32
16 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Menstruasi 2.1.1 Pengertian Menstruasi Menstruasi adalah pengeluaran cairan berupa darah, mukus, dan debris sel dari mukosa uterus atau vagina secara berkala selama masa usia reproduktif (Ramaiah, 2006). Menstruasi terjadi dalam interval-interval kurang lebih teratur, siklus, dan dapat diperkirakan waktu-waktunya, sejak menarche sampai menopause kecuali saat hamil, menyusui, anovulasi, atau mengalami intervensi farmakologis (Cunningham, 2005). Menstruasi adalah peristiwa keluarnya darah dari vagina. Darah berasal dari rahim dan timbul akibat terlepasnya selaput lendir rahim yang mengalami proses kemunduran dan kerusakan akibat sel telur yang tidak dibuahi. Pada umumnya, darah bersifat cair atau hanya sedikit mengandung bekuan darah, berwarna merah atau merah tua. Lamanya pendarahan haid berlangsung antara 2-6 hari. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut pada akhirnya akan membentuk siklus menstruasi. Menstruasi pertama (menarche) pada remaja putri sering terjadi pada usia 11 tahun. Namun tidak tertutup kemungkinan terjadi pada rentang usia 8-16 tahun. Menstruasi merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang perempuan yang dimulai dari menarche sampai terjadinya menopause (Kusmiyati, 2011). Awal siklus menstruasi dihitung sejak terjadinya perdarahan pada hari pertama dan berakhir tepat sebelum siklus menstruasi berikutnya. Umumnya, siklus menstruasi yang terjadi berkisar antara 21-40 hari. Hanya 10-15% wanita yang memiliki siklus 28 hari. Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarche dan sesaat sebelum menopause (Kusmiyati, 2011).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Menstruasi 2.1.1 ...eprints.umm.ac.id/53432/3/BAB II.pdf · Sedangkan siklus anovulasi adalah siklus haid tanpa ovulasi sebelumnya. Gonadotropin-releasing

  • Upload
    others

  • View
    19

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Menstruasi

2.1.1 Pengertian Menstruasi

Menstruasi adalah pengeluaran cairan berupa darah, mukus, dan debris sel

dari mukosa uterus atau vagina secara berkala selama masa usia reproduktif

(Ramaiah, 2006). Menstruasi terjadi dalam interval-interval kurang lebih teratur, siklus,

dan dapat diperkirakan waktu-waktunya, sejak menarche sampai menopause kecuali

saat hamil, menyusui, anovulasi, atau mengalami intervensi farmakologis

(Cunningham, 2005).

Menstruasi adalah peristiwa keluarnya darah dari vagina. Darah berasal dari

rahim dan timbul akibat terlepasnya selaput lendir rahim yang mengalami proses

kemunduran dan kerusakan akibat sel telur yang tidak dibuahi. Pada umumnya, darah

bersifat cair atau hanya sedikit mengandung bekuan darah, berwarna merah atau

merah tua. Lamanya pendarahan haid berlangsung antara 2-6 hari. Menstruasi yang

berulang setiap bulan tersebut pada akhirnya akan membentuk siklus menstruasi.

Menstruasi pertama (menarche) pada remaja putri sering terjadi pada usia 11 tahun.

Namun tidak tertutup kemungkinan terjadi pada rentang usia 8-16 tahun. Menstruasi

merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang perempuan yang

dimulai dari menarche sampai terjadinya menopause (Kusmiyati, 2011).

Awal siklus menstruasi dihitung sejak terjadinya perdarahan pada hari

pertama dan berakhir tepat sebelum siklus menstruasi berikutnya. Umumnya, siklus

menstruasi yang terjadi berkisar antara 21-40 hari. Hanya 10-15% wanita yang

memiliki siklus 28 hari. Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat

setelah menarche dan sesaat sebelum menopause (Kusmiyati, 2011).

17

2.1.2 Fisiologi Menstruasi

Mensteruasi normal merupakan hasil akhir suatu siklus ovulasi. Siklus ovulasi

diawali dari pertumbuhan beberapa folikel antral pada awal siklus, diikuti ovulasi dari

satu folikel dominan, yang terjadi pada pertengahan siklus. Kurang lebih 14 hari

pasca ovulasi, bila tidak terjadi pembuahan akan diikuti dengan menstruasi.

Sedangkan siklus anovulasi adalah siklus haid tanpa ovulasi sebelumnya. Gonadotropin-

releasing hormone (GnRH) yang disekresi hipotalamus mengontrol siklus pada ovarium

dan uterus. Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) merangsang dilepaskannya Follicle-

Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) oleh pituitari anterior.

Follicle-Stimulating Hormone (FSH) berperan dalam pertumbuhan folikel, sedangkan

Luteinizing Hormone (LH) berperan dalam perkembangan dari folikel tersebut. Follicle-

Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) menstimulasi folikel-folikel

untuk mensekresikan estrogen. Selain itu, Luteinizing Hormone (LH) juga berperan

untuk merangsang theca cells dari suatu folikel yang sedang berkembang untuk

mensekresi androgen. Androgen yang dihasilkan ini nantinya akan dikonversi menjadi

estrogen karena adanya pengaruh dari Follicle-Stimulating Hormone (FSH). Luteinizing

Hormone (LH) akan memicu terjadinya ovulasi dan pembentukan corpus luteum,

corpus luteum akan menghasilkan estrogen, progesteron, relaxin dan inhibin (Tortora

& Derrickson, 2012).

Ovarium menghasilkan hormon steroid, terutama estrogen dan progesteron.

Beberapa estrogen yang berbeda dihasilkan oleh folikel ovarium, yang mengandung

ovum yang sedang berkembang dan oleh sel-sel yang mengelilinginya. Estrogen

ovarium yang paling berpengaruh adalah estradiol. Estrogen bertanggung jawab

terhadap perkembangan dan pemeliharaan organorgan reproduktif wanita dan

karakteristik seksual sekunder yang berkaitan dengan wanita dewasa. Estrogen

18

memainkan peranan penting dalam perkembangan payudara dan dalam perubahan

siklus bulanan dalam uterus. Progesteron juga penting dalam mengatur perubahan

yang terjadi dalam uterus selama siklus menstruasi. Progesteron merupakan hormon

yang paling penting untuk menyiapkan endometrium yang merupakan membran

mukosa yang melapisi uterus untuk implantasi ovum yang telah dibuahi. Jika terjadi

kehamilan sekresi progesteron berperan penting terhadap plasenta dan untuk

mempertahankan kehamilan yang normal. Sedangkan endrogen juga dihasilkan oleh

ovarium, tetapi hanya dalam jumlah kecil. Hormon endrogen terlibat dalam

perkembangan dini folikel dan juga mempengaruhi libido wanita (Suzanne, 2001).

Menstruasi disertai ovulasi terjadi selang beberapa bulan sampai 2-3 tahun

setelah menarche yang berlangsung sekitar umur 17-18 tahun. Pada umumnya

menstruasi akan berlangsung setiap 28 hari selama ±7 hari. Lama perdarahannya

sekitas 3-5 hari dengan jumlah darah yang hilang sekitar 30-40cc. Puncak

pendarahannya hari ke-2 atau 3 hal ini dapat dilihat dari jumlah pemakaian pembalut

sekitar 2-3 buah. Diikuti fase proliferasi sekitar 6-8 hari (Manuaba, 2007).

2.1.3 Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi merupakan waktu sejak hari pertama menstruasi sampai

datangnya menstruasi periode berikutnya sedangkan panjang siklus menstruasi adalah

jarak antara tanggal mulainya menstruasi pada wanita normalnya berkisar antara 21-

35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki siklus menstruasi 28 hari dengan

lamamenstruasi 3-5 kali dan panjangnya siklus menstruasi ini dipengaruhi oleh usia,

berat badan, tingkat stress, genetik dan gizi (Isnaeni, 2010).

