Laporan Praktikum Penentuan Mr

  • View
    52

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kimia fisika

Text of Laporan Praktikum Penentuan Mr

LAPORAN PRAKTIKUMKIMIA FISIKAPERCOBAAN IIPENENTUAN MASSA MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN BOBOT JENIS

NAMA: RIPKA SAPUTRINIM: H311 12 286KELOMPOK/ REGU: II (DUA)/ III (TIGA)HARI/ TANGGAL PERCOBAAN: SENIN/ 17 FEBRUARI 2014ASISTEN: RYAN ANDHIKA

LABORATORIUM KIMIA FISIKAJURUSAN KIMIAFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAMUNIVERSITAS HASANUDDINMAKASSAR2014BAB IPENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGGas adalah salah satu dari tiga keadaan materi. Gas mempunyai sifat khusus yang tidak dimilliki oleh zat cair maupun zat padat. Salah satu yang menarik dari gas adalah sifat-sifatnya yang tidak tergantung pada komposisi kimianya. Semua gas memperlihatkan sifat-sifat yang hampir sama, bila variabel seperti tekanan dan suhunya diubah.Senyawa volatil merupakan senyawa yang mudah menguap menjadi gas bila terjadi peningkatan suhu (umumnya 100oC). Jika senyawa-senyawa volatil ini menguap, aroma dan citarasa komponen akan mengalami penurunan mutu. Namun pada kenyataannya diketahui bahwa suatu gas selalu dipengaruhi oleh perubahan tekanan dan suhu lingkungan. Sifat-sifat fisik gas secara umum dapat dinyatakan dalam hukum-hukum gas. Berbagai hukum yang dikenal sebagai hukum-hukum gas menyatakan ketergantungan sejumlah tertentu gas terhadap tekanan, suhu, dan volume. Maka dari sini berat molekul senyawa volatil dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan gas ideal yang berdasarkan pengukuran massa jenis gas. Gas ideal merupakan gas yang mengikuti secara sempurna hukum-hukum. Hal ini perlu dilakukan agar dalam tiap proses yang membutuhkan panas dapat diantisipasi jumlah senyawa volatil yang menguap, sehingga aroma dan cita rasa komponen dapat dipertahankan. Dalam percobaan ini, senyawa volatil yang akan ditentukan massa molekul berdasarkan pengukuran bobot jenisnya adalah kloroform dan aseton. 1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.2.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari metode penentuan massa molekul zat mudah menguap berdasarkan pengukuran bobot jenisnya.

1.2.2 Tujuan PercobaanTujuan dari percobaan ini adalah: 1. Menentukan kerapatan zat mudah menguap dengan menimbang bobot sebelum dan sesudah penguapan.2. Menentukan massa molekul zat mudah menguap dengan menggunakan data (1) dan persamaan gas ideal.

1.3 Prinsip Percobaan Prinsip dari percobaan ini adalah penentuan massa molekul dan kerapatan zat mudah menguap yaitu aseton dan kloroform melalui proses penguapan, pengembunan, dan penentuan selisih bobot senyawa sebelum dan sesudah penguapan.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

