Click here to load reader

morbus hansen

  • View
    33

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tutorial kulit

Text of morbus hansen

Laboratorium Ilmu Kulit dan Kelamin Tutorial Kasus

Laboratorium Ilmu Kulit dan Kelamin

Tutorial KasusFakultas Kedokteran

Universitas Mulawarman

Morbus Hansen Tipe Multi Basiler (MB)

Oleh :

Rahayu Asmarani

Suryanti Suwardi

Syahidah Amaniyya RamadhanPembimbing :

dr. H. M. Darwis Toena, Sp. KKDibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik

Laboratorium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

2015

DAFTAR ISI

i

DAFTAR ISI

BAB 1 1

PENDAHULUAN

BAB 2 2

LAPORAN KASUS

2

1.1ANAMNESIS

3

1.2PEMERIKSAAN FISIK

4

1.3DIAGNOSIS BANDING

4

1.4PEMERIKSAAN PENUNJANG

4

1.5DIAGNOSIS KERJA

5

1.6PENATALAKSANAAN

5

1.7PROGNOSIS

BAB 3 6

TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 20

PEMBAHASAN

BAB 5 24

KESIMPULAN

25

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1

PENDAHULUAN

Penyakit kusta atau Morbus Hansen adalah salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional.

Setiap tahunnya tercatat ratusan ribu kasus Morbus Hansen baru diseluruh dunia. Menurut kalkulasi WHO, pada tahun 2007 saja terdapat 254.525 kasus baru. Di Indonesia sendiri, tiap tahunnya terdapat 20.000 kasus baru, dan merupakan Negara ketiga terbanyak setelah India dan Brazil (1). Di Indonesia penderita Morbus Hansen terdapat hampir diseluruh daerah dengan penyebaran yang tidak merata. Suatu kenyataan, di Indonesia bagian Timur terdapat angka kesakitan kusta yang lebih tinggi. Penderita kusta 90% tinggal diantara keluarga mereka dan hanya beberapa persen saja yang tinggal dirumah sakit kusta, koloni penampungan atau perkampungan kusta.

Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, termasuk sebagian petugas kesehatan karena dapat terjadi ulserasi, mutilasi,dan deformitas. Penderita penyakit ini bukan menderita karena penyakitnya saja, tetapi juga karena dikucilkan masyarakat sekitarnya. Dampak social terhadapa penyakit ini sedemikian besarnya, sehingga menimbulkan keresahan yang sangat mendalam. Tidak hanya penderita sendiri, tetapi pada keluarganya, masyarakat dan Negara. Masih banyak yang menganggap bahwa penyakit Morbus Hansen merupakan penyakit menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, dan menyebabkan kecacatan. Akibat anggapan yang salah ini penderita Morbus Hansen merasa putus asa sehingga tidak tekun untuk berobat (2; 3).

BAB 2

LAPORAN KASUS

1.1ANAMNESIS

1.1.1Identitas

Nama:Tn. AUmur:50 tahun

Alamat:Jl. Durian I No. 59 RT. 64Pekerjaan:Guru SMK (PNS)Anamnesis dilakukan dengan autoanamnesis. Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 23 Oktober 2015 di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

1.1.2Keluhan Utama

Wajah dan badan terasa kebas.1.1.3Riwayat Penyakit Sekarang

Wajah dan badan terasa kebas sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu, awalnya muncul bercak- bercak putih di badan yang tidak terasa gatal, sehingga pasien tidak menghiraukannya. Lalu kurang lebih 1 tahun kemudian, bercak-bercak juga muncul di tangan dan kakinya, bercak tersebut semakin meluas hingga ke telapak tangan dan wajah, tepinya menebal, dan mati rasa. Selain itu, pasien juga merasakan tangan dan kakinya mulai terasa keram, dan lama kelamaan menjadi terasa kebas. Pasien juga mengaku telapak tangannya sering melepuh bila terkena panas misalnya saat mengendarai motor, dan beberapa kuku jari tangannya menghitam dan seperti akan terlepas. Selain itu pasien juga mengeluhkan nyeri pada telapak tangannya karena luka bakar saat memegang piring berisi nasi panas, dan tanpa di sadari beberapa jam kemudian tangannya melepuh. Pasien memiliki riwayat diabetes sejak 5 tahun terakhir, dan rutin minum obat.

1.1.4Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan serupa, namun saat pasien tinggal di Manado 15 tahun yang lalu, ada tetangga pasien yang menderita kusta.