Siklus menstruasi yang tidak teratur ini dipengaruhi oleh beberapa faktor

diantaranya adalah perubahan kadar hormon akibat stress dalam keadaan emosi yang

kurang stabil. Selain itu perubahan drastis dalam porsi olahraga atau perubahan berat

19

badan yang drastis juga mampu memjadi penyebab ketidak teraturan siklus

menstruasi (Mulastin, 2013). Data dari Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas, 2010)

sebagian besar 68% perempuan di Indonesia berusia 10-59 tahun melaporkan haid

teratur dan 13,7% mengalami masalah siklus haid yang tidak teratur dalam 1 tahun

terakhir. Siklus menstruasi dibagi menjadi siklus ovarium dan siklus endometrium. Di

ovarium terdapat tiga fase, yaitu fase folikuler, fase ovulasi dan fase luteal. Di

endometrium juga dibagi menjadi tiga fase yang terdiri dari fase menstruasi, fase

proliferasi dan fase ekskresi.

1. Siklus Endometrium

Pada siklus endometrium terdiri dari empat fase, yaitu :

1) Fase Menstruasi

Fase menstruasi berawal dari hari pertama menstruasi sampai hari ke lima.

Proses mentruasi terjadi karena penurunan kadar estrogen dan progesteron dalam

darah, sebagai akibat tidak berfungsinya korpus luteum. Berkurangnya bahkan tidak

adanya dua hormon tersebut, endometrium hancur dan mulai luruh. Menstruasi

merupakan peluruhan endometrium uterus yang terdiri dari jarigan dan darah

(Warianto, 2011).

2) Fase Proliferasi

Fase proliferasi, segera setelah menstruasi, endometrium dalam keadaan tipis

dan dalam stadium istirahat, yang berlangsung kira-kira 5 hari. Kadar estrogen yang

meningkat dari folikel yang berkembang akan merangsang stroma endometrium

untuk mulai tumbuh dan menebal, kelenjar-kelenjar akan menjadi hipertropi dan

berproliferasi dan pembuluh darah menjadi banyak sekali. Kelenjar-kelenjar dan

stroma berkembang sama cepatnya. Kelenjar makin bertumbuh panjang tetapi tetap

20

lurus dan berbentuk tubulus. Lamanya fase proliferasi sangat berbeda-beda pasa

setiap wanita dan berakhir pada saat terjadinya ovulasi (Kusmiyati, 2011).

Fase ini merupakan periode pertumbuhan cepat yang berlangsung sejak

sekitar hari kelima ovulasi, misalnya hari ke-10 siklus 24 hari, hari ke-15 siklus 28 hari,

hari ke-18 siklus 32 hari. Permukaan endometrium secara lengkap kembali normal

dalam sekitar empat hari atau menjelang perdarahan berhenti. Sejak saat itu, terjadi

penebalan 8-10 kali lipat, yang berakhir saat ovulasi. Fase proliferasi dibagi menjadi 3

tahap, yaitu Fase proliferasi dini, terjadi pada hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase ini

dapat dikenali dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel. Fase

proliferasi madya, terjadi pada hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini merupakan

bentuk transisi dan dapat dikenali dari epitel permukaan yang berbentuk torak yang

tinggi. Fase proliferasi akhir, berlangsung antara hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase

ini dapat dikenali dari permukaan yang tidak rata dan dijumpai banyaknya mitosis.

3) Fase sekresi/luteal

Fase sekresi, terjadi setelah ovulasi dibawah pengaruh progesteron yang

meningkat dan terus diproduksinya estrogen oleh korpus luteum, endometrium

semakin menebal dan menjadi seperti beludru, dilengkapi dengan jaringan yang

memungkinkan tumbuh dan berkembangnya janin apabila dibuahi. Apabila tidak

dibuahi maka jaringan tersebut akan luruh (Kurniawan, 2016).

4) Fase iskemi/premenstrual

Implantasi atau nidasi ovum yang dibuahi terjadi sekitar 7 sampai 10 hari

setelah ovulasi. Apabila tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum yang

mensekresi estrogen dan progesteron menyusut. Seiring penyusutan kadar estrogen

dan progesteron yang cepat, arteri spiral menjadi spasme, sehingga suplai darah ke

21

endometrium fungsional terhenti dan terjadi nekrosis. Lapisan fungsional terpisah

dari lapisan basal dan perdarahan menstruasi dimulai.

Pada fase ini terdapat 2 tahap, yaitu Fase sekresi dini, pada fase ini

endometrium lebih tipis dari fase sebelumnya karena kehilangan cairan dan fase

sekresi lanjut, pada fase ini kelenjar dalam endometrium berkembang dan menjadi

lebih berkelok-kelok dan sekresi mulai mengeluarkan getah yang mengandung

glikogen dan lemak. Endometrium menjadi kaya dengan darah dan sekresi kelenjar.

Akhir masa ini, stroma endometrium berubah kearah sel-sel, desidua, terutama yang

ada di seputar pembuluh-pembuluh arterial. Keadaan ini memudahkan terjadinya

nidasi (Redeer, 2011).

2. Siklus Ovarium

Ovarium merupakan organ utama perempuan, karena dalam ovarium terjadi

proses pembentukan sel telur melalui proses oogenesis. Ovarium mengandung

banyak folikel primordial yang akan mengalami pertumbuhan hingga terjadi ovulasi.

Sebelum pubertas, ovarium masih dalam keadaan istirahat, tetapi ketika masa

pubertas hipofisi anterior mulai mensekresi hormon gonadotropin yaitu. Follicle-

Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH), folikel-folikel mengalami

pertumbuhan. Adanya hormon . Follicle-Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing

Hormone (LH), maka beberapa folikel primordial akan tumbuh dan hanya satu ovum

yang masak dan akan dikeluarkan dari ovarium, sedangkan yang lain mengalami

atresia (Kusmiyati, 2011).

Pada siklus ovarium terdapat 2 fase yaitu :

1) Fase Folikular

Secara konsevesional fase ini dikenal sebagai fase pertama yang terjadi pada

siklus menstruasi sampai terjadinya ovulasi. Pada siklus menstruasi 28 hari, fase ini

22

meliputi 14 hari pertama. Pada siklus Ovulatoir yang lebih atau kurang dari 28 hari,

adanya penyimpangan lamanya siklus tersebut terutama disebabkan oleh perbedaan

lamanya fase folikular. Hari pertama perdarahan menstruasi ditetapkan sebagai hari

pertama fase folikular. Selama 4-5 hari pertama fase ini, perkembangan folikel

ovarium awal ditandai oleh proliferasi dan aktivitas aromatase sel granulosa yang

diinduksi oleh Follicle-Stimulating Hormone (FSH) (Linda & Danny, 2008).

Fase folikuler, disebut demikian karena pada fase ini terjadi pertumbuhan

folikel di dalam ovarium. Fase folikuler dimulai dari hari ke-1 sampai sesaat sebelum

kadar Luteinizing Hormone (LH) meningkat dan terjadi pelepasan ovum. Pada fase ini

hanya satu folikel yang terus berkembang membentuk folikel Graff dengan antrum

yang besar dan ovum dikelilingi dua lapis sel, lapisan dalam berupa sel granulosa yang

mensintesis progesteron dan disekresi ke dalam cairan folikuler. Progesteron ini

sebagai prekursor pada sintesis estrogen oleh sel teka interna. Lebih lanjut, pada

folikel ini oosit primer mengalami kematangan, dan pada waktu yang sama, folikel

yang sedang berkembang mensekresi estrogen lebih banyak. Meningkatnya kadar

estrogen menyebabkan pelepasan Luteinizing Hormone-Releasing Hormone (LHRH)

melalui umpan balik positif (Kurniawan, 2016).

2) Fase Ovulatoir

Fase ovulatoir dimulai ketika kadar Luteinizing Hormone (LH) meningkat dan

pada fase ini dilepaskan ovum. Pada saat ovulasi ini beberapa perempuan merasakan

nyeri tumpul pada perut bagian bawah (Tamsuri, 2007). Tidak ada pemilahan fase

pelepasan ovum sebagai fase ovulatori, tetapi dimasukkan sebagai fase luteal. Setelah

oosit lepas dari folikel Graff, lapisan granulosa menjadi banyak mengandung

pembuluh darah dan sangat terluteinisasi, berubah menjadi korpus luteum, sehingga

disebut sebagai fase luteal. Korpus luteum menghasilkan hormon estrogen dan

23

progesteron. Kadar estrogen yang tinggi dalam darah menghambat produksi Follicle-

Stimulating Hormone (FSH) , sehingga tidak ada folikel yang dirangsang menjadi folikel

Graff. Progesteron menyebabkan suhu tubuh sedikit meningkat, oleh karena itu

peningkatan suhu digunakan untuk memperkirakan terjadinya ovulasi Setelah 14 hari,

apabila telur tidak dibuahi, korpus luteum akan hancur (membentuk korpus albicans),

sehingga terjadi penurunan kadar estrogen dan progesteron serta dihasilkannya

kembali Follicle-Stimulating Hormone (FSH) dan siklus yang baru akan dimulai

(Warianto, 2011).

