enceng gondok

  • View
    1.018

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

bahan praktikum enceng gondok..ada disisni,,ok

Text of enceng gondok

2010-05-3 Bikin Briket Eceng gondokYukz Kebutuhan energi di Indonesia semakin meningkat. tapi justru energi Non renewable tetap tren dikalangan masyarakat. liat aja orang tetap mengantri meski bahan bakar semakin langka.

Salah satu solusi adalah dengan pengembangan energi-energi alternatif, khususnya energi yang dapat diperbaharui (renewable energy). Sumber energi penting terutama untuk negara berkembang adalah biomassa (Istanto,2005). Biomassa merupakan sumber energi alternatif yang dapat digunakan untuk menggantikan energi fosil. Biomassa menjadi alternatif karena mempunyai beberapa sifat yang menguntungkan. Sumber energi ini dapat dimanfaatkan secara lestari karena sifatnya yang renewable resources, tidak mengandung unsur sulfur sehingga tidak menyebabkan polusi udara sebagaimana yang terjadi pada bahan bakar fosil. Selain itu, pemanfaatan energi biomassa juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan limbah pertanian. (Sudrajat , 2001). Alternatif teknologi untuk mengolah biomassa adalah proses pembriketan. Teknologi ini secara sederhana di definisikan sebagai proses densifikasi untuk memperbaiki karakteristik bahan bakar biomassa. Briket diperoleh dengan membakar tanpa udara (pirolisis) suatu biomassa kering (Seran, 1991). Sedangkan menurut Roejianto (1988) briket adalah hasil cetakan serbuk dengan perekat tertentu dan dengan perbandingan jumlah tertentu dan tekanan tertentu pula.

Dewasa ini briket kurang dikenal oleh masyarakat karena keberadaannya yang jarang. Masyarakat lebih suka menggunakan kayu bakar dan minyak bumi sebagai bahan bakar. Padahal, penggunaan briket arang biomasa sebagai energi alternatif jauh lebih murah dibanding minyak tanah. Briket memiliki nilai kalori lebih tinggi, lebih efektif dan efisien dibandingkan bahan asalnya. Bentuk briket memudahkan dalam pengemasan, pengangkutan, pemasaran dan penggunaannya (Abdul Kadir,1995). Contoh bentuk biomassa yang sering digunakan sebagai bahan bakar adalah kayu, ranting, sekam padi, sampah organik, tempurung kelapa dan eceng gondok. Eceng gondok atau Eichornia Crasipess Solm adalah gulma (penggangu) bagi perairan, yang mengapung di atas permukaan air. Tumbuhan ini sangat cepat berkembang di lahan yang perairannya terkena limbah karena dapat mengikat logam berat dalam air, seperti besi, seng, tembaga, dan raksa (Hasim, 2003). Pertumbuhanya mencapai 3% perhari. Pesatnya pertumbuhan eceng gondok mengakibatkan berbagai kesulitan seperti terganggunya transportasi, penyempitan sungai, dan masalah lainya. Di sisi lain, eceng gondok juga mempunyai banyak manfaat. Selain untuk campuran pakan ternak, eceng gondok juga bisa dijadikan bahan kerajinan hand made seperti sandal, tas dan lain lain. Seiring makin langkanya bahan bakar, keberadaan eceng gondok juga dilirik menjadi bahan baku energi alternatif. Kandungan selulosa dan senyawa organik pada eceng gondok berpotensi memberikan nilai kalor yang cukup baik. Oleh karena itu, eceng gondok dapat menjadi alternatif bahan dasar pembuatan briket arang.

