Click here to load reader

Morbus Hansen

  • View
    169

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kasus morbus hansen

Text of Morbus Hansen

STATUS RESPONSI

ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

Pembimbing

: Dr. Nurrachmat Mulianto, SpKK, M.Sc

Nama Mahasiswa: Itqan GhazaliNIM

: G99142115

Morbus HansenI. SINONIM

Lepra,Morbus Hansen1,5,6

II. DEFINISI

Penyakit Kusta adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae yang pertama menyerang saraf perifer, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang dan testis,kecuali susunan saraf pusat.4

Penyakit kusta juga dapat mengenai mukosa hidung, konka, nasofaring dan laring.11III. ETIOLOGI

Kuman penyebabnya adalah Mycobacterium Leprae ditemukan oleh G.A Hansen pada tahun 1873 yang sampai sekarang belum dapat dibiakkan dalam media artifisial. Kuman ini bersifat tahan asam, berbentuk batang dengan ukuran 1-8(, lebar 0,2-0,5 ( biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat dikultur dalam media buatan. Kuman ini juga dapat menyebabkan infeksi sistemik pada hewan Armadilo. Masa belah diri kuman ini memerlukan waktu yang sangat lama dibandingkan dengan kuman lain yakni 12-21 hari. Oleh karena itu masa tunas menjadi lama yaitu 2-5 tahun.7

Mycobacterium lepraeIV. EPIDEMIOLOGI

Masalah epidemiologi masih belum terpecahkan karena cara penularannya belum diketahui dengan pasti, hanya berdasarkan anggapan yang klasik ialah melalui kontak langsung antar kulit yang lama dan erat. Anggapan kedua ialah secara inhalasi, sebab M. Leprae masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah patogenitas kuman penyebab, cara penularan, keadaan sosial ekonomi dan lingkungan, varian genetik yang berhubungan dengan kerentanan, perubahan-perubahan imunitas dan kemungkinan adanya reservoir luar manusia. Belum ditemukannya medium artifisial mempersulit untuk mempelajari sifat-sifat Mycobacterium Leprae.5Angka kejadian penyakit kusta di dunia dilaporkan mencapai 5.5 juta kasus, kebanyakan penyakit menginfeksi penduduk yang hidup di daerah tropis dan sub tropis. Secara keseluruhan 80 % kasus didapatkan di 5 negara, diantaranya India, Myanmar, Indonesia, Brazil dan Nigeria.Penyakit kusta jarang menyebabkan kematian, tatapi penyakit ini sering menyebabkan kecacatan yang signifikan, pada penderita kusta tipe LL 70-75% mengalami kecacatan pada mata, tangan dan kaki. Berdasarkan suatu penelitian angka kejadian dari gangguan fungsi saraf pada daerah yang endemik tercatat 1,7 per 100 pasien pertahun pada kusta tipe paubasiler dan 12 per 100 pasien pada kusta tipe multibasiler. Frekuensi angka kejadian lesi saraf baru selama penderita mendapatkan pengobatan adalah 2% pada kusta tipe PB dan 11 % pada kusta tipe MB. Pada penelitian secara luas komplikasi okular pada penyakit kusta ditemukan kebutaan akibat penyakit kusta sekitar 10 % penderita.7

Kusta dapat terjadi pada semua ras di dunia, pada orang afrika dilaporkan insiden kusta bentuk tuberkuloid lebih tinggi. Orang kulit putih dan penduduk cina lebih sering terkena kusta tipe leprosa.2

Di Indonesia penderita anak-anak dibawah umur 14 tahun ( 13 %, tetapi anak dibawah umur 1 tahun jarang sekali. Frekuensi tertinggi pada kelompok umur antara 25-35 tahun. Faktor sosial ekonomi memegang peranan, makin rendah sosial ekonominya makin subur penyakit kusta.7

V. PATOGENESIS

Meskipun cara masuk M. Leprae ke dalam tubuh masih belum diketahui dengan pasti, beberapa penelitian telah memperlihatkan bahwa yang tersering ialah melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh yang bersuhu dingin dan melalui mucosa nasal. Pengaruh M. Leprae terhadap kulit bergantung pada faktor imunitas seseorang, kemampuan hidup M. Leprae pada suhu tubuh yang rendah, waktu regenerasi yang lama, serta sifat kuman yang avirulen dan nontoksis.7

M. Leprae merupakan parasit obligat intraseluler yang terutama terdapat pada sel makrofag di sekitar pembuluh darah superfisial pada dermis atau sel schwann di jaringan saraf. Bila kuman M. Leprae masuk dalam tubuh dan bereaksi mengeluarkan makrofag (berasal dari sel monosit darah,sel mononuclear, histiosit)4

Sel Schwann merupakan sel target untuk pertumbuhan M. Leprae, di samping itu sel schwann berfungsi sebagai dieliminasi dan hanya sedikit fungsinya sebagai fagositosis. Jadi bila terjadi gannguan imunitas tubuh dalam sel schwann, kuman dapat bermigrasi dan beraktivasi. Akibatnya aktivitas regenerasi saraf berkurang dan terjadi kerusakan yang progresif.7VI. KLASIFIKASI

Jenis Klasifikasi yang umum

A. Klasifikasi Internasional : Klasifikasi Madrid (1953)

Indeterminate ( I )

Tuberkuloid ( T )

Borderline Dimorphous ( B )

Lepromatosa ( L )

B. Klasifikasi untuk kepentingan riset : Klasifikasi Ridley Jopling (1962)

Tuberkuloid ( TT )

Borderlne Tuberkuloid ( BT )

Mid- borderline ( BB )

Borderlne Lepromatous ( BL )

Lepromatosa ( LL )

C. Klasifikasi untuk kepentingan Program Kusta : Klasifikasi WHO (1981) dan modifikasi WHO (1988)

Paubasilar ( PB )

Hanya kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan BTA negatif menurut Kriteri Ridley dan Jopling atau tipe I dan T menurut klasifikasi Madrid.

