of 23 /23
BAB II LANDASAN TEORI A. Penyesuaian Diri Terhadap Perubahan Fisik 1. Pengertian Penyesuaian Diri Menurut Schneiders (dalam Patosuwido, 1993) penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustrasi dan kemampuan untuk mengembangkan mekanisme psikologi yang tepat. Sawrey dan Telford (dalam Colhoun & Acocella, 1990) mendefinisikan penyesuaian diri sebagai interaksi terus-menerus antara individu dengan lingkungannya yang melibatkan sistem behavioral, kognisi, dan emosional. Dalam interaksi tersebut baik individu maupun lingkungan menjadi agen perubahan. Penyesuaian dapat didefenisikan sebagai interaksi yang kontiniu dengan diri sendiri, dengan orang lain dan dengan dunia. Ketiga faktor ini secara konsisten mempengaruhi seseorang. Hubungan ini bersifat timbal balik (Calhoun & Acocella, 1990). Dari pendapat para ahli di atas, dapat di simpulkan bahwa penyesuaian diri adalah kemampuan individu dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam hidupnya, untuk mempertemukan tuntutan diri dan lingkungan agar tercapai keadaan atau tujuan yang diharapkan oleh diri sendiri dan lingkungannya. 2. Kriteria Penyesuaian Diri Penyesuaian diri berlangsung secara terus-menerus dalam diri individu dan lingkungan. Schneiders (1964) memberikan kriteria individu dengan penyesuaian diri yang baik, yaitu sebagai berikut : a. Pengetahuan tentang kekurangan dan kelebihan dirinya. b. Objektivitas diri dan penerimaan diri c. Kontrol dan perkembangan diri Universitas Sumatera Utara

BAB II LANDASAN TEORI A. Penyesuaian Diri Terhadap ...melaksanakan penyesuaian diri. b. Perkembangan dan kematangan Bentuk-bentuk penyesuaian diri individu berbeda pada setiap tahap

Embed Size (px)

Text of BAB II LANDASAN TEORI A. Penyesuaian Diri Terhadap ...melaksanakan penyesuaian diri. b. Perkembangan...

  • BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Penyesuaian Diri Terhadap Perubahan Fisik

    1. Pengertian Penyesuaian Diri

    Menurut Schneiders (dalam Patosuwido, 1993) penyesuaian diri merupakan

    kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustrasi dan kemampuan untuk

    mengembangkan mekanisme psikologi yang tepat. Sawrey dan Telford (dalam Colhoun &

    Acocella, 1990) mendefinisikan penyesuaian diri sebagai interaksi terus-menerus antara

    individu dengan lingkungannya yang melibatkan sistem behavioral, kognisi, dan emosional.

    Dalam interaksi tersebut baik individu maupun lingkungan menjadi agen perubahan.

    Penyesuaian dapat didefenisikan sebagai interaksi yang kontiniu dengan diri sendiri, dengan

    orang lain dan dengan dunia. Ketiga faktor ini secara konsisten mempengaruhi seseorang.

    Hubungan ini bersifat timbal balik (Calhoun & Acocella, 1990).

    Dari pendapat para ahli di atas, dapat di simpulkan bahwa penyesuaian diri adalah

    kemampuan individu dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam hidupnya, untuk

    mempertemukan tuntutan diri dan lingkungan agar tercapai keadaan atau tujuan yang

    diharapkan oleh diri sendiri dan lingkungannya.

    2. Kriteria Penyesuaian Diri

    Penyesuaian diri berlangsung secara terus-menerus dalam diri individu dan lingkungan.

    Schneiders (1964) memberikan kriteria individu dengan penyesuaian diri yang baik, yaitu

    sebagai berikut :

    a. Pengetahuan tentang kekurangan dan kelebihan dirinya.

    b. Objektivitas diri dan penerimaan diri

    c. Kontrol dan perkembangan diri

    Universitas Sumatera Utara

  • d. Integrasi pribadi yang baik

    e. Adanya tujuan dan arah yang jelas dari perbuatannya

    f. Adanya perspektif, skala nilai, filsafat hidup yang adekuat

    g. Mempunyai rasa humor

    h. Mempunyai rasa tanggung jawab

    i. Menunjukkan kematangan respon

    j. Adanya perkembangan kebiasaan yang baik

    k. Adanya adaptabilitas

    l. Bebas dari respon-respon yang simtomatis atau cacat

    m. Memiliki kemampuan bekerjasama dan menaruh minat terhadap orang lain

    n. Memiliki minat yang besar dalam bekerja dan bermain

    o. Adanya kepuasan dalam bekerja dan bermain

    p. Memiliki orientasi yang adekuat terhadap realitas

    Individu dengan penyesuaian diri yang baik maka dia memiliki ciri-ciri penyesuaian

    diri yang baik tersebut secara terus menerus di dalam hidupnya.

    3. Aspek-aspek Penyesuaian Diri

    Schneiders (1964) mengungkapkan bahwa penyesuaian diri yang baik meliputi enam

    aspek sebagai berikut :

    a. Tidak terdapat emosionalitas yang berlebih

    Aspek pertama menekankan kepada adanya kontrol dan ketenangan emosi individu

    yang memungkinkannya untuk menghadapi permasalahan secara inteligen dan dapat

    menentukan berbagai kemungkinan pemecahan masalah ketika muncul hambatan. Bukan

    berarti tidak ada emosi sama sekali, tetapi lebih kepada kontrol emosi ketika menghadapi

    situasi tertentu.

    Universitas Sumatera Utara

  • b. Tidak terdapat mekanisme psikologis

    Aspek kedua menjelaskan pendekatan terhadap permasalahan lebih mengindikasikan

    respon yang normal dari pada penyelesaian masalah yang memutar melalui serangkaian

    mekanisme pertahanan diri yang disertai tindakan nyata untuk mengubah suatu kondisi.

