Neuropati Radial

  • View
    246

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

case based

Text of Neuropati Radial

Presentasi Kasus

Presentasi KasusLesi Nervus Radialis

Disusun Oleh :Atikah Sayogo 1106001990Della Puspita Sari 1106016090

Pembimbing :dr. Taufik Mesiano, SpS

Modul Praktik Klinik NeurologiFakultas Kedokteran Universitas Indonesia2014

Bab IIlustrasi KasusA. IdentitiasNama : Nn. WTTL: 30 Mei 1990Usia: 24 tahunAlamat: Tebet, JakartaPekerjaan: Pegawai SDM RSCMAgama: IslamSuku: Jawa

B. Anamnesisa. Keluhan Utama :Nyeri di lengan bawah, pergelangan tangan hingga jari-jari tangan kiri yang makin memberat dalam 2 bulan SMRS.b. Riwayat Penyakit Sekarang:Pasien mulai merasakan nyeri sejak 4 bulan yang lalu, nyeri dirasakan awalnya di dekat siku kiri di sisi sejalan dengan ibu jari, terasa terus menerus, seperti terbakar, namun nyeri masih dapat ditahan dan tangan kiri masih dapat digunakan untuk beraktivitas. Sejak 2 bulan SMRS nyeri dirasakan lebih hebat, menjalar hingga ke pergelangan tangan dan jari-jari tangan kiri. Nyeri tidak dirasakan di lengan atas. Nyeri seperti terbakar dan pada ujung-ujung jari tangan kiri terasa seperti berpasir dan lebih tebal. Nyeri paling hebat dirasakan di pergelangan tangan daerah dekat ibu jari dan telunjuk. Skala nyeri 4 dari 10. Pasien semakin sulit menggerakan tangan kirinya dan tidak kuat untuk mengangkat barang serta tidak kuat menggenggam stang motor. Distribusi keringat normal. Nyeri di bahu dan punggung disangkal.Tiga tahun yang lalu pasien jatuh di lapangan dan menyebabkan pasien mengalami dislokasi siku kiri ke arah dalam dan harus digips selama 1,5 bulan. Setelah lepas gips, dilakukan pemeriksaan foto CT Scan dan dikatakan terdapat gambaran putih di siku berukuran sebesar kelereng namun pasien tidak mengetahui apa itu. Satu tahun setelah lepas gips, pasien sering mengalami kram di lengan bawah kirinya. c. Riwayat Penyakit Dahulu :HT(-), DM(-), dislipidemia (-), Asma (-), Maag(+), vertigo (+) membaik dengan tidur, sinusitis (+)d. Riwayat Penyakit Keluarga :Ayah HT(+), DM(+), dislipidemia (+)Ibu dislipidemia (+).e. Riwayat Ekonomi, Sosial, dan Kebiasaan :Pasien bekerja sebagai karyawan di bagian SDM RSCM, bekerja 8 jam per hari dan selalu menghabiskan waktu kerjanya dengan mengetik di depan komputer. Pasien mengaku tidak dalam posisi yang ergonomis. Pasien tidak merokok, minum alkohol maupun menggunakan NAPZA.

