Makalah Euthanasia

Embed Size (px)

Text of Makalah Euthanasia

Kontroversi Euthanasia dalam Bidang Kesehatan di Indonesia Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etika Keperawatan

oleh : 1. 2. 3. 4. 5. 6. FEBRIANA DEWI PURWANTI IKA WAHYUNINGSIH NISIA ELVANDARI U RIMA NOVYATRI SARIFATUL MARAH VITA IGA PRAMUDITA 2011.1346 2011.1349 2011.1363 2011.1374 2011.1378 2011.1388

AKADEMI KEPERAWATAN PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2011

KATA PENGANTAR

Ucapan puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang hanya karena limpahan karunianya kami dapat menyusun makalah dengan judul EUTHANASIA dengan baik. Didalam makalah i Makalah ini dususun secara sistematis mengenai uraian singkat tentang pengertian eutahanasia yang masih pro dan kontra dikalangan masyarakat. Pada kesempatan ini,penulis mengucapkan terimakasih kepada : 1. Dr.Sukirno selaku Diriktur AKPER PKU Muhammadiyah Surakarta 2. Weny astuti S.Kep M.Kes dan Tri lestari S.Kep,M.Kes selaku dosen pengampu mata kuliah etika keperawatan. 3. Teman-teman serta semua pihak yang telah membantu penulis. Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan atau ilmu pengetahuan bagi para pembaca. Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharap saran dan kritik yang membangan dari pembaca.

Surakarta, April 2011

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ....................................................................... B. Rumusan Masalah ................................................................. C. Tujuan .................................................................................... BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Euthanasia ........................................................... B. Alasan Dilakukan Euthanasia ................................................ C. Euthanasia Sama Dengan Aborsi .......................................... D. Macam-Macam Euthasania ................................................... E. Etika Keperawatan Pada Euthanasia ..................................... F. Syarat-syarat Dilakukan Euthanasia ......................................G. Euthanasia Dari Segi Agama .................................................

H. Euthanasia Dari Segi Hukum Negara .................................... BAB III PENUTUP A. Saran ...................................................................................... B. Kesimpulan ............................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dunia kesehatan akan selalu berkembang seiring perkembangan zaman. Semakin banyak penemuan yang dilakukan oleh para ilmuan untuk memperkaya dunia kesehatan. Salah satunya euthanasia istilah ini digunakan untuk menyebutkan sesuatu tindakan mempercepat proses kematian seseorang secara wajar. Hal ini dilakukan untuk mengakhiri penderitaan si pasien dengan syarat ada persetujuan dan sesuai prosedur. Sekitar tahun 400 sebelum Masehi,sebuah sumpah yang terkenal dengan sebutan The Aippocratie Oath.mengatakan saya tidak akan memberikan obat mematikan pada siapapun,atau menyarankan hal tersebut pada siapapun.Sekitar abad ke-14 sampai abad ke-20,Hukum adat inggris yang dipetik oleh Mahkamah Agung Amerika tahun 1997 dalam pidatonya : Lebih jelasnya,selama lebih dari 700 tahun,Orang Hukum Adat Amerika Utara telah menghukum atau tidak menyetujui aksi bunuh diri individual ataupun dibantu. Tahun 1955,Belanda sebagai Negara pertama yang mengeluarkan UU yang menyetujui euthanansia dan diikuti oleh Australia yang melegalkan di tahun yang sama,setelah dua Negara itu mengeluarkan undang-undang yang sah tentang euthanansia beberapa Negara masih menganggapnya sebagai konflik,namun ada juga yang ikut mengeluarkan undang-undang yang sama,Hal ini akan dibahas lebih lanjut dibab berikutnya. B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan euthanasia? 2. Apa sajakah hukum yang mengatur euthanasia? 3. Mengapa dilakukan euthanasia? 4. Apakah perbedaan euthanasia dengan aborsi? 5. Apa saja macam macam eutanasia? 6. Apakah hubungan euthanasia dengan etika keperawatan?

7. Apakah syarat syarat dilakukannya euthanasia? C. Tujuan Dalam penyusunan makalah ini penulis memiliki tujuan : 1. Memberikan informasi kepada pembaca tentang euthanasia dalam dunia kesehatan. 2. Menjelaskan kepada pembaca tentang hukum yang mengatur euthanasia. 3. Menjelaskan kepada pembaca tentang alasan - alasan dilakukannya euthanasia. 4. Pembaca mampu membedakan antara euthanasia dan aborsi 5. Menjelaskan kepada pembaca tentang jenis-jenis euthanasia. 6. Menjelaskan para pembaca tentang euthanasia menurut etika keperawatan 7. Menjelaskan para pembaca tentang syarat syarat dilakukannya euthanasia

