Buletin Tzu Chi Edisi 57 April 2010 (Indonesia Language)

  • View
    213

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

April Edition of Tzu Chi Bulletin

Text of Buletin Tzu Chi Edisi 57 April 2010 (Indonesia Language)

No. 57 | April 2010 Gedung ITC Lt. 6 Jl. Mangga Dua Raya Jakarta 14430 Tel. (021) 6016332 Fax. (021) 6016334 redaksi@tzuchi.or.id www.tzuchi.or.id

Peresmian Kantor Penghubung Tzu Chi Pekanbaru

Berdirinya Tonggak Cinta KasihPelan tapi pasti, relawan Tzu Chi Pekanbaru pun mulai berani menangani pasien kasus. Posisi Mei Kiau saat itu tetap sebagai orang di belakang layar. Sehari demi sehari, sebulan demi sebulan, sampai akhirnya Mei Kiau berhasil membujuk beberapa orang untuk menjadi relawan Tzu Chi, kata Lutiana. Setelah terbilang cukup solid, maka pada bulan April 2007, Tzu Chi Pekanbaru memberanikan diri untuk mengadakan baksos kesehatan besar yang pertama di Pekanbaru. Pada waktu itu Lutiana memberanikan diri menjadi koordinator pelaksanaan baksos yang didukung oleh relawan Tzu Chi Jakarta. Lie Mei Kiau dan relawan Pekanbaru lainnya juga berperan besar dalam menyukseskan pelaksanaan baksos ter sebut. Saya berani mengambil tanggung jawab itu karena saya pikir kalau tidak ada satu pun orang yang mau mengambil peran itu, maka Tzu Chi Pekanbaru tidak akan berkembang, kenang Lutiana. Terbukti, meski baru pertama kali, pelaksanaan baksos kesehatan yang bertempat di RS Lancang Kuning Pekanbaru itu terbilang sukses. Sejak itulah keberanian dan kepercayaan diri relawan Tzu Chi Pekanbaru semakin berkembang. Beberapa relawan aktif mengikuti pelatihan di Jakarta, mulai dari abu putih hingga biru putih. Bahkan, Lie Mei Kiau sendiri telah dilantik menjadi anggota komite Tzu Chi. Saya sangat berbahagia hari ini. Dari hanya beberapa orang relawan, sekarang Tzu Chi di Pekanbaru sudah memiliki kantor sendiri, kata Lie Mei Kiau dengan bahasa Indonesia yang sudah lebih lancar. Dengan jumlah relawan yang semakin bertambah dan adanya kantor sendiri, tentu akan lebih banyak orang yang datang untuk mengajukan permohonan bantuan, baik kesehatan maupun kasus-kasus lainnya. Itulah yang kami harapkan, dengan dibukanya (kantor) ini, kita secara mental dan fisik sudah bisa menerima kasus. Dengan adanya kantor ini, maka akan semakin banyak orang yang dibantu, ujar Lutiana. Semakin banyak kasus yang ditangani, maka relawan pun tentunya harus turut bertambah. Untuk itu, Lutiana pun sudah menyiapkan berbagai kegiatan untuk menjaring para relawan di Pekanbaru, antara lain melalui sosialisasi pelestarian lingkungan dan alat makan, kelas budi pekerti, berbagi kisah (sharing), dan juga sosialisasi calon relawan. Mudahmudahan dengan dukungan dari semua relawan Pekanbaru dan Tzu Chi Jakarta, Tzu Chi di Pekanbaru bisa terus berkembang, kata Lutiana bersemangat. Saat itu, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei juga mengingatkan kepada para relawan untuk tidak hanya bekerja sosial semata, namun juga harus membangun sebuah niat untuk membina diri ke arah yang lebih baik mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk. Marilah kita semua bertekad dan berikrar yang baik. Dengan adanya tempat ini, maka akan menjadi tempat yang baik untuk menanam berkah, katanya. Hadi Pranoto

Teladan | Hal 5Sebuah posko mini daur ulang sampah yang berada di depan Kantin Abi miliknya, menjadi satu bentuk keseriusan Mimy dalam bersumbangsih bagi sesama.

