inventarisasi batubara di daerah kabupaten jayapura provinsi papua

  • View
    215

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of inventarisasi batubara di daerah kabupaten jayapura provinsi papua

  • PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

    INVENTARISASI BATUBARA DI DAERAH KABUPATEN JAYAPURA PROVINSI PAPUA

    Oleh :

    Ir. Tarsis A. D.

    Kelompok Program Penelitian Energi Fosil

    ABSTRAK

    Untuk membantu pemerintah daerah dalam penyediaan data mengenai sumberdaya batubara maka Pusat Sumberdaya Geologi melakukan Inventarisasi batubara di daerah Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. dengan biaya DIPA 2006.

    Inventarisasi batubara di daerah marginal dimaksudkan untuk mendapatkan data batubara meliputi jurus dan kemiringan lapisan, ketebalan, pelamparan, sumberdaya dan kualitas. Tujuannya untuk mengetahui potensi batubara dan digunakan untuk menambah bank data neraca batubara pada data base Pusat Sumberdaya Geologi

    Lokasi inventarisasi dibatasi dengan batasan koordinat 14000500 -14002000 Bujur Timur dan 0203000 - 0204500 Lintang Selatan. Adapun alasan pemilihan daerah inventarisasi adalah adanya sebaran Formasi Pembawa Batubara yang cukup luas yaitu Formasi Unk dan adanya informasi keterdapatan endapan batubara dimana kuantitas dan kualitas yang belum diketahui.

    Secara administratif daerah inventarisasi termasuk dalam Wilayah Kecamatan Nimboran dan Kecamatan Kemtuk Gresie, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Sedangkan secara geografis terletak antara 14000500 -14002000 Bujur Timur dan 0203000 - 0204500 Lintang Selatan Seluas 27,5Km x 27,5Km. Daerah tersebut dapat dicapai dari Jayapura kearah Barat-daya kurang lebih 105 Km melalui jalan darat

    Dari hasil kegiatan lapangan yang berupa pemetaan geologi di daerah inventarisasi didapat hasilt sebagai berikut :Formasi pembawa batubara di daerah inventaisasi adalah Formasi Unk yang berumur Kuarter dengan lingkungan pengendapan peralihan. Sumberdaya tereka batubara di daerah ini adalah : 2.160.535,5 (ton).

    1. PENDAHULUAN

    Dengan diberlakukannya otonomi daerah tahun 2001, konsekwensinya Pemerintah Daerah harus dapat membiayai operasionalnya yaitu dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Untuk itu perlu dilakukan peningkatan PAD dari segala sektor, salah satunya adalah dari sektor pertambangan batubara. Kendala yang sekarang dihadapi oleh pemerintah daerah adalah kurangnya data yang dimiliki mengenai potensi sumberdaya batubara di daerah sehingga tidak bisa merencanakan kebijaksanaan di sektor pertambangan batubara.

    Lokasi inventarisasi dibatasi dengan batasan koordinat 14000500 -14002000 Bujur Timur dan 0203000 - 0204500 Lintang Selatan. Adapun alasan pemilihan daerah inventarisasi adalah adanya sebaran Formasi Pembawa Batubara yang cukup luas yaitu Formasi Unk dan adanya informasi keterdapatan endapan batubara

    dimana kuantitas(ketebalan, sebaran dan jumlah sumberdaya) dan kualitas (nilai kalori, kadar abu, kadar sulfur dll) yang belum diketahui.

    Secara administratif daerah inventarisasi termasuk dalam Wilayah Kecamatan Nimboran dan Kecamatan Kemtuk Gresie, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Sedangkan secara geografis terletak antara 14000500 -14002000 Bujur Timur dan 0203000 - 0204500 Lintang Selatan Seluas 27,5Km x 27,5Km.

    Daerah tersebut dapat dicapai dari Jayapura kearah Baratdaya kurang lebih 105 Km melalui jalan darat melalui Kota Sentani Ibu Kota Kabupaten Jayapura.

    Pelaksanaan pekerjaan lapangan dilakukan mulai akhir bulan Agustus hingga Pertengahan bulan Oktober 2006 selama kurang lebih 55 hari oleh 1 Tim dari Kelompok Pelaksanaan Program Energi Fosil dari Pusat Sumberdaya Geologi.

  • PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

    Pada tahap ini dilakukan kegiatan lapangan dengan tahapan penyelidikan pendahuluan dengan menggunakan metoda penyelidikan lapangan dengan metoda pemetaan geologi

    2. HASIL PENYELIDIKAN

    GEOLOGI DAERAH PENYELIDIKAN MORFOLOGI

    Satuan morfologi yang terdapat di daerah inventarisasi dapat dikelompokan menjadi 3 satuan morfologi yaitu;

    Satuan Morfologi Perbukitan

    Satuan morfologi ini dicirikan oleh elevasi yang cukup tinggi dan merupakan daerah tertinggi di wilayah daerah inventarisasi dengan puncak tertinggi 1600m, sedangkan ketinggian satuan ini berkisar antara 400m sampai dengan 1600m. satuan ini mempunyai kemiringan lereng yang cukup tinggi dimana dalam peta topografi dicirikan dengan adanya pola kontur yang cukup rapat. Secara litologi satuan ini ditempati oleh batuan beku dan sedimen yang merupakan batuan dari Formasi Aurimi, Formasi Nubai dan batuan ultramafic. Struktur yang berpengaruh pada satuan ini adalah sesar geser dan sesar normal. Pelamparan satuan ini menempati bagian sebelah Utara dan Selatan daerah peta dengan luas penyebaran 40% dari keseluruhan luas daerah. Pola aliran sungai yang terdapat pada satuan ini adalah trelis yang sangat dikontrol oleh struktur. Tahapan yang terjadi pada satuan ini umumnya masih pada tahapan muda yang dicirikan oleh penampang sungai yang berbentuk huruf V . Satuan Morfologi Dataran Bergelombang Tinggi

