Morbus Hansen - Makalah

  • View
    301

  • Download
    7

Embed Size (px)

Text of Morbus Hansen - Makalah

ASUHAN KEPERAWATANPADA KLIEN DENGAN DIAGNOSA MEDISMORBUS HANSEN

Di susun oleh :

Rahmawati D.A11.321.029Riyandi Trisna R.H.11.321.030Sigit Rio Virnando11.321.036Yulita Lestari11.321.040

Kelompok 3

Kelas VIA

S1 Keperawatan

SEKOLAH TINNGI ILMU KESEHATANINSAN CENDEKIA MEDIKAJOMBANG2014

KATA PENGANTAR

Segala puji penulis panjatkan terhadap kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan hidayah-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini tanpa adanya rintangan yang berarti.Makalah ini penulis susun dengan tujuan:1. Untuk melengkapi tugas mata kuliah Sistem Integumen II. 1. Dapat mengetahui lebih lanjut tentang Morbus Hansen.Sesuai dengan tujuan penulis tersebut maka penulis akan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya meskipun masih banyak kekurangannya. Dan tidak lupa pula penulis mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyak kepada:1. Dosen pembimbing akademik STIKES ICME JOMBANG.1. Hindyah Ike Suhariati, S. Kep., Ns. selaku dosen mata kuliah Sistem Integumen II. 1. Semua pihak yang ikut serta berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.Atas rahmat Tuhan yang Maha Kuasa, penulis berharap Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Serta saran dan kritik penulis harapkan, karena penulis menyadari bahwa makalah ini banyak kekurangannya dan masih belum sempurna.

Jombang, Maret 2014

PenyusunBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKonon, kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh peradaban Tiongkok kuno, Mesir kuno, dan India. Lepra (penyakit hansen) adalah infeksi menahun yang terutama ditandai oleh adanya kerusakan saraf perifer (saraf diluar otak dan medulla spinalis), kulit, selaput lendir hidung, buah zakar (testis) dan mata yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae yang bersifat intraseluler obligat, saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas. Penyakit ini terutama menyerang kulit, folikel rambut, kelenjar keringat, dan air susu ibu, jarang didapat dalam urin. Sputum dapat banyak mengandung Mycobacterium Leprae yang berasal dari traktus respiratorius atas. Tempat implantasi tidak selalu menjadi tempat lesi pertama. Dapat menyerang semua umur, anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa. Sekitar 50% penderita kemungkinan tertular karena berhubungan dekat dengan seseorang yang terinfeksi. Infeksi juga mungkin ditularkan melalui tanah, armadillo, kutu busuk dan nyamuk. Sekitar 95% orang yang terpapar oleh bakteri lepra tidak menderita lepra karena sistem kekebalannya berhasil melawan infeksi.Penyakit kusta tersebar diseluruh dunia dengan endemisitas yang berbeda-beda. Diantara 122 negara yang endemis pada tahun 1985, 98 negara telah mencapai eliminasi kusta yaitu prevalensi rate < 1/10.000 penduduk. Padatahun 1991 World Health Assembly telah mengeluarkan suatu resolusi yaitu eliminasi kusta tahun 2000. Pada 1999, insidensi penyakit kusta di dunia diperkirakan 640.000 dan 108 kasus terjadi di Amerika Serikat. Pada 2000, World Health Organisation membuat daftar 91 negara yang endemik kusta. 70% kasus dunia terdapat di India, Myanmar, dan Nepal, infeksi dapat terjadi pada semua umur, paling sering mulai dari usia 20an dan 30an. bentuk lepromatosa 2 kali lebih sering ditemukan pada pria. Diperkirakan penderita didunia 10.596.000 dan di Indonesia 121.473 orang (data tahun 1992). Pada tahun 2000 Indonesia menempati urutan ke tiga setelah India dan Brazil dalam hal penyumbang jumlah penderita kusta di dunia. Pada 2002, 763.917 kasus ditemukan di seluruh dunia, dan menurut WHO pada tahun itu, 90% kasus kusta dunia terdapat di Brasil, Madagaskar, Mozambik, Tanzania dan Nepal. Di seluruh dunia, dua hingga tiga juta orang diperkirakan menderita kusta. Distribusi penyakit kusta dunia pada 2003menunjukkan India sebagai negara dengan jumlah penderita terbesar, diikuti oleh Brasil dan Myanmar (Depkes RI, 2005). Di Indonesia, jumlah penderita kusta dengan frekuensi tertinggi di provinsiJawa Timur yaitu mencapai 4 per 10.000 penduduk. selanjutnya provinsi JawaBarat mencapai 3 per 10.000 penduduk dan provinsi Sulawesi Selatan yaitu 2 per 10.000 penduduk (Depkes RI, 2002). Insiden dapat terjadi pada semua umur, tapi jarang ditemukan pada bayi, laki-laki lebih banyak dibanding wanita. Mycobacterium Leprae ditemukan pertama kali oleh akmuer Hasen di norwegia pada tahun 1873 dan memiliki sifat basil tahan asam dan tahan alkohol, obligat intraseluler, dapat diisolasi dan diinokulasi, tetapi tidak dapat dibiakkan, membelah diri antara 12-21 hari, masa inkubasi rata-rata 3-5 tahun (Asing, 2010). Penularan Mycobacterium Leprae belum diketahui dengan jelas, tetapi diduga menular melalui saluran pernapasan (droplet infection), kontak langsung erat dan berlangsung lama. Lepra merupakan penyakit yang menyeramkan dan ditakuti oleh karena dapat terjadi ulserasi, mutilasi, dan deformitas.Penyebaran penyakit kusta dari suatu tempat ke tempat lain sampai tersebar diseluruh dunia, tampaknya disebabkan oleh perpindahan penduduk yang terinfeksi penyakit tersebut. Maka sebagai perawat profesional harus memiliki kompetensi yang baik dalam menanggulangi kejadian penyakit morbus hansen untuk memperbaiki mutu kesehatan masyarakat