Lentera | Hal 10Karena rasa syukur atas kesembuhannya dan bantuan yang ia terima dari Tzu Chi, Henny Suryaningsih kini dengan tulus menyisihkan sedikit penghasilannya di sebuah celengan bambu yang diberikan oleh relawan Tzu Chi.H adi Pranoto

Pesan Master Cheng Yen | Hal 13Kita harus giat setiap saat agar dapat melenyapkan kekotoran batin, karena kekotoran batin akan menutupi kebijaksanaan kita.

TONGGAK BARU. Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei (kanan) meresmikan Kantor Penghubung Tzu Chi Pekanbaru pada hari Senin, 16 Maret 2010 di Jalan Ahmad Yani No. 4 E F, Pekanbaru, Riau. atu lagi tonggak sejarah Tzu Chi di Indonesia ditanamkan. Selasa pagi, 16 Maret 2010, Kantor Penghubung Tzu Chi Pekanbaru diresmikan penggunaannya ditandai dengan penarikan kain selubung merah penutup papan nama kantor yayasan oleh Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei. Semoga dengan adanya rumah baru ini, kita bisa mengajak lebih banyak orang lagi untuk menjadi Bodhisatwa dunia, yaitu Bodhisatwa yang dapat membantu orang lain. Setelah sebelumnya sempat berkantor di rumah salah satu relawan Tzu Chi Pekanbaru, kantor yayasan kemudian berpindah ke Mal Pekanbaru. Dua tahun kemudian, kini lebih dari 100 relawan Tzu Chi di Pekanbaru memiliki rumah baru di Jalan Ahmad Yani No. 4 E F, Pekanbaru. Menempati dua buah bangunan ruko di kawasan yang cukup strategis, kantor ini terbilang cukup lengkap sarana prasananya, mulai dari ruang kebaktian, kantor, tempat meeting hingga sampai Jing Si Books and Caf. Tzu Chi Pekanbaru sendiri berada di naungan He Qi Utara. Kita harus dapat mensyukuri semua berkah yang kita miliki. Kita harus dapat memanfaatkan kehidupan untuk melakukan halhal yang bermanfaat, kata Like Hermansyah, Ketua He Qi Utara dalam sambutannya. Menurut Like, dengan memanfaatkan waktu untuk berbuat kebajikan dan membantu sesama secara optimal,

Tantangan dan Harapan

S

maka itu akan membuat kehidupan kita menjadi lebih bermakna. Apa yang kita lakukan kemarin akan menjadi kenangan, apa yang kita perbuat hari ini akan menjadi sejarah untuk hari esok, kata Like menyemangati relawan Tzu Chi Pekanbaru. Keberadaan Kantor Penghubung Pekanbaru sendiri tidak bisa dilepaskan dari kiprah Lie Mei Kiau, relawan Tzu Chi yang sejak tahun 2003 sudah mulai merintis Tzu Chi di Pekanbaru. Seperti disampaikan oleh Lutiana (Luk Ti Se), Ketua Kantor Penghubung Tzu Chi Pekanbaru, Secara pribadi saya berterima kasih kepada Mei Kiau Shijie, karena tanpa beliau, tidak akan ada Tzu Chi di Pekanbaru. Lutiana juga menceritakan pengalamannya 6-7 tahun silam kala dia didekati oleh Mei Kiau untuk menjadi donatur Tzu Chi. Mei Kiau sendiri bertemu dengan Lutiana dari suaminya yang membuka usaha reparasi AC (Air Conditioner). Saat itu kebetulan suami Mei Kiau tengah mengerjakan order di perusahaan Lutiana bekerja. Saya ceritakan tentang Tzu Chi dan ajak beliau (Lutiana) untuk menjadi donatur Tzu Chi, walaupun saat itu bahasa Indonesia saya masih sangat kurang, kata Mei Kiau mengenang. Dimulai dari menjadi donatur Tzu Chi, akhirnya pelan-pelan Lutiana dan beberapa relawan lainnya mulai melakukan aktivitas sosial, yakni kunjungan kasih ke panti jompo.

