of 130 /130
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN UANG DI INDONESIA SEBELUM DAN SETELAH KRISIS MONETER (1990 : 1 – 2005 : 4) SKRIPSI Oleh : Nama : Ardiyadi Widyarto No. Mahasiswa : 04313008 Program Studi : Ilmu Ekonomi UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS EKONOMI YOGYAKARTA 2007

Faktor Permintaan Uang Sblm & Ssdh Krisis

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Faktor Permintaan Uang Sebelum dan Sesudah Krisis

Text of Faktor Permintaan Uang Sblm & Ssdh Krisis

  • ANALISIS FAKTOR-FAKTOR

    YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN UANG DI INDONESIA

    SEBELUM DAN SETELAH KRISIS MONETER

    (1990 : 1 2005 : 4)

    SKRIPSI

    Oleh :

    Nama : Ardiyadi Widyarto

    No. Mahasiswa : 04313008

    Program Studi : Ilmu Ekonomi

    UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

    FAKULTAS EKONOMI

    YOGYAKARTA

    2007

  • ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

    PERMINTAAN UANG DI INDONESIA SEBELUM DAN SETELAH

    KRISIS MONETER

    (1990 : 1 2005 : 4)

    SKRIPSI

    disusun dan diajukan untuk memenuhi syarat ujian akhir

    guna memperoleh gelar Sarjana jenjang strata 1

    Jurusan Ilmu Ekonomi,

    pada Fakultas Ekonomi

    Universitas Islam Indonesia

    Oleh

    Nama : Ardiyadi Widyarto

    Nomor Mahasiswa : 04313008

    Program Studi : Ilmu Ekonomi

    UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

    FAKULTAS EKONOMI

    YOGYAKARTA

    2007

    i

  • PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

    Saya yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa skripsi ini telah

    ditulis dengan sungguh-sungguh dan tidak ada bagian yang merupakan

    penjiplakan karya orang lain seperti dimaksud dalam buku pedoman penyusunan

    skripsi Jurusan Ilmu Ekonomi FE UII. Apabila di kemudian hari terbukti bahwa

    pernyataan ini tidak benar maka Saya sanggup menerima hukuman/sanksi apapun

    sesuai peraturan yang berlaku.

    Yogyakarta, Desember 2007

    Penulis,

    Ardiyadi Widyarto

    ii

  • PENGESAHAN

    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

    PERMINTAAN UANG DI INDONESIA SEBELUM DAN SETELAH

    KRISIS MONETER

    (1990 : 1 2005 : 4)

    Nama : Ardiyadi Widyarto

    Nomor Mahasiswa : 04313008

    Program Studi : Ilmu ekonomi

    Yogyakarta, Desember 2007

    Telah disetujui dan disahkan oleh

    Dosen Pembimbing,

    Sahabudin Sidiq,,SE.,MA.

    iii

  • PENGESAHAN UJIAN

    Telah dipertahankan/diujikan dan disahkan untuk

    memenuhi syarat guna memperoleh gelar

    Sarjana jenjang Strata 1 pada Fakultas Ekonomi

    Universitas Islam Indonesia

    Nama : Ardiyadi Widyarto

    Nomor Mahasiswa : 04313008

    Program Studi : Ilmu Ekonomi

    Yogyakarta, Desember 2007

    Disahkan Oleh,

    Pembimbing Skripsi : Sahabudin Sidiq,,SE.,MA.

    Penguji I :

    Penguji II :

    Mengetahui

    Dekan Fakultas Ekonomi

    Universitas Islam Indonesia

    Drs. Asmai Ishak, M.Bus, Ph.D

    iv

  • HALAMAN PERSEMBAHAN

    Skripsi ini Kupersembahkan untuk :

    Allah SWT yang telah memberiku kekuatan untuk menyelesaikan amanah ini.

    Keempat orang tuaku yang telah memberikan doa, cinta, kasih sayang, dukungan moral,

    spiritual dan material yang takkan pernah

    ternilai.

    v

  • KATA PENGANTAR

    Segala puji dan syukur bagi Allah Rabb alam semesta. Shalawat dan

    salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan dan tauladan, Muhammad

    Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

    Alhamdulillah, Puji dan Syukur atas rahmat dan karunia kekuatan yang

    diberikan Allah padaku, hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi

    dengan berjudul ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

    PERMINTAAN UANG DI INDONESIA SEBELUM DAN SETELAH

    KRISIS MONETER (1990 : 1 2005 : 4).

    Skripsi ini tersusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

    pendidikan program Sarjana Strata Satu (S1) pada Fakultas Ekonomi Universitas

    Islam Indonesia.

    Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna

    karena keterbatasan yang penulis miliki, karenanya penulis mengucapkan terima

    kasih untuk saran dan kritik yang penulis telah terima maupun yang akan

    diterima. Penulis juga menyadari bahwasanya penyusunan skripsi ini tidak akan

    berjalan dengan baik tanpa bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis ingin

    mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

    1. Bapak Drs. Asmai Ishak, M.Bus, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ekonomi

    Universitas Islam Indonesia

    vi

  • 2. Yth. Bapak Jaka Sriyana, Drs., MSi. Selaku Ka-Prodi Ilmu Ekonomi

    Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

    3. Yth. Bapak Sahabudin Sidiq,,SE.,MA. selaku Dosen Pembimbing Skripsi

    yang dengan kesabaran dan penuh perhatian membimbing serta

    memberikan dukungan moril sehingga skripsi ini selesai.

    4. Yth. Ibu Diana Wijayanti,,SE.,M.Si. selaku Dosen Pembimbing

    Akademik, yang juga selalu meluangkan waktu ditengah kesibukannya,

    ketika aku ingin menanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan

    akademik, kuliah, dll.

    5. Yth. Bapak Nur Feriyanto, Drs., MSi yang telah memberikan pengalaman

    berharga kepada saya untuk kemudian hari, terima kasih untuk motivasi

    dan berbagai pengalamannya.

    6. Keempat Orang tuaku yang selalu memberikan semangat, doa dan kasih

    sayang kepadaku.

    7. Adik-adikku Restu Murtiningtyas dan Hesti Widyaningtyas yang secara

    tidak langsung kujadikan motivator dalam setiap langkahku.

    8. Rezhia Brillya Nindhira Sandy, terima kasih buat semangatnya,

    dukungannya, yang selalu mendengarkan setiap keluh kesahku, dan atas

    kesabarannya terima kasih.

    9. Semua keluargaku, terimakasih untuk dukungan dan doanya.

    10. Teman-teman WHO???..!!! Dari lahir sampai sekarang (Sny matur nuwun

    laptopnya, Ddy, Reza, Rizal, Irvan, Anggi, dll) yang selalu menghiburku

    kalo lagi stress....!!!

    vii

  • 11. Teman-teman kuliah yang selalu membantu aku dalam menyelesaikan

    skripsi ini (Puput, Uci, Nissa, Vidi, Hero, Desy, Angga, semua temen IE,

    dll).

    12. Semua pihak yang telah membantu baik selama penulis menjalani kuliah

    maupun saat menulis skripsi, yang tidak dapat kusebutkan satu persatu,

    terima kasih.

    Yogyakarta, Desember 2007

    Penulis,

    Ardiyadi Widyarto

    viii

  • DAFTAR ISI

    Halaman Judul .........................................................................................................i

    Halaman Pernyataan Bebas Plagiarisme ................................................................ii

    Halaman Pengesahan Skripsi ................................................................................iii

    Halaman Pengesahan Ujian...................................................................................iv

    Halaman Persembahan ...........................................................................................v

    Halaman Kata Pengantar........................................................................................vi

    Halaman Daftar Isi ................................................................................................ix

    Halaman Daftar Tabel..........................................................................................xiii

    Halaman Daftar Gambar.......................................................................................xiv

    Halaman Abstraksi ................................................................................................xv

    BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................1

    1.1 Latar Belakang Masalah ...................................................................................1

    1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................7

    1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian.........................................................................8

    1.3.1 Tujuan Penelitian.......................................................................................8

    1.3.2 Manfaat Penelitian.....................................................................................8

    1.4 Sistematika Penulisan.......................................................................................9

    BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI...............................11

    2.1.Kajian Pustaka.................................................................................................11

    2.2 Landasan Teori................................................................................................16

    2.2.1 Uang......................................................................................................16

    2.2.1.1 Pengertian Uang..............................................................................16

    2.2.1.2 Kriteria Uang..................................................................................17

    2.2.1.2.1 Acceptability dan Cognizability..............................................17

    2.2.1.2.2 Stability of Value....................................................................17

    2.2.1.2.3 Elastisity of Supply.................................................................18

    ix

  • 2.2.1.2.4 Portability...............................................................................18

    2.2.1.2.5 Durability................................................................................18

    2.2.1.2.6 Divisibility..............................................................................19

    2.2.1.3 Fungsi Uang...................................................................................19

    2.2.2 Teori-teori Permintaan Uang.................................................................22

    2.2.2.1 Teori Klasik....................................................................................22

    2.2.2.1.1 Irving Fisher............................................................................22

    2.2.2.1.2 Teori Cambridge (Marshall-Pigou).........................................24

    2.2.2.2 Teori Keynes...................................................................................27

    2.2.2.2.1 Motif Transaksi dan Berjaga-jaga...........................................27

    2.2.2.2.2 Motif Spekulasi.......................................................................28

    2.2.2.3 Teori Kuantitas Modern (Friedman)...............................................32

    2.3 Penjelasan Teoritis Variable Penelitian..........................................................35

    2.3.1 Pengaruh PDB Terhadap Permintaan Uang...........................................35

    2.3.2 Pengaruh Tingkat Bunga Terhadap Permintaan Uang...........................35

    2.3.3 Pengaruh Inflasi Terhadap Permintaan Uang........................................36

    2.3.4 Pengaruh Kurs Dollar Terhadap Permintan Uang................................36

    2.4 Hipotesis Penelitian........................................................................................37

    BAB III METODE PENELITIAN....................................................................38

    3.1 Jenis dan Sumber Data ...................................................................................38

    3.2 Metode Analisis Data......................................................................................38

    3.2.1 Pemilihan Model Regresi metode MWD................................................39

    3.2.2 Persamaan Regresi...................................................................................40

    3.3 Pengujian Hipotesa..........................................................................................43

    3.3.1 Uji t (uji signifikansi secara individu).....................................................43

    3.3.2 Uji F (uji signifikansi secara bersama-sama)..........................................44

    3.3.3 Koefisien Determinasi (R2).....................................................................45

    3.3.4 Uji Chow.................................................................................................46

    3.4 Pengujian Asumsi Klasik......................................................................48

    3.4.1 Uji Multikolinearitas......................................................................49

    x

  • 3.4.2 Uji Autokorelasi............................................................................49