2.1.4 Gangguan Menstruasi

Gangguan menstruasi terbagi dalam beberapa klasifikasi yaitu kelainan dalam

banyaknya darah yang keluar dan lamanya perdarahan pada menstruasi yaitu

Hipermenorea atau Menoragia dan Hipomenorea, kelainan siklus menstruasi yaitu

Polimenorea, Oligomenorea dan Amenorea, pendarahan yang terjadi diluar

menstruasi yaitu Metroragia, gangguan yang lain ada hubungannya dengan menstruasi

yaitu Dismenorea (Manuaba, 2009).

1. Amenorea

Amenorea adalah keadaan tidak adanya menstruasi untuk sedikitnya 3 bulan

berturut-turut. Dianggap amenore primer bila wanita tidak pernah mendapat daur

menstruasi dan amenorea sekunder bila wanita tersebut telah mengalami daur

menstruasi sebelumnya tetapi tidak lama. Amenore primer umumnya mempunyai

sebab-sebab yang lebih berat dan lebih sulit untuk diketahui, seperti kelainan-kelainan

kongenital dan kelainan-kelainan genetik. Adanya amenorea sekunder lebih menunjuk

kepada sebab-sebab yang timbul dalam kehidupan wanita, seperti gangguan gizi,

gangguan metabolisme, tumor-tumor, penyakit infeksi, dan lain-lain (Corwin, 2009).

Dalam amenorea primer, periode menstruasi tidak pernah dimulai (berdasarkan umur

24

16), sedangkan amenorea sekunder didefinisikan sebagai tidak adanya menstruasi

selama tiga siklus berturut-turut atau jangka waktu lebih dari enam bulan pada wanita

yang sebelumnya menstruasi.

2. Polimenorea

Polimenorea adalah siklus menstruasi yang tidak normal, lebih pendek dari

biasanya atau kurang dari 21 hari. Gangguan ini dikarenakan adanya masalah pada

ovulasi dan pembuahan. Polimenorea dapat menyebabkan wanita mengalami

kesulitan hamil dan gangguan yang lebih serius. Sedangkan oligomenorea adalah

kebalikan dari polimenorea, yakni wanita mengalami siklus menstruasi yang lebih

panjang atau lebih dari 35 hari, namun darah yang keluar saat menstruasi justru

berkurang atau lebih sedikit dari keadaan normal (Manuaba, 2009).

3. Menoragia

Menoragia adalah perdarahan yang terjadi pada masa menstruasi dengan

jumlah yang banyak dapat disertai gumpalan darah bahkan disertai dismenore

(Manuaba, 2009). Pada menoragia, jumlah total darah yang keluar melebihi 80 ml

dalam satu siklus, dan durasi lebih dari 7 hari, untuk frekuensi ganti pembalut dapat

lebih dari 2-5 kali dalam sehari (Prawirohardjo, 2011).

4. Hipomenorea

Hipomenorea merupakan pendarahan yang lebih sedikit dan lebih pendek

dari biasanya. Keadaan ini dapat dikarenakan gangguan rahim, adanya gangguan

endokrin dan gangguan lain di alat reproduksi. Hal ini bisa lebih parah jika wanita

tersebut mengalami tekanan atau stress (Wiknjosastro, 2005). Sedangkan

hipermenora adalah kebalikan dari hipomenora, yaitu pendarahan yang dirasa lebih

banyak dan lebih lama dari biasa atau lebih dari delapan hari. Hal ini bisa disebabkan

adanya mioma di rahim atau gangguan selaput lendir rahim pada saat menstruasi, juga

25

bisa disebabkan penggunaan alat kontrasepsi yang tidak cocok, sehingga

menimbulkan gangguan tersebut (Wiknjosastro, 2005).

5. Dismenore

Dismenore adalah nyeri saat haid yang terasa diperut bagian bawah dan

muncul sebelum, selama dan setelah menstruasi. Nyeri dapat bersifat kolik atau teru-

menerus. Dismenore timbul akibat kontraksi distritmik lapisan miometrium yang

menampilkan satu lebih gejala mulai dari nyeri ringan hingga nyeri berat pada perut

bagian bawah, daerah pantat dan sisi medial paha (Prawirohardjo, 2011).

2.2 Konsep Nyeri Haid (Dismenore)

2.2.1 Pengertian Nyeri Haid (Dismenore)

Nyeri haid biasa disebut dismenore, biasanya sangat menyiksa bagi

perempuan. Banyak diantara tidak bisa bangun dari tempat tidur atau mengalami

kesulitan berjalan, tidak jarang yang mengalami penderitaan sehingga tidak dapat

mengerjakan apapun. Remaja putri yang mengalami nyeri haid, biasanya harus

beristirahat sehingga dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari dan berdampak pada

kinerja atau produktivitas remaja (Kusmiyati, 2011).

Nyeri haid adalah sensasi nyeri/kram di perut bagian bawah yang sering

disertai gejala biologis lainnya termasuk pusing, kelelahan, berkeringat, sakit

punggung, sakit kepala, mual, muntah, dan diare yang terjadi sesaat sebelum atau

selama haid dan ejala dismenore yang paling umum adalah nyeri mirip kram di bagian

bawah perut yang menyebar dan gejala lain yang timbul diantaranya adalah muntah,

sakit kepala, cemas, kelelahan, diare, pusing dan rasa kembung (Shirvani, Tabari, &

Alipour, 2017).

Menurut Desi Nataria (2011), nyeri haid atau dismenore adalah nyeri yang

bersifat kram dan berpusat pada perut bagian bawah. Dismenore didefinisikan

26

sebagai nyeri haid yang sedemikian hebatnya sehingga memaksa penderita untuk

istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari, untuk beberapa jam

atau beberapa hari. Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim yang

terjadi selama haid. Rasa nyeri timbul bersamaan dengan permulaan haid dan

berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari hingga mencapai puncak nyeri.

Dismenore terbagi menjadi dismenore primer dan sekunder. Dismenore primer

merupakan nyeri haid yang tiadak didasari kondisi patologis sedangkan dismenre

sekunder merupakan nyeri haid yang didasari dengan kondisi patologis (Alatas, 2016).

2.2.2 Klasifikasi Nyeri Haid (Dismenore)

1. Klasifikasi Berdasarkan Jenis Nyeri

Nyeri haid berdasarkan dengan jenis nyeri dapat dibagi menjadi nyeri haid

spasmodik dan nyeri haid kongestif

1) Nyeri Haid (Dismenore) Spasmodik

Nyeri haid spasmodik adalah nyeri yang dirasakan di bagian bawah perut dan

terjadi sebelum atau segera setelah haid dimulai. Nyeri haid spasmodik dapat dialami

oleh wanita berusia 40 tahun keatas. Sebagian wanita yang mengalami dismenore

spasmodik, tidak dapat melakukan aktivitas maupun kegiatan sehari-hari (Hartono,

2007).

2) Nyeri Haid (Dismenore) Kongestif

Nyeri haid kongestif dapat diketahui beberapa hari sebelum haid datang.

Gejala yang ditimbulkan berlangsung 2 dan 3 hari sampai kurang dari 2 minggu. Pada

saat haid datang, tidak terlalu menimbulkan nyeri. Bahkan setelah hari pertama haid,

penderita nyeri haid kongestif akan merasa lebih baik. Gejala yang ditimbulkan pada

nyeri haid kongestif, seperti pegal (pegal pada paha), sakit pada payudara, lelah,

mudah tersinggung, kehilangan keseimbangan (Nugraha, 2008).