C. Pemeriksaan Fisika. Tanda VitalTekanan darah: 120/70 mmHgDenyut nadi: 79 x/menitFrekuensi napas: 17 x/menitSuhu: 36.8 CTampak sakit: sakit ringanKesadaran: compos mentisb. Pemeriksaan UmumKepala: normocephalMata: konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterikLeher: JVP normalParu: bunyi nafas pokok vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-Jantung: S1 S2 normal, murmur (-), gallop (-)Abdomen: datar, supel, nyeri tekan (-), BU (+) normalEktremitas: akral hangat, CRT < 2s, edema -/- c. Pemeriksaan Neurologi Skala Koma Glasgow : E4M6V5 Tanda rangsang meningeal : tidak diperiksa Saraf kranial : N. I: normosmiaN. II: pupil bulat isokor 3mm/3mm, RCT +/+, RCTL +/+, visus >6/60, lapang pandang normal, buta warna (-)/(-)N. III, IV, VI: tidak ada paresis N. III, IV, VI, tidak ada ptosisN. V: tidak ada paresis N. VN. VII: tidak ada paresis N. VIIN. VIII: tes gesek +/+, tinnitus -/-N. IX, X : tidak ada paresis N. IX, X, gag reflex tidak diperiksaN. XI: tidak ada paresis N. XIN. XII: tidak ada paresis N. XII MotorikEktremitas atas : eutoni, eutofi, kekuatan 5555 I 5544Pemeriksaan N. UlnarisPemeriksaan otot oponens digiti kuiniti : 5 / 5Pemeriksaan otot aduktor policis : 5 / 4Pemeriksaan otot interosei palmaris : 5 / 4Pemeriksaan otot interosei dorsalis : 5 / 4Pemeriksaan N. RadialisPemeriksaan abduksi ibu jari : 5 / 4Pemeriksaan otot ekstensor digitorum : 5 / 4Pemeriksaan otot ekstensor karpi ulnaris : 5 / 4Pemeriksaan otot pronator teres : 5 / 5Pemeriksaan otot Palmaris longus : 5 / 5Wrist drop : -/-Finger drop: -/-Ektremitas bawah : tidak diperiksa SensorikAlodinia, parestesia dan hipestesia pada pergelangan tangan kiri dan jari-jari tangan kiri (dipersarafi n. radialis, n. ulnaris) Refleks fisiologis:

Pemeriksaan otot supinator : 5 / 4 Pemeriksaan otot ekstensor karpi radialis : 5 / 4 Pemeriksaan N. MedianusBiceps: +2/+2Triceps: +2/+2Patella: +2/+2Achilles: +2/+2 Refleks patologis:Hoffman-tromner: (-)/(-)Babinski : (-)/(-)Babinski group : (-)/(-) Koordinasi : tidak diperiksa Fungsi Luhur : tidak diperiksaD. DiagnosisDiagnosis klinis: Nyeri neuropetik pada lengan bawah dan tangan kiri: Alodinia, parestesia dan hipestesia tangan kiri: Hemiparesis tangan kiriDiagnosis topis: Nervus radialis setinggi spiral groove: suspek keterlibatan Nervus ulnarisDiagnosis patologis: kompresiDiagnosis etiologis: degenerasi Wallerian

E. TatalaksanaRencana diagnosis: EMG, KHS, Foto X-ray lengan kiriRencana terapi medikamentosa: Gabapentin 3 x 100 mg POMekobalamin 3 x 500 mcg PORencana terapi nonmedikamentosa :Konsultasi ke departemen rehabilitasi medik untuk tindakan rehabilitasi pada nyeri kronik misalnya dengan modalitas termal maupun latihan conditioning otot. F. PrognosisQuo ad vitam: bonamQuo ad functionam: bonamQua ad sanationam: dubia ad bonam

Bab IITinjauan Pustaka

A. Anatomi Medula Spinalis dan Saraf Perifer1,2Medula spinalis terdiri atas 31 segmen. Tiap segmen terhubung dengan sepasang ganglion akar dorsal. Ganglion akar dorsal berisi badan sel dari neuron sensorik, sedangkan aksonnya membentuk radiks dorsalis yang membawa informasi sensorik ke medulla spinalis melalui kornu posterior. Sedangkan kornu anterior medulla spinalis akan terhubung dengan sepasang radiks ventral yang berisi akson dari neuron motorik. Akson ini kemudian akan memanjang hingga ke perifer untuk mengontrol efektor somatik dan viseral.Pada kedua sisi, radiks dorsal dan ventral akan melewati kanalis vertebralis tiap segmen yang bersesuaian dan keluar melalui foramen intervertebral. Selain itu ganglion akar dorsal akan berada tepat diantara pedikel dari vertebra yang bersesuaian. Pada distal dari ganglion akar dorsal, radiks sensorik dan motorik akan bersatu membentuk nervus spinalis. Dermatom adalah regio permukaan kulit bilateral yang dipersarafi oleh sepasang nervus spinalis, adanya kerusakan ataupun infeksi pada nervus spinalis ataupun ganglion akar dorsal akan menyebabkan hilangnya sensasi pada regio kulit yang bersesuaian. Pada keadaan neuropati perifer, terjadi penurunan fungsi sensorik dan motorik dari region yang dipersarafi. Lokasi dermatom yang terkena dan gangguan motorik memberikan informasi lokasi kerusakan jaras yang terkena.Nervus spinalis selanjutnya akan bercabang menjadi ramus dorsalis dan ramus ventralis. Ramus dorsalis akan mempersarafi kulit dan otot punggung, sedangkan ramus ventralis mempersarafi permukaan ventrolateral, dinding tubuh dan ektremitas.

