Click here to load reader

DESKRIPSI PENYESUAIAN DIRI PENGHUNI ASRAMA

  • View
    1

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of DESKRIPSI PENYESUAIAN DIRI PENGHUNI ASRAMA

Microsoft Word - SKRIPSI ANA.docSkripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
Disusun oleh :
Seorang ksatria cahaya tahu bahwa dia memiliki banyak hal yang
patut disyukuri.
kemampuan terbaiknya.
sang ksatria kadang – kadang mampu merengkuh segala hal di luar
kemampuan tindakannya.
bersimpuh dan menghaturkan rasa syukur atas zirah pelindung yang
melingkupinya.
semata; dia tidak pernah melupakan sahabat – sahabatnya, selama
darah mereka bercampur bersama dalam dirinya di medan
pertempuran.
diberikan oleh orang lain padanya; dialah orang pertama yang ingat
dan ia tentu membagi – bagikan ganjaran yang diterima pada
mereka………..
Untuk yang terkasih
Bapa di surga
Kedua adikku Christina Dwi Susanti – Agustine Tri Putri
Diriku sendiri
Anastasia Ika Septiana 999114013
Universitas Sanata Dharma Jogjakarta
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana penyesuaian diri di asrama. Asrama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Asrama Mahasiswa Syantikara. Latar belakangnya yaitu karena penghuni Asrama Syantikara semuanya mahasiswi yang berbeda asal, latar belakang, agama, dan perguruan tinggi. Hal inilah yang menarik peneliti untuk mengetahui bagaimana para mahasiswi tersebut menyesuaikan diri dengan kehidupan dan peraturan yang ada.
Subyek penelitian kali ini adalah seluruh penghuni Asrama Syantikara yang berjumlah 102 orang. Alat ukur yang digunakan yakni skala yang dibuat sendiri oleh peneliti. Uji realibilitas menggunakan SPSS 13.0 dengan koefisien Alpha Cornbach sebesar 0,937. Item yang gugur sebanyak 37 dari keseluruhan 88 item, sehingga item yang layak pakai sebanyak 51 butir.
Hasil analisis data mengungkapkan bahwa secara umum tingkat penyesuaian diri pada penghuni Asrama Syantikara tinggi, dengan perincian 100 orang subyek termasuk kategori tinggi dan 2 orang lainnya termasuk kategori sedang.
vi
ABSTRACT
Anastasia Ika Septiana 999114013
Sanata Dharma University Jogjakarta
This research aimed to describe how the self adjustment at dormitory. The dormitory which was used as a subject was Syantikara, which all the occupants are girls. The reason was that the occupants of Syantikara have different social background and religion, and also they study in different colleges. That was why the writer was interested to understand how the occupants adapt to the existence of the dormitory.
The subjects were all the occupants of Syantikara, which consists of 102 students. Realibility test used SPSS 13.0 which coefficient of Alpha Cornbach was 0,937. The number of failed items were 37 of 88 items, so that the number of valid items were 51 items.
The result stated that generally the self adjustment was high, which the detail was that 100 students in high level and the rest in the middle level.
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur Bapa di surga atas berkat-Mu yang melimpah, untuk selalu
ada dan selalu memberikan apa yang ku butuhkan. Akhirnya saya dapat
melesaikan skripsi dengan judul “Deskripsi Penyesuaian Diri Penghuni Asrama”.
Banyak pihak yang terlibat dalam penulisan skripsi ini baik disadari atau
tidak, yang mungkin tidak bisa saya sebutkan semuanya….. Terima kasih untuk
Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma yang sudah memberikan izin penelitian, Ibu Sylvia
C.M.Y.M.,S.Psi.,M.Si., selaku Kaprodi dan dosen pembimbing (Ibu, makasih
untuk semuanya.. ketelitian, masukan dan saran, serta sharring-nya yang
menguatkan saya.…), Ibu A. Tanti Arini, S.Psi., M.Si., selaku dosen
pembimbing akademik (makasih ya Bu atas pengertian dan. dorongannya.), dan
seluruh dosen dan karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma,
mbak Naniek, mas Gandung, pak Gi, mas Muji, dan mas Doni (hehehe…
maaf ya mas atas segala kehebohan yang ditimbulkan dan makasih atas
bantuannya).
