of 23/23
HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DAN HARGA DIRI DENGAN SUBJECTIVE WELL BEING NASKAH PUBLIKASI NUR FADHILAH AL-KARIMAH S 300 130 004 PROGRAM MAGISTER PSIKOLOGI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2015

HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DAN HARGA DIRI …eprints.ums.ac.id/37548/1/02. Naskah Publikasi.pdf · penelitian ini adalah: “Apakah ada hubungan antara penyesuaian diri dan

  • View
    215

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DAN HARGA DIRI …eprints.ums.ac.id/37548/1/02. Naskah...

  • HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DAN

    HARGA DIRI DENGAN SUBJECTIVE WELL BEING

    NASKAH PUBLIKASI

    NUR FADHILAH AL-KARIMAH

    S 300 130 004

    PROGRAM MAGISTER PSIKOLOGI

    PROGRAM PASCASARJANA

    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

    2015

  • HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DAN

    HARGA DIRI DENGAN SUBJECTIVE WELL BEING

    NASKAH PUBLIKASI

    Diajukan untuk Memenuhi sebagian Syarat guna Memperoleh

    Gelar Magister Psikologi dalam Ilmu Psikologi

    NUR FADHILAH AL-KARIMAH

    S 300 130 004

    PROGRAM MAGISTER PSIKOLOGI

    PROGRAM PASCASARJANA

    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

    2015

  • HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DAN HARGA DIRI

    DENGAN SUBJECTIVE WELL BEING

    Nur Fadhilah Al-Karimah1)

    Magister Psikologi Sekolah Pascasarjana

    ABSTRAK

    Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara empiris: 1) hubungan antara

    penyesuaian diri dengan meningkatnya subjective well being pada penyandang

    tunadaksa; 2) hubungan antara harga diri dengan meningkatnya subjective well

    being pada penyandang tuna daksa; 3) hubungan antara penyesuaian diri dan

    harga diri dengan meningkatnya subjective well being pada penyandang tuna

    daksa. Subjek penelitian yaitu siswa-siswi penyandang tuna daksa di BBRSBD

    Prof. Dr. Soeharso, Surakarta, Jawa Tengah berjumlah 140 siswa. Metode

    pengumpulan data menggunakan skala penyesuaian diri, skala harga diri dan

    skala subjective well being. Metode analisis data menggunakan analisis regresi

    ganda. Hasil analisis data menyatakan ada hubungan yang sangat signifikan antara

    penyesuaian diri dan harga diri dengan subjective well being pada siswa-siswi

    penyandang tuna daksa. Aspek variabel penyesuaian diri memiliki pengaruh yang

    lebih kuat pada subjective well being dari pada harga diri, sedangkan aspek yang

    paling kecil pengaruhnya adalah aspek harga diri. Implikasi bagi psikologi

    pendidikan menjadi bahan evaluasi serta dibutuhkan peranan ilmu psikologi

    dalam upaya meningkatkan subjective well being dikalangan penyandang tuna

    daksa.

    Kata kunci: penyesuaian diri, harga diri, subjective well being

    1) Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

  • THE RELATIONSHIP BETWEEN SELF ADJUSTMENT AND SELF-

    ESTEEM WITH SUBJECTIVE WELL BEING

    Nur Fadhilah Al-Karimah2)

    Master of Science Psychology Post-Graduate School

    ABSTRACT

    The aims of this research are to prove empirically: 1) relationship between self

    adjustment with the increasing of subjective well being in people with disability;

    2) relationship between self-esteem with the increasing of subjective well being in

    people with disability; 3) relationship between self adjustment and self-esteem

    with the increasing of subjective well being in people with disability. The subjects

    of this research are students with disability in BBRSBD Prof. Dr. Soeharso,

    Surakarta, Central Java about 140 students. Data collection method used self

    adjustment scale, self-esteem scale and subjective well being scale. The method of

    analysis data used multiple regression analysis. The result of data analysis

    suggests that there is a significant relationship between self adjustment and self-

    esteem with subjective well being in students with disability. The aspect of self

    adjustment variable has the most dominant influence towards subjective well

    being more than self esteem, while the least influenced aspect is self-esteem

    aspect. Implications for psychological science education that is the subject of the

    evaluation as well as the necessary role of psychology to increase subjective well

    being.

    Keywords: self adjustment, self-esteem, subjective well being

    2) Student of Master of Science Psychology in Muhammadiyah University Surakarta

  • 1

    PENDAHULUAN

    Individu dapat mencapai tujuan hidup apabila merasakan kebahagian,

    kesejahteraan, kepuasan, dan positif terhadap kehidupannya. Kebahagiaan yang

    dirasakan oleh setiap individu dapat bersumber dari berbagai macam hal dan sifatnya

    subjektif. Kebahagiaan, kesejahteraan, dan rasa puas terhadap hidup yang bersifat

    subjektif inilah dikenal dengan istilah sebagai subjective well being.

