Click here to load reader

Bab 1 · Web viewAnalisa terhadap Relevansi Nilai (value-relevance) Laba, Arus Kas dan Nilai Buku Ekuitas: Analisa diseputar perioda krisis keuangan 1995-1998 Oleh Sekar Mayang Sari

  • View
    216

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Bab 1 · Web viewAnalisa terhadap Relevansi Nilai (value-relevance) Laba, Arus Kas dan Nilai...

Bab 1

PAGE

Analisa terhadap Relevansi Nilai (value-relevance) Laba, Arus Kas dan Nilai Buku Ekuitas: Analisa diseputar perioda krisis keuangan 1995-1998

Oleh

Sekar Mayang Sari

Abstract

This paper examines the value relevance of accounting earnings, book value of equity and cash flows from operations during 1995-1998 period. The results indicate that the value relevance of accounting earnings significantly declines from the pre-crisis (1995-1996) to the in crisis (1997-1998) period. The interesting finding shows that the declining importance of earnings is not replaced by the increasing value relevance of book value equity during the same period. There is also evidence that cash flows from operations become more value-relevant in the crisis period.

Keywords: Financial crisis period, value relevance, Earnings, Book Value, Cash flows

1. Pendahuluan

Studi ini dimotivasi adanya krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997. Selama tahun 1997, kurs rupiah terhadap US$ jatuh hingga mencapai Rp 10.000 dari Rp 2.500 dan indeks harga saham gabungan juga jatuh hingga lebih dari 40%. Sebagai dampaknya banyak perusahaan publik mengalami kerugian. Temuan empiris di USA menunjukkan bahwa pada saat perusahaan mengalami rugi atau sedang menghadapi kesulitan keuangan maka terjadi perubahan relevansi nilai terhadap data-data informasi keuangan. Berdasarkan temuan empiris dinyatakan bahwa pada kondisi tersebut (saat mengalami rugi atau sedang mengalami kesulitan keuangan) informasi laba tidak lagi memiliki relevansi nilai. Hasil penelitian lain dengan menggunakan sampel perusahaan-perusahaan di USA juga menunjukkan pengaruh kondisi tertentu terhadap kuatnya hubungan antara harga saham dan laba serta relevansi nilai variabel-variabel akuntansi lain seperti nilai buku ekuitas dan arus kas operasi.

Hayn (1995) serta Jan dan Ou (1995) menyatakan bahwa laba negatif berpengaruh terbalik pada relevansi nilai laba akuntansi. Studi-studi terkini menunjukkan bahwa nilai buku akuntansi lebih relevan untuk menilai perusahaan-perusahaan yang rugi (Collins dkk. (1997; 1999)) atau sedang mengalami kesulitan keuangan (Barth dkk. (1998). Hasil-hasil penelitian tersebut konsisten dengan 2 penjelasan berikut:

1. Nilai buku merupakan proksi yang lebih baik untuk laba di masa akan datang jika perusahaan merugi karena laba negatif (rugi) mengandung komponen transitori (Ohlson 1999).

2. Nilai buku juga merupakan proksi yang lebih baik untuk laba di masa akan datang jika perusahaan sedang mengalami kesulitan keuangan (Berger dkk. 1996, Burgstahler dan Dichev 1997). Cheng dkk. (1996) juga memberikan bukti tambahan bahwa arus kas operasi memberikan pengaruh besar pada returns saham suatu perusahaan jika laba banyak mengandung komponen transitori.

Studi ini juga dimotivasi oleh terjadinya krisis ekonomi di Indonesia pada perte-

ngahan tahun 1997. Dampak dari krisis tersebut menyebabkan banyaknya perusahaan-perusahaan publik di Indonesia yang merugi dan mengalami kesulitan keuangan (Mayangsari, 2004) . Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya penelitian dnegan menggunakan sampel-sampel di USA menemukan bahwa laba akuntansi kurang relevan untuk menilai perusahaan jika perusahaan menghadapi kesulitan keuangan atau rugi.

Penelitian ini dilatarbelakangi juga oleh hasil penelitian Utama, Sembel dan

Utama (2001) yang menyatakan bahwa hubungan laba dan nilai ekuitas berbentuk cembung (convex). Kondisi bentuk hubungan seperti ini berimplikasi pada kondisi berikut. Jika berada dalam kondisi buruk dimana rasio E/BV (earnings to book value) rendah maka yang lebih memiliki relevansi nilai adalah nilai buku. Sebaliknya jika rasio E/BV tinggi maka yang lebih memiliki relevansi nilai adalah laba. Berbagai penelitian di luar negeri (Rosenberg dkk 1985, Capaul dkk. 1993 dan Fama dan French 1992) menemukan bahwa rasio PBV yang tinggi berhubungan negatif dengan returns saham. Dengan demikian semakin tinggi rasio PBV maka semakin rendah returns saham yang bersangkutan. Temuan ini mengindikasikan adanya kemungkinan bahwa rasio PBV merupakan suatu pengukur dari faktor risiko yang nondiversifiable (Fama dan French 1993). Selain itu khusus kondisi di Indonesia, Utama dan Santosa (1998) menunjukkan bahwa rasio PBV dapat digunakan untuk menilai saham yang overvalued maupun undervalued dengan demikian dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun strategi investasi. Hasil penelitian ini juga mendukung Graham dan King (2000) yang menunjukkan bahwa di Indonesia hanya nilai buku yang memiliki relevansi nilai.Pernyataan tersebut juga didukung oleh berbagai hasil penelitian lain (Burgstahler dan Dichev 1997, Subramanyam 1998, serta Tan 2001).