    Individu dikategorikan normal jika bersedia mengakui kegagalan yang dialami dan berusaha

    kembali untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Individu dikatakan mengalami gangguan

    penyesuaian jika individu mengalami kegagalan dan menyatakan bahwa tujuan tersebut tidak

    berharga untuk dicapai.

    c. Tidak terdapat perasaan frustrasi personal

    Penyesuaian dikatakan normal ketika seseorang bebas dari frustasi personal. Perasaan

    frustasi membuat seseorang sulit untuk bereaksi secara normal terhadap situasi atau masalah.

    Individu yang mengalami frustrasi ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan tanpa harapan,

    maka akan sulit bagi individu untuk mengorganisir kemampuan berpikir, perasaan, motivasi

    dan tingkah laku dalam menghadapi situasi yang menuntut penyelesaian.

    d. Kemampuan untuk belajar

    Proses dari penyesuaian yang normal bisa diidentifikasikan dengan pertumbuhan dan

    perkembangan dalam pemecahan situasi yang penuh dengan konflik, frustasi atau stres.

    Penyesuaian normal yang ditunjukkan individu merupakan proses belajar berkesinambungan

    dari perkembangan individu sebagai hasil dari kemampuannya mengatasi situasi konflik dan

    stres.

    e. Pemanfaatan pengalaman masa lalu

    Dalam proses pertumbuhan dan perubahan, penggunaan pengalaman di masa lalu itu

    penting. Ini merupakan salah satu cara dimana organism belajar. Individu dapat

    menggunakan pengalamannya maupun pengalaman orang lain melalui proses belajar.

    Universitas Sumatera Utara

  • Individu dapat melakukan analisis mengenai faktor-faktor apa saja yang membantu dan

    mengganggu penyesuaiannya.

    f. Sikap realistik dan objektif

    Penyesuaian yang normal secara konsisten berhubungan dengan sikap realistik dan

    objektif. Sikap yang realistik dan objektif adalah berdasarkan pembelajaran, pengalaman

    masa lalu, pemikiran rasional mampu menilai situasi, masalah atau keterbatasan personal

    seperti apa adanya. Sikap yang realistik dan objektif bersumber pada pemikiran yang

    rasional, kemampuan menilai situasi, masalah dan keterbatasan individu sesuai dengan

    kenyataan sebenarnya.

    g. Pertimbangan rasional dan pengarahkan diri

    Individu memiliki kemampuan berpikir dan melakukan pertimbangan terhadap

    masalah atau konflik serta kemampuan mengorganisasi pikiran, tingkah laku dan perasaan

    untuk memecahkan masalah, dalam kondisi sulit sekalipun menunjukkan penyesuaian yang

    normal. Individu tidak mampu melakukan penyesuaian diri yang baik apabila individu

    dikuasai oleh emosi yang berlebihan ketika berhadapan dengan situasi yang menimbulkan

    konflik.

    4. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri

    Sawrey dan Telford (dalam Calhoun & Acocella, 1995) mengemukakan bahwa

    penyesuaian bervariasi sifatnya, apakah sesuai atau tidak dengan keinginan sosial, sesuai atau

    tidak dengan keinginan personal, menunjukkan konformitas sosial atau tidak, dan atau

    kombinasi dari beberapa sifat di atas. Sawrey dan Telford lebih jauh lagi mengemukakan

    bahwa penyesuaian yang dilakukan tergantung pada sejumlah faktor yaitu pengalaman

    terdahulu, sumber frustrasi, kekuatan motivasi, dan kemampuan individu untuk

    menanggulangi masalah.

    Universitas Sumatera Utara

  • Menurut Schneiders (1964) faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri

    adalah:

    a. Keadaan fisik

    Kondisi fisik individu merupakan faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri, sebab

    keadaan sistem-sistem tubuh yang baik merupakan syarat bagi terciptanya penyesuaian diri

    yang baik. Adanya cacat fisik dan penyakit kronis akan melatarbelakangi adanya hambatan

    pada individu dalam

    melaksanakan penyesuaian diri.

    b. Perkembangan dan kematangan

    Bentuk-bentuk penyesuaian diri individu berbeda pada setiap tahap perkembangan.

    Sejalan dengan perkembangannya, individu meninggalkan tingkah laku infantil dalam

    merespon lingkungan. Hal tersebut bukan karena proses pembelajaran semata, melainkan

    karena individu menjadi lebih matang. Kematangan individu dalam segi intelektual, sosial,

    moral, dan emosi mempengaruhi bagaimana individu melakukan penyesuaian diri.

    c. Keadaan psikologis

    Keadaan mental yang sehat merupakan syarat bagi tercapainya penyesuaian diri yang

    baik, sehingga dapat dikatakan bahwa adanya frustrasi, kecemasan dan cacat mental akan

    dapat melatarbelakangi adanya hambatan dalam penyesuaian diri. Keadaan mental yang baik

    akan mendorong individu untuk memberikan respon yang selaras dengan dorongan internal

    maupun tuntutan lingkungannya. Variabel yang termasuk dalam keadaan psikologis di

    antaranya adalah pengalaman, pendidikan, konsep diri, dan keyakinan diri.

    d. Keadaan lingkungan

    Keadaan lingkungan yang baik, damai, tentram, aman, penuh penerimaan dan

    pengertian, serta mampu memberikan perlindungan kepada anggota-anggotanya merupakan

    lingkungan yang akan memperlancar proses penyesuaian diri. Sebaliknya apabila individu

    Universitas Sumatera Utara

  • tinggal di lingkungan yang tidak tentram, tidak damai, dan tidak aman, maka individu

    tersebut akan mengalami gangguan dalam melakukan proses penyesuaian diri. Keadaan

    lingkungan yang dimaksud meliputi sekolah, rumah, dan keluarga. Sekolah bukan hanya

    memberikan pendidikan bagi individu dalam segi intelektual, tetapi juga dalam aspek sosial

    dan moral yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah juga berpengaruh dalam

    pembentukan minat, keyakinan, sikap dan nilai-nilai yang menjadi dasar penyesuaian diri

    yang baik (Schneiders, 1964).

