17
1 Gangguan Siklus Haid Pada Depresi Wika Lubis, Habibah Hanum, Jarmila Elmaco Divisi Psikosomatis Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-USU RSUP Haji Adam Malik Pendahuluan Sebelum membahas mengenai gangguan siklus haid pada depresi, perlu diketahui tentang haid normal terlebih dahulu. Haid adalah darah yang keluar dari rahim perempuan sehat, lamanya 3-6 hari dengan lama siklus haid berkisar 25-31 hari sekali, berwarna kecoklatan, ganti pembalut 2-5 pembalut per hari dan terjadi akibat penurunan kadar progesteron yaitu pada suatu siklus haid yang berovulasi. 1 Pada pengertian klinik, haid dinilai berdasarkan tiga hal. Pertama siklus haid yaitu jarak antara hari pertama haid dengan hari pertama haid berikutnya. Kedua lamanya haid yaitu jarak dari hari pertama haid sampai perdarahan haid berhenti. Ketiga jumlah darah yang keluar selama satu kali haid. 2 Haid pertama kali yang dialami seorang perempuan disebut menarke, yang pada umumnya terjadi pada usia sekitar 14 tahun. Menarke merupakan pertanda berakhirnya masa pubertas, masa peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Selama kehidupan seorang perempun, haid dialaminya mulai dari menarke sampai menupause. Haid normal merupakan hasil akhir suatu siklus ovulasi. Siklus ovulasi diawali dari pertumbuhan beberapa folikel antral pada awal siklus, diikuti ovulasi dari satu folikel dominan yang terjadi pada pertengahan siklus. Kurang lebih 14 hari pascaovulasi, bila tidak terjadi pembuahan akan diikuti dengan haid. Ovulasi yang terjadi teratur setiap bulan akan mengahsilkan siklus haid yang teratur pula, siklus ovulasi (ovulatory cycle), sedangkan siklus anovulasi adalah siklus haid tanpa ovulasi sebelumnya. Prevalensi siklus anovulasi paling sering didapatkan pada perempuan usia dibawah 20 tahun dan diatas usia 40 tahun. Sekitar 5-7 tahun pascamenarke, siklus haid relatif memanjang kemudian perlahan panjang siklus berkurang menuju siklus yang teratur normal, memasuki masa reproduksi, masa sekitar usia 20-40 tahun. Selama masa reproduksi secara umum, siklus haid teratur dan tidak banyak mengalami perubahan. Variasi panjang siklus semakin bertambah usia semakin menyempit, semakin mengecil variasi panjang siklusnya dan rerata panjang siklus pada usia 40-42 tahun mempunyai rentang Universitas Sumatera Utara

Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

  • Upload
    others

  • View
    20

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

1

Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

Wika Lubis, Habibah Hanum, Jarmila Elmaco

Divisi Psikosomatis Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-USU

RSUP Haji Adam Malik

Pendahuluan

Sebelum membahas mengenai gangguan siklus haid pada depresi, perlu diketahui

tentang haid normal terlebih dahulu. Haid adalah darah yang keluar dari rahim perempuan

sehat, lamanya 3-6 hari dengan lama siklus haid berkisar 25-31 hari sekali, berwarna

kecoklatan, ganti pembalut 2-5 pembalut per hari dan terjadi akibat penurunan kadar

progesteron yaitu pada suatu siklus haid yang berovulasi.1

Pada pengertian klinik, haid dinilai berdasarkan tiga hal. Pertama siklus haid yaitu jarak

antara hari pertama haid dengan hari pertama haid berikutnya. Kedua lamanya haid yaitu

jarak dari hari pertama haid sampai perdarahan haid berhenti. Ketiga jumlah darah yang

keluar selama satu kali haid.2

Haid pertama kali yang dialami seorang perempuan disebut menarke, yang pada

umumnya terjadi pada usia sekitar 14 tahun. Menarke merupakan pertanda berakhirnya masa

pubertas, masa peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Selama kehidupan seorang

perempun, haid dialaminya mulai dari menarke sampai menupause. Haid normal merupakan

hasil akhir suatu siklus ovulasi. Siklus ovulasi diawali dari pertumbuhan beberapa folikel

antral pada awal siklus, diikuti ovulasi dari satu folikel dominan yang terjadi pada

pertengahan siklus. Kurang lebih 14 hari pascaovulasi, bila tidak terjadi pembuahan akan

diikuti dengan haid. Ovulasi yang terjadi teratur setiap bulan akan mengahsilkan siklus haid

yang teratur pula, siklus ovulasi (ovulatory cycle), sedangkan siklus anovulasi adalah siklus

haid tanpa ovulasi sebelumnya. Prevalensi siklus anovulasi paling sering didapatkan pada

perempuan usia dibawah 20 tahun dan diatas usia 40 tahun. Sekitar 5-7 tahun pascamenarke,

siklus haid relatif memanjang kemudian perlahan panjang siklus berkurang menuju siklus

yang teratur normal, memasuki masa reproduksi, masa sekitar usia 20-40 tahun. Selama

masa reproduksi secara umum, siklus haid teratur dan tidak banyak mengalami perubahan.

Variasi panjang siklus semakin bertambah usia semakin menyempit, semakin mengecil

variasi panjang siklusnya dan rerata panjang siklus pada usia 40-42 tahun mempunyai rentang

Universitas Sumatera Utara

Page 2: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

2

variasi yang paling sedikit. Kemudian pada kurun waktu 8-10 tahun sebelum menopause

didapatkan hal kebalikannya, didapatkan variasi panjang siklus haid yang semakin melebar,

semakin banyak variasinya. Pada kurun waktu tersebut, variasi rerata panjang siklus haid

melebar/meningkat akibat ovulasi yang semakin jarang. Pada perempuan dengan indeks

massa tubu yang terlalu tinggi (gemuk) atau terlalu rendah (kurus), rerata panjang siklus

semakin meningkat.

