Lumbal pungsi

  • View
    2.187

  • Download
    100

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Bidang kedokteran

Text of Lumbal pungsi

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Salah satu pemeriksaan di bidang Neurologi yang sangat penting dan tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi ilmu kedokteran adalah pungsi lumbal. Sejak diperkenalkan secara ilmiah oleh Quincke pada tahun 1891. Pemeriksaan lumbal pungsi banyak memberikan hasil penemuan penyakit yang sangat penting untuk ilmu kedokteran. Lumbal punksi adalah upaya pengeluaran cairan serebrospinal dengan memasukan jarum ke dalam ruang subarakhnoid. Test ini dilakukan untuk pemeriksaan cairan serebrospinalis. Perubahan dalam cairan serebrospinal dapat merupakan proses dasar patologi suatu kelainan klinik. Pemeriksaan cairan serebrospinal sangat membantu dalam mendiagnosa penyakit-penyakit neurologi. Selain itu juga untuk evaluasi pengobatan dan perjalanan penyakit, serta

menentukan prognosa penyakit. Pemeriksaan cairan serebrospinal adalah suatu tindakan yang aman,tidak mahal dan cepat untuk menetapkan diagnosa, mengidentifikasi organisme penyebab serta dapat untuk melakukan test sensitivitas antibiotika. Penggunaan lumbal pungsi biasanya dilakukan pada kasus meningitis, encephalitis, untuk mengidentifikasi adanya darah pada CSF akibat trauma atau adanya pendarahan subarachnoid, anestesi spinal, selain itu dilakukan juga untuk mendeteksi adanya kehadiran dari sel-sel maligna didalam cairan serebrospinal seperti, karsinomatous meningitis atau medulloblastoma.

I.2 Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian dari lumbal pungsi? 2. Apakah indikasi dan kontraindikasi dari lumbal pungsi? 3. Apa sajakah persiapan yang harus dilakukan untuk pemeriksaan lumbal pungsi? 4. Bagaimanakah prosedur pelaksanaan dari lumbal pungsi? 5. Apa sajakah yang harus diperhatikan pada pemeriksaan lumbal pungsi?

1

6. Apakah komplikasi yang terjadi setelah dilakukan pemeriksaan lumbal pungsi ? 7. Bagaimana fisiologi dari cairan serebrospinal? 8. Bagaimanakah karakteristik dari cairan serebrospinal ?

I.3 Tujuan 1. Mengetahui pengertian dari lumbal pungsi 2. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi dari lumbal pungsi 3. Mengetahui persiapan yang harus dilakukan untuk pemeriksaan lumbal pungsi 4. Mengetahui prosedur pelaksanaan dari lumbal pungsi 5. Mengetahui yang harus diperhatikan pada pemeriksaan lumbal pungsi 6. Mengetahui fisiologi dari cairan serebrospinal. 7. Mengetahui karakteristik dari cairan serebrospinal.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemeriksaan Lumbal Pungsi

A. Pengertian Lumbar pungsi adalah upaya pengeluaran cairan serebrospinal dengan memasukan jarum kedalam ruang subarakhnoid. Test ini dilakukan untuk pemeriksaan cairan serebrospinali,mengukur dan mengurangi tekanan cairan serebrospinal,menentukan ada tidaknya darah pada cairan serebrospinal, untuk mendeteksi adanya blok subarakhnoid spinal,dan untuk memberikan antibiotic intrathekal ke dalam kanalis spinal terutama kasus infeksi. (Brunner and Suddarths, 1999, p 1630)

B. Indikasi 1. Mengambil bahan pemeriksaan CSF untuk diagnostic dan persiapan pemeriksaan pasien yang dicurigasi mengalami meningitis,

encepahilitis atau tumor malignan. 2. Untuk mengidentifikasi adanya darah dalam CSF akibat trauma atau dicurigai adanya perdarahan subarachnoid. 3. 4. Untuk memasukan cairan opaq ke dalam ruang subarakhnoid. Untuk mengidentifikasi adanya tekanan intrakarnial/intraspinal,untuk memasukan obat intratekal seperti terapi antibiotik atau obat sitotoksik.

