18
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian Konsep Diri Konsep diri didefenisikan Pastorino dan Doyle (2013) sebagai persepsi atau citra kita tentang kemampuan dan keunikan kita. Konsep diri ini awalnya bersifat sangat umum dan dapat berubah, namun seiring bertambahnya usia, konsep diri menjadi jauh lebih terorganisir, rinci, dan spesifik. Sedangkan Weiten, et al.(2012) mendefenisikan konsep diri sebagai kumpulan keyakinan tentang diri sendiri, kualitas yang unik dan perilaku yang khas. Konsep diri kita adalah gambaran mental kita sendiri. Crisp & Turner (2007) mendefenisikan konsep diri sebagai The individual self consists of attributes and personality traits that differentiate us from other individuals. The relational self is defined by our relationships with significant others. Finally, the colletive self reflects our membership in social groups”. Dengan kata lain konsep diri dapat diterangkan sebagai diri yang terdiri dari atribut dan sifat-sifat kepribadian yang membedakan seseorang dari orang lain. Kemudian hubungan diri di defenisikan oleh hubungan dengan orang lain yang signifikan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

  • Upload
    others

  • View
    14

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Diri

2.1.2 Pengertian Konsep Diri

Konsep diri didefenisikan Pastorino dan Doyle (2013)

sebagai persepsi atau citra kita tentang kemampuan dan

keunikan kita. Konsep diri ini awalnya bersifat sangat umum dan

dapat berubah, namun seiring bertambahnya usia, konsep diri

menjadi jauh lebih terorganisir, rinci, dan spesifik.

Sedangkan Weiten, et al.(2012) mendefenisikan konsep diri

sebagai kumpulan keyakinan tentang diri sendiri, kualitas yang

unik dan perilaku yang khas. Konsep diri kita adalah gambaran

mental kita sendiri.

Crisp & Turner (2007) mendefenisikan konsep diri sebagai

“The individual self consists of attributes and personality traits that differentiate us from other individuals. The relational self is defined by our relationships with significant others. Finally, the colletive self reflects our membership in social groups”.

Dengan kata lain konsep diri dapat diterangkan sebagai diri yang

terdiri dari atribut dan sifat-sifat kepribadian yang membedakan

seseorang dari orang lain. Kemudian hubungan diri di defenisikan

oleh hubungan dengan orang lain yang signifikan.

Page 2: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

White, et al.(2011) menjelaskan bahwa konsep diri adalah

persepsi seseorang terhadap diri sendiri, termasuk harga diri,

citra tubuh, dan diri ideal. Konsep diri seseorang sering

didefinisikan oleh deskripsi diri seperti "Saya seorang ibu,

perawat, dan relawan". Self-deskriptif pernyataan seperti ini

membantu perawat mendapatkan wawasan persepsi diri klien.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

konsep diri adalah gambaran, keyakinan, pandangan, atau

penilain seseorang terhadap keadaan diri baik secara fisik, psikis,

dan sosial yang merupakan gabungan dari keyakinan yang

dimiliki orang tentang dirinya yang mencakup citra fisik,

karakteristik, pribadi, motivasi, kelemahan, dan kelebihan serta

kemampuan yang lainnya.

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir,

melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman

individu dalam berhubungan dengan individu lain. Dalam interaksi

ini setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang

diberikan tersebut akan dijadikan cermin bagi individu untuk

melihat dan memandang dirinya sendiri. Konsep diri berasal dan

berakar pada pengalaman masa kanak-kanak dan berkembang,

terutama sebagai akibat dari hubungan kita dengan orang lain.

Page 3: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

Dalam pengalaman hubungan kita dengan orang lain dan

bagaimana orang lain memperlakukan kita, kita menangkap

pantulan tentang diri kita, dan membentuk gagasan dalam diri kita

seperti apakah kita ini sebagai pribadi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli

dikemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi konsep diri di

antaranya adalah :

a. Usia

Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri

positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini

menunjukan perubahan ke arah yang lebih positif seiring

berjalannya usia (Zulfikri, 2010).

b. Lingkungan Sekolah

Tabbah (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan

bahwa lingkungan sekolah sangat berperan penting untuk

perkembangan psikologi siswa, karena disekolah

terdapat persaingan dalam satu kelas maupun di sekolah

secara keseluruhan. Ada kompetisi dalam studi, seni,

olahraga dan lain-lain. Semua kompetisi menghasilkan

pemenang. Siswa yang sering menang tentu saja lebih

mudah dalam mengembangkan konsep diri yang positif.