1.2. Tujuan Pembahasan1.2.1. Tujuan UmumUntuk mengetahui dan menganalisis tentang Morbus Hansen dan asuhan keperawatan pada klien dengan pruritus.1.2.2. Tujuan khusus1. Untuk mengetahui definisi morbus hansen2. Untuk mengetahui klasifikasi morbus hansen3. Untuk mengetahui derajat cacat kusta morbus hansen4. Untuk mengetahui etiologi morbus hansen5. Untuk mengetahui manifestasi klinis (gejala dan tanda) morbus hansen6. Untuk mengetahui patofisiologi morbus hansen7. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik morbus hansen8. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis morbus hansen9. Untuk mengetahui pencegahan morbus hansen10. Untuk mengetahui komplikasi morbus hansen11. Untuk mengetahui konsep askep morbus hansen

BAB IILANDASAN TEORI

2.1. Definisi Morbus Hansen adalah penyakit infeksi yang kronis, disebabkan oleh Mikrobakterium leprae yang obligat intra seluler yang menyerang syaraf perifer, kulit, mukosa traktus respiratorik bagian Atas kemudian menyerang organ-organ kecuali susunan syaraf pusat. Penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mikobakterium leprae) yang menyerang syaraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. (Depkes RI, 1998)Morbus Hansen atau biasa disebut sebagai lepra, kusta adalah penyakit infeksi kronis yg disebabkan oleh Mycobacterium Leprae, pertama kali menyerang saraf tepi, setelah itu menyerang kulit dan organ-organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat. (Djuanda, 2005).Morbus Hansen adalah penyakit infeksi yang kronis, disebabkan oleh Mikrobakterium leprae yang obligat intra seluler yang menyerang syaraf perifer, kulit, mukosa traktus respiratorik bagian atas kemudian menyerang organ-organ lain kecuali susunan saraf pusat. (Mansjoer Arif, 2000)Kusta adalah penykit menular pada umunya mempengaruhi kulit dan saraf perifer, tetapi mempunyai cakupan manifestasi klinis yang luas (COC, 2003)