    Subjective well being yang tinggi akan berdampak pada kondisi yang lebih

    baik pada kesehatan, kinerja, hubungan sosial, dan perilaku etis. Dengan kondisi

    Subjective well being yang tinggi diharapkan individu dapat menjadi produktif,

    khususnya pada individu yang memasuki usia dewasa dimana seseorang harus bisa

    hidup mandiri. Subjective well being meliputi evaluasi subjektif seseorang terhadap

    keadaan dirinya saat ini dan merupakan kombinasi antara adanya afek positif atau

    ketiadaan afek negatif serta kepuasan hidup secara umum (Diener, 2008).

    Berdasarkan BPS tahun 2004, individu tunadaksa selalu merasa tertekan dan

    didiskriminasi oleh masyarakat, diantaranya sikap masyarakat mengejek atau

    menertawakan sebanyak 69,9%, sikap masyarakat menolak kehadiran mereka

    sebanyak 35,5%, sikap acuh tak acuh sebanyak 15%, dan sikap masyarakat terlalu

    protektif sebanyak 13,7% (BPS, 2004 dalam Gladys, 2010). Data-data tersebut

    sejalan dengan temuan-temuan data awal di BBRSBD Prof. Dr. Soeharso. Data

    tersebut adalah sebagai berikut :

  • 2

    Tabel 1. Hasil Quesioner terbuka Siswa Penyandang Tunadaksa di BBRSBD (26-27 November

    2014)

    1 Kepuasan hidup siswa Sangat puas

    5%

    Puas 10% Cukup puas

    50%

    Tidak puas

    35%

    2 Hal yang sering

    menimbulkan kepuasan

    hidup

    Bersama

    teman 45%

    Bersama

    keluarga

    38,3%

    Bersama

    pasangan 8,3%

    Sendirian

    8,3%

    3 Hal yang sering

    menimbulkan perasaan

    tidak puas

    Tidak punya

    teman 55%

    Tidak punya

    pacar 8,3%

    Sendirian

    28,3%

    Tidak punya

    keluarga

    8,3%

    4 Kenyamanan hidup

    siswa

    Sangat

    nyaman 6,7%

    Nyaman

    11,7%

    Cukup nyaman

    48,3%

    Tidak

    nyaman

    33,3%

    5 Hal yang mengganggu

    pikiran siswa

    Masa depan

    suram 45%

    Tidak punya

    pasangan

    16,7%

    Tidak

    mempunyai

    teman 30%

    Diasingkan

    oleh keluarga

    8,3%

    6 Hal yang membuat

    siswa bahagia

    Bersama

    teman 66,7%

    Bersama

    keluarga

    33,3%

    7 Hal yang membuat

    siswa sedih

    Merasa tidak

    berguna

    41,7%

    Diasingkan

    keluarga

    16,7%

    Jauh dari

    keluarga 25%

    Berpisah

    dengan

    teman 16,7%

    Berdasarkan hasil quesioner terbuka diperoleh kesimpulan bahwa siswa

    penyandang tuna daksa merasa cukup puas dengan kehidupannya saat ini dan yang

    dapat menimbulkan kepuasan hidup ketika bersama dengan teman-temannya. Siswa

    penyandang tuna daksa beranggapan bahwa dirinya merasa tidak berguna di

    masyarakat dan memiliki masa depan yang suram.

    Hasil temuan data awal diatas sesuai dengan pendapat Hallahan (2006) bahwa

    efek besar yang dialami oleh individu dengan physical disability (tunadaksa) dalam

    bidang akademik adalah kurangnya pengalaman pendidikan dan tidak bisa

  • 3

    memanipulasi materi sekolah dan merespon tugas-tugas yang biasa dilakukan oleh

    orang-orang kebanyakan.

    Dianawati (2005) menambahkan bahwa pada umumnya individu tunadaksa

    kurang memiliki pengalaman yang positif dikarenakan mereka tidak memiliki posisi

    yang menguntungkan dalam hubungan sosial sehingga mereka menjadi inferior.

    Perasaan inferioritas pada individu tunadaksa adalah penerimaan yang buruk

    mengenai diri sendiri, rendah diri sehingga menyebabkan kurangnya kepercayaan

    diri, sifat malu pada diri sendiri yang kemudian mengarahkan individu pada usaha

    mengisolasi dirinya sendiri dan akibatnya individu tersebut cenderung merasa

    berbeda secara negatif.

    Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka perumusan masalah dalam

    penelitian ini adalah: Apakah ada hubungan antara penyesuaian diri dan harga diri

    dengan subjective well being?. Sejalan dengan rumusan masalah, tujuan dari

    penelitian ini adalah untuk menguji secara empirik hubungan penyesuaian diri dan

    harga diri dengan subjective well being.

    Penelitian mengenai subjective well being pada remaja telah banyak

    dilakukan, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Diantaranya adalah penelitian

    Riyanto (2010) dengan subjek siswa Sekolah Menengah Atas kelas X-XII, sebanyak

    299 siswa. Penelitian ini mengungkap pengaruh self esteem dan pola pendidikan

    terhadap well being remaja. Hasil penelitian ini menemukan bahwa self esteem dan

    pola pendidikan memiliki pengaruh positif terhadap well being remaja.