27

2. Klasifikasi Berdasarkan Kelainan

Berdasarkan kelainan, nyeri haid dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu

primer dan sekunder.

1) Dismenore Primer

Dismenore primer adalah mentsruasi yang sangat nyeri, tanpa patologi pelvis

yang dapat diidentifikasi, dapat terjadi pada waktu menarche atau segera setelahnya.

Dismenore primer ditandi oleh nyeri kram yang mulai sebelum atau segera setelah

awitan alitan menstrual dan beranjut selama 48 jam hingga 72 jam. Dismenore primer

diduga terjadi sebagai akibat dari pembentukan prostaglandin yang berlebihan, yang

menyebabkan uterus untuk berkontraksi secara berlebihan dan juga mengakibatkan

vasospasme arteriolar. Dengan bertambahnya usia wanita, nyeri cenderung menurun

dan akhirnya hilang setelah melahirkan anak (Bare & Smeltzer, 2003). Penyebab lain

dari dismenore primer terkain dengan produksi hormone progesterone yang

meningkat, hormon progesterone di hasilkan oleh jaringan ikat kelenjar indung telur

(corpus leutem) setelah melepaskan sel telur yang matang setiap bulan. Hormone

tersebut memperbesar ketegangan mulut rahin hingga lubang mulut rahim menjadi

sempit, akibatnya otot-otot rahim akan lebih kaut berkontraksi untuk dapat

mengeluarkan darah haid melalui mulut rahim yang sempit. Kontarksi otot rahim

akan menyebabkan kejang otot yang dirasakan sebagai nyeri haid.

Dismenore primer terjadi juga karena adanya peningkatan prostaglandin (PG)

F2-alfa yang merupakan suatu siklooksigenase (COX-2) yang mengakibatkan

hipertonus dan vasokonstriksi pada miometrium sehingga terjadi iskemia dan nyeri

pada bagian bawah perut. Adanya kontraksi yang kuat dan lama pada dinding rahim,

hormon prostaglandin yang tinggi dan pelebaran dinding rahim saat mengeluarkan

darah haid sehingga terjadilah nyeri saat haid (Alatas, 2016).

28

Dismenore primer lebih sering terjadi, kemungkinan lebih dari 50% wanita

mengalaminya dan 15% diantaranya mengalami nyeri hebat. Biasanya dismenore

primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama.

Nyeri pada dismenore primer diduga berasal dari kontrkasi rahim yang dirangsang

oleh prostaglandin (kelenjar kelamin) dan mencapai puncaknya pada umur 15 dan 25

tahun. Adapun faktor lain yang dapat memperburuk dismenore adalah rahim yang

menghadap ke belakang, kurang berolahraga, dan stress psikis atau sosial. Perbedaan

berat ringannya nyeri tergantung pada kadar prostaglandin. Wanita yang mengalami

dismenore memiliki kadar prostaglandin 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan wanita

yang tidak mengalami dismenore (Manan, 2011). Keluhan dismenore primer

berkurang atau amalahan hilang setelah kehamilan ata melahirkan anak pertama. Hal

ini di sebabkan karena rengangan pada waktu rahim membesar dalam kehamilan

membuat ujung-ujung saraf di rongga panggul dan sekitar rahim rusak.

Ada beberapa faktor peranan sebagai penyebab desminore primer, antara lain :

a. Faktor kejiwaan

Faktor kejiwaan terjadi pada remaja yang memiliki emosional tidak stabil, dan

sering terjadi akibat para remaja tidak mendapat penjelasan baik tentang nyeri haid

seperti proses terjadinya nyeri haid dan cara mengatasi nyeri haid yang dialami

(Prawirohardjo, 2011).

b. Faktor konstitusi (kebiasaan fungsional dari tubuh)

Faktor ini erat kaitannya dengan faktor kejiwaan, dapat juga menurunkan

ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor seperti anemia, penyakit menahun dapat

mempengaruhi timbulnya dismenore (Prawirohardjo, 2011).

c. Faktor obstruksi kanalis servikalis

29

Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan terjadinya dismenore

primer ialah stenosis kanalis servikalis (Prawirohardjo, 2011).

d. Faktor endokrin

Faktor endokrin yang menyebabkan nyeri haid yaitu kontraksi uterus yang

berlebihan, karena endometrium dalam fase sekseri yang akan mengahasilkan

prostaglandin, dan apabila prostagkandin dihasilkan secara berlebihan selain nyeri

haid makan akan dijumpai efek lainnya seperti muntah dan diare (Prawirohardjo,

2011).

e. Faktor alergi

Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara

dismenore dengan urtikaria, migraine atau asma bronkhiale bahwa sebab alergi ialah

toksin haid (Prawirohardjo, 2011).

2) Dismenore Sekunder

Nyeri dengan pola yang berbeda didapatkan pada dismenore sekunder yang

terbatas pada onset haid. Dismenore terjadi selama siklus pertama atau kedua setelah

haid pertama, dismenore dimulai setelah usia 25 tahun (Priyanti & Anggraeni, 2014).

Dismenore sekunder disebut juga dengan dysmenorrhea ekstrinsik, adalah nyeri haid

yang disebabkan kelainan organ reproduksi. Biasanya terjadi pada wanita yang berusia

kurang dari 25 tahun dan dapat terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore.

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan nyeri haid (dismenore) sekunder

seperti Endometriosis, yaitu pertumbuhan jaringan dan dinding rahim pada daerah di

luar rahim seperti tuba fallopi atau ovarium, Penyakit rongga dalam daerah kemaluan,

Peradangan tuba fallopi, Perlengketan abnormal antara organ di dalam perut dan

Pemakaian IUD (Andira, 2010). Rasa sakit akibat dismenore sekunder berkaitan

30

dengan hormon prostaglandin. Karena hormon tersebut banyak dihasilkan di dalam

rahim seperti alat KB atau tumor. Selain itu, prostaglandin juga berpengaruh dalam

meningkatkan kontraksi otot rahim yang bertujuan mendorong benda asing itu keluar

(Yatim, 2001).

2.2.3 Etiologi Nyeri Haid (Dismenore)

Penyebab nyeri dibedakan menjadi penyebab fisik dan psikis. Penyebab fisik

antara lain berupa trauma dan peradangan nyeri, sedangkan penyebab psikis akibat

trauma psikologis dan pengaruhnya terhadap fisik. Reseptor nyeri disebut nociseptor,

reseptor nyeri di kulit dan jaringan lain merupakan ujung saraf bebas, yang tersebar

dalam lapisan superfisial kulit, dan jaringan visera seperti pada periosteum,

permukaan sendi, dinding arteri dan sebagainya. Ketika suatu jaringan mengalami

cedera atau kerusakan, mengakibatkan dilepaskannya bahan-bahan yang dapat

menstimulus reseptor nyeri seperti histamin dan prostaglandin akan mengakibatkan

respon nyeri. Stimulus yang mengeksitasi reseptor nyeri dapat berupa mekanis, kimia

dan suhu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa beberapa serat nyeri hampir seluruhnya

terangsang oleh stres mekanis berlebihan atau kerusakan mekanis pada jaringan

disebut sebagai reseptor nyeri mekanosensitif. Sensitif terhadap panas dan dingin

yang ekstrim atau disebut reseptor nyeri termosensitif, dan lainnya sensitif terhadap

zat kimia seperti histamin, ion kalium, prostaglandin, asetilkolin dan enzim proteolitik,

sehingga disebut reseptor nyeri kemosensitif. Prostaglandin dapat menyebabkan

stimulasi serat saraf nyeri yang ekstrim tanpa harus merusaknya (Salbiah, 2015).

Fisiologi nyeri, rangsang nyeri yang tiba-tiba memberikan sensasi ganda, yaitu

nyeri tertusuk yang cepat diikuti sensasi nyeri terbakar yang lambat. Lintasan nyeri

memasuki medula spinalis melalui akar dorsal, dan berakhir pada kornu dorsalis

substansi grisea. Impuls naik ke otak melalui traktus spinotalamikus anterolateralis.

31

Ketika lintasan masuk dalam otak, terpisah menjadi dua lintasan, nyeri ditusuk dan

nyeri terbakar. Nyeri tertusuk dihantarkan ke talamus dan kortek sensori somatik.

