Buletin Edisi 2

  • View
    234

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Maulid, masihkah dianggap bidah tercela

Text of Buletin Edisi 2

  • Sangata. Perge-rakan Mahasiswa Is-lam Indonesia (PMII) Kutim nampaknya sa-at ini makin meman-tapkan pergerakannya dengan salah satu visi dan misinya yaitu menciptakan kader ya-ng berwawasan ilmu pengetahuan yang lu-as. Untuk mewu-judkan itu, selain melakukan diskusi dan kajian-kajian keilmuan yang rutin dilakukan, PMII juga memberikan kesempatan kadernya untuk mengikuti pelatihan-pelatihan atau seminar-seminar lainnya. Salah satunya kemarin (Rabu, 10/03/2010), PMII Kutim mengirimkan delegasi untuk mengikuti Pelatihan Riset & Penulisan yang diadakan selama delapan hari dari tanggal 11-19 Maret 2010, oleh lembaga Nala Dwipa dan Penerbit buku Desantara yang bertempat di Samarinda.

    Kegiatan yang bertema Desentralisasi Ditinjau dari Beragam Perspektif ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami kebijakan-kebijakan Pemerintah Daerah yang otonom, baik kelebihan maupun kelemahannya, dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dengan adanya pelatihan tersebut nampaknya PMII Kutim merespon

    positif dan antusias. Hal ini dibuktikan dengan mengirim kadernya untuk mengikuti pelatihan tersebut, yang diikuti Sahabat Nano Syahrudin dan Sahabat M. Fahruddin Anshari.

    Sahabat Mukhtar (Ketua Dept. Pengkaderan PMII Kutim), kemarin siang (15/03) di sekretariat mengatakan saya berharap para delegasi betul-betul mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, sehingga bisa memberikan pengetahuannya kepada sahabat-sahabat PMII lainnya dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh.

    PMII KUTIM. Ta-ring Pergerakan Ma-hasiswa Islam In-donesia (PMII) Ku-tai Ti-mur akan mulai nampak, hal ini ditengarai deng-an diadakannya Pe-latihan Jurnalistik

    Tingkat Dasar pada tanggal 10 Februari 2010 di sekerteriat PMII. Kegiatan yang bertujuan untuk membentuk kader-kader yang kritis melalui karya tulisannya. Peserta yang mengikuti pelatihan tersebut berjumlah dua puluh orang.

    Kegiatan tersebut sangat berguna bagi peserta

    yang notabenenya adalah Mahasiswa. Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari cara membuat artikel, opini, esai dan sebagainya, yang belum tentu semua mahasiswa mempunyai kesempatan untuk mempelajari cara-cara membuat karya tulis tersebut.

    Pada saat menyampaikan materi Minggu (10/02) Mustatho selaku nara sumber mengatakan kesempatan belum tentu datang ke-dua kali, jadi manfaatkanlah kesempatan ini untuk berlatih dengan sungguh-sungguh, karena nantinya kegiatan menulis bisa menjadi mata pencaharian atau profesi seseorang atau sahabat-sahabat sekalian.

    1

    PMII Kutim kirim kader ikuti Pelatihan Riset & Penulisan

    Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (Tahap I)

  • MukaddimahTelah menjadi maklum, bahwa setiap kali

    bulan Rabiul Awal tiba, kaum muslim bersiap untuk mengadakan perayaan maulid nabi. Perayaan maulid kini sudah menjadi tradisi hampir di seluruh pelosok tanah air. Di hampir setiap mushalla, masjid, sekolah, bahkan instansi pemerintahanpun seakan berlomba-lomba mengadakan berbagai aktivitas sebagai bagian dari pasrtisipasi mereka dalam merayakan maulid. Lebih dari itu, umat Islam di belahan bumi lainnya juga melakukan hal serupa.

    Terlepas dari kemeriahan dan suka cita kaum muslim dalam merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad itu, tahukah Anda bahwa perayaan maulid merupakan perbuatan baru yang tidak pernah dilakukan oleh umat Islam pada masa Rasulullah dan sahabat? Maka tak heran, bila sebagian orang menganggap perayaan maulid adalah bidah. Dengan berpijak pada alasan itulah mereka kemudian menyatakan bahwa perayaan maulid adalah perbuatan maksiat dan pelakunya dihukumi berdosa atau lebih kasarnya sesat. Mereka yang menolak maulid dan mengharamkannya dikenal dengan sebutan Gerakan Anti Maulid (GAM).

    Anggota GAM kini mulai bertebaran dan menyusup di masyarakat kita. Kepada masyarakat yang masih awam, mereka sengaja membisikkan sebuah hadis rasulullah yang bunyinya:

    Maknanya : "dan jauhilah olehmu perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap bid'ah adalah sesat".

    Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Tirmidzi. Meski status hadis ini sahih, namun orang-orang semisal GAM tidak memahami makna hadis ini sebagaimana mestinya, sehingga ia sering dijadikan stigma untuk menyesatkan orang

    dan mengklaim pelakunya sebagai ahli bidah, hanya gara-gara apa yang dilakukannya belum pernah dilakukan oleh nabi.

