Fraktur Maksila Lefort i,II,II

  • View
    520

  • Download
    31

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Lefort

Text of Fraktur Maksila Lefort i,II,II

FRAKTUR PADA MAKSILA (LE FORT I, II, III)

AbstrakSuatu trauma yang mengenai bagian tengah wajah, biasanya dapat menyebabkan jejas atau fraktur pada maksila dan tulang-tulang di sekitarnya. Pola fraktur yang terjadi pada maksila biasanya mengikuti area terlemah pada kompleks midfasial. Le Fort mengklasifikasi pola fraktur pada maksila menjadi fraktur Le Fort tipe I, II, dan III, tergantung pada organ-organ yang terlibat. Penanganan dan rehabilitasi pasien dengan trauma pada maksila meliputi pemahaman terhadap jenis, evaluasi, dan perawatan bedah pada wajah.Maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk menggambarkan mengenai tipe-tipe fraktur pada maksila, pemeriksaan, serta penanganannya agar diperoleh hasil pemulihan yang optimal.

Kata kunci: Fraktur, Le Fort, trauma, reduksi, fiksasi.

BAB IPENDAHULUAN

Suatu hal yang hampir tidak mungkin untuk menggambarkan penatalaksanaan fraktur pada wajah tengah tanpa referensi kerja Rene Le Fort. Pada abad lalu, Le Fort merupakan orang pertama yang mendokumentasikan kemungkinan pola fraktur spesifik pada wajah tengah yang terjadi akibat benturan langsung pada wajah. Penjelasannya mengenai efek trauma benda tumpul terhadap wajah pada 35 tengkorak, dibuat pada suatu masa ketika bertahan hidup terhadap trauma berat tidak pernah dapat dibayangkan. Perjalanan mulai dari observasi anatomis hingga penatalaksanaan trauma kompleks fasial dengan teknik lanjut kraniomaksilofasial (1).Pencetus awal aplikasi klinis dari observasi Le Fort yaitu terjadinya ribuan jejas berat pada jaringan lunak dan keras pada wajah akibat Perang Dunia I. Gillies dan Kazanjian saat ini memperkenalkan pentingnya lengkung gigi dalam menstabilisasi wajah tengah melalui pengunaan berbagai alat fiksasi ekstraskeletal yang sekarang merupakan suatu bagian yang utama. Era antibiotik selama Perang Dunia II, bagaimanapun, merupakan awal kesuksesan intervensi bedah primer melalui prinsip reduksi anatomis dan stabilisasi tulang interna. Pada awal tahun 1930, Ipsen memperkenalkan fiksasi K-wire internal pada fraktur wajah, kemudian dipopulerkan oleh Brown dan McDowell. Dingman dan Natvig memperkenalkan imobilisasi fraktur wajah tengah dengan traksi rubber band. Pada tahun 1942, Milton Adams pertama kali memperkenalkan reduksi terbuka dan fiksasi internal (Open Reduction and Internal Fixation, ORIF) dengan menggunakan kawat suspensi pada basis kranium yang stabil (1).Mengikuti Perang Dunia II, Gillies mengeksplorasi pengalamannya dari perbaikan trauma fasial ke lahan anomali wajah kongenital dan mengawali osteotomi Le Fort III elektif untuk sindrom Crouzon. Tingginya angka kolaps pada wajah tengah posterior jangka panjang, merubah fokus dari suspensi kraniofasial pada tahun 1980 menjadi teknik Reduksi Terbuka dan Fiksai Internal (ORIF) yang memberikan fiksasi intermaksiler dalam periode yang lebih lama dan akhirnya mengurangi angka deformitas paska trauma. Pendekatan ini, awalnya dipopulerkan oleh Manson dan Gruss, tergantung pada penggambaran jejas sekeletal yang akurat oleh Computerized-Tomography (CT) scan, pembukaan yang luas pada daerah fraktur, mobilisasi terbuka dan reduksi semua segmen tulang, primary autogenous bone grafting, dan fiksasi internal yang stabil dengan plat dan sekrup. Prinsip-prinsip ini masih merupakan dasar dari hampir semua penatalaksanaan fraktur kraniomaksila modern (1). Fraktur pada daerah ini mempunyai gambaran yang unik dibandingkan dengan injury pada bagian tubuh yang lain seperti: 1. Melibatkan jalan nafas, yang harus dilakukan tindakan cepat dan langsung.2. Menampilkan oklusi gigi, yang dapat membantu sebagai pedoman dalam pengembalikan perlekatan dan stabilisasi fraktur.3. Terdapat suplay darah yang sangat bagus ke wajah, sehingga membantu dalam proses penyembuhan yang cepat.

