Buku Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri

  • Published on
    25-Nov-2015

  • View
    46

  • Download
    13

Embed Size (px)

Transcript

<ul><li><p>Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | i </p><p>Kata Pengantar </p><p>Kebutuhan energi akan semakin meningkat seiring adanya </p><p>pembangunan berbagai industri sesuai dengan amanah Perpres 28 </p><p>Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Hingga saat ini </p><p>sektor industri merupakan sektor yang mendominasi konsumsi </p><p>energi di Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaan energi yang </p><p>memadai akan menentukan keberhasilan dalam pengembangan </p><p>industri nasional ke depan. </p><p>Kajian Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam </p><p>Rangka Akselerasi Industrialisasi ini disusun dalam rangka </p><p>menganalisis tingkat kebutuhan energi pada beberapa sektor </p><p>industri yang relatif padat energi di Indonesia dan mengidentifikasi </p><p>permasalahannya. </p><p>Kami ucapkan terima kasih yang mendalam kepada pihak-pihak </p><p>yang telah membantu dalam penyusunan kajian ini, khususnya Tim </p><p>INDEF (Institute for Development of Economics and Finance): Prof. </p><p>Dr. Didik J. Rachbini, Prof. Dr. Bustanul Arifin, Prof. Dr. Ahmad Erani </p><p>Yustika, Dr. Enny Sri Hartati, Eko Listiyanto, MSE., Ahmad Heri </p><p>Firdaus, M.Si., Abra P.G. Talattov, SE. Imaduddin Abdullah, S.Sos., </p><p>Dzulfian Safian, SE.; serta asosiasi industri: Asosiasi Pertekstilan </p><p>Indonesia (API), Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Asosiasi </p><p>Semen Indonesia (ASI), Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI), </p><p>Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Indonesian Iron </p><p>and Steel Industry Association (IISIA), Gabungan Pengusaha Kelapa </p><p>Sawit Indonesia (GAPKI), Forum Industri Pengguna Gas Bumi </p><p>(FIPGB). </p></li><li><p>ii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi </p><p>Akhirnya kami berharap kajian ini dapat memberi kontribusi bagi </p><p>pengembangan sektor industri dan energi di masa mendatang. </p><p>Jakarta, Desember 2012 </p><p>Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal </p><p>Kementerian Perindustrian </p></li><li><p>Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | iii </p><p>Ringkasan Eksekutif </p><p>Kajian Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri </p><p>Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi </p><p>Sektor industri hingga saat ini merupakan sektor yang mendominasi </p><p>konsumsi energi di Indonesia, di mana porsinya mencapai 49,4 persen </p><p>dari total konsumsi energi nasional (Kementerian ESDM, 2012). Dalam </p><p>sektor industri itu sendiri, terdapat beberapa industri yang dinilai paling </p><p>padat menggunakan energi, baik yang digunakan sebagai bahan bakar </p><p>ataupun yang digunakan sebagai bahan baku. Diantaranya adalah industri </p><p>baja, industri semen, industri pupuk, industri keramik, industri pulp dan </p><p>kertas, industri tekstil dan industri pengolahan kelapa sawit. Jika </p><p>dibandingkan dengan faktor input yang lain, biaya energi pada tujuh (7) </p><p>industri tersebut bahkan lebih besar dari biaya tenaga kerja, serta </p><p>menempati peringkat kedua setelah biaya bahan baku. Oleh karena itu, </p><p>dalam mengalisis kebutuhan energi pada sektor industri, selain akan </p><p>dianalisis kebutuhan energi pada masing-masing sub sektor industri (9 </p><p>sektor), juga penting dilakukan analisis secara mendalam kebutuhan </p><p>energi pada 7 industri terpilih tersebut. </p><p>Secara lebih spesifik, Kajian Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor </p><p>Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi ini bertujuan untuk: 1) </p><p>menganalisis tingkat kebutuhan energi pada beberapa sektor industri </p><p>yang lahap energi di Indonesia; 2) mengidentifikasi permasalahan energi </p><p>yang dihadapi; 3) memproyeksi kebutuhan energi sektor industri; serta 4) </p><p>menyusun rekomendasi kebijakan perencanaan kebutuhan energi di </p><p>sektor industri ke