bio. Teknologi tepat Guna...‚ ‚ pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, ... dierami dalam mulut induk ikan betina, sedangkan telur ikan arwana dierami oleh induk ikan

  • View
    230

  • Download
    9

Embed Size (px)

Text of bio. Teknologi tepat Guna...‚ ‚ pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, ......

  • APLIKASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA DALAM PEMBENIHANPERIKANAN AIR TAWAR

    Oleh: Dian BhagawatiFakultas Biologi UNSOED

    Kampus UNSOED Kamngwangkal PurwokertoE- ma i I : b hagawatlunsoe d@ya ho o.c o m

    A. PendahuluanPotensi lahan perikanan budidaya di lndonesia cukup besar dan didukung oleh

    kondisi alam yang mempunyai kefagaman fisiografis yang menguntungln untuk

    akuakultur. Suhu air wilayah tropis yang relatif tinggi dan stabil sepanjang tahun

    memungkinkan kegiatan budidaya berlangsung sepanjang tahun. Tipologi bentang lahan

    dan pesisir yang beragam memberi peluang untuk pengembangan komoditas budidaya

    yang beragam pula (Nurdjanah dan Rakhmawati, 2006). Selain itu, budidaya lkansebagai salah satu usaha di bidang perikanan memiliki potensi strategis dalammendukung salah satu tujuan pembangunan kelautan dan perikanan, yaitumeningkatkan produksi dan produktivitas usaha kelautan dan perikanan. Pencapaian

    tujuan tersebut ditandai dengan meningkatnya : a) peran sektor kelautan dan perikanan

    terhadap pertumbUhan kOhdmi nasional; b) kapaSitaS sentra-sehtra produksi kelaUtah

    dan perikanan yang memiliki komoditas unggulan; dan c) pendapatan masyarakat di

    sektor kelautan dan perikanan (KKP, 2012).

    Akan tetapi potensi geografis yang telah dimiliki tidak akan bermanfaat secara

    oplimal bila tidak didukung dqngan penguasaan keterampilan yang memadai dari pelaku

    budidaya ikan. Oleh karena itu, pelaku budidaya perlu terus dibekali dengan berbagai

    keterampilan yang mendukung usahanya agar tujuan pengembangan sistempembudidayaan dapattercapai. MenurutSukadi (2002), tujuan pengembangan sistem

    pembudidayaan ikan adalah: {a) meningkatkan pendapatan dan kesejahteraanmasyarakat pembudidaya ikan; (b) meningkatkan mutu produksi dan produktifitas

    usaha perikanan budi-daya untuk penyediaan bahan baku industri perikanan dalam

    nege6i, meningkatkan ekspor hasil perikanan budidaya dan memenuhi kebutuhankonsumsi ikan masyarakat; serta (c) meningkatkan upaya perlindungan danrehablfitasi sumberdaya perikanan budidaya,

    B. Teknologi Tepat Guna Untuk Pembenihan lkan Air Tawar

    Upaya pengembangan sistem pembudidayaan dapat dilakukan denganmemperhatikan potensi sumberdaya lahan, pemahaman terhadap faktor kelayakan

    budidaya, tingkatan teknologi budidaya dan pemanfaatan plasma nutfah ikanbio.unsoed.ac.id

  • budidaya (Sukadi, 20OZ). Beberapa teknologi tepat guna bidang perikanan telahdihasilkan oleh berbagai pihak, yang tujuannya antara lain untuk memudahkanpenanganan dan pengelolaan serta meningkatkan produksi, sehingga pelaku budidaya

    tinggal memilih yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

    Apabila disesuaikan dengan tahapan kegiatannya, maka aplikasi teknologi tepat

    guna dapal diterapkan mulaidari pengefqlaan induk, telur, larva maupun benih,

    1. Pengelolaan lndukTahapan awal dalam kegiatan pembenihan ikan adalah melakukan seleksi calon

    induk yang akan dipijahkan. Menurut Gustiano et. al. (2008), kegiatan pemuliaan yang

    saat ini sedang berkembang pesat di lndonesia adalah kegiatan seleksi individu danseleksi famili, yang bertujuan untuk memperbaiki sifat fenotip individu. Perbaikan

    sifat ini mengarah pada perbaikan pertumbuhan. Tave (1995), menyatakan bahwakegiatan pembiakan selektif diantaranya seleksi individu dapat digunakan untukmeningkatkan kualitas fenotip. Kualitas fenotip yang ingin ditingkatkan meliputipertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, dan rasio konversipakan.