Multibasiler ( MB )

Termasuk Kusta tipe LL, BL, BB dan sebagian BT menurut criteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan BTA positif.6Untuk pasien yang sedang dalam pengobatan diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Bila pada mulanya didiagnosis tipe MB, tetapi diobati sebagai MB apapun hasil pemeriksaan BTA nya saat ini.

2. Bila awalnya di diagnosis tipe MB harus dibuat klasifikasi baru berdasarkan gambaran klinis dan hasil BTA saat ini.

Selain Klasifikasi diatas juga di dapatkan :

Kusta tipe neural

Yaitu penyakit kusta yang ditandai oleh hilangnya fungsi sensoris pada daeerah sepanjang distribusi sensoris batang saraf yang menebal (dapat disertai paralysis motoris maupun tidak), tanpa ditemukannya bercak pada kulit.

Kusta Histoid

Pada kusta Histoid didapatkan lesi kulit berupa nodula-nodula dengan kulit sekitarnya normal, secara klinis didapatkan nodula-nodula licin berkilat, padat,eritematosa, bentuk bulat atau oval dengan ukuran penampang bervariasi 1 20 mm.3VII. MANIFESTASI KLINISKusta MultibasilerSifatLepromatosa ( LL)Borderline Lepromatosa (BL)Mid Borderline ( BB )

Lesi

BentukMakula, Infiltrat difus, papul, nodulMacula, Plakat, papulPlakat, Dome-shaped (kubah), Punched-out

JumlahTak terhitung, praktis tidak ada kulit yang sehatSukar dihitung, masih ada kulit sehatDapat dihitung, kulit sehat jelas ada

DistribusiSimetrisHampir simetris Asimetris

PermukaanHalus berkilatHalus berkilatAgak kasar,agak berkilat

BatasTak jelasAgak jelasAgak jelas

AnestesiaTak ada sampai tak jelasTak jelasLebih jelas

BTA

Lesi kulit

Sekret hidungBanyak (ada globus)

Banyak (ada globus)Banyak

Biasanya negatifAgak banyak

Negatif

Tes LeprominNegatifNegatifBiasanya negatif

Kusta PaubasilerSifatBorderline Tuberkuloid (BT)Tuberkuloid (TT)Indeterminate (I)

Lesi

BentukMakula dibatasi infiltrat, infiltrat sajaMakula saja, makula dibatasi infiltratHanya macula

JumlahBeberapa atau satu dengan satelitSatu dapat beberapaSatu atau beberapa

DistribusiMasih asimetrisAsimetrisVariasi

PermukaanKering bersisikKering bersisikHalus agak berkilat

BatasJelasJelasDapat jelas atau dapat tidak jelas

AnesthesiaJelasJelasTak ada sampai tak jelas

BTA

Negatif atau + 1NegatifNegative

Tes leprominPositif lemahPositif kuat ( 3+)Dapat positif lemah atau negatif

Perbedaan tipe PB dan MB

NoPaubasiler (PB)Multibasiler (MB)

1.Bercak :

1. Jumlah

2. Ukuran

3. Batas

4. Permukaan

5. Mati rasa

6. Kehilangan kemampuan berkeringat, bulu rontok

7. Distribusi1-6

kecil dan besar

tegas

kering dan kasa

selalu ada dan jelas

biasanya ada

unilateral/bilateral, asimetrisBanyak

Kecil

Tidak tegas

Halus dan berkilat

Biasanya tidak jelas

Biasanya tidak ada

Bilateral dan simetris

2.Infiltrat

1. Kulit

2. Mukosa (hidung tersumbat, perdarahan hidung)Tidak ada, kadang ada

Tidak pernah adaAda, kadang tidak ada

Ada, kadang tidak ada

3.NodulusTidak adaAda

4.Ciri-ciri khususPenyembuhan di bag. Tengah bercak (central healing)Ginekomastia, madarosis, suara parau

5.Penebalan sarafJumlah sedikit, unilateral, lebih sering terjadi diniJumlah banyak, bilateral, pada fase lanjut

6.Deformitas (cacat)Biasanya terjadi dini, asimetrisPada fase lanjut, simetris

7.Hapusan kulitBTA (-)BTA (+)

Ridley-Jopling

Gambaran Klinis organ tubuh lain yang dapat diserang :

1. Mata

: Iritis, Iridosiklitis, gangguan visus sampai

kebutaan

2. Hidung

: Epistaksis, hidung pelana.

3. Tulang dan sendi : Absorbsi, mutilasi, arthritis

4. Lidah

: ulkus, nodus

5. Testis

: ginekomastia,epididmis akut, orkitis, atrofi

6. Kelenjar Limfe: Limfadenitis

7. Rambut

: Alopesia, Madarosis

8. Ginjal

: Glomerulonefritis, amilodosis ginjal,

piolonefritis, nefritis interstisial

Predileksi Lesi Kulit

Bagian tubuh yang relatif lebih dingin, misalnya pada muka, hidung, (mukosa), telinga, anggota tubuh dan bagian tubuh yang terbuka.4