Terima kasih juga untuk Suster Benedicte CB dan segenap penghuni
Asrama Mahasiswi Syantikara yang telah bersedia memberikan izin dan
bantuan penelitian kepada saya. Kebersamaan Anda semua sungguh
mengagumkan…. Mungkin sekarang Anda belum merasakannya, tapi saya
sebagai “orang luar” telah menyaksikan sendiri kebaikan dari “masyarakat kecil”
kalian.. Khusus untuk warga Kopel XI ( Mika – makasih komputernya ya.. Jalan
– jalan lagi yux…. , Selly – buat ide cemerlangnya, hehe…. , Ani, Yaya,
Shanti, Wulan) makasih ya buat penerimaan kalian, baik sukarela ataupun
terpaksa menjadi great escape- ku di saat – saat tertentu…
Bagi kedua orang tua-ku P.Slamet Santosa (Be, makasih atas penerimaan,
kesabaran dan kebebasan yang tiada berbatas…), Yustina Suripti (makasih ya Mi
untuk doa dan dorongan yang ga pernah putus). Tuhan memang maha baik dan
maha tahu, sungguh beruntung aku menjadi anak kalian…. Untuk adik – adikku
viii
yang sangat pengertian dan sangat sabar menghadapi kakaknya ini, D Wik
(akhirnya aku bisa nyusul kamu!!) dan D Put (ayo nyusul aku ya!!!). Makasih ya
untuk semua doa dan harapan yang ga pernah hilang dari kalian terhadapku, juga
atas segala bantuan dan kekuatan yang aku dapat dari kalian.. Makasih juga untuk
keluarga Om Diyo & Bulik Tien (mb Rita, mas Yudi, si centil Kanaya – mb
Tuti, mas Jefri, si unyil Kimora – Dion, Nova, si Nduti Marvell), Om Is &
Bulik Mamiek (adik-adikku Reni, Tata, Villa), Om Tatheng & Tt. Andar
(Garry & Titan), (tante) Nining, kel. Bulik Susilah (rumah pertamaku di
Jogja)& keluarga besar Eyang Sarosa untuk semua pertanyaan dan dukungan
yang sudah diberikan. Untuk alm. Eyang2 & mbah2 – ku, maaf…. Baru sekarang
bisa kuwujudkan.
Tidak lupa untuk Rini sahabatku (15 tahun yang panjang!) & kel. Om
Wahyuno yang menjadi tempat pelarianku selama 5 minggu (makasih untuk
semuanya dan maaf sudah merepotkan..). Teman – teman masa kecil yang ga
pernah berhenti kasih semangat : Bayu, Lydia, Terrik, Helen, Roy & Jusak.
Teman – temanku SMU: Lala (makasih u/ Nanda),Kunti, Josephine, Tina,
Ayoe, & Bintara yang selalu tanya kapan lulusnya…
Rani (tanpa kamu aku ga mungkin bisa jadi begini. Makasih untuk setiap
detik kebersamaan kita..banyak banget hal2 yang kudapat dari kamu) & kel.
Zaluchu (Tante, mb Fatti-mas Han, Dita, Willy) yang selalu menerimaku
dengan tangan terbuka. Makasih juga untuk Ninuk (kamu membuktikan bahwa
sahabat sejati itu masih ada!), Dhayana (hehe.. aku berubah ya..), Lisa, Andy,
Yuli, Robert, akhirnya aku nyusul kalian !!!
Kel besar TPA-TK Grha Asih Anak yang menjadi keluargaku; Ibu
Yustina (makasih atas pengertian dan doanya), Ibu Ninik, Ibu Sriyanto, Ibu
Tri, Ibu Purwanti, Mb. Dina (u/ sms & kabar2 up to date-nya), Mb. Erni, Mb.
Maria (u/ dukungannya), & Mb. Karni. Sungguh beruntung bisa ikut berproses
bersama kalian. Juga untuk malaikat – malaikat kecil yang mengajariku untuk
lebih sabar & menjadi dewasa; Amara, Juan, Ian-Ano, Abed, Aldo, Esa, Argya,
Amanda, Evelyn, Matthew, Anind (makasih u/ Ibu Ch.Sri Windyaningsih &
mb Erna di sekrt PR II), Riri, Dita, Josean, Jati, Fanny, dll.
ix
Fausta, mb. Min – mas Nanto, Anggi, Febri, Ricky, Ian – Nike, Budi,
Doni, mas Saptono-mb Anik-Aletha, Cinuk, Robet, & teman2 lain, makasih
atas kebersamaan di PIA Kota Baru. Maafkan aku yang galak ini . Juga teman-
teman lain; Andi, Elang, Pt, Hayu, Yofi, Seva, Dina, dan barisan “pria berjubah”
yang ga pernah putus “meledek” supaya aku bersemangat ; Br. Bambang (duluan
siapa ni?), Rm. Andalas (best teacher), Rm. Gandhi, Rm. AriNdut, & Rm.