Variasi panang siklus haid merupakan manifestasi klinik variasi panjang fase folikuler

di ovarium, sedangkan fase luteal mempunyai panjang yang tetap berkisar antara 13-15 hari.

Mulai dari menarke sampai mendekati menopause, panjang fase luteal selalu tetap, dengan

variasi yang sangat sempit/sedikit. Pada usia 25 tahun lebih dari 40% perempuan mempunyai

panjang siklus haid berkisar antara 25-28 hari, usia 25-35 tahun lebih dari 60% mempunyai

panjang siklus haid 28 hari dengan variasi di antara siklus haid sekitar 15%. Kurang dari 1%

perempuan mempunyai siklus haid teratur dengan panjang siklus kurang dari 21 atau lebih

dari 35 hari. Hanya sekitar 20% perempuan mempunyai siklus haid yang tidak teratur.3,4

Aspek Endokrin Dalam Siklus Haid

Dinding uterus mulai dari sisi luar terdiri dari perimetrium, miometrium di tengah dan

lapisan paling dalam, dan endometrium. Endometrium merupakan organ target dari sistem

reproduksi. Haid merupakan hasil kerja sama yang sangat rapi dan baku dari sumbu

Hipotalamus-Hipofisis-Ovarium (sumbu H-H-O). Pada awal siklus sekresi gonadotropin

yang meningkat ini memicu beberapa perubahan di ovarium. Pada awal siklus didapatkan

beberapa folikel kecil, folikel pada tahap antral yang sedang tumbuh. Pada folikel didapatkan

dua macam sel yaitu sel teka dan sel granulosa yang melingkari sel telur, oosit.2

Pada awal siklus (awal fase folikuler) reseptor LH hanya dijumpai pada sel teka,

sedangkan resptor FSH hanya ada di sel granulosa. LH memicu sel teka untuk menghasilkan

hormon androgen, selanjutnya hormon androgen memasuki sel granulosa. FSH dengan

bantuan enzim aromatase mengubah androgen menjadi estrogen (estradiol) di sel granulosa

(teori dua sel). Pada awal siklus/awal fase folikuler, peran FSH cukup menonjol di antaranya:

a. Memicu sekresi inhibin B dan aktivin di sel granulosa. Inhibin B memacu LH

menigkatkan sekresi androgen di sel teka dan inhibin B memberikan umpan balik negatif

Universitas Sumatera Utara

Page 3: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

3

terhadap sekresi FSH oleh hipofisis. Sementara itu, aktivin membantu FSH memicu

sekresi estrogen di sel granulosa.

b. Androgen diubah menjadi estrogen di sel granulosa dengan bantuan enzim aromatase

c. Memicu proliferasi sel granulosa. Folikel membesar.

d. Bersama estrogen memperbanyak reseptor FSH di sel granulosa.

Stimulus FSH tersebut menyebabkan pertumbuhan beberapa folikel antral menjadi

lebih besar, dan sekresi estrogen terus meningkat. Pada hari ke 5-7 siklus kadar estrogen dan

inhibin B sudah cukup tinggi, secara bersama keduanya menekan sekresi FSH tetapi tidak

sekresi LH. Sekresi FSH yang menurun tersebut mengakibatkan hanya satu folikel yang

paling siap dengan penampang paling besar dan mempunyai sel granulosapaling banyak,

tetap terus tumbuh (folikel dominan). Folikel lainnya, folikel yang lebih kecil yang kurang

siap akan mengalami atresia. Folikel dominan terus membesar menyebabkan kadar estrogen

terus meningkat. Pada kadar estrogen 200 pg/ml yang terjadi sekitar hari ke-12 dan bertahan

lebih dari 50 jam akan memacu sekresi LH, sehingga terjadi lonjakan sekresi LH. Pada akhir

masa folikuler siklus tersebut sekresi LH lebih dominan dari FSH. Pada pertengahan siklus

reseptor LH mulai didapatkan juga di sel granulosa. Peran lonjakan LH pada peretngahan

siklus tersebut sangat penting :

a. Mengahmbat sekresi Oocyte Maturation Inhibitor (OMI) yang dihasilkan oleh sel

granulosa, sehingga miosis II oosit dimulai dengan dilepaskannya badan kutub (polar

body) I. Pada awal siklus miosis I berhenti pada tahap profase diplotene karena ditahan

oleh OMI dan miosis II baru mulai lagi pada saat lonjakan LH (maturasi oosit).

b. Memicu sel granulosa untuk menghasilkan prostaglandin (PG). PG intrafolikuler akan

menyebabkan kontraksi dinding folikel membantu dinding folikel untuk pecah agar

oosit keluar saat ovulasi.

c. Memicu luteinisasi tidak sempurna dari sel granulosa. Luteinisasi sel granulosa tidak

sempurna, karena masih ada hambatan dari oosit. Luteinisasi sel granulosa tidak

sempurna akan menyebabkan sekresi progesteron sedikit meningkat.

Kadar progesteron yang sedikit meningkat mempunyai peran :

a. Lebih memacu sekresi LH, dan sekresi FSH sehingga kadar FSH meningkat kembali

dan terjadilah lonjakan gonadotropin, LH dan sekresi FSH, sehingga kadar FSH

meningkat kembali dan terjadilah lonjakan gonadotropin, LH dan FSH dengan tetap

sekresi LH lebh dominan.

Universitas Sumatera Utara

Page 4: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

4

b. Mengaktifkan enzim proteolitik, plasminogen menjadi bentuk aktif, plasmin yang

membantu menghancurkan dinding folikel agar oosit dapat keluar dari folikel saat

ovulasi.