    Keadaan keluarga memegang peranan penting pada individu dalam melakukan

    penyesuaian diri. Susunan individu dalam keluarga, banyaknya anggota keluarga, peran

    sosial individu serta pola hubungan orang tua dan anak dapat mempengaruhi individu dalam

    melakukan penyesuaian diri. Keluarga dengan jumlah anggota yang banyak mengharuskan

    anggota untuk menyesuaikan perilakunya dengan harapan dan hak anggota keluarga yang

    lain. Situasi tersebut dapat mempermudah penyesuaian diri, proses belajar, dan sosialisasi

    atau justru memunculkan persaingan, kecemburuan, dan agresi. Setiap individu dalam

    keluarga memainkan peran sosial sesuai dengan harapan dan sikap anggota keluarga yang

    lain. Orang tua memiliki sikap dan harapan supaya anak berperan sesuai dengan jenis

    kelamin dan usianya. Sikap dan harapan orang tua yang realistik dapat membantu remaja

    mencapai kedewasaannya sehingga remaja dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan

    tanggung jawab. Sikap orang tua yang overprotektif atau kurang peduli akan menghasilkan

    remaja yang kurang mampu menyesuaikan diri. Hubungan anak dengan orang tua dapat

    mempengaruhi penyesuaian diri. Penerimaan orang tua terhadap remaja memberikan

    penghargaan, rasa aman, kepercayaan diri, afeksi pada remaja yang mendukung penyesuaian

    diri dan stabilitas mental. Sebaliknya, penolakan orang tua menimbulkan permusuhan dan

    kenakalan remaja. Identifikasi anak pada orang tua juga mempengaruhi penyesuaian diri.

    Universitas Sumatera Utara

  • Apabila orang tua merupakan model yang baik, identifikasi akan menghasilkan pengaruh

    yang baik terhadap penyesuaian diri.

    e. Tingkat religiusitas dan kebudayaan

    Religiusitas merupakan faktor yang memberikan suasana psikologis yang dapat

    digunakan untuk mengurangi konflik, frustrasi dan ketegangan psikis lain. Religiusitas

    memberi nilai dan keyakinan sehingga individu memiliki arti, tujuan, dan stabilitas hidup

    yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan dan perubahan yang terjadi dalam hidupnya

    (Schneiders, 1964). Kebudayaan pada suatu masyarakat merupakan suatu faktor yang

    membentuk watak dan tingkah laku individu untuk menyesuaikan diri dengan baik atau justru

    membentuk individu yang sulit menyesuaikan diri.

    5. Penyesuaian Diri Masa Dewasa Madya

    Masalah-masalah tertentu yang timbul pada tiap tahap kehidupan membutuhkan

    penyesuaian diri. Penyesuaian diri yang yang terlibat lebih sulit dari tahap kehidupan yaitu

    pada masa dewasa madya. Menurut Hurlock (1998) penyesuaian sebagai orangtua yang

    memiliki anak remaja, pola kehidupan keluarga yang semakin kompleks, munculnya

    perubahan perubahan jasmani dan mental merupakan masalah-masalah yang timbul pada

    masa dewasa madya. Terlebih lagi jika individu tersebut dihadapi pada keadaan yang

    mengharuskannya menjadi orangtua tunggal karena kehilangan pasangan, baik karena

    bercerai maupun karena kematian pasangan

    B. PERUBAHAN FISIK

    1. Pengertian Perubahan Fisik

    Merill & Verbrugge (dalam Papalia, 2008) mengatakan beberapa perubahan fisiologis

    merupakan akibat dari usia dan genetik, faktor perilaku dan gaya hidup yang dimulai dari

    masa muda dapat mempengaruhi kecenderungan, penentuan waktu, dan luas perubahan fisik.

    Universitas Sumatera Utara

  • Untuk alasan yang sama, kebiasaan kesehatan dan gaya hidup pada masa paruh baya

    mempengaruhi apa yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Orang-orang yang membatasi

    keterpaparan diri mereka terhadap matahari dapat meminimalisir kerut dan menghindari

    kanker kulit, dan orang yang aktif secara fisik dapat mempertahankan kekuatan otot prediktor

    yang sangat kuat terhadap kondisi fisik di usia tua, Rantanen ( dalam papalia, 2008).

    2. Ciri Ciri Perubahan Fisik

    a. Kinerja sensori dan psikomotor

    Masalah penglihatan yang berkaitan dengan usia sebagain besar terjadi pada lima

    daerah : near, vision, dynamic vision, sensitivity to light, visual search ( misalnya,

    menemukan lokasi sinyal), dan kecepatan memproses informasi visual, Kline (dalam Papalia,

    2008). Umumnya adalah sedikit kemunduran dalam visual acuity : atau ketajaman

    pendengaran. Karena perubahan pada pupil mata, orang orang usia pertengahan

    membutuhkan cahaya yang lebih cerah untuk mengompensasi penurunan tingkat cahaya yang

    dapat mencapai retina, Belbin (dalam Papalia, 2008).

    Banyak orang usia 40 dan lebih tua memerlukan kacamata baca karena prebyopia

    (rabun jauh), penurunan kemampuan untuk fokus pada objek dekat kondisi yang dikaitkan

    dengan usia. Myopia juga meningkatkan pada usia pertengahan, Merill & Verbrugge (dalam

    Papalia, 2008) . Bifocal dan trifocal kacamata yang lensa bacanya digabung dengan lensa

    untuk pandangan jauh membantu mata menyesuaikan antara objek dekat dan jauh.

