Ekowisata Kuliner

  • View
    518

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tulisan ekowisata kuliner.. mohon cantumkan penulis asli ketika mengutip

Text of Ekowisata Kuliner

  • Page | 1

    Panduan pengutipan: Marliyanti SA, Hastuti D, Sinaga T. 2013. Eco-Culinary Tourism in Indonesia. Di dalam: Teguh F, Avenzora R, editor. Ecotourism and Sustainable Development in Indonesia: The Potentials, Lessons and Best Practices. Jakarta

    (ID): Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Hlm. 251-301.

    ECO-CULINARY TOURISM IN INDONESIA

    Oleh : Sri Anna Marliyati, Dwi Hastuti, Tiurma Sinaga

    PENDAHULUAN

    Kuliner adalah makanan dan aspek yang terkait dengan makanan mulai dari proses pengadaan, persiapan, dan pengolahan bahan pangan menjadi makanan, dan penyajiannya untuk siap dikonsumsi. Kuliner yang ada di suatu tempat dapat menarik minat turis domestik dan manca negara untuk mengonsumsinya, sehingga terbuka lapangan kerja dan mata pencaharian di bidang kuliner, yang pada akhirnya membuat ketahanan ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat meningkat. Pada masyarakat di kota Yogyakarta, misalnya, kuliner yang populer seperti gudeg Yogya sangat menarik minat pengunjung dan menjadi salah satu pendorong untuk mengunjungi Kota Yogyakarta (Gambar 1).

    Gambar 1. Gudeg Yogya sebagai daya tarik wisata kuliner di Kota Yogyakarta (Gudeg Wijilan Yogyakarta)

    Permintaan konsumen terhadap kuliner gudeg yang cukup tinggi menyebabkan bisnis di seputar usaha kuliner gudeg pun ramai diminati. Hal ini menjadikan bisnis di seputar gudeg mulai dari penyediaan bahan baku berupa nangka muda, santan kelapa, kerecek, ayam, telur ayam, tahu, tempe, cabai dan aneka bumbu lainnya untuk gudeg menjadi berkembang. Di samping bahan baku utama, maka bisnis perdagangan peralatan penunjang seperti kendil untuk wadah gudeg, daun pisang, dus, kertas pembungkus, kayu bakar, dan sebagainya menjadi meningkat pula. Belum lagi bisnis penunjang di sekitar kedai (warung) atau restoran gudeg, mulai dari pengamen, pemain musik keroncong, penjual kerupuk, parkir motor dan mobil, dan sebagainya juga turut berkembang. Berkembangnya bisnis kuliner di berbagai wilayah di Indonesia secara langsung dan tak langsung menjadi pendorong terciptanya lapangan kerja yang

  • Page | 2

    pada akhirnya mendorong pula pertumbuhan ekonomi masyarakat dan akan berpengaruh pada ketahanan pangan masyarakat secara keseluruhan. Sektor pariwisata di Indonesia merupakan sektor yang penting dan sangat potensial untuk dikembangkan sejalan dengan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sektor pariwisata Indonesia dapat menghasilkan devisa negara dan keuntungan dari berbagai aspek yang menyebabkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. Beberapa tahun terakhir ini pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kementerian Parekraf) telah banyak melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembangunan sektor pariwisata guna menarik wisatawan mancanegara. Di tahun 2013, serangkaian mega event dihadirkan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia baik di dalam

    maupun luar negeri seperti Tour de Singkarak V di Sumatera Barat, Festival Timoresia II di Ambon Maluku, Sabang International Regatta II di Sabang Aceh, Wisata Ziarah di Surabaya Jawa Timur, dan beberapa event lainnya. Selain itu upaya-upaya lain juga terus dilakukan pemerintah, seperti dikembangkannya wisata minat khusus sejarah dan budaya, alam dan ekowisata, kuliner dan belanja, olahraga dan rekreasi, cruise ship, dan spa. Demikian pula pemerintah terus

    mengembangkan beberapa destinasi unggulan. Berkaitan dengan hal tersebut beberapa hal mendesak yang perlu ditingkatkan adalah infrastruktur, konektifitas, dan akses wisata.

    Pembangunan sektor pariwisata di Indonesia sejauh ini belum memuaskan dilihat dari aspek infrastruktur dan penunjang seperti jalur transportasi umum yang kurang layak dan kurang memadai baik dalam kuantitas maupun kualitas, promosi obyek pariwisata yang kurang terintegrasi, serta kesiapan masyarakat untuk dikunjungi oleh turis domestik maupun mancanegara. Di beberapa tempat wisata di Indonesia, misalnya di sekitar area Borobudur, masih dijumpai penjual dan pedagang yang terkesan memaksa kepada turis untuk membeli aneka jajanan makanan dan barang; walaupun tempat berdagang aneka barang dan jajanan sudah disediakan oleh pengelola taman Borobudur. Hal ini memperlihatkan ketidaksiapan masyarakat untuk mengenali perilaku yang disenangi dan tidak disenangi oleh turis.

