MAKALAH PSIKIATRI GERIATRI

  • View
    14

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Gangguan Psikiatri pada Geriatri

Text of MAKALAH PSIKIATRI GERIATRI

13

MAKALAH PSIKOGERIATRISKIZOFRENIA PARANOID

Oleh :Bening Putri Ramadhani UsmanEmi RahmadhaniFithriyahRetno Maristi

Kepanitraan Klinik GeriatriFakultas Kedokteran dan Ilmu KesehatanUniversitas Islam Negeri Syarif HidayatullahJakarta2013

IDENTITAS PASIEN Nama pasien : Ny. L Status perkawinan: Janda Jmlah anak: 4 orang Alamat rumah: - Umur: 61 tahun Jenis kelamin: Perempuan Suku: Padang Pendidikan: Sekolah Dasar Agama: Tidak beragama Masuk sejak: 23 Juli 2013 Status : Warga binaan sosial panti werdha Budi Mulia IV Radio Dalam

ANAMNESISAutoanamnesis pada hari Selasa, 10 Desember 2013

Keluhan utama Pasien merasa takut berinteraksi dengan orang lain sejak 13 tahun yang lalu.

Riwayat Gangguan Sekarang Pasien merasa takut berinteraksi dengan orang lain karena ia takut orang lain berburuk sangka terhadap dirinya. Selain itu, pasien merasa orang lain tidak mengerti bahasa yang ia ucapkan. Pasien merasa dirinya menjadi bodoh, tidak berguna, tidak berdaya, dan tidak memiliki cita-cita. Semua perasaan tersebut muncul setelah ia kehilangan kodaknya. Kodak yang dimaksud oleh pasien adalah foto dirinya. Menurut pasien, kodak tersebut adalah sumber kekuatannya. Pasien mengaku bahwa kodaknya diambil oleh seseorang bernama Josh. Josh adalah teman kost pasien dulu dan kemudian menikah adik angkat pasien. Josh merupakan sosok yang jahat di mata pasien, dan pasien tampak begitu emosional ketika bercerita mengenai Josh. Pasien mengatakan bahwa Josh adalah kacung panti. Berdasarkan keterangan pasien, Josh mengambil kodaknya untuk??? Setelah Kodak tersebut diambil, pasien merasa stress, sering sakit-sakitan, dan sering sesak nafas. Di samping itu, ia merasa tidak lagi satu tujuan dengan orang lain. Ia juga tidak mampu menguraikan cerita mengenai kehidupannya karena kodaknya sudah diambil. Pasien berharap kodaknya segera kembali, karena ia takut kodaknya dimanfaatkan oleh orang lain untuk mencuri. Pasien sudah melaporkan kejadian tersebut ke polisi, namun tidak didengarkan oleh polisi, sehingga ia merasa tidak ada harapan lagi.Pasien lahir di Padang, dan tinggal bersama keluarga angkatnya. Saat berusia 7 tahun, pasien dan keluarga angkatnya pindah ke Jakarta, dan menetap di daerah Rawamangun. Saat ini, pasien tidak mengetahui keberadaan saudara angkatnya karena semua sudah berkeluarga. Pasien mengaku tidak pernah sekolah, tetapi ia selalu ingin menunjukkan bahwa dirinya pandai berbahasa Inggris. Menurut pasien, jika orang lain ingin belajar darinya, maka orang tersebut dapat menjadi satu tujuan dengannya. Namun, butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar darinya.Pasien mengaku menikah dengan pesta besar-besaran saat usia 17 tahun. Suami pasien adalah seorang Duta Besar (Dubes). Menurut pasien, suaminya itu bukan seorang manusia, melainkan pencipta air, wool, emas, dan tanah. Dubes adalah laki-laki bertubuh besar, dan tidak bisa dilihat oleh orang lain selain dirinya. Selama menikah, pasien tidak pernah tidur bersama suaminya. Namun, ia mengaku mendapatkan 4 orang anak hasil pernikahannya dengan Dubes. Semua anaknya harus menikah dengan Dubes, karena seluruh keturunannya menikah dengan Dubes. Namun, saat ini ia tidak dapat menikahkan anaknya dengan Dubes karena kodaknya sudah hilang. Sekarang Dubes sudah pindah tempat dan membawa serta Qonita yang diakui pasien sebagai jelmaannya. Keterangan lain mengenai Dubes tidak mau diceritakan oleh pasien, karena hal tersebut merupakan rahasianya. Sejak kodaknya diambil, pasien mengaku sudah tidak bisa bertemu dengan Dubes. Ia hanya dapat bertemu kembali jika kodaknya sudah kembali.Pasien tidak mempercayai adanya Tuhan. Ia mengaku tidak memiliki agama. Pasien tidak pernah solat dan membaca al-Quran. Bahkan, ia tidak mau masuk ke dalam masjid. Pasien merasakan tubuhnya mengandung banyak komplikasi penyakit, seperti maag, TBC, dan tubuhnya seperti terbakar. Namun, menurutnya, Indonesia merupakan negara yang payah untuk menanggulangi penyakit. Pasien selalu membanggakan negara Inggris, dengan selalu menyebutkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Untuk mengatasi penyakitnya, pasien memiliki kebiasaan mengumpulkan rambut rontoknya di dalam botol berisi air, kemudian diminum.Pasien mengaku mendapatkan kiriman SMS yang menjelek-jelekkan dirinya. Namun ia tidak mengetahui siapa pengirimnya.Saat ini, pasien menolak kontak fisik dengan siapapun. Menurutnya, kontak fisik akan menyebabkan penyakitnya pindah kepada orang lain, kemudian memantul kembali kepada dirinya, sehingga ia tidak akan pernah sembuh. Maka, pasien menolak dilakukannya pemeriksaan fisik.