    Penelitian mengenai subjective well being juga telah dilakukan di luar negeri.

    Penelitian Luhman, Eid, Hofmann & Lucas (2012) tentang subjective well being dan

    adaptasi pada peristiwa kehidupan: sebuah studi meta analysis. Hasil penelitian

    menunjukkan bahwa peristiwa hidup memiliki efek yang berbeda pada kesejahteraan

    afektif dan kognitif dan sebagian besar peristiwa memiliki efek yang lebih kuat dan

    lebih konsisten pada kesejahteraan kognitif. Perbedaan peristiwa hidup berbeda pada

    efek subjective well being pada masing-masing individu tetapi efek-efek ini bukan

    merupakan fungsi untuk menduga peristiwa seperti yang diinginkan.

  • 4

    Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada metode

    penelitian, fokus kajian dan subjek yang digunakan. Dalam penelitian yang telah ada

    dengan menggunakan metode meta analysis, sedangkan penelitian ini menggunakan

    analisis regresi ganda. Fokus kajian dalam penelitian terdahulu adalah peristiwa

    hidup, jenis kelamin, dan stress, sedangkan dalam penelitian ini fokus kajiannya pada

    penyesuaian diri dan harga diri dengan subjective well being. Subjek yang digunakan

    pada penelitian terdahulu dengan menggunakan mahasiswa, sedangkan subjek yang

    digunakan pada penelitian ini adalah tuna daksa di BBRSBD Prof Dr. Soeharso

    Surakarta, dengan demikian penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian yang

    telah dipaparkan sebelumnya.

    Subjective Well Being

    Subjective well being dalam bahasa sehari-hari disebut dengan kebahagiaan.

    Namun, para peneliti lebih memilih untuk menyebut subjective well being karena

    istilah happiness (kebahagiaan) memiliki bermacam-macam arti yang masih

    diperdebatkan. Carr (2004) memberikan definisi yang sama antara kebahagiaan dan

    subjective well being, yakni sebuah keadaan psikologis positif yang

    dikarakteristikkan dengan tingginya tingkat kepuasan terhadap hidup, tingginya

    tingkat emosi positif dan rendahnya tingkat emosi negatif. Subjective well being atau

    bisa disebut kesejahteraan subjective didefinisikan sebagai suatu fenomena evaluasi

    secara kognitif dan emosional dari individu mengenai kehidupannya seperti yang

    disebut orang awam yaitu kebahagiaan, ketentraman, dan kepuasan hidup (Diener &

    Suh, 2000; Pavot & Diener, 2004; Diener & Biswas-Diener, 2008).

    Aspek-aspek subjective well being menurut Jayawickreme, Forgeard &

    Seligman (2012) antara lain: emosi positif yaitu perasaan positif yang diperoleh dari

    hasil pengalaman masa lalu dan harapan di masa yang akan datang, keterlibatan yaitu

    ikut serta dan menikmati tugas yang diberikan, relasi sosial, kebermaknaan yaitu

    kesadaran tentang kekuatan dan bakat yang dimiliki, dan pencapaian yaitu penilaian

    atau prestasi seseorang terhadap keberhasilan dalam memenuhi keinginan atau

    kebutuhannya.

  • 5

    Menurut Diener, Oishi & Lucas (2002) bahwa faktor-faktor yang

    mempengaruhi subjective well being antara lain: diantaranya harga diri, tujuan hidup,

    kepribadian, hubungan sosial, kesehatan, demografi, sumber pemenuhan kebutuhan,

    budaya, adaptasi, kognitif, dan religiunitas/spiritualitas. Menurut Fafchamps dan

    Kebede (2008) dalam penelitiannya mengatakan bahwa adanya hubungan yang

    signifikan antara kecacatan dengan Subjective Well Being. Keadaan tubuh yang cacat

    dapat mengakibatkan perasaan rendah diri, frustasi, merasa diri tidak berguna, dan

    menarik diri dari lingkungan yang pada gilirannya akan dapat mempengaruhi

    pencapaian kebahagiaan dalam hidupnya.

    Penyesuaian Diri

    Menurut Kartono (2008) penyesuaian diri merupakan usaha manusia untuk

    mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan, sehingga rasa permusuhan,

    dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan emosi negatif yang lain sebagai

    respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien dapat dihilangkan. Penyesuaian

    diri merupakan proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku individu

    agar terjadi hubungan yang harmonis antara individu dengan lingkungannya.

    Hurlock (2008) menambahkan aspek-aspek penyesuaian diri yaitu; mampu

    menilai situasi dan kondisi secara realistik, dapat bertanggung jawab, mampu menilai

    diri untuk berprestasi ataupun ketika gagal tetap optimis, mampu untuk hidup

    mandiri. Schneiders (2008) berpendapat bahwa faktor kondisi fisik, perkembangan

    dan kematangan unsur-unsur kepribadian, pengalaman, kondisi lingkungan dan peran

    kebudayaan (keyakinan dan agama) dapat mempengaruhi penyesuaian diri individu.