Hasil penelitian Utama dkk (2001) yang menyatakan bahwa laba juga memiliki relevansi nilai bertentangan dengan hasil penelitian Graham dan King (1998) yang justru menyatakan bahwa di Indonesia hanya nilai buku ekuitas yang memiliki relevansi nilai. Agak berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Burgstahler dan Dichev (1997) serta Utama dkk (2001) yang menekankan penggunaan laba sekarang sebagai ukuran nilai adaptasi, maka hasil penelitian Subramayam (1998) menunjukkan bahwa penilaian ekuitas dengan menggunakan laba sekarang tidak memiliki kekuatan penjelas dibandingkan menggunakan laba perioda lalu.

Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya maka penelitian ini memberikan kontribusi dalam beberapa hal. Pertama, penelitian ini langsung membedakan sampel ke dalam 2 golongan yaitu sampel yang sedang mengalami kesulitan keuangan dan sampel yang tidak mengalamai kesulitan keuangan. Pembedaan ini dipertajam dengan membedakan perioda krisis dan non-krisis. Pembedaan ini sekaligus ingin menguji kembali pernyataan Burgstahler dan Dichev (1997) maupun Utama dkk (2001) bahwa dalam perusahaan yang merugi determinan nilai ekuitas yang penting adalah nilai buku. Argumen ini terutama dengan terkait dengan penelitian Hayn (1995) bahwa muatan informasi kerugian sebagai suatu fungsi kemungkinan likuidasi. Pada kondisi itu determinan penting adalah nilai buku karena adanya opsi likuidasi yang dimiliki pemegang saham sehingga muatan informasi laba pada kondisi tersebut rendah. Kedua, studi ini menggunakan sampel

perusahaan-perusahaan publik di Indonesia di seputar perioda krisis. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan validitas eksternal penelitian sebelumnya yang sebagain besar menggunakan sampel perusahaan-perusahaan di USA.Ketiga, berbeda dengan metoda penelitian yang digunakan Utama dkk (2001), penelitian ini menggunakan model level seperti yang dikembangkan Ohlson (1995).

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan sampel perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ selama 1995-1998 terdapat 3 temuan penting:

1. Relevansi nilai laba akuntansi menurun secara signifikan selama perioda krisis (1997-1998).

2. Meskipun kekuatan penjelas laba menurun selama perioda krisis tapi kondisi ini tidak diikuti dengan peningkatan relevansi nilai dari nilai buku. Pada model yang memasukkan variabel laba, nilai buku ekuitas dan arus kas operasi ditemukan bahwa kekuatan penjelas nilai buku ekuitas menurun pada saat perioda krisis. Hasil ini bertentangan dengan hasil penelitian Burgstahler dan Dichev (1997) serta Utama dkk. (2001) yang menyatakan bahwa pada saat rugi yang memiliki relevansi nilai adalah nilai buku.

3. Arus kas operasi secara signifikan memiliki kekuatan penjelas inkremental pada perioda 1997-1998. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa arus kas operasi lebih memiliki relevansi nilai pada saat terjadi krisis ekonomi. Temuan lain menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki tingkat leverage tinggi, arus kas operasinya lebih memiliki relevansi nilai dibandingkan perusahaan-perusahaan yang tingkat leveragenya rendah selama perioda 1997-1998.

Hasil penelitian ini secara keseluruhan menyimpulkan bahwa pada saat terjadi

krisis keuangan (1997-1998), investor-investor di Indonesia sebaiknya lebih men-dasarkan pada data arus kas operasi sebagai bahan pertimbangan atas keputusan investasinya dibandingkan data laba atau nilai buku ekuitas.

Pada bagian-bagian selanjutnya paper ini berisikan: bab 2 mengenai teori dan hipotesa, bab 3 membahas metoda penelitian yang digunakan sedangkan bab 4 membahas hasil penelitian, terakhir akan dijelaskan tentang simpulan dan implikasi hasil penelitian yang ada di bab 5.

2. Tinjauan Teoretis dan Pengembangan Hipotesa

2.1. Teori Clean Surplus

Teori dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah clean surplus. Teori ini menyatakan bahwa nilai perusahaan tercermin pada data-data akuntansi yang terdapat dalam laporan keuangan (Ohlson 1995, serta Feltham dan Ohlson 1995). Berdasarkan teori clean surplus, Ohlson menunjukkan bahwa nilai pasar perusahaan dapat ditunjukkan pada laporan laba/rugi dan neraca. Teori ini memberikan rerangka yang konsisten dengan perspektif pengukuran. Kondisi ini kemudian dinyatakan bahwa data-data akuntansi tersebut memiliki relevansi nilai.

Penelitian relevansi nilai dirancang untuk menetapkan manfaat nilai-nilai akuntansi terhadap penilaian ekuitas perusahaan. Relevansi nilai merupakan pelaporan angka-angka akuntansi yang memiliki suatu prediksi berkaitan dengan nilai-nilai pasar ekuitas. Konsep relevansi nilai tidak terlepas dari kriteria relevan dari standar akuntansi keuangan karena jumlah suatu angka akuntansi akan relevan jika jumlah yang disajikan merefleksikan informasi-informasi yang relevan dengan penilaian suatu perusahaan .

Perspektif relevansi nilai yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan model Feltham-Ohlson (FO). Model ini juga merupakan model antitesis dari model Ball & Brown (1968) yang melihat perspektif relevansi nilai dengan menghubungkan dengan perilaku investor.

Alasan penggu