DEPAN SEHAT Layout - PapuaWeb: Informasi Papua, Indonesia ...· SEKRETARIAT KEADILAN DAN PERDAMAIAN

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of DEPAN SEHAT Layout - PapuaWeb: Informasi Papua, Indonesia ...· SEKRETARIAT KEADILAN DAN PERDAMAIAN

DIALOGJAKARTA-PAPUA

Sebuah Perspektif Papua

OFFICE FOR JUSTICEAND PEACE

CATHOLIC DIOCESE OF JAYAPURA

SEKRETARIAT KEADILANDAN PERDAMAIANKEUSKUPAN JAYAPURA

2009

DIALOGJAKARTA-PAPUA

Sebuah Perspektif Papua

Neles Tebay

iv

DIALOG JAKARTA PAPUASebuah Perspektif Papua

DIALOG JAKARTA-PAPUASebuah Perspektif Papua

Penulis:Neles Tebay

Editor:Hanif Suranto

layout & desain cover:Muid Mularnoidin

Korektor:Dedi Sukendar

Cetakan Pertama 2009Hak Cipta SKP JAYAPURA

Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)Tebay, Neles

DIALOG JAKARTA-PAPUASebuah Perspektif Papua

Cetakan Pertama, Jakarta: SKP JAYAPURA , 2009ix + 52 halaman; 14 x 21 cmISBN 979-9381-08-8

SKP JAYAPURA:Jl. Kesehatan No. 4 Dok II JayapuraPhone / Fax.:(62) (967)-534993Website: www.hampapua.orgEmail: admin@hampapua.org

v

Daftar Isi

Kata Pengantar .........................................................................................................

1. Pentingnya Dialog Konflik Papua ............................................................11.1. Jalan kekerasan tidak berhasil menyelesaikan konflik Papua.........11.2. Implementasi UU Otsus gagal menyejahterakan orang Papua ...31.3. Pemerintah tidak konsisten menerapkan UU Otsus Papua .........41.4. Orang Papua semakin tidak mempercayai pemerintah ................71.5. Dukungan Internasional terhadap Pemerintah Menurun ..............9

2. Adanya Kemauan Berdialog .......................................................................122. 1. Komitmen dari Jakarta .........................................................................122. 2. Komitmen dari Papua ............................................................................14

3. Tidak Membahas Kemerdekaan Papua dalam Dialog .................18

4. Pemerintah mesti Meyakinkan Orang Papua ...................................21

5. Dibutuhkan Kerangka Acuan Dialog ..................................................23

6. Prinsip-prinsip Dasar .....................................................................................24

7. Tujuan Dialog: Menciptakan Papua, Tanah Damai ......................26

8. Partisipasi aktif Masyarakat Papua .......................................................288.1 . Kelompok Orang Asli Papua ........................................................288.2 . Kelompok Warga Papua .....................................................................29

9. Target-target Dialog .....................................................................................31

10. Tahapan Dialog ................................................................................................3310.1. Dialog internal orang Papua ................................................................3310.2. Dialog warga Papua ..............................................................................3410.3. Dialog wakil-wakil orang Papua di dalam dan luar negeri ........3610.4. Dialog wakil-wakil Pemerintah Indonesia dan orang Papua .....37

11. Peserta Dialog ...................................................................................................39

12. Fasilitator .............................................................................................................41

13. Peranan Lembaga-lembaga Ilmu Pengetahuan .................................43

14. Peranan Pihak Ketiga .....................................................................................45

15. Monitoring Tindak Lanjut ..........................................................................47

Kata Penutup ...........................................................................................................49

Kata Pengantar

Konflik Papua melibatkan dua pihak yang bertikai yakniPemerintah Indonesia (selanjutnya baca: pemerintah) danorang Papua. Konflik ini dimulai sejak Indonesia menguasaiPapua tanggal 1 Mei 1963 dan hingga kini belum dituntaskansecara komprehensif dan menyeluruh.1 Untuk menyelesaikankonflik Papua, sumber-sumber konfliknya perlu diidentifikasi terlebih dahulu.Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sudah mengidentifikasi sumber-sumber dari konflik Papua.2 Karena itu tulisan ini akan memfokuskanperhatiannya pada aspek dialog sebagai media penyelesaian konflik Papua.

Banyak pihak sudah mengumandangkan pentingnya dialog antarapemerintah dan orang Papua atau dialog Jakarta Papua untuk menyelesaikankonflik Papua secara damai. Dalam sejumlah kesempatan, kedua belah pihakyang bertikai pun telah menyatakan kepada publik tentang penyelesaian konflikPapua melalui dialog. Namun, hingga kini belum ada suatu konsep tertulistentang dialog Jakarta Papua yang dikehendaki oleh pemerintah dan orangPapua. Tulisan sederhana ini berfungsi untuk mengisi kekosongan bahan tertulistentang dialog konflik Papua. Konsep dialog Jakarta Papua yang ditawarkandalam tulisan ini hanyalah sebuah perspektif dari Papua.

1 Mengenai pandangan pribadi saya tentang konflik Papua, lihat Neles Tebay,West Papua: The Struggle for Peace with Justice, Catholic Institute for International Relations/CIIR,London, 2005.