Kadar FSH yang meningkat pada pertengahan siklus berperan :

a. Membantu mengaktifkan enzim proteolitik, membantu dinding folikel pecah.

b. Bersama estrogen membentuk reseptor LH di sel granulosa, sehingga reseptor LH

yang tadinya hanya berada di sel teka, pada pertengahan siklus juga didapatkan di sel

granulosa. Pada saat reseptor LH mulai terbentuk di sel granulosa, inhibin A mulai

berperan menggantikan inhibin B yang lebih berperan selama fase folikuler. Inhibin A

berperan selama fase luteal.

Sekitar 36-48 jam dari awal lonjakan LH, oosit keluar dari folikel yang dikenal sebagai

ovulasi. Pascaovulasi oosit mempunyai usia yang tidak terlalu lama. Oleh karena itu

pemeriksaan kapan ovulasi akan terjadi, menjadi penting pada pelaksanaan teknik reproduksi

berbantu (TRB), seperti inseminasi atau fertilisasi in vitro-transfer embrio (FIV-TE). Saat

ovulasi penting untuk menentukan kapan insenminasi atau saat petik oosit.

Pascaovulasi, luteinisasi sel granulosa menjadi sempurna. Sekresi progesteron

meningkat tajam, memasuki fase luteal. Kadar progesteron meningkat tajan pascaovulasi

menghambat sekresi gonadotropin sehingga kadar LH dan FSH turun , dengan tetap LH lebih

dominan dibanding FSH. Sekresi LH diperlukan untuk mempertahankan vaskularisasi dan

sintesa steroid seks (steroidogenesis) di korpus luteum selama fase luteal. Segera

pascaovulasi sekresi estrogen menurun tetapi meningkat kembali dengan mekanisme yang

belum jelas. Pada fase luteal, kadar progesteron dan estrogen (progesteron lebih dominan)

meningkat, mencapai puncaknya pada 7 hari pascaovulasi, pada pertengahan fase luteal.

Kemudian kadar keduanya menurun perlahan karena korpus luteum mulai mengalami atresia.

Kurang lebih 14 hari pascaovulasi kadar progesteron dan estrogen cukup rendah,

mengakibatkan sekresi gonadotropin meningkat kembali dengan FSH lebih dominan

dibandingkan LH, memasuki siklus baru berikutnya.

Apabila didapatkan pembuahan/kehamilan, implantasi terjadi pada sekitar 6-7 hari

pascaovulasi dan pada saat itu mulai dihasilkan beta human chorionic gonadotropin (β-hCG)

oleh sel trofoblas. β-hCG memacu steroidogenesis di korpus luteum, sehingga kadar

progesteron tetap dipertahankan, tidak turun dan tidak terjadi haid.

Universitas Sumatera Utara

Page 5: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

5

Stimulus gonadotropin (FSH, LH) pada ovarium menimbulkan peristiwa di dalam

ovarium/folikel (intrafolikuler) yang sangat kompleks mengakibatkan pertumbuhan folikel

(folikulogenesis), sintesa steroid seks (steroidogenesis) da pertumbuhan oosit (oogenesis)

seperti telah dijelaskan di atas. Stimulus gonadotropin memicu proses parakrin, pengaruh

dari hormon yang dihasilkan oleh sel tetangga dekat ataupun otokrin pengaruh hormon yang

dihasilkan oleh sel itu sendiri. Proses intrafolikuler melibatkan inhibin, aktivin, Insulin Like

Growth Factor (IGF) I dan II serta terdapat komunikasi yang erat antara oosit dan sel

granulosa.

Ganguan Haid

Gangguan haid atau disebut juga dengan perdarahan uterus abnormal merupakan

keluhan yang sering menyebabkan seorang perempuan datang berobat ke dokter atau tempat

pertolongan pertama. Keluhan gangguan haid bervariasi dari ringan sampai berat dan tidak

jarang menyebabkan rasa frustasi baik bagi penderita maupun dokter yang merawatnya. Data

di beberapa negara industri menyebutkan bahwa seperempat penduduk perempuan dilaporkan

pernah mengalami menoragia, 21% mengeluh siklus haid memendek, 17% mengalami

perdarahan antar haid dan 6% mengeluh perdarahan pascasenggama. Selain menyebabkan

gangguan kesehatan, gangguan haid ternyata berpengaruh pada aktivitas sehari-hari yaitu

28% dilaporkan merasa terganggu saat bekerja sehingga berdampak pada bidang ekonomi.3,4

Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 2007 dan 2008 didapatkan angka kejadian

perdarahan uterus abnormal sebanyak 12,48% dan 8,8% dari seluruh kunjungan poli

kandungan (sifasi kepustakaan).

Tabel 1. Penyebab gangguan haid4

Keadaan Patologi Panggul Penyakit Medis Sistemik

Lesi permukaan pada traktus genital

Mioma uteri, adenomiosis

Polip endometrium

Hiperplasia endometrium

Adenokarsinoma endometrium, sarkoma

Infeksi pada serviks, endometrium dan uterus

Kanker serviks, polip

Gangguan hipotalamus hipofisis

Stres, adenoma, prolaktinoma, olahraga

berlebih

Gangguan hemostasis

Penyakit von willebrand, gangguan faktor II,

V, VII, VIII, IX, XIII, trombositopenia,

Universitas Sumatera Utara

Page 6: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

6

Trauma

Lesi dalam

Adenomiosis difus, mioma uteri, hipertrofi

miometrium

Endometriosis

Malformasi arteri vena pada uterus

gangguan platelets

Penyakit lain

Penyakit tiroid, gagal ginjal, disfungsi

kelenjar adrenal, SLE

Kelainan Ginekologi Ditinjau Dari Sudut Psikosomatik

Gangguan haid bersifat individual. Ada yang menganggap biasa terdapat pada

perempuan yang baik keseimbangan psikologinya, sedang yang emosional memberi arti yang