BAB II TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN EUTHANASIA

Euthanasia secara bahasa berasal dari bahasa Yunani eu yang berarti baik, dan thanatos, yang berarti kematian (Utomo, 2003;177). Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah qatlu ar-rahma atau taysir al-maut. Menurut istilah kedokteran, euthanasia berarti tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal diperingan. Juga euthanasia berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya ;(Hasan, 1995;145). Dalam praktik kedokteran, dikenal dua macam euthanasia, yaitu aktif dan euthanasia pasif. Euthanasia aktif adalah tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut. Suntikan diberikan pada saat keadaan penyakit pasien sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium akhir, yang menurut perhitungan medis sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh atau bertahan lama. Alasan yang biasanya dikemukakan dokter adalah bahwa pengobatan yang diberikan hanya akan memperpanjang penderitaan pasien serta tidak akan mengurangi sakit yang memang sudah parah (Utomo, 2003;176). Contoh euthanasia aktif, misalnya ada seseorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa sehingga pasien sering kali pingsan. Dalam hal ini, dokter yakin yang bersangkutan akan meninggal dunia. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya, tetapi menghentikan

pernapasannya sekaligus (Utomo, 2003;178).

Adapun euthanasia pasif, adalah tindakan dokter menghentikan pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan. Penghentian pengobatan ini berarti mempercepat kematian pasien. Alasan yang lazim dikemukakan dokter adalah karena keadaan ekonomi pasien yang terbatas, sementara dana yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat tinggi, sedangkan fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi. Terdapat tindakan lain yang bisa digolongkan euthanasia pasif, yaitu tindakan dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut penelitian medis masih mungkin sembuh. Alasan yang dikemukakan dokter umumnya adalah ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi, yang tidak mampu lagi membiayai dana pengobatan yang sangat tinggi (Utomo, 2003;176). Contoh euthanasia pasif, misalkan penderita kanker yang sudah kritis, orang sakit yang sudah dalam keadaan koma, disebabkan benturan pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. Atau, orang yang terkena serangan penyakit paru-paru yang jika tidak diobati maka dapat mematikan penderita. Dalam kondisi demikian, jika pengobatan terhadapnya dihentikan, akan dapat mempercepat kematiannya (Utomo, 2003;177). Menurut Deklarasi Lisabon 1981, euthanasia dari sudut kemanusiaan dibenarkan dan merupakan hak bagi pasien yang menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan. Namun dalam praktiknya dokter tidak mudah melakukan euthanasia, karena ada dua kendala. Pertama, dokter terikat dengan kode etik kedokteran bahwa ia dituntut membantu meringankan penderitaan pasien Tapi di sisi lain, dokter menghilangkan nyawa orang lain yang berarti melanggar kode etik kedokteran itu sendiri. Kedua, tindakan menghilangkan nyawa orang lain merupakan tindak pidana di negara mana pun. (Utomo, 2003;178).

B.

ALASAN DILAKUKAN EUTHANASIA Euthanasia adalah sebuah aksi pencabutan nyawa seseorang kareana itu dilakukanya aksi tersebut harus didukung dengan alasan yang kuat. Dari

beberapa survei negara dan penyaringan sumber. Berikut ini adalah tiga alasan utama mengapa euthanasia itu bisa dilakukan. 1. Rasa sakit yang tudak tertahankan Mungkin argumen terbesar dalam konflik euthanasia adalah jika si pasien tersebut mengalami rasa sakit yang amat besar. Namun pada zaman ini, penuman semakin gencar untuk mengetasi rasa sakit tersebut, yang secara langsung meningkatkan presentase assistea suicede berkurang. Euthanasia memang sekilas merupakan jawaban dari stres yang disebabkan oleh rasa sakit yang semakin menjadi. Namun ada juga yan g dinamakan drugged state atau suatu saat dimana kita tak merasakan rasa sakit apapun karean pengaruh obat. Karena itulah kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada rasa sakit yang tidak terkendali, namun beberapa pendapat menyatakan bahwa hal tersebut bisa dilakukan dengan mengirim seseorang kedalam keadan rasa sakit tapi mereka tetap di euthanasiakan karena cara tersebut tidak terpuji. Hampir semua rasa sakit dihilangkan,adapun yang sudah sebegitu parah bisa dikurangi jika perawatan yang dibutuhkan tersedia dengan baik.Tapi euthanasia bukanlah jawaban dari skandal tersebut.Solusi terbaik untuk masalah ini adalah dengan meningkatkan mutu para profesional medis dan dengan menginformasikan pada setiap pasien,apa saja hak-hak mereka sebagai seorang pasien. Meskipun begitu,beberapa dokter tidak dibekali dengan pain management atau cara medis menghilangkan rasa sakit,sehingga mereka tidak tahu b