Setyawan (si Om), jangan pernah melepaskan Imamat kalian ya.. Hwa……….
Aku kangen dengan masa-masa dulu………
Untuk teman – teman kost; Rintul (makasih buat komputernya…), mb.
Vit (makasih u/ kerokannya ), Ucique, Ida (kamu baik banget ya…mau bikinin
power point & menguatkanku di saat aku rapuh), Anggun, Rena, my roommate
Anast, & Ibu Lilik (makasih ya Bu u/ menjadi Ibu, sahabat, teman diskusi, &
curhat yang sip!!!).
Krisna, makasih buat abstract-nya ya. Lulus tes pertama wis……
Keluarga Panjaitan (Daddy Erwin, Mami Jean, Cherry, Chacha, Clara,
& Craig. Makasih atas doa dan keceriaan yang selalu ada. Makasih udah nerima
aku di tengah keluarga kalian yang menyenangkan.
The last but not least, teman – teman seperjuangan; Dian & Tessa
(duh…sungguh beruntung aku bisa kenal kalian di saat – saat terakhirku. Makasih
ya…), Denny, Vincent, Lina, Della, Tony, Puti, Trini, Adi, Melly, Asih, dll,
makasih atas kebersamaan kita. Pfiuuhhh……………Akhirnya bisa juga
ya………… Kapan ni rame – rame bisa liburan di Jogja?
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu saya terbuka untuk menerima kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.
Semoga dapat dipergunakan sebagai mana mestinya.
Penulis
x
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. v
2. Proses Penyesuaian Diri................................................................ 9
5. Penyesuaian Diri dan Aspek - Aspeknya ..................................... 14
B. Mahasiswa.........................................................................................
C. Kehidupan dan Peraturan Asrama Syantikara................................... 21
D. Dinamika Psikologis ......................................................................... 27
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
1. Validitas ........................................................................................ 36
A. Orientasi Kancah
d. Grafik Penyesuaian Diri............................................................. 50
e.2.Aspek Belajar Dari Pengalaman............................................... 52
A. Kesimpulan ........................................................................................ 61
Tabel 3 Distribusi Item Setelah Digugurkan....................................... 36
Tabel 4 Distribusi Item Yang Baru .................................................... 36
Tabel 5 Norma Kategori Jenjang ........................................................
Tabel 6 Deskripsi Data Penelitian....................................................... 44
Tabel 8 Kategorisasi............................................................................ 48
Tabel 10 Kategorisasi Aspek 1 ............................................................. 49
Tabel 11 Kategorisasi Aspek 2 ............................................................. 50
Tabel 12 Kategorisasi Aspek 3……………………………………… 51
Tabel 13 Kategorisasi Aspek 4…………………………………….... 52
Tabel 14 Kategorisasi Persentase Per Aspek……………………….. 52
xiv
xv
Lampiran B Data Penelitian................................................................ 67
Lampiran F Surat Keterangan Penelitian………………………...… 71
xvi
A. Latar Belakang Masalah
Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Itulah salah satu filosofi
orang Minang (Minangkabau, Sumatra Barat). Mereka percaya bahwa sukses
diraih bila mereka menjunjung tinggi adab, kebiasaan, kebudayaan masyarakat di
mana mereka tinggal. Suku Minang adalah contoh orang yang paling sukses
ketika hidup merantau. Jarang ada cerita konflik etnis Minang dengan etnis lain di
perantauan. Kita pun akan sukses bergaul dengan orang – orang baru, bila kita
menjunjung tinggi adat, kebiasaan, dan kebudayaannya (Nashori, 2007).
Dalam hidup ini, kita tidak lepas dari keharusan untuk bergaul dengan
orang – orang baru. Saat kita meninggalkan daerah asal, mau tak mau kita harus
berkenalan dan hidup berada di antara orang – orang baru, bahkan mereka
menjadi mitra kita.
