fraktur maksilofasial

  • View
    300

  • Download
    49

Embed Size (px)

DESCRIPTION

;N;

Text of fraktur maksilofasial

  • FRAKTUR MAKSILOFASIAL

    Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

    Departemen Ilmu Bedah

    Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

    Periode 08 Januari 27 Februari 2015

    Disusun Oleh :

    Chaerunisa Utami 1410221070

    Pembimbing

    dr. Hadi Pranoto, Sp(K)BD

    KEPANITERAAN KLINIK

    DEPARTEMEN ILMU BEDAH

    FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN

    NASIONAL VETERAN JAKARTA

    PERIODE 08 JANUARI 27 FEBRUARI 2015

  • ii

    LEMBAR PENGESAHAN

    FRAKTUR MAKSILOFASIAL

    Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

    Departemen Ilmu Bedah

    Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

    Periode 08 Januari 27 Februari 2015

    Telah disetujui

    Tanggal :

    .............................................................

    Disusun oleh :

    Siti Alfiana C

    1220221113

    Pembimbing

    dr. Hadi Pranoto, Sp(K)BD

  • iii

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME,

    berkat karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan FRAKTUR

    MAKSILOFASIAL yang merupakan salah satu syarat dalam mengikuti

    ujian kepaniteraan klinik Pendidikan Profesi Dokter Departemen Ilmu

    Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan

    Nasional Veteran Jakarta Periode 08 Januari 27 Februari 2015.

    Dalam menyelesaikan studi kasus ini penulis mengucapkan rasa

    terima kasih kepada dr. Hadi Pranoto, Sp(K)BD sebagai dokter

    pembimbing. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Studi Kasus ini

    banyak terdapat kekurangan dan juga masih jauh dari kesempurnaan,

    sehingga penulis mengharap kritik dan saran dari pembaca.

    Semoga Studi kasus kedokteran keluarga ini dapat bermanfaat bagi

    teman-teman pada khususnya dan semua pihak yang berkepentingan bagi

    pengembangan ilmu kedokteran pada umumnya. Amin.

    Jakarta, Maret 2015

    Penulis

  • iv

    DAFTAR ISI

    LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... ii

    KATA PENGANTAR ................................................................................ iii

    DAFTAR ISI ............................................................................................... iv

    BAB I PENDAHULUAN .............................................................................1

    I.1. LATAR BELAKANG .................................................................1

    I.2. TUJUAN 2

    I.3. MANFAAT ..................................................................................2

    BAB II FRAKTUR MAKSILOFASIAL ....................................................3

    II.1. ANATOMI ...................................................................................3

    II.2. DEFINISI .....................................................................................5

    II.2. EPIDEMIOLOGI .........................................................................6

    II.3. ETIOLOGI ...................................................................................6

    II.4. KLASIFIKASI .............................................................................6

    II.4.1. Fraktur Nasoorbitoethmoid (NOE) ....................................6

    II.4.2. Fraktur Zygomatikomaksila ...............................................8

    II.4.3. Fraktur Nasal ......................................................................9

    II.4.4. Fraktur Maksila dan LeFort ..............................................12

    II.4.5 . Fraktur Mandibula ............................................................14

    II.5. PENILAIAN ..............................................................................16

    II.5.1. Primary Survey .................................................................16

    II.5.2. Secondary Survey .............................................................16

    a. Inspeksi .............................................................................16

    b. Palpasi ..............................................................................17

    c. Menilai & mengevaluasi integritas saraf kranial IVIII ..28

  • v

    d. Pemeriksaan Radiologis ...................................................29

    II.6. TATALAKSANA ......................................................................32

    II.6.1. Fraktur Nasal ....................................................................32

    II.6.2. Fraktur Komplek Nasal ....................................................33

    II.6.3. Fraktur Komplek Zigoma .................................................34

    II.6.4. Fraktur Maksilla ...............................................................35

    II.6.5. Fraktur Mandibulla ...........................................................38

    BAB III KESIMPULAN ............................................................................40

    DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................41

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    I.1. LATAR BELAKANG

    Cedera atau fraktur pada daerah wajah memiliki signifikansi yang

    tinggi karena berbagai alasan. Daerah wajah memberikan perlindungan

    terhadap kepala dan memiliki peran penting dalam penampilan. Daerah

    maksilofasial berhubungan dengan sejumlah fungsi penting seperti

    penglihatan, penciuman, pernafasan, berbicara, dan juga memakan. Fungsi-

    fungsi ini sangat terpengaruh pada cedera dan berakibat kepada kualitas

    hidup yang buruk (Singh, 2012).