depan. </p><p>Terkait tujuan pertama, hasil analisis menunjukkan bahwa pada 2012 </p><p>dari 7 industri yang menjadi fokus kajian, industri pupuk merupakan sub </p><p>sektor industri yang paling padat menggunakan energi. Diikuti dengan </p></li><li><p>iv | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi </p><p>industri pulp dan kertas, industri tekstil, industri semen, industri baja, </p><p>industri keramik, dan industri pengolahan kelapa sawit. Jika skenario </p><p>akselerasi dan akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan maka pada </p><p>2025 industri pupuk tetap menjadi pengkonsumsi energi terbesar, namun </p><p>urutan kedua ditempati industri tekstil dan ketiga industri pulp dan </p><p>kertas, untuk peringkat keempat industri lain urutannya tetap. Industri </p><p>pupuk menjadi pengguna energi yang terbesar karena lebih banyak </p><p>menggunakan gas sebagai bahan baku. Sementara Industri pengolahan </p><p>kelapa sawit menjadi pengguna energi terkecil karena sebagian besar </p><p>energi yang dibutuhkan dipenuhi dari biomassa. </p><p>Dari sekian banyak bahan bakar energi yang digunakan oleh industri-</p><p>industri tersebut, BBM (solar), listrik dan batubara merupakan jenis </p><p>bahan bakar yang paling banyak digunakan. Namun, belakangan gas telah </p><p>menjadi jenis bahan bakar yang semakin banyak digunakan oleh industri. </p><p>Tetapi dalam mendapatkan gas tersebut, industri masih menghadapi </p><p>berbagai kendala dalam mengakses bahan bakar gas tersebut. </p><p>Tujuan kedua yaitu mengidentifikasi permasalahan energi yang dihadapi </p><p>oleh sektor industri. Terdapat sejumlah masalah utama yang dihadapi </p><p>sektor industri terkait dengan akses mereka terhadap energi, antara lain: </p><p>1) Kesulitan memperoleh gas karena terjadi defisit pasokan gas untuk </p><p>kebutuhan industri dalam negeri, sementara di sisi lain sebagian produksi </p><p>gas justru ditujukan untuk ekspor. 2) Terbatasnya infrastruktur energi, </p><p>seperti jaringan transmisi gas bumi yang masih minim. 3) Ketidaksesuaian </p><p>antara persebaran sumber energi dengan lokasi industri, misalnya </p><p>sumber gas bumi yang melimpah di Kalimantan dan Sumatera namun </p><p>lokasi industri terpusat di pulau Jawa. 4) Masih rendahnya pemanfaatan </p><p>batubara untuk kebutuhan domestik sedangkan sebagian besar (70 </p><p>persen) dari produksi batubara dipasarkan ke luar negeri. 5) Diversifikasi </p><p>energi terutama energi terbarukan masih sulit dilakukan karena selain </p><p>biaya yang dikeluarkan jauh lebih mahal, infrastruktur yang dibutuhkan </p><p>juga masih belum memadai. </p><p>Tujuan ketiga, memproyeksi kebutuhan energi sektor industri. Pada </p><p>tujuan ketiga ini analisis dibagi dua, yaitu kebutuhan energi pada 9 </p><p>subsektor industri dan kebutuhan energi 7 industri terpilih yang relatif </p><p>padat energi. Pada proyeksi 9 subsektor industri diperoleh hasil bahwa di </p><p>tahun 2025 kebutuhan energi yang paling besar terdapat pada industri </p></li><li><p>Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | v </p><p>makanan, minuman dan tembakau, sebesar 72.210 gWh atau sekitar 26,6 </p><p>persen dari total kebutuhan energi untuk industri. Saat ini, industri </p><p>makanan, minuman dan tembakau belum menjadi industri yang paling </p><p>banyak membutuhkan energi, namun dikarenakan industri ini </p><p>diproyeksikan akan menjadi salah satu industri yang tumbuh paling pesat, </p><p>maka menimbulkan konsekuensi bahwa pertumbuhan permintaan </p><p>energinya pun turut meningkat pesat pula. Selain itu, jumlah perusahaan </p><p>di industri ini merupakan yang paling banyak bila dibandingkan dengan </p><p>jumlah perusahaan di industri lainnya. </p><p>Selanjutnya, di urutan kedua industri pupuk, kimia dan barang dari karet </p><p>yang kebutuhan konsumsi energi pada 2025 mencapai 60.232 gWh atau </p><p>sekitar 22,0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri. Di tempat </p><p>ketiga industri semen dan barang galian bukan logam yang </p><p>membutuhkan energi sebesar 41.732 gWh (15,35 persen). Urutan </p><p>keempat industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki yang </p><p>diproyeksikan akan membutuhkan energi sebesar 36.050 gWh (13,0 </p><p>persen). Urutan kelima, industri alat angkutan, mesin dan peralatannya </p><p>sebesar 18.491 gWh (6,8 persen). Keenam, industri logam dasar besi dan </p><p>baja yang membutuhkan energi sebesar 14.431 gWh (5,3 persen). </p><p>Ketujuh, industri kertas dan barang cetakan 10.212 gWh (3,8 persen). </p><p>Terakhir, industri barang kayu dan hasil hutan yang diperkirakan </p><p>mengkonsumsi energi dengan jumlah yang paling sedikit, sebesar 2.732 </p><p>gWh atau sekitar 1,0 persen dari total kebutuhan energi untuk industri. </p><p>Pada proyeksi kebutuhan energi 7 industri terpilih yang relatif padat </p><p>energi dihitung dengan menggunakan 3 skenario; skenario Business as </p><p>Usual (BAU), skenario akselerasi, dan skenario akselerasi disertai efisiensi. </p><p>Pendekatan dalam menghitung kebutuhan energi secara sektoral ini lebih </p><p>bersifat mikro, artinya perhitungan mempertimbangkan berbagai </p><p>perkembangan yang terjadi di sektor industri tersebut, seperti </p><p>kemampuan tumbuh (kapasitas, produksi, konsumsi) secara alamiah atau </p><p>tren pertumbuhan industri, rencana pembangunan pabrik baru, tren </p><p>diversifikasi penggunaan sumber energi tertentu pada suatu industri, </p><p>upaya melakukan efisiensi biaya, mengejar target swasembada suatu </p><p>produk, menyamai/menyetarakan konsumsi per kapita dengan negara </p><p>lain, dll. Selain itu pendekatan juga bersifat kasuistik dan ilustratif, </p></li><li><p>vi | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi </p><p>dengan menampilkan contoh perusahaan tertentu yang memiliki pangsa </p><p>pasar dominan dalam suatu industri. </p><p>Secara ringkas kebutuhan energi untuk industri baja dengan skenario </p><p>Business as Usual (BaU) pada 2025 diperkirakan sebesar 11.626 gWh. </p><p>Dengan skenario akselerasi dalam rangka pemenuhan kebutuhan baja </p><p>domestik (swasembada baja) diperlukan energi sebesar 29.392 gWh pada </p><p>2025. Skenario akselerasi disertai efisiensi pada industri baja lebih </p><p>menekankan pada kemungkinan diturunkannya intensitas energi pada </p><p>industri baja serta dilakukannya substitusi sumber energi primer. Jika hal </p><p>ini berhasil dilakukan maka pada 2025 dibutuhkan energi sebesar 19.595 </p><p>gWh dan penghematan yang berhasil dilakukan sebesar Rp 6,4 triliun. </p><p>Kebutuhan energi utama pada industri tekstil adalah energi listrik. </p><p>Mengingat pasokan listrik PLN ke industri tekstil saat ini baru sekitar 70 </p><p>persen maka sisanya sebesar 30 persen menggunakan pembangkit </p><p>sendiri yang membutuhkan minyak, batubara, dan gas. Dihitung dengan </p><p>skenario BaU kebutuhan energi pada industri tekstil pada 2025 sebesar </p><p>50.417 gWh. Dengan skenario akselerasi di mana targetnya mencukupi </p><p>seluruh kebutuhan konsumsi kain dalam negeri, maka pada 2025 </p><p>dibutuhkan energi 252.955 gWh. Hal ini mengingat proporsi impor kain di </p><p>Indonesia masih sekitar 39 persen, serta pertumbuhan konsumsi kain </p><p>domestik yang cukup tinggi, sebesar 17 persen per tahun. Kondisi ini </p><p>diikuti dengan tingkat pertumbuhan penduduk 2,3 persen per tahun, dan </p><p>semakin cepatnya perubahan trend fashion. Selanjutnya, pada skenario </p><p>akselerasi disertai efisiensi, salah satu isu utamanya adalah cukup tuanya </p><p>mesin-mesin produksi yang digunakan industri tekstil sehingga </p><p>penggunaan energinya relatif boros. Oleh karena itu, perhitungan </p><p>skenario akselerasi disertai efisiensi selain menekankan pada urgensi </p><p>untuk mencukupi konsumsi kain domestik juga pentingnya efisiensi </p><p>dengan restrukturisasi permesinan dan substitusi energi. Hasil </p><p>perhitungan menunjukkan bahwa kebutuhan energi di industri tekstil </p><p>pada 2025 sebesar 222.600 gWh. Hasil perhitungan penghematan biaya </p><p>yang bisa diperoleh jika skenario akselerasi disertai efisiensi dapat </p><p>dilakukan pada industri tekstil adalah Rp12,8 triliun pada 2025. </p><p>Perhematan tersebut bersumber dari program restrukturisasi </p><p>permesinan