Lintasan nyeri terbakar dan pegal berakhir pada daerah retikularis batang otak dan

nukleus intralaminar talamus, yang menghantarkan impuls ke seluruh bagian otak

termasuk hipotalamus. Jadi, karena serabut nyeri terbakar dan pegal merangsang

sistem pengaktivasi retikularis, maka mempunyai efek sangat kuat dalam menggiatkan

seluruh sistem saraf. Nyeri menyebabkan reaksi refleks motorik dan reaksi psikis.

Impuls nyeri memasuki substansi grisea medula spinalis dapat langsung memulai

refleks penarikan diri yang menjauhkan tubuh dari rangsang berbahaya. Reaksi psikis

meliputi semua aspek nyeri seperti sedih, menangis, depresi, mual, muntah. Reaksi ini

sangat bervariasi antara satu orang dengan orang lain (Kusmiyati, 2011).

Nyeri haid atau dismenore terbagi dalam 2 jenis yaitu dismenore primer dan

sekunder. Banyak faktor penyebab terjadinya disminore primer. Penyebab dismenore

primer antara lain, faktor kejiwaan dan faktor endokrin. Faktor kejiwaan yang sering

terjadi disebabkan remaja tidak mendapat penjelasan yang baik tentang haid. Faktor

endokrin yang paling menentukan adalah kontraksi uterus yang berlebihan, karena

endometrium dalam fase sekresi, maka dihasilkan prostaglandin, yang menyebabkan

kontraksi otot polos, jika prostaglandin berlebihan dilepaskan, maka selain

dismenore dijumpai pula efek umum seperti muntah dan diare. Jadi pelepasan

endometrium dihasilkan dari penebalan atau peradangan lapisan endometrium uterus

dan prostaglandin dihasilkan sebagai bagian dari proses peradangan. Pelepasan

endometrium dihambat oleh progesteron, tetapi distimulasi oleh estrogen.

Dismenore sekunder adalah dismenore yang terjadi karena keadaan patologi,

misalnya pada wanita yang menderita endometritis. Rasa nyeri terjadi setiap kali haid,

jenis nyeri ini memerlukan pemeriksaan. Penyebab nyeri ini antara lain rahim terbalik,

32

sehingga darah haid tidak mudah dikeluarkan; adanya benjolan besar atau kecil di

rahim, pemakaian spiral; infeksi pelvis dan endometriosis (Mansjoer, 2000).

Penyebab dari dismenore sekunder biasanya disebabkan oleh kelainan-

kelainan organik, misalnya Rahim kurang sempurna karena ukurannya terlalu kecil,

Posisi rahim yang tidak normal, Adanya tumor dalam rongga rahim, misalnya myoma

uteri, Adanya tumor dalam rongga panggul, terutama tumor fibroid, yang letaknya

dekat permukaan selaput lendir rahim, adanya selaput lendir rahim di tempat lain

(Endometriosis), bisa ditemukan di dalam selaput usus, di jaringan payudara atau di

tempat lain. Pada waktu haid, jaringan selaput lendir yang di luar rahim juga seperti

ikut terlepas dan berdarah seperti jaringan aslinya di dalam rahim. Penyakit-penyakit

tubuh lain seperti tuberkulosa, kurang darah (anemia), buang air besar kurang lancar,

postur tubuh yang terlalu kurus (Yatim, 2001).

2.2.4 Faktor Risiko Nyeri Haid (Dismenore)

Berbagai faktor resiko dismenore telah diindentifikasi dalam berbagai literatur

dengan hasil prevalensi yang beragam. Faktor risiko yang berhubungan dengan

meningkatnya kejadian dismenore yaitu:

1. Menarke (Menarche) usia dini

Haid pertama kali yang dialami oleh waita adalah menarche merupakan indeks

dari pematangan fisik dari organ reproduksi seorang wanita. Hubungan antara

menarche dini dengan pola hormonal dari siklus menstruasi merupakan faktor risiko

penting terjadinya dismenore (Alatas, 2016). Menurut Widjanarko (2006), bila

menarche terjadi pada usia yang lenih awal darinormal dimana alat reproduksi belum

siap untuk mengalami perubahan dan masih terjadi penyempitan pada leher rahim

maka akan menimbulkan rasa sakit saat menstruasi.

33

2. Riwayat keluarga dengan keluhan dismenore

Sebanyak 39,46% wanita yang mengalami dismenore memiliki keluarga dega

keluhan dismenore hal ini disebabkan karena adanya faktor genetik yang

mempengaruhi sehingga apabila ada keluarga yang mengalami dismenore cenderung

mempengaruhi psikis wanita tersebut (Charu, Amita, & Sujoy, 2012).

3. Indeks masa tubuh yang tidak normal

Wanita dengan indeks masa tubuh (IMT) kurang dari berat badan normal dan

kelenihan berat badan (overweight) lebih mungkin lebih mungkin untuk menderita

dismenore jika dibandingkan dengan wanita dengan IMT normal (Charu, Amita, &

Sujoy, 2012).

4. Lama masa menstruasi

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tia Marta (2016), menunjukkan adanya

hubungan lama menstruasi dengan kejadian dismenore. Semakin lama menstruasi

terjadi maka semakin lama pula uterus berkontraksi sehingga timbul rasa nyeri.

Menurut Bobak (2004), lama mentruasi lebih dari normal menimbulkan adanya

kontraksi uterus yang lebih sering sehingga semakin banyak prostaglandin yang

dikeluarkan.

Lama durasi haid disebabkan oleh faktor psikologis maupun fisiologis. Secara

psikologis biasanya berkaitan dengan tingkat emosional wanita yang labil ketika akan

haid. Sementara secara fisiologis lebih kepada kontaksi otot uterus yang berlebihan

atau dapat dikatakan sangat sensitive terhadap hormon, akibatnya endometrium

dalam fase sekresi memproduksi hormon prostagandin yang lebih tinggi. Semakin

lama durasi haid, maka semakin uterus berkontaksi akibatnya semakin banyak pula

prostaglandin yang dikeluarkan sehingga timbul rasa nyeri saat haid (Alatas, 2016).

34

5. Stress

Saat seseorang mengalami stres respon neuroendokrin sehingga

menyebabkan Corticotrophin Releasing Hormone (CRH) maka terjadi sekresi

Adrenocorticotrophic Hormone (ACTH). ACTH akan meningkatkan sekresi kortisol

adrenal. Hormon-hormon tersebut menyebabkan sekresi Follicle Stimulating Hormone

(FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) terhambat sehingga pekembangan folikel

terganggu. Hal ini menyebabkan pelepasan progesteron terganggu. Kadar

progesteron yang rendah meningkatakan sintesis prostagladin. Ketidakseimbangan

antara prostaglandin menyebabkan iskemia pada sel-sel miometrium dan

peningkatan kontraksi uterus. Peningkatan kontraksi yang berlebihan menyebabkan

dismenore (Hendrik, 2006).

6. Alexythimia

Secara psikologi didapatkan hubungan antara Alexythimia dengan keadaan

dismenore. Alexythimia didefinisikan sebagai seseorang dengan kesulitan

mengidentifikasi perasaan dan sulit untuk membedakan antara perasaan dengan

sensasi tubuh dari rangsangan emosional. Pada pasien Alexythimia sulit untuk

menggambarkan dan menghargai perasaan orang lain, yang diduga menyebabkan

kurang empati terhadap orang lain. Faktor risiko dismenore 3,3 kali lebih tinggi pada

wanita dengan Alexythimia (Faramarzi & Salmalian, 2014).

Pada penderita didapatkan ciri-ciri pramenstruasi yang sangat menonjol.

Gejala menstruasi yang dialami wanita reproduksi terjadi pada akhir fase luteal dari

siklus haid. Gejala menstruasi mencakup psikologis dan fisik. Gejala psikologis dapat

berupa kecemasan, gangguan tidur serta peningkatan ambang nyeri. Sedangkan secara

fisik berupa nyeri punggung, sakit kepala, payudara membengkak, perut kembung

dan muntah (Charu, Amita, & Sujoy, 2012).