    Harga Diri

    Definisi harga diri yaitu evaluasi individu terhadap dirinya sendiri secara

    positif atau negatif. Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya

    sendiri, dan diakui atau tidaknya kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya.

    Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan terhadap keberadaan dan keberartian diri

    (Dariyo & Ling, 2002; Baron & Byrne, 2004; Chaplin, 2004).

  • 6

    Menurut coopersmith (1967) aspek-aspek harga diri meliputi: Self values,

    diartikan sebagai nilai-nilai pribadi individu yaitu isi dari diri sendiri, harga diri

    ditentukan oleh nilai-nilai pribadi yang diyakini individu sebagai nilai-nilai yang

    sesuai dengan dirinya. Leadership popularity, yaitu individu yang memiliki harga diri

    yang tinggi cenderung mempunyai kemampuan yang dituntut dalam kepemimpinan

    (leadership), sedangkan popularitas merupakan penilaian individu terhadap dirinya

    sendiri berdasarkan pengalaman keberhasilan yang diperoleh dalam kehidupan

    sosialnya dan tingkat popularitasnya mempunyai hubungan dalam harga diri,

    sehingga semakin populer individu diharapkan mempunyai harga diri yang tinggi.

    Menurut Mruk (2006) faktor yang mempengaruhi harga diri antara lain:

    hubungan yang berkenaan dengan orangtua, jenis kelamin, orientasi budaya, faktor

    sosial dan nilai. Argyle (2008) menambahkan faktor yang mempengaruhi harga diri

    antara lain: reaksi dari orang lain, peran sosial dan identifikasi.

    Tuna Daksa

    Pengertian tuna daksa adalah bentuk kelainan atau kecacatan pada sistem otot,

    tulang dan persendian yang bersifat primer atau sekunder yang dapat mengakibatkan

    gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilitas dan gangguan perkembangan

    keutuhan pribadi (Fafchamps & Kebede 2008).

    Hubungan Antara Penyesuaian Diri dan Harga Diri dengan Subjective Well

    Being

    Individu penyandang tuna daksa kadang mengalami perlakuan yang kurang

    nyaman dimana orang-orang sebenarnya melihat mereka tetapi menganggap mereka

    tidak ada. Hal ini diperparah oleh persepsi negatif publik yang menyatakan bahwa

    individu tuna daksa itu berbeda, aneh, terasing dari kehidupan sosial, dan lain-lain

    yang intinya membedakan individu tuna daksa dengan orang-orang normal.

    Stigma-stigma negatif tentang tuna daksa yang tidak berhasil dikelola,

    membuat individu tuna daksa menjadi terasing sehingga merasakan ketidakberdayaan

    pada dirinya. Kecanggungan yang tampak pada tuna daksa memperjelas bahwa

    sulitnya diterima seperti layaknya individu normal. Lingkungan yang kurang

  • 7

    mendukung merupakan bukti rendahnya dukungan sosial, hal ini sangat menghambat

    inisiatif penyandang tuna daksa untuk bergaul memperluas penyesuaian dirinya (Nur,

    2012).

    Tingkat penyesuaian diri yang rendah pada penyandang tuna daksa turut

    didukung dengan hambatan internal yang berasal dari diri individu tuna daksa seperti

    rendah diri, sensitif, tidak mandiri, dengan begitu maka individu tuna daksa semakin

    menarik diri dari masyarakat. Menarik diri dari kehidupan berpengaruh pada kondisi

    psikologis yang memperburuk seperti berkurangnya ketrampilan sosial, rendahnya

    keinginan berkompetisi dan apatis dengan keadaan sekitar. Selain itu, afek negatif

    seperti perasaan kesepian dan tidak puas dengan kehidupan semakin intens dirasakan.

    Jika hal ini tidak diatasi maka akan mengarah pada keadaan depresi (Steels & Ones,

    2002).

    Individu yang mengalami cacat fisik dapat berpengaruh pada keadaan

    mentalnya dan tidak jarang dapat menimbulkan masalah psikologis yang dapat

    mengganggu dalam pergaulan sehari-hari. Masalah-masalah tersebut diantaranya

    rendahnya harga diri, rasa malu yang dapat menghambat interaksi sosial serta emosi-

    emosi negatif yang mendominasi akibat masih sulit menyesuaikan diri dalam

    menjalani hidup dengan kekurangan fisiknya, terutama bagi penyandang tuna daksa

    akibat kecelakaan (Fafchamps & Kebede, 2008).

    Harga diri merupakan bagian dari konsep diri yang mempunyai arti sebagai

    suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap-sikap

    yang dapat bersikap positif maupun negatif (Baron dan Bryne, 2004). Harga diri yang

    positif akan membangkitkan rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan

    kemampuan diri, rasa berguna serta yakin kehadirannya diperlukan di dunia ini.

    Individu yang memiliki harga diri rendah akan cenderung merasa bahwa dirinya tidak

    mampu dan berharga (Tambunan, 2001).