Berawal dari Satu Orang Relawan

Kata Perenungan Master Cheng Yen Welas asih adalah kesediaan untuk bersumbangsih tanpa memikirkan kesulitan dan jerih payah yang harus dihadapi.

www.tzuchi.or.id

2

DARI REDAKSI

Buletin Tzu Chi No. 57 | April 2010

Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang berdiri pada tanggal 28 September 1994, merupakan kantor cabang dari Yayasan Buddha Tzu Chi Internasional yang berpusat di Hualien, Taiwan. Sejak didirikan oleh Master Cheng Yen pada tahun 1966, hingga saat ini Tzu Chi telah memiliki cabang di 47 negara. Tzu Chi merupakan lembaga sosial kemanusiaan yang lintas suku, agama, ras, dan negara yang mendasarkan aktivitasnya pada prinsip cinta kasih universal. Aktivitas Tzu Chi dibagi dalam 4 misi utama: 1. Misi Amal Membantu masyarakat tidak mampu maupun yang tertimpa bencana alam/ musibah. 2. Misi Kesehatan Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan mengadakan pengobatan gratis, mendirikan rumah sakit, sekolah kedokteran, dan poliklinik. 3. Misi Pendidikan Membentuk manusia seutuhnya, tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, tapi juga budi pekerti dan nilai-nilai kemanusiaan. 4. Misi Budaya Kemanusiaan Menjernihkan batin manusia melalui media cetak, elektronik, dan internet dengan melandaskan budaya cinta kasih universal.

anusia adalah bagian dari kehidupan di planet bumi ini. Dalam tayangan belum lama ini di Da Ai TV Taiwan tentang pelestari an lingkungan, seorang relawan yang sudah lansia tampak berkata, Daripada saya tinggal di panti jompo, lebih baik saya datang ke posko daur ulang. Di sini ada banyak yang bisa saya lakukan. Di balik katakatanya yang tulus-jujur ini, terselip banyak hal. Panti jompo dalam benak rata-rata lansia, bukanlah tempat yang diinginkan. Namun terkadang keberadaan panti ini menjadi solusi terbaik bagi permasalahan keluarga yang mempunyai lansia di rumah. Maka menurut kutipan perkataan relawan ini, keberadaan posko daur ulang di luar dugaan ternyata memberikan pilihan lain baginya yang jauh lebih bermakna. Dalam usia yang dinilai masyarakat tidak produktif lagi, ia masih bisa memberikan sumbangsih bagi banyak orang dan lingkungan.

Hati Tenang, Bumi Tenteram MDi Taiwan, ada sekitar 200 ribu relawan daur ulang Tzu Chi. Cukup banyak di antara mereka adalah para lansia. Dan cukup banyak pula kisah yang terjadi di sini. Ada kisah tentang relawan yang tadinya bertubuh bungkuk, tapi setelah aktif membantu memilah sampah di posko daur ulang, entah kenapa, perlahan punggungnya dapat tegak kembali. Relawan yang lain pernah hidup di jalan yang keliru, suka minum-minuman keras dan bertengkar dengan istrinya. Karena jalinan jodoh, relawan itu bergabung dalam gerakan pelestarian lingkungan dan hidup harmonis dalam keluarganya. Kisah-kisah ini seperti dongeng anak yang manis. Bedanya, mereka adalah tokoh-tokoh yang hidup di dekat kita. Contoh yang terdekat dari semangat mencintai bumi, dapat juga kita pelajari dari Nuriati, seorang relawan di Jakarta. Berboncengan motor dengan Ngu Suei, ia mendatangi rumah-rumah di daerah Jelambar, Jakarta Barat untuk mengambil sampah daur ulang mereka. Meski pekerjaan ini kadang di-cap sama dengan pemulung, tapi ia tidak berkeberatan, begitu pun suami dan anaknya. Ketenangan hati, sering disebut Master Cheng Yen sebagai dasar dari jalan menuju kebijaksanaan. Hati harus tenang dan teguh. Dengan demikian, kita takkan membawa kekacauan bagi masyarakat, demikian pesan beliau. Kesemrawutan dunia saat ini sebagian besar disebabkan karena hati manusia tidak dapat ditenangkan. Efek l