Fraktur Maksila dan Mandibula

  • View
    138

  • Download
    28

Embed Size (px)

DESCRIPTION

bismillah

Text of Fraktur Maksila dan Mandibula

RESPONSI ILMU PENYAKIT BEDAHPembimbing: dr. Bambang W. Sp.BPPenyusun: Evi Yuli Susanti (2010.04.0.0098)

IDENTITAS PENDERITA :Nama: Nn. Chalimatus SadiyahUmur: 19 tahunJenis kelamin: PerempuanAlamat: Jagir Wonokromo 110Pekerjaan : tidak bekerjaAgama: IslamMRS: 20 Januari 2016Jam: 20.00 WIBPemeriksaan: 21 Januari 2016Ruangan: I

ANAMNESAKeluhan Utama: Nyeri saat membuka mulutRiwayat Penyakit Sekarang (RPS) :Pasien datang ke UGD RSAL tanggal 20 Januari 2016 berasal dari rujukan RS Haji Surabaya. 3 hari sebelum MRS pasien menjadi korban kecelakaan lalu lintas dengan mengendarai motor. Pasien terjatuh dari motor dan jatuh di aspal dengan posisi tengkurap. Pasien mengingat kejadian sebelum dan sesudah terjadi kecelakaan. Mual dan muntah disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu :Riwayat alergi obat- obatan disangkal.Riwayat DM, HT, Asma disangkal.

PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 21 Januari 2016)Keadaan umum : Tampak sakit sedangGCS: 4-5-6Tanda vital: TD : 120/80 mmHg Nadi: 78 x/menit, regular RR: 20 x/menit Suhu: 36,2oC, all\,xillerSkala nyeri: 6Berat badan : 56 kgTinggi badan: 155 cm

STATUS GENERALISKepala: A / I / C / D : - / - / - / -Mata : Konjungtiva pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-). Pupil isokor 3mm, reflek cahaya +/+Mulut : lihat status lokalisLeher : Jejas (-), deviasi trakea (-)Telinga : Sekret (-), darah (-), hematom preaurikuler (-)Hidung: Darah (-), sekret (-), hematom (-), simetrisKGB: Tidak ada pembesaranThorax : Simetris saat statis dan dinamisParu : ves/ves, rh-/-. Wh-/-Jantung: S1 S2 tunggal, reguler, m(-), g(-)Abdomen: Datar, Bising usus (+) normal, nyeri tekan (-)Ekstremitas: Akral hangat (+), edema (-)Status neurologis : Nn. Cranialis : Tidak ada kelainan Motorik: 5 / 5 / 5 / 5 Sensorik: Tidak ada kelainan

STATUS LOKALIS : Regio FacialLook: Asimetris wajah (+) vulnus apertum pada zygomaticus (S) (+) luka jahitan pada para mentalis (D) dan supra orbita (D) deformitas (+)Feel: nyeri tekan mkasila (D) dan mandibular (D) (+) Unstable mandibular (+)Floating maksilla (-) Intra oral : Maloklusi open bite (+)PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium (20-01-2016)Hb: 7,9 gr/dl( 4,0-10,0)HCT: 25,0 % ( 40- 54 ) Lekosit : 7,800 /uL(4000-10.000)Trombosit : 180.000/uL(150.000-400.000)GDA: 79 mg/dlBUN: 17,8Creatinin: 0,5Na: 138K: 4,33Cl: 112Faal Hemostasis (26-01-2016)PT: 12,3(11,9-15)APT: 33,7(26,4-40)

CT-Scan (22 Januari 2016)

