MADURA 2020 - 166 Membumikan Madura Menuju Globalisasi CULTURE ON A PLATE: CULINARY BRANDING BEBEK MADURA

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of MADURA 2020 - 166 Membumikan Madura Menuju Globalisasi CULTURE ON A PLATE: CULINARY BRANDING BEBEK...

  • i

    MADURA 2020 Membumikan Madura Menuju Globalisasi

  • iii

    MADURA 2020 Membumikan Madura Menuju Globalisasi

    Editor:

    Iqbal Nurul Azhar Surokim

    Inteligensia 2018

  • i v

    Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

    MADURA 2020 Membumikan Madura Menuju Globalisasi

    Editor: Iqbal Nurul Azhar Surokim

    Penulis: Amir Hamzah Yudho Bawono Yan Ariyani Netty Herawati Bani Eka Dartiningsih Eko Kusumo Teguh Hidyatul Rachmad Surokim Allivia Camellia Dinara Maya Julijanti Bangun Sentosa D. Hariyanto Iqbal Nurul Azhar Yuliana Rakhmawati Triyo Utomo Millatul Mahmudah Iskandar Dzulkarnain Syamsul Arifin Masduki Fachrur Rozi

    ISBN: 978-602-5562-21-1

    Copyright © Februari, 2018 xviii + 278 : 15,5 cm x 23 cm

    Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa ijin tertulis dari pihak penerbit.

    Cover: Dino Sanggrha Irnanda* Lay Out: Nur Saadah*

    Cetakan I, 2018

    Diterbitkan pertama kali oleh Inteligensia Media Jl. Joyosuko Metro IV/No 42 B, Malang, Indonesia Telp./Fax. 0341-588010 Email: intelegensiamedia@gmail.com

    Anggota IKAPI

    Didistribusikan oleh CV. Cita Intrans Selaras Wisma Kalimetro, Jl. Joyosuko Metro 42 Malang Telp. 0341-573650 Email: intrans_malang@yahoo.com

  • xvi

    Daftar Isi

    Pengantar Rektor Universitas Trunojoyo Bangkalan ... v Pengantar Editor ... xii Pengantar Penerbit ... xiv Daftar Isi ... xvi

    Prolog: Membumikan Ilmu Sosial di Madura: Menakar Tantangan dan Harapan (Medhy Aginta Hidayat ) ... 1

    Penyelesaian Sengketa Harta Keluarga: Oleh “Oréng Seppo” di Madura (Amir Hamzah) ... 13

    Pernikahan Dini pada Remaja Etnis Madura Ditinjau dari Per- spektif Psikologis Perkembangan Remaja (Yudho Bawono) ... 20

    Perempuan Madura dalam Bayang-bayang Mantan Suami: Penyesuaian Pasca-perceraian di Madura (Yan Ariyani) ... 37

    Interaksi Nilai Budaya dan Relijiusitas Islam terhadap Kebahagiaan Pasangan Etnis Madura (Netty Herawati) ... 45

    Mitos dan Tantangan dalam Perkembangan KB Vasektomi di Madura (Bani Eka Dartiningsih) ... 59

    Menakar ‘Kejantanan’ Blater:Sosok Penjaga Stabilitas Keamanan dan Pembangunan Wilayah di Madura (Eko Kusumo) ... 66

  • xvii

    Strategi Kultural Blater Sebagai Identitas Orang Madura (Teguh Hidyatul R, Surokim, Allivia Camellia) ... 79

    Tradisi Remo Madura dalam Perspektif Komunikasi Budaya (Dinara Maya Julijanti) ... 99

    Terjebak Nostalgia: Beberapa Fakta Historis-Sosiologis yang Men- jadikan Area Pelabuhan Kamal Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan Layak untuk Dipertimbangkan sebagai Destinasi Wisata Pesisir - Urban Kekinian (Bangun Sentosa D. Hariyanto) ... 112