    Orang dewasa mulai kehilangan sensitivitas seutuhnya setelah usia 45 tahun, dan

    terdapat rasa sakit setelah usia 50 tahun. Akan tetapi, rasa sakit berfungsi sebagai proteksi

    terus bertahan, walaupun orang-orang merasa kurang sakit, akan tetapi mereka semakin tidak

    mampu menoleransinya, Katchadourian (dalam Papalia, 2008).

    Kekuatan dan koordinasi menurun secara perlahan dari puncak sepanjang usia dua

    puluhan. Sebagian kehilangan kekuatan otot mulai terlihat pada usia 45 tahun, 10 persen 15

    Universitas Sumatera Utara

  • persen dari kekuatan maksimum mungkin menghilang pada usia 60. Kebanyakan orang

    memerhatikan bahwa pelemahan pertama terjadi pada otot betis luar dan dalam lalu

    kemudian pada lengan dan bahu dua bagian yang terakhir baru akan terjadi ketika memasuki

    usia 60-an. Alasan hilangnya kekuatan ini adalah hilangnya serat otot yang digantikan oleh

    lemak. Pada usia paruh baya lemak tubuh yang hanya merupakan 10 persen dari berat tubuh

    sepanjang masa remaja mencapai paling tidak 20 persen, Katchadourian (dalam Papalia

    2008). Akan tetapi terdapat perbedaan individu besar disana, dan menjadi semakin besar pada

    setiap dekade yang berlalu (Spirduso & MacRae, 1990; Vercruyssen, 1997) (dalam Papalia,

    2008). Latihan beban dapat mencegah kehilangan tersebut dan bahkan mengembalikan

    kekuatan tersebut, Whitbourne (dalam Papalia, 2008).

    b. Perubahan Struktur dan Sistemik

    Perubahan fisik berkaitan dengan tingkat penggantian yang melambat, rambut tanpak

    semakin tipis dan keabu-abuan seiring dengan menurunnya reproduksi melanin yang

    merupakan agen pigmen. Orang-orang bekeringat semakin sedikit karena jumlah kelenjar

    keringat menurun. Mereka cenderung menambah berat badan karena akumulasi lemak tubuh,

    dan kehilangan tinggi badan karena pengerutan cakram tulang belakang (Intervertebral disc),

    Merrill & Verbrugge (dalam Papalia, 2008).

    Densitas tulang umumnya mencapai puncak pasa usia dua puluh atau tiga puluhan.

    Setelah itu, orang biasanya akan mengalami kehilangan jaringan tulang beriringan semakin

    banyaknya kalsium yang diserap ketimbang yang diganti, menyebabkan tulang menjadi

    semakin tipis dan rapuh. Kehilangan tulang mengalami percepatan pada usia lima puluh dan

    enam puluhan, hal tersebut terjadi dua kali lebih cepat pada wanita dibandingkan pria, dan

    terkadang mengarah pada osteoporosis Merrill & Verbgrugge, (dalam Papalia 2008)

    Universitas Sumatera Utara

  • c. Seksual dan Kinerja Reproduksi

    Menopause, terjadi ketika wanita berhenti berovulasi dan menstruasi, dan tidak lagi

    dapat hamil. Kondisi ini biasanya terjadi satu tahun setelah periode menstruasi terakhir

    terjadi. Dalam perbandingannya satu banding empat, kondisi ini terjadi antara usia 45 dan 55,

    rata-rata terjadi pada usia 50 atau 51 tahun (Papalia 2008).

    4. Tanda tanda perubahan fisik Usia Dewasa

    Adapun tanda-tanda perubahan fisik usia dewasa menurut Papalia (2008) :

    a. Berat badan bertambah

    Selama usia madya lemak mengumpulkan terutama sekitar perut dan paha.

    b. Berkurangnya rambut dan beruban

    Rambut pada pria yang berusia dewasa mulai jarang, menipis, dan terjadi kebotakan pada

    bagian atas kepala. Rambut di hidung, telinga dan bulu mata menjadi lebih kaku.

    Sedangkan rambut pada wajah tumbuh lebih lambat dan kurang subur. Rambut wanita

    semakin tipis dan rambut di atas bibir atas dan dagu bertambah banyak. Baik rambut pria

    maupun rambut wanita mulai memutih mejelang usia lima puluh tahunan, dan beberapa

    orang sudah beruban sebelum berusia madya.

    c. Perubahan pada kulit

    Kulit pada wajah, leher, lengan dan tangan menjadi lebih kering dan keriput. Kulit

    dibagian bawah mata menggembung seperti kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini

    menjadi lebih permanen dan jelas. Warna merah kebiruan sering muncul di sekitar lutut

    dan di tengah tengkuk.

    Universitas Sumatera Utara

  • d. Tubuh menjadi gemuk

    Bahu seringkali berbentuk bulat, dan terjadi pengemukan seluruh tubuh yang membuat

    perut kelihatan menonjol sehingga seseorang kelihatan lebih pendek.

    e. Perubahan otot

    Umumya otot orang yang berusia madya menjadi lembek dan mengendur disekitar dagu.

    Pada lengan bagian atas, dan perut.

    f. Masalah Persendian

    Beberapa orang berusia madya mempunyai masalah pada persendian, tungkai dan lengan

    yang membuat mereka sulit berjalan dan memegang benda yang jarang sekali ditemukan

    pada orang-orang muda.

    g. Perubahan pada gigi

    Gigi menjadi kuning dan harus lebih sering diganti, sebagainya atau seluruhnya dengan

    gigi palsu.

    h. Perubahan pada mata

    Mata kelihatan kurang bersinar daripada ketika mereka masih muda, dan cenderung

    mengeluarkan kotoran mata yang menumpuk di sudut mata.

    i. Perubahan seksual

    Bagi wanita pada masa ini wanita memasuki menopause atau perubahan hidup, dimana

    masa menstruasi berhenti, dan merasa kehilangan kemampuan memelihara anak.

