buletin IFL Maret-April'13

  • View
    259

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of buletin IFL Maret-April'13

  • 1. IFLS BULLETIN(Mar - Apr 2013) Redaksi Penanggung jawab umum: M. Iman Usman Penanggung jawab redaksi: Jessica Angkasa Editor: Aswin Prasetyo Kontributor: Muhammad Q. Rusydan Regina Martha Uli Gigay Citta Acikgenc Salam redaksi, Sebagai pemuda, kita seharusnya lebih vokal dalam menentukan perubahan di masa depan. Salah satunya, dalam pembuatan agenda pembangunan. Perlu diingat bahwa pada tahun 2015, delapan tujuan pembangunan milenium (MDGs)yang dicetuskan oleh PBB pada tahun 2000, seperti yang terlihat pada gambar di samping, akan berakhir. Saat ini banyak negara sedang berkonsultasi bersama untuk menentukan agenda apa yang akan dibentuk setelah MDGs berakhir. Generasi pemuda saat ini, yang berjumlah hampir setengah dari populasi dunia, harus dilibatkan penuh dalam menentukan arah pembangunan! Di tangan pemuda pembangunan masa depan akan ditentukan!

2. Pembangunan dan Pemuda oleh Gigay Citta Acikgenc Jika kita merunut sejarah pendirian, kaum muda di Indonesia sering mengambil peran - peran krusial yang turut membentuk wajah Indonesia hari ini; Sumpah pemuda, peristiwa Rengasdengklok, reformasi tahun 1998. Gejolak hasrat untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik tertanam di dalam setiap individu yang menyatakan dirinya 'Aku pemuda'. Zaman tidak lagi mengharuskan aksi heroik turun ke jalan untuk memantik semangat perubahan. Siapa pun bisa menyumbangkan tidak hanya uang, tetapi juga menyuarakan ide, menyetorkan tenaga, dan meluangkan waktunya untuk berkolaborasi membangun masyarakat. Pertanyaannya, adakah kemauan untuk merangkul pemuda untuk benar - benar menjadikan mereka agen perubahan mulai dari level akar rumput hingga pembuatan kebijakan di tingkat nasional? Pemuda menurut definisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah yang berusia 15-25 tahun. Jumlah populasi pemuda di dunia adalah 43% populasi penghuni planet bumi. Pemuda di Indonesia sendiri berjumlah 62 juta. Dengan jumlah sebesar ini, 12x lipat lebih besar dari populasi di Singapura, banyak sekali potensi yang bisa digali. Hal ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan. Secara mandiri, banyak pemuda di berbagai kota di Indonesia mulai tergerak kembali untuk memberdayakan masyarakat, Apalagi dengan keberadaan internet dan social media, suaranya untuk menggerakkan sesama bisa semakin didengar. Beragam pemangku kepentingan (stakeholder) juga kian gencar memberikan wadah bagi pemuda untuk meningkatkan kapasitasnya. Sebut saja program latihan kepemimpinan, forum kepemudaan, beasiswa pertukaran pelajar, kesempatan magang dan lain sebagainya. Persebarannya yang mungkin belum merata karena konsentrasinya masih di kota - kota besar. Inisiatif sektor swasta untuk mengasah potensi anak muda perlu kita apresiasi. Akan tetapi, sudah saatnya kita, pemuda, menjadi subyek dalam pembangunan dan tidak menjadi obyek semata. #Speak-up 3. Artinya, secara formal pemuda harus dilibatkan dalam membuat kebijakan yang menyentuh kehidupan kaum muda. Pendapat kaum muda tidak boleh absen dan dianggap 'belum cukup umur' untuk turut dalam proses mengambil kebijakan. Payung hukumnya harus jelas. Undang- Undang Kepemudaan (National Youth Policy) juga harus dibuat mengingat jumlah populasi pemuda yang signifikan dan kemampuan