35

2.2.5 Derajat Nyeri Haid (Dismenore)

Dismenore atau nyeri haid sering di klasifikasikan sebagai ringan, sedang, atau

berat berdasarkan intensitas relatif nyeri. Nyeri tersebut dapat berdampak pada

kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari (Faridah Alatas, 2016). Intensitas

nyeri menurut Multidimensional Scoring of Andersch and Milsom mengklasifikasikan nyeri

dismenore sebagai berikut :

1. Dismenore ringan didefinisikan sebagai nyeri haid tanpa adanya pembatasan

aktifitas, tidak diperlukan penggunaan analgetik dan tidak ada keluhan sistemik

(Alatas, 2016).

2. Dismenore sedang didefinisikan sebagai nyeri haid yang memengaruhi aktifitas

sehari-hari, dengan kebutuhan analgetik untuk menghilangkan rasa sakit dan

terdapat beberapa keluhan sistemik (Alatas, 2016).

3. Dismenore berat didefinisikan sebagai nyeri haid dengan keterbatasan parah

pada aktifitas sehari-hari, respon analgetik untuk menghilangkan rasa sakit

minimal, dan adanya keluhan sistemik seperti muntah, pingsan dan lain

sebagainya (Alatas, 2016).

2.2.6 Epidemiologi Nyeri haid (Dismenore)

Dismenorea dapat dialami lebih dari setengah wanita yang sedang menstruasi,

dan prevalensinya sangat bervariasi. Di dunia angka kejadian nyeri hadi sangat tinggi,

disetiap negara lebih dari 50% wanita mengalami nyeri haid dalam satu siklus

menstruasi. Sebanyak 12% wanita mengalami nyeri haid sudah parah, 37% nyeri haid

sedang, dan 49% nyeri haid masih ringan (Calis, 2018).

Di Amerika Serikat diperkirakan hampir 90% wanita mengalami dismenorea

dan 10-15% diantaranya mengalami dismenorea berat, yang menyebabkan mereka

tidak mampu melakukan kegiatan apapun dan ini akan menurunkan kualitas hidup

36

pada individu masing-masing. Di Indonesia angka kejadian nyeri haid atau

dismenorea primer sebesar 54,89% sedangkan sisanya adalah menderita tipe sekunder.

Dismenorea menyebabkan 14% dari pasien remaja sering tidak hadir di sekolah dan

tidak menjalani kegiatan sehari-hari (Calis, 2018). Di Jawa Timur sendiri angka

kejadian nyeri haid mencapai 64.25% yang terdiri dari 54,89% dismenore primer dan

9,36% dismenore sekunder dan di Kota Malang sendiri angka kejadian nyeri haid

dikalangan pelajar maupun mahasiswi mencapai 58% dan 20% dilaporkan tidak dapat

hadir kuliah (Suban, Perwiraningtyas, & Susmini, 2017).

2.2.7 Patofisiologi Nyeri Haid (Dismenore)

Nyeri haid terjadi pada saat fase pramenstruasi (sekresi). Pada fase ini terjadi

peningkatan hormon prolaktin dan hormon estrogen. Sesuai dengan sifatnya,

prolaktin dapat meningkatkan kontraksi uterus. Hormon yang juga terlibat dalam

dysmenorrhea adalah hormon prostaglandin. Prostaglandin sangat terkait dengan

infertilitas pada wanita, dysmenorrhea, hipertensi, preeklamsi eklamsi, dan anafilaktik

syok. Pada fase menstruasi prostaglandin meningkatkan respon miometrial yang

menstimulasi hormon oksitosin. Dan hormon oksitosin ini juga mempunyai sifat

meningkatkan kontraksi uterus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dismenore

sebagian besar akibat kontraksi uterus (Manuaba, 2007).

Nyeri haid biasanya terjadi akibat pelepasan berlebihan prostaglandin tertentu,

prostaglandin-F2 α, dari sel-sel endomerium uterus. Prostaglandin-F2α adalah suatu

perangsang kuat kontraksi otot polos miometrium dan konstriksi pembuluh darah

uterus. Hal ini memperparah hipoksia uterus yang secara normal terjadi pada haid,

sehingga timbul rasa nyeri hebat (Corwin, 2009).

Nyeri haid berpangkal pada mulainya proses menstruasi itu sendiri yang

merangsang otot-otot rahim untuk berkontraksi. Kontraksi otot-otot rahim tersebut

37

membuat aliran darah ke otot-otot rahim menjadi berkurang yang berakibat

meningkatnya aktivitas rahim untuk memenuhi kebutuhannya akan aliran darah yang

lancar, juga otot-otot rahim yang kekurangan darah akan merangsang ujung-ujung

syaraf sehingga terasa nyeri. Peningatan kadar prostaglandin penting peranannya

sebagai penyebab terjadinya dismenore. Prostaglandin sangat tinggi dalam

endometrium, miometrium dan darah haid wanita yang menderita dismenore primer.

Prostaglandin menyebabkan peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut syaraf

terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar prostaglandin dan

peningkatan kepekaan miometrium menimbulkan tekanan infra uterus sampai 400

mm Hg dan menyebabkan kontraksi miometrium yang hebat. Atas dasar itu

disimpulkan bahwa prostaglandin yang dihasilkan uterus berperan dalam

menimbulkan hiperaktivitas miometrium. Selanjutnya kontraksi miometrium yang

disebabkan oleh prostaglandin akan mengurangi aliran darah, sehingga terjadi iskemia

sel-sel miometrium yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodik. Jika

prostaglandin dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka

selain dismenore timbul pula pengaruh umum lainnya seperti diare, mual, muntah

(Genie, 2009).

2.2.8 Intensitas Nyeri Haid

Intensitas nyeri merupakan gambaran tingkat nyeri yang dirasakan oleh

seseorang. Pengukuran intensitas nyeri bersifat subjektif dan individual. Pengukuran

tingkat nyeri dengan pendekatan objektif dilakukan dengan menggunakan respon

fisiologi dari tubuh terhadap nyeri yang diraskan oleh seseorang (Tamsuri, 2007).

Ada beberapa jenis skala nyeri yang bisa digunakan untuk mengukur

intensitas nyeri dan yang paling biasa digunakan yaitu Skala Analog Visual (VAS) dan

Skala nyeri numerik (Smeltzer & Bare, 2002).

38

1. Skala Analog Visual (VAS)

Skala analog visual (VAS) adalah cara yang paling banyak digunakan untuk

menilai nyeri. Skala linier ini menggambarkan secara visual gradasi tingkat nyeri yang

mungkin dialami seorang pasien. Rentang nyeri diwakili sebagai garis sepanjang 10

cm, dengan atau tanpa tanda pada tiap sentimeter (Yudiyanta, Khoirunnisa, &

Novitasari, 2015).

Visual Analog Scale

No Worst

pain possible pain

Gambar 2.1 Skala Analog Visual

2. Skala Deskritif

Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih

objektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale) merupakan sebuah garis

yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendiskrpsi yang tersusun dengan jarak yang

sama di sepanjang garis. Pendiskripsi di urutkan mulai dari “tidak terasa nyeri”

sampai “nyeri yang tidak tertahankan” (Perry & Potter, 2010).

Tidak Nyeri Nyeri Nyeri Nyeri Nyeri

nyeri ringan sedang hebat sangat paling

hebat hebat

Gambar 2.2 Skala Deskritif (Verbal Descriptor Scale).

3. Skala Nyeri Numerik (Numeral Rating Scale)

Skala Nyeri Numerik (Numeral Rating Scale) adalah alat ukur tingkat nyeri

seseorang yang digunakan dengan meminta pasien untuk menilai rasa nyeri yang

39

dialami sesuai dengan level intensitas nyeri yang ada pada skala numeral dari 0-10

(Perry & Potter, 2010).

Kriteria nyeri pada skala ini yaitu :

0 : Tidak ada nyeri.

1-3 : Nyeri ringan, secara objektif pasien dapat berkomunikasi dengan

baik.

4-6 : Nyeri sedang, secara objektif pasien mendesis, menyeringai, dapat

menujukkan lokasi nyeri, dapat mendiskripsikannya, dapat mengikuti

perintah dengan baik.