BAB IITINJAUAN PUSTAKAI. ANATOMI MAKSILAMidfasial menghubungkan basis kranii dengan dataran oklusal. Ia menyediakan pondasi kepada proyeksi fasial anterior sambil memberikan perlindungan kepada basis tengkorak dan berperan sebagai jangkar kepada ligamen fasial dan perlekatan otot. Tulang midfasial terdiri dari rangkaian penebalan vertikal, sagital dan horizontal yang menutupi sinus (1).

Gambar 1. Disartikulasi tulang midfasial menggambarkan anatomi maksila, zigoma, tulang nasal, dan septum nasal (3).Pada daerah maksila ini perdarahan disuplai oleh arteri palatina mayor bersama-sama dengan arteri alveolar superior dan posterior yang bermuara pada palatum durum dan mole. Pada regio anterior cabang terminal dari arteri naso palatinus keluar pada foramen insisivus dan mereka mensuplai mukoperiosteum dan palatum bagian anterior. Sedangkan persyarafan melalui divisi kedua dari nervus trigeminus. Nervus ini muncul dari foramen infra orbital dan kemudian berjalan untuk mensyarafi nasal lateral, labial superior dan regio palpebral inferior, termasuk juga mensyarafi labial dan gigi-gigi anterior (2).Kompleks midfasial dilengkapi oleh struktur dukungan vertikal untuk menahan tekanan dari bawah. Midfasial secara efektif menyerap, melawan dan mengusir tekanan infrasuperior melalui beberapa tahanan. Tetapi midfasial tidak dilengkapi dengan kemampuan menahan tekanan dari lateral dan frontal. Struktur dukungan vertikal pada midfasial terdiri atas pilar nasomaksilaris (medial), zygomaticomaxillary (lateral) dan pterygomaxillary (posterior). Pilar nasomaksilaris memanjang dari apertura piriformis dari kaninus dan anterior maksila melalui prossesus frontalis dari maksila dan naik ke cerukan lakrimal dan dinding medial orbita ke os frontalis. Pilar zygomticomaxillary memanjang tulang alveolaris di atas molar I maksila melalui korpus zygoma naik ke prossesus frontalis dari zygoma ke os frontalis. Pilar medial dan lateral memberikan tahanan anterior. Sisi posterior, pilar pterygoid mengubungkan maksila ke lempeng pterygoid dari os sphenoidalis dan memberikan stabilisasi kepada dataran vertikal dari midfasial. Pilar midfasial horizontal meliputi rima orbita superior dan anterior juga palatum durum. Lengkung zygoma menyediakan satu-satunya pilar sagital, memandang midfasial mudah untuk kolaps dan mudah bergeser pada segmen sentral (1). Dukungan superior pada pilar ini adalah arkus yang dibentuk oleh rima orbita superior dan inferior dan arkus zygomaticus (2).

Gambar 2. Pilar vertikal terdiri dari pilar medial atau nasomaksilari (V1), pilar lateral atau zigomatikomaksilari (V2), dan pilar posterior atau pterygomaxillary (V3) yang berfungsi menahan tekanan kepada basis kranii. Pilar horizontal meluas sepanjang rima supraorbita (H1), rima infraorbita (H2) dan prossesus dentoalveolar dan palatum (H3), memberikan dukungan struktural kepada fungsi dari mata, hidung dan mulut. Lengkung zygoma berfungsi sebagai satu-satunya pilar sagital (S1) (1).