    Pembangunan pariwisata kuliner di masa yang akan datang selayaknya beriringan dengan perbaikan infrastruktur seperti sarana dan prasarana untuk kemudahan memperoleh sediaan atau stok bahan pangan, proses pengolahan dan penyajiannya. Akses yang lebih baik bagi pebisnis kuliner akan meningkatkan gairah pelaku bisnis kuliner ini, mereka akan melakukan berbagai upaya sendiri maupun berkelompok untuk menarik minat pengunjung dan pembeli. Di sisi lain daya tarik jenis makanan dan minuman yang khas di suatu daerah penting untuk dipertahankan. Hal ini mengingat turis amat menyukai aneka barang dan makanan yang khas, unik, tak mudah dilupakan dan bermutu. Sebagai contoh adanya pepes ikan mas, pepes oncom, empal gepuk, mie kocok, siomay Bandung, dan lain-lain menjadi daya tarik utama Kota Bandung sebagai tujuan wisata (tourist destination) bagi penggemar kuliner. Di Makasar terdapat

    Coto Makasar, otak-otak, sop konro (Gambar 2), es palu butung dan lain lain yang menjadi alasan mengunjungi Kota Makasar. Sementara di Mataram para turis akan disajikan aneka makanan seperti ayam taliwang, plecing kangkung, kue kacang mete, dan sebagainya, yang dapat dikonsumsi saat kunjungan wisata, atau dibawa pulang sebagai buah tangan.

  • Page | 3

    Gambar 2. Sop Konro daya tarik kuliner Kota Makasar

    Dengan jumlah 247 suku bangsa di seluruh Indonesia maka potensi kuliner bagi upaya pembangunan pariwisata, yang bermuara pada pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat menjadi amat relevan. Bila setiap suku bangsa dengan segala macam atribut budayanya menjadi daya tarik pengunjung wisata, maka diharapkan wisata kuliner juga menjadi paket tidak terpisahkan (integrated) dalam acara kunjungan wisata turis domestik maupun

    mancanegara. Peristiwa seperti Hari Jadi Kota/Kabupaten dapat dijadikan ajang promosi aneka kuliner daerah, baik yang diselenggarakan langsung di tengah masyarakat seperti di alun-alun kota, maupun diselenggarakan oleh Hotel-hotel dalam acara istimewa seperti perayaan hari besar (Lebaran, Natal, Proklamasi, dan sebagainya) atau aneka festival yang terkait seni dan kuliner Indonesia (Gambar 3), baik yang diselenggarakan pihak pemerintah dan swasta (industri makanan dan perusahaan multinasional lainnya).

    Gambar 3. Promosi Kuliner Indonesia sebagai daya tarik pariwisata bagi turis domestik dan mancanegara

    Indikator kesejahteraan keluarga dapat dilihat dari kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga yaitu manakala setiap anggota keluarga dapat tercukupi kebutuhannya akan makanan, pakaian, pendidikan, perumahan, perlindungan, serta terpenuhi kebutuhannya akan kasih sayang, dan kebutuhan spiritualnya. Tingkat kesejahteraan suatu masyarakat dapat diukur dengan melihat jumlah pendapatan per kapita (aspek ekonomi), lama tahun pendidikan

  • Page | 4

    dan jumlah buta huruf (aspek pendidikan) serta tingkat kematian dan prevalensi gizi kurang dan buruk (aspek kesehatan dan gizi). Aspek ekonomi, aspek pendidikan dan aspek kesehatan & gizi tersebut saling terkait satu sama lain. Suatu masyarakat dikatakan maju bila sektor ekonomi dapat meningkatkan pendidikan, selanjutnya meningkatkan pula kualitas hidupnya berupa status kesehatan dan gizi. Di Indonesia upaya untuk menciptakan kesejahteraan keluarga dan masyarakat dilakukan melalui beragam program pemerintah terkait isu ekonomi, pendidikan, kesehatan dan gizi. Hingga kini pencapaian pembangunan kesejahteraan tersebut belum menggembirakan. Guna melaksanakan visi dan misi pembangunan tersebut maka Kementerian Parekraf memiliki peluang besar untuk mendukung program pembangunan kesejahteraan melalui sektor pariwisata, baik melalui wisata bahari, wisata hutan, wisata sejarah, wisata tambang, wisata industri, maupun wisata kuliner yang ditawarkan kepada turis domestik maupun mancanegara.

    Wisata kuliner dapat menjadi pendorong tumbuhnya kesejahteraan masyarakat mengingat usaha wisata ini dapat menciptakan aneka lapangan kerja mulai dari pengadaan atau produksi bahan baku (pangan maupun non-pangan), proses pengolahan (persiapan hingga pemasakan) hingga proses penyajian (Gambar 4). Pada proses produksi maka pekerjaan budidaya bahan pangan dapat dikembangkan. Misalnya untuk wisata kuliner pepes ikan mas, pekerjaan pemeliharaan budidaya ikan mas dapat dijadikan sebagai obyek wisata dan pembelajaran bagi pengunjung. Contoh lainnya pada wisata kuliner pempek palembang, pekerjaan pengolahan dan proses pembuatannya juga dapat dijadikan sebagai obyek wisata dan pembelajaran yang menarik bagi para pelancong. Dengan demikian keberadaan bisnis kuliner dapat mendukung kesejahteraan keluarga dan masyarakat melalui beberapa peluang yaitu: (a) terbukanya lapangan kerja bagi warga daerah mulai dari proses produksi bahan baku hingga penyajian kuliner sehingga mengurangi angka pengangguran; (b) berlangsungnya perputaran ekonomi daerah karena menjadi obyek kunjungan turis domestik maupun mancanegara; (c) terbukanya aktivitas ekonomi dari skala kecil, skala menengah dan skala besar dari pelaku bisnis kuliner termasuk sektor non-formal dan informal; (d) terbukanya keahlian, keterampilan dan kompetensi terkait bisnis kuliner mulai dari pemasak handal (koki/cooks), hingga asisten koki,

    dan tenaga konsultan gizi; (e) terbukanya bisnis penunjang yang mendukung bisnis utama kuliner seperti aneka produk non-pangan dan kerajinan tangan sebagai produk ekonomi kreatif di tingkat daerah (wadah pembungkus, aneka kemasan/label, aneka hiasan, aneka per