    Tujuan utama dari kegiatan seleksi adalah untuk menghasilkan induk yang

    memiliki pertumbuhan yang baik sehingga sifat unggul tersebut akan diturunkan keanakan yang dihasilkan. Pertumbuhan yang baik lebih ditekankan pada peningkatan

    bobot. Tolok ukur utama keberhasilan kegiatan pemuliaan adalah peningkatan bobot

    ikan yang nyata. Peningkatan bobot ini dapat dilihat dari nilai genetic gain yang

    didapat (Apriliza, 2012).

    Seleksi induk ikan secara sederhana dapat dilakukan berdasarkan sejarah asul-

    usulnya dan tampilan tubuhnya (pertormans). Penelusuran sejarah asal-usul induk ikan

    dimaksudkan untuk menghindari terjadinya silang dalam (inbreeding), karena pemijahan

    yang dilakukan dengan menggunakan induk yang berkerabat dekat akan menghasilkan

    keturunaR dengan keragaman genetik yang rendah. Cara seleksi induk yang mudahdilakukan oleh pelaku budidaya ikan, antara lain adalah dengan mengamati adanya

    abnqrmalitas dan asimetri pada tubuh calon induk. Menurut Wilkins ef a/ (1995),keadaan tersebut dapat diketahui dengan adanya perbedaan bentuk, ukuran, jumlah

    dan ciri-cirimorfologiyang lain pada organ tubuh berpasangan, antara organ bagian kiri

    dan bagian kanan. Cara tersebut juga telah diadosi oleh Nurhidayat (2000) untukmenyeleksi induk ikan lele serta oleh Bhagawati dan Abulias QAAT), untulr menyeleksi

    induk ikan gurami.

    Apabila induk telah lolos seleksi secara morfologi, maka langkah selanajutnya

    adalah melakukan Seleksi terhadap tingkat kematangan gonadnya. lndUk yang dipilih

    hendaknya sudah siap memijah, yang dapat diketahui dengan cara melakukan

    bio.unsoed.ac.id

  • pengurutan terhadap bagian perut secara perlahan ke arah lubang pengeluarantelur/sperma. lnduk betina yang telah siap memijah akan mengeluarkan telur yang telah

    matang, yang antara lain dirikan dengan keadaan butiran telur yang telah terpisah (tidak

    menggumpal), sedangkan pada induk jantan akan mengeluarkan sperma berwarnaputih susu. Akan tetapi, apabila kematangan gonad induk belum optimal, maka dapat

    dilakukan induksi pematangan ganad dengan eara menyuntikkan hqn'!'!on, baik yqng

    alamimaupun sintetis.

    Selama proses pematangan gonad, induk dipelihara secara terpisah antara jantan

    dan betina, untuk menghindari terjadinya pijah liar. Selain itu, selama pemeliharaanperlu diberi pakan berprotein tinggi dan rendah lemak. Media pemeliharaannya juga

    harus selalu diperhatikan, terutama kebutuhan oksigennya, yang dapat dilakukandengan pemberian aerasi.

    Sarana pemijahan perlu dipersiapkan, terutama untuk jenis-jenis ikan yangmemerlukan suatu media untuk meletakkan telurnya. Misalnya perlu disediakankakaban untuk BemUahan ikan le!e, tempat dan bahan carang untuk ikan gurami, certa

    sarana lainnya uantuk ikan jenis lain.

