pbl gondok

  • View
    251

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of pbl gondok

NAMA NPM KELOMPOK

: KHOIRUN NISSA ANDIRA : 1102010145 : A-13

SKENARIO 2 GONDOK

1.

Memahami dan menjelaskan anatomi kelenjar tiroid 1.1. Makro susunan letak kelenjar tiroid dan paratiroid

Batas-batas lobus Anterolateral : M. sternohyoideus, venter superior m. omohyoideus, m. sternohyoideus, dan pinggir anterior m. sternocleidomastoideus.

Posterolateral : Selubung carotis dengan a. carotis communis, v. jugularis interna, dan n. vagus. Medial : Larynx, trachea, pharynx, dan oesophagus. Dekat dengan strukturstruktur ini adalah m. cricothyroideus dan suplai sarafnya, n. laryngeus externus. Di alur antara oesophagus dan trachea terdapat n. laryngeus recurrens. Vaskularisasi Glandula Thyroidea Arteri ke glandula thyroidea adalah: A. thyroidea inferior, cabang dari a. carotis externa thyroidea inferior, cabang dari truncus thyrocervicalis A.thyroidea ima Vena-vena dari glandula thyroidea adalah: V. thyroidea superior, yang bermuara ke v. jugularis interna. V. thyroidea media, yang bermuara ke v. jugularis interna. V. thyroidea inferior Aliran Limfe ke lateral ke dalam nodi lymphoidei cervicalis profundi Persarafan di Daerah Leher n. laryngeus recurrensb dan truncus symphaticus. 1.2. Mikro hormon

Kelenjar tiroid terdiri dari 2 sel: Folikel-folikel dengan epithetlium simplex kuboideum yang mengelilingi suatu massa koloid. Sel epitel tersebut akan berkembang menjadi bentuk kolumner katika folikel lebih aktif (seperti perkembangan otot yang terus dilatih). Cellula perifolliculares (sel C) yang terletak di antara beberapa folikel yang berjauhan. 2. Memahami dan menjelaskan faal kelenjar tiroid 2.1. Fungsi a. Mengatur laju metabolisme tubuh. Baik T3 dan T4 kedua-duanya meningkatkan metabolisme karena peningkatan komsumsi oksigen dan produksi panas. Efek ini pengecualian untuk otak, lien, paru-paru dan testes b. Kedua hormon ini tidak berbeda dalam fungsi namun berbeda dalam

intensitas dan cepatnya reaksi. T3 lebih cepat dan lebih kuat reaksinya tetapi waktunya lebih singkat dibanding dengan T4. T3 lebih sedikit jumlahnya dalam darah. T4 dapat dirubah menjadi T3 setelah dilepaskan dari folikel kelenjar. c. Memegang peranan penting dalam pertumbuhan fetus khususnya pertumbuhan saraf dan tulang d. Mempertahankan sekresi GH dan gonadotropin e. Efek kronotropik dan Inotropik terhadap jantung yaitu menambah kekuatan kontraksi otot dan menambah irama jantung. f. Merangsang pembentukan sel darah merah g. Mempengaruhi kekuatan dan ritme pernapasan sebagai kompensasi tubuh terhadap kebutuhan oksigen akibat metabolisme h. Bereaksi sebagai antagonis insulinTirokalsitonin mempunyai jaringan sasaran tulang dengan fungsi utama menurunkan kadar kalsium serum dengan menghambat reabsorpsi kalsium di tulang. Faktor utama yang mempengaruhi sekresi kalsitonin adalah kadar kalsium serum. Kadar kalsium serum yang rendah akan menekan pengeluaran tirokalsitonin dan sebaliknya peningkatan kalsium serum akan merangsang pengeluaran tirokalsitonin. Faktor tambahan adalah diet kalsium dan sekresi gastrin di lambung. 2.2. Metabolisme