    3.4.3 Uji Heteroskedastisitas..................................................................51

    BAB IV HASIL DAN ANALISIS.....................................................................53

    4.1 Deskripsi Data Penelitian..............................................................................53

    4.2 Uji Spesifikasi Model53

    4.2.1 Uji Mackinnon, White dan Davidson (MWD)......................................53

    4.3 Hasil dan Analisis Regresi M1......................................................................58

    4.3.1 Uji regresi Secara Individual (uji t)...59

    4.3.2 Uji Regresi Secara Keseluruhan (uji F).................................................60

    4.3.3 Koefisien Determinasi (R2)....................................................................60

    4.3.4 Uji Chow M1..........................................................................................61

    4.3.5. Uji Asumsi Klasik ................................................................................62

    4.3.5.1 Uji Multikolinieritas M1 ................................................................62

    4.3.5.1.1 Penyembuhan Masalah Multikolinearitas M1.........................63

    4.3.5.2 Uji Autokorelasi M1(metode Durbin-Watson d)...........................65

    4.3.5.2.1 Penyembuhan Masalah Autokorelasi M1................................67

    4.3.5.3 Uji Heteroskedastisitas M1 .............................................................68

    4.3.5.3.1 Penyembuhan Masalah Heteroskedastisitas M1......................71

    4.4 Hasil dan Analisis Regresi M2...74

    4.4.1 Uji regresi Secara Individual (uji t)75

    4.4.2 Uji Regresi Secara Keseluruhan (uji F)..................................................76

    4.4.3 Koefisien Determinasi (R2).....................................................................77

    4.4.4 Uji Chow.................................................................................................77

    4.4.5 Uji Asumsi Klasik ..................................................................................79

    4.4.5.1 Uji Multikolinieritas M2 .................................................................79

    4.4.5.1.1 Penyembuhan Masalah Multikolinearitas M2..........................80

    4.4.5.2 Uji Autokorelasi M2 (metode Breusch-Godfrey)...........................82

    4.4.5.3 Uji Heteroskedastisitas M2..............................................................84

    4.5 Analisis Ekonomi............................................................................................87

    4.5.1 Pengaruh Produk Domestik Bruto Terhadap Permintaan Uang..............87

    xi

  • 4.5.2 Pengaruh Tingkat Suku Bunga Terhadap Permintaan Uang..................88

    4.5.3 Pengaruh Inflasi Terhadap Permintaan Uang.........................................89

    4.5.4 Pengaruh Kurs Dollar Terhadap Permintaan Uang................................91

    4.5.5 Pengaruh Variabel Dummy terhadap Permintaan Uang........................92

    BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI....................................................95

    5.1 Simpulan...................................................................................................... 95

    5.2 Implikasi.......................................................................................................97

    Daftar Pustaka

    Lampiran

    xii

  • DAFTAR TABEL

    TABEL Halaman

    3.1. Uji Statistik Durbin-Watson d......................................................................51

    4.1. MWD untuk regresi linear M1.....................................................................54

    4.2. MWD untuk regresi log linear M1...............................................................55

    4.3. MWD untuk regresi linear M2.....................................................................56

    4.4. MWD untuk regresi log linear M2...............................................................57

    4.5. Hasil Regresi Permintaan Uang M1.............................................................58

    4.6. Uji Chow M1................................................................................................61

    4.7. Hasil Uji Multikolinearitas M1.....................................................................63

    4.8. Penyembuhan Multikolinearitas M1.............................................................65

    4.9. Hasil Penyembuhan Autokorelasi M1..........................................................67

    4.10. Hasil Uji White Heterokedasitisitas M1 Cross Term.................................68

    4.11. Hasil Uji White Heterokedasitisitas M1 No Cross Term...........................70

    4.12.Hasil Estimasi Regresi Metode OLS M1....................................................72

    4.13. Hasil Penyembuhan Masalah Heteroskedastisitas M1...............................72

    4.14. Tabel Hasil Standard Error dan T Hitung...................................................73

    4.15. Hasil Regresi Permintaan Uang M2...........................................................74

    4.16. Uji Chow M2..............................................................................................78

    4.17. Hasil Uji Multikolinearitas M2..................................................................79

    4.18. Penyembuhan Multikolinearitas M2..........................................................82

    4.19. Hasil Uji Autokorelasi M2.........................................................................83

    4.20. Hasil Uji White Heterokedasitisitas M2 Cross Term.................................84

    4.21.Hasil Uji White Heterokedasitisitas M2 No Cross Term...........................86

    4.22. Tabel Quantity-Based Approach................................................................95

    xiii

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar Halaman

    3.1 Statistik Durbin-Watson d..............................................................................50

    4.1 Kurva Durbin Watson.....................................................................................66

    xiv

  • ABSTRAKSI

    Skripsi ini berjudul Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Uang Sebelum dan Setelah Krisis (1990:1 2005:4) . Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang di peroleh dari BI (Bank Indonesia) dan BPS (Badan Pusat Statistik). Variabel yang di gunakan antara lain : produk domestik bruto, tingkat suku bunga, tingkat inflasi (IHK), kurs Dollar dan variabel dummy.

    Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode destkriptif dan kuantitatif, yaitu mendiskripsikan suatu permasalahan dengan menganalisis data dan hal-hal yang berhubungan dengan angka-angka atau rumus-rumus perhitungan yang digunakan untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti. Adapun metode analisis yang digunakan peneliti yaitu dengan metode OLS (Ordinary Least Squares).

    Hasil analisis dari penelitian ini menyebutkan bahwa dalam produk domestik bruto, inflasi, kurs Dollar berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan uang M1 dan M2, sedangkan tingkat bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap permintaan uang M1 dan M2, kemudian variabel dummy menunjukkan adanya perubahan permintaan uang M1 dan M2 pada saat krisis di Indonesia pada tahun penelitian.

    xv

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang Masalah

    Krisis ekonomi di Indonesia tergolong paling parah jika dibandingkan dengan

    krisis serupa yang pernah terjadi dibeberapa negara selama ini. Pecahnya

    gelombang krisis pada tahun 1997 tidak saja memporak-porandakan industri

    perbankan nasional tetapi juga menyeret perekonomian ke dalam pertumbuhan

    ekonomi yang begitu lambat. Tidak sedikit bank-bank yang sakit secara finansial

    tumbang dalam hempasan badai krisis tersebut, krisis moneter setidaknya

    berdampak langsung terhadap permintaan uang. Naik-turunnya suku bunga SBI

    yang diikuti oleh naik turunnya suku bunga deposito dan kredit perbankan yang

    pada gilirannya berdampak pada volume dana dan kredit yang diberikan.

    Kebijakan suku bunga nampaknya menjadi pilihan penting bagi pemerintah

    dalam upaya mengendalikan gejolak moneter.

    Salah satu penyebab krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia adalah proses

    integrasi perekonomian Indonesia kedalam perekonomian global yang

    berlangsung cepat. Faktor lain yang juga berperan menciptakan krisis tersebut

    adalah kelemahan fundamental mikroekonomi yang tercermin dari kerentanan

    (fragility) sektor keuangan nasional, khususnya perbankan. Salah satu krisis

  • 2

    keuangan tersebut adalah gejolak nilai tukar yang telah menimbulkan berbagai

    kesulitan ekonomi yang sangat parah. Pada kuartal pertama tahun 1998, kegiatan

    ekonomi mengalami kontraksi sebesar 12% per tahun sebagai akibat banyaknya

    perusahaan yang mengurangi aktivitas atau bahkan menghentikan produksinya.

    Laju inflasi juga melambung tinggi, yakni 69,1% dalam periode Januari-Agustus

    1998 lalu. Tingginya laju inflasi menyebabkan menurunnya daya beli

    masyarakat (Syahril, 2003 : xvii).

    Pada saat krisis terjadinya peningkatan jumlah uang yang cukup pesat,

    peningkatan keinginan masyarakat untuk memegang uang tunai disebabkan

    hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap system perbankan yang ada dengan

    terjadinya rush (pengambilan uang besar-besaran secara serentak oleh

    masyarakat) diberbagai bank diseluruh Indonesia, sedangkan kenaikan M2

    terjadi karena peningkatan uang kuasi yang terdiri dari simpanan rupiah dan

    simpanan valuta asing (Darmansyah : 2005).

    Seperti yang dikatakan oleh Keynes (Nopirin : 1992; 117) dimana permintaan

    uang kas untuk tujuan transaksi ini tergantung dari pendapatan. Makin tinggi

    pendapatan, makin besar keinginan akan uang kas untuk transaksi. Seseorang

    atau masyarakat yang tingkat pendapatannya tinggi, biasanya melakukan

    transaksi yang lebih banyak dibandingkan seseorang atau masyarakat yang

    pendapatannya lebih rendah. Penduduk yang tinggal di kota besar cenderung

  • 3

    melakukan transaksi lebih besar dibanding penduduk yang tinggal di kota kecil

    (atau pedesaan).

    Dalam hal ini bank sentral mempunyai fungsi dan peranan yang strategis

    pada umumnya dan pembangunan ekonomi pada khususnya. Yang paling

    mendasar adalah peranannya dalam mencetak dan mengedarkan uang. Bank

    sentral merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan

    dan mengedarkan mata uang sebagai sarana pembayaran yang sah disuatu

    negara. Peran ini vital karena begitu penting dan luasnya fungsi uang dalam

    perekonomian. Seluruh kegiatan ekonomi dan keuangan dilakukan dengan uang.

    Fungsi uang tidak lagi dipergunakan sebagai alat pembayaran, tetapi juga

    sebagai media menyimpan kekayaan dan bahkan untuk berspekulasi bagi

    sebagian masyarakat. Pengertian uang tidak lagi sebatas pada uang kartal, yaitu

    uang kertas maupun logam, tetapi telah berkembang menjadi berbagai bentuk

    dan variasinya, dari uang giral, simpanan di bank, kartu kredit dan sebagainya,

    seiring dengan perkembangan pada sektor keuangan. Oleh karena itu,

    perkembangan jumlah uang beredar akan berpengaruh langsung terhadap

    berbagai kegiatan ekonomi dan keuangan dalam perekonomian, apakah itu

    konsumsi, investasi, ekspor-impor, suku bunga, nilai tukar, pertumbuhan

    ekonomi, dan juga inflasi.

    Dengan peran seperti ini wajar apabila bank sentral mempunyai tujuan dan

    diberi tanggung jawab untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai dari

  • 4

    mata uang yang diedarkan tersebut. Terlebih lagi pada dunia modern sekarang

    ketika uang menjadi fiat money, dalam arti bahwa Negara memberikan

    kewenangan kepada bank sentral untuk menerbitkan dan mengedarkan uang

    tersebut atas dasar kepercayaan, tanpa adanya kewajiban untuk menyediakan

    sejumlah emas atau cadangan lain sebagai jaminan dari penerbitan uang tersebut

    seperti pernah dialami pada jaman standar emas. Karena itu kestabilan rupiah

    dari mata uang merupakan kewajiban mendasar bagi bank sentral agar

    kepercayaan Negara dan masyarakat dapat tetap terjaga. Dalam prakteknya,

    kestabilan nilai dari mata uang dimaksud mencakup kestabilan nilai mata uang

    terhadap barang dan jasa yang diukur dan tercermin pada perkembangan nilai

    tukar atau kurs mata uang.

