a) Sapa klien dengan ramah baik vebal maupun non verbal.

b) Perkenalkan diri dengan sopan

c) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan

d) Jelaskan tujuan pertemuan

Page 19: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

e) Jujur dan menepati janji

f) Tunjukkan sikap empati, menerima klien apa adanya.

g) Beri perhatian pada klien dan perhatian dasar klien.

2) Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri

Kriteria Evaluasi: klien dapat menyebutkan menarik diri yang berasal

dari diri sendiri,orang lain dan lingkungan

Intervensi:

a) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri.

b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan

menarik diri.

c) Diskusikan bersama klien tentang perlau menarik diri, tanda-tanda

serta penyebab yang muncul.

d) Beri pujian terhadap kemampuan klien dalam mengungkapkan

perasaannya.

3) Klien dapat menyebutkan manfaat berhubungan dengan orang lain

dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

Kriteria Evaluasi: klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan

dengan orang lain.

Intervensi :

Page 20: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

a) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan dengan

orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan

tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.

c) Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubunga dengan

orang lain

d) Beri reinforcement positif tentang kemampuan mengungkapkan

perasaan tentang manfaat berhubunga dengan orang lain.

e) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan

tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

f) Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan

dengan orang lain

g) Beri reinforcement positif tentang kemampuan mengungkapkan

perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

4) Klien melaksanakan hubungan secara bertahap.

Kriteria Evaluasi: klien dapat mendemotrasikan hubungan sosial

secara bertahap antara klien – perawat; klien-perawat-perawat lain;

klien-perawat-perawat lain-klien lain; klien-perawat-keluarga/

kelompok masyarakat.

a) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan dengan

orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

Page 21: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

b) Mendorong dan membantu klien untuk berhubungan dengan

orang lain melalui tahap:

1) Klien – perawat

2) Klien – perawat – perawat lain

3) Klien – perawat – perawat lain – klien lain

4) Klien – perawat – keluarga / kelompok masyarakat

c) Memberi reinforcement terhadap keberhasilan yang sudah

dicapai.

d) Membantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan

dengan orang lain.

e) Mendiskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien

dalam mengisi waktu.

f) Memotivasi klien untuk mengikuti kegiatan harian

g) Beri reinforcement positif tentang kemampuan mengungkapkan

perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.

5) Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan

orang lain

Kriteria Evaluasi : klien dapat mengungkapkan perasaan berhubungan

dengan orang lain untuk diri sendiri.

Intervensi :

Page 22: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

a) Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaanya setelah

berhubungan dengan orang lain.

b) Mendiskusikan bersama klien tentang perasaanya manfaat

berhubungan dengan orang lain.

c) Beri reinforcement positif tentang kemampuan mengungkapkan

perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.

6) Klien dapat berdayakan sistem pendukung atau keluarga

Kriteria Evaluasi : keluarga dapat menjelaskan

perasaannya,menjelaskan cara merawat klien menarik diri dan

berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri.

Intervensi :

a) Bina hubungan saling percaya

1) Salam dan perkenalkan diri

2) Sampaikan tujuan

3) Eksplorasi perasaan keluarga

b) Diskusikan dengan anggota keluarga yang lain tentang

1) Perilaku menarik diri

2) Penyebab perilaku menarik diri

3) Akibat perilaku menarik diri jika perilaku menarik diri tidak

di tanggapi

Page 23: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

c) Mendorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada

klien untuk berkomunikasi dengan orang lain.

d) Anjurkan kepada keluarga secara rutin dan bergantian untuk

menjenguk klien minimal 1x seminggu.Memberi reinforcement

atas hal-hal yang telah dicapai keluarga.

Halusinasi Pasien

SP I p

1. Mengidentifikasi jenis

halusinasi pasien

2. Mengidentifikasi isi halusinasi

pasien

3. Mengidentifikasi waktu

halusinasi pasien

4. Mengidentifikasi frekuensi

halusinasi pasien

5. Mengidentifikasi situasi yang

menimbulkan halusinasi

6. Mengidentifikasi respons pasien

Keluarga

SP I k

1. Mendiskusikan masalah

yang dirasakan keluarga

dalam merawat pasien

2. Menjelaskan pengertian,

tanda dan gejala halusinasi,

dan jenis halusinasi yang

dialami pasien beserta

proses terjadinya

3. Menjelaskan cara-cara

merawat pasien halusinasi

Page 24: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

terhadap halusinasi

7. Melatih pasien cara kontrol

halusinasi dengan menghardik

8. Membimbing pasien

memasukkan dalam jadwal

kegiatan harian.

SP II p

1. Memvalidasi masalah dan latihan

sebelumnya.

2. Melatih pasien cara kontrol

halusinasi dengan berbincang

dengan orang lain

3. Membimbing pasien

memasukkan dalam jadwal

kegiatan harian.

SP III p

1. Memvalidasi masalah dan latihan

sebelumnya.

SP II k

1. Melatih keluarga

mempraktekkan cara

merawat pasien dengan

halusinasi

2. Melatih keluarga

melakukan cara merawat

langsung kepada pasien

halusinasi

SP III k

1. Membantu keluarga

membuat jadual aktivitas di

Page 25: BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian - …sasing.unimus.ac.id/files/disk1/126/jtptunimus-gdl-mohamadagu-6271... · Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah problem. I. Fokus Intervensi

2. Melatih pasien cara kontrol

halusinasi dengan kegiatan

(yang biasa dilakukan pasien).

3. Membimbing pasien

memasukkan dalam jadwal

kegiatan harian.

SP IV p

1. Memvalidasi masalah dan latihan

sebelumnya.

2. Menjelaskan cara kontrol

halusinasi dengan teratur minum

obat (prinsip 5 benar minum

obat).

4. Membimbing pasien

memasukkan dalam jadwal

kegiatan harian.

rumah termasuk minum

obat (discharge planning)

2. Menjelaskan follow up

pasien setelah pulang