    Sedangkan pada pria mengalamai masa klimakterik pria.

    C. Penyesuaian Diri Terhadap Perubahan Fisik

    Salah satu dari sekian banyak penyesuaian yang sulit pria dan wanita berusia madya

    adalah mengubah penampilan. Mereka harus benar-benar menyadari bahwa fisiknya sudah

    tidak mampu berfungsi sama seperti sediakala pada saat mereka kuat. Mereka yang berusia

    Universitas Sumatera Utara

  • madya harus seperti sediakala pada saat mereka kuat. Mereka yang berusi madya harus dapat

    meneriman kenyataan bahwa kemampuan reproduksi sudah berkurang atau akan berakhir,

    dan bahkan mungkin mereka akan kehilangan dorongan seks serta daya tarik seksual. Seperti

    anak-anak puber yang pada masa kanak-kanaknya berurusan tentang akan jadi apa mereka

    dan bagaimana penampilannya bila mereka sudah besar dan siapan yang kemudian

    menyesuaiakan diri sehingga realitas penampilan mereka bila tidak bertumbuh sesuai dengan

    harapan mereka, demikian juga orang berusia madya harus mengesankan diri terhadap

    perubahan-perubahan yang tidak mereka sekai dan yang menandai tibanya usia tua mereka.

    Penyesuaian diri terhadap perubahan fisik terasa sulit karena adanya kenyataan bahwa

    sikap individu yang kurang menguntungkan semakin diintensifkan lagi oleh perilaku sosial

    yang kurang menyenangkan terhadap perubahan normal yang muncul bersama pada tahun-

    tahun selanjutnya Hurlock (1999). Perubahan fisik yang terpenting pada masa dewasa madya

    adalah menyesuaiakan diri terhadap perubahan dalam penampilan, perubahan dalam

    kemampuan indera, perubahan pada keberfungsian fisiologis, perubahan pada kesehatan,

    perubahan seksual Hurlock (1999).

    D. Dewasa Madya

    1. Pengertian Dewasa Madya

    Kata adult berasal dari bahasa Latin, yang berarti tumbuh menjadi dewasa, jadi orang

    dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima

    kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya Hurlock (1999). Setiap

    kebudayaan memiliki perbedaan tersendiri dalam memberikan batasan usia kapan seseorang

    dikatakan dewasa. Pada sebagaian besar kebudayaan kuno, status ini tercapai apabila

    pertumbuhan pubertas sudah selesai atau hampir selesai dan apabila organ reproduksi anak

    sudah berkembang dan mampu berproduksi. Hurlock (1999) membedakan masa dewasa

    dalam 3 bagian, yaitu:

    Universitas Sumatera Utara

  • 1. Masa dewasa dini (18 40 tahun )

    Masa ini ditandai dengan perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang disertai

    berkurangnya kemampuan produktif.

    2. Masa dewasa madya (40 60 tahun)

    Masa menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang tampak jelas pada setiap

    orang.

    3. Masa dewasa lanjut (Usia lanjut)

    Dimulai dari usia 60 tahun sampai kematian. Pasa masa ini kemampuan fisik maupun

    psikologis cepat menurun, tetapi teknik pengobatan modern, serta upaya dalam hal

    berpakaian serta dandanan memungkinkan pria dan wanita berpenampilan, bertindak,

    dan berperasaan seperti saat mereka masih lebih muda.

    2 Karakteristik Dewasa Madya

    Seperti halnya setiap periode dalam rentang kehidupan, usia madya pun diasosiasikan

    dengan karakteristik tertentu yang membuat berbeda. Berikut ini akan diuraikan sepuluh

    karakteristik dewasa Hurlock (1998).

    1. Periode yang sangat ditakuti

    Terdapatnya kepercayaan tradisional dimana pada masa ini terjadi kerusakan mental,

    fisik dan reproduksi yang berhenti serta merasakan bahwa pentingnya masa muda.

    2. Masa transisi

    Perubahan pada ciri dan perilaku masa dewasa madya yaitu perubahan pada ciri

    jasmani dan perilaku baru. Pada pria terjadi perubahan keperkasaan dan pada wanita

    terjadi perubahan kesuburan atau menopause.

    3. Masa stres

    Penyesuaian secara radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah terutama

    karena perubahan fisik dimana terjadi pengrusakan homeostatis fisik dan psikologis.

    Universitas Sumatera Utara

  • Pada wanita terjadi pada usia 40-an yaitu masuk menopause anak-anak meninggalkan

    rumah dan pada pria terjadi pada usia 50-an saat masuk pensiun.

    4. Usia yang berbahaya

    Terjadi kesulitan fisik dimana usia ini banyak bekerja, cemas yang berlebihan, kurang

    perhatian terhadap kehidupan dimana hal ini dapat menganggu hubungan suami-isteri

    dan bisa terjadi perceraian, gangguan jiwa, alkoholisme, pecandu obat, hingga bunuh

    diri.

    5. Usia canggung

    Serba canggung karena bukan muda lagi dan bukan juga tua. Kelompok usia madya

    seolah berdiri di antara generasi pemberontak yang lebih muda dan generasi senior.

    6. Masa berprestasi

    Sejalan dengan masa produktif dimana terjadi puncak karir. Menurut Erikson, usia

    madya merupakan masa krisis yaitu generativity (cenderung untuk menghasilkan),

    stagnasi (cenderung untuk tetap berhenti) dan dominan terjadi hingga menjadi sukses

    atau sebaliknya. Peran kepemimpinan dalam pekerjaan merupakan imbalan atau

    prestasi yang dicapai yaitu generasi pemimpin.