    Kestabilan nilai mata uang, baik dalam artian inflasi maupun nilai tukar,

    sangat penting untuk mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan

    dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Nilai uang yang stabil dapat

    menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan dunia usaha dalam melakukan

    kegiatan perekonomian, baik konsumsi maupun investasi sehingga

    perekonomian nasional dapat bergairah. Lebih dari itu, inflasi yang terkendali

    dan rendah dapat mendukung terpeliharanya daya beli masyarakat, khususnya

    yang berpendapatan tetap seperti pegawai negeri dan masyarakat kecil. Bagi

    golongan masyarakat ini, yang umumnya mencakup sebagian besar penduduk,

    harga-harga yang terus membumbung menyebabkan kemampuan daya beli

  • 5

    untuk memenuhi kebutuhan dasar akan semakin rendah. Demikian pula inflasi

    dan nilai tukar yang tidak stabil akan mempersulit dunia usaha dalam

    perencanaan kegiatan bisnis, baik dalam kegiatan produksi dan investasi maupun

    dalam penentuan harga barang dan jasa yang diproduksinya. Pengalaman

    Indonesia dengan terjadinya krisis nilai tukar sejak tahun 1997 menunjukkan

    betapa penting mencapai dan menjaga laju inflasi yang rendah dan nilai tukar

    yang stabil tersebut.

    Pengalaman menunjukkan bahwa jumlah uang beredar diluar kendali dapat

    menimbulkan konsekuensi atau pengaruh yang buruk bagi perekonomian secara

    keseluruhan. Konsekuensi atau pengaruh yang buruk dari kurang terkendalinya

    jumlah uang beredar tersebut antara lain dapat dilihat pada kurang terkendalinya

    perkembangan variable-variabel ekonomi utama, yaitu tingkat produksi (output)

    dan harga. Peningkatan jumlah uang beredar yang berlebihan dapat mendorong

    peningkatan harga melebihi tingkat yang diharapkan sehingga dalam jangka

    panjang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila

    peningkatan jumlah uang beredar rendah maka kelesuan ekonomi akan terjadi.

    Apabila hal ini berlangsung terus menerus, kemakmuran masyarakat secara

    keseluruhan akan mengalami penurunan. Kondisi tersebut antara lain melatar

    belakangi upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas-otoritas

    moneter dalam mengendalikan jumlah uang beredar dalam perekonomian.

    Kegiatan mengendalikan jumlah uang beredar tersebut lazimnya disebut

  • 6

    Kebijakan moneter, yang pada dasarnya merupakan salah satu bagian integral

    dari Kebijakan ekonomi makro yang ditempuh oleh otoritas moneter (Bank

    Indonesia, 2003 : 62).

    Permintaan uang di Indonasia mengalami perkembangan sesuai dengan

    berkembangnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang memungkinkan

    berkembangnya jenis tabungan dan deposito berjangka. Keinginan masyarakat

    untuk menabung dan mendepositokan uangnya sangat dipengaruhi oleh

    kemudahan dalam memperolehnya dan berbagai fasilitas yang ditawarkan

    perbankan. Hal ini memungkinkan jika pemerintah juga turut campur tangan

    dalam berbagai kebijakan deregulasi maupun regulasi bidang moneter dan

    ekonomi pada umumnya.

    Perkembangan M1 dan M2 di Indonesia pada Pembangunan Jangka Panjang

    Tahap Pertama (PJP I) mengalami perkembangan yang relatih besar.

    Pertumbuhan uang dalam arti sempit setiap tahun rata-rata selama PJP I sebesar

    25.29% dan pertumbuhan uang dalam arti luas sebesar 30.75%, sedangkan

    pertumbuhan Quasy Money (QM) sebesar 38.18% (data BI beberapa terbitan,

    diolah). Pertumbuhan uang dalam arti luas ternyata lebih cepat dibanding

    dengan uang dalam arti sempit, hal ini disebabkan karena adanya kenaikan yang

    pesat dari deposito berjangka dan tabungan di bank-bank di Indonesia dengan

    suku bunga yang relatif besar (Prawoto : 2000).

  • 7

    Dengan adanya permasalahan yang cukup rumit, maka dalam hal ini

    pemerintah harus bisa memutuskan kebijaksanaan moneter yang harus diambil

    sehingga dapat memperbaiki stabilitas perekonomian di Indonesia, atas dasar

    pemikiran tersebut maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk

    menyelesaikan permasalahan ini secara ilmiah, untuk mewujudkan hal tersebut

    maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini menjadi sebuah penelitian

    dalam bentuk skripsi dengan judul : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG

    MEMPENGARUHI PERMINTAAN UANG DI INDONESIA SEBELUM

    DAN SETELAH KRISIS (1990 : 1 2005 : 4).

    1.2. Rumusan Masalah

    Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka permasalahan yang akan

    diangkat dalam penelitian ini adalah :

    1. Apakah PDB berpengaruh terhadap permintaan uang M1 dan M2 di

    Indonesia sebelum dan setelah krisis?

    2. Apakah tingkat suku bunga berpengaruh terhadap permintaan uang

    M1 dan M2 di Indonesia sebelum dan setelah krisis?

    3. Apakah inflasi berpengaruh terhadap permintaan uang M1 dan M2 di

    Indonesia sebelum dan setelah krisis?

    4. Apakah kurs Dollar Amerika terhadap Rupiah berpengaruh terhadap

    permintaan uang M1 dan M2 di Indonesia sebelum dan setelah krisis?

  • 8

    5. Apakah krisis berpengaruh terhadap permintaan uang M1 dan M2 di

    Indonesia?

    1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1.3.1. Tujuan Penelitian

    1. Untuk menganalisis pengaruh pendapatan nasional terhadap

    permintaan uang baik M1 maupun M2 sebelum dan setelah krisis

    ekonomi di Indonesia.

    2. Untuk menganalisis pengaruh tingkat suku bunga deposito Rupiah

    terhadap permintaan uang baik M1 maupun M2 sebelum dan setelah

    krisis ekonomi di Indonesia.

    3. Untuk menganalisis pengaruh inflasi terhadap permintaan uang baik

    M1 maupun M2 sebelum dan setelah krisis ekonomi di Indonesia.

    4. Untuk menganalisis pengaruh kurs US Dollar terhadap Rupiah

    terhadap permintaan uang baik M1 maupun M2 sebelum dan setelah

    krisis ekonomi di Indonesia.

    5. Untuk menganalisis pengaruh krisis terhadap permintaan uang baik

    M1 maupun M2 di Indonesia.

    1.3.2. Manfaat Penelitian

    Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

    1. Bahan referensi atau input bagi peneliti lain yang mempunyai kaitan

    dengan masalah yang diangkat dalam skripsi ini.

  • 9

    2. Untuk para pembaca di harapkan bisa mengetahui dan mendapat

    informasi tentang permintaan uang.

    3. Sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan terkait dengan

    kebijakan moneter.

    1.4. Sistematika Penulisan

    BAB I PENDAHULUAN

    Dalam bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan

    masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan metode penelitian.

    BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

    Bab ini berisi pendokumentasian dan pengkajian hasil dari penelitian-

    penelitian yang pernah dilakukan pada area yang sama, Landasan

    teori merupakan bagaimana cara peneliti menteorikan hubungan

    antara variabel yang terlibat dalam permasalahan yang diangkat pada

    penelitian tersebut, Hipotesis merupakan jawaban sementara atas

    rumusan masalah, sehingga hipotesis yang disusun adalah pernyataan

    yang menjawab pertanyaan pada rumusan masalah.

    BAB III METODE PENELITIAN

    Bab ini menguraikan tentang metode analisis yang digunakan dalam

    penelitian dan data-data yang digunakan berserta sumber data.

  • 10

    BAB IV HASIL DAN ANALISIS

    Bab ini berisi semua temuan-temuan yang dihasilkan dalam

    penelitian. Menguraikan tentang deskripsi data dan analisis hasil

    regresi.

    BAB V SIMPULAN DAN IMPLIKASI

    Berisi uraian mengenai kesimpulan dan implikasi yang dapat penulis

    ajukan sehubungan dengan penelitian yang telah dilakukan.

  • 11

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

    2.1 Kajian Pustaka

    Dalam kajian pustaka ini memuat berbagai panelitian yang telah di lakukan

    peneliti lain, dan permasalahan yang di angkat juga pernah dilakukan oleh beberapa

    peneliti lain, baik itu melalui penelitian biasa ataupun skripsi. Yang mana mendasari

    pemikiran penulis dalam penyusunan skripsi ini, seperti oleh beberapa penelitian di

    bawah ini :

    Penelitian yang dilakukan oleh Nano Prawoto (2000) yang berjudul

    Permintaan Uang di Indonesia : Konsep Keynesian dengan Pendekatan PAM. Data

    yang digunakan pada penelitian ini adalah pendapatan, tingkat bunga, perubahan

    harga. Pada penelitian ini mengaplikasikan kembali model Keynesian yang pernah

    dilakukan secara empiris oleh Daquila dan Phua (1993) mengenai permintaan uang

    dengan model dinamis penyesuaian parsial. Selain itu menguji besarnya faktor-faktor

    yang mempengaruhi yaitu pendapatan riil, tingkat bunga dan tingkat inflasi.

    Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah terbukti bahwa

    elastisitas pendapatan permanen lebih tinggi dari elastisitas suku bunga dan tingkat

    inflasi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa banyaknya uang yang dipegang untuk

    motif transaksi dan berjaga-jaga lebih dominan jika dibanding dengan motif

    spekulasi. Dengan demikian untuk meminimumkan biaya yang ditanggung

  • 12

    masyarakat karena memegang uang tersebut maka pemerintah perlu meningkatkan

    pengetahuan kepada masyarakat akan biaya memegang uang, menambah kantor

    bursa efek sehingga transaksi saham dan obligasi dapat dilakukan didaerah-daerah,

    meningkatkan peranan teknologi informasi pasar uang, dan meningkatkan penjualan

    saham-saham perusahaan yang go-public didaerah-daerah.

    Penelitian yang dilakukan oleh Darmansyah (2005) yang berjudul Dampak

    Krisis Terhadap Permintaan Uang di Indonesia Periode 1994-2004. Data yang

    digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Bank

    Indonesia Jakarta.

    Data yang digunakan pada penelitian ini antara lain : Gross Domestic Bruto

    (GDP), tingkat bunga, Inflasi, dummy yang memakili masa sebelum krisis dan

    setelah krisis. Penelitian ini membahas tentang bagaimana pengaruh krisis terhadap

    permintaan uang di Indonesia, pada penelitian ini data-data yang ada dibandingkan

    untuk melihat kecenderungan serta pengaruhnya terhadap permintaan uang di

    Indonesia.

    Kesimpulannya dari penelitian ini adalah :

    1. GDP riil yang mewakili pendapatan nasional, tingkat bunga dan inflasi

    menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap permintaan uang M1 dan

    M2, dengan GDP berpengaruh positif, tingkat bunga berpengaruh negatif dan

    inflasi berpengaruh positif terhadap permintaan uang M1 dan M2. Variabel

  • 13

    dummy menunjukkan bukti bahwa krisis berpengaruh terhadap permintaan

    uang M1 dan M2, jadi adanya perbedaan pengaruh antara masa sebelum

    krisis dengan masa krisis. Variabel yang paling dominan, dari hasil estimasi

    diperoleh dari persamaan permintaan uang M1 dan M2, adalah variabel

    dummy yang mewakili periode sebelum krisis =0 dan krisis=1. Dari hasil uji

    stabilitas untuk permintaan uang M1 dan M2 dengan pendekatan variabel

    dummy, terjadi ketidakstabilan fungsi dari permintaan uang M1 dan M2.