berlebihan dan biasanya ada hubungan dengan konflik dari perempuan tersebut serta tidak

ada kelainan organik. Penyakit psikosomatik lebih umum disebut gangguan somatoform di

bidang psikiatri yang dibagi menjadi dua bagian yaitu gangguan somatisasi dan gangguan

hipokondrik. Gangguan haid termasuk gangguan somatisasi di mana perempuan itu selalu

meminta pengobatan terhadap gangguan haidnya dan jika kehendaknya tidak dituruti maka

pasti ia mencari dokter lain. Dugaan adanya kendala psikologis di dalam kehidupannya pasti

akan ditolak oleh perempuan itu sebab dia tidak mau dirujuk ke psikiater. Terapi diberikan

dengan cara pemberian obat ataupun dengan cara pendekatan psikologis.2

a. Amenorea

Merupakan gejala tidak datangnya haid selama beberapa bulan pada perempuan yang tidak

hamil dan tidak ada kelainan organik. Biasanya perempuan ini mengalami stres psikologis

berupa kecemasan, emosional, ketakutan melakukan pekerjaan baru, mengalami

keterlambatan penerimaan kiriman uang dan ingin hamil pada pasutri sehingga akan

timbul gangguan psikosomatik yang berupa amenorea.

b. Menoragia

Menoragia adalah perdarahan haid yang memanjang. Hipermenorea adalah peradarahan

haid yang banyak.2 Polimenorea adalah haid dengan siklus haid yang lebih pendek dari

normal yaitu kurang dari 21 hari. Seringkali sulit membedakan polimenorea dengan

metroragia yang merupakan perdarahan antara dua siklus haid. Penyebab polimenorea

bermacam-macam antara lain gangguan endokrin yang menyebabkan gangguan ovulasi,

Universitas Sumatera Utara

Page 7: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

7

fase luteal memendek dan kongesti ovarium karena peradangan.5,6 Oligomenorea adalah

haid dengan siklus yang lebih panjang dari normal yaitu lebih dari 35 hari. Sering terjadi

pada sindroma ovarium polikistik yang disebabkan oleh peningkatan hormon androgen

sehingga terjadi gangguan ovulasi. Pada remaja oligomenorea dapat terjadi karena

imaturitas poros hipotalamus hipofisis ovarium endometrium. Penyebab lain hipomenorea

antara lain stres fisik dan emosi, penyakit kronis serta gangguan nutrisi. Oligomenorea

memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk mencari penyebab. Perhatian perlu diberikan bila

oligomenorea disertai dengan obesitas dan infertilitas karena mungkin berhubungan

dengan sindrom metabolik.5,6,7 Terjadinya akibat stres psikologis seperti ketakutan,

kecemasan, ketegangan jiwa, mengalami pertentangan dengan keluarga atau dengan

temannya.2

c. Dismenorea

Dismenorea adalah rasa sangat sakit waktu haid yang sering dikeluhkan semasa haid.

Nyeri haid yang hebat ini menyebabkan penderita terpaksa beristirahat hingga

meninggalkan sekolah maupun pekerjaannya sampai berhari-hari.

Dua macam dismenorea :

1. Dismenorea Primer

Nyeri haid yang tidak didapatkan adanya kelainan pada alat genital. Diperkirakan oleh

faktor prostaglandin, emosional dan psikologis.

2. Dismenorea Sekunder

Nyeri haid yang disebabkan karena adanya kelainan organ reproduksi seperti

peradangan tuba fallopii, endometriosis dan mioma.

d. Pre Menstrual Syndrome

Dua macam penyebabnya yaitu

1. Faktor psikologis yang akan mempengaruhi kondisi fisik dengan gejala seperti muntah,

marah-marah, mudah tersinggung, perasaan tidak enak, gelisah dan menangis.

2. Faktor fisik/organik. Pada faktor fisik ini gejala-gejalanya antara lain sakit kepala,

insomnia, takikardi, anoreksia, nausea, perut kembung dan payudara sakit.

Pre menstrual sindrom tergantung dari kepribadian perempuan itu, sehingga bersifat

individual. Perempuan yang bersifat introvert selalu memperhatikan keadaan tubuhnya

sehingga lebih cepat merasakan timbulnya gejala-gejalanya. Sebaliknya, perempuan yang

bersifat extrovert lebih banyak memperhatikan lingkungannya sehingga kurang mengenali

gejala-gejala ini. Keadaan stres dan mood (gangguan suasana hati) juga berpengaruh pada

Universitas Sumatera Utara

Page 8: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

8

perempuan yang akan haid. Perempuan rentan terhadap stres yang bersifat negatif yaitu

yang menjadi atau membuat gejala-gejala seperti tersebut di atas. Penanganan tidak selalu

berhasil, tetapi dapat dicoba dengan mengkonsumsi makanan rendah garam kalau perlu

obat-obatan. Keadaan stresnya dapat reda dengan berpikir yang positif, rileks dan

mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Apabila gejala tersebut tetap ada, maka ia harus

segera menemui psikiater/psikolog.2

Dikenal istilah premenstrual disporia, yaitu termasuk gangguan depresi yang hanya

mengenai pada perempuan. Pre menstrual sindrom (PMS) adalah jenis yang paling banyak

dipelajari. PMS berat adalah gangguan mood kronis yang terus berlangsung bertahun-

tahun pada perempuan yang masih dalam usia reproduksi. Penyebabnya masih belum

diketahui dengan pasti. Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorders, 4th ed

(DSM-IV) memberikan kriteria diagnostik spesifik untuk PMS disporia yang berat disebut

premenstrual dysphoric disorder (PMDD).8

Gejala cepat marah, hipersensitivitas emosional, peningkatan kecemasan, mengidam

makanan, sulit tidur dan konsentrasi menurun merupakan ciri dari PMDD hampir sama

dengan depresi terutama depresi yang atipikal. Perempuan yang didiagnosis PMS dan

PMDD memiliki riwayat depresi 20-76%.

