Papuaweb: Pattiselanno (2007) Perburuan Kuskus (Phalangeridae

  • View
    219

  • Download
    5

Embed Size (px)

Text of Papuaweb: Pattiselanno (2007) Perburuan Kuskus (Phalangeridae

  • ISSN: 1412-m3X

    BIODIVERSITAS Journal of Biological Diversity Volume 8- Nomor 4- Oktober 2007

    Produksi ~-Glukan Saccharomyces cerevisiae dalam Media dengan Sumber Nitrogen Berbeda pada 253-256 Air-Lift Fermentor AHMAD THONTOWI, KUSMIATI, SUKMA NUSWANTARA

    The Note on Morphology of Rafflesia hasseltii Surigar from Bukit Tiga Puluh National Park, Riau 257-261 NERY SOFIYANTI, KAMARUDIN MAT-SALLEH, DEDEK PURWANTO, EDY SYAHPUTRA

    Keanekaragaman Vegetasi Mangrove Pasca Tsunami di Kawasan Pesisir Pantai Timur 262-265 Nangroe Aceh Darussalam FERI SURYAWAN

    Jenis Interaksi Intraspesifik dan Interspesifik pada Tiga Jenis Kuntul saat Mencari Makan di 266-269 Sekitar eagar Alam Pulau Dua Serang, Propinsi Banten DEWI ELFIDASARI

    Pengaruh Musim terhadap Komposisi Jenis dan Kelimpahan Ikan di Rawa Lebak, Sungai 270-273 Rungan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah BAMBANG SULISTIYARTO, DEDI SOEDHARMA, MOHAMMAD FADJAR RAHARDJO, SUMARDJO

    Perburuan Kuskus (Phalangeridae) oleh Masyarakat Napan di Pulau Ratewi, Nabire, Papua 274-278 FREDDY PATTISELANNO Kajian klorofil dan Karotenoid Plantago major L. dan Phaseolus vulgaris L. sebagai Bioindikator 279-282 Kualitas Udara ENDANG ANGGARWULAN, SOLICHATUN Pemanfaatan Bakleri Pereduksi Sulfat untuk Bioremediasi Tanah Bekas Tambang Batubara 283-286 EN NY WIDYATI Efisiensi Penggunaan Nitrogen pada Tipe Vegetasi yang Berbeda di Stasiun Penelitian Cikaniki, 287-294 Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat SUHARNO, IMAM MAWARDI, SETIABUDI, NELLY LUNGA, SOEKISMAN TJITROSEMITO Pengaruh A-Naphtaleneacetic Acid (NAA) Terhadap Embriogenesis Somatik Anggrek Bulan 295-299 Phalaenopsis Amabi/is (L) BI EDY SETITI WIDA UTAMI, ISSIREP SUMARDI, TARYONO, ENDANG SEMIARTI Variasi Genetik Orangutan Kalimantan Timur Berdasarkan DNA Mitokhondria 300-304 DIDIK PRASETYO, JITO SUGARDJITO Populasi dan Distribusi Rekrekan (Presbytis fredericae ) di Lereng Selatan Gunung Siamet Jawa 305-308 Tengah A. SETIAWAN, DJUWANTOKO, A.w.BINTARI, Y.w.C.KUSUMA, S.PUDYATMOKO, M.A.IMRON Populasi Collembo/a di Lahan Revegetasi Tailing Timah di Pulau Bangka 309-313 EDDY NURTJAHYA,DEDE SETIADI, EDI GUHARDJA, MUHADIONO, YADI SETIADI Identifikasi Aktinomisetes Tanah Hutan Pasca Kebakaran Bukit Bangkirai Kalimantan Timur dan 314-319 Potensinya Sebagai Pendegradasi Selulosa dan Pelarut Fosfat ARIF NURKANTO Efektivitas Zat Antibakteri Biji Mimba (Azadirachta indica) untuk Menghambat Pertumbuhan Salmonella thyposa dan Staphylococcus aureus

    320-325

    AMBARWATI Kajian Agroekologi dan Morfologi Sambiloto (Andrographis paniculata Ness.) pada Berbagai Habitat 326-329 BAMBANG PUJIASMANTO, JODY MOENANDIR, SYAMSULBAHRI, KUSWANTO