    Integrasi Komunikasi Pariwisata di Madura (Teguh Hidayatul Rachmad) ... 119

    Memposisikan Kembali Peran Kyai dan Pesantren dalam Mem- bangun Pariwisata di Madura (Iqbal Nurul Azhar) ... 144

    Culture on a Plate: Culinary Branding Bebek Madura (Yuliana Rakhmawati) ... 166

    Alasan dan Tujuan Pedagang Madura Membentuk Kelompok di Tempat Perantauannya (Triyo Utomo & Millatul Mahmudah) ... 180

    Lokalitas dan Masyarakat Imajiner: Potret Kearifan Kehidupan Sosial Petani Madura (Iskandar Dzulkarnain) ... 186

    Lusmin: Media Informasi Masyarakat Madura (Syamsul Arifin) ... 197

    Menenggang dan Berbagi Kebaikan di Ruang Publik Media Digital: Membumikan Netiket di Madura (Surokim) ... 208

    Inisiasi Pembangunan Komunikasi Masyarakat Kepulauan Timur Madura Melalui Keterbukaan Informasi, Open Mindset, dan Me- dia Lokal (Surokim) ... 225

    Peran Penerjemah Terhadap Globalisasi Budaya Madura (Masduki) ... 249

  • xviii

    Pendidikan Cap Sarung Sebagai Citra Pendidikan di Madura (Fachrur Rozi) ... 261

    Epilog: Ilmuwan Sosial Madura, Kontribusi dan Tantangan ke Depan (Surokim) ... 272

  • 166

    Membumikan Madura Menuju Globalisasi

    CULTURE ON A PLATE: CULINARY BRANDING BEBEK MADURA

    Oleh: Yuliana Rakhmawati

    Madura dikenal dengan keunikan dalam budaya dan cita rasa otentik kuliner daerah. Salah satu makanan yang menjadi trademark Pulau

    Garam ini adalah aneka olahan bebek seperti bebek bumbu rica, bebek hitam pedas, bebek goreng, bebek songkem dan lain sebagainya.

    Kuliner bebek di Madura berkembang dengan positif tidak terlepas keberadaan Suramadu dan wisata religi. Banyaknya peminat kuliner

    Madura khususnya aneka olahan bebek mendorong tumbuh dan berkembangnya usaha kuliner bebek di Madura. Momen menjamurnya usaha kuliner bebek dalam perspektif strategis dapat digunakan sebagai

    branding bukan saja dalam dimensi bisnis tetapi mengangkat kuliner sebagai bagian dari identitas budayayang secara de facto akan

    memperkaya khasanah kuliner bangsa (Y. R).

    *** Dalam kesehariannya, manusia hadir dalam ragam konteks pun

    beragam identitas yang melekat akan bersilih hadir dan ditampilkan. Dengan proses interaksi secara terus menerus, identitas dibentuk dan dikembangkan. Identitas salah satunya dibentuk oleh unit terkecil dari budaya yaitu keluarga. Dalam proses pembentukan identitas tersebut, akan lahir bermacam identitas dalam diri individu di antaranya: identitas rasial, identitas etnisitas, identitas jender, identitas

  • 167

    Madura 2020

    nasional, identitas kedaerahan, identitas organisasi, identitas pribadi, identitas siber dan identitas fantasi.

    Samovar (2010) menyebutkan bahwa kontribusi yang diberikan oleh budaya dalam pembentukan identitas dilakukan atas beberapa asumsi karakter dari budaya diantarnya: pertama budaya adalah sesuatu yang dipelajari (culture is learned), kedua budaya bekerja karena dibagikan (culture is shared), ketiga budaya dipindahkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya (culture is transmitted from generation to generation), keempat budaya adalah entitas dengan basis simbol (culture is based on symbols), kelima budaya adalah sesuatu yang dinamis (culture is dynamic) dan keenam budaya adalah sistem yang terintegrasi (culture is integrated system).