2.3. Efek primer Efek Fisiologik Hormon Tiroid pertumbuhan jaringan, pematangan otak, dan peningkatan produksi panas dan konsumsi oksigen yang sebagian disebabkan oleh peningkatan aktivitas dari Na+-K+ ATPase. Efek pada Perkembangan Janin Efek pada Konsumsi Oksigen, Produksi panas, dan Pembentukan Radikal Bebas Efek Kardiovaskular Efek Simpatik Efek Pulmonar Efek Hematopoetik Efek Gastrointestinal Efek Skeletal Efek Neuromuskular Efek pada Lipid dan Metabolisme Karbohidrat Efek Endokrin

2.4. Efek yodium dalam tiroid Untuk pembentukan hormon tiroid yang normal, tubuh membutuhkan jumlah yodium yang cukup. Bila yodium kurang, hormon ini tidak dapat diproduksi dalam julah cukup, sedangkan TSH terus disekresikan sehingga kelanjar tiroid mengalami hiperplasia dan hipertrofi. Kelenjar yang membesar dan terus terangsang ini dapat mengekstrasi residu yodida yang masih berada di sirkulasi. Pada defisiensi yodium yang ringan sampai sedang, umumnya kelenjar tiroid dapat memproduksi hormon dalam jumlah cukup, terutama T3. Tetapi bila defisiensi berat, akan terjadi hipotiroidisme (pada orang dewasa) dan mungkin akan timbul kreatinisme. Yodium yang dibutuhkan orang dewasa sekitar 1-2 mg/kgBB/hari. Di Amerika Serikat, kebutuhan harian yodium untuk anak-anak adalah 40-120 mg/kgBB/hari, dewasa 150 mg, wanita hamil 220 mg dan wanita menyusui 270 mg. Makanan yang banyak mengandung yodium adalah makanan yang berasal dari laut, sedangkan sayuran dan daging sedikit mengandung yodium. 2.5. Transport tiroid dalam darah Setelah dikeluarkan ke dalam darah, hormon tiroid yang sangat lipofilik dengan cepat berikatan dengan beberapa protein plasma. Hanya sekitar 0,03% T4 dan 0,3% T3 yang berada dalam keadaan bebas. Dalam darah, hormon tiroid terikat kuat pada berbagai protein plasma, dalam bentuk ikatan non kovalen. Tiga protein plasma yang penting dalam pengikatan hormon tiroid : a. TBG (thyroxine binding globuline) : globulin pengikat tiroksin, yang secara selektif mengikat hormon tiroid. 55% dari T4 dan 65% dari T3 dalam sirkulasi. b. Albumin : yang secara nonselektif mengikat banyak hormon lipofilik, termasuk 10% dari T4 dan 35% dari T3. c. Thyroxine binding prealbumin : suatu reinol binding protein, yang kadarnya lebih tinggi dari TGB dan terutama mengikat T4 sebesar 35%. T3 ikatannya sangat lemah dan mudah terlepas kembali, karenanya T3 mula kerjanya lebih cepat dari T4, serta masa kerjanya lebih singkat dari T4. Adanya ikatan hormon tiroid dengan protein plasma, menyebabkan tidak mudahnya hormon ini dimetabolisme dan dieskresi, sehingga masa paruhnya cukup panjang. Besarnya aktivitas biologik hormon tiroid ditentukan oleh jumlah hormon tiroid bebas dalam plasma. Selama jumlah hormon tiroid bebas di plasma dalam batas normal, tidak akan timbul gejala hipofungsi atau hiperfungsi tiroid. Aktivitas metabolik hormon tiroid hanya dapat dilakukan oleh hormon yang bebas. Karena afinitas pengikatanya dengan protein plasma tinggi, makaadanya perubahan kadar protein plasma atau afinitas ikatannya, akan mempengaruhi kadar total hormon dalam plasma. 2.6. Fisiologi hormon tiroid TRH ( thyrotropin releasing hormon ) TRH disintesis di hipotalamus, dan disekresi ke sirkulasi portal hipotalamus-hipofisis, kemudian bekerja pada reseptor tirotropin. Rangsangan reseptor ini menyebabkan sekresi TSH dari granul sekretorisnya. TRH dan TSHdapat dihambat oleh somatotropin, dopamin, dan glukokortikoid. TSH ( thyroid stimulating hormon ) TSH, hormon tropik tiroid dari hipofisis anterior, adalah regulator fisiologis terpenting bagi sekresi hormon tiroid. Sel-sel tirotrop dari adenohipofisis mensekresi tirotropin atau TSH, yang merupakan hormon glikoprotein. TSH disekresikan secara pulsatif dan bersifat sirkadian, kadarnya dalam sirkulasi paling tinggi pada saat tidur malam hari. Sekresinya dibawah pengaruh TRH dari hipotalamus dan kadar hormon tiroid yang bebas dalam sirkulasi. Hampir semua langkah dalam pembentukan dan pengeluaran hormon tiroid dirangsang oleh TSH. Selain meningkatkan sekresi hormon tiroid, TSH bertanggungjawab untuk mempertahankan integritas struktural kelenjar tiroid. TSH dapat merangsang semua fase biosintesis dan proses sekresi hormon tiroid, mulai dari uptake yodida dan organifikasinya sintesis hormon tiroid, endositosis dan akhirnya proteolisis koloid. Semua efek diatas akan didahului oleh terikatnya TSH pada reseptornya di plasma membran selsel kelenjar.