Rowo Jombor adalah rawa yang terkenal di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten. Rowo Jombor merupakan daerah tujuan wisata air dan kuliner. Salah satu permasalahan dalam pemanfaatan rowo jombor adalah pertumbuhan enceng gondok yang sangat pesat akibat dari makanan organik ( Arison, 2008). Pemanfaatan eceng gondok di Rowo Jombor belum begitu optimal. Biasanya, eceng gondok hanya di bersihkan dan di buang begitu saja oleh pengelola kawasan wisata. Padahal bila di olah menjadi briket, dapat meningkatkan nilai ekonomis eceng gondok tersebut. Kecamatan Bayat merupakan daerah gempa yang terjadi tahun 2007 lalu. Masyarakat sekitar termasuk masyarakat yang membutuhkan alternatif sumber energi skala rumah tangga dan home industri. Kelangkaan minyak tanah dan harga gas elpiji yang semakin mahal juga membawa dampak bagi masyarakat. Melalui pengabdian masyarakat ini, diharapkan masyarakat dapat membuat sendiri bahan bakar alternatif dari bahan yang memang sudah tersedia di sekitar mereka. Dengan demikian, permasalahan rawa akibat eceng gondok dapat teratasi. Selain itu, juga dapat membantu pemerintah mengurangi permasalahan krisis energi di Indonesia.

Hal inilah yang melatar belakangi Qt tim eceng gondok untuk mensosialisasikan briket ke masyarakat. Melalui program PKMM yang didanai Dikti, Qt bergerak mulai perubahan.SEMANGAT!!! Yuk, pada buat briket eceng gondok, lingkungan OK, solusi krisis energi

Home Entertainmen Gaya Kejawen Layar Lelaki Sehat Sport Wanita Kuliner Suara Warga Suara Remaja SM Cetak

ePaper CYBERNEWS.TV Subcribe RSS

Top of Form01110569872937 FORID:11Search

Bottom of Form

18 Maret 2010 | 15:01 wib Berita Aktual Daerah Enceng Gondok Bisa Jadi Briket Batu Bara Alternatif Solo, Cybernews. Siapa bilang enceng gondok, tanaman yang tumbuh di sungai dan rawa, hanya menjadi pemandangan kotor dan mengganggu arus air sungai saja? Di tangan mahasiswamahasiswa kreatif, tanaman itu bisa diubah menjadi bahan bakar alternatif. Adalah Cita Indah PW, Annie Mufyda dan Zulfikar, tiga mahasiswa ITS (Institut Teknologi 10 Nopember) Surabaya yang mengubah enceng gondok menjadi briket yang bisa digunakan untuk energi alternatif. Pada lomba Iptek yang digelar di halaman Auditorium UNS, mereka menunjukkan hasil penelitian dan percobaannya yang hanya sepekan saja. Hasilnya 5 kilogram enceng gondok bisa diolah menjadi briket batubara untuk memasak dan keperluan lainnya. "Karena kandungan airnya yang sangat tinggi, mencapai 80%, maka enceng gondok menyusut sampai seperlimanya saja yang bisa digunakan untuk briket. Tetapi harganya tentu sangat murah," kata Cita, mewakili rekannya. Bermula dari keprihatinannya melihat enceng gondok memenuhi sungai di depan kampus. Selama ini ada yang memakainya untuk bahan tas, namun diproses sangat rumit dan memerlukan waktu dan teknologi pemrosesan yang lama. Mereka dengan cara sederhana mencoba. Enceng gondok dirajang agak halus, dikeringkan sampai kering. Ditambah sedikit sagu yang hanya satu ons saja, akhirnya jadilah briket batu bara. "Briket itu kami kemas menjadi sebesar bola pingpong. Sehingga menjadi cukup banyak. Kemudian dikeringkan lagi, dan ternyata bisa menjadi bahan bakar yang sangat hemat," kata dia. Tak hanya itu, mereka menciptakan kompor khusus dengan bahan seng, dengan biaya hanya Rp 35.000. Total penelitian hanya menghabiskan biaya Rp 35.750 karena enceng gondok tidak usah membeli.