    2. Krisis berpengaruh secara signifikan dan mempengaruhi paling dominan

    terhadap permintaan uang M1 dan M2, hal ini membuktikan krisis telah

    merubah perilaku ekonomi masyarakat di Indonesia oleh karena itu

    pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan kebijakan moneter yang

    digunakan untuk mengatasi krisis ekonomi di Indonesia. Ketidakstabilan

    fungsi dari permintaan uang M1 dan M2 yang secara tidak stabil dipengaruhi

    oleh GDP, tingkat bunga dan tingkat inflasi mengakibatkan ketidakstabilan

    sektor moneter, hal ini mengakibatkan tidak efektifnya penerapan kebijakan

    moneter yang pada akhirnya mengakibatkan kebijakan makro ekonomi tidak

    dapat berjalan secara optimal dalam usaha mengatasi krisis.

    Penelitian yang dilakukan oleh Wasis Prasojo (2003) yang berjudul

    Permintaan Uang Menurut Teori Portofolio, data yang diperoleh dalam penelitian

    ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS),

    Laporan Tahunan Bank Indonesia, JSX Monthly Statistic, serta berbagai penerbitan

  • 14

    lainnya. Bentuk data yang digunakan merupakan data time series, berdasarkan data

    kwartalan yang dimulai tahun 1995 kwartal I sampai dengan tahun 2002 kwartal III.

    Penelitian ini menggunakan alat analisis OLS (Ordinary Least Square) yang

    menggunakan model regresi. Data yang dipergunakan adalah sebagai berikut :

    1. Permintaan uang, merupakan rata-rata tertimbang penutupan setiap akhir

    bulan dari jumlah uang beredar dalam arti luas (M2)

    2. Produk Domestik Bruto (PDB), menggunakan data PDB atas dasar harga

    konstan dengan tahun dasar 1993.

    3. Tingkat bunga, tingkat bunga yang dimaksud disini adalah rata-rata

    tertimbang tingkat bunga diskonto SBI jangka waktu 1 bulan setelah

    dikurangi dengan tingkat inflasi.

    4. Inflasi triwulan, merupakan akumulasi dari tingkat inflasi yang terjadi setiap

    bulannya.

    5. Kurs, kurs yang digunakan dalam penelitian ini merupakan rata-rata

    tertimbang dari kurs tengah yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

    6. IHSG, diperoleh dari rata-rata tertimbang penutupan pasar setiap akhir bulan.

    Kesimpulan dari penelitian ini adalah :

    1. Dari hasil pengujian secara keseluruhan (uji F) didapat nilai F-hitung lebih

    besar dari F-tabel, berarti secara bersamaan variabel-variabel penjelas yaitu

    PDB, tingkat bunga, inflasi, nilai kurs Dollar Amerika Serikat, dan Indeks

    Harga Saham Gabungan mempengaruhi permintaan uang di Indonesia.

  • 15

    2. Elastisitas kekayaan (PDB) yang lebih tinggi dari elastisitas tingkat bunga

    dan inflasi, mengindikasikan bahwa banyaknya uang yang dipegang oleh

    masyarakat untuk motif transaksi dan berjaga-jaga lebih dominan jika

    dibandingkan dengan motif untuk spekulasi. Ketika tingkat kekayaan

    masyarakat semakin meningkat maka akan semakin banyak rupiah yang

    mereka butuhkan untuk transaksi, demikian juga sebaliknya.

    3. Pada variabel tingkat bunga terdapat hubungan yang tidak sesuai dengan

    hipotesis, dimana kenaikan tingkat bunga justru meningkatkan permintaan

    uang dan sebaliknya penurunan tingkat bunga maka akan menurunkan

    permintaan uang. Kondisi ini kemungkinan terjadi karena kurang sensitifnya

    tingkat bunga terhadap permintaan uang, terbukti dengan elastisitasnya yang

    rendah dan secara statistik tidak signifikan.

    4. Variabel inflasi memiliki tanda parameter yang negatif sesuai dengan

    hipotesis. Setiap kenaikan atau penurunan inflasi sebesar 1% akan

    menyebabkan penurunan atau kenaikan permintaan uang di Indonesia sebesar

    0,018644%. Variabel inflasi secara statistik berpengaruh signifikan terhadap

    permintaan uang di Indonesia.

    5. Variabel kurs Dollar Amerika Serikat memiliki hubungan yang signifikan

    positif terhadap permintaan uang di Indonesia dengan koefisien sebesar

    0,8767. Berarti setiap terjadi depresiasi rupiah terhadap Dollar Amerika

    Serikat akan maka akan meningkatkan permintaan uang di Indonesia,

  • 16

    demikian juga sebaliknya. Hal ini disebabkan ketika nilai rupiah terdepresiasi

    maka harga barang-barang impor menjadi lebih mahal sehingga diperlukan

    rupiah yang lebih banyak guna untuk membeli barang impor tersebut.

    6. Pengaruh yang secara statistik signifikan dari dari perubahan kurs Dollar

    Amerika Serikat terhadap permintaan uang di Indonesia menunjukkan bahwa

    dalam membuat model perekonomian makro di Indonesia hendaknya

    dimasukkan variabel yang relevan untuk mendeteksi pengaruh fluktuasi pasar

    dunia terhadap perilaku masyarakat di dalam negeri.

    7. Tanda koefisien pada variabel IHSG positif menunjukkan bahwa semakin

    tinggi harga saham maka jumlah uang yang dipegang semakin banyak. Hal

    ini tidak sesuai dengan hipotesis, dimana return saham memiliki hubungan

    negatif terhadap permintaan uang. Namun menurut Sugianto (1995), bahwa

    kenaikan harga saham dapat dipandang sebagai kenaikan secara rupiah

    volume transaksi keuangannya, dengan demikian menaikkan jumlah uang

    yang dipegang untuk transaksi.

    2.2 Landasan Teori

    2.2.1 Uang

    2.2.1.1 Pengertian Uang

    Uang adalah sesuatu yang secara umum diterima di dalam pembayaran

    untuk pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta untuk pembayaran utang-

  • 17

    utang. Dan juga sering dipandang sebagai kekayaan yang dimilikinya yang

    dapat digunakan untuk membayar sejumlah tertentu utang dengan kepastian

    dan tanpa penundaan. Apa yang menjadikan sesuatu menjadi uang adalah

    tergantung pada pemilihan masyarakat, hukum dan sejarahnya. Meskipun

    pemilihan tentang apa yang bertindak sebagai uang adalah tergantung kepada

    faktor-faktor tersebut, namun ada beberapa kriteria yang digunakan sebagai

    pedoman (Iswardono, 1994 : 4).

    2.2.1.2 Kriteria Uang

    2.2.1.2.1 Acceptability dan Cognizability

    Persyaratan utama dari suatu uang adalah diterima secara umum dan

    diketahui secara umum. Diterima secara umum serta penggunaannya sebagai

    alat tukar, penimbun kekayaan , standard pencicilan utang tumbuh secara luas

    karena penggunaan (manfaat) dari uang untuk ditukarkan nya dengan barang-

    barang dan jasa.

    2.2.1.2.2 Stability of Value

    Manfaat dari sesuatu yang menjadi uang memberikan adanya nilai

    uang. Maka diperlukan menjaga kestabilan nilai uang. Karena kalau tidak,

    uang tidak akan diterima secara umum, karena masyarakat mencoba

    menyimpan kekayaannya dalam bentuk barang-barang yang nilainya stabil.

  • 18

    2.2.1.2.3 Elastisity of Supply

    Jumlah uang beredar harus mencukupi kebutuhan dunia usaha

    (perekonomian). Ketidakmampuan penyediaan uang untuk mengimbangi

    kegiatan usaha akan mengakibatkan perdagangan macet dan pertukaran

    dilakukan seperti pada perekonomian barter, dimana barang ditukar dengan

    barang lain secara langsung. Oleh karena itu Bank Sentral sebagai pencipta

    uang tunggal harus mampu melihat perkembangan perekonomian yang

    selanjutnya harus mampu menyediakan uang yang cukup bagi perkembangan

    perekonomian tersebut. Dan sebaliknya Bank Sentral harus bertindak cepat

    seandainya dirasa uang yang beredar terlalu banyak dan dibandingkan

    kegiatan perekonomian, dalam hal ini Bank Sentral harus mengurangi jumlah

    uang beredar.

    2.2.1.2.4 Portability

    Uang harus mudah dibawa untuk urusan seiap hari. Bahkan transaksi

    dalam jumlah besar dapat dilakukan dengan uang dalam jumlah (fisik) yang

    kecil jika nilai nominalnya besar.

    2.2.1.2.5 Durability

    Dalam pemindahan uang dari tangan yang satu ke tangan yang lain

    mengharuskan uang tersebut dijaga nilai fisiknya. Kalau tidak, rusak ataupun

  • 19

    robek akan menyebabkan penurunan nilainya dan merusakkan kegunaan

    moneter dari uang tersebut.

    2.2.1.2.6 Divisibility

    Uang digunakan untuk memantapkan transaksi dari berbagai jumlah.

    Sehingga uang dari berbagai nominal (satuan/unit) harus dicetak untuk

    mencukupi/melancarkan transakasi jual-beli. Untuk menjamin dapat

    ditukarkannya uang satu dengan yang lainnya, semua jenis uang harus dijaga

    agar tetap nilainya.

    2.2.1.3 Fungsi Uang

    Dalam kepustakaan teori meneter uang dikenal mempunyai 4 fungsi, 2

    diantaranya merupakan fungsi yang sangat mendasar sedangkan 2 lainnya adalah

    fungsi tambahan. Dua fungsi dasar tersebut adalah peranan uang sebagai :

    (1) alat tukar (means of exchange)

    (2) alat penyimpan nilai/daya beli (store of value)

    Sebagai alat tukar, peranan uang sangat menentukan kegiatan

    perekonomian. Peranan uang sebagai alat tukar mensyaratkan bahwa uang

    tersebut harus diterima oleh masyarakat sebagai alat pembayaran. Artinya, si

    penjual barang mau menerima uang sebagai pembayaran untuk barangnya

    karena ia percaya bahwa uang tersebut juga diterima oleh orang lain

  • 20

    (masyarakat umum) sebagai alat pembayaran apabila ia nanti memerlukan

    untuk membeli suatu barang. Unsur kepercayaan ini penting sekali dan

    melandasi pemilihan barang apa yang bisa digunakan sebagai uang.

    Sekarang kebanyakan Negara menggunakan uang kertas, karena murah

    membuatnya dan mudah menyimpannya. Jadi kertas pun bisa berperan

    sebagai uang apabila orang percaya bahwa secarik kertas tersebut juga

    diterima oleh orang lain sebagai alat pembayaran (Boediono, 2005 :10).

    Fungsi dasar yang kedua dari uang, yaitu sebagai alat penyimpan daya

    beli (nilai), terkait dengan sifat manusia sebagai pengumpul kekayaan.

    Pemegangan uang merupakan salah satu cara untuk menyimpan kekayaan.

