Buletin Tzu Chi Edisi 56 Maret 2010 (Indonesia language)

  • View
    351

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

March Edition 2010

Text of Buletin Tzu Chi Edisi 56 Maret 2010 (Indonesia language)

No. 56 | Maret 2010 Gedung ITC Lt. 6 Jl. Mangga Dua Raya Jakarta 14430 Tel. (021) 6016332 Fax. (021) 6016334 redaksi@tzuchi.or.id www.tzuchi.or.id

Pemasangan Pipa Air Bersih di Gunung Kidul, Yogyakarta

Air Bersih untuk Desa GiriasihMelihat pentingnya prasarana penyaluran air bersih, Departemen Pekerjaan Umum kemudian memasang pipa dari Gua Pego ke rumah rumah warga. Sayang, hal ini belum mampu menjangkau semua warga. Krisis air bersih dan kemiskinan tetap saja menjadi permasalahan.

Teladan | Hal 5Keterbatasan fisik bukanlah halangan bagi Julius Susanto dalam bekerja mencari nafkah. Tidak hanya berhasil memenuhi kebutuhannya, kini ia pun mulai bederma untuk orang lain melalui Tzu Chi.

Air untuk Kehidupan

Lentera | Hal 10Setelah mendapatkan kesembuhan dari luka bakar yang dideritanya, Roro Dewi kini aktif menjadi relawan Tzu Chi. Dulu Roro yang dibantu, sekarang giliran Roro yang bantu. Rasanya senang sekali bisa berguna bagi orang lain, ujar Roro.

A nand Yahya

Pesan Master Cheng Yen | Hal 13Setiap orang hendaknya dapat melakukan 3 hal baik dan menjauhi 3 hal buruk. Tiga hal yang baik yaitu berpikir, berkata, dan berbuat baik. Sementara 3 hal buruk yang harus dihindari adalah merokok, berjudi, dan minum minuman keras. Jaringan baru. Pipa jaringan air bersih yang dahulu hanya mencapai dua dusun, kini dilanjutkan pemasangannya hingga mampu menjangkau seluruh dusun di Desa Giriasih. agi para petani dan masyarakat Gu nung Kidul, Yogyakarta, kehadiran air sangatlah berarti. Selain untuk mengairi sawah dan ladang, air juga untuk memenuhi kebutuhan seharihari keluarga mereka. Tatkala air dari danau buatan mulai me ngering dan musim kemarau terus berlanjut, di saat itulah para petani makin mengkhawatirkan hasil ladang mereka. Belum lagi datangnya serangan dari tikus, wereng, dan ulat grayak makin membuat para petani khawatir panen mereka akan gagal. Kesulitan air, itulah yang terjadi di Desa Giriasih, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Desa yang terdiri dari 4 dusun dengan 373 kepala keluarga (KK) ini terletak di pegunungan karst yang tandus. Desa yang terletak 37 kilometer sebelah Selatan Yogyakarta ini juga termasuk dalam kategori desa miskin. Di tahun 2009, 75 persen warganya tercatat sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT). Berkontur pegunungan karst, ditambah topografi yang berbukitbukit menyebabkan wilayah ini minim daerah pertanian dan peng gunaan sumur bor menjadi sulit dilakukan. Masyarakat pun akhirnya kesulitan untuk men dapatkan cadangan air bersih.