Pada area servikal dan lumbosakral, ramus ventral dari beberapa segmen medulla spinalis bersatu dan membentuk pleksus yang kemudian bercabang menjadi nervus perifer yang menginervasi otot di leher dan ekstremitas. Karena pleksus berasal dari ramus ventralis maka saraf yang berasal dari pleksus ini terdiri atas komponen sensorik dan motorik. Terdapat 4 pleksus utama, yaitu pleksus servikal (C1-C5), brakial (C5-C1), lumbar (T12-L4) dan sakral (L4-S4).

B. Perbedaan lesi di radiks, pleksus, dan nervus perifer2,3Defisit sensorik dan motorik pada lesi radikulerRadiks sering mengalami kerusakan, hal ini disebabkan karena letak anatominya yang melalui foramen intervertebrae. Penyebab tersering kerusakan radiks adalah akibat adanya steanosis pada foramen, herniasi dan protusi diskus sehingga menyebabkan kompresi radiks.

Apabila terdapat lesi di radiks maka defisit sensorik yang terjadi akan sesuai dengan dermatom yang dipersarafinya. Namun karena dermatom yang bersebelahan sering saling tumpang tindih, maka apabila hanya terdapat lesi di satu radiks, defisit sensorik yang terjadi akan minimal terutama terhadap rangsangan raba. Pada keadaan ini gangguan sensorik terhadap rangsang nyeri dan suhu akan lebih terlihat (pemeriksaan lebih sensitif terhadap hipalgesia atau analgesia dari pada hipestesia atau anestesia). Selain mempersarafi area kulit yang khas (dermatom), masing-masing radiks juga mempersarafi kelompok otot yang khas (miotom). Sebagian besar otot menerima persarafan dari lebih dari satu radiks, namun beberapa otot menerima sebagian besar persarafannya dari satu radiks saja sehingga otot tersebut dapat menjadi otot pengindikasi segmen. Apabila terjadi kerusakan radiks maka otot pengindikasi segmen tersebut akan berkurang kekuatannya dan pada keadaan yang parah dapat menyebabkan atropi otot. Selain itu dapat pula terjadi penurunan reflex sesuai dengan radiks yang rusak. Pada lesi di radiks kelainan otonom tidak terjadi.

Defisit sensorik dan motorik pada lesi di pleksus dan nervus periferApabila terdapat lesi nervus perifer maka defisit sensorik yang terjadi akan berbeda dengan lesi di radiks. Pada lesi di nervus perifer, serabut dari nervus perifer yang mengalami kerusakan tidak dapat bergabung kembali di perifer dengan serabut lain yang berasal radiks yang sama namun milik saraf tepi yang berbeda sehingga tidak dapat mencapai dermatomnya. Pada lesi di saraf tepi ini, distribusinya tidak sesuai dengan dermatom melainkan berdasarkan pada area kulit yang dipersarafi oleh nervus perifer tersebut. Selain itu defisit sensoriknya lebih mudah terlihat karena lebih tidak tumpang tindih bila dibandingkan dengan dermatom. Lesi di pleksus lebih bermanifestasi sebagai gangguan motorik dan tergantung pada area yang dipersarafinya, serta melibatkan banyak otot karena berasal dari beberapa radiks yang berdekatan. Manifestasinya bergantung pada letak lesi dari pleksus tersebut.Lesi di saraf tepi menyebabkan paresis tipe flasid atau kelemahan pada otot yang dipersarafi oleh nervus yang tersebut, selain gangguan gejala sensorik dan motorik, fungsi otonom juga dapat terganggu. Kerusakan saraf perifer paling sering disebabkan oleh ad