    Tentu kekayaan bisa dipegang dalam bentuk-bentuk lain, seperti tanah,

    kerbau, berlian, emas, saham, mobil dan sebagainya. Tetapi uang memang

    salah satu pilihan untuk menyimpan kekayaan. Syarat utama untuk ini adalah

    bahwa uang harus bisa menyimpan daya beli atau nilai. Apabila tidak,

    maka daya tarik uang sebagai penyimpan kekayaan juga berkurang. Jadi,

    misalnya dalam keadaan inflasi yang parah, nilai uang (untuk ditukar barang)

    merosot cepat, sehingga orang enggan memegang uang dan lebih suka

    memegang barang. Uang kehilangan fungsinya sebagai store of value.

    Sebaliknya dalam masa stabil atau masa deflasi (harga-harga turun) uang

    sangat dicari orang sebagai penyimpan kekayaan (Boediono, 2005 : 11).

  • 21

    Penyimpanan uang ini dimaksud untuk mempermudah transaksi di saat

    ini ataupun di masa yang akan datang. Kenapa uang yang disimpan?, karena

    uang dapat segera digunakan langsung untuk membeli barang-barang dan

    jasa atau karena uang mempunyai sifat yang liquid, mudah digunakan dalam

    transaksi atau dalam pembayaran cicilan utang (Iswardono, 1994 : 9).

    Dua fungsi lainnya adalah sebagai :

    (3) satuan hitung (unit of account)

    (4) ukuran untuk pembayaran masa depan (standard for deffered

    payments)

    Salah satu fungsi uang secara umum adalah sebagai satuan hitung unit

    of account. Satuan hitung dalam hal ini dimaksud sebagai alat yang

    digunakan untuk menunjukkan nilai dari barang-barang dan jasa yang dijual

    (beli), besarnya kekayaan serta menghitung besar-kecilnya kredit atau hutang

    atau dapat dikatakan sebagai alat yang digunakan dalam menentukan harga

    barang dan jasa. Seandainya tidak ada uang misalnya maka akan terjadi

    ketidakseragaman di dalam satuan hitung (Iswardono, 1994 : 6).

    Sebagai satuan hitung, uang juga mempermudah tukar-menukar. Fungsi

    ini kurang fundamental dibanding dengan kedua fungsi sebelumnya. Karena

    fungsi ini hampir otomatis mengikuti fungsi uang sebagai alat tukar. Dan

  • 22

    kalaupun uang tidak dipakai sebagai satuan hitung, sebenarnya pertukaran

    lewat uang masih bisa terjadi.

    Sebagai ukuran pembayaran masa depan, uang terkait dengan transaksi

    pinjam-meminjam atau transaksi kredit, artinya barang sekarang dibayar

    nanti atau uang sekarang dibayar dengan uang nanti. Dalam hubungan

    ini, uang merupakan salah satu cara menghitung pembayaran masa depan

    tersebut (Boediono, 2005 : 13).

    2.2.2 Teori-teori Permintaan Uang

    2.2.2.1 Teori Klasik

    Teori ini sebenarnya adalah teori mengenai permintaan dan penawaran

    akan uang, beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori ini adalah pada

    hubungan antara penawaran uang atau jumlah uang beredar dengan nilai uang

    atau tingkat harga. Hubungan dua variable dijabarkan lewat konsepsi teori

    mereka mengenai permintaan akan uang. Perubahan akan jumlah uang

    beredar atau penawaran uang berinteraksi dengan permintaan akan uang dan

    selanjutnya menentukan nilai uang.

    2.2.2.1.1 Irving Fisher

    MVt = PT.(1)

  • 23

    Dalam setiap transaksi selalu ada pembeli dan penjual. Jumlah uang yang

    dibayarkan oleh pembeli harus sama dengan uang yang diterima oleh penjual.

    Hal ini berlaku juga untuk seluruh perekonomian: didalam suatu periode

    tertentu nilai dari barang-barang atau jasa-jasa yang dibeli harus sama dengan

    nilai dari barang yang dijual. Nilai dari barang yang dijual sama dengan

    volume transaksi (T) dikalikan harga rata-rata dari barang tersebut (P). Dilain

    pihak nilai dari barang yang ditransaksikan ini harus sama dengan volume

    uang yang ada dimasyarakat (M) dikalikan berapa kali rata-rata uang bertukar

    dari tangan satu ke tangan yang lain, atau rata perputaran uang, dalam

    periode tersebut (Vt). MVt = PT adalah suatu identitas, dan pada dirinnya

    bukan merupakan suatu teori moneter. Identitas ini bisa dikembangkan,

    seperti oleh Fisher, menjadi teori moneter sebagai berikut:

    Vt, atau transaction velocity of circulation adalah suatu variable yang

    ditentukan oleh faktor-faktor kelembagaan yang ada didalam suatu

    masyarakat, dan dalam jangka pendek bisa dianggap konstan. T, atau volume

    transaksi, dalam periode tertentu ditentukan oleh tingkat output masyarakat

    (pendapatan nasional). Identitas tersebut diberi nyawa dengan

    mentransformasikannya dalam bentuk:

    Md = 1/Vt PT.(2)

  • 24

    Permintaan atau kebutuhan akan uang dari masyarakat adalah suatu

    proporsi tertentu 1/Vt dari nilai transaksi (PT). Persamaan 2, bersama dengan

    persamaan yang menunjukkan posisi equilibrium di sektor moneter

    Md = Ms.(3)

    Dimana Ms = supply uang beredar (yang dianggap ditentukan oleh

    pemerintah) menghasilkan

    Ms = 1/Vt PT..(4)

    Persamaan (4) berbunyi: dalam jangka pendek tingkat harga umum (P)

    berubah secara proporsional dengan perubahan uang yang diedarkan oleh

    pemerintah. Dalam teori ini T ditentukan oleh tingkat output equilibrium

    masyarakat, yang untuk Fisher dan para ahli ekonomi Klasik, adalah selalu

    pada posisi full employment (Hukum Say atau Says Law). Vt atau

    transaction velocity of circulation, Fisher mengatakan bahwa permintaan

    akan uang timbul dari penggunaan uang dalam proses transaksi. Besar-

    kecilnya Vt ditentukan oleh sifat proses transaksi yang berlaku di masyarakat

    dalam suatu periode (Boediono,2005 : 18).

    2.2.2.1.2 Teori Cambridge (Marshall-Pigou)

    Teori ini seperti halnya teori Fisher dan teori-teori klasik lainnya,

    berpangkal pokok pada fungsi uang sebagai alat tukar umum (means of

  • 25

    exchange). Karena itu, teori-teori Klasik melihat kebutuhan uang atau

    permintaan akan uang dari masyarakat sebagai kebutuhan akan alat tukar

    yang likuid untuk tujuan transaksi. Perbedaan utama antara teori ini dengan

    Fisher, terletak pada tekanan dalam teori permintaan uang Cambridge pada

    perilaku individu dalam mengalokasikan kekayaannya antara berbagai

    kemungkinan bentuk kekayaan, yang salah satunya berbentuk uang. Perilaku

    ini dipengaruhi oleh pertimbangan untung-rugi dari pemegang kekayaan

    dalam bentuk uang. Teori Cambridge lebih menekankan faktor-faktor

    perilaku (pertimbangan untung-rugi) yang menghubungkan antara

    permintaan akan uang seseorang dengan volume transaksi yang

    direncanakannya. Teoritisi Cambridge mengatakan bahwa permintaan akan

    uang selain dipengaruhi oleh volume transaksi dan faktor kelembagaan

    (Fisher), juga dipengaruhi oleh tingkat bunga, besar kekayaan warga

    masyarakat, dan ramalan/harapan dari masyarakat mengenai masa

    mendatang.

    Jadi dalam jangka pendek, teoritisi Cambridge menganggap bahwa

    jumlah kekayaan, volume transaksi dan pendapatan nasional mempunyai

    hubungan yang proporsional-konstan satu sama lainnya. Teori Cambridge

    menganggap bahwa, ceteris paribus permintaan akan uang adalah

    proporsional dengan tingkat pendapatan nasional.

    Md = k PY(1)

  • 26

    dimana Y adalah pendapatan nasional riil.

    Supply akan uang (Ms) dianggap ditentukan oleh pemerintah. Dalam

    posisi keseimbangan maka :

    Ms = Md...(2)

    sehingga :

    Ms = k PY(3)

    atau :

    P = 1/k Ms Y....(4)

    Jadi ceteris paribus tingkat harga umum (P) berubah secara proporsional

    dengan perubahan volume uang yang beredar. Tidak banyak berbeda dengan

    teori Fisher, kecuali tambahan ceteris paribus (yang berarti tingkat harga,

    pendapatan nasional riil, tingkat bunga dan harapan adalah konstan).

    Perbedaan ini cukup penting, karena teori Cambridge tidak menutup

    kemungkinan bahwa faktor-faktor seperti tingkat bunga dan expectation

    berubah, walaupun dalam jangka pendek. Dan kalau faktor-faktor berubah

    maka k juga berubah. Teori Cambridge mengatakan kalau tingkat bunga naik,

    ada kecenderungan masyarakat mengurangi uang yang ingin mereka pegang,

    meskipun volume transaksi yang mereka rencanakan tetap. Demikian juga

    faktor expectation mempengaruhi: bila seandainya masa datang tingkat bunga

  • 27

    akan naik (yang berarti penurunan surat berharga atau obligasi) maka orang

    akan cenderung untuk mengurangi jumlah surat berharga yang dipegangnya

    dan menambah jumlah uang tunai yang mereka pegang, dan ini pun bisa

    mempengaruhi k dalam jangka pendek (Boediono, 2005: 23).

    2.2.2.2 Teori Keynes

    Meskipun bisa dikatakan bahwa teori uang Keynes adalah teori yang

    bersumber dari teori Cambridge, tetapi Keynes mengemukakan sesuatu yang

    berbeda dengan teori moneter tradisi klasik. Pada hakekatnya perbedaan ini

    terletak pada penekanan pada fungsi uang yang lain, yaitu sebagai store of

    value dan bukan hanya sebagai means of exchange. Teori ini kemudian

    dikenal dengan nama teori Liquidity Preference.

    2.2.2.2.1 Motif Transaksi dan Berjaga-jaga

    Orang memegang uang guna memenuhi dan melancarkan transaksinya,

    dan permintaan akan uang dari masyarakat untuk tujuan ini sangat

    dipengaruhi oleh tingkat pendapatan nasional dan tingkat bunga. Semakin

    tinggi tingkat pendapatan semakin besar volume transaksi dan semakin besar

    pula kebutuhan uang untuk tujuan transaksi. Permintaan uang untuk tujuan

    transaksi ini pun tidak merupakan suatu proporsi yang selalu konstan, tetapi

    dipengaruhi pula oleh tinggi rendahnya tingkat bunga. Hanya saja faktor

    tingkat bunga untuk permintaan transaksi untuk uang ini tidak ditekankan

  • 28

    oleh Keynes, akan tetapi tingkat bunga ditekankan pada permintaan uang

    untuk tujuan spekulasi.