Untuk menunjang perekonomian dan mengurangi kesulitan warga akan air bersih, maka pada tanggal 1 Februari 2010, pipa jaringan air bersih yang dahulu baru menjangkau 2 dusun dilanjutkan kembali pemasangannya. Program harapan ini diprakarsai oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang dalam pelaksanaannya juga melibatkan warga. Mereka memasang dan menyambungkan pipa dari terminalterminal air yang sudah ada ke rumah rumah penduduk. Total pipa jaringan yang terpasang sepanjang 3.151 meter. Selain itu, setiap keluarga juga mendapatkan 25 batang bibit pohon sengon. Total bibit yang di bagikan sebanyak 15.000 bibit. Senang rasanya menerima bantuan yang bermanfaat ini. Selama ini belum ada pihak lain yang kasih bantuan sebesar ini, kata Mulyadi, warga Dusun Ngorooro. Dengan terpasangnya pipa ini, Tzu Chi berharap warga desa kelak tidak lagi bersusah payah me ngambil air di Gua Pego. Harapan kehidupan yang lebih baik itu berawal dari liputan jurnalis DAAI TV Indonesia di Desa Giriasih pada pertengahan tahun 2009. Dari liputan inilah, Pardiyana selaku Lurah Giriasih kemudian mengenal Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia se bagai sebuah yayasan kemanusiaan. Dia pun mem beranikan diri melayangkan surat permohonan bantuan pemasangan pipa jaringan air bersih kepada Tzu Chi di Jakarta. Dari surat itulah, Tzu Chi lantas menanggapinya dengan melakukan survei ke Desa Giriasih di akhir tahun 2009. Saat itu, relawan Tzu Chi yang melakukan survei adalah Riyadi Riyono dan Yr Handoko, dari Yogyakarta. Saat survei, mereka menilai bahwa Pardiyana memiliki kegigihan dalam mengusahakan air bersih bagi warganya. Setelah melalui mekanisme rapat, Tzu Chi ke mudian bersedia membangun jaringan bagi Dusun Klepu dan Trasih, 2 dusun yang belum terjangkau air bersih. Frananto Hidayat, relawan Tzu Chi Yogyakarta juga lantas berinisiatif memberikan bibit pohon sengon yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Apabila 15.000 bibit sengon tertanam semua, maka pada 67 tahun mendatang desa ini akan memiliki uang sebesar 15 milyar. Jadi harapan saya Desa Giriasih tidak lagi menjadi desa yang tertinggal, harapnya. Frananto juga mengajak rekanrekan dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta untuk memberikan bantuan informasi kepada para petani agar sengon yang ditanam bisa mencapai pertumbuhan yang maksimal. Harapannya semoga warga akan lebih sejahtera sehingga tujuan Tzu Chi menyejahterakan masyarakat bisa tercapai, harapnya.q Apriyanto

Dari Sebuah Liputan

B

Upaya Warga

Kata Perenungan Master Cheng Yen Kehidupan yang paling bahagia adalah kehidupan yang dapat memaafkan dan mengasihi sesama.

Pegunungan Karst

Untuk menyiasati kekurangan itu, warga lantas membuat sistem terasering di lahanlahan pertanian, membuat danau, dan bak penampung air hujan. Di tahun 1985, warga Giriasih secara swadaya melibatkan diri dalam pembuatan Danau Pampon untuk menampung air di saat musim penghujan. Danaudanau baru pun dibuat di Dukuh, Bembem dan Telaga Karang. Sayang, usaha ini tidak disertai pengetahuan konservasi lahan kritis dan teknik biopori sehingga di saat musim kemarau danaudanau itu tetap saja kering kerontang. Kalau hujan ya, kami untung, tapi kalau nggak hujan kami nggak punya apa apa, kata Sis Rersodongso, salah satu warga. Meski Sis Rersodongso memiliki beberapa petak sawah, namun karena kondisi Gunung Kidul yang tidak memiliki sungai bermata air membuatnya hanya bisa menjadi petani tadah hujan. Untuk mempertahankan kepadatan dan me nahan tanah, warga lantas menanam pohon jati, mahoni, dan sengon di tepi lahan pertanian. Ketiga jenis pohon itu dipilih karena memiliki akar yang baik dan juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dari kayu yang dihasilkannya. Karena berbagai upaya yang dilakukan tidak berhasil, maka warga pun tetap menggantungkan diri pada sumber mata air Gua Pego yang terletak di Dusun Ngorooro. Untuk menuju ke sana, warga desa harus berjalan kaki paling dekat sejauh 100 meter dengan jalan yang berbukitbukit.