Hasil MSCT 3D Maxillofacial tanpa kontras: Mastoid kanan dan kiri tampak normal, cavum tympani kiri kanan normal. Orbita, nervus optikus kanan dan kiri normal. Tampak gambaran air-fluid level berdensitas sekitar 50 HU di sinus frontalis kiri kanan dengan tidak tampak adanya fracture di sekitarnya. Tampak perselubungan berdensitas sekitar 37 sd 56 HU di sinus ethmoidalis kiri kanan dengan tidak tampak adanya fracture di sekitarnya. Tampak perselubungan berdensitas sekitar 71 HU di sinus spenoidalis kiri dengan tidak tampak adanya fracture di sekitarnyatampak gambaran air-fluid level berdensitas sekitar 31 sd 55 HU di sinus sphenoidalis kanan dengan tidak tampak adanya fracture di sekitarnya. Tampak fracture dinding anterior, lateral (komplikata), medial serta atap sinus maxillaris kanan disertai perselubungan di dalamnya. Tampak fracture dinding anterior, medial serta atap sinus maxilaris kiri disertai perselubungan di dalamnya. Tampak fractur arcus Zygomaticus kanan terutama pada processus Zygomaticus os Temporalis kanan. Tampak fracture pars orbitalis os Zygomaticus kanan. Tampak fracture os Nasalis kiri. Tampak fracture os Mandibula di daerah paramentalis kanan vertical TMJ kanan normal. Tampak fracture neck captulum mandibulae dengan dislokasi fragmen fracture ke inferomedial.

Kesimpulan : Kesan hematosinus frontalis kiri kanan, ethmoidalis kiri kanan dan sphenoidalis kiri kanan dengan tidak tampak adanya fracture di sekitarnya. Fracture dinding anterior, lateral (komplikata), medial serta atap sinus maksilaris kanan disertai hematosinus maksilaris kanan di dalamnya. Fracture dinding anterior, medial serta atap sinus maksilaris kiri disertai hematosinus di dalamnya. Fracture arcus Zygomaticus kanan terutama pada processus Zygomaticus os Temporalis kanan. Fracture pars orbitalis os Zygomaticus kanan. Fracture os Nasalis kiri. Fracture Mandibula di daerah paramentalis kanan vertical. Fracture neck capitulum mandibulae dengan dislokasi fragmen fracture ke inferomedial.

FOTO KLINIS (PRE OPERASI)

FOTO KLINIS DURANTE OPERASI

DIAGNOSA KERJAfraktur maxilla D + fraktur mandibular D

PENATALAKSANAAN IVFD NS 500cc/8jam Inj. Ceftriaxon 2x1g Inj. Ketorolac 2x1 Inj. Ranitidin 2x50mg Diet cair peroral ORIF dengan miniplate

LAPORAN OPERASI ( 28 Januari 2016 ) Pasien dalam GA, dilakukan intubasi nasal Antiseptik daerah operasi dan sekitarnya Posisi pasien : supine Temuan Operasi: Fraktur mandibula Parasymphisis Non Comminuted Dextra Tindakan Operasi: Reposisi Reduksi PlattingInstruksi post op IVFD DL : D5 1: 2/24jam Inj. Ceftriaxone 3x1g Inj. Ketorolac 3x1 ampul Inj. Ranitidin 3x1 ampul Diet cair TKTP Oral hygiene betadine 4x/hari

BAB IITINJAUAN PUSTAKAFraktur: adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya setiap retak atau patah pada tulang yang utuh

2.1 FRAKTUR MAKSILAFraktur pada sentral wajah seringkali terjadi akibat kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, kekerasan, dan akibat trauma benda tumpul lainnya. Pada anak- anak, prevalensi fraktur tulang wajah secara keseluruhan jauh lebih rendah dibandingkan pada dewasa (Suardi dkk, 2011)2.1.1 Klasifikasi Fraktur Maksilaa. Dento Alveolar Fracture Suatu fraktur di daerah processus maxillaris yang belum mencapai daerah Le Fort I dan dapat terjadi unilateral maupun bilateral. Fraktur ini meliputi processus alveolaris dan gigi-gigi. Gejala klinik Extra oral : Luka pada bibir atas yang dalam dan luas. Luka laserasi pada bibir sering disertai perdarahan, kadang-kadang terdapat patahan gigi dalam bibir yang luka tersebut. Bibir bengkak dan edematus Echymosis dan hematoma pada muka Intra oral : Luka laserasi pada gingiva daerah fraktur dan sering disertai perdarahan. Adanya subluxatio pada gigi sehingga gigi tersebut bergerak, kadang-kadang berpindah tempat. Adanya alvulatio gigi, kadang-kadang disertai tulang alveolusnya Fraktur corona gigi dengan atau tanpa terbukanya kamar pulpa