    Motif berjaga-jaga (precautionary motive), orang akan mendapat manfaat

    dari memegang uang untuk menghadapi keadaan-keadaan yang tidak terduga,

    karena sifat uang yang liquid, yaitu mudah ditukarkan dengan barang-barang

    lain. Menurut Keynes permintaan uang untuk tujuan berjaga-jaga ini

    dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama dengan faktor yang mempengaruhi

    permintaan uang untuk transaksi, yaitu terutama dipengaruhi pula oleh

    tingkat penghasilan orang tersebut, dan mungkin dipengaruhi pula oleh

    tingkat bunga (meskipun tidak kuat pengaruhnya).

    2.2.2.2.2 Motif Spekulasi

    Sesuai dengan namanya , motif dari memegang uang ini adalah terutama

    untuk tujuan memperoleh keuntungan yang bisa diperoleh dari seandainya si

    pemegang uang tersebut meramal apa yang akan terjadi dengan benar. Pada

    teori Cambridge faktor ketidaktentuan masa depan (uncertainly) dan faktor

    harapan (expectations) dari pemilik kekayaan bisa mempengaruhi permintaan

    akan uang dari pemilik kekayaan tersebut. Namun sayangnya teori ini tidak

    pernah membakukan faktor-faktor ini ke dalam perumusan teori moneter

    mereka. (Kita lihat bahwa bentuk permintaan dari teori Cambridge tidak

    berbeda dengan Fisher, dan faktor-faktor ini hanya masuk analisa secara

  • 29

    kualitatif). Perumusan permintaan uang untuk motif spekulasi dari Keynes

    merupakan langkah formalisasi dari faktor-faktor ini ke dalam teori

    moneter.

    Keynes tidak membicarakan faktor uncertainly dan expectations

    hanya secara umum, seperti teori Cambridge. Tetapi ia membatasi

    uncertainly dan expectations mengenai satu variable yaitu tingkat bunga.

    Pada garis besarnya teori Keynes membatasi pada keadaan dimana pemilik

    kekayaan bisa memilih memegang kekayaannya dalam bentuk uang tunai

    atau obligasi (bond). Uang tunai dianggap tidak memberikan penghasilan

    sedangkan obligasi dianggap memberikan berupa sejumlah uang tertentu

    setiap periode. Dalam teori Keynes dibicarakan khusus obligasi yang

    memberikan suatu penghasilan berupa sejumlah uang tertentu setiap periode

    selama waktu yang tak terbatas (perpetuity).

    Secara umum bisa ditulis dengan persamaan sebagai berikut :

    K = RP(1)

    Dimana K adalah hasil per tahun yang diterima, R adalah tingkat bunga,

    dan P adalah harga pasar atau nilai sekarang dalam obligasi perpetuity

    tersebut. Persamaan tersebut bisa juga ditulis sebagai berikut :

    P = K/R..(2)

  • 30

    yang menunjukkan bahwa (karena K adalah konstan) harga pasar obligasi

    (P) berbanding terbalik dengan tingkat bunga R bila tingkat bunga turun,

    maka berarti harga pasar obligasi naik, dan sebaliknya bila tingkat bunga naik

    maka harga pasar obligasi turun, atau dengan kata lain semakin tinggi tingkat

    suku bunga semakin rendah permintaan uang tunai oleh seseorang atau

    masyarakat. Karena, semakin tinggi tingkat suku bunga, maka semakin besar

    ongkos memegang uang tunai sehingga seseorang atau masyarakat lebih baik

    membeli obligasi. Sebaliknya apabila tingkat suku bunga semakin rendah

    maka semakin rendah pula ongkos memegang uang tunai dan semakin besar

    seseorang atau masyarakat untuk menyimpan uang tunai.

    Permintaan total akan uang :

    Bentuk yang sederhana dari fungsi permintaan (total) akan uang dari teori

    Keynes adalah:

    Md/P = [ k Y + (R, W) ].(1)

    Md/P adalah permintaan uang total dalam arti riil, suku pertama dalam

    kurung, yaitu k Y adalah permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga,

    yang dinyatakan sebagai suatu proporsi (k) dari pendapatan nasional riil.

    (R, W) adalah permintaan akan uang untuk motif spekulasi yang dinyatakan

    sebagai fungsi dari tingkat bunga yang berlaku (R) dan nilai asset (kekayaan

    atau wealth) yang ada di masyarakat (W). Variable W ini dimasukkan karena

  • 31

    permintaan uang untuk motif spekulasi dinyatakan sebagai bagian dari W

    yang dipegang dalam bentuk uang tunai. Persamaan (1) tersebut bisa pula

    dinyatakan dalam bentuk permintaan akan uang dalam satuan moneter

    sebagai berikut :

    Md = [ k Y + (R, W) ] P..(2)

    dalam analisa jangka pendek W biasanya dianggap konstan sehingga

    fungsi (2) menjadi :

    Md = [ k Y + (R) ] P(3)

    dimana (R) = (R,W), dalam posisi equilibrium, supply uang (Ms),

    yang dianggap juga oleh Keynes sebagai variable yang ditentukan oleh

    pemerintah, sama dengan Md. Sehingga :

    Ms = [ k Y + (R) ] P(4)

    Teori permintaan uang Keynes mempunyai implikasi bahwa fungsi

    permintaan akan uang (Liquidity Preference) adalah fungsi yang tidak stabil,

    dalam arti bahwa fungsi ini bisa bergeser dari waktu ke waktu. Hal ini karena

    Keynes menekankan faktor uncertainly dan expectation dalam menentukan

    posisi permintaan uang untuk tujuan spekulasi (Boediono, 2005 : 27).

  • 32

    2.2.2.3 Teori Kuantitas Modern (Friedman)

    Friedman tidak bertitik tolak dari pembahasan yang mendalam mengenai

    motif-motif memegang uang. Secara umum dianggap bahwa orang mau

    memegang uang karena uang adalah salah satu bentuk aktiva (asset) yang

    memberikan manfaat karena merupakan sumber daya beli yang liquid

    (readily available source of purchasing power). Teori permintaan uang

    Friedman menganggap bahwa pemilik kekayaan memutuskan aktiva-aktiva

    apa (termasuk uang tunai) dan berapa yang akan ia pegang atas dasar

    perbandingan manfaat (penghasilan dalam bentuk uang ataupun dalam

    bentuk in natura ataupun utility), selera dan jumlah kekayaannya.

    Pengertian kekayaan dari Friedman mempunyai ciri khas, yaitu bahwa

    yang dimasukkan dalam definisi kekayaan tidak hanya aktiva-aktiva yang

    berbentuk uang atau bisa diubah (dijual) menjadi uang, tetapi juga nilai

    (tepatnya,nilai sekarang atau present value) dari aliran aliran penghasilan

    di tahun-tahun mendatang dari tenega kerjanya. Friedman berpendapat bahwa

    kekayaan tidak lain adalah nilai sekarang dari aliran-aliran penghasilan

    yang diharapkan dari aktiva - aktiva yang dipegang. Konsep kekayaan dari

    Friedman ini merupakan suatu inovasi dalam teori ekonomi mengenai capital,

    dan sekaligus merupakan jembatan antara teori permintaan biasa (untuk

    barang dan jasa) dengan teori capital.

  • 33

    Pengertian yang kedua adalah konsep manfaat. Manfaat dari setiap

    bentuk aktiva merupakan faktor pertimbangan dari pemilik kekayaan untuk

    memutuskan berapa jumlah dari masing-masing bentuk aktiva yang akan ia

    pegang. Disebut diatas bahwa Marginal Rate of Substitution dari suatu aktiva

    terhadap aktiva-aktiva lain menurun dengan makin besarnya jumlah aktiva

    tersebut yang dipegang. Ini berarti bahwa bila seseorang memegang terlalu

    banyak satu bentuk aktiva, misalnya uang maka manfaat marginal dari uang

    akan menjadi lebih kecil dari pada marginal returns dari aktiva-aktiva yang

    lain. Ini berarti bahwa ia bila ia mengurangi jumlah uang yang ia pegang dan

    menggantinya dengan aktiva-aktiva lain berupa obligasi, surat-surat berharga

    lainnya ataupun aktiva fisik seperti mobil, rumah, mesin dan sebagainya,

    maka orang tersebut akan memperoleh manfaat total yang lebih besar.

    Jadi, menurut pandangan Friedman permintaan uang ditentukan oleh

    faktor seperti berikut : tingkat harga, suku bunga obligasi, suku bunga

    equities, modal fisik dan kekayaan mengenai peranan harga dalam

    menentukan permintaan uang, Friedman berpendapat dikarenakan memegang

    uang adalah salah satu cara untuk menyimpan kekayaan. Cara-cara yang lain

    adalah menyimpan uang dalam bentuk harta keuangan (financial asset)

    seperti obligasi, deposito dan saham, menyimpan dalam bentuk harta tetap

    (tanah dan rumah) dan kekayaan manusiawi (Boediono, 2005 : 63).

  • 34

    Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang seperti

    diatas, teori permintaan yang didasarkan pada teori kuantitas modern yang

    dikembangkan oleh Friedman dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :

    Md = f (P, r, rFC, Y)

    Dimana Md adalah permintaan uang nominal, P adalah tingkat harga, r

    adalah tingkat suku bunga, rFC adalah tingkat pengembalian modal fisik dan

    Y adalah pendapatan dan kekayaan. Apabila dipertimbangkan pula

    pandangan Friedman mengenai permintaan uang riil, maka persamaan

    permintaan uang dinyatakan :

    Md/P = f (P, r, Y*)

    Dimana Md/P adalah permintaan uang riil, P adalah tingkat kenaikan

    harga, r adalah tingkat bunga dan Y* adalah nilai pendapatan dan kekayaan

    riil.

    Model permintaan uang riil diatas masih dalam bentuk umum, secara

    spesifik, bentuk fungsi diatas masih sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor

    lain seperti perkembangan institusi keuangan dan kelembagaan lainnya yang

    terkait didalam perekonomian dan juga oleh kebijakan-kebijakan yang

    dilakukan oleh pemerintah (Sidiq, 2005 : 33).

  • 35

    2.3 Penjelasan Teoritis Variable Penelitian

    2.3.1 Pengaruh PDB Terhadap Permintaan Uang

    Pendapatan Nasional menggambarkan tingkat produksi negara yang dicapai

    dalam satu tahun tertentu dan perubahannya dari tahun ke tahun. Maka ia

    mempunyai peranan penting dalam menggambarkan (i) tingkat kegiatan ekonomi

    yang dicapai, dan (ii) perubahan pertumbuhannya dari tahun ke tahun. Produk

    nasional atau pendapatan nasional adalah istilah yang menerapkan tentang nilai

    barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan sesuatu negara dalam suatu tahun

    tertentu (Sukirno, 2004 : 17)

    Implikasi dari teori Fisher bahwa Permintaan akan uang didalam suatu

    masyarakat merupakan suatu proporsi tertentu dari volume transaksi, dan volume

    transaksi merupakan suatu proporsi konstan pula dari tingkat output masyarakat

    (pendapatan nasional). Jadi permintaan akan uang pada analisa akhir ditentukan oleh

    tingkat pendapatan nasional saja (Boediono, 2005 : 20).