    7. Masa evaluasi

    Terutama terjadi evaluasi diri. Jika berada pada puncak evaluasi maka terjadi evaluasi

    prestasi.

    8. Dievaluasi dengan standar ganda

    a. Aspek yang berkaitan dengan perubahan jasmani yaitu rambut menjadi putih,

    wajah keriput, otot pinggang mengendur.

    b. Cara dan sikap terhadap usia tua yaitu tetap merasa muda dan aktif tetapi menjadi

    tua dengan anggun, lambat, hati-hati hidup dengan nyaman.

    9. Masa sepi

    Universitas Sumatera Utara

  • Masa sepi atau empty nest terjadi jika anak-anak tidak lagi tinggal dengan orangtua.

    Lebih terasa traumatik bagi wanita khususnya wanita yang selama ini mengurus

    pekerjaan rumah tangga dan kurang mengembangkan minat saat itu. Pada pria

    mengundurkan diri dari pekerjaan.

    10. Masa jenuh

    Pada pria jenuh dengan kegiatan rutin dan kehidupan keluarga dengan sedikit hiburan.

    Pada wanita jenuh dengan urusan rumah tangga dan membesarkan anak-anak

    3. Tugas-tugas Perkembangan pada Usia Dewasa Madya

    Havighurst (dalam Hurlock, 1998) menyatakan bahwa tugas perkembangan adalah

    tuntutan yang diberikan kepada individu oleh lingkungan atau masyarakat sekitar terhadap

    diri individu tersebut, yang mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya usia.

    Menurut Havigrust, dewasa madya memiliki tugas perkembangan sebagai berikut:

    1. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan fisik dan fisiologis terjadi pada

    tahap ini

    2. Membantu anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan

    bahagia

    3. Mengembangkan kegiatan pengisi waktu senggang

    4. Pasangan dianggap sebagai suatu individu

    5. Mencapai tanggung jawab umum dan sosial dan sebagai warganegara

    6. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier bekerja

    7. Menyesuikan diri dengan orang tua yang semakin tua

    Havighurst (dalam Hurlock, 1998) membagi tugas perkembangan dewasa madya

    menjadi 4 kategori utama, yaitu

    Universitas Sumatera Utara

  • 1. Tugas yang berkaitan dengan perubahan fisik

    menerima dan menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan fisik yang normal

    terjadi pada masa usia madya

    2. Tugas yang berkaitan dengan perubahan minat

    mengasumsikan tanggungjawab warga negara dan sosial, mengembangkan minat

    pada waktu luang yang berorientasi pada kedewasaan, pada kegiatan-kegiatan yang

    berorientasi pada keluarga yang biasa dilakukan pada masa dewasa dini

    3. Tugas yang berkaitan dengan penyesuaian kejuruan (pekerjaan)

    pemantapan dan pemeliharaan standar hidup yang relatif mapan

    4. Tugas yang berkaitan dengan kehidupan keluarga

    berkaitan dengan pasangan, menyesuikan diri dengan orang tua yang lanjut usia, dan

    membantu anak remaja menjadi orang dewasa yang bertanggun jawab.

    Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada 7 tugas perkembangan dewasa madya

    yaitu menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan fisik dan fisiologis terjadi pada

    tahap ini, membantu anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan

    bahagia, mengembangkan kegiatan pengisi waktu senggang, pasangan dianggap sebagai

    suatu individu, mencapai tanggung jawab umum dan sosial dan sebagai warganegara,

    mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier bekerja dan

    menyesuikan diri dengan orang tua yang semakin tua. Kemudian dari tujuh tugas

    perkembangan usia madya dapat digolongkan menjadi empat kategori utama yaitu tugas yang

    berkaitan dengan perubahan fisik, tugas yang berkaitan dengan perubahan minat, tugas yang

    berkaitan dengan penyesuaian kejuruan (pekerjaan) dan tugas yang berkaitan dengan

    kehidupan keluarga Hurlock (1998).

    Universitas Sumatera Utara

  • D. Wanita Bekerja

    1. Pengertian Wanita Bekerja

    Tingginya tingkat pendidikan dewasa ini membuat banyak wanita usia dewasa awal

    memasuki dunia profesionalisme dengan bekerja. Abad 21 juga dicirikan dengan persaingan

    di dunia kerja dan peluang tersebut sangat terbuka bagi para wanita (Bhatnagar &

    Rajadhyaksha, 2001). Suryadi (dalam Anoraga, 2001) mengartikan wanita bekerja sebagai

    wanita yang bekerja untuk menghasilkan uang atau lebih cenderung pada pemanfaatan

    kemampuan jiwa atau karena adanya suatu peraturan sehingga memperoleh kemajuan dan

    perkembangan dalam pekerjaan, jabatan, dan lain-lain. Wanita bekerja adalah wanita yang

    berperan sebagai ibu dan bekerja diluar rumah untuk mendapatkan penghasilan disamping

    berada dirumah dan membesarkan anak (Working Mothers Forum, 2000).

    Maheshwari (1999) mengatakan bahwa wanita bekerja adalah wanita yang pergi

    keluar rumah dan mendapatkan bayaran atau gaji. Berdasarkan uraian diatas disimpulkan

    bahwa wanita bekerja adalah seorang ibu yang bekerja diluar rumah untuk mendapatkan

    penghasilan atau gaji disamping berada dirumah untuk mengatur rumah tangga.

    2. Faktor-Faktor yang Mendorong Wanita Bekerja

    Rini (2002) mengemukakan beberapa faktor yang mendorong wanita bekerja di luar

    rumah, yaitu :

    1. Kebutuhan Finansial

    Faktor ekonomi umumnya menjadi alasan seorang wanita bekerja karena dengan

    penghasilan yang diperoleh, dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    2. Kebutuhan Sosial-Relasional

    Kebutuhan sosial-relasional merupakan kebutuhan akan penerimaan sosial, identitas

    sosial yang diperoleh melalui komunitas kerja.