    REVIEW: Tumbuhan Endemik Tanah Serpentin 330-335 SUDARMONO

    Gambar sampul deper

    BubulCtls (FOTO: DEW! ~

    Terbit empat kali selt:a.::=

  • BIODIVERSITAS Volume 8, Nornar 4 Halaman: 274-278

    ISSN: 1412-033X Oktober 2007

    Perburuan Kuskus (Pha~angeridae) oleh Masyarakat Napan di Pulau Ratewi, Nabire, Papua

    Cuscus (Phalangeridae) hunting by Napan communities at Ratewi Island, Nabire, Papua

    FREDDY PATTISELANNO' Laboratorium Produksi Temak, Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPPK) Universitas Negeri Papua, Manokwari (UNIPA).

    Manokwari 98314

    Diterima: 20 Juni 2007. Disetujui: 24 Agustus 2007

    ABSTRACT

    Cuscus hunting by Napan communities at the Arui village of Ratewi Island was conducted from July to September 2007 by interviewing hunter respondent and direct observation to the field. Twenty households were selected as respondent with the criterion hunting and utilizing cuscus. The study indicated active hunting is performing mostly for consumption purpose, using several combinations of hunting tools from traditional to modern ones, found around mix forest or combination between primary and secondary forest. Cutting the cuscus nesting tree resulted negative impact on the cover and food sources for the future conservation purpose. Two species of cuscus occurred in the study site, they were common cuscus (Phalanger orientalis) and spotted cuscus (Spifocuscus maculafus), and based their qualitative traits both species can be distinguished morphologically.

    Key words: cuscus hunting, Napan, Ratewi Island, Papua.

    PENDAHULUAN

    Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih (TNL TC) terletak pad a koordinat 143'_322' LS dan 13406'-13510' BT, dengan luasan sekitar 1.453.500 ha yang terdiri dari dara1an seluas 68.200 ha meliputi pesisir pantai 12.400 ha dan daratan pada pulau-pulau 55.800 ha, serta perairan laut seluas 1.385.300 ha, meliputi kawasan terumbu karang 80.000 ha dan laut 1.305.300 ha. Pattiselanno (2004) menggambarkan kondisi pulau-pulau di kawasan TNL TC sebagai daerah potensial untuk wisata berbasis ekologi karena berbagai faktor pendukungnya termasuk potensi flora fauna yang eukup representatif untuk Papua. Interaksi masyarakat dengan kawasan konservasi laut ini tampak melalui pemanfaatan sumber daya alam di dalam dan sekitar kawasan yang menimbulkan saling ketergantungan antara masyarakat dengan sumber daya alam yang ada.

    Penduduk yang mendiami wilayah pesisir teluk Cenderawasih hidup dari kemurahan alam dengan cara meramu, berburu, bertani, maupun memanfa-atkan hasil laut. Berburu dan mengekstraksi satwa dari alam sudah merupakan kegiatan turun temurun dan terus dipraktekkan sampai saat ini, karena merupakan salah satu aspek hidup yang penting dan merupakan bag ian yang tidak terpisahkan dengan lingkungan sosialnya. Oi era modern ini, beberapa kelompok etnik Papua sangat bergantung pada perburuan sebagai bagian dari tradisi setempat, atau dengan kata lain, perburuan merupakan satu eara hidup masyarakat

    A1amat korespondensi: JI. Gunung Salju Amban PO BOX 153, Manokwari 98314. Tel. +62-986-212156, Fax. +62-986-211455. e-mail: fpattiselanno@yahoo.com

    2007 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

    (Pattiselanno, 2003, 2006). Oesa-desa di sepanjang pesisir teluk Cenderawasih

    merupakan salah satu habitat alami kuskus (Phalangeridae) di kawasan TNLTC (Pattiselanno, 2004). Perburuan kuskus di kawasan ini dari waktu ke waktu semakin marak dilakukan. Beberapa studi di kawasan tropis, Robinson dan Redford (1994); Robinson dan Bodmer (1999) menyimpul-kan bahwa perburuan satwa di area hutan hujan tropis tidak lagi sustainable (berkelanjutan) dan sumberdaya satwa liar di area hutan ini sangat rawan terhadap eksploitasi berlebihan, sehingga spesies satwa buruan dikhawatirkan dapat menuju kepunahan. Fenomena ini pula yang dikhawatirkan menimpa populasi kuskus di sepanjang pesisir TNL TC, yang secara hukum dilindungi dengan UU no. 5 tahun 1990 tentang ketentuan mengeluarkan dan membawa atau mengangkut tumbuhan atau satwa yang dilindungi serta Peraturan Pemerintah RI no. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