    2.3.2 Pengaruh Tingkat Bunga Terhadap Permintaan Uang

    Permintaan uang untuk tujuan spekulasi hanya dikenal oleh pengikut Keynes

    sedang kaum klasik tidak sependapat tentang hal tersebut. Dalam permintaan uang

    untuk spekulasi ini tergantung pada tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat suku

    bunga semakin rendah permintaan uang tunai oleh seseorang atau masyarakat.

    Alasannya adalah semakin tinggi tingkat suku bunga, maka semakin besar ongkos

  • 36

    memegang uang tunai sehingga seseorang atau masyarakat lebih baik membeli

    obligasi. Sebaliknya semakin rendah tingkat suku bunga maka semakin rendah

    ongkos memegang uang tunai dan semakin besar seseorang atau masyarakat

    menyimpan uang tunai (Sidiq, 2005).

    2.3.3 Pengaruh Inflasi Terhadap Permintaan Uang

    Pada saat krisis terjadi peningkatan jumlah uang yang cukup pesat,

    peningkatan keinginan masyarakat untuk memegang uang tunai disebabkan karena

    hilangnya kepercayaan terhadap system perbankan yang ada dengan terjadinya rush

    atau pengambilan uang secara serentak yang dilakukan oleh masyarakat pada bank-

    bank di seluruh Indonesia, adanya inflasi menyebabkan masyarakat membutuhkan

    uang yang lebih banyak karena harga barang-barang membumbung tinggi, sehingga

    masyarakat membutuhkan uang yang lebih banyak untuk melakukan transaksi.

    2.3.4 Pengaruh Kurs Dollar Terhadap Permintan Uang

    Variabel kurs Dollar Amerika Serikat memiliki hubungan yang signifikan

    positif terhadap permintaan uang di Indonesia. Berarti setiap terjadi depresiasi rupiah

    terhadap Dollar Amerika Serikat maka akan meningkatkan permintaan uang di

    Indonesia, demikian juga sebaliknya. Hal ini disebabkan ketika nilai rupiah

    terdepresiasi maka harga barang-barang impor menjadi lebih mahal sehingga

    diperlukan rupiah yang lebih banyak guna untuk membeli barang impor tersebut

    (Prasojo, 2003).

  • 37

    2.4 Hipotesis Penelitian

    Hipotesis yang digunakan dalam melakukan penelitian ini antara lain :

    a. Diduga PDB berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap

    permintaan uang baik M1 maupun M2.

    b. Diduga tingkat suku bunga akan berpengaruh secara negatif dan

    signifikan terhadap permintaan uang baik M1 maupun M2.

    c. Diduga inflasi akan berpengaruh secara positif dan signifikan

    terhadap permintaan uang baik M1 maupun M2.

    d. Diduga kurs Dollar Amerika terhadap Rupiah akan berpengaruh

    secara positif dan signifikan terhadap permintaan uang baik M1

    maupun M2.

    e. Diduga krisis akan berpengaruh terhadap permintaan uang baik M1

    maupun M2.

  • 38

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    3.1 Jenis dan Sumber Data

    Data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data

    yang diperoleh dan dibuat oleh pihak lain yang dikumpulkan dalam rentan waktu

    tertentu. Data ini dikumpulkan dalam interval waktu secara kontinu (time series).

    Merupakan data sekunder yang diperoleh dari :

    a. Kantor BPS (Biro Pusat Statistik) DIY.

    b. Bank Indonesia.

    c. Sumber-sumber lain yang mendukung penelitian ini.

    3.2 Metode Analisis Data

    Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif dan kuantitatif,

    yaitu mendiskripsikan suatu permasalahan dan menganalisis data dan hal-hal yang

    berhubungan dengan angka-angka atau rumus-rumus perhitungan yang digunakan

    untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti.

  • 39

    3.2.1 Pemilihan Model Regresi

    Pemilihan model regresi ini menggunakan uji Mackinnon, White and

    Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan apakah model yang akan di

    gunakan berbentuk linier atau log linier.

    Persamaan matematis untuk model regresi linier dan regresi log linier adalah

    sebagai berikut :

    - Linier Y = o + 1 X1 + 2 X2 + 3X3 + 4X4 + 5Di + e

    - Log Linier lnY = o + 1 lnX1 + 2 lnX2 + 3 lnX3 + 4 lnX4 + 5 lnDi + e

    Untuk melakukan uji MWD ini kita asumsikan bahwa :

    Ho : Y adalah fungsi linier dari variabel independen X (model linier)

    H1 : Y adalah fungsi log linier dari varibel independen X (model log linier)

    Adapun prosedur metode MWD adalah sebagai berikut :

    1. Estimasi model linier dan dapatkan nilai prediksinya (fitted value) dan

    selanjutnya dinamai F1.

    2. Estimasi model log linier dan dapatkan nilai prediksinya, dan selanjutnya

    dinamai F2.

    3. Dapatkan nilai Z1 = ln F1-F2 dan Z2 = antilog F2-F1.

    4. Estimasi persamaan berikut ini :

  • 40

    Y = 0 + 1 x1 + 2 x2 + 3 x3 + 4 x4 + 5 Di + 6 Z1 + e

    Jika Z1 signifikan secara statistik melalui uji t maka kita menolak hipotesis

    nul bahwa model yang benar adalah model log linier dan sebaliknya jika tidak

    signifikan maka kita menerima hipotesis nul bahwa model yang benar adalah model

    linier

    5. Estimasi persamaan berikut :

    lnY = 0 + 1 ln x1 + 2 ln x2 +3 ln x3 +4 ln x4+ 5 Di +6 Z2 + e

    Jika Z2 signifikan secara statistik melalui uji t maka kita menolak hipotesis

    alternatif dan model yang benar adalah model linier dan sebaliknya jika tidak

    signifikan maka kita menerima hipotesis alternatif dan model yang benar adalah

    model log linier.

    3.2.2 Persamaan Regresi

    Secara umum regresi adalah berkenaan dengan studi ketergantungan satu

    variable (variable tak bebas) pada satu atau lebih variable lain (variable yang

    menjelaskan), dengan maksud untuk menaksir atau meramalkan nilai rata-rata hitung

    (mean) atau rata-rata (populasi) variable tak bebas, yang di pandang dari segi nilai

    yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sample berulang-ulang) dari variable

    yang menjelaskan.

    Tujuan dari regresi ada tiga, antara lain : (Damodar Gujarati, 1999 : 124 )

  • 41

    1. Untuk mengestimasi nilai rata-rata variable tak bebas dan

    nilai rata-rata variable bebas tertentu.

    2. Untuk menguji hipotesis mengenai sifat alamiah

    ketergantungan hipotesis.

    3. Untuk memprediksi atau meramalkan nilai rata-rata

    variabel tak bebas dan nilai rata-rata variabel bebas tertentu.

    Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan uang di

    Indonesia pada tahun 1990.1 2005.4. Bentuk regresi yang di gunakan dalam

    analisis ini adalah bentuk regresi linear yang menggunakan variabel Dummy, yang

    mana untuk mengetahui model hubungan antar varibel dependent dengan variabel

    independent dan bertujuan untuk membandingkan masa sebelum krisis dan setelah

    krisis, dimana dalam penelitian ini menggunakan 5 variabel ( 4 variabel independent

    dan 1 variabel Dummy) dan asumsinya pasar dalam keseimbangan Md = Ms.

    Bentuk secara umum dari metode ekonometrika yang di pergunakan dalam

    penelitian ini adalah sebagai berikut :

    Linear Ym1 = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5Di + e

    Linear Ym2 = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5Di

    + e

  • 42

    Log Linear lnYm1 = 0 + 1 ln X1 + 2 ln X2 + 3 ln X3 + 4 ln X4 + 5 ln Di + e

    Log Linear lnYm2 = 0 + 1 ln X1 + 2 ln X2 + 3 ln X3 + 4 ln X4 + 5 ln Di + e

    Dimana :

    Ym1 = Permintaan / Penawaran Uang M1 (milyar)

    Ym2 = Permintaan / Penawaran Uang M2 (milyar)

    0 = Konstanta M1

    0 = Konstanta M2

    1, 2, 3, 4 = Koefisien Regresi M1

    1, 2, 3, 4 = Koefisian Regresi M2

    e = Variabel Pengganggu

    X1 = PDB harga konstan 1993 menurut lapangan usaha (milyar)

    X2 = Tingkat suku bunga deposito berjangka 3 bulan pada bank

    umum (persen)

    X3 = Tingkat inflasi, yang digunakan adalah Indeks Harga

    Konsumen (persen)

  • 43

    X4 = Kurs Dollar Amerika terhadap Rupiah (rupiah)

    Di = Dummy variabel 0 = sebelum krisis, 1 = setelah krisis

    Dari hasil analisis regresi linear tersebut akan diperoleh koefisien regresi

    linear dari masing-masing variabel. Untuk menguji setiap koefisien regresi yang

    akan diperoleh dengan menggunakan bantuan alat analisis E-views.

    3.3 Pengujian Hipotesa

    Untuk menguji bisa atau tidak model regresi tersebut di gunakan dan untuk

    menguji kebenaran hipotesis yang dilakukan, maka diperlukan pengujian statistik,

    antara lain :

    3.3.1 Uji t

    Hal ini dilakukan dengan cara pengujian variabel-variabel independent secara

    parsial (individu), digunakan untuk mengetahui signifikasi dan pengaruh variabel

    independent secara individu terhadap variasi terhadap variabel independent lainnya.

    Disini peneliti menggunakan uji t melalui probabilitas, penjelasannya sebagai berikut

    :

    t-hitung = i

    SE (i)

    Dengan 5% maka Hipotesis yang digunakan :

  • 44

    Ho : i < 0 ; berarti variabel independent tidak mempengaruhi variabel

    dependent.

    Hi : i > 0 ; berarti variabel independent mempengaruhi variabel dependent.

    Apabila probabilitas < dari 0.05, maka dapat dikatakan signifikan.

    Dalam penelitian ini peneliti mengambil keputusan dengan menggunakan

    probabilitas.

    3.3.2 Uji F

    Hal ini dilakukan dengan cara pengujian terhadap variabel-variabel

    independent secara bersama-sama yang dilakukan untuk melihat pengaruh variabel

    independent secara individu terhadap variabel dependent. Disini peneliti melakukan

    uji F dengan menggunakan probabilitas, perhitungannya adalah sebagai berikut :

    F-hitung = R2 / (K 1 )

    (1 R2 )/(n K)

    Hipotesis yang digunakan :

    Ho : 1 = 2 = 3 = 0 , maka variabel independent secara bersama-sama

    tidak mempengaruhi variabel dependent.

    Ha : 1 2 3 0 , maka variabel independent secara bersama-sama

    mempengaruhi variabel dependent.

  • 45

    Apabila probabilitas (F-Statistik) < dari 0.05 , maka bisa dikatakan signifikan.

    Dalam penelitian ini, peneliti mengambil keputusan dengan menggunakan

    probabilitas.

    3.3.3 Koefisien Determinasi (R2)

    Nilai R2 menunjukan besarnya variabel-variabel independent dalam

    mempengaruhi variabel dependent. Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 ( 0 R2 1 ).