2 Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) mengidentifikasi empat sumber konflik Papua yakni (1)marjinalisasi dan diskriminasi terhadap orang asli Papua, (2) kegagalan Pembangunan terutama dibidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi rakyat, (3) Kekerasan negara di masalalu, dan (4) kontradiksi sejarah dan konstruksi identitas politik antara Papua dan Jakarta. Lihat TimLIPI, Papua Road Map, LIPI, Jakarta,2008.

viii

DIALOG JAKARTA PAPUASebuah Perspektif Papua

Dari awalnya ingin saya tekankan bahwa sekalipun penulisnya orang Papua,tulisan ini tidak boleh dianggap sebagai pandangan dari semua orang Papua.Saya membuat tulisan ini atas nama pribadi, bukan mewakili sekelompokatau semua orang Papua. Sebab itu, saya ingin menegaskan bahwa tulisan inihanya memuat pandangan pribadi si penulis, bukan pendapat semua orangPapua. Orang Papua yang lain mungkin mempunyai konsep dialog yangberbeda dari konsep yang saya tawarkan dalam tulisan ini. Kalau ternyataada orang Papua yang mempunyai pandangan yang sama tentang isi daritulisan ini, maka hal ini terjadi secara kebetulan saja. Orang boleh saja menerimaatau menolak konsep dialog ini.

Tulisan ini mencakup lima belas (15) pokok. Dalam buku ini penulis akan(1) menggambarkan pentingnya dialog Jakarta Papua guna menyelesaikankonflik Papua secara damai, (2) memperlihatkan adanya kemauan untukberdialog dari kedua belah pihak yang bertikai, (3) mengangkat pentingnyapernyataan publik orang Papua bahwa isu kemerdekaan Papua tidak akandibahas dalam dialog, (4) menekankan pentingnya Pemerintah Indonesiamemperlihatkan keseriusannya untuk berdialog dengan orang Papua, (5)mengangkat pentingnya kerangka acuan dialog, (6) memaparkan prinsip-prinsip dasar, (7) menguraikan tujuan dialog, (8) menekankan pentingnyapartisipasi masyarakat Papua, (9) menawarkan target-target yang dapat dicapaimelalui dialog Jakarta Papua, (10) menggambarkan tahapan dialog, (11)mengidentifikasi peserta dialog, (12) mengidentifikasi fasilitator danperanannya, (13) menyinggung pentingnya keterlibatan lembaga-lembagailmiah, (14) menerangkan peranan pihak ketiga, dan (15) menekankanpentingnya monitoring tindak-lanjut.

Semua pokok yang dibahas dalam tulisan ini tidak merupakan gagasanyang baru, karena saya sudah mengungkapnya, sekalipun terpotong-potong,dalam sejumlah artikel yang diterbitkan oleh Surat kabar Harian The JakartaPost, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, dan majalah Sampari. Dengan demikian,tulisan ini merupakan suatu rangkuman pemikiran saya tentang dialog antarapemerintah dan orang Papua dalam rangka menyelesaikan konflik Papuasecara damai.

Dengan menyampaikan pendapat pribadi ini, saya tidak bermaksud untukmendikte pihak manapun, baik pihak pemerintah maupun pihak orang Papua.

ix

Saya hanya mengharapkan agar tulisan ini, mudah-mudahan, dapat dijadikansebagai bahan untuk memulai dan membuka diskusi lebih lanjut baik di dalammaupun di luar Tanah Papua demi menyelesaikan konflik Papua melalui suatudialog Jakarta Papua.

Abepura, Januari 2009

Neles Tebay

1Pentingnya Dialog

Konflik Papua

Dialog antara Pemerintah Indonesia dan orang Papua ataudialog Jakarta Papua dapat dilaksanakan, apabila ada alasanyang meyakinkan berbagai pihak. Berikut ini saya angkatbeberapa faktor yang memperlihatkan pentingnya suatudialog Jakarta Papua untuk menyelesaikan konflik Papuasecara damai.

1.1. Jalan kekerasan tidak berhasil menyelesaikan konflikPapua

Kenyataan sejarah di Papua memperlihatkan secara jelas bahwa hinggakini masalah Papua belum dituntaskan secara komprehensif dan menyeluruh,kendati telah diupayakan penyelesaiannya melalui berbagai cara, termasukdengan menerapkan cara kekerasan oleh kedua belah pihak yang terlibatdalam konflik. Konflik yang melibatkan dua pihak yang berlawanan, yakniPemerintah Indonesia dan orang Papua ini sudah dimulai sejak Indonesiamenguasai Tanah Papua, 1 Mei 1963.

Dalam rangka menyelesaikan konflik Papua, pemerintah telah melakukansejumlah operasi militer secara besar-besaran di Tanah Papua, seperti OperasiSadar (1965-1967), Operasi Brathayudha (1967-1969), Operasi Wibawa(1969), Operasi militer di Kabupaten Jayawijaya (1977), Operasi Sapu BersihI dan II (1981), Operasi Galang I dan II (1982), Operasi Tumpas (1983-

2

DIALOG JAKARTA PAPUASebuah Perspektif Papua

1984), dan Operasi Sapu Bersih (1985).3 Jalan kekerasan yang ditempuhpemerintah dalam menyelesaikan konflik Papua juga dinyatakan melalui operasimiliter yang dila