Lapsus Psikiatri Dito Ppt

  • View
    15

  • Download
    5

Embed Size (px)

Text of Lapsus Psikiatri Dito Ppt

  • Oleh:Dito Fadilla, S. Ked

    Pembimbingdr. Alif Mardijana, Sp.KJSMF ILMU KESEHATAN JIWA RSD DR SOEBANDI JEMBERFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBERFEBRUARI, 2013

  • Nama : Sdr. HUmur: 27 tahunJenis kelamin: Laki-LakiPekerjaan: -Alamat : Karangsono Grenden PugerAgama: IslamSuku: JawaStatus: Belum menikahTgl Pemeriksaan: 30 Januari 2013

  • KELUHAN UTAMA: Pasien marah-marah tanpa sebab dan suka memukul orang.RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG: AUTOANAMNESIS (30 Januari 2013)Autoanamesis dilakukan pada saat pasien datang ke IGD RSD dr.Soebandi Jember. Pasien diajak berkenalan oleh pemeriksa dan mampu menjawab pertanyaan dengan baik meskipun pasien cenderung untuk diam. Kemudian pemeriksa menanyakan kepada pasien tentang apa yang dikeluhkan sekarang, lalu pasien menjawab bahwa pasien sedang sakit hati. Ketika ditanya lebih lanjut, pasien menjawab bahwa ia sakit hati dengan teman SD, SMP, dan SMA. Saat ditanya mengapa sakit hati, pasien menjawab ya karena... tiba-tiba pasien berhenti bicara kemudian tidak melanjutkan jawabannya.

  • Kemudian pemeriksa melanjutkan pertanyaan bagaimana tindakan pasien saat sakit hati, pasien menjawab ia segera duduk dan minum air. Sesekali pasien tertawa dengan sendirinya.Pemeriksa menanyakan apakah mendengar suara-suara, pasien menjawab ia mendengar suara auman harimau. Suara tersebut sering didengarnya dan saat diperiksa pasien mendengar suara auman tersebut. Kemudian ditanya oleh pemeriksa apakah pasien melihat sesuatu, pasien menjawab ia melihat ada boneka barbie yang kecil dan boneka tersebut sering berpindah-pindah tempat mengikuti pasien dimanapun berada. Pasien melihat boneka barbie tersebut sudah lama.Pemeriksa menanyakan apakah merasa paling hebat di kampungnya, ia menjawab iya. Kemudian ditanya lagi merasa kuat bagaimana, pasien menjawab iya tanpa penjelasan lebih lanjut. Kemudian pasien ditanya apakah pasien merasa lemah, ia menjawab iya disertai tertawa dengan sendirinya.

  • Ketika ditanya apakah pasien rajin mandi dan menjaga kebersihan badan, pasien mengatakan bahwa dia mandi saat kepanasan saja. Pemeriksa juga menanyakan pola makan pasien, dan pasien mengatakan dirinya bisa makan tanpa disuruh.Kemudian pemeriksa menanyakan apakah pasien dalam melakukan sesuatu bisa dicegah, kemudian pasien menjawab tidak bisa, dan saat ditanya lebih lanjut mengapa tidak bisa, pasien tidak menjelaskan lebih lanjut.

  • HETEROANAMNESIS (Ayah pasien, 30 januari 2013)Menurut ayah pasien, sejak kecil pasien memang mempunyai kepribadian tertutup, cenderung diam dan suka menyendiri. Setiap ada masalah yang dialami, pasien jarang menceritakan kepada keluarganya. Pasien tinggal dirumah bersama kedua orangtuanya,dan neneknya. Pasien merupakan anak kedua dari enam bersaudara.

  • Menurut ayahnya, sebelum sakit pasien tidak bergaul dengan teman-temannya karena sering diejek perkara pasien tidak lancar bila berbicara. Bila pasien berbicara, kadang dapat dengan lancar namun kadang tersendat. Oleh karena itu pasien menjadi sering menyendiri dan tertutup. Pasien bekerja sebagai kuli bangunan dan aktivitasnya sering mengaji di musholla bahkan mengajar ngaji.Pasien sempat mencoba bunuh diri saat 3 tahun yang lalu namun berhasil digagalkan dan dibawa ke PKM untuk dirawat luka. Ayah pasien tidak tahu mengapa pasien bunuh diri karena pada saat itu, pasien sedang sakit demam dan tiba-tiba menusuk lehernya dengan pecahan gelas. Saat ditanya oleh ayahnya mengapa bunuh diri, pasien tidak menjawab dan cenderung diam.

