PENDAHULUAN Latar Belakang dengan memanfaatkan potensi dari enceng gondok sebagai tumbuhan penyerap racun di air. ... inovasi sistem pengolahan limbah yang terpadu dan ramah

  • View
    218

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of PENDAHULUAN Latar Belakang dengan memanfaatkan potensi dari enceng gondok sebagai tumbuhan penyerap...

  • 1

    PENDAHULUAN

    Latar Belakang

    Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan sanitasi yang sangat kritis.

    Keberadaan fasilitas pembuangan limbah atau yang sering dikenal dengan jamban

    atau MCK umum, terutama pada lahan basah, yang selama ini digunakan

    masyarakat ternyata tidak memenuhi standar kesehatan yang ada. Selain itu,

    jamban atau MCK umum yang digunakan tidak memiliki sistem pengolahan

    limbah yang terpadu dan ramah lingkungan . Salah satu kondisi terparah adalah 45

    % jamban umum atau MCK umum di Kabupaten Bantul, Jogjakarta ternyata tidak

    memenuhi standar kesehatan. (Kompas.com, 2010).

    Jenis jamban umum yang ditemui di masyarakat lahan basah, terutama

    masyarakat menengah ke bawah adalah Jamban empang / gantung (Overhung

    latrine) yang terdapat dipinggiran sungai. Jamban ini secara sederhana terbuat dari

    kayu dan kotoran yang dihasilkan langsung dialirkan ke sungai. Kondisi serupa

    juga terjadi pada fasilitas MCK umum yang terdapat di pinggiran sungai. MCK

    umumnya dirancang tanpa memiliki sistem penampung kotoran, sehingga kotoran

    yang dihasilkan langsung dialirkan ke sungai.

    Akibat dari kotoran yang dialirkan ke sungai secara langsung tanpa adanya

    pengolahan terlebih dahulu adalah terjadinya pencemaran pada air sungai.

    Kondisi terbaru dialami oleh kota Surabaya dimana air minum di Surabaya yang

    bersumber dari sungai telah tercampur 5 ton tinja. (Surya, 2011) Kondisi ini

    diperparah dengan terjadinya pencemaran puluhan sungai di Jawa, Sumatra, Bali,

    dan Sulawesi tercemar berat oleh bahan organik dan zat amonium (Media

    Indonesia, 2010)

    Selain itu, akibat lainnya yang ditimbulkan dari dialirkannya tinja ke sungai

    adalah munculnya penyakit diare. Tinja dikenal sebagai media tempat hidupnya

    bakteri coli yang berpotensi menyebabkan terjadinya penyakit diare dan bahkan

    sampai kematian (Seale, 2007; Sapa, 2007). Kasus terparah dialami di Jakarta

    dimana telah terjadi kematian tiga puluh ribu balita pertahunnya akibat

    penggunaan air sungai yang tercemar oleh tinja. (Okezone.com, 2010)

    Permasalahan jamban dan MCK yang buruk ternyata juga memberikan

    imbas yang besar hingga berskala nasional. Indonesia telah mengalami kerugian

    akibat sanitasi yang buruk sebesar Rp 56 Triliun per tahunnya. Kerugian ekonomi

    ini dipicu oleh kasus penyakit diare yang memenmbus angka 90 juta pertahun dan

    kematian akibat diare sebesar 23.000 juta pertahunnya. (Kompas.com, 2010)

    Oleh karena itu, perlu direncanakan sistem pembuangan limbah manusa yang

    memenuhi standar kesehatan dan ramah lingkungan. Beberapa persyaratan yang

    harus dipenuhi agar MCK memenuhi standar kesehatan antara lain : tidak

    mengotori permukaan tanah di sekitarnya, tidak mengotori air permukaan di

    sekitarnya, tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya, kotoran tidak boleh

    terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalat bertelur atau

    perkembangbiakan vektor penyakit lainnya, tidak menimbulkan bau,

    pembuatannya murah, dan mudah digunakan dan dipelihara. (Notoatmodjo,

    2003).

    Salah satu solusi dalam perancangan MCK yang memenuhi standar kesehatan

    dan ramah lingkungan adalah dengan penyediaan tanki septik yang berfungsi

  • 2

    untuk menampung tinja secara sementara. Menurut hasil penelitian Irianto (1996),

    anak balita yang berasal dari keluarga yang menggunakan jamban yang dilengkapi

    dengan tangki septik, prevalensi diare 7,4% terjadi di kota dan 7,2% di desa.

    Sedangkan keluarga yang menggunakan kakus tanpa tangki septik 12,1% diare

    terjadi di kota dan 8,9% di desa.