Perpindahan ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa yang akan
bekerja, tetapi juga para pelajar dan mahasiswa. Demi meraih cita – citanya
mereka rela menuntut ilmu sampai ke tempat yang belum pernah mereka datangi
sekalipun. Untuk itu mereka harus mandiri, meninggalkan keluarga dan
lingkungan yang mereka cintai. Tentunya akan banyak perubahan dalam
kehidupan yang mereka alami. Dari yang terbiasa dengan hidup nyaman bersama
orang tua, tiba – tiba kini mereka harus hidup mandiri, mengurusi segala
sesuatunya sendiri, mulai dari kebutuhan primer seperti makan, tidur, pakaian,
1
serta bersosialisasi, dan terutama masalah studi; kapan saat belajar, bagaimana
cara belajar yang tepat, dan lain – lain. Kemudian mereka akan tinggal di
lingkungan yang baru. Ada yang tinggal di tempat saudara, kost – kost –an, dan
beberapa tinggal di asrama.
Banyak hal yang membedakan kost, apartemen, dan asrama. Bagi mereka
yang tinggal di kost atau apartemen segala sesuatunya lebih bebas jika
dibandingkan dengan mereka yang tinggal di asrama (walaupun bukan berarti kost
atau apartemen tidak mempunyai aturan sama sekali). Di kost, bapak / ibu kost
biasanya tidak terlalu bertanggung jawab terhadap kehidupan anak kostnya.
Aturan – aturan bersama yang ditetapkan tidak terlalu mengikat para penghuni
kost, ssehingga rumah kost lebih berfungsi sebagai tempat pengembangan privasi.
Demikian juga halnya dengan apartemen. Bangunan apartemen dirancang untuk
memungkinkan setiap orang yang tinggal di dalamnya lebih bebas untuk
mengembangkan individualitasnya. Tidak adanya pengawasan dari pengelola
dalam hidup sehari – hari membuat setiap penghuni bebas melakukan apapun
yang diinginkan. Bahkan terkadang mereka tidak saling mengenal, apalagi untuk
melakukan kegiatan bersama.
Di asrama semua warga asrama terikat oleh peraturan ketat. Peraturan ini
antara lain memuat hal – hal tentang jam tertentu yang telah diatur, izin yang
diberikan, kebiasaan dan larangan – larangan yang berlaku keras bagi seluruh
warga asrama tanpa terkecuali. Selain itu ada pula pengawasan ketat dari ibu atau
bapak asrama yang amat berperan dalam kehidupan berasrama. Kemudian yang
tidak ketinggalan adalah tanggung jawab untuk mengurus rumah bersama,
2
kepekaan sosial yang terus dilatih dengan hidup berasrama dan berinteraksi
dengan orang lain dalam satu atap. Inilah yang membuat penghuni asrama hidup
tidak sebebas mereka yang tinggal di kost atau apartemen. Hal – hal tersebut
membuat peran asrama kurang populer di mata mahasiswa.
Asrama jika dilihat dari fungsinya memang pada dasarnya sama dengan
kost, yaitu sebagai tempat tinggal para mahasiswa yang merantau ke tempat yang
jauh dari rumah untuk mencari ilmu dalam dunia universitas. Namun yang
membedakannya dengan kost adalah harapan dan peran asrama yang ditujukan
untuk perkembangan anggota asrama. Bukan hanya berkembangnya kedewasaan
intelektual para anggota tetapi juga mengejar target kedewasaan pribadi.
Kehidupan sebuah asrama tidak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan,
dalam hal ini kampus, tempat di mana mereka (para mahasiswa) menggali
kemampuan intelektualnya. Berdirinya sebuah asrama diharapkan mampu
menumbuhkan kedewasaan pribadi dan perkembangan intelektual mahasiswa
secara bersama – sama dan tidak berjalan sendiri – sendiri.
Mahasiswa, akan menjadi pendukung dan aktor dalam pembangunan jika
mereka mempunyai kemampuan yang potensial. Kemampuan potensial tidak
hanya tercermin dalam prestasi akademik seorang mahasiswa saja namun dapat
dilihat dari kedewasaan pribadi mereka. Kedewasaan pribadi muncul dan tumbuh
dari kehidupan yang berkualitas. Mahasiswa yang hidup dalam sebuah pola yang
berkualitas memiliki nilai – nilai kemanusiaan, nilai kepekaan dan tanggung
jawab besar yang bukan hanya dikembangkan untuk dirinya sendiri namun
3
lingkungannya, dan orang lain.