Perkembangan Persepsi

Psikosomatik sudah lama dikenal dalam dunia kedokteran. Di dalam perkembangannya

telah mengalami berbagai perubahan dan perluasan, baik dalam wawasan, pengertian,

maupun cara penanggulangannya. Karena masalah psikis sangat berkaitan dengan lingkungan

sosial, budaya dan agama. Tidak mengherankan bila terdapat berbagai variasi dalam

pengertian istilah tersebut.9

Menurut Lock dan Donelly10 diantara para penderita yang datang ke ahli ginekologi,

kira-kira 33% menderita keluhan psikosomatik. Mengingat hal ini, maka kemungkinan salah

diagnosis dan salah terapi cukup besar apabila segi-segi psikologi tidak/kurang mendapat

perhatian.

Dengan melihat perkembangan tersebut di atas, ada dua hal yang kita patut perhatikan

yaitu :

Universitas Sumatera Utara

Page 9: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

9

1. Pengertian psikosomatik tidak lagi sesederhana seperti pada contoh pseudosiesis,

melainkan telah berkembang jauh menjadi psychosomatic medicine yang menekankan

adanya kesatuan jiwa dan raga serta interaksi anatara keduanya.

2. Pendekatan terbaik adalah secara biopsikososial. Oleh karena itu, setiap pakar obstetri dan

ginekologi harus membekali dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan komunikasi,

psikologi dan ilmu perilaku lainnya.9

Hubungan Faktor Psikososial dengan Kondisi Medik

Menurut Soucasaux11 seorang ginekolog dari Brazil, masih menggunakan istilah

psychosomatic gynecology, walaupun dalam uraian selanjutnya lebih banyak berbicara

tentang pengaruh psikososial terhadap keluhan dan kelainan ginekologi. Ungkapannya di

bawah ini merupakan bukti dari pengertian di atas. Menurut pendapatnya perempuan

cenderung untuk memproyeksikan masalah emosi atau psikologinya ke dalam organ yang

memiliki sifat khas perempuan yaitu organ seksual dengan fisiologi endokrinnya yang rumit.

Menurut pendapatnya jalur yang dilalui disebut sebagai the psychosomatic pathways, ada tiga

yaitu :

1. Jalur Neuroendokrin

Interrelasi antara psiko, korteks serebri, sistem limbik serta pengaruhnya terhadap poros

hipotalamus-hipofisis-ovarium sudah lama dikenal. Fungsi ovarium dipengaruhi oleh FSH

dan LH. Sebaliknya hormon ovarium, estrogen dan progesteron berpengarug terhadap

hipotalamus melalui sistem umpan balik. Dengan cara ini bila terjadi gangguan pada poros

tersebut di atas, berbagai gangguan hormonal dapat terjadi diikuti dengan berbagai bentuk

kelainan pola menstruasi.

2. Jalur Neurovegetatif

Jalur ini melalui sistem saraf simpatik dan parasimpatik langsung mempengaruhi organ

panggul.

3. Jalur Imunologi

Perubahan dalam sistem imunologi berdampak pula terhadap alat genitalia. Bisa

merupakan faktor predisposisi terhadap infeksi atau bersama-sama dengan faktor lain

berperan dalam kejadian kanker.

Mengingat bahwa sebagian besar fisiologi ginekologi itu bersifat hormonal, tampaknya

jalur neuroendokrinlah yang paling berperan. Melalui jalur ini, pengaruh pikiran (mind) dan

sistem saraf pusat terhadap perempuan, berlangsung secara hormonal.9

Universitas Sumatera Utara

Page 10: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

10

Kuantitas, intensitas keluhan dan gejala yang terjadi sangat bervariasi antar perempuan.

Dan pada satu perempuan antarsiklus bergantung pada kurun kehidupan, kondisi emosi dan

variasi endokrin.

Daerah sasaran (target) dari proyeksi psikosomatik berserta pola keluhannya sngat

bersifat individual. Ada perempuan yang datang dengan keluhan haid, baik siklus, jumlah,

lama dan rasa sakitnya. Tidak sedikit yang datang dengan keluhan premenstrual syndrome

dengan sakit payudaranya, insomnia dan emosi yang labil.

Depresi

Depresi merupakan penyakit yang termasuk gangguan psikosomatik dengan catatan

depresi psikotik tidak termasuk didalamnya. Selain itu kasus-kasus psikosomatik dibatasi

hanya pada kasus yang tidak ada kelainan psikiatris, tidak ada gejala psikotik seperti

disintegrasi kepribadian, distorsi dari realita, waham dan sebagainya. Pasien sadar bahwa

dirinya sakit dan masih aktif mau datang berobat ke dokter. Kasus-kasus psikosomatik di

bagian ilmu penyakit dalam dapat dibedakan beberapa kelompok yaitu12 :

a. Tanpa dijumpai kelainan organik (kasus psikosomatik murni). Misalnya depresi

karena konflik psikologis yang tak terselesaikan.

b. Terdapat kelainan organik disebabkan karena gangguan psikoomatiknya sudah

berlangsung lama. Misalnya dispepsia non ulkus menjadi ulkus peptikum.

c. Kelainan organik terdapat bersama-sama dengan gangguan psikosomatiknya dan tidak

saling berhubungan (koisidensi). Dalam hal ini keluhan-keluhan pasien tidak sesuai

dengan kelainan yang ditemukan. Mereka terlampau banyak mempunyai keluhan

yang tak cocok dengan kelainan organiknya.

d. Kelainan organik yang ada baru disadarkan oleh orang lain atau dokternya. Misalnya

kelainan jantung bawaan, tuberkulosis, tumor ganas, infark miokard dan sebagainya.