Jika siswa tidak merasa aman di lingkungan sekolah

maka konsep diri mereka akan terganggu.

Page 4: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

c. Masa remaja serta peran seksual sebagai sumber

perkembangan konsep diri. Wilde (2008) dalam penelitian

menjelaskan bahwa keadaan fisik pada masa remaja

perempuan merupakan sumber pembentukan identitas

diri dan konsep diri, perkembangan kepribadian dan

pembentukan identitas merupakan perpaduan komponen

psikologis dan sosiologis.

d. Intelegensi

Syaiful (2008) intelegensi mempengaruhi penyesuaian

diri seseorang terhadap lingkungannya, orang lain dan

dirinya sendiri. Semakin tinggi taraf intelegensinya

semakin baik penyesuaian dirinya dan lebih mampu

bereaksi terhadap rangsangan lingkungan atau orang lain

dengan cara yang dapat diterima. Hal ini jelas akan

meningkatkan konsep dirinya, demikian pula sebaliknya.

e. Citra tubuh

Fernandez, et al.(2008) mengemukakan bahwa penilaian

yang positif terhadap keadaan fisik seseorang, baik dari

diri sendiri maupun dari orang lain, sangat membantu

dalam perkembangan konsep diri ke arah yang positif.

Rasa puas yang ada merupakan awal dari sikap positif

terhadap diri sendiri.

Page 5: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

Berdasarkan uraian diatas, maka faktor-faktor yang

mempengaruhi konsep diri adalah usia, lingkungan sekolah,

masa remaja, intelegensi, dan citra tubuh.

2.1.3 Komponen-komponen Konsep Diri

Komponen konsep diri oleh Warren (1996) menyebutkan

komponen dari konsep diri yaitu :

a. Konsep diri fisik

Konsep diri yang memberikan pandangan seseorang

mengenai dirinya sendiri, baik dalam kesehatan,

penampilan diri, ketrampilan fisik, dan seksualitas.

b. Konsep diri moral

Penilaian atau pandangan individu terhadap perilaku

yang bersumber dari prinsip-prinsip yang bertujuan untuk

memberinya arti dan arah bagi kehidupannya di masa

mendatang. Penilaian tersebut berhubungan dengan

pertimbangan dari suatu tindakan serta larangan yang

membicarakan mengenai penilaian benar atau salah dan

bagaimana seseorang berpikir untuk mengambil suatu

keputusan secara baik dan benar.

Page 6: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

c. Konsep diri Personal

Penilaian atau pandangan,pikiran perasaan serta sikap

individu terhadap dirinya sendiri. Individu yang memiliki

konsep diri positif biasanya akan memandang dirinya

sebagai individu yang lebih optimis, penuh harapan, tidak

mudah tersinggung. Sebaliknya, individu yang memiliki

konsep diri negatif biasanya akan memandang dirinya

sebagai individu yang pesimis, tidak punya harapan,

mudah cemas, mudah marah, dan mudah tersinggung.

d. Konsep diri keluarga

Konsep diri keluarga memberikan dampak bagaimana

individu melihat diri mereka dalam berhubungan dengan

keluarga dan rekan dekat.

e. Konsep diri sosial

Pandangan individu terhadap peranan sosial yang

dimainkan oleh individu itu sendiri dalam hubungannya

dengan lingkungan sosial dan diri sendiri. Konsep diri

sosial erat kaitannya dengan kemampuan individu untuk

berinteraksi dengan dunia di luar dirinya, selain itu dirinya

juga memiliki kemampuan untuk menghargai setiap

perasaan orang lain yang berada di lingkungan sekitar

dengan selalu memperhatikan kepentingan orang lain

dan suka terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Page 7: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

f. Konsep diri Akedemik/kerja

Pandangan individu dalam lingkungan kerja.

Berdasarkan uraian tentang konsep diri, maka yang menjadi

acuan dalam penulisan skripsi adalah komponen-komponen

konsep diri yang dikemukakan oleh Warren, yaitu Konsep diri

fisik, moral, personal, sosial, keluarga, dan akademik/ kerja.