    Namun permasalahannya adalah perencanaan MCK/jamban yang

    dimodifikasi untuk memenuhi persyaratan tersebut di daerah lahan basah tidaklah

    mudah. MCK umum yang selama ini telah dibangun secara besar-besaran di

    berbagai daerah di Indonesia ternyata masih belum memiliki tanki septik

    dikarenakan faktor teknis pembuatan yang masih sulit. Akibatnya adalah MCK

    umum yang dibangun pada daerah lahan basah memiliki sistem pembuangan

    limbah langsung ke sungai yang berakibat pada tingginya kasus pencemaran air

    sungai. Untuk merancang sistem tanki septik yang cocok diterapkan lahan basah,

    maka perlu diperhitungkan pula adanya modifikasi khusus dari MCK/ Jamban

    yang dibangun. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah merencanakan

    sistem MCK/Jamban dan tanki septik yang saling terintegrasi dan mampu

    mengapung di atas air. MCK/jamban ini dikenal dengan nama MCK apung,

    dimana tinja yang dihasilkan dari proses sanitasi manusia akan ditampung

    didalam tanki septik untuk diolah sehingga tidak mencemari air sungai.

    Untuk merencanakan MCK yang dapat mengapung di atas lahan basah, maka

    pemilihan material untuk pembuatan bangunan MCK dan tanki septik tidak bisa

    dilakukan secara sembarangan. Umumnya material pilihan pembuatan bangunan

    MCK umum dan tanki septik yang sering digunakan di lahan kering adalah

    dengan menggunakan material beton normal. Namun jika diterapkan pada lahan

    basah, pengunaan beton normal dapat mengakibatkan MCK yang didesain tidak

    mampu menahan beratnya sendiri sehingga dapat mengurangi daya apung. Salah

    satu alternatif material yang tepat untuk spesifikasi tanki septik pada MCK apung

    adalah lightweight concrete (beton ringan) yang memiliki bobot lebih ringan

    dibandingkan penggunaan beton normal.

    Sistem perancangan MCK apung juga menggunakan sistem bongkar pasang

    dan praktis, sehingga mampu menjawab kebutuhan akan sanitasi dai daerah rawan

    bencana. Selain menggunakan sistem tanki septik yang terintegrasi dengan

    bangunan MCK diatasnya, MCK apung juga memanfaatkan sistem pengolahan

    limbah alami dengan menggunakan wet land, sehingga limbah yang telah diolah

    secara sementara oleh tanki septik mampu dinetralisir keberadaan bakteri

    patogennya dengan memanfaatkan potensi dari enceng gondok sebagai tumbuhan

    penyerap racun di air.

    Tujuan

    Tujuan dari Gagasan ini adalah

    a. Untuk mengidentifikasi desain dan modifikasi dari MCK apung sebagai inovasi sistem pengolahan limbah yang terpadu dan ramah lingkungan

    sehingga vesibel deiterapkan di lahan basah.

    b. Untuk mengetahui mekanisme pengolahan limbah padat dan cair pada sistem pengolahan limbah MCK Apung yang ramah lingkungan

    c. Untuk mengetahui keunggulan MCK Apung sebagai sistem pembuangan limbah padat dan cair pada manusia

  • 3

    Manfaat

    Manfaat yang dapat diperoleh dengan pembuatan MCK apung ditinjau dari sisi

    sustainability antara lain :

    a. Sosial MCK apung dapat mengajarkan kepada masyarakat di dearah lahan basah

    pola budaya sanitasi yang bersih, sehat dan ramah lingkungan. Selain itu,

    MCK apung dapat juga menjadi media bagi pemerintah untuk membantu

    menyelesaikan permasalahan akan kebutuhan sanitasi bagi masyarakat yang

    berada di daerah rawan banjir.

    b. Lingkungan Dengan diterapkannya MCK apung pada lahan basah, maka dapat mengurangi

    tingginya angka pencemaran air sungai akibat keberdaan MCK yang tidak

    memiliki sistem penampungan dan pengolahan limbah yang ramah

    lingkungan.

    c. Ekonomi MCK apung dapat menjadi alternative MCK yang praktis dan ekonomis bagi

    masyarakat. Hal ini dikarenakan MCK apung dirancang dengan menggunakan

    material ringan dengan sistem bongkar pasang , tanpa menggunakan material

    berat dari bata dan semen sebagai penyusun bangunannya. Selain hemat

    material, proses pembuatanan MCK apung lebih menghemat waktu dan hemat

    SDM

    GAGASAN

    Potensi Tanki Septik sebagai Teknologi Alternatif Pengolahan Limbah di

    Lahan Basah

    Sistem pengolahan limbah yang paling tepat untuk masalah sanitasi adalah

    sistem pengolahan on site anaerobic seperti tangki septik (septik tank) karena

    lebih sederhana dan efektif, tidak membutuhkan lahan yang terlalu besar ,

    berpotensi menghasilkan energi gas. Tangki septik pada dasarnya adalah suatu

    ruang bangun yang dikondisikan secara anaerobik yang digunakan untuk

    mereduksi padatan tersuspensi organik seperti tinja manusia (Viraraghavan,

    1976). Tujuan dari tangki septik adalah untuk menyediakan pengolahan air limbah

    awal bagi limbah tinja dengan cara menangkap dan memisahkan material padatan

    tinja dari bagian yang cair. Namun sistem ini yang idealnya membutuhkan

    pengosongan antara 2-3 tahun, terkadang tidak ditangani secara