b. Le Fort I: Pada fraktur ini, garis fraktur berada di antara dasar dari sinus maxillaris dan dasar dari orbita. Pada Le Fort I ini seluruh processus alveolaris rahang atas, palatum durum, septum nasalis terlepas dari dasarnya sehingga seluruh tulang rahang dapat digerakkan ke segala arah. Karena tulang-tulang ini diikat oleh jaringan lunak saja, maka terlihat seperti tulang rahang tersebut mengapung (floating fracture). Fraktur dapat terjadi unilateral atau bilateral. Suatu tambahan fraktur pada palatal dapat terjadi, dimana terlihat sebagai suatu garis echymosis.

Geial klinik Extra oral : Pembengkakan pada muka disertai vulnus laceratum Deformitas pada muka, muka terlihat asimetris Hematoma atau echymosis pada daerah yang terkena fraktur, kadang-kadang terdapat infraorbital echymosis dan subconjunctival echymosis Penderita tidak dapat menutup mulut karena gigi posterior rahang atas dan rahang bawah telah kontak lebih dulu. Intra oral Echymosis pacta mucobucal rahang atas Vulnus laceratum, pembengkakan gingiva, kadang-kadang disertai goyangnya gigi dan lepasnya gigi. Perdarahan yang berasal dari gingiva yang luka atau gigi yang luka, gigi fraktur atau lepas. Open bite maloklusi sehingga penderita sukar mengunyah

c. Le Fort II : Garis fraktur meliputi tulang maxillaris, nasalis, lacrimalis, ethmoid, sphenoid dan sering tulang vomer dan septum nasalis terkena juga.

Gejala klinik Extra oral : Pembengkakan hebat pada muka dan hidung, pada daerah tersebut terasa sakit. Dari samping muka terlihat rata karena adanya deformitas hidung. Bilateral circum echymosis, subconjunctival echymosis. Perdarahan dari hi dung yang disertai cairan cerebrospinal.

Intra oral Mulut sukar dibuka dan rahang bawah sulit digerakkan ke depan Adanya maloklusi open bite sehingga penderita sukar mengunyah. Palatum mole sering jatuh ke belakang sehingga dorsum lidah tertekan sehingga timbul kesukaran bernafas. Terdapatnya kelainan gigi berupa fraktur, avultio,luxatio. Pada palpasi, seluruh bagian rahang atas dapat digerakkan, pada bagian hidung terasa adanya step atau bagian yang tajam dan terasa sakit.

d. Le Fort III Fraktur ini membentuk garis fraktur yang meliputi tulang-tulang nasalis, maxillaris, orbita, ethmoid, sphenoid dan zygomaticus arch. Sepertiga bagian tengah muka terdesak ke belakang sehingga terlihat muka rata yang disebut "Dish Shape Face". Displacement ini selalu disebabkan karena tarikan ke arah belakang dari M.pterygoideus dimana otot ini melekat pda sayap terbesar tulang sphenoid dan tuberositas maxillary.

Geiala klinik Extra oral : Pembengkakan hebat pada muka dan hidung Perdarahan pada palatum, pharinx, sinus maxillaris, hidung dan telinga. Terdapat bilateral circum echymosis dan subconjunctival echymosis. Pergerakan bola mata terbatas dan terdapat kelainan N.opticus dan saraf motoris dari mata yang menyebabkan diplopia, kebutaan dan paralisis bola mata yang temporer. Deformitas hidung sehingga mata terlihat rata. Adanya cerebrospinal rhinorrhoea dan umumnya bercampur darah Paralisis N.Fasialis yang sifatnya temporer atau permanen yang menyebabkan Bells Palsy.Intra oral : Mulut terbuka lebih lebar karena keadaan open bite yang berat. Rahang atas dapat lebih mudah digerakkan Perdarahan pada palatum dan pharynx. Pernafasan tersumbat karena tertekan oleh dorsum lidah.

2.1.2 Diagnosisa. AnamnesisPengetahuan tentang mekanisme cedera memungkinkan dokter untuk mencurigai cedera yang terkait selain cedera primer. Waktu di antara cedera atau