1.2PEMERIKSAAN FISIK

1.2.1Status Generalisata

Keadaan umum: tampak sakit ringan

Kesadaran : komposmentis

Kepala: normosefali

LeherDada/Punggung/Perut: dalam batas normal

Ekstremitas: dalam batas normal

Pembesaran Kelenjar: tidak dilakukan pemeriksaan

1.2.2Status Dermatologis

Lokalisasi Ekstremitas Superior

a) Regio GeneralisataEfloresensi: makula dengan tepi yang meninggi dan eritema ukuran plakat, berbatas tegas dengan penyebaran generalisata, dengan erosi di bagian plantar manus sinistraFungsi Sensorik: anastesi (+) pada lesi

Fungsi Motorik:paresis (-)

Fungsi Otonom : edema digiti (-), kulit kering (-)

Deformitas: kuku seperti mau terlepas1.2.3Foto Klinis

1.3DIAGNOSIS BANDING

Morbus Hansen tipe Multi Basiler

Tinea VersikolorPitiriasis Rosea

1.4PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil pemeriksaan BTA pada cuping telinga kanan, kiri dan bokong: (-)

1.5DIAGNOSIS KERJA

Morbus Hansen tipe Multi Basiler

1.6PENATALAKSANAAN

Farmakologi: Diberikan pengobatan MDT-MB selama 12 bulan

Rifampisin 600 mg/bulan

Klofazimin 300 mb/bulan (diawasi petugas) dan dilanjutkan besok 50 mg/hari Dapson 100 mg/hari

Non Farmakologi:Memberikan edukasi, yaitu :

Lama pengobatan dan cara minum obat

Efek samping yang dapat timbul karena obat

Kusta dapat disembuhkan, bila minum obat teratur dan lengkap

Bahaya yang terjadi bila minum obat tidak teratur yaitu dapat menularkan kepada keluarga dan orang lain, dan juga dapat menjadi cacat.

Bila ada keluhan selama masa pengobatan diminta segera periksa ke Puskesmas.

Bila penderita kehilangan rasa raba atau sakit, menjelaskan bagaimana perawatan diri untuk mencegah cacat1.7PROGNOSIS

Quo ad vitam

: bonam

Quo ad sanationam: bonam

Quo ad kosmetika: bonam

BAB 3

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi dan Sinonim

Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi yang kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat, yang menyerang saraf tepi dan kemudian menimbulkan suatu kelainan kulit (2).

Kuman penyebab penyakit Kusta, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia Gerhard Hendrik Armauer Hansen pada tahun 1873, maka dari itu Kusta dikenal juga dengan nama Morbus Hansen, sesuai dengan penemu kuman penyebab kusta tersebut. Kata lepra disebut dalam kitab injil, terjemahan dari bahasa Hebrew zaraath (2).3.2 Epidemiologi

Penyebaran penyakit Morbus Hansen dari suatu tempat ke tempat lain sampai tersebar di seluruh dunia disebabkan oleh perpindahan penduduk yang terinfeksi penyakit tersebut. Penderita kusta tersebar di seluruh dunia, walaupun terbanyak di daerah tropik dan subtropik. Penyebarannya terutama di benua Afrika, Asia, Amerika Latin serta masyarakat yang social ekonominya rendah (2; 4).

Morbus Hansen dapat menyerang semua umur, anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa. Di Indonesia penderita anak-anak dibawah umur 14 tahun didapatkan 13%, tetapi anak dibawah umur 1 tahun jarang sekali. Frekuensi tertinggi terdapat pada kelompok umur antara 25-35 tahun (2).

Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan perkembangan penyakit Morbus Hansen hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau keganasan Micobaterium leprae dan daya tahan tubuh penderita. Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah (3):

Usia: Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa, insidens rate 10-20 tahun; puncak prevalensi 30-50 tahun.

Jenis kelamin: laki-laki lebih banyak yang terjangkit

Ras: bangsa Asia dan Afrika lebih banyak terjangkit

Kesadaran social: Umumnya Negara-negara endemis adalah Negara-negara tingkat sosial ekonomi rendah

Lingkungan: fisik, biologi, sosial,yang kurang sehat.

Demografi: penyakit yang berkembang di seluruh dunia; 600.000 kasus baru per tahun; 1,5-8 juta total kasus di seluruh dunia. Lebih dari 80% kasus terdapat di India, China, Myanmar, Indonesia, Brazil, Nigeria (5).

3.3 Etiologi

Penyebab Morbus hansen adalah Mycobacterium leprae, yang ditemukan oleh warga negara Norwegia, G.A Armauer Hansen pada tahun 1873 dan sampai sekarang belum dapat dibiakkan dalam media buatan. Kuman Mycobacterium leprae berbentuk basil dengan ukuran 3-8 m x 0,5 m, tahan asam dan alkohol serta bersifat Gram positif. Mycobacterium leprae hidup intraseluler dan mempunyai afinitas yang besar pada sel saraf (sel Schwan) dan sistem retikulo endotelial (2).

3.4 Patogenesis

Spektrum klinis dari Morbus Hansen tergantung pada variasi batasan imunologi host untuk mengembangkan Cell mediated Imunity yang efektif terhadap Mycobacterium leprae. Organisme dapat menginvasi dan bereplikasi pada syaraf tepi dan menginfeksi endotel dan sel fagosit pada banyak organ (2).

Bila basil M. leprae masuk kedalam tubuh seseorang, dapat timbul gejala klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut. Masa inkubasi yaitu 20-40 tahun (kebanyakan 5-7 tahun). Bakteri ini pertama kali menyerang saraf tepi, yang selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang dan juga testis, kecuali susunan saraf pusat. Morbus Hansen merupakan penyakit menahun jangka panjang yang dapat menyebabkan anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (2).

Cara-cara penularan penyakit Morbus Hansen s