Gas terdiri dari molekul-molekul yang jaraknya saling berjauhan sehingga gaya tarik-menariknya sangat lemah. Gaya tarik yang lemah menyebabkan molekul-molekul gas bebas bergerak ke segala arah. Molekul-molekul gas itu bergerak sangat cepat dan terus bertumbukan satu sama lain dan juga dengan dinding wadahnya. Adanya tumbukan ini menghasilkan tekanan (Yazid, 2005).Volume gas akan berubah dengan adanya perubahan suhu dan tekanan. Karenanya, berat jenis gas juga akan berubah bila suhu dan tekanan berubah. Semakin tinggi tekanan suatu jumlah tertentu gas pada suhu yang konstan akan menyebabkan volume menjadi semakin kecil dan akibatnya berat jenis akan semakin besar (Sunaryo).Tumbukan antara molekul gas lebih rumit, karena adanya gaya tarik antar molekul dan gaya tolak. Pada jarak yang lebih jauh ada tarikan dan ada tolakan pada jarak yang lebih dekat. Gaya tarikan biasanya bervariasi terbalik dengan pangkat tujuh dari jarak antar molekul. Gaya tolakan biasanya bervariasi terbalik dengan pangkat lebih tinggi dari jarak antar molekul (Alberty, 1980).Tumbukan diartikan sebagai interaksi yang dahsyat antara dua benda yang berlangsung pada waktu yang relatif singkat. Definisi tumbukan sebagai ineteraksi yang terjadi dalam waktu t yang dapat diabaikan terhadap lamanya waktu pengamtan system juga dapat juga dicirikan sebagai gaya eksternal yang bekerja pada sistem dapat diabaikan bila dibandingkan dengan gaya tumbukan impulsif Misalnya ketika pemukul baseball atau tongkat golf memukul bola golf atau satu bola billiard menumbuk yang lainnya, adalah gaya eksternal yang bekerja pada sistem, misalnya gravitasi atau gesekan (Mujriati, Basid, 2010).Gas ideal merupakan suatu model yang digunakan dalam teori kinetik gas. Anggapan mikroskopis gas ideal untuk model ini adalah sebagai berikut (Mujriati, Basid, 2005):a. Jumlah partikel gas (N) sangat banyak sekali.b. Partikel-partikel gas tersebar merata dan gerakannya acak.c. Jarak antar partikel gas jauh lebih besar dari pada ukuran partikel gas.d. Gaya antar partikel gas hanya bekerja jika terjadi tumbukan.e. Semua tumbukan yang terjadi, baik tumbukan antar partikel maupun tumbukan antara partikel dengan dinding wadah adalah elastis sempurna.f. Berlaku hukum-hukum gerak Newton.Molekul-molekul gas cepat sekali berdifusi atau bercampur satu dengan yang lain. Jika beberapa macam gas yang tidak saling bereaksi ditempatkan dalam wadah yang sama, maka gas-gas tersebut segera tercampur sehingga terbentuk campuran yang homogen. Hal ini karena di antara molekul gas terdapat banyak ruang kosong sehingga molekul dapat bebas bergerak dan hanya mengalami sedikit rintangan (Yazid, 2005).Bila gas tak seragam mengenai komposisi, suhu dan kecepatan, maka akan terjadi proses perpindahan sampai gas menjdi seragam. Perpindahan materi tanpa adanya aliran arah disebut difusi. Perpindahan kalor dari suhu rendah tinggi ke suhu rendah tanpa konveksi disebut hantaran termal, dan perpindahan momentum dari daerah kecepatan tinggi ke daerah kecepatan rendah memberikan gejalan aliran kental. Dalam setiap laju aliran sebanding denggan laju perubahan sifat tertentu dengan jarak, yang disebut gradient (Alberty, 1980).Pembicaraan tentang massa gas nyata dan gas ideal diasumsikan berdasarkan hukum termodinamika yang pertama. Termodinamika dikerjakan dalam sebuah model gas nyata. Sebuah persamaan sederhana yang merupakan turunan gas ideal dapat diselesaikan secara analisis. Model seperti itu telah diterapkan dalam sebuah tangki pemanas (Farzaneh, Gord, 2011).Berdasarkan tiga agregasi fasa, hanya gas yang dapat dideskripsikan kuantitatifnya secara sederhana. Dalam hal ini, kita harus mendeskripsikan hubungan antara massa, tekanan, volume, dan suhu. Kita harus mengasumsikan bahwa sistem berada dalam kesetimbangan yang tidak dipengaruhi oleh waktu, selama tidak ada konsentrasi luar yang mengubahnya (Castellan, 1983).Hubungan antara tekanan, volume, suhu (PVT) untuk gas, cairan dan padat terlihat dalam persamaan berikut :t = f (P,V)V = f (t, P)P = f (t,V)Dalam kasus ini, hanya gas yang mengalami pengembangan persamaan. Fasa gas tidak hanya dipengaruhi oleh korelasi data empiris PVT, tetapi juga dari pertimbangan teori atom dan struktur molekulnya. Teori ini sangat berpengaruh pada fasa gas, tapi juga mengalami pengembangan teori dengan cair dan padat agar dapat menyesuaikan dalam interaksinya dengan fasa gas (Moore, 1955). Untuk tujuan kimia, sebagian volume yang signifikan adalah volume gas sebuah massa molekul dalam gram. Hipotesis Avogadro menyatakan bahwa semua gas ideal akan memiliki volume yang sama, yaitu 22,414 cc pada 0 oC dan 1 atm, dapat dinyatakan dalam persamaanPV = RT Dimana R = 22,414/ 273,16 = 82,057 cc atm per oC. untuk n mol, diperolehPV = nRT = RTDimana m adalah massa gas dari massa molekul M. Volume V akan selalu dianggap sebagai volume molar, kecuali pada kondisi yang lain (Moore, 1955).Jika rumus molekul gas diketahui, maka berat I mol gas tersebut juga dapat diketahui. Demikian pula rapatan pada STP atau keadaan lain dapat dihitung. Rapatan gas (d) didefinisikan sebagai perbandingan massa gas terhadap volumenya pada suhu dan tekanan tertentu (Yazid, 2005).Secara matematis hubungan tersebut dapat ditulis (Yazid, 2005):d = rapatan gas juga dapat dihitung dari persamaan gas ideal.PV = RTatauResolusi dari berbagai metode yang digunakan dalam penentuan distribusi massa molekul dari polimer linear, seperti kromatografi pengendapan, kecepatan pengendapan elusi, dan metode kromatografi penyerapan gel, dapat dibandingkan dalam penentuan distribusi massa molekul dari sampel yang bersisi campuran dua sampel dari monodisperse poly(-methylsstyrene). Metode kecepatan sedimenetasi ditunjukkan dengan adanya dua puncak dalam distribusi massa molekul yang sedikit lebih baik daripada kolom metode fraksionasi, dan tetapi tidak terdapat perbedaan yang cukup besar antara resolusi metode elusi dan kromatografi pengendapan. Bagaimanapun, kromatografi penyerapan gel menunjukkan resolusi yang lemah daripada metode lainnya jika penyebarluasan efek kecocokan tidak dibuat (Yamamoto, Noda, Nagasawa, 1970).