Untuk tiga biji briket enceng gondok itu, ternyata bisa menghasilkan panas 4.000 kilokalori. Bisa digunakan menggoreng telur ayam dengan waktu enam menit, dan memasak satu gelas air untuk minum, selama 10 menit. "Yang menarik, dibandingkan briket batu bara dari arang kayu, briket enceng gondok itu lebih tidak berjelaga, baunya lebih harum. Jadi tidak membuat kotor, sehingga lebih ramah lingkungan." ( Joko Dwi Hastanto / CN12 )

Menyulap Tanaman Eceng Gondok Menjadi Briket Sabtu, 25 September 2010 Cita Indah, mahasiswi Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, Jawa Timur, prihatin akan semakin berkurangnya pasokan bahan bakar minyak yang berasal dari fosil. Padahal kebutuhan manusia dalam menggunakan bahan bakar tidak pernah surut, bahkan terus meningkat. Menurut para pakar, bahan bakar dari fosil akan habis pada 2050. Tetapi melihat laju pertumbuhan kendaraan dan tingkat natalitas (kelahiran) yang ada sekarang, minyak bisa lebih cepat habis dari waktu yang diperkirakan, ujar dia. Sebagai mahasiswa yang mendalami bidang kimia dan memang tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan bidang tersebut, Cita mulai memutar otak untuk mencari sumber energi alternatif. Bukan sekadar sumber energi alternatif, melainkan juga sumber energi yang mudah diaplikasikan oleh masyarakat. Persyaratan utamanya, kata Cita, sumber energi itu harus murah dan mudah didapat agar masyarakat bisa mengusahakan sendiri. Cita pun menuturkan awal pencarian ide menemukan sumber energi alternatif tersebut. Suatu hari, ketika melewati sungai yang tidak jauh dari kampusnya, dia melihat hamparan eceng gondok di sungai itu. Dari situ muncul pemikiran untuk mencari potensi tanaman tersebut sebagai sumber energi alternatif. Setelah melakukan riset awal, Cita pun memutuskan untuk mengeksplorasi tanaman eceng gondok sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak. Pemilihan eceng gondok didasarkan pada dua alasan. Pertama, tanaman itu murah dan mudah ditemukan di sungai kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta yang kandungan detergennya

tinggi. Kedua, pemanfaatan eceng gondok bisa menjadi solusi terhadap masalah lingkungan yang ditimbulkannya, jelas Cita. Menurut dia, perkembangbiakan eceng gondok yang sedemikian cepat menjadikan tanaman itu gulma yang menimbulkan sederet masalah. Eceng gondok dapat mempercepat pendangkalan sungai karena tanaman yang mati akan turun dan mengendap di dasar sungai. Selain itu, daunnya yang lebar dan banyak akan mengakibatkan penguapan sungai lebih cepat terjadi. Persoalan lain yang dapat ditimbulkannya, banyak nyamuk yang bersarang di eceng gondok. Untuk meminimalisasi berbagai persoalan tersebut, Cita mencoba memanfaatkan eceng gondok sebagai bahan baku briket. Cita mengatakan untuk membuat briket, semua bagian tanaman, baik tangkai maupun daunnya, bisa dimanfaatkan karena eceng gondok mengandung kadar selulosa yang cukup tinggi. Zat selulosa seperti yang terdapat pada kayu dan serabut kelapa yang membuat eceng gondok mudah terbakar, papar dia. Lebih lanjut, Cita mengatakan meski kadar selulosa pada eceng gondok hanya 80 persen, pemanfaatan eceng gondok bisa mengurangi kerusakan lingkungan. Selain itu, harganya jauh lebih murah ketimbang kelapa. Selulosa atau dalam rumus kimianya dikenal dengan (C6H10O5) merupakan polimer berantai panjang polisakarida karbohidrat dari beta-glukosa. Senyawa itu merupakan komponen struktural utama dari tumbuhan dan tidak dapat dicerna oleh manusia. Proses Sederhana Pembuatan briket dari tanaman eceng g

Recommended

View more >