Asrama sebagai lokasi penelitian kali ini adalah Asrama Syantikara.
Asrama Syantikara sebagai salah satu asrama bagi mahasiswa putri di Yogyakarta
merupakan gambaran kecil masyarakat Indonesia. Asrama ini memuat
keanekaragaman di dalamnya, baik itu suku, ras, agama, maupun golongan. Sejak
awal berdirinya, Syantikara memiliki sebuah motto yang sampai saat ini masih
teguh dijadikan pedoman dalam setiap perjalanan kehidupannya, baik warga
sendiri maupun asrama pada umumnya. Motto tersebut yang dalam bahasa Latin
adalah “Caritas et Sapientia” mengandung arti “Cinta dan Kebijaksanaan”.
Asrama Syantikara dalam kehidupannya selalu mengajarkan makna – makna
kesederhanaan pada setiap warganya.
Agar mampu hidup dengan beragam peraturan dan kesederhanaan yang
ada dalam lingkup asrama serta demi mencapai kedewasaan pribadi, maka para
penghuni dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya
yang jelas sangat berbeda bila dibandingkan dengan kehidupan di luar asrama.
Sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan lingkungannya, manusia
sepanjang hidupnya dituntut untuk menyesuaikan diri yang berarti menyelaraskan
tuntutan – tuntutan dalam dirinya dengan realitas obyektif dan tuntutan
lingkungan (Pramadi dalam Sophiani,1999). Menurut Kartono (1997)
penyesuaian diri dimaksudkan agar individu mampu mengendalikan dirinya,
menghindari konflik, mampu menghadapi dan memecahkan permasalahan dan
tidak mengalami kesulitan di dalam mengekspresikan dirinya.
4
individu yang menderita karena ketidakmampuannya dalam menyesuaikan diri.
Baik dalam kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan, dan dalam masyarakat pada
umumnya. Tak jarang pula banyak orang mengalami stress dan depresi
disebabkan oleh kegagalan dalam penyesuaian diri dengan kondisi yang penuh
tekanan (Majalah Psikologi Plus, vol.II no.1 Juli 2007).
Bagi penghuni Asrama Syantikara penyesuaian diri mutlak diperlukan
agar mampu hidup bersama dengan suasana yang penuh cinta dan kebijaksanaan,
hal mana yang sesuai dengan motto asrama. Penghuni dituntut untuk mampu
menyesuaikan diri dengan peraturan yang berlaku. Inilah yang terkadang
berbenturan dengan kehendak hati mereka. Penghuni Asrama Syantikara yang
semuanya adalah mahasiswi berusia sekitar 18-23 tahun. Usia ini masih berada
dalam tahap remaja akhir, di mana seperti yang kita ketahui usia remaja adalah
usia yang menghendaki kebebasan untuk mencoba – coba terhadap segala sesuatu.
Terlebih bagi sebagian besar penghuni ini adalah kali pertama mereka lepas dari
jangkauan kontrol orang tua. Dalam pergaulan di dunia luar mereka menyaksikan
kehidupan teman – teman mereka yang tinggal di luar asrama tidak terikat
peraturan ketat seperti mereka. Selain itu lokasi asrama yang berada di tengah
kota, tidak hanya dekat dengan kampus, tetapi juga dekat dengan pusat
perbelanjaan dan warung makan membuat hidup sederhana menjadi suatu hal
yang sulit untuk diterapkan.
5
untuk menjadikan manusia dewasa yang berpotensi merupakan hal yang menarik
untuk dibahas.
Melihat latar belakang di atas, maka muncullah suatu permasalahan yaitu
bagaimanakah penyesuaian diri penghuni Asrama Syantikara terhadap kehidupan
di dalam asrama?
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
2. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu Psikologi, khususnya
bidang Psikologi Sosial, yang dapat digunakan sebagai pedoman lebih lanjut bagi
penelitian lain tentang penyesuaian diri atau kehidupan di dalam asrama.
6
Konsep penyesuaian diri berasal dari pengertian yang didasarkan pada
ilmu biologi yang merupakan konsep dasar dalam teori evolusi Darwin (www.e-
psikologi.com). Dalam biologi, istilah yang digunakan ialah adaptasi. Menurut
teori tersebut hanya organisme yang paling berhasil menyesuaikan diri terhadap
lingkungan fisiknya sajalah yang dapat tetap hidup (Vembriarto,1993).