2.2 Diabetes Melitus

Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis adalah suatu

kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya

peningkatan kadar gula dalam darah akibat kekurangan insulin,

baik absolut maupun relatif. Absolut artinya pankreas sama sekali

tidak bisa menghasilkan insulin sehingga harus mendapatkan

insulin dari luar (melalui suntikan) dan relatif artinya pankreas

masih bisa menghasilkan insulin yang kadarnya berbeda pada

setiap orang. (Perkeni, 2002)

Diabetes Melitus terbagi atas 2 tipe yaitu Diabetes Melitus

tipe 1 yang disebut juga Insulin Dependent Diabetes Mellitus

(IDDM). Pada diabetes jenis ini pankreas tidak dapat

memproduksi insulin sama sekali, sehingga penderita harus

menerima insulin dari luar dengan cara disuntik, kemudian

Diabetes Melitus Tipe II yang diakibatkan oleh penurunan

Page 8: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

sensitivitas terhadap insulin (resisten insulin) atau akibat

penurunan jumplah pembentukan insulin. (Brunner & Suddarth,

2000)

2.2.1 Diabetes Melitus Tipe II

Dalam DM Tipe II, pankreas dapat menghasilkan cukup

jumlah insulin untuk metabolisme glukosa (gula), tetapi tubuh

tidak mampu untuk memanfaatkan secara efisien. Seiring waktu,

penurunan produksi insulin dan kadar glukosa darah meningkat

(Adhi, 2011). Diabetes Melitus sebelumnya dikatakan diabetes

tidak tergantung insulin atau diabetes pada orang dewasa. Ini

adalah istilah yang digunakan untuk individu yang relatif terkena

diabetes (bukan yang absolut) defesiensi insulin. Orang dengan

jenis ini biasanya resisten terhadap insulin. Ini adalah diabetes

sering tidak terdiagnosis dalam jangka waktu yang lama karena

hiperglikemia ini sering tidak berat cukup untuk memprovokasi

gejala nyata dari diabetes. Namun demikian, pasien tersebut

adalah adalah resiko penigkatan pengembangan komplikasi

macrovascular dan mikrovaskular (WHO, 1999). Faktor yang

diduga menyebabkan terjadinya resistensi insulin dan

hiperinsulinemia ini adalah adanya kombinasi antara kelainan

genetik, obesitas, inaktifitas, faktor lingkungan dan, faktor

makanan (Tjeyan, 2007)

Page 9: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

2.2.2 Patofisiologi Diabetes Melitus Tipe II

Pada DM tipe II, sekresi insulin di fase 1 atau early peak

yang terjadi dalam 3-10 menit pertama setelah makan yaitu

insulin yang disekresi pada fase ini adalah insulin yang disimpan

dalam sel beta (siap pakai) tidak dapat menurunkan glukosa

darah sehingga merangsang fase 2 adalah sekresi insulin

dimulai 20 menit setelah stimulasi glukosa untuk menghasilkan

insulin lebih banyak, tetapi sudah tidak mampu meningkatkan

sekresi insulin sebagaimana pada orang normal.

Gangguan sekresi sel beta menyebabkan sekresi insulin

pada fase 1 tertekan, kadar insulin dalam darah turun

menyebabkan produksi glukosa oleh hati meningkat. Secara

berangsur-angsur kemampuan fase 2 untuk menghasilkan

insulin akan menurun. Dengan demikian perjalanan DM tipe II,

dimulai dengan gangguan fase 1 yang menyebabkan

hiperglikemi dan selanjutnya gangguan fase 2 dimana tidak

terjadi hiperinsulinemi akan tetapi gangguan sel beta. Penelitian

menunjukan adanya hubungan antara kadar glukosa puasa

dengan kadar insulin puasa.

Pada kadar glukosa puasa 80-140 mg/dl kadar insulin puasa

meningkat tajam, akan tetapi jika kadar glukosa darah puasa

Page 10: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

melebihi 140 mg/dl maka kadar insulin tidak mampu meningkat

lebih tinggi lagi; pada tahap ini mulai terjadi kelelahan sel beta

menyebabkan fungsinya menurun. Pada saat kadar insulin

puasa dalam darah mulai menurun maka efek penekanan

insulin terhadap produksi glukosa hati khususnya

glukoneogenesis mulai berkurang sehingga produksi glukosa

hati makin meningkat dan mengakibatkan hiperglikemi pada

puasa. Faktor-faktor yang dapat menurunkan fungsi sel beta

diduga merupakan faktor yang didapat (acquired) antara lain

menurunnya massa sel beta, malnutrisi masa kandungan dan

bayi, adanya deposit amilyn dalam sel beta dan efek toksik

glukosa (glucose toxicity) (Schtingart, 2005 dikutip oleh

Indraswari, 2010).