2.2. KlasifikasiBeberapa klasifikasi Morbus Hansen antara lain:2.2.1. Klasifikasi Internasional Madrid (1953)1) Lepromatous ( L)2) Tuberculoid (T)3) Indeterminate (I)4) Borderline (B)2.2.2. Klasifikasi Ridley Jopling (1962)1) Tipe tuberkuloid-tuberkuloid (TT)2) Tipe Borderline tuberkuloid (BT).3) Tipe Borderline-Borderline (BB)4) Tipe Borderline Lepromatous (BL)5) Tipe Lepromatous-Lepromatous (LL).2.2.3. Menurut djuanda, A, 1997 jenis dari cacat kusta di kelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu :1) Cacat primer adalah kelompok cacat yang di sebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, terutama kerusakan akibat respon jarinagn terhadap M. Leprae. Yang termasuk ke dalam cacata primer adalah :a) Cacat pada fungsi saraf :b) Inflamasi kuman pada kulit dan jaringan subkutan menyebabkan kulit berkerut dan berlipat-lipatc) Cacat pada jaingan lain akibat infiltrasi kuman kusta dapat terjadi pada tendon, ligamen, tulang rawan, tulang, testis, dan bola mata.

2) Cacat sekunder. Yang termasuk ke dalam cacata skunder adalah :a) Cacat ini terjadi akibat cacat primer, terutama adanya kerusakan saraf sensorik, motorik, dan otonom.b) Kelumpuhan motorik menyebabkan kontraktur, sehingga terjadi gangguan berjalan dn mudah terjadinya lukac) Lagoptalmus menyebabkan kornea menjadi kering dan memudahkan terjadinya kreatitisd) Kelumpuhan saraf otonom menjadikan kulit kering dan berkurangnya elastisitas, akibat kulit mudah retak dan terjadi infeksi sekunder.3. Untuk para petugas kesehatan di lapangan, bentuk klinis penyakit kusta cukup dibedakan atas dua jenis yaitu: 1) Kusta bentuk kering (tipe tuberkuloid)2) Kusta bentuk basah (tipe lepromatosa)

2.3. Derajat Cacat KustaWHO ( 1995 ) dan djuanda, A, 1997 membagi cacat kusta menjadi 3 tingkat ke cacatan, yaitu:2.3.1. Cacat pada tangan dan kaki tingkat 0 : tidak ada anestesi, dan kelainan anatomis tingkat 1 : ada anestesi, tetapi tidak ada kelainan anatomis tingkat 2 : terdapat kelainan anatomis2.3.2. Cacat pada mata tingkat 0 : tidak ada kelainan pada mata ( termasuk visus ) tingkat 1 : ada kelianan mata, tetapi tidak terlihat, visus sedikit berkurang tingkat 2 : ada lagoptalmus dan visus sangat terganggu ( visus 6/60, dapat menghitung jari pada jarak 6m )

EtiologiCara penularannya belum diketahui dengan jelas, tapi didugamenular melalui salura pernapasan (droplet infection), pendapat lain mengatakan bahwapenularannya melalui kontak langsung, erat dan berlangsung lama. Faktor-faktor yang mempengaruhi penularan penyakit morbus hansen adalah:a. UmurAnak anak lebih rentan menderita kusta dari pada orang dewasa, rasio perbandingan penderita anak-anak dengan dewasa adalah 3:2b. Jenis kelaminLaki-laki lebih mudah mengalami kusta dibanding dengan wanita karena laki-laki lebih banyak melakukan kontak.c. RasBeberapa ras di Afrika dan Asia lebih banyak menderita kusta d