Senada dengan hal ini, dalam Huffman (1997), adaptasi adalah perubahan
struktural atau fungsional yang membuat individu dapat bertahan hidup.
Sesuai dengan pengertian tersebut, maka tingkah laku manusia dapat
dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan
tempat ia hidup seperti cuaca dan berbagai unsur alami lainnya. Semua makhluk
hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan
cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat
bertahan hidup. Dalam istilah psikologi, penyesuaian diri disebut dengan istilah
adjustment.
Menurut Davidoff (dalam www.e-psikologi.com), adjustment itu sendiri
merupakan proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan
tuntutan lingkungan. Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya. Kehidupan itu
7
menyesuaikan diri.
dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan
yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar
pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup
untuk membuat hubungan – hubungan yang menyenangkan antara manusia
dengan lingkungannya.
diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu :
a. penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation)
Penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal
adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam
arti fisiologis atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari
daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang
berlaku di daaerah dingin tersebut.
b. penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity)
Penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup
konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini
pun terlalu banyak membawa akibat lain. Dengan memaknai penyesuaian
diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu
seakan – akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu
8
maupun emosional.
Penyesuaian diri diartikan sebagai usaha penguasaan (mastery) yaitu
kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respon dalam
cara – cara tertentu sehingga konflik – konflik, kesulitan, dan frustrasi
tidak terjadi.
Berdasarkan tiga sudut pandang tentang penyesuaian diri yang tersebut di
atas, akhirnya penyesuaian diri atau personal adjustment dapat diartikan sebagai
suatu proses yang mencakup respon – respon mental dan behavioral yang
diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan – kebutuhan
internal, ketegangan, frustrasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas
keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar
atau lingkungan tempat individu berada.
Dalam penelitian ini penyesuaian diri atau personal adjustment diartikan
sebagai proses perubahan perilaku individu agar dapat hidup selaras dengan
tuntutan – tuntutan baik dari dalam maupun dari luar individu (lingkungan).
2. Proses Penyesuaian Diri
dua alasan utama, yaitu :
9
b. kita menyesuaikan diri karena ingin diterima secara sosial dan
menghindari celaan
Menurut Schneiders dalam Ali dan Asrori (2004) setidaknya ada tiga
unsur yang terlibat dalam proses penyesuaian diri, yaitu :
a. motivasi
penyesuaian diri. Motivasi merupakan kekuatan internal yang
menyebabkan ketegangan dan ketidakseimbangan dalam organisme.
Ketegangan dan ketidakseimbangan merupakan kondisi yang tidak
menyenangkan karena sesungguhnya kebebasan dari ketegangan dan
keseimbangan dari kekuatan – kekuatan internal lebih wajar dalam
organisme apabila dibandingkan dengan kedua kondisi tersebut. Ini sama
dengan konflik dan juga frustrasi yang tidaak menyenangkan, berlawanan,
dengan kecenderungan organisme untuk meraih keharmonisan internal,
ketenteraman jiwan dan kepuasan dari pemenuhan kebutuhan dan
motivasi. Ketegangan dan ketidakseimbangan memberikan pengaruh
kepada kekacauan perasaan patologis daan emosi yang berlebihan atau
kegagalan mengenal pemuasan kebutuhan secaara sehat karena mengalami
frustrasi dan konflik.
ketegangan dan untuk memelihara keseimbangan yang lebih wajar.
Kualitas respon, apakah itu sehat, efisien, merusak, atau patologis
10
dengan lingkungan.
Berbagai aspek penyesuaian diri ditentukan oleh sikap dan cara individu
bereaksi terhadap manusia di sekitarnya, benda – benda, dan hubungan –
hubungan yang membentuk realitas. Secara umum, dapat dikatakan bahwa
sikap yang sehat terhadap realitas dan kontak yang baik terhadap realitas
itu sangat diperlukan bagi proses penyesuaian diri yang sehat. Beberapa
perilaku seperti sikap antisosial, kurang berminat terhadap hiburan, sikap
bermusuhan, kenakalan, dan semaunya sendiri, semuanya itu sangat
mengganggu hubungan antara penyesuaian diri dengan realitas.
Berbagai tuntutan realitas, adanya pembatasan, aturan, dan norma – norma
menuntut individu untuk terus belajar menghadapi dan mengatur suatu
proses ke arah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal yang
dimanifestasikan dalam bentuk sikap…