    Setiap individu tentu saja berkeinginan memiliki kepribadian yang sehat

    termasuk penyandang tuna daksa, dengan harapan kepribadian yang sehat akan

    muncul perilaku yang positif. Tentu saja penyesuaian diri menjadi bagian yang

  • 8

    penting bagi individu. Dengan kata lain apabila penyesuaian dirinya baik maka

    individu tersebut akan dapat menyesuaikan diri dan berperilaku baik di dalam

    lingkungannya.

    Menurut Kartono (2008) individu dikatakan memiliki penyesuaian diri yang

    memuaskan apabila dapat memenuhi kebutuhan dan mengatasi ketegangan, frustasi

    dan konflik yang dihadapinya. Dapat pula dikatakan apabila individu memiliki

    penyesuaian diri yang baik dan di dukung oleh lingkungan keluarga dan sekolahnya

    maka individu akan dapat menampakkan perilaku yang sesuai dengan norma yang

    berlaku di masyarakat. Sebaliknya apabila individu kurang mampu menyesuaikan

    diri, maka individu akan menampakkan perilaku yang negatif. Perilaku negatif

    tersebut selain dapat merugikan diri sendiri juga dapat merugikan lingkungan

    sekitarnya.

    Individu dapat mencapai tujuan hidup dan cita-citanya apabila perasaannya

    bahagia, sejahtera, puas, serta positif terhadap kehidupannya. Individu yang memiliki

    perasaan tersebut merupakan individu yang memiliki subjective well being yang baik.

    Rasa bahagia, sejahtera, puas serta positif akan berdampak pada kondisi yang lebih

    baik pada kesehatan, kinerja, hubungan sosial, dan perilaku etis (Kasebir & Diener,

    2008). Perasaan tersebut didapatkan penyandang tuna daksa ketika dukungan

    sosialnya baik. Penerimaan diri seorang tuna daksa didapat dari penyesuaian diri yang

    dilakukan dengan sesama tuna daksa ketika mengikuti program rehabilitasi atau

    pelatihan-pelatihan di BBRSBD Prof Dr. Soeharso Surakarta. Dengan kondisi

    subjective well being yang baik diharapkan individu dapat menjadi produktif, terlebih

    pada individu yang memasuki usia dewasa dimana individu tersebut harus bisa hidup

    mandiri.

    Hipotesis

    Berdasarkan telaah pustaka yang telah di uraikan, maka hipotesis yang penulis

    ajukan adalah sebagai berikut:

    1. Hipotesis mayor:

  • 9

    Ada hubungan antara penyesuaian diri dan harga diri dengan subjective well

    being.

    2. Hipotesis minor:

    a. Ada hubungan positif antara penyesuaian diri dengan subjective well being.

    b. Ada hubungan positif antara harga diri dengan subjective well being.

    METODE PENELITIAN

    Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi penyandang tuna daksa di

    BBRSBD Prof. Dr. Soeharso Surakarta dan jumlah siswa terdiri dari 230 siswa.

    populasi atau keseluruhan dari subyek yang akan diteliti dalam pembahasan ini

    adalah seluruh siswa penyandang tuna daksa di BBRSBD Prof. Dr. Soeharso

    Surakarta yang mengikuti keterampilan reparasi sepeda motor 22 siswa, pertukangan

    las 10 siswa, penjahitan 33 siswa, salon kecantikan 12 siswa, elektro 13 siswa,

    photografi 20 siswa, percetakan 18 siswa, komputer 22 siswa, handycraft 45 siswa,

    bordir 12 siswa, tataboga 12 siswa, pertukangan kayu 11 siswa. Jumlah total populasi

    dalam penelitian ini adalah 230 siswa.

    Dalam menentukan jumlah sampel, Arikunto (2005) memberikan pendapat

    jika peneliti memiliki beberapa ratus subjek dalam populasi, maka mereka dapat

    menentukan kurang lebih 25-30% dari jumlah tersebut. Diperoleh perhitungan

    sebagai berikut: 30% dari 230 siswa yaitu 70 siswa-siswi penyandang tuna daksa di

    BBRSBD Prof. Dr. Soeharso Surakarta.

    Pengambilan sampel penelitian berdasarkan kelas kursus yang diikuti oleh

    siswa penyandang tuna daksa sehingga teknik pengambilan sampel pada penelitian

    ini menggunakan cluster random sampling, dimana semua siswa mendapat peluang

    yang sama untuk menjadi sampel bukan siswa secara individual atau perseorangan,

    melainkan secara kelompok (Suryabrata, 2009).

    HASIL PENELITIAN

    Hasil analisis data menyatakan bahwa: (1) ada hubungan yang sangat

    signifikan antara penyesuaian diri dan harga diri dengan subjective well being; (2)

    ada hubungan positif yang sangat signifikan antara penyesuaian diri dengan

  • 10

    subjective well being. Semakin tinggi penyesuaian diri, maka semakin tinggi

    subjective well being pada siswa; (3) ada hubungan positif yang sangat signifikan

    antara harga diri dengan subjective well being. Semakin tinggi harga diri, maka

    semakin tinggi subjective well being.

    Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan sebelumnya, maka hipotesis yang

    diajukan oleh peneliti dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa ada hubungan

    antara penyesuaian diri dan harga diri dengan subjective well being diterima. Nilai

    koefisien korelasi yang diuji melalui analisis regresi berganda dengan menggunakan

    program SPSS 21.0 for Windows, menunjukkan bahwa R = 0,478; F regresi = 62,702; p

    = 0,000 (p < 0,01). Berarti ada hubungan signifikan antara penyesuaian diri dan harga

    diri dengan subjective well being di panti rehabilitasi penyandang tuna daksa

    BBBRSBD Prof. Dr. Soeharso.

    Perolehan data menunjukkan subjective well being tergolong sangat tinggi,

    dengan nilai rerata empirik sebesar 137,7. Berdasarkan hasil analisis diketahui

    variabel penyesuaian diri memiliki rerata empirik 108,05 lebih besar dari rerata

    hipotetik 75 yang berarti penyesuaian diri siswa sangat tinggi. Sedangkan peranan

    atau sumbangan efektif penyesuaian diri terhadap subjective well being sebesar =

    34,3%. Hasil tersebut sama halnya dengan penelitian dari Fafchamps dan Kebede

    (2008) yang menunjukkan bahwa kesejahteraan dari penyandang cacat di Ethiopia

    dapat berawal dari adaptasi (penyesuaian diri) dari seseorang penyandang. Setelah

    terdapat pengontrolan untuk peringkat kekayaan, pengaruh kecacatan pada

    kesejahteraan menghilang. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara dua variabel

    pada dasarnya memiliki pengaruh adaptasi dari kecacatan pada kesejahteraan

    material.

    Pendapat lain dari Luhman (2012) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa

    peristiwa kehidupan yang berbeda-berbeda dalam efek subjective well being, tetapi

    dalam efek ini tidak berfungsi dugaan keinginan tentang peristiwa. Hasil dibahas

    sehubungan dengan implikasi teoritis mereka, dan rekomendasi untuk studi di masa

    depan dengan adaptasi yang diberikan.

  • 11

    Sehingga dari situ dapat dijelaskan bahwa adaptasi dalam penelitian ini

    penyesuaian diri sangat dibutuhkan dalam menunjang kehidupan sehari-hari, sebab

    penyesuaian diri merupakan proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah tingkah

    laku individu agar terjadi hubungan yang harmonis antara individu dengan

    lingkungannya. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Kartono (2008) bahwa

    penyesuaian diri merupakan usaha individu untuk mencapai harmoni pada diri sendiri

    dan pada lingkungan, sehingga energi-energi negatif yang ada di individu tersebut

    dapat dihilangkan.

    Harga diri memiliki rerata empirik 123,81 lebih besar dari rerata hipotetik 90,

    hal ini berarti bahwa harga diri siswa tergolong sangat tinggi. Sedangkan sumbangan

    efektif harga diri terhadap subjective well being sebesar = 13,5%. Dalam penelitian

    Glenna dan John (2014) Pengaruh enkulturasi, harga diri, kesejahteraan subjektif, dan

    dukungan sosial pada ketahanan antara perkotaan American Indian (AI) remaja dari

    wilayah Tengah Selatan dari AS dieksplorasi. 30% dari varians dalam ketahanan

    dipertanggungjawabkan oleh enkulturasi, harga diri, dan dukungan sosial, sementara

    34% dari varians dalam ketahanan disumbangkan oleh enkulturasi, kesejahteraan

    subjektif, dan dukungan sosial. Namun, dukungan sosial dari teman tetap menjadi

    prediktor terkuat dalam mempengaruhi subjective well being individu tersebut.

    Hasil analisis diatas sesuai dengan beberapa teori yang menjelaskan tentang

    bagaimana penyesuaian diri dan harga diri mempengaruhi subjective well being yang

    mengacu pada persepsi individu tentang keberadaan dirinya atau melihat secara

    subjective pengalaman hidup individu tersebut. Menurut Diener, Oishi dan Lucas

    (2002) bahwa persepsi individu akan subjective well being dipengaruhi oleh beberapa

    faktor antara lain yaitu penyesuaian diri dan harga diri. Bagi penyandang tuna daksa,

    keadaan tubuh yang cacat dapat mengakibatkan perasaan rendah diri, merasa diri

    tidak berguna dan menarik diri dari interaksi social, hal ini senada dengan hasil

    penelitian yang dilakukan oleh Fafchamps dan Kebede (2008) yang mengatakan

    bahwa adanya hubungan yang signifikan antara kecacatan dengan subjective well

    being.

  • 12

    Hasil penelitian lain yang menunjukkan keseluruhan sumbangan efektif

    variabel penyesuaian diri dan harga diri terhadap subjective well being sebesar 47,8%

    yang ditunjukkan oleh koefisien determinan ( ) 0,478. Hal ini berarti terdapat

    52,2% variabel lain yang mempengaruhi subjective well being diluar variabel

    penyesuaian diri dan harga diri.