    Satuan ini mempunyai penciri ketinggian dengan kisaran 50m sampai dengan 400m, satuan ini mempunyai kemiringan lereng rendah sampai sedang, yang pada peta topografi direpresentasikan dengan kenampakan kontur yang tidak begitu rapat dan adanya puncak-puncak yang berulang mebentuk morfologi bergelombang. Satuan ini umumnya ditempati oleh batuan sedimen dari Formasi Unk yang terdiri dari perselingan batupasir dan batulempung. Bentuk perulangan gelombang yang terjadi pada satuan ini disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat ketahanan litologi pembentuk terhadap erosi yang

    disebabkan oleh air. Satuan ini dipengaruhi oleh struktur perlipatan.Pola aliran sungai yang terdapat pada satuan ini adalah trellis , dimana pola aliran sungai ini sangat dipengaruhi oleh kemiringan lapisan batuan. Pelamparan satuan ini menempati bagian tengah daerah inventarisasi dengan luas pelamparan sekitar 20% dari luas total daerah. Tahapan sungai di daerah ini sudah pada tahapan dewasa yang dicirikan dengan adanya bentuk penampang sungai yang membentuk hurup U . Satuan Morfologi Dataran Aluvial

    Satuan Morfologi dataran Aluvial dicirikan oleh kemiringan lereng yang rendah. Pada peta topografi satuan mempunyai kenampakan penyebaran kontur yang sangat rendah. Satuan ini membentuk dataran sekitar sungai-sungai utama. Bentuk daratan aluvial ini hampir rata. Secara geologi satuan ini umumnya ditempati oleh endapan aluvial berumur kuarter yang terdiri dari litologi pasir lepas, lempung dan kerakal yang merupakan endapan aluvial sungai. Struktur geologi pada satuan ini kurang berpengaruh. Pola aliran sungainya menunjukan pola denritic yang merupakan pola khas untuk morfologi yang ditempati oleh batuan dengan kemiringan rendah. Tahapan morfologi pada satuan ini sudah pada tahapan tua, hal ini dicirikan oleh adanya dataran aluvial yang luas dengan bentuk penampang sungai U yang lebar. Pada beberapa tempat sungai-sungai pada satuan ini sudah membentuk meander-meander. Satuan ini mempunyai pelamparan sekitar 10% dari keseluruhan total luas daerah dengan pelamparan menempati sebelah tengah ke arah Barat daerah inventarisasi.

    STRATIGRAFI

    Stratigrafi di daerah inventarisasi mempunyai sebaran umur Tersier sampai dengan Kuarter. Dimana urutan muda ke tua di daerah ini adalah adalah sebagai berikut : Endapan Aluvial (Qa)

    Terdiri dari Aluvium dan Endapan Pantai yang terdiri dari kerakal, kerikil, pasir, lanau dan lumpur di lingkungan rawa dan pantai. Endapan pantai mengandung pecahan batugamping koral Resen. Satuan ini mempunyai pelamparan di sebelah Utara daerah inventarisasi dengan sebaran kurang lebih 20 % .

  • PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2006, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

    Formasi Jayapura (Qpj) Formasi jayapura terdiri dari

    litologi ;Batugamping koral ganggang, kalsirudit, kalkarenit, setempat batugamping kapuran, batugamping napalan dan napal, berlapis jelek, setempat berstruktur terumbu; setempat berselingan dengan batugamping pelagos. Lingkungan pengendapan laut terbuka yang tak ada lagi bahan rombakan daratan ; menindih tak selaras Formasi Unk. Kemiringan landai kearah Selatan Baratdaya dengan undak nyata. Terangkat lebih kuran 700m di atas permukaan laut dengan tebal formasi 400m. Pelamparannya meliputi 20 % daerah inventarisasi, dan terletak di sebelah Utara. Formasi UNK (Qtu)

    Formasi Unk terdiri dari: Grewake berselingan , batulempung, batulanau, napal, konglomerat dan sisipan batupasir dan batubara. Greywake, berlapis 10cm 1m, kepingan kuarsa, batuan beku, sedimen malih dan batuan karbonan, sisipan batupasir kelabu tua hiaju muda gampingan, berlapis baik. Batulempung, batulanau dan napal; pejal berlapis baik, setempat menyerpih, mengandung lempengan batubara dan sisa tumbuhan. Berdasarkan kandungan fosil, lingkungan pengendapan laut dangkal laut agak dalam. Tebal mencapai 1000m, Menindih secara selaras Formasi Aurimi, kearah Utara berangsur berubah menjadi bagian bawah Formasi Jayapura. Dikorelasikan dengan Anggota C, D dan E Formasi Mamberamo. Formasi Unk ini merupakan Formasi Pembawa batubara :Coal Bearing Formation di daerah Inventarisasi pada satuan ini ditemukan batubara dengan keteban 0,8m Sampai dengan 1,00m. Formasi ini mempunyai pelamparan sekitar daerah tengan daerah inventarisasi dan mempunyai luas pelamparan 20% dari daerah Inventarisasi. Formasi Aurimi (Tmpa)

    Formasi Aurumi terdiri dari: Batupasir dan batulempung; sisipan batugamping, batulanau dan napal. Batupasir, halus-sedang terpilah kurang baik, setempat gampingan, urat kalsit mengandung moluska, berlapis baik, tebal lapisan 5 125cm, silang-siur, setempat berselingan dengan batulempung. Batulempung setempat menyerpih, karbonan dan gampingan, pejal-berlapis, perarian halus. Umu