www.tzuchi.or.id

2

DARI REDAKSI

Buletin Tzu Chi No. 56 | Maret 2010

Berpacu dengan Waktuaktu berlalu dengan sangat cepat. Tahun Baru Imlek 2561 yang jatuh pada tanggal 14 Februari lalu menandai berakhirnya Tahun Imlek 2560 dalam penanggalan lunar. Menyambut tahun baru Imlek, relawan Tzu Chi di seluruh dunia mengadakan acara Pemberkahan Akhir Tahun sebagai suatu momen untuk bersyukur atas apa yang sudah dilakukan, sekaligus sarana refleksi batin atas apa yang belum sempat diperbuat di tahun lalu. Melalui kegiatan ini, kita juga bersamasama saling membangkitkan niat bajik dalam diri setiap orang untuk bersumbangsih secara nyata, menjaga rasa kebersamaan, serta berdoa agar dunia terbebas dari bencana. Mengapa kita perlu membangkitkan cinta kasih banyak orang? Melihat banyaknya bencana yang terjadi di dunia akhirakhir ini, Master Cheng Yen merasa bahwa kita sudah tidak memiliki banyak waktu lagi. Dari tahun ke tahun, kondisi iklim semakin ekstrim. Empat unsur alam: air, udara, api, dan tanah sudah tak lagi selaras. Jadi, setiap insan

W

Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang berdiri pada tanggal 28 September 1994, merupakan kantor cabang dari Yayasan Buddha Tzu Chi Internasional yang berpusat di Hualien, Taiwan. Sejak didirikan oleh Master Cheng Yen pada tahun 1966, hingga saat ini Tzu Chi telah memiliki cabang di 47 negara. Tzu Chi merupakan lembaga sosial kemanusiaan yang lintas suku, agama, ras, dan negara yang mendasarkan aktivitasnya pada prinsip cinta kasih universal. Aktivitas Tzu Chi dibagi dalam 4 misi utama: 1. Misi Amal Membantu masyarakat tidak mampu maupun yang tertimpa bencana alam/ musibah. 2. Misi Kesehatan Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mengadakan pengobatan gratis, mendirikan rumah sakit, sekolah kedokteran, dan poliklinik. 3. Misi Pendidikan Membentuk manusia seutuhnya, tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, tapi juga budi pekerti dan nilai-nilai kemanusiaan. 4. Misi Budaya Kemanusiaan Menjernihkan batin manusia melalui media cetak, elektronik, dan internet dengan melandaskan budaya cinta kasih universal.

Tzu Chi perlu bekerja lebih keras lagi untuk memperpanjang barisan relawan. Dengan bertambahnya 1 insan Tzu Chi, maka orangorang yang memiliki cinta kasih tentunya akan semakin bertambah banyak. Kita berharap dengan semakin banyaknya orang yang memiliki niat yang baik, berkumpul di tempat yang baik, dan melakukan perbuatan baik, maka akan dapat menciptakan berkah yang baik pula sehingga dunia dapat terhindar dari bencana. Demikian pula yang menjadi harapan dari pimpinan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bahwa kita perlu menggalang lebih banyak lagi relawan dan donatur karena tantangan ke depan yang akan dihadapi semakin besar. Ingat, kita hidup di negeri yang rawan terhadap bencana. Berbuat kebajikan bukan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kekayaan materi dan fisik yang sempurna, tetapi berbuat kebajikan bisa dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kekayaan batin. Seperti

yang dilakukan Julius, yang sejak lahir memiliki keterbatasan fisik, namun dengan kegigihan dan semangat juangnya, dia berhasil mengubah jalan hidupnya. Jika mayoritas orang seperti dirinya hidup dengan mengandalkan belas kasihan orang lain, Julius justru bisa mengembangkan welas asihnya untuk membantu orang lain. Jadi, kembangkanlah welas