7-9 : Nyeri berat, secara objektif pasien terkadang tidak dapat mengikuti

perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dpat menujukkan

lokasi, tidak dapat mendiskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alis

posisi nafas panjang dan distraksi

10 : Nyeri sangat berat, pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi,

memukul.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tidak Nyeri ringan Nyeri sedang Nyeri Nyeri

nyeri berat berat tidak

terkontrol terkontrol

Gambar 2.3 Skala Nyeri Numerik (Numeral Rating Scale)

2.2.9 Penanganan Nyeri Haid (Dismenore)

Penanganan nyeri haid dapat dilakukan dengan mengurangi atau menghambat

stimulus nyeri, agar tidak sampai ke otak. Seperti dijelaskan di atas, nyeri haid terjadi

karena peningkatan prostaglandin dalam darah yang merangsang peningkatan

kontraksi uterus, sehingga terjadi penurunan aliran darah dan oksigen ke uterus yang

40

mengakibatkan iskemia. Penanganan yang biasa diberikan untuk mengurangi nyeri

haid yaitu dengan pemberian terapi farmakologi dan non farmakologis. Terapi

farmakologis seperti pemberian obat penurun rasa nyeri, obat yang mempengaruhi

kerja hormonal, dan obat lainnya. Terapi non farmakologis juga diperlukan biasa

diberikan sebagai bentuk penanganan lain untuk mengurangi nyeri haid antarai lain

yaitu mengkonsumsi air jahe dan air kelapa (Lusa, 2010).

Menurut Sylvia Price dan Wilson (2005), beberapa cara untuk mengurangi

nyeri dapat dilakukan melalui tindakan farmakologis meliputi sedatif untuk

mengurangi kecemasan dan merangsang untuk tidur; analgesik menghilangkan nyeri

dengan mencegah impuls saraf ke otak, meliputi anti nyeri, relaksasi dan aktivitas

rileks. Enkefalin dan endorfin merupakan zat yang berhubungan dengan pengaturan

nyeri, berfungsi sebagai zat penghantar eksitasi yang mengaktivasi bagian sistem

analgesik otak. Infus zat ini ke dalam cairan serebrospinalis ventrikularis ketiga dapat

menyebabkan analgesia. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, nyeri haid dapat

dikurangi dengan obat anti peradangan atau obat-obat lain yang dapat menghambat

biosintesis prostaglandin (Sulistia, 2011).

Untuk mengatasi nyeri haid dapat digunakan obat anti inflamasi non-steroid

untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan. Penanganan dismenore dapat dilakukan

degan dua cara yaitu terapi farmakologis dan terapi non-farmakologis. Terapi

farmakologis dasar dapat dengan pemberian obat anti inflamasi non-steroid (NSAID).

Sedangkan terapi non farmakologis terdapat beberapa cara yaitu mengkonsumsi air

kelapa, mengkonsumsi jahe, kompres air hangat, olahraga dan tidur yang cukup.

41

2.3 Konsep Jahe

Jahe (Zingiber officinale Rosc) merupakan rempah-rempah Indonesia yang sangat

penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bidang kesehatan. Jahe

merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu dan termasuk

dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar

dari India sampai Cina (Paimin, 2008). Jahe (Zingiber officinale Rosc) merupakan salah

satu jenis tanaman yang termasuk kedalam suku Zingiberaceae. Jahe dikenal dengan

nama umum ginger atau garden ginger. Tanaman jahe diduga berasal dari Asia dan

merupakan rempah-rempah yang paling dahulu dikenal di Eropa (Ravindran dkk.,

2004). Jahe telah dimanfaatkan di Asia sejak ribuan tahun yang lalu untuk mengatasi

penyakit arthritis, rematik, keseleo, nyeri otot, penyakit selesma, batuk, sinusitis, sakit

tenggorokan, diare, kolik, kram, gangguan pencernaan, kehilangan nafsu makan,

mabuk, demam, flu, menggigil, dan penyakit menular (Attoe dan Osodeke, 2009).

Jahe (Zingiber officinale Rosc) merupakan tanaman rimpang yang termasuk

dalam familia Zingiberwme. Jahe sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan

obat, banyak dijumpai di daerah pendesaan. Jahe sering digunakan oleh ibu-ibu

rumah tangga sebagai bumbu untuk memasak dan juga sebagai penghangat tubuh.

Kandungan jahe sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, karena kandungan senyawa

phenol yang terbukti memiliki efek anti radang dan diketahui ampuh mengatasi

penyakit sendi juga ketegangan yaag dialami oleh otot dan jahe juga mengandung

zingiberene dan shogol yang berfungsi sebagai anti oksidan, juga efektif melawan

penyakit kanker maupun jantung serta manfaat-manfaat lainnya (Wahyu W, 2010).

Jahe merupakan jenis tanaman herbal yang sudah banyak digunakan di

Indonesia, hal ini terlihat pada olahan jahe yang biasa dinikmati sebagai minuman

penghangat disaat cuaca dingin. Sebagai tanaman herbal, jahe menyimpan macam-

42

macam zat yang baik bagi tubuh seperti pencegahan timbulnya kanker, mengatasi

masalah pernafasan, melancarkan pencernaan, mengatasi memar dan rasa nyeri. Disisi

yang lain jahe ternyata juga mampu memberikan manfaatnya untuk kecantikan yakni

mengatasi kulit berminyak dan menghilangkan ketombe. Oleh karena jahe memiliki

banyak manfaat dan keuntungan, serta mudah didalam pengolahan, maka banyak

masyarakat Indonesia menanam jahe di berbagai daerah atau wilayah. Jahe

merupakan obat tradisional yang tercatat ratusan tahun penggunaannya untuk

mengobati berbagai penyakit seperti rematik, asma, stroke, sakit gigi, infeksi, sakit

otot, sakit tenggorokan, kram, hipertensi, mual, diabetes, nyeri haid (Arman, Almasdy,

& Martini, 2016).

2.3.1 Kandungan Jahe

Jahe mengandung komponen minyak menguap (volatile oil), minyak tak

menguap (non volatile oil) dan pati. Minyak menguap yang biasa disebut minyak atsiri

merupakan komponen pemberi bau yang khas, dalam minyak atsiri jahe terdapat

beberapa unsur seperti n-nonylaldehyde, d-cmphene, d-β phellandrene, methyl heptenone, cineol,

d-borneol, geransol, linalool, zingiberene, acetates dan caprylate. Unsur-unsur tersebut

merupakan sumber bahan baku dalam industris obat-obatan atau farmasi (Lantera,

2002).

Secara tradisional minyak atsiri digunakan untuk obat sakit kepala, gangguan

pada saluran pencernaan, stimulansia, diuretic, rematik, dan mabuk perjalanan.

Kandungan minyak atsiri jahe merah sekitar 2,5 – 2,7%. Besarnya kandungan minyak

atsiri dipengaruhi oleh umur tanaman, semakin tua umur jahe merah, semakin tinggi

kandungan minyaknya. Sedangkan minyak tak menguap yang biasa disebut oleoresin

merupakan komponen pemberi rasa pedas dan pahit (Mulyono, 2002). Beberapa

komponen kimia jahe, seperti gingerol, shogaol dan zingerone memberi efek

43

farmakologi dan fisiologi seperti antioksidan, anti inflamasi, analgesik,

antikarsinogenik (Hernani & Winarti, 2010).

2.3.2 Khasiat dan Manfaat Jahe

Jahe sebagai bahan baku dalam penangan dengan rasanya yang panas dan rasa

pedas telah terbukti khasiatnya dalam mengatasi berbagai jenis permasalahan seperti

untuk pencahar, penguat lambung, mengatasi masuk angin, radang tenggorokan,

asma, anemia, dan rasa nyeri (Lantera, 2002). Jahe tidak mengandung lemak dan gula

sehingga dapat ditambahkan pada produk makanan untuk meningkatkan aroma tanpa

penambahan kalori. Kandungan air dan minyak tidak menguap pada jahe berfungsi

sebagai enhancer yang dapat meningkatkan permeabilitas oleoresin menembus kulit

tanpa menyebabkan iritasi atau kerusakan hingga ke sirkulasi perifer (Swarbrick &

Boylan, 2002). Senyawa gingerol telah terbukti mempunyai aktivitas sebagai

antipiretik, antitusif, hipotensif anti inflamasi dan analgesik (Hernani & Winarti,

2010). Jahe merah mengandung 3 - 7 % golongan senyawa fenol seperti flovanoid

dan alkaloid. Alkaloid dalam jahe mampu menghambat sintesis dan pelepasan

leukotrin sehingga mengurangi rasa nyeri. Jahe telah digunakan untuk mengobati rasa

sakit akibat nyeri haid, osteoarthitis, rheumatoidarthritis, dan demam tinggi, seperti

juga gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, dan gangguan pencernaan.