Untuk menentukan diagnosis depresi dipakai kriteria DSM IV (Diagnostic and

Statistical Manual of Mental Disorder, Revised Third Edition and Fourth Edition). Baik

ansietas maupun depresi masing-masing menampilkan gejala-gejala psikis dan gejala somatik

yang berbeda.

Universitas Sumatera Utara

Page 11: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

11

Keluhan-keluhan somatik yang umum dijumpai pada pasien ansietas dan depresi antara

lain sakit kepala, anoreksia, cepat lelah, konstipasi, insomnia, palpitasi, berkeringat, libido

menurun, sakit perut, nyeri ulu hati, sesak nafas dan sebagainya. Keluhan-keluhan ini yang

membawa pasien datang berobat kepada dokter.

Sedangkan keluhan-keluhan psikisnya jarang dikemukakan secara langsung dan baru

terungkap melalui anamnesis yang lebih teliti dan terarah. Belakangan dapat diperhatikan jika

pasien berasal dari kelompok dengan intelegensia tinggi (misalnya manager, para eksekutif,

icendekiawan) mereka mengemukakan keluhan psikis sebagai keluhan utamanya, misalnya

sulit konsentrasi, merasa tidak tenang, selalu tegang dan sebagainya. Sedangkan pada

kelompok dengan intelegensia rendah justru keluhan fisisnya yang paling ditonjolkan.

Untuk mempermudah mengenal keadaan depresi terdapat gejala yang merupakan trias

depresi :

1. Tidak bisa menikmati hidup

2. Tidak ada perhatian pada lingkungan

3. Lelah sepanjang hari

J. Sutter13 memperkenalkan “antisipasi” untuk mengenal dan menentukan adanya

depresi berdasarkan kenyataan baha pasien mendapat kesulitan dalam mengerti dan mengatur

makna waktu. Pasien depresi mempunyai perubahan persepsi tentang waktu dan

pembicaraannya tidak menyangkut hari depan tetapi berputar-putar sekitar masalah yang

telah lalu. Pendek kata pasien telah kehilangan kemampuan mengatur waktu dan dengan

demikian kehilangan daya antisipasi. Beberapa komponen antisipasi antara lain :

a. Loss of comunication

Ketidakmampuan untuk berkomunikasi. Pasien merasa hampa, tidak mampu bertukar

pikiran atau gagasan, kehilangan semangat.

b. Solitude

Menyendiri. Tidak mampu mengantisipasi secara positif kehadiran orang lain. Ia

menjebloskan dirinya dalam kesendirian.

c. Feeling of impotence

Rasa tidak mampu. Pasien menunjukkan tidak dapat bertindak, merendahkan dirinya,

tidak mempunyai kegiatan yang bermakna.

d. Was-was dan merasa terancam, tak dapat mengantisipasi peristiwa sehari-hari.

Universitas Sumatera Utara

Page 12: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

12

Komponen lain yang terdapat pada depresi ialah trias kognitif yang terganggu yaitu :

1. Menilai dirinya tidak berguna (I’m worthless)

2. Perasaan permusuhan pada lingkungan (the environment is hostile)

3. Masa depan suram (nothing good can happen)

Tabel 2. Perbedaan Ansietas dengan Depresi13

Ansietas Depresi

Somatis :

Pola tidur

Rasa lelah

Paling tidak enak

Psikis

Rasa kasih sayang

Perhatian hobi

Humor

Tujuan hidup

Menangis

Menyalahkan diri

Sulit tidur

-

Sore hari

+

+

+

+

-

-

Cepat bangun

+

Pagi hari

-

-

-

-

+

+

Evaluasi

Diagnosis pramenstruasi disporia, PMS, atau PMDD berdasarkan gejala dan

mengeksklusikan diagnosis lain yang mungkin. Unsur-unsur penting yang dinilai hubungan

antara gejala dan siklus menstruasi. Untuk menegakkan diagnosis PMS/PMDD penting

mengkonfirmasi pola gejala 2-3 siklus menstruasi dengan gejala harian yang dirasakan oleh

pasien.8

Pertimbangan utama setelah mengidentifikasi pola gejala, apakah yang terjadi murni

PMS/PMDD atau eksaserbasi pramenstruasi dari masalah kejiwaan lainnya atau kondisi

medis lain. Gejala eksaserbasi premenstrual lain seperti asma, migrain, gangguan kejang,

asupan alkohol, depresi dan skizofrenia. Tidak ada tes laboratorium yang mengidentifikasi

PMS/PMDD dan tes tersebut berguna hanya jika ada pertanyaan lain yang mungkin harus

dijawab.

Universitas Sumatera Utara

Page 13: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

13

PMS dan PMDD didasarkan pada siklus menstruasi yang teratur dalam kisaran normal

dari 22-35 hari dan pasien dengan siklus haid yang tidak teratur harus diperiksa untuk kondisi

lainnya. Profil pemeriksaan hematologi standar dan kimia darah dilakukan untuk

mengkonfirmasi keadaan umum saja. Pemeriksaan menyeluruh meliputi review saat ini dan

status psikiatri masa lalu. Gangguan mood dan cemas merupakan gangguan yang biasanya

terkait dengan PMS/PMDD. Pemeriksaan ginekologi penting untuk menyingkirkan masalah

lain seperti endometriosis misalnya.