Pada sebagian orang kepekaan jaringan terhadap kerja

insulin tetap dapat dipertahankan sedangkan pada sebagian

orang lain sudah terjadi resistensi insulin dalam beberapa

tingkatan. Pada seorang penderita dapat terjadi respon

metabolik terhadap kerja insulin tertentu tetap normal,

sementara terhadap satu atau lebih kerja insulin yang lain sudah

terjadi gangguan. Resistensi insulin merupakan sindrom yang

heterogen, dengan faktor genetik dan lingkungan berperan

penting pada perkembangannya. Selain resistensi insulin

berkaitan dengan kegemukan, terutama gemuk di perut,

Page 11: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

sindrom ini juga ternyata dapat terjadi pada orang yang tidak

gemuk. Faktor lain seperti kurangnya aktifitas fisik, makanan

mengandung lemak, juga dinyatakan berkaitan dengan

perkembangan terjadinya kegemukan dan resistensi insulin

(Indraswari, 2010).

2.2.3 Etiologi Diabetes Melitus Tipe II

Yaitu diabetes yang dikarenakan oleh adanya kelainan

sekresi insulin yang progresif dan adanya resistensi insulin.

Pada pasien-pasien dengan non-insulin dependent diabetes

mellitus (NIDDM) atau diabetes melitus tak tergantung insulin

penyakitnya mempunyai pola familial yang kuat. NIDDM ditandai

dengan adanya kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam

kerja insulin.

Pada awalnya kelihatan terhadap resistensi dari sel-sel

sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat

dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu,

kemudian terjadi reaksi intraseluler yang meningkatkan transport

glukosa menembus membran sel. Pada pasien-pasien dengan

NIDDM terhadap kelainan dalam pengikatan insulin dengan

reseptor. Ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat

reseptor yang responsive insulin pada membran sel. Akibatnya,

Page 12: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

terjadi penggabungan abnormal antara kompleks reseptor

insulin dengan sistem transport glukosa.

Kadar glukosa normal dapar dipertahankan dalam waktu

yang cukup lama dengan meningkatkan sekreasi insilum,tetapi

pada akhirnya sekreasi insulin menurun, dan jumlah insulin yang

beredar tidak lagi menandai untuk mempertahankan euglikemia.

Sekitar 80% pasien NIDDM mengalami obesitas. Karena

obesitas berkaitan dengan resistensi insulin, maka kemungkinan

besar gangguan toleransi glukosa dan Diabetes Melitus yang

pada akhirnya terjadi pada pasien-pasien NIDDM merupakan

akibat dari obesitasnya. Pengurangan berat badan seringkali

dikaitan dengan perbaikan dalam sensitivitas insulin dan

pemilihan toleransi glukosa (Rakhmadany, 2010).

2.2.4 Gambaran Klinis

Beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapatkan

perhatian ialah (Agustina, 2009):

` a. Keluhan Klasik

1). Penurunan berat badan yang berlangsung dalam waktu

yang relatif singkat harus menimbulkan kecurigaan. Hal

ini disebabkan glukosa dalam darah tidak dapat masuk

ke dalam sel, sehingga kekurangan bahan bakar untuk

Page 13: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

menghasilkan tenaga. Untuk kelangsungan hidup,

sumber tenaga terpaksa diambil dari cadangan lain yaitu

sel lemak dan otot. Akibatnya penderita kehilangan

jaringan lemak dan otot sehingga menjadi kurus.

2). Banyak kencing karena sifatnya, kadar glukosa darah

yang tinggi akan menyebabkan banyak kencing. Kencing

yang sering dan dalam jumlah banyak akan sangat

menggangu penderita, terutama pada waktu malam hari.

3). Banyak minum rasa haus sering dialami oleh penderita

karena banyaknya cairan yang keluar melalui kencing.

Keadaan ini justru sering disalah tafsirkan. Dikira sebab

rasa haus ialah udara yang panas atau beban kerja yang

berat. Untuk menghilangkan rasa haus itu penderita

minum banyak.

4). Banyak makan, kalori dari makanan yang dimakan,

setelah dimetabolisme menjadi glukosa dalam darah

tidak seluruhnya dapat dimanfaaatkan, penderita selalu

merasa lapar.

Page 14: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

b. Keluhan lain :

1). Gangguan saraf tepi/ kesemutan, Penderita mengeluh

rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki di waktu

malam, sehingga menganggu tidur. Gangguan

Ppenglihatan pada fase awal penyakit Diabetes sering

dijumpai gangguan penglihatan yang mendorong

penderita untuk mengganti kacamatanya berulang kali

agar ia tetap dapat melihat dengan baik.