    Semakin besar nila R2, maka semakin besar variasi variabel dependent yang dapat

    dijelaskan oleh variasi variabel-variabel independent. Sebaliknya, makin kecil nilai

    R2, maka semakin kecil variasi variabel dependent yang dapat di jelaskan oleh

    variasi variabel independent.

    Sifat dari koefisien determinasi adalah :

    R2 merupakan besaran yang non negatif. Batasnya adalah ( 0 R2 1 ). (Damodar Gujarati)

    Apabila R2 bernilai 0 berarti tidak ada hubungan antara variabel-variabel

    independent dengan variabel dependent. Semakin besar nilai R2 maka semakin tepat

    garis regresi dalam menggambarkan nilai-nilai observasi.

  • 46

    3.3.4 Uji Chow

    Uji Chow merupakan uji perubahan struktural pada model regresi. Adanya

    perubahan struktural ini berarti nilai estimasi tidak sama dalam periode penelitian.

    Dengan kata lain perubahan struktural ini akan menyebabkan adanya perbedaan

    dalam intersep (konstanta) atau slope atau kemugkinan adanya perbedaan baik

    intersep maupun slope garis regresi.

    Kita akan menggunakan model linear permintaan uang untuk mengetahui

    adakah terjadi perubahan struktural akibat krisis moneter dalam penelitian 1990-

    2005. Model regresi linear permintaan uang adalah sebagai berikut:

    Linear Ym1 = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5Di + e

    Linear Ym2 = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5Di

    + e

    Dimana :

    Ym1 = Permintaan / Penawaran Uang M1 (milyar)

    Ym2 = Permintaan / Penawaran Uang M2 (milyar)

    0 = Konstanta M1

    0 = Konstanta M2

  • 47

    1, 2, 3, 4 = Koefisien Regresi M1

    1, 2, 3, 4 = Koefisian Regresi M2

    e = Variabel Pengganggu

    X1 = PDB harga konstan 1993 menurut lapangan usaha (milyar)

    X2 = Tingkat suku bunga deposito berjangka 3 bulan pada bank

    umum (persen)

    X3 = Tingkat inflasi, yang digunakan adalah indeks Harga

    Konsumen (persen)

    X4 = Kurs Dollar Amerika terhadap Rupiah (rupiah)

    Di = Dummy variabel 0 = sebelum krisis, 1 = setelah krisis

    Ada tidaknya perubahan struktural maka waktu periode penelitian dibagi

    menjadi dua yaitu 1990.1-1997.2 dan 1997.3-2005.4. Periode pertama dan dengan

    jumlah observasi n1 = 30 merupakan periode sebelum krisis moneter dan periode

    kedua dengan jumlah observasi n2 = 34 masa setelah krisis. Periode sebelum krisis

    1990.1-1997.2 :

    Ym1 = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5Di + e

    Ym2 = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5Di + e

  • 48

    Periode setelah krisis 1997.2-2005.4 :

    Ym1 = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5Di + e

    Ym2 = 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5Di + e

    Jika ada perubahan struktural maka kemungkinan hasilnya adalah dua yaitu

    regresi tersebut mempunyai intersep yang berbeda atau slope berbeda baik intersep

    maupun slope berbeda. Tetapi jika tidak ada perubahan struktural maka kita dapat

    menggabungkan regresi n1 dan n2.

    Menurut Chow, jika terjadi perubahan struktural didalam persamaan regresi

    maka RSS1 dan RSSUR seharusnya adalah sama secara statistik. Jika nilai F hitung

    tersebut lebih besar dari nilai F kritis maka kita menolak hipotesis tidak adanya

    perubahan struktural atau terjadi perubahan struktural dan sebaliknya jika F hitung

    lebih kecil dari nilai F kritis maka tidak terjadi perubahan struktural.

    3.4 Uji Asumsi Klasik

    Pada prakteknya, beberapa masalah sering muncul pada saat analisis regresi

    digunakan untuk mengestimasi suatu model dengan sejumlah data. Masalah tersebut

    dalam buku ekonometrika termasuk dalam pengujian asumsi klasik yaitu ada

    tidaknya masalah heterokedastisitas, autokorelasi, dan multikolinearitas. Terjadinya

    penyimpangan terhadap asumsi klasik tersebut diatas akan menyebabkan uji statistik

    (uji t-stat dan f-stat) yang dilakukan menjadi tidak valid dan secara statistik akan

    mengacaukan kesimpulan yang diperoleh.

  • 49

    3.4.1 Uji Multikolinearitas

    Multikolineritas adalah tidak adanya hubungan hubungan linear antar

    variabel independent dalam suatu model regresi. Suatu model regresi dikatakan

    terkena multikolinearitas bila terjadi hubungan linear yang sempurna atau pasti di

    antara beberapa atau semua varibel bebas dari suatu model regresi. Akibatnya akan

    kesulitan untuk dapat melihat pengaruh variabel independent terhadap variabel

    dependentnya.

    Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dapat dengan membandingkan

    nilai koefisien determinasi parsial (r2) dengan nilai koefisien determinasi majemuk

    (R2), jika r2 lebih kecil dari nilai R2 maka tidak terdapat multikolinearitas. Cara lain

    untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas yaitu dengan menggunakan

    korelasi antar variabel dimana apabila kurang dari 0.85 maka tidak terdapat

    multikolinearitas dan sebaliknya apabila hubungan variabel di atas 0.85 maka

    terdapat multikolinieritas.

    3.4.2 Uji Autokorelasi (metode Langrange Multipier)

    Autokorelasi adalah adanya korelasi antar anggota serangkaian observasi

    yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data runtut waktu atau time series)

    atau ruang (seperti dalam data lintas sektoral atau cross section).

    Ho : tidak ada autokorelasi

    Ha : ada autokorelasi

  • 50

    Dengan tingkat signifikan () sebesar 5% dan menggunakan distribusi 2,

    maka :

    Jika 2 hitung < 2 kritis, berarti Ho diterima

    Jika 2 hitung > 2 kritis, berarti Ho ditolak

    Atau dengan cara lain untuk mendeteksi adanya autokorelasi dalam

    model bisa dilakukan menggunakan uji Durbin-Watson (DW), yaitu dengan

    cara membandingkan antara DW statistik (d) dengan dL dan dU, jika DW

    statistik berada diantara dU dan 4- dU maka tidak ada autokorelasi.

    Autokorelasi ragu-ragu tidak ada autokorelasi ragu-ragu Autokorelasi

    Positif negatif

    0 dl du 2 4-du 4-dl 4

    Gambar 3.1. Statistik Durbin-Watson d

    Penentuan ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dengan jelas dalam

    Tabel 3.1. berikut ini :

  • 51

    Tabel 3.1 Uji Statistik Durbin-Watson d

    Nilai Statistik Hasil

    0

  • 52

    Pedoman dalam penggunaan model white test adalah jika nilai Chi-Square

    hitung (n. R2) lebih besar dari nilai 2 kritis dengan derajat kepercayaan tertentu ()

    maka ada heteroskedasitisitas dan sebaliknya jika Chi-Square hitung lebih kecil dari

    nilai 2 menunjukan tidak adanya heterokedasitisitas.

  • 53

    BAB IV

    HASIL DAN ANALISIS

    4.1 Deskripsi Data Penelitian

    Semua data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data runtut

    waktu (time series), dimana data yang dikumpulkan dalam kurun waktu tertentu dari

    suatu sample. Dalam penelitiaan ini data yang digunakan adalah data pada tahun

    1990.1 2005.4.

    Variabel dependent yang digunakan adalah jumlah permintaan uang M1 dan

    M2, sedangkan variabel independent yang digunakan adalah X1 : Produk Domestik

    Bruto atas dasar harga konstan 1993 (milyar), X2 : tingkat suku bunga deposito

    berjangka 3 bulan pada bank umum (persen), X3 : inflasi yang digunakan adalah

    pertumbuhan indeks harga konsumen (persen), X4 : kurs dollar terhadap rupiah

    (rupiah) dan d97 : variabel dummy 0 = sebelum krisis dan 1 = setelah krisis.

    4.2 Uji Spesifikasi Model

    4.2.1 Uji Mackinnon, White dan Davidson (MWD)

    Mengingat pentingnya spesifikasi model untuk menentukan bentuk suatu

    fungsi suatu model empirik dinyatakan dalam bentuk linier ataukah nonlinier dalam

    suatu penelitian, maka dalam penelitian ini juga akan dilakukan uji tersebut. Dalam

  • 54

    penelitian kali ini, peneliti akan menggunakan uji Mackinnon, White, Davidson

    (MWD).

    Tabel 4.1

    MWD untuk regresi linear M1

    Dependent Variable: M1 Method: Least Squares Date: 12/06/07 Time: 11:06 Sample: 1990:1 2005:4 Included observations: 64

    Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C -127791.1 9647.889 -13.24550 0.0000 X1 1.297390 0.107561 12.06186 0.0000 X2 -777.1889 121.5841 -6.392194 0.0000 X3 603.1152 27.00032 22.33734 0.0000 X4 4.213537 0.645146 6.531138 0.0000

    D97 -20963.51 4422.609 -4.740078 0.0000 Z1 -37766.34 3683.511 -10.25281 0.0000

    R-squared 0.994977 Mean dependent var 108166.0 Adjusted R-squared 0.994449 S.D. dependent var 79402.30 S.E. of regression 5916.065 Akaike info criterion 20.31165 Sum squared resid 1.99E+09 Schwarz criterion 20.54778 Log likelihood -642.9728 F-statistic 1881.927 Durbin-Watson stat 1.709459 Prob(F-statistic) 0.000000

    Sumber : Hasil Eviews

  • 55

    Tabel 4.2

    MWD untuk regresi log linear M1

    Dependent Variable: LOG(M1) Method: Least Squares Date: 12/06/07 Time: 11:07 Sample: 1990:1 2005:4 Included observations: 64

    Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. C -11.68466 1.058798 -11.03578 0.0000

    LOG(X1) 1.476407 0.093283 15.82711 0.0000LOG(X2) -0.099721 0.022908 -4.353029 0.0001LOG(X3) 0.644531 0.065695 9.810961 0.0000LOG(X4) 0.365934 0.051743 7.072192 0.0000

    D97 -0.037235 0.053385 -0.697480 0.4883Z2 -1.48E-06 6.76E-07 -2.183671 0.0331

    R-squared 0.996176 Mean dependent var 11.28344Adjusted R-squared 0.995774 S.D. dependent var 0.827592S.E. of regression 0.053802 Akaike info criterion -2.904099Sum squared resid 0.164995 Schwarz criterion -2.667971Log likelihood 99.93116 F-statistic 2474.934Durbin-Watson stat 1.369522 Prob(F-statistic) 0.000000

    Sumber : Hasil Eviews

    Dari hasil uji MWD di atas, kita mendapatkan hasil berupa :

    T-Statistik Z1 = -10.25281, probabilitas = 0.0000. Berarti dapat disimpulkan

    bahwa Z1 signifikan pada tingkat < 0.05. Dan menolak hipotesis nol

    sehingga model yang tepat adalah log linear.

    T-Statistik Z2 = -2.183671, probabilitas = 0.0331. Berarti dapat disimpulkan

    bahwa Z2 signifikan pada tingkat < 0.05. Dan menolak hipotesis alternatif