yang akan menghemat pemakaian energi dan peningkatan </p></li><li><p>Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi | vii </p><p>produktivitas, serta adanya diversifikasi energi untuk pembangkit listrik </p><p>dari BBM ke batubara. </p><p>Secara umum kebutuhan energi utama pada industri pengolahan kelapa </p><p>sawit adalah energi listrik, di mana semakin besar kapasitas produksi dan </p><p>jenis produk olahan, relatif semakin tinggi pula tambahan energi yang </p><p>diperlukan dalam proses produksi. Hasil perhitungan skenario BaU </p><p>menunjukkan bahwa pada 2025 industri pengolahan kelapa sawit </p><p>membutuhkan energi sebesar 594 gWh. Skenario akselerasi dihitung </p><p>dengan asumsi produktivitas kebun kelapa sawit Indonesia setara dengan </p><p>Malaysia. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pada 2025 industri </p><p>pengolahan kelapa sawit membutuhkan energi sebesar 832 gWh. </p><p>Sementara itu, skenario akselerasi disertai efisiensi dihitung dengan </p><p>asumsi selain industri CPO mampu melakukan akselerasi juga dapat </p><p>menurunkan intensitas energinya setara world best practice yaitu sebesar </p><p>17 kWh per Ton TBS. Hasil perhitungan dengan skenario ini menunjukkan </p><p>bahwa pada 2025 industri pengolahan kelapa sawit membutuhkan energi </p><p>sebesar 786 gWh. </p><p>Pulp dan kertas ibarat emas hijau bagi pembangunan Indonesia. Dari sisi </p><p>kontribusi terhadap penerimaan negara, sektor industri pulp dan kertas </p><p>telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan. </p><p>Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama eksportir </p><p>di bidang kehutanan sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih dalam Ramli, </p><p>2006). Dengan skenario Business as Usual perkiraan kebutuhan energi </p><p>pada industri pulp dan kertas pada 2025 sebesar 87 ribu gWh. Energi </p><p>tersebut diperoleh dari biomassa yang dapat menghasilkan energi sekitar </p><p>41 ribu gWh. Selain itu, kebutuhan energi juga dipenuhi dari gas </p><p>sebanyak 22 juta MMBTU dan batubara sebanyak 423 ribu ton. </p><p>Saat ini Indonesia berada pada posisi ke 9 dunia sebagai produsen pulp </p><p>dan posisi ke 8 sebagai produsen kertas. Dengan potensi sumber daya </p><p>hutan produksi yang besar, sangat mungkin bagi Indonesia untuk </p><p>melakukan akselerasi pada industri pulp dan kertas guna meningkatkan </p><p>posisi sebagai produsen pulp dan kertas dunia menjadi peringkat ke 5. </p><p>Dengan skenario akselerasi kebutuhan energi pada industri pulp dan </p><p>kertas mencapai 145 ribu gWh. Energi tersebut diperoleh dari biomassa </p><p>setara dengan 72 ribu gWh, gas sebanyak 40 juta MMBTU, dan 742 ribu </p><p>ton batubara. Sedangkan pada skenario akselerasi disertai efisiensi energi </p></li><li><p>viii | Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi </p><p>yang dibutuhkan menjadi berkurang, yakni gas sebanyak 34 juta MMBTU </p><p>dan 647 ribu ton batubara. Hasil perhitungan penghematan biaya yang </p><p>bisa diperoleh jika skenario akselerasi disertai efisiensi dapat dilakukan </p><p>pada industri pulp dan kertas adalah Rp14,9 triliun pada 2025. </p><p>Penghematan tersebut sangat mungkin dicapai jika industri pulp dan </p><p>kertas lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi dari biomassa </p><p>seperti black liquor, kulit pohon (bark), cpo, sludge, serbuk kayu (saw </p><p>dust), kompos, dan sebagainya. </p><p>Kebutuhan energi industri pupuk sangat dipengaruhi oleh ketersediaan </p><p>gas alam, mengingat konsumsi gas merupakan salah satu indikator </p><p>penting untuk menilai produksi pupuk. Dalam perhitungan kebutuhan </p><p>energi industri pupuk, konsumsi gas alam sebagai bahan bakar saling kait </p><p>mengait dengan konsumsi gas alam sebagai bahan baku. Berdasarkan </p><p>skenario BaU pada 2025 industri pupuk membutuhkan total gas alam </p><p>sebesar 1.314 juta MMBTU yang terdiri dari 1.274 juta MMBTU untuk </p><p>bahan baku dan 39 juta MMBTU untuk bahan bakar atau setara 11.560 </p><p>gWh. Sementara dengan skenario akselerasi berupa peningkatan </p><p>kapasitas produksi m...</p></li></ul>