    2. Pengelolaan lnkubasidan Penetasan TelurTelur ikan memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda-beda tergantung

    jenis ikannya. Sifat dan karakteristik telur ikan bermacam-macam, antara lain menempelpada substrat, tenggelam, melayang, maupun terapung dalam di perairan. sebagaicontoh: ikan mas, lele, dan ikan patin memiliki sifat telur menempel pada substrat,sedangkan ikan gurame terapung di permukaan air. Selain itu beberapa telur ikanmemiliki perekat sepertitelur ikan mas, lele, patin koi, keki dan sebagainya, $edangkantelur ikan bawal, grasscarp, nila, gurame, tawes tidak memiliki perekat. Selain itu,proses penetasan telur juga bermacam-macam. Di alam, penetasan telur ikan niladierami dalam mulut induk ikan betina, sedangkan telur ikan arwana dierami olehinduk ikan jantan. Sedangkan telur ikan gurame menetas didalam sarang tetapi dijagadan dirawat ohh induknya. Teluf Udang dierami pada bagiah perUt.

    Keberhasilan penetasan telur dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Faktordari dalam diantaranya adalah kerja mekanik dari aktivitas larva sendiri maupun darikeria enzimatis yang dihasilkan oleh telur. Sedangkan faktor luar atau lingkungan yangmempengaruhi penetasan telur antara lain suhu, kelarutan oksigen, intensitascahaya, pH dan salinitas.

    Proses penetasan umumnya berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebihtinggi karena pada suhu yang tinggi proses metabolisme berjalan lebih cepat sehinggaperkembangan embrio juga akan lebih cepat yang berakibat lanjut pada pergerakan

    bio.unsoed.ac.id

  • embrio dalam cangkang yang lebih intensif. Namun suhu yang terlalu tinggi atauterlalu rendah dapat menghambat proses penetasan, bahkan suhu yang terlaluekstrim atau berubah secara mendadak dapat menyebabkan kematian embrio dankegagalan penetasan.

    Berdasarkan karakteristik serta sifat telur yang beragam, maka teknologi tepatguna yang diterapkan untuk mendukung F)reses inkubasi dan penetacan harusdisesuaikan dengan jenis ikannya. Salah satu kunci keberhasilan proses penetasanikan adalah menjaga agar suhu media inkubasi berada pada kondisioptimal dan untukmasing-masing jenis ikan nilai optimalnya berlainan. Aplikasi corong inkubasiserbaguna telah dilakukan oleh Bhagawati et al (2010) untuk optimasi penetasan ikannilem, sedangkan pada tahun 2014 untuk optimasi penetasan telur ikan gurami. Alatsederhana tersebut sangat membantu dalam memproduksi benih pada saat musimdingin.

    3. Pengelolaan LarvaLarva (berasal dari bahasa Latin: laruae) adalah bentuk muda (juvenite) pada

    hewan yang perkembangannya melaluimetamorfosis. Sebagian besar perkembanganmorfologi larva ikan yang baru menetas adalah mulut belum terbuka, cadangankuning telur dan butiran minyak masih sempurna dan larva yang baru menetasbersifat pasif, Hari ke dua mulut mufai terbuke dan mufai berusaha, memacuki hari ketiga, larva ikan mulai mencari makan, pada saat tersebut cadangan kuningtelurnya telah menipis, yaitu tinggal 2*3oo/o dari volume awal. Selama cadanganmakanan bawaan lahir masih ada, maka larva tidak perlu mendapatkan pakantambahan. Namun apabila cadangan makanannya mulai menipis maka larva harusdilatih untuk mendapatkan pakan tambahan.

    Pakan tambahan yang pertama untuk larva hendaknya disesuaikan dengankondisinya yang masih sangat lemah. Pakan yang diberikan disesuaikan denganukuran bukaan mulut larva serta kemampuannya dalam memanfaatkan pakan. Larvamem,erlukan banyak energi dalam u$ahanya menan makan pertamanya, karena{kemampuan berenangnya