Antidepresan Serotonergik

Antidepresan serotonergik, khususnya SSRI menjadi pilihan pengobatan untuk PMS

yang berat dan PMDD saat ini. Modulasi fungsi serotonergik konsisten dengan pandangan

teoritis dominan bahwa fluktuasi steroid gonad dari siklus menstruasi memicu respon

serotonergik abnormal rentan terhadap perempuan. Indikasi penanda kelainan transmisi

serotonergik pada wanita dengan PMS berat, adanya bukti rendahnya pengikat imipramine

platelet (Penanda fungsi serotonin perifer [5-hydroxytryptamine, 5-HT] ) pada fase luteal,

rendahnya konten platelet 5-HT dan uptake 5-HT selama fase luteal. Secara signifikan nilai

5-HT keseluruhan menurun premenstrual. Pasien PMS menunjukkan 5-HT yang rendah

lambat berespon terhadap tryptophan (5-HT prekursor) selama fase luteal dibandingkan

dengan fase folikel atau fase midluteal. Tes tantangan depleting tryptophan memprovokasi

gejala PMS.

Setelah pemberian dari fenfluramine serotonin-releasing, wanita dengan PMDD secara

signifikan memiliki respon prolaktin yang kurang baik dibandingkan dengan kontrol yang

normal controls. Fenfluramine diberikan kepada pasien PMS dengan gangguan mood depresi

dan mengidam makanan.

Pemberian serotonin agonis m-chlorophenylpiperazine (M-CPP) menunjukkan

peningkatan dari gejala PMS pada fase luteal dan respon yang tumpul pada kortisol dan

hormon adrenokortikotropik (ACTH) kedua folikular dan fase luteal dari subyek yang PMS

dibandingkan dengan kontrol biasa. Meskipun ada Informasi tidak menunjukkan hubungan

sebab akibat antara serotonin dan PMS, data menunjukkan keterlibatan sistem serotonergik

dalam gangguan ini.

Sebuah meta-analisis dari uji coba terkontrol secara acak, pengobatan PMS / PMDD

dengan SSRI disimpulkan bahwa obat ini merupakan terapi lini pertama yang efektif, dengan

keseluruhan standar rata-rata untuk rasio odds 6.91. Obat yang jelas terbukti efektif

diantaranya fluoxetine, sertraline, paroxetine, citalopram, venlafaxine dan clomipramine.

Universitas Sumatera Utara

Page 14: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

14

Studi Open label menunjukkan bahwa nefazodone dan fluvoxamine juga memiliki respon

dalam pengobatan PMS. Food and Drug Administration (FDA) menyatakan bahwa

pengobatan PMDD adalah fluoxetine dan sertraline.

Dalam semua laporan dari SSRI dan antidepresan serotonergik lainnya pengobatan

untuk PMS/PMDD, dosis efektif tetap pada the low end of the dose range. Dianggap

pengobatan adekuat setelah pemberian obat anti depresan setidaknya terdapat parsial respon

minimal dua siklus dari dengan siklus ketiga. Jika pasien memiliki respon yang kurang baik

atau adanya efek samping yang terus berlanjut, SSRI lain bisa dicoba. Efek samping yang

umum biasanya timbul di awal pengobatan, tapi kemudian sementara saja dan menghilang

selama siklus pengobatan pertama. Efek samping yang umum dari pengobatan sakit kepala,

mual, insomnia, kelelahan atau lesu, diare, konsentrasi menurun, dan pusing. Penurunan

libido juga merupakan efek samping yang umum dari pengobatan SSRI, meskipun

laporannya jarang. Frekuensi yang rendah dari gairah seksual juga dilaporkan, dialami

perempuan depresi berkisar dari 32% (sertraline) ke 40% (paroxetine). Terdapat perbedaan

yang jelas antara PMS dan depresi berat. Biasanya PMS/PMDD percobaan pengobatan akut,

tidak mewakili penilaian yang sistematis dari fungsi seksual, dan mungkin tidak mewakili

pengalaman dengan pengobatan pemeliharaan lebih lama.

Dosis Fase Luteal

Dua uji coba multicenter besar melaporkan khasiat fluoxetine dan sertraline diberikan 2

minggu terakhir dari siklus menstruasi. Seperti dosis harian, dosis rata-rata tetap rendah dan

obat ditoleransi dengan baik. Tidak ada studi sampai saat ini yang melaporkan penghentian

gejala dengan dosis fase luteal. Secara keseluruhan, studi menunjukkan bahwa dosis fase

luteal efektif untuk mendiagnosis PMS/PMDD; pengobatan harian dengan SSRI tidak

dianjurkan; respon biasanya tergantung the low end of the dose range; Efek samping terlihat

pada dosis terus menerus; dan penghentian gejala tidak menjadi masalah pada pemberian

regimen dosis fase luteal.

Antidepresan Lainnya

respon antidepresan pada PMS/PMDD tampaknya terkait potensi aktivitas serotonergik

dan bukan efek antidepresan secara umum. antidepresan lain yang jelas efektif untuk depresi

mayor, seperti desipramine (antidepresan trisiklik noradrenergik), buproprion (dengan

penghambatan lemah dari kedua serotonin dan norepinephrine reuptake) dan maprotoline

Universitas Sumatera Utara

Page 15: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

15

(selektif noradrenalin reuptake inhibitor) tidak lebih efektif daripada plasebo dalam

pengobatan PMS.

Pengobatan Jangka Panjang dari PMS/PMDD

Semua penelitian yang dipublikasi bahwa efikasi pengobatan PMS/PMDD berdasarkan

pada lamanya pengobatan akut 2-3 bulan. laporan anekdot menunjukkan bahwa gejala PMS

kembali dalam beberapa bulan jika obat dihentikan. Hal ini juga tampak bahwa gejala yang

tidak diobati tidak membaik secara spontan seperti yang terjadi pada depresi, tetapi terus

selama bertahun-tahun, berdasarkan informasi dari uji klinis, yang melaporkan bahwa durasi

gangguan antara 8-10 tahun sebelum perawatan. Studi pemeliharaan jangka panjang belum

dilakukan untuk gangguan ini, tapi pengamatan ini menunjukkan bahwa pengobatan

perawatan jangka panjang mungkin sesuai untuk pasien dengan PMS berat/PMDD,

khususnya jika mereka mengalami gejala yang cepat kembali setelah mendapatkan

pengobatan.