C. Kontraindikasi 1. Infeksi dekat tempat penusukan. Kontaminasi dari infeksi akan menyebabkan meningitis. 2. Pasien dengan peningkatan tekanan intra cranial. Herniasi serebral atau herniasi serebral 3. Pasien yang mengalami penyakit sendi-sendi vertebra degeneratif. Hal ini akan sulit untuk penusukan jarum ke ruang interspinal. 4. Bleeding diathesis, seperti Coagulopathy dan Penurunan platelet.

3

5.

Pola pernafasan abnormal.

D. Persiapan alat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Troleey Kassa steril Kapas steril Sarung tangan steril Baju steril Jarum punksi ukuran 19, 20, 22,23 G. Manometer spinal Masker dan pelindung mata Alcohol dalam lauran antiseptic untuk membersihkan kulit. Spuit dan jarum untuk memberikan obat anestesi local Obat anestesi loka (lidokian 1% 2 x ml), tanpa epinefrin. Tempat penampung csf steril x 3 (untuk bakteriologi, sitologi dan biokimia). 13. 14. 15. 16. Plester Depper Jam yang ada penunjuk detiknya Tempat sampah.

E. Persiapan pasien 1. Pasien diposisikan tidur lateral pada ujung tempat tidur dengan lutut ditarik ke abdomen. Catatan : bila pasiennya obesitas, bisa mengambil posisi duduk di atas kursi, dengan kursi dibalikan dan kepala disandarkan pada tempat sandarannya. 2. 3. Jelaskan prosedur pemeriksaan pada klien. Memberi penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang lumbal pungsi meliputi tujuan, prosedur, posisi, lama tindakan, sensasi-sensasi yang akan dialami dan hal-hal yang mungkin terjadi berikut upaya yang diperlukan untuk mengurangi hal-hal tersebut 4. Meminta izin dari pasien/keluarga dengan menadatangani formulir kesediaan dilakukan tindakan lumbal pungsi.

4

5.

Meyakinkan klien tentang tindakan yang akan dilakukan

F. Prosedur a. Preinteraksi 1.Kaji catatan medis dan catatan keperawatan klien 2.Kesiapan perawat melakukan tindakan 3.Jelaskan tujuan tindakan 4.Persiapkan dan kumpulkan alat-alat 5.Cuci tangan.

b. Interaksi 1. Posisi pasien lateral recumbent dengan bagian punggung di pinggir tempat tidur. Lutut pada posisi fleksi menempel pada abdomen, leher fleksi kedepan dagunya menepel pada dada (posisi knee chest).

Gambar 1. Posisi lumbal pungsi 2. Pilih lokasi pungsi. Tiap celah interspinosus vertebral dibawah L2 dapat digunakan pada orang dewasa, meskipun dianjurkan L4-L5

5

atau L5-S1 (Krista iliaca berada dibidang prosessus spinosus L4). Beri tanda pada celah interspinosus yang telah ditentukan.

3. Dokter mengenakan masker, tutup kepala, pakai sarung tangan dan gaun steril. 4. Desinfeksi kulit degan larutan desinfektans dan bentuk lapangan steril dengan duk penutup. 5. Anesthesi kulit dengan Lidokain atau Xylokain, infiltrasi jaringan lebih dapam hingga ligamen longitudinal dan periosteum 6. Tusukkan jarum spinal dengan stilet didalamnya kedalam jaringan subkutis. Jarum harus memasuki rongga interspinosus tegak lurus terhadap aksis panjang vertebra. 7. Tusukkan jarum kedalam rongga subarachnoid dengan perlahanlahan, sampai terasa lepas. Ini pertanda ligamentum flavum telah ditembus. Lepaskan stilet untuk memeriksa aliran cairan

serebrospinal. Bila tidak ada aliran cairan CSF putar jarumnya karena ujung jarum mungkin tersumbat. Bila cairan tetap tidak keluar. Masukkan lagi stiletnya dan tusukkan jarum lebih dalam. Cabut stiletnya pada interval sekitar 2 mm dan periksa untuk aliran cairan CSF. Ulangi cara ini sampai keluar cairan.