Jahe adalah salah satu produk alami yang paling umum digunakan dikalangan wanita

dengan nyeri haid. Penelitian praklinis menunjukkan bahwa jahe menekan sintesis

prostaglandin (melalui penghambatan siklooksigenase) dan leukotrien yang terlibat

dalam patogenesis nyeri haid (Chen, Barrett, & Kwekkeboom, 2016).

Penurunan intensitas nyeri haid yang dialami dikarenakan adanya implus rasa

hangat yang merupakan efek dari jahe yang mengenai bagian yang terasa nyeri yaitu

perut bagian bawah, rasa hangat dari jahe direspon oleh ujung syaraf yang berada

44

didalam kulit dan sensitif terhadap suhu. Stimulus ini mengirimkan implus dari

perifer ke hipotalamus sehingga timbul kesadaran terhadap suhu lokal dan memicu

respon adaptif untuk mempertahankan suhu normal tubuh (Potter & Perry, 2005).

Konsumsi jahe juga telah dilaporkan memiliki efek bermanfaat meringankan

nyeri dan frekuensi sakit kepala migrain, dan penelitian tentang kerjanya pada

keadaan rematik menunjukkan efek yang bermanfaat. Pembedaan dibuat antara

indikasi untuk rimpang segar (muntah, batuk, kembung abdomen, dan pireksial) dan

rimpang yang dikeringkan atau telah diolah (nyeri abdomen, lumbago, dan diare). Hal

ini dapat dibenarkan karena kandungan kimianya terdapat dalam perbandingan

berbeda di dalam sediaan yang berbeda (Michael, 2009).

Jahe merupakan obat alami anti inflamasi atau penghilang rasa sakit saat

menstruasi. Ekstrak jahe dapat menekan pengeluaran prostaglandin dan leukotrin

pada endometrium yang mengakibatkan kontraksi kuat sehingga timbul rasa nyeri

yang disebut dismenore atau nyeri haid (Burner, 2012). Jahe yang bisa dimanfaatkan

dalam mengatasi nyeri haid yaitu jenis jahe merah karena mempunyai banyak

keunggulan di bandingkan dengan jenis jahe lainnya terutama jika dilihat dari segi

kandungan senyawa dalam rimpang jahe merah. Di dalam rimpang jahe merah

terkandung zat gingerol, oleoresin, dan mintak atsiri yang tinggi atau lebih banyak di

banding dengan jenis jahe lainnya. Cara mengonsumsi jahe untuk mengatasi nyeri

haid yaitu pemberian air jahe dan cara pembuatan yaitu menggunakan jahe merah

sebanyak 15gr yang di rebus dengan air putih sebanyak 400ml dan ditambahkan 2

sendok makan gula merah yang kemudian di minum 2 kali sehari selama 3 hari pada

saat menstruasi dan di minum sesuai dengan suhu normal ruangan 200C-250C,

kemudian ditunggu reaksinya selama 15 menit untuk mengukur tingkat nyeri pada

dismenore (Hua, 2012).

45

2.4 Konsep Air Kelapa

Kelapa (Cocos Nucifera L.) adalah salah satu jenis tumbuhan dari suku aren-

arenan atau Arecaceae yang paling banyak manfaatnya dan mudah tumbuh ditanah

tropis di Indonesia, sehingga negara Indonesia termasuk penghasil kelapa terbesar

didunia. Pohon kelapa terdiri dari bagian-bagian yang bisa dimanfaat untuk kesehatan,

salah satu bagian dari tumbuhan ini yang bisa dimanfaatkan dan memiliki banyak

kegunaan yaitu air kelapa (Bogadenta, 2013 dalam Lestari Fitri & Sarwinanti, 2015).

Air kelapa bisa dimanfaatkan untuk mengataasi berbagai masalah kesehatan dan

manfaat yang begitu besar dari air kelapa disebabkan karena air kelapa mengandung

banyak zat yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh (Nawawi, 2011 dalam

Lestari Fitri & Sarwinanti, 2015).

Air kelapa telah lama dikenal sebagai sumber zat tumbuh yaitu sitokinin, nilai

kalori rata-rata yang terdapat pada air kelapa berkisar 17 kalori per 100 gram.

Kandungan zat kimia lain yang menonjol yaitu berupa enzim yang mampu mengurai

sifat racun. Komposisi kandungan zat kimia yang terdapat pada air kelapa antara lain

asam askorbat atau vitamin C, protein, lemak, hidrat arang, kalsium atau potassium.

Mineral yang terkandung pada air kelapa ialah zat besi, fosfor dan gula yang terdiri

dari glukosa, fruktosa dan sukrosa. Kadar air yang terdapat pada buah kelapa

sejumlah 95,5 gram dari setiap 100 gram. Manfaat air kelapa yaitu rehidrasi cairan

tubuh, membantu menurunkan berat badan, meningkatkan sistem imun,

meningkatkan sirkulasi, menjaga keseimbangan elektrolit, mengurangi nyeri haid

(Sumino, Nursanti, & Trisnawati, 2012). Jenis kelapa yang gunakan untk mengatasi

nyeri haid yaitu jenis air kelapa hijau sebanyak 200cc ditambahkan 2 potong gula aren

yang kemudian diminum 2 kali sehari selama 3 hari berturut-turut dan di minum

sesuai dengan suhu normal ruangan 200C-250C.

46

Air kelapa mengandung sejumlah cairan berelektrolit yang dapat mencegah

terjaduinya dehidrasi karena pada saat menstruasi tubuh mengeluarkan cairan dan

darah. Asam folat yang terkandung di dalamnya juga bermanfaat untuk menggantikan

darah yang keluar. Asam folat merupakan salah satu komponen yang dibutuhkan

dalam produksi sel darah merah. Dengan produksi darah yang cukup akan

memperlancar peredaran darah. Peredaran darah yang lancar akan mencukupi sel

akan kebutuhan oksigen dan nutrisi. Dengan kondisi ini, tubuh akan lebih tahan

terhadap sensasi nyeri yang ditimbulkan saat haid. Keluhan rasa nyeri saat menstruasi

dapat disebabkan karena adanya hiperkontraktilitas rahim yang disebabkan oleh

prostaglandin (Sumino, Nursanti, & Trisnawati, 2012).

Air kelapa memiki berbagai manfaat bagi tubuh, antara lain :

1. Rehidrasi cairan tubuh

Air kelapa mengandung semua elektrolit yang dibutukan oleh tubuh seperti

sodium, potasium, klorida, kalsium, dan magnesium. Elektrolit dan air minum

memiliki peran penting dalam menjaga cairan tubuh tetap tercukupi terutama selama

kegiatan olahraga yang menguras keringat.

2. Meningkatkan sistem imun

Air kelapa mengandung asam lauric yang juga ditemukan dalam ASI dan

fungsi dari asam lauric ini yaitu antimikroba serta antijamur sehingga dapat

menigkatkan sistem imun tubuh untuk melawan berbagai virus dan penyakit.

3. Baik untuk pencernaan

Komponen air kelapa mengandung berbagai enzim bioaktif yang bisa

membantu mengatasi masalah-masalah pencernaan dan metabolisme, selain itu air

kelapa juga dapat menghilangkan rasa mual serta menjaga keseimbangan eletrolit

dalam tubuh.

47

4. Menguragi nyeri haid

Air kelapa mengandung kalsium, magnesium dan vitamin C. Kalsium dan

magnesium mengurangi ketegangan otot dan vitamin C merupakan zat-zat alami anti

inflamasi yang membantu meringankan rasa sakit akibat kram menstruasi (Kristina &

Syahid, 2012 dalam Lestari Fitri & Sarwinanti, 2015).