    Oi sisi lain, beberapa studi yang dilakukan di Universitas Negeri Papua menunjukkan bahwa beberapa jenis satwa memainkan peranan yang sangat penting dan memberikan kontribusi yang signifikan 1erhadap konsumsi protein hewani masyarakat di beberapa daerah di Papua (Pattiselanno, 2003). Sebagai jenis satwa yang dimanfaatkan oleh masyarakat di pesisir teluk Cenderawasih perburuan kuskus dan pola pemanfaatannya oleh masyarakat setempat belum terdokumentasi secara baik. Oleh karena itu eksplorasi tentang perburuan kuskus oleh masyarakat Napan, salah satu masyarakat lokal di teluk Cenderawasih, perlu dilakukan untuk mengetahui sistem perburuan kuskus oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan TNL TC untuk melihat sejauh mana pengaruhnya terhadap kondisi populasi kuskus di habitat alaminya dan untuk mendesain program pelestarian kuskus di waktu mendatang.

  • PA TIISELANO - Perburuan Phalangeridae oleh masyarakat napan 275

    BAHAN DAN METODE

    dan waktu penelitian """"'Iitian dilakukan di pesls" Napan Yaur, pulau

    teluk Cenderawasih, yang secara administratif ~k wilayah desa Arui, dislnk Napan Weinami,

    :::aten Nabire. Penelitian dilakukan selama tiga bulan ;:a:.a :lUlan Juli s.d. Seplember 2007.

    .3c:t-a" dan alat Ooyek utama penelitian adalah masyarakat di kawasan

    r.e;;s;r Napan Yaur yang melakukan kegiatan perburuan ~ s. Informasi dikumpulkan dengan menggunakan

    OusIoner, alat tulis dan alat dokumentasi. Sedangkan ~matan lerhadap aspek kuantitatif dan kualitatif kuskus - - kan dengan mengamati karakter penting kuskus dari ~I hasil buruan yang diperoleh masyarakal. Peralalan ~ digunakan dalam pengamatan ini adalah gelas, ukur,

    caliper, timbangan O'haus (500 g), higrometer, dan alat :drumentasi.

    ::am kerja Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama

    :aupa wawancara pada masyarakat yang berprofesi sebagai :emburu, sedangkan lahap kedua berupa peninjauan -"9sung ke lokasi perburuan sekaligus menghimpun dala

  • 276 B IODIVERSITAS Vol. 8, No.4, Oktober 2007, hal. 274-278

    Nabire. Hasil buruan selanjulnya dibawa ke Nabire, dimana Iransaksi jual beli dilakukan. Harga jual seekor kuskus hidup biasanya bervariasi anlara Rp. 100.000 s.d. Rp. 200,000. Di Manokwari, penjualan kuskus hidup berkisar anlara Rp. 100.000 s.d. Rp. 200.000 (Sinery, 2006), sedangkan harga jual seekor kuskus di Biak lerganlung ukuran besar kecilnya lubuh yailu sekilar Rp. 30.000 s.d. Rp. 50.000 (Ap, 2007). Farida dkk. (2001) melaporkan bahwa di Nusa Tenggara Timur kuskus hidup atau mali dijual di pasar Iradisonal seharga Rp. 15.000 s.d. Rp. 25.000 per ekor.

    Teknik perburuan Menurul Lee (2000) kegialan perburuan dapal dibeda-

    kan menjadi (i) perburuan aklil, yailu aklivilas yang banyak menguras energi, membuluhkan lenaga dan menghabiskan waklu karena pemburu harus mengejar, memburu dan menangkap hewan buruan dan (ii) perburuan pasil, hanya membuluhkan waktu dan lenaga unluk meraneang dan menempalkan perangkap alau jeral pad