    Variabel lain yang dimaksudkan antara lain yang mempengaruhi subjective

    well being menurut Jayawickreme, Forgeard dan Seligman (2012) antara lain: emosi

    positif yaitu perasaan positif yang diperoleh dari hasil pengalaman masa lalu dan

    harapan di masa yang akan datang, keterlibatan yaitu ikut serta dan menikmati tugas

    yang diberikan, relasi sosial, kebermaknaan yaitu kesadaran tentang kekuatan dan

    bakat yang dimiliki, dan pencapaian yaitu penilaian atau prestasi seseorang terhadap

    keberhasilan dalam memenuhi keinginan atau kebutuhannya. Emosi negatif yang

    terdapat pada diri siswa penyandang tuna daksa membuat siswa penyandang tuna

    daksa menjadi sering merasa terasing dari kehidupan sosialnya.

    SIMPULAN DAN SARAN

    Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan dapat diambil

    kesimpulan bahwa:

    1. Penyesuaian diri dan harga diri bersama-sama memiliki kontribusi positif

    terhadap subjective well being pada siswa penyandang tuna daksa di BBRSBD

    Prof. Dr. Soeharso. Artinya, penyesuaian diri dan harga diri dapat menjadi

    prediktor subjective well being.

    2. Sumbangan efektif yang diberikan dari masing-masing variabel

    independen/prediktor terhadap subjective well being adalah sumbangan efektif

    penyesuaian diri sebesar = 34,3% dan sumbangan efektif harga diri terhadap

    subjective well being sebesar = 13,5%.

    3. Kategorisasi dari setiap variabel dalam penelitian ini bergerak pada level sangat

    tinggi.

  • 13

    Berdasarkan pembahasan dan hasil penelitian beberapa saran yang diberikan

    oleh peneliti adalah :

    1. Bagi siswa penyandang tuna daksa

    Diharapkan :

    Untuk meningkatkan penyesuaian diri, harga diri yang masih rendah

    dengan cara :

    a. Meningkatkan kemampuan untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman

    masa lalu, bersikap realistik dan objektif setiap menghadapi problem-

    problem, dan meningkatkan kontrol emosi secara positif.

    b. Selalu berpikir positif, sikap dan penerimaan yang positif terhadap perlakuan

    orang lain terhadap dirinya

    2. Bagi keluarga siswa penyandang tuna daksa

    Diharapkan :

    Untuk selalu mensupport dan memotivasi siswa agar kepercayaan dirinya

    dapat meningkat sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan

    masyarakat di sekitarnya dengan penuh percaya diri dan mereka tidak menjadi

    individu yang introvert, rendah diri yang dapat mengakibatkan siswa penyandang

    tuna daksa menarik diri dari lingkungan sosial.

    3. Bagi BBRSBD Prof. Dr. Soeharso Surakarta

    Diharapkan :

    Untuk lebih intensif lagi dalam mengembangkan serta mempertahankan

    kegiatan-kegiatan balai yang produktif sehingga ketika lulus nanti siswa

    penyandang tuna daksa dapat memenuhi tuntutan lingkungan baik secara fisik

    maupun sosial.

    4. Bagi peneliti selanjutnya

    Diharapkan :

    Untuk menyempurnakan hasil penelitian ini dengan cara memperbarui

    metode penelitian dan pengumpulan data atau menambah variabel-variabel lain

    yang belum diungkap. Dengan menggunakan pendekatan mix method data yang

  • 14

    diperoleh menjadi semakin terpercaya karena saling mendukung antara kualitatif

    dengan kuantitatif dalam penelitian, selain itu hasil penelitian akan lebih

    mendalam dari pada hanya menggunakan metode kuantitatif.

    DAFTAR PUSTAKA

    Abdo, H. A., & Alamudin, R. (2007). Predictors of subjective well being among

    college youth in Lebanon. Journal of Social Psychology, 147 (3), 265-284.

    Ardhian, R. P. (2014). Hubungan antara penerimaan diri dengan penyesuaian diri

    pada remaja difabel. (Skripsi tidak dipublikasikan). Fakultas Psikologi

    Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

    Argyle, M. (2008). Sosial encounters: Contributions to social interaction. Aldine

    Transaction.

    Arikunto, S. (2005). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktis. Jakarta: PT.

    Rineka Cipta.

    Baron, R. A., & Bryne, D. (2004). Psikologi sosial (ed. 1). Jakarta: Erlangga.

    Branden, N. (2001). Kiat jitu meningkatkan harga diri. Jakarta: Delaprasata.

    Calhoun, J.F., & Acocella, J. R. (1995). Psikologi tentang penyesuaian dan hubungan

    kemanusiaan. Semarang: Press Semarang.

    Carr, A. (2004). Positive psychology: The science of happiness and human strengths.

    New York: Brunner-Routledge.

    Cast, D. A. & Burke, P. J. (2002). A theory of self esteem. Journal of Social Force,80

    (3), 115-130.

    Compton, W. C. (2005). Introduction to positive psychology. New York: Thomson

    Wodsworth.

    Damayanti, S., & Rostiana. (2003). Dinamika emosi penyandang tuna daksa pasca

    kecelakaan. Jurnal Ilmiah Psikologi Arkhe, 8 (1).

    Dariyo, A. (2003). Psikologi perkembangan dewasa muda. Jakarta: PT. Gramedia

    Pustaka Utama.