Efek TSH terhadap kelenjar tiroid : Meningkatkan proteolisis tiroglobulin Meningkatkan aktifitas pompa yodium Meningkatkan iodinasi tirosin Meningkatkan ukuran dan aktifitas sensorik sel-sel tiroid Meningkatkan jumlah sel-sel tiroid Pengaturan Sekresi Hormon Tiroid Faktor yang diketahui meningkatkan sekresi TRH (dan, dengan demikian, TSH dan hormon tiroid) adalah pajanan dingin pada bayi, keadaan ini merupakan mekanisme yang sangat adaptif pada bayi baru lahir. Peningkatan drastis sekresi hormon tiroid penghasil panas diperkirakan ikut berperan dalam mempertahankan suhu tubuh dalam menghadapi penurunan mendadak suhu lingkungan pada saat lahir, sewaktu bai berpindah dari tubuh ibunya yang hangat ke udara lingkungan yang lebih dingin. Berbagai jenis stress diketahui menghambat sekresi TSH dan hormon tiroid melaui pengaruh saraf pada hipotalamus.

2.7. Pengaruh hormon tiroid pada kelenjar / organ lain Hormon tiroid memiliki efek pada pertumbuhan sel, perkembangan dan metabolisme energi. Selain itu hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan pematangan jaringan tubuh dan energi, mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan reaksi metabolik, menambah sintesis asam ribonukleat (RNA), menambah produksi panas, absorpsi intestinal terhadap glukosa,merangsang pertumbuhan somatis dan berperan dalam perkembangan normal sistem saraf pusat. Tidak adanya hormonhormon ini, membuat retardasi mental dan kematangan neurologik timbul pada saat lahir dan bayi. 2.8. Sekresi dan feedback hormon tiroid

2.9. Biosintesis dan sekresi T3 dan T4 dan faktor yang mempengaruhi

2.10. a.

Perubahan keadaan hipotiroid dan hipertiroid Hipotiroid Keadaan yang disebabkan oleh jumlah hormon tiroid yang tidak memenuhi kebutuhan semua jaringan hidup. Klasifikasi : Primer : kelainan di kelenjar tiroid Sekunder : kelainan di hipotalamus Kongenital/didapat Sporadis/endemis 1. Hipotiroid kongenital menetap Primer: disgenesis (aplasia, hipoplasia, ektopik), dishormogenesis, iatrogenik (anak lahir dari ibu yang mendapat terapi iodium radioaktif sehigga terjadi ablasia kelenjar tiroid janin) Sekunder: kelainan perkembangan midbrain, defisiensi TSH, GH, atau ACTH Resistensi jaringan terhadap tiroid 2. Hipotiroid kongenital sementara Ibu mendapat terapi obat goitrogenik, iodium antiseptik akan melalui plasenta sehingga terjadi gangguan sintesis hormon tiroid Adanya antibodi anti tiroid dari ibu melalui plasenta Defisiensi iodium 3. Hipotir