    Universitas Sumatera Utara

  • 3. Kebutuhan Aktualisasi Diri

    Bekerja merupakan salah satu jalan untuk mengaktualisasikan diri, sesuai dengan

    pendapat Maslow (dalam Rini, 2002) bahwa salah satu kebutuhan bagi manusia adalah

    aktualisasi diri. Dengan bekerja, seseorang dapat bekerja, berkreasi, mencipta,

    mengekspresikan diri, mengembangkan diri dengan orang lain, membagikan ilmu dan

    pengalaman, menghasilkan sesuatu, mendapatkan penghargaan, penerimaan dan prestasi.

    Bagi kebanyakan wanita yang mempunyai tanggung jawab ganda (tugas rumah

    tangga dan pekerjaan di luar rumah), biasanya akan memperberatkan masalah hubungan

    keluarga. Karena jumlah wanita sedikit dibandingkan dengan kondisi dimana pria lebih

    banyak bekerja ini dikarena kan beberapa kondisi yang mempengaruhi wanita dalam bekerja

    (Hurlock, 1998).

    a. Kepuasan kerja

    Wanita yang menyukai pekerjaannya mereka akan dapat menyesuaikan diri jauh lebih

    baik daripada mereka yang terpaksa melakukan pekerjaannya karena tanggung jawab akan

    keluarga dan yang sekarang mereka terperangkap dalam kerjanya.

    b. Kesempatan Promosi

    Setiap tahun, pada saat bekerja semakain mendekati masa wajib pensiun, kesempatan

    bagi mereka untuk dpromosikan semakin sedikit dan mereka lambat laun digeser dari posisi

    untuk memberi kesempatan kepada karyawan yang lebih muda. Kondisi seperti ini

    mempunyai efek balik pada penyesuaian kerja.

    c. Harapan Pekerjaan

    Bila masa pensium tiba, para pekerja usia madya menilai prestasi mereka diliat dari

    prestasi mereka yang dahulu. Apakah menyenangkan atau tidak, penilaian ini mempunyai

    efek pada penyesuaian pekerjaan.

    Universitas Sumatera Utara

  • d.Sikap Pasangan

    Jikalau suami tidak puas dengan status istrinya ditempat kerja, gajinya, atau bahwa

    kerjanya merampas istrinyaa dari rumah sehingga suaminya kesepian, maka istrinya juga

    semakin tidak puas dan senang. Wanita yang suaminya keberatan dan mengeluh terhadap

    keadaan mereka dirumah bisa juga mengalami ketidakpuasan kerja.

    e. Sikap Terhadap Usaha Besar

    Pekerja yang merasa bangga karena bekerja pada perusahaan besar, penuh prestige,

    penyesuaian terhadap pekerjaan lebih baik, dibanding mereka menganggap dirinya hanya

    sebagai sekrup kecil dari mesin yang besar.

    f. Sikap Terhadap Teman Sekerja

    Pekerja wanita dalam hal ini harus menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar karena

    dalam sebuah pekerjaan akan dituntun saling mendukung dan bekerja sama dengan teman

    sekerja.

    g. Relokasi

    Perasaan pekerja yang harus dipindah ditempat atau pindah ke masyarakat lain

    dengan tujuan agar mereka tetap bekerja pada pekerjaannya yang sekarang atau untuk

    dipromosikan pada kedudukan yang lebih baik, akan mempunyai pengaruh yang sangat

    mendalam terhadap proses penyesuaian pekerjaan.

    E. Wanita Tidak Bekerja

    1. Pengertian Wanita Tidak Bekerja

    Adiningsih (2004) mengatakan bahwa dalam UU Perkawaninan No.1/1974 pasal 31

    ayat 3 menunjukkan bahwa seorang istri bertanggung jawab akan urusan rumah tangga, yang

    tidak mneghasilkan, seingga ia tergantung pada hasil kerja suaminya.

    Menurut wikipedia (2006) wanita tidak bekerja (hommaker / housewife) adalah wanita

    yang memiliki pekerjaan utama untuk menjaga atau merawat keluarga dan rumah, suatu

    Universitas Sumatera Utara

  • bentuk untuk menggambarkan wanita yang tidak dibayar sebagai tenaga kerja untuk menjaga

    keluarganya. www.shaadi.com [online] mengatakan bahwa ibu rumah tangga (housewife)

    adalah non-working woman. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa wanita

    tidak bekerja adalah seorang istri yang bertanggung jawab untuk mengurus rumah tangga

    atau merawat keluarga tanpa memiliki pekejaan diluar rumah.

    Istri tidak bekerja dapat disebut juga ibu rumah tangga (Housewife). Menurut Kamus

    Oxford, pengetian housewife adalah : a merried woman whose main occupation is carryin

    for her family and running the household. Jadi dapat diartikan ibu rumah tangga adalah

    wanita menikah yang pekerjaan utamanya adalah merawat keluarga dan menjalankan rumah

    tangga.

    Seorang istri atau ibu merupakan sesuatu yang paling mulia dalam kehidupan. Wanita

    yang tidak bekerja biasanya sebagai seorang ibu rumah tangga. Biasanya istri melakukan

    pekerjaan rumah tangga lebih banyak dari suami. Disini istri yang adalah orang yang

    bertanggung jawab besar atas pekerjaan rumah (tidak bekerja) (Schinovacz dalam Santrock,

    1995).

    Suatu penelitian yang dilakukan oleh Suryochondro (1990) mengenai wanita dan

    kerja menyatakan bahwa alasan para istri tidak bekerja sebagaian besar karena kesibukan

    rumah tangga. Alasan yang cukup bayak dilontarkan oleh para istri adalah dilarang suami.