BAB IIIMETODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kloroform, aseton, aluminium foil, kertas label, tissue roll, sabun cair, dan akuades.

3.2 Alat Percobaan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer 150 mL, gelas piala 600 mL, pipet volume, neraca digital, termometer, desikator, hotplate, karet gelang, dan jarum.

3.3 Prosedur Percobaan Erlenmeyer yang bersih dan kering ditimbang dan dicatat bobotnya, lalu erlenmeyer diisi dengan akuades hingga penuh kemudian ditimbang dan dicatat kembali bobotnya. Setelah itu, akuades dibuang dan erlenmeyer dikeringkan untuk dipakai kembali.Erlenmeyer ditutup dengan aluminium foil adan diikat dengan karet gelang lalu ditimbang dan dicatat bobotnya. Setelah itu, ke dalam erlenmeyer dimasukkan aseton lalu ditutup kembali dengan aluminium foil dan diikat dengan karet gelang serta diberi lubang pada aluminium foil. Bersamaan dengan proses ini, akuades dipanaskan dalam penangas air hingga tercapai suhu 100 oC.Erlenmeyer yang berisi aseton kemudian direndam dalam penangas air bersuhu 100 oC, hingga semua larutan aseton dalam erlenmeyer terendam akuades. Erlenmeyer dibiarkan dalam penangas hingga semua larutan aseton menguap setelah semua larutan aseton diuapkan