    Konsep identitas sebenarnya adalah sesuatu yang abstrak, kompleks dan dinamis. Sebagai hasil dari rangkaian karakter, identitas tidaklah mudah untuk didefinisikan. Hall (2005: 108-109) dalam Samovar (2010: 153) menawarkan rentangan kategorisasi dari identitas mulai dari yang bersifat personal, relasional sampai komunal. Pem- bagian identitas tersebut sebagai konsekuensi atas hadirnya konteks dalam interaksi. Identitas merupakan produk dari praktik hubungan individu dengan individu lainnya seperti pasangan suami-istri, anak- orang tua, guru-murid, rekan kerja dan sebagainya. Identitas komunal terjadi dalam lingkup yang lebih besar seperti kebangsaan, etnisitas, afiliasi jender, agama atau kepemilikan politik.

    Gudykunst (2004) menyediakan klasifikasi lebih lanjut dari jenis identitas. Dalam konteks komunikasi antar budaya, identitas komunal dilekatkan dalam kategori identitas sosial. Identitas tersebut terlihat dalam kelekatan demografis seperti kewarganegaraan, etnisitas, usia, kelas sosial, atribut yang melekat atas peran sosial (misalnya sebagai pelajar, dosen, orang tua, guru pendamping), keanggotaan dalam organisasi baik formal atau informal atau pada kelompok stigma- tisasi (tuna wisma, ODHA dan sebagainya).

    Beberapa kebiasaan dalam budaya tertentu dapat menjadi pengesa- han identitas. Pola pembentukan identitas yang terjadi berlangsung secara dinamis, di satu sisi terikat pada tradisi, akan tetapi di sisi lain dapat berkembang sebagai bentuk pencapaian posisi equilibrium peradaban. Latane dkk (1996) dalam Griffin (2005) dan Forsyth (2009)

  • 168

    Membumikan Madura Menuju Globalisasi

    menyajikan pola perubahan budaya dalam Dynamic Social Impact Theory (DSIT). Teori ini menjelaskan bagaimana budaya muncul dan berubah pada tingkat kelompok. Dalam DSIT, kelompok ditempatkan sebagai sistem kompleks yang terus berubah dan tidak pernah statis. Kelompok yang terdistribusi secara spasial dan ber- interaksi berulang kali mengatur dan mengatur diri dalam empat pola dasar: konsolidasi, pengelompokan, korelasi, dan keragaman berkelanjutan. Pola ini memungkinkan dinamika kelompok ber- operasi dan gagasan disebarkan ke seluruh kelompok.

    Identitas sebagai penanda atas indikator-indikator tertentu merupakan faktor penting untuk menunjukkan perbedaan antara ‘saya’ dan ‘anda’. Dengan identitas jugalah ‘saya’ dan ‘anda’ atau ‘kita’ dan ‘mereka’ dapat terhubung dan berinteraksi. Dalam pem- bentukan identitas, berkembang pula hubungan personal dan emosional di antara pemangku identitas yang mempunyai proksi- mitas. Identitas dapat tercermin dalam bahasa, aksen atau nama keluarga.

    Ting-Toomey (2003) dalam Littlejohn (2009) menganggap identitas sebagai pembentukan konsepsi diri atau citra diri sendiri yang masing- masing dari individu dapatkan dari lingkaran pengaruhnya (keluarga, lingkungan pergaulan, peran jender, kulturosial budaya, etnik, dan relativitas individual). Identitas pada dasarnya mengacu pada reflektif pandangan diri kita sendiri dan persepsi lain tentang citra diri kita. Peran yang diberikan oleh identitas membawa kelekatan emosional kepada budaya yang lebih besar.

    Identitas juga sering ditandai dengan keterlibatan pada acara- acara seremonial peringatan kejadian-kejadian tertentu. Upacara Tujuh Belas Agustus di Indonesia, Hari Bastille di Prancis, dan perayaan hari kemerdekaan di negara-negara lain berfungsi sebagai ekspresi dari identitas nasional. Karnaval Barongsai pada peringatan Imlek (Lunar Year) memiliki fungsi sebagai afirmasi kelekatan identitas etnisitas Tionghoa di Indonesia. Pawai