Rekonstruksi defek struktur midfasial membutuhkan rekonstruksi dari pilar-pilar ini untuk mengembalikan pola tahanan normal pretrauma dan parameter biomekanikal yang penting untuk mempertahankan integritas struktur skeletal. Penebalan-penebalan tulang ini memberikan tempat untuk aplikasi pelat fiksasi guna memastikan dukungan dan penyembuhan yang maksimal (1).

II. KLASIFIKASI FRAKTUR Tidak ada gambaran pola fraktur pada wajah tengah seberhasil Le Fort. Klasifikasi Le Fort bukan merupakan klasifikasi maksila murni, sebagaimana banyak tulang-tulang wajah yang ikut terlibat. Bagaimanapun, perlu dicatat bahwa keutamaan fraktur maksila biasanya bersifat comminuted, melibatkan sejumlah kombinasi fraktur tipe Le Fort. Le Fort menggambarkan tiga zona lemah transversa pada tulang wajah tengah yang dapat memberikan prediksi pola fraktur (Gambar 3) (1).

Gambar 3. Gambaran frontal (A) dan lateral oblique (B) dari tengkorak, mengilustrasikan pola fraktur Le Fort I, II dan III (1).

1. Fraktur Le Fort I:Suatu pola fraktur horizontal yang terjadi dalam arah transmaksila pada tingkat margin piliformis. Bilateral, dan menghasilkan suatu floating palate yang memutuskan hubungan alveolaris maksilaris atas dari basis kranial (1). Fraktur Le Fort I merupakan hasil benturan yang terjadi diatas level gigi. Fraktur yang terjadi mulai dari batas lateral sinus pirimormis, berjalan sepanjang dinding antral lateral, belakang tuberositas maksilaris, dan melewati pteriogoid junction. Septum nasal dapat terjadi fraktur, dan kartilago nasal mungkin terkena. Karena tarikan baik dari otot pterigoid eksternal dan internal, maksila dapat berada pada posisi posterior dan inferior. Pada fraktur ini, biasanya tampak open bite klasik (2)

2. Fraktur Le Fort II:Fraktur piramidal/subzigomatik yang menyebabkan terpisahnya wajah tengah pusat dari kompleks orbitozigomatikus (1). Fraktur Le Fort II terjadi akibat benturan yang didapat pada level tulang nasal. Fraktur terjadi sepanjang sutura nasofrontalis, melalui tulang lakrimalis, dan melewati garis infraorbita pada area sutura zigomatikomaksilaris (2).

3. Fraktur Le Fort III:Disebut juga craniofacial disjunction. Fraktur ini menyebabkan terpisahnya sutura frontozigomatik dan nasofrontal junction, akibat suatu benturan pada tingkat orbita. Garis fraktur melintas sepanjang sutura zigomatikotemporal dan zigomatikofrontal, sepanjang dinding lateral orbita, melewati fisura orbitalis inferior, dan ke arah medial menuuju sutura nasofrontalis. Fraktur berakhir pada fisa pterigomaksilari (2).

III. EPIDEMIOLOGIPenyebab utama dari fraktur maksila adalah kecelakaan lalu lintas (60%), perkelahian (24%), jatuh (9%), kecelakaan kerja (4%), olah raga (2%), luka tembakan (2%). Tanpa termasuk fraktur nasal, wajah tengah terlibat pada 40% dari seluruh kasus. Para ahli sepakat bahwa distribusi frekuensi fraktur Le Fort yaitu tipe II > tipe I > tipe III, dimana Le Fort I mencapai 30 %, Le Fort II mencapai 42%, dan Le Fort III mencapai 28% dari seluruh kasus Le Fort. Kejadian cedera bersamaan dengan trauma kepala (50%), cedera servikal (10%), cedera abdominal (15%), cedera