Riwayat Gangguan Sebelumnya Riwayat Psikiatri Sebelumnya Menurut keterangan pihak panti, pasien sudah mulai berbicara kacau sejak pertama masuk ke panti. Riwayat gangguan psikiatri sebelumnya tidak diketahui.

Riwayat Penyakit Medis Sebelumnya Selama di panti werdha, pasien tidak didiagnosis menderita penyakit medis tertentu. Riwayat jatuh atau kecelakaan sebelumnya disangkal.

Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol Pasien tidak pernah merokok, minum alkohol, maupun menggunakan obat-obatan terlarang.

Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat penyakit dalam keluarga tidak diketahui. Riwayat Kebiasaan Pasien tidak pernah merokok, minum minuman alkohol, maupun menggunakan zat terlarang. Pasien memiliki kebiasaan bersih-bersih di lingkungan panti, dan tidak tahan terhadap sesuatu yang kotor.

Riwayat Penggunaan Obat Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan obat-obatan tertentu.

Riwayat Kemasyarakatan, kegemaranPasien lebih senang menyendiri. Dia sangat takut untuk bercakap-cakap dengan orang-orang di sekitarnya karena pasien merasa orang lain tidak mau percaya dengan kehidupannya. Pasien cukup aktif mengikuti kegiatan panti, kecuali kegiatan keagamaan.

Analisis Keuangan Berdasarkan keterangan panti, pasien merupakan seorang pengemis jalanan.

Analisis Lingkungan Panti Pasien tinggal di lantai 1 ruang Mawar Penerangan ruangan cukup Lantai terbuat dari keramik Tidak ada karpet untuk sebagai alas lantai Pasien tidur di atas tempat tidur Terdapat 15 tempat tidur di dalam kamar pasien Jarak antar tempat tidur sempit Terdapat satu buah TV di dalam kamar Meja makan terletak di dalam kamar Toilet berada di dalam kamar, WC jongkok, lantai cukup licin, tidak terdapat pegangan, penerangan cukup

Asupan Gizi Karbohidrat : nasi 1 piring 3 X/ hari, Mie 1x/minggu.Protein : tempe 1x/hari , susu 1x/hari

II. Pemeriksaan Status MentalA. Deskripsi Umum1. PenampilanPasien adalah seorang perempuan berusia 61 tahun. Kulit coklat, menggunakan jilbab, dengan rambut berwarna putih yang sedikit terlihat pada dahi. Pasien menggunakan daster berlengan pendek, berwarna hitam, dan bermotif bunga-bunga. Wajah pasien tampak penuh kecurigaan.