    Ada banyak faktor etiologi yang menyebabkan fraktur maksilofasial itu

    dapat terjadi, seperti kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja , kecelakaan akibat

    olah raga, kecelakaan akibat peperangan dan juga sebagai akibat dari tindakan

    kekerasan. Tetapi penyebab terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas (Banks,

    1992). Penilitian Rabi dan Khateery (2002), juga menunjukan bahwa

    diantara beberapa etiologi trauma maksilofacial, kecelakaan lalulintas

    merupakan penyebab utama terjadinya trauma, diikuti dengan penyebab

    lainnya seperti trauma ketika bermain di taman, kecelakaan sewaktu bekerja

    atau industri, kecelakaan sewaktu berolahraga, dan lain-lain.

    Skeleton fasial secara kasar dapat dibagi menjadi 3 daerah, yaitu

    sepertiga bawah atau mandibula, sepertiga atas yang dibentuk oleh tulang

    dahi, dan sepertiga tengah daerah yang membentang dari tulang dahi

    menuju kepermukaan gigi geligi atas, bila pasien tidak mempunyai gigi

    pada alveolus atas (Sigh, 2012).

    Fraktur maksilofasial merupakan salah satu bagian dari bidang ilmu Bedah

    yang masih perlu mendapatkan perhatian khusus dalam jumlah kasus yang

    terjadi dan penanganan yang telah dilakukan. Hal tersebut dapat menjadi acuan

  • 2

    bagi dokter umum khususnya dalam bidang Bedah agar kedepannya dapat

    menentukan penatalaksanaan yang lebih baik pada kasus-kasus yang serupa.

    I.2. TUJUAN

    Mendeteksi dan mendiagnosis dini fraktur maksilofasial, sehingga

    pengelolaan dapat dilakukan lebih awal dan terencana yang akhirnya angka

    kesakitan dan kematian.

    I.3. MANFAAT

    Referat ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi penulis

    maupun untuk para pembaca terutama para mahasiswa fakultas kedokteran

    agar dapat menambah wawasan dan lebih memahami hal-hal yang berkaitan

    dengan fraktur maksilofasial.

  • 3

    BAB II

    FRAKTUR MAKSILOFASIAL

    II.1. ANATOMI

    Secara umum tulang tengkorak / kraniofasial terbagi menjadi dua

    bagian yaitu Neurocranium adalah tulang-tulang yang membungkus otak

    dan Viscerocranium adalah tulang-tualang yang membentuk wajah /

    maksilofasial (James & Leslie, 2010).

    Neuroccranium dibentuk oleh :

    1. Os. Frontale

    2. Os. Parietale

    3. Os. Temporale

    4. Os. Sphenoidale

    5. Os. Occipitalis

    6. Os. Ethmoidalis

    Viscerocranium dibentuk oleh :

    1. Os. Maksilare

    2. Os. Palatinum

    3. Os. Nasale

    4. Os. Lacrimale

    5. Os. Zygomatikum

    6. Os. Concha nasalis inferior

    7. Vomer

    8. Os. Mandibulare

    Neurocranium terdiri atas tulang-tulang pipih yang berhubungan satu

    dengan yang lain melalui sutura - sutura. Tulang-tulang yang tebal

    berhubungan dengan tulang- tulang berdinding tipis. Tulang tulang

    pembentuk wajah atau viscerocranium terdiri atas tulang tulang yang

    berbentuk tonjolan dan lengkungan yang sangat rentan untuk terhadap

    fraktur jika mendapat suatu trauma. Tulang tulang tersebut dihubungkan

    oleh sutura sutura yang juga dapat menjadi garis fraktur.

  • 4

    Gambar 1. Tulang tulang kraniofasial (James & Leslie, 2010)

    Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas tulang yang memiliki ketebalan

    berbeda. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai 'buttress' yang

    menopang/penyangga proporsi kraniofasial dalam ukuran tinggi, lebar dan

    proyeksi antero-posterior. Buttress pada maksila meliputi tulang nasomaksilaris

    pada medial, tulang zigomatikomaksilaris pada lateral dan tulang

    pterygomaksilaris pada posterior. Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem

    penyangga unit-unit fungsi pada oral, nasal dan orbital. (Miloro, 2004)

    Gambar 2. Buttress vertikal dan horizontal (Miloro, 2004)

  • 5

    Maksilofasial tergabung dalam tulang w