  • Satu bulan sesudah percobaan bunuh diri, pasien menjadi berubah tingkah lakunya. Pasien marah-marah tanpa sebab, sering tertawa dengan sendirinya, sering memukul ayah dan ibunya serta melempar batu dan memukul neneknya dengan kayu, jalan-jalan diluar rumah, dan bila keinginannya tidak dituruti pasien akan lari keluar rumah atau memukul. Saat diluar rumah pasien ke warung sekitar untuk meminta keinginannya yang tidak terwujud dan bila tidak dituruti, pasien tidak segan untuk memukul pemilik warung tersebut.Kemudian pasien dibawa ke dr.Sujono,Sp.KJ untuk berobat jalan, namun pasien tetap tingkah lakunya sehingga pasien dirantai di belakang rumah untuk menghindari kelakuannya yang dapat merugikan keluarga maupun orang sekitar. Pasien dirantai selama 2 tahun. Selama dirantai, pasien sering mengamuk dengan sendirinya.Kemudian pasien dibawa ke RSD dr.Soebandi Jember dan MRS selama 15 hari. Kemudian pasien dirujuk ke RS Menur Surabaya dan MRS selama 1,5 bulan.

  • Setelah KRS dari RS Menur Surabaya (Agustus 2012) kondisi pasien membaik. Pasien tidak marah-marah, tidak memukul, dan tidak tertawa sendiri lagi. Pasien mengaji di musholla dan mengajar ngaji.Kemudian karena tidak ada biaya untuk kontrol dan mendapat pengobatan, pasien kembali marah-marah tanpa sebab, suka tertawa sendiri, dan memukul orang disekitarnya. Pasien kembali seperti ini sejak 15 hari yang lalu sehingga oleh orangtua pasien dibawa ke PKM Puger kemudian dirujuk ke RSD dr.Soebandi Jember.

  • RIWAYAT PENYAKIT DAHULUgangguan jiwa sejak 3 tahun yang laluRIWAYAT PENGOBATANKeluarga pasien mendapatkan terapi obat oral yang dikonsumsi setiap hari namun tidak tahu nama obatnya.

  • RIWAYAT PENYAKIT KELUARGAHipertensi (-), diabetes melitus (-), asma(-),dan gangguan jiwa (-).RIWAYAT SOSIAL- Pendidikan: Lulusan SD dan bekerja sebagai kuli bangunan.- Pre morbid: Pasien cenderung pendiam, pemalu dan tertutup.- Faktor keturunan: -- Faktor organik: -- Faktor pencetus: ejekan teman pasien dan sakit hati dengan temannya- Faktor psikososial : Hubungan pasien dengan keluarga dan lingkungannya kurang baik.

  • STATUS INTERNA SINGKATKeadaan UmumKesadaran: Kompos mentisTanda-tanda VitalTensi: 130/90 mmHgNadi: 84x/menit reguler dan kuat angkatPernapasan: 22x/menitSuhu: 36,6C

    Pemeriksaan FisikKepala-Leher : a-/i-/c-/d-Jantung: S1S2 tunggalParu-Paru: vesiculer +/+,Rh -/-, Wh -/-Abdomen: BU (+) normalExtremitas: Akral hangat dan tidak ada oedem

  • STATUS PSIKIATRIKesan umum : Penampilan pasien sesuai dengan usianya, tidak rapi, tidak bersih, tidak ada cacat fisik,ekspresi muka datar dan tidak banyak bicara.Kontak: mata (+), verbal (+)KesadaranKualitatif: berubahKuantitatif: GCS 4-5-6Afek / Emosi: inadekuatProses berpikir Bentuk: non-realistikArus: inkoheren dan blockingIsi: kemiskinanPersepsi: halusinasi auditorik & visualKemauan: menurunPsikomotor: meningkatIntelegensi: dbn

  • Axis I : F 20.24 skizofrenia katatonik gaduh gelisah remisi tak sempurnaAxis II : Tidak adaAxis III : Tidak adaAxis IV : Masalah psikososial dan lingkungan yaitu sakit hati dengan temannya.Axis V : GAF 20-11

  • FarmakoterapiCPZ 3 x 50 mg (im)Diazepam 2x1 ampul (iv)Psikoterapi untuk memperkuat fungsi ego dengan psikoterapi suportif dan agar pasien dapat bersosialisasiManipulasi lingkungan :Memahami dan menerima keadaan pasienMembimbing dalam kehidupan sehari-hari terapi kerjaMengawasi minum obat secara teratur dan terus menerus serta membawa pasien untuk pemeriksaan ulang (kontrol).

  • Dubia ad bonam, karena :Faktor keturunan (-), baik.Pencetus(+), baik.Umur permulaan sakit: usia muda, buruk.Perhatian keluarga (+), baik.Tipe : Skizofrenia katatonik, baik.Perjalanan Penyakit; Kronis, buruk.Pengobatan dini, baik.