2. KesadaranPasien dalam keadaan sadar penuh (compos mentis).

3. Perilaku dan aktivitas psikomotorSelama pemeriksaan berlangsung, pasien terus menerus memainkan kantong plastik yang ada di tangannya. Gerakan berupa melipat plastik, kemudian lipatan dibuka kembali, kemudian dilipat lagi, dan seterusnya. Gerakan tersebut dilakukan sejak awal hingga akhir wawancara. Kontak mata cukup baik.

4. PembicaraanPasien berbicara terus-menerus mengenai hal-hal yang sulit dimengerti oleh pemeriksa. Seringkali pasien mengucapkan istilah-istilah yang maknanya kurang dimengerti, seperti kodak, RP, rose, bank, subsidi, dan sebagainya. Beberapa kali pasien menjawab pertanyaan pemeriksa dengan jawaban yang tidak berhubungan. Pembicaraan pasien juga cenderung terkesan melompat-lompat antara satu hal dengan hal lainnya.

5. Sikap terhadap pemeriksaPada awalnya, pasien ragu untuk berbicara dengan pemeriksa dan cenderung menolak pembicaraan. Setelah beberapa lama, pasien mulai terbuka dan menceritakan banyak hal kepada pemeriksa. Namun, beberapa kali pasien mengutarakan kecurigaannya kepada pemeriksa dan tidak mau jika pembicaraan tersebut dicatat oleh pemeriksa. Sejak awal wawancara hingga akhir, pasien tidak mau ada kontak fisik dengan pemeriksa karena merasa tubuhnya terlalu banyak penyakit. Menurut keyakinannya, jika ia melakukan kontak fisik dengan orang lain, maka penyakitnya akan memantul kembali kepadanya sehingga ia tidak kunjung sembuh.

B. Mood dan AfekMood: hipotimAfek: tumpulKeserasian : tidak terdapat keserasian antara emosi dan isi pembicaraan (inappropriate)

C. Gangguan PersepsiPasien memiliki halusinasi visual, yaitu ia dapat melihat sosok Dubes yang ia yakini tidak dapat dilihat oleh orang lain.

D. PikiranProses dan Bentuk Pikir: Spontan, inkoherenIsi Pikir: Waham rujukan (+), waham kejar (+), waham kebesaran (+)

E. Kesadaran dan Kognisi1. Taraf Kesadaran: Compos mentis2. OrientasiWaktu: Buruk, karena pasien tidak mengetahui tahun, musim, bulan, tanggal, maupun hari.Tempat : Buruk, karena pasien tidak mengetahui negara, provinsi, kota, dan panti tempat ia tinggal. Ia hanya mengetahui ruangan tempat ia tinggal, yang ia sebut dalam bahasa Inggris, yaitu rose.Orang: Baik, pasien mengenali pemeriksa.

3. Daya IngatSegera: Tidak dapat ditentukan, karena pasien menolak mengikuti pemeriksaan daya ingat segera.Jangka Pendek: Tidak dapat ditentukan, karena pasien menolak mengikuti pemeriksaan daya ingat jangka pendek.Jangka menengah: Tidak dapat ditentukan, karena pasien menolak mengikuti pemeriksaan daya ingat jangka menengah.Jangka Panjang: Baik, karena pasien dapat menceritakan kehidupan masa kecilnya.

4. Konsentrasi Tidak dapat ditentukan, karena pasien menolak mengikuti instruksi pemerintah saat pemeriksaan 100 dikurangi 7.

5. Perhatian : Baik, pasien cukup dapat memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian terhadap stimulus eksternal.

6. Kemampuan membaca dan menulisTidak dapat dinilai, karena pasien menolak jika pemeriksa mengeluarkan sebuah kertas.

7. Pikiran abstrakKurang