Pengobatan Hormonal

Terapi hormon untuk PMS/PMDD tidak didukung oleh informasi ilmiah yang

konsisten terlepas dari bukti keterlibatan gangguan hormonal. Agonis GnRH, seperti depot

leuprolide dan intranasal buserelin efektif mengurangi gejala PMS tetapi penggunaan terbatas

karena risiko yang terkait dengan tingkat estrogen rendah, khususnya osteoporosis, dan obat-

obat ini dipandang sesuai hanya sebagai alat diagnostik atau untuk pasien yang tidak

menanggapi perawatan lainnya. Hasil investigasi awal terapi menggunakan estrogen dosis

rendah dan progesteron dalam hubungannya dengan agonis GnRH tidak konsisten dan belum

definitif menunjukkan aman serta efektif dalam pendekatan pengobatan jangka panjang.

Data yang terbatas menunjukkan bahwa tibolone (a selective estrogen enzim

modulator) diberikan dengan agonis GnRH dalam pengobatan PMS melindungi terhadap

keropos tulang diamati dengan agonis GnRH dan tidak mengurangi efek terapi dari agonist.

Studi plasebo-terkontrol acak, kontrasepsi oral (OC) sebagai pengobatan untuk PMS

berat/PMDD, tidak ada bukti ilmiah yang konsisten efektif untuk gangguan ini. Kontrasepsi

oral trifasik lebih efektif daripada plasebo hanya untuk gejala fisik nyeri payudara dan

bloating. Percobaan terbaru dari OC mengandung progestin baru, analog dari spironolaktone

dengan antimineralokortikoid dan aktivitas antiandrogenik, menunjukkan pengurangan

konsisten baik fisik dan perilaku gejala PMS termasuk mood disporik. Tapi studi tambahan

dengan kekuatan statistik yang cukupdibutuhkan.

Universitas Sumatera Utara

Page 16: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

16

Singkatnya, ada sedikit dukungan empiris atau bimbingan untuk kontrasepsi oral

sebagai pengobatan untuk PMS / PMDD. Jika gejala suasana hati yang dominan dan

konsisten, antidepresan serotonergik dianggap terapi lini pertama.

Terapi estrogen dengan dosis rejimen yang cukup untuk menekan ovulasi secara

signifikan menurun mood disporik dan gejala fisik PMS. Namun, Estrogen harus bersiklus

dengan progesteron untuk mengurangi risiko kanker rahim, dan sejauh mana progesteron

eksogen menyebabkan kembalinya gejala PMS masih belum jelas. Pengobatan progesteron

untuk dianjurkan bertahun-tahun. Tetapi banyak penelitia termasuk tiga penelitian besar uji

acak terkontrol, gagal menunjukkan peningkatan secara signifikan lebih besar dibandingkan

plasebo untuk gangguan mood dan gejala PMS.

Universitas Sumatera Utara

Page 17: Gangguan Siklus Haid Pada Depresi

17

Daftar Pustaka

1. Baziad Ali Med. Endokrinologi Ginekologi. Edisi Ketiga. Media Aesculapius

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2008. Hal 35-37.

2. Anwar Mochamad, Baziad Ali, Prabowo Prajitno. Ilmu Kandungan. PT Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 2011. Halaman 75-79, 464-465.

3. Zinger M. Epidemiology of Abnormal Uterine Bleeding in : O’Donavan Pj, Miller

CE, Modern Management of Abnormal Uterine Bleeding. London, Informa. 2008.

Page 8-25.

4. Lund KJ. Abnormal Uterine Bleeding in : Alvero R, Schlaff W. Reproductive

Endocrinology and Infertility. The Requisites in Obstetrics and Gynecology,

Philadelphia, Mosby Elsevier. 2007. Page 77-91.

5. Simajuntak P. Gangguan Haid dan Siklusnya. Dalam : Wiknjosastro H, Saiffudin AB,

Rachimhadhi T, Ilmu Kandungan. Edisi ke-2 cetakan ke-6. Jakarta : Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo. 2008. Halaman 34-203.

6. Baziad A. Gangguan Haid. Dalam : Endokrinologi Ginekologi. Edisi ke-3. Jakarta :

Media Aesculapius. 2008. Halaman 35-47.

7. Speroff L, Fritz MA. Dysfunctional Uterine Bleeding, in : Clinical Gynecologic

Endocrinology and Infertility 7th ed, Philadelphia, Lippincot Williams & Wilkins.

2005. Page 71-547.

8. Freeman W Ellen. Treatment of depression associated with the menstrual cycle:

premenstrual dysphoria, postpartum depression, and the perimenopause. Dialogues in

Clinical Neuroscience - Vol 4 . No. 2 . 2002

9. Martaadisoebrata Djamhoer, Sastrawinata Sulaiman R, Saifuddin Bari Abdul. Bunga

Rampai Obstetri dan Ginekologi Sosial. Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo. Jakarta. 2005. Halaman 133-146.

10. Hudono ST, Wiknjosastro H. Psikosomatik dan Seksologi, Ilmu Kandungan. Edisi

Kedua. YBPSP. 1994.

11. Soucasaux N. Clinical and Psychosomatic Gynecology ; New Perpectives in

Gynecology Imago Editora. Rio deJeniro. 2003.

12. Mudjaddid E. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi VI : Bab Psikosomatik :

Pemahaman dan Penanganan Psikosomatik Gangguan Ansietas dan Depresi di Bidang

Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing. Jakarta. 2015. Halaman 3583-3586.

13. Sutter J. Anticipation and Depression. International Reference 1990. Survector

Scientific Collection. Page 1-7.

Universitas Sumatera Utara