pemuda untuk setara dengan para politisi di pemerintahan sangat bisa diandalkan. Kepercayaan terhadap pemuda untuk ambil bagian dalam perumusan kebijakan telah direalisasikan oleh PBB dalam berbagai macam konferensi. Salah satunya adalah adanya sektor pemuda di The 4th Meeting High Level Panel of Eminent Person on Post-2015 Development Agenda yang baru saja dilaksanakan di Bali, akhir Maret 2013. Seratus pemuda dari berbagai negara berkumpul untuk menentukan isu yang mereka ingin prioritaskan di agenda pembangunan pasca-2015 Millenium Development Goals (MDGs). Salah satu isu yang didorong oleh pemuda adalah mekanisme kemitraan global. Artinya, pemuda meminta pemberian kesempatan yang lebih leluasa sebagai mitra kerja sama dalam berpartisipasi menyelesaikan masalah sosial di masyarakat. Isu kemitraan ini juga telah disampaikan secara langsung kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, oleh Angga Dwi Martha (21), Youth Advisor UNFPA Indonesia. Dalam acara Youth Forum yang diselenggarakan oleh panitia Indonesia MDGs Award, 26 Maret 2013, Angga mengadvokasi pentingnya keterlibatan pemuda dalam menjadi agen pembangunan dan perlunya kebijakan strategis untuk kaum muda melalui UU Kepemudaan. Secara sederhana, dunia kelak akan dipimpin oleh para pemimpin yang hari ini statusnya masih 'anak muda'. Kepemimpinan yang transformatif yang diisi oleh pemimpin-pemimpin yang inovatif tidak dihasilkan dalam waktu semalam. Meminjam istilah dari pendiri yayasan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, pembentukan pemimpin yang memiliki grass-root understanding with global competence tidak mungkin terwujud dalam waktu satu malam. Prosesnya harus dimulai dari sekarang. Sektor swasta dan lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat sendiri telah memberikan ruang kepada pemuda untuk mengaktualisasikan potensinya. Semoga pemerintah juga melakukan hal yang sama dan tidak sekadar wacana. Namun yang terpenting, ada tidaknya rencana aksi dari pemerintah, hal ini jangan sampai kita jadikan alasan untuk berkontribusi membangun negeri. 4. #Inspiring Yang muda, yang bersuara! Libatkan pemuda dalam pembangunan! Leaders, dua pendiri IFL, Niwa Rahmad Dwitama (Niwa) dan Dian Aditya Ning Lestari (Diku) terpilih menjadi delegasi di forum pemuda pada acara The 4th Meeting High Level Panel of Eminent Persons on Post-2015 Development Agenda loh! Mereka, bersama dengan para pemuda lainnya dari seluruh dunia, berkumpul di kawasan Nusa Dua, Bali, pada tanggal 25 27 Maret 2013 untuk mendiskusikan agenda pembangunan pasca 2015 dari pandangan para pemuda. Seru sekali ya sepertinya? Yuk, kita tanya apa saja yang telah disepakati di sana, serta bagaimana peran pemuda untuk pembangunan dunia! Niwa Rahmad Dwitama (Niwa) Dian Aditya Ning Lestari (Diku) 5. Halo, Niwa dan Diku! Ceritakan dong pengalaman kalian di pertemuan panel tingkat tinggi untuk agenda pembangunan pasca MDGs di Bali pada akhir Maret lalu? N: Pertemuan tersebut sangat menarik karena panel melibatkan aktor multisektor yang beragam mulai dari para parlemen, tokoh adat, pemuda dan kelompok termarjinalkan seperti TKI ataupun orang-orang dengan disabilitas. Hal ini dipertahankan dari pertemuan pertama dari New York, London, Monrovia dan hingga Bali. Saya harap panel tidak hanya lebih inklusif dalam rekomendasi agenda pembangunan tetapi juga menumbuhkan perasaan kepemilikian (ownership) dari agenda pembangunan pasca 2015 dan saling bekerjasama dan evaluatif. D: Pertemuannya sangat singkat, tapi mengesankan. Gak nyangka ternyata diluar kesibukan mereka sebagai politisi, ahli, dll, para High Level Panel masih bisa meluangkan waktunya untuk melakukan pertemuan ini dan melaksanakan proses inklusif untuk menentukan agenda pembangunan pasca 2015 di Bali dengan serius. Para panelis benar- benar melakukan ini semua! Menurut kalian, bagaimana pemuda dapat berperan dalam pembuatan agenda pembangunan? N: Yang paling penting dari pemuda adalah bagaimana dia bisa mengangkat isu yang diadvokasikan atau dikembangkannya melalui aktivitas, voluntarisme atau khasanah perpektif akademis yang mereka miliki dan ikut serta bertukar pikiran, berdebat dan mencapai konsensus untuk menyatukan suara pemuda terhadap penekanan aspek apa yang harus jelas di agenda pembangunan pasca 2015. Kemudian suara itu terus disampaikan melalui berbagai runutan pertemuan High Panel sampai benar benar dipertimbangkan dalam hasil akhir dari diskusi yang berlangsung. Singkatnya, konsisten menyuarakan poin penekanan rekomendasi pemuda dan terus berpartisipasi secara berkelanjutan dalam proses negosiasi dan pertemuan. 6. D: Pemuda dapat berperan dalam agenda pembuatan agenda pembangunan dengan dua cara: 1. Cara langsung: terjun langsung ke dalam pertemuan kemarin dan melobi agenda pemuda agar masuk ke agenda yang akan dibahas & dipertimbangkan High Level Panelist, seperti cara saya kemarin. 2. Cara tidak langsung, tapi nyata: terlibat di berbagai kegiatan positif yang membangun bangsa secara langsung di tingkat akar rumput, dan suarakan kegiatanmu agar kami (pemuda yang terjun langsung dan bertemu dengan para panelis) didengar! Dengan demikian agendamu bisa kami perjuangkan! Hehehe.. Selama pertemuan kemarin, apa kesan mendalam yang kalian dapat di pertemuan panel ini? N: Pemuda dari berbagai negara dan latar belakang ikut berdiskusi sehingga keanekaragaman pendapat yang muncul pun begitu kaya dan dinamis. Namun waktu pertemuan begitu singkat, hanya satu hari pertemuan dan diskusi pemuda, jadi tantangan besar untuk mencapai konsensus. Diskusi bersama koordinator Indonesia untuk UNFPA juga sangat menarik. Beliau mengatakan bahwa Indonesia butuh mengintegrasikan arahan pembangunannya pada tingkat nasional hingga daerah. Misalnya pengakuan non diskriminasi terhadap HIV AIDS di Nasional, di NTT pengidap HIV dikarantina di fasilitas publik, jelas ini sudah mendiskriminasikan mereka dari masyarakat umum. D: kesan mendalam saya ada dua: 1. Terhadap High Level Panelist: saya terkesan dengan fakta bahwa mereka benar-benar mau menyisihkan waktunya dan bertatap muka dengan pemuda, serta mempertimbangkan pendapat mereka. Ternyata mereka menghargai pendapat pemuda dan tahu bagaimana pemuda, yang sifatnya lebih bersemangat, lebih idealis, dan cenderung lebih "aksi" dibanding "pidato," bisa berkontribusi kepada penentuan agenda pembangunan dan pembangunan itu sendiri. Sesuatu yang patut dihargai dari para High Level Panelist! 7. 2. Terhadap prosesi pertemuan itu sendiri: ternyata banyak pemuda dari seluruh dunia yang begitu aktif dan ahli di bidangnya masing-masing dan begitu aktif dan peduli dengan advokasi kepentingan mereka pada pertemuan-pertemuan seperti HLPEP Meeting kemarin! Tapi tetap saja, karena adanya keahlian yang berbeda dan kepentingan yang berbeda