  • 15

    Dewi, P. S., & Utami, M. S. (2008). Subjective well being anak dari orang tua yang

    bercerai. Jurnal Psikologi, 35 (2), 194-212.

    Diener, E. (2000). Subjective well being: The science of happiness and proposal for

    national index. Journal of American Psychologist, 55 (1), 34-43.

    Diener, E., & Suh, E. (2000). Culture and subjective well being. Cambridge: MIT

    Press.

    Diener, E., & Oishi, S. (2005). Subjective well being: The science of happiness and

    life satisfaction. Dalam C. R. Synder, & S. J. Lopez (Eds). Handbook of

    possitive psychology (hal. 63-73). New York, NY: Oxford University Press.

    Diener, E., Biswas-Diener, R. (2008). Happines: Unlocking the mysteries of

    psychological wealth. USA: Blackwell Publishing.

    Diener, E., Oishi, S., & Lucas, R. E. (2003). Personality, culture, and subjective well-

    being: Emotional and cognitive evaluations of life. Annual Review of

    Psychology, 54, 403-425. doi: 10.1146/annurev.psych.54.101601. 145056.

    Fafchamps, M., & Kebede, B. (2008). Subjektive well-being, disability and

    adaptation: Acase study from rural Ethiopia. Journal of Development

    Economics, 71 (2), 261-287.

    Glenna, S. R & John S. C. R. (2014). Resilience among urban american indian

    adolescents: exploration into the role of culture, self-esteem, subjective well-

    being, and social support. American Indian and Alaska Native Mental Health

    Research Copyright: Centers for American Indian and Alaska Native Health

    Colorado School of Public Health/University of Colorado Anschutz Medical

    Campus (www.ucdenver.edu/caianh).

    Hadi, S. (2000). Metodologi reseach untuk penulisan paper, skripsi, thesis, dan

    disertasi. Yogyakarta: Andi Offset.

    Hadi, S. (2007). Metodologi research. Yogyakarta: Andi Offset.

    Hurlock, E. B. (2012). Psikologi perkembangan. Jakarta: Erlangga.

    Iskar, A. (2010). Examing psychological well being and self esteem levels of turkish

    student gaining identity agains role during conflict periodes. Journal of

    instractional psychology, 39 (1), 41-50.

  • 16

    Jayawickreme, E., Forgeard, M. J.C., & Seligman, M. E. P. (2012). The engine of

    well-being. Journal of American psychological association, 16 (4), 327-342.

    doi: 10.1037/a0027990.

    Kartono, K. (2008). Bimbingan anak dan remaja yang bermasalah. Jakarta: Rajawali

    Pers.

    Khalek, A. A., & Lester, D. (2013). Mental health, subjective well being, and

    religiosity: significant associations in Kuwait and USA. Journal of Muslim

    Mental Health, 7 (2), 1-14.

    Luhman, M., Eid, M., Hofmann, W., & Lucas, R. E. (2012). Subjective well being

    and adaptation to life events: A meta-analysis. Journal of Personality and

    social psychology, 102 (3), 592-615. doi:10.1037/a0025948.

    Mruk, C. J. (2006). Self esteem research, theroy, and practice, toward a positive

    psychology of self esteem. New York: Springer Publishing Company.

    Nur, D. P. (2012). Hubungan antara body image dan self esteem pada dewasa awal

    tuna daksa. Jurnal ilmiah psikologi, 1 (1), 1-9.

    Pagan-Rodriguez, R. (2012). Longitudinal analysis of the domains of satisfaction

    before and after disability: Evidence from the German socio-Economic Panel.

    Journal of Social Indicator Research, 26 (108), 365-385.

    Pratisti, W. D. (2015). Model kesejahteraan subjective remaja. (Disertasi sedang

    dalam proses penerbitan). Program Doktor Psikologi, Fakultas Psikologi

    Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

    Ryff, C. D., & Siner, B. H. (2008). Know thyself and become what you are: A

    eudaimonic approach to psychological well being. Journal of Happiness

    Studies, 4 (9), 13-39.

    Schimmack, U., & Diener, E. D. (2003). Predictive validity of explicit and implicit

    self esteem for subjective well being. Journal of Research in personality, 37,

    100-106. doi:10.1016/S0092-6566(02)00532-9.

    Schneiders, A. A. (2008). Personal adjustment and mental health. New York: Holtt

    Renchart and Winston Inc.

    Suryabrata, S. (2009). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

  • 17

    Ulfah, K. (2012). Hubungan antara dukungan orangtua, dukungan sosial teman, dan

    harga diri dengan prestasi akademik siswa kms pada jenjang sekolah

    menengah pertama di kota Yogyakarta. (Tesis tidak dipublikasikan). Fakultas

    Psikologi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

    Vacek, K. R., Coyle, L. D., & Vera, E. V. (2010). Stress, self-esteem, hope,

    optimism, and well-being in urban ethnic minority adolescents. Journal of

    Multicultural Counseling And Development 26 (38), 99-111.

    Sampul nasPUBNASKAH PUBLIKASI dilla