2). Gatal/Bisul, kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi

di daerah kemaluan atau daerah lipatan kulit seperti

ketiak dan di bawah payudara. Sering pula di keluhkan

timbulnya bisul dan luka yang lama sembuhnya. Luka ini

dapat timbul akibat hal yang sepele seperti lupa lecet

karena sepatu atau tertusuk peniti.

3) Gangguan ereksi, Gangguan ereksi ini menjadi masalah

tersembunyi karena sering tidak secara terus

terangdikemukakan penderitnya. Terkait dengan budaya

masyarakat yang masih tabu membicarakan masalah

seks, apalagi menyangkut kemampuan atau kejantanan

seseorang.

Page 15: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

4). Keputihan, Pada wanita, keputihan dan gatal merupakan

keluhan yang sering ditemukan dan kadang-kadang

merupakan satu-satunya gejala yang dirasakan.

2.2.5 Faktor Resiko Diabetes Melitus Tipe II

Adapun Faktor resikonya yaitu (Rakhmadany, 2010):

a) Kelainan Genetik

Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga

yang mengidap Diabetes Melitus, karena kelainan

gen yang mengakibatkan tubuhnya tak dapat

menghasilkan insulin dengan baik.

b) Usia

Umumnya manusia mengalami perubahan fisiologis

yang secara drastis menurun dengan cepat setelah

usia 40 tahun. Diabetes sering muncul setelah

seseorang memasuki usia rawan tersebut, terutama

setelah usia 45 tahun pada mereka yang berat

badannya berlebih, sehingga tubuhnya tidak peka lagi

terhadap insulin.

Page 16: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

c) Stres

Stres kronis cenderung membuat seseorang mencari

makanan yang manis-manis dan berlemak tinggi

untuk meningkatkan kadar serotonin otak. Serotonin

ini memiliki efek penenang sementara untuk

meredakan stres, tetapi gula dan lemak itulah yang

berbahaya bagi mereka yang beresiko terkena

Diabetes Melitus.

d) Pola Makan yang Salah

Kurang gizi atau kelebihan berat badan keduanya

meningkatkan resiko terkena Diabetes Melitus.

Kurang gizi (malnutrisi) dapat merusak pankreas,

sedangkan berat badan lebih (obesitas)

mengakibatkan gangguan kerja insulin (resistensi

insulin).

e) Minimnya Aktivitas Fisik

Setiap gerakan tubuh dengan tujuan meningkatkan

dan mengeluarkan tenaga dan energi, yang biasa

dilakukan atau aktivitas sehari-hari sesuai profesi

atau pekerjaan. Sedangkan faktor resiko penderita

DM adalah mereka yang memiliki aktivitas minim,

sehingga pengeluaran tenanga dan energi hanya

sedikit.

Page 17: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

f) Obesitas

80% dari penderita NIDDM adalah Obesitas/gemuk.

g) Merokok

Sebuah universitas di Swiss membuat suatu analisis

25 kajian yang menyelidiki hubungan antara merokok

dan diabetes yang disiarkan antara 1992 dan 2006,

dengan sebanyak 1,2 juta peserta di telusuri selama

30 tahun. Mereka mendapati resiko bahkan lebih

tinggi bagi perokok berat. Mereka yang

menghabiskan sedikitnya 20 batang rokok sehari

memiliki resiko terserang diabetes 62% lebih tinggi

dibandingkan dengan orang yang tidak merokok.

Merokok dapat mengakibatkan kondisi yang tahan

terhadap insulin, kata para peneliti tersebut. Itu berarti

merokok dapat mencampuri cara tubuh

memanfaatkan insulin. Kekebalan tubuh terhadap

insulin biasanya mengawali terbentuknya Diabetes

Melitus Tipe II.

h) Hipertensi

Pada orang dengan Diabetes Melitus, hipertensi

berhubungan dengan resistensi insulin dan

abnormalitas pada sistem renin-angiotensin dan

konsekuensi metabolik yang meningktakan

Page 18: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diri 2.1.2 Pengertian ... · Konsep diri para lansia lebih cenderung ke konsep diri positif dibandingkan konsep diri yang negatif. Hal ini menunjukan

morbiditas. Abnormalitas metabolik berhubungan

dengan peningkatan Diabetes Melitus pada kelainan

fungsi tubuh/disfungsi endotial. Sel endotial

mensintesis beberapa substansi bioaktif kuat yang

mengatur struktur fungsi pembuluh darah