6

8. Bila akan mengetahui tekananCSF, hubungkan jarum lumbal dengan manometer pemantau tekanan, normalnya 60 180 mmHg dengan posisi pasien berrbaring lateral recumbent. Sebelum mengukur tekanan, tungkai dan kepala pasien harus diluruskan. Bantu pasien meluruskan kakinya perlahan-lahan. 9. Anjurkan pasien untuk bernafas secara normal, hindarkan mengedan. 10. Untuk mengetahui apakah rongga subarahnoid tersumbat atau

tidak, petugas dapat melakukan test queckenstedt dengan cara mengoklusi salah satu vena jugularis selama I\10 detik. Bila terdapat obstruksi medulla spinalis maka tekanan tersebut tidak naik tetapi apabila tidak terdapat obstruksi pada medulla spinalis maka setelah 10 menit vena jugularis ditekan, tekanan tersebut akan naik dan turun dalam waktu 30 detik. 11. Tampung cairan CSF untuk pemeriksaan. Masukkan cairan tesbut dalam 3 tabung steril dan yang sudah berisi reagen, setiap tabung diisi 1 ml cairan CSF. Cairan ini digunakan untuk pemeriksaan (1) jumlah dan jenis sel serta jenis kuman (2) kadar protein dan glukosa (3) sitologi sel tumor (4) kadar gamaglobulin, fraksi protein lainnya, keberadaan pita oligoklonal dan tes serologis (5) pigmen laktat, ammonia, pH, CO2, enzim dan substansi yang dihasilkan tumor (contohnya 2 mikroglobulin) dan (6) bakteri dan jamur (melalui kultur), antigen kriptokokus dan organism lainnya, DNA virus herpes, citomegalovirus dan kuman lainnya

(menggunakan PCR) dan isolasi virus. Untuk pemeriksaan noneapelt prinsipnya adalah globulin mengendap dalam waktu 0,5 jam pada larutan asam sulfat. Cara pemeriksaanya adalah kedalam tabung reaksi masukkan reagen 0,7 ml dengan menggunakan pipet, kemudian masukkan cairan CSF 0,5 . diamkan selama 2 3 menit perhatikan apakah terbentuk endapan putih. Cara penilainnya adalah sebagai berikut: ( - ) Cincin putih tidak dijumpai

7

( + ) Cincin putih sangat tipis dilihat dengan latar belakang hitam dan bila dikocok tetap putih ( ++ ) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi opolecement (berkabut) ( +++ ) Cincin putih jelas dan bila dikocok cairan menjadi keruh ( ++++ ) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi sangat keruh 12. Untuk test pandi bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan globulin dan albumin, prinsipnya adalah protein mengendap pada larutan jenuh fenol dalam air. caranya adalah isilah tabung gelas arloji dengan 1 cc cairan reagen pandi kemudian teteskan 1 tetes cairan CSF, perhatikan reaksi yang terjadi apakah ada kekeruhan. 13. Bila lumbal pungsi digunakan untuk mengeluarkan cairan liquor pada pasien dengan hydrocepalus berat maka maksimal cairan dikeluarkan adalah 100 cc. 14. Setelah semua tindakan selesai, manometer dilepaskan masukan kembali stilet jarum lumbal kemudian lepaskan jarumnya. Pasang balutan pada bekas tusukan.

c. Terminasi 1. Anjurkan pasien berbaring terlentang selama 2 3 jam untuk memisahkan kelurusan bekas jarum puncture dural dan arakhnoid di lapisan otak, untuk mengurangi kebocoran CSF. 2. Monitor pasien untuk komplikasi lumbar punc