    Sejarah Peringatan Maulid Nabi Peringatan Maulid pertama kali dilakukan

    oleh raja Irbil; Muzhaffaruddin al Kawkabri pada awal abad ke 7 H. Ibnu Katsir dalam kitab Tarikhnya berkata: Raja Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awwal dan beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang pemberani, pahlawan, alim dan adil, semoga Allah merahmatinya. Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibnu al Jawzi bahwa dalam peringatan tersebut raja Muzhaffar mengundang segenap rakyatnya dan seluruh para ulama dalam berbagai disiplin ilmu, baik ulama fiqh, hadis, kalam, ushul, tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari sebelum hari pelaksanaan beliau telah melakukan persiapan, ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para tamu yang akan hadir.

    Seluruh para ulama ketika itu membenarkan apa yang dilakukan oleh raja, dan mereka menganggap baik perayaan maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya dalam sejarah umat Islam. Ibnu Khallikan dalam kitab Wafayat al Ayan menerangkan bahwa al Hafizh Ibnu Dihyah datang dari Maroko menuju Syam untuk selanjutnya menuju Irak. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 H, ia melihat besarnya perhatian Raja Irbil terhadap perayaan Maulid Nabi, karenanya ia kemudian menulis sebuah buku maulid yang diberi nama at-Tanwir fi Maulid al Basyir an-Nadzir yang selanjutnya ia hadiahkan kepada raja.

    Sejak saat itulah, perayaan maulid menjadi tradisi umat Islam di seluruh belahan dunia setiap bulan Rabiul Awwal. Seluruh ulama baik masa itu maupun kini tetap memandang bahwa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik,

    Menimbang Hukum Peringatan Maulid Nabi(Upaya Klarifikasi atas Tuduhan GAM)

    2

  • mereka adalah seperti al Hafizh Ibnu Dihyah (abad 7 H), al Hafizh al 'Iraqi (W. 806 H), Al Hafizh Ibnu Hajar al 'Asqalani (W. 852 H), al Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H), al Hafizh as-Sakhawi (W. 902 H), Syekh Ibnu Hajar al Haytami (W. 974 H), Imam Nawawi (W. 676 H), Imam al Izz ibn 'Abdissalam (W. 660 H), Syekh Muhammad Bakhit al Muthi'i (W. 1354 H), Mantan Mufti Mesir yang lalu, Syekh Mushthafa Naja (W. 1351 H) mantan Mufti Beirut terdahulu dan masih banyak lagi yang lain. Bahkan Imam as-Suyuthi menulis karangan khusus tentang maulid yang berjudul Husn al Maqsid fi Amal al-Maulid.

    Hukum Memperingati Maulid Nabi Maulid Nabi biasanyadi peringati dengan cara

    membaca ayat al-Qur'an, sirah nabawiyyah (sejarah nabi), lantunan shalawat, dan ceramah agama. Siapapun pasti sepakat bahwa hal-hal semacam ini adalah baik dan sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip Islam, bahkan sejalan. Anehnya, meski baik namun tetap saja dianggap sebagai bidah yang tercela oleh anggota GAM.

    Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa perayaan maulid Nabi mulai dilakukan pada permulaan abad ke 7 H, ini berarti kegiatan ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi, para sahabat dan generasi salaf. Meskipun demikian, tidak berarti perayaan Maulid Nabi dihukumi haram karena sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi belum tentu bertentangan dengan ajaran nabi.

    Dalam kasus perayaan maulid Nabi para ulama menggolongkannya ke dalam bidah hasanah (perkara baru yang selaras dengan al-Quran dan tidak bertentangan dengannya). Mereka mendasarkan argumen mereka dengan hadis:

    Maknanya: "Barang siapa yang memulai dalam Islam sebuah perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun". (H.R. Muslim dalam shahih).

    Hadis ini memberikan keleluasaan kepada ulama ummat Muhammad untuk berinovasi denggan merintis perkara-perkara baik yang tidak bertentangan dengan al-Quran, Sunnah, Atsar maupun Ijma'. Peringatan maulid Nabi adalah perkara baru yang baik dan tidak menyalahi satu-pun di antara dalil-dalil tersebut, dengan kata lain, ia dihukumi boleh (mubah), bahkan berpahala. Jika anggota GAM mengharamkan peringatan Maulid, berarti mereka telah mempersempit keleluasaan yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik.

    Tidak semua hal baru dapat dikategorikan sebagai bidah, yang berdampak dosa pada pelakunya. Bidah dalam agama ada yang terpuji (mahmudah) dan ada yang tercela (madzmumah). Dalam hal ini Imam Syafi'i semoga Allah meridlainya- berkata :

    Maknanya: Perkara yang baru terbagi menjadi dua bagian. Pertama, perkara baru yang menyalahi al-Quran, Sunnah, Ijma' atau Atsar (apa yang dilakukan atau dikatakan sahabat tanpa ada di antara mereka yang mengingkari), inilah bid'ah yang sesat. Kedua, perkara baru yang baik dan tidak menyalahi al-Quran, Sunnah, maupun Ijma', inilah bidah yang baik". (Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dengan sanad yang sahih dalam kitabnya Manaqib asy-Syafi'i.)

    3

    Zainul Muflihin (Dosen STAIS Kutai Timur)

  • Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW terkadang disebit Maulid Nabi atau Maulud saja adalah peringatan hari lahir, Nabi Muhammad SAW yang dalam tahun Hijriyah jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal. Kata maulid atau milad adalah dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini sebagai bentuk kegembiraan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

    Maulid Nabi S