    Hanya sebagaian kecil yang menyatakan bahwa penghasilan suami sudah cukup, kurang

    mampu bekerja, sibuk di organisasi ataupun alasan kesehatan. Alasan para istri bekerja tidak

    jauh berbeda antara golongan menengah dan istri golongan bawah.

    Dalam penelitian Suryochondro juga menanyakan kepada istri apakah mereka

    mempunyai keinginan untuk bekerja apabila ada kesempatan. Dari jawaban para istri

    diperoleh kesimpulan bahwa sebagian besar mempunyai keinginan bekerja. Keinginan ini

    lebih banyak dilontarkan oleh istri golongan bawah. Alasan untuk bekerja beberapa antara

    Universitas Sumatera Utara

  • istri dari golongan menengah dan dari golongan bawah. Para istri dari golongan bawah ingin

    bekerja lebih karena alasan nenambah penghasilan. Disamping itu, istri dari golongan bawah

    juga mengemukakan alasan ingin bekerja supaya mempunyai penghasilan sendiri dan

    mengisi waktu luang.

    F. Dinamika Penyesuaian Diri Terhadap Perubahan Fisik Wanita Dewasa Madya

    Bekerja dan Tidak Bekerja

    Penyesuaian diri sebagai bentuk adaptasi pada umumnya lebih mengarah pada

    penyesuaian dalam arti fisik, fisiologis atau biologis. Perubahan fisik merupakan akibat dari

    usia dan genetik, faktor perilaku dan gaya hidup yang dimulai dari masa muda dapat

    dipengaruhi kecenderungan, penentuan waktu, dan luas perubahan fisik. menopause

    merupakan salah satu perubahan fisik yang terjadi pada wanita dewasa madya (Papalia,

    2008).

    Dewasa madya dapat menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisiknya

    tergantung pada kemampuan dirinya didalam menerima perubahan yang terjadi apakah dia

    sudah menerima dan mengatasi masalahnya atau tidak, juga tergantung dari bagaimana cara

    berfikir mereka terhadap perubahan fisik (Papalia, 2008).

    Pada masa sekarang ini terdapat perubahan sosial yang menyebabkan wanita lebih

    mempunyai kesempatan besar untuk memilih. Wanita dapat melakukan aktifitas berkarier

    ataupun wanita tidak berkarier. Pada waktu wanita mengerjakan karier, mereka dihadapkan

    dengan pertanyaan apakah mereka bisa bersaing dengan wanita muda atau tidak. (Aderson &

    Leslie; Gustafson & Magnusson; Steil & Weltman dalam santrock, 1990). Ada yang bisa

    menikmati perannya sebagai wanita karier, namun ada yang merasa kesulitan hingga

    akhirnya persoalan-persoalan rumit kian berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

    Banyaknya wanita dewasa madya yang bekerja sekarang ini karena adanya perubahan

    gender yang terjadi dan faktor kebutuhan finansial, kebutuhan sosial-relasional, kebutuhan

    Universitas Sumatera Utara

  • aktualisasi diri. Banyaknya bentuk pekerjaan yang dilakukan oleh wanita membuat wanita

    harus menyesuaikan diri. Wanita bekerja sebenarnya menjadi sesuatu hal yang biasa di

    tengah masyarakat. Seorang wanita yang bekerja, pada masa dewasa madya akan mulai

    memasuki masa pensiun sehingga akan hilang pula kesibukan rutinnya sehari-hari. Menurut

    UU Perkawinan No.1/1974 pasal 31 ayat 3 (Adiningsih, 2004), seorang istri didefinisikan

    sebagai ibu rumah tangga. Wanita yang mengatur rumah tangga sedangkan pria bekerja

    diluar untuk mendapatkan gaji atau bayaran, wanita tersebut disebut ibu rumah tangga

    (housewife. Housewife) disebut juga sebagai non-working woman (Who Is A Working

    Woman, 2001).

    Suatu penelitian yang dilakukan oleh Suryochondro (1990) mengenai wanita dan

    kerja menyatakan bahwa alasan para istri tidak bekerja sebagaian besar karena kesibukan

    rumah tangga. Maka dari itu seorang Ibu rumah tangga tidak melakukan kegiatan diluar

    rumah dan menganggap perubahan fisik yang terjadi pada dirinya dapat dijalanin tanpa harus

    ada kegelisahan.

    Pada usia madya masih mempunyai pekerjaan khususnya pekerjaan yang

    berhubungan dengan orang lain, didalam pekerjaan ini pula dibutuhkan penampilan yang

    menarik, tidak sejalan dengan usia mereka yang sudah tua, mereka harus mengakui bahwa

    mereka tidak muda lagi, dan pada dewasa madya ini pula dibutuhkan perubahan penampilan

    tidak hanya pria wanita juga memngambil andil dalam dunia pekerjaan. Penyesuaian diri

    terhadap perubahan fisik terasa sulit karena adanya kenyataan bahwa sikap individu yang

    kurang meguntungkan semakin diintensifkan lagi oleh perilaku sosial yang kurang

    menyenangkan terhadap perubahan normal yang muncul bersama pada tahun-tahun

    selanjutnya. Perubahan fisik yang terpenting yang terhadapnya orang berusia madya harus

    menyesuaikan diri (Hurlock, 1999).

    Universitas Sumatera Utara

  • II. F . Hipotesis

    Dalam penelitian ini diajukan hipotesa sebagai jawaban sementara terhadap

    permasalahan yang telah dikemukan. Adapun hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini

    adalah :

    Terdapat perbedaan penyesuaian diri terhadap perubahan fisik antara wanita

    dewasa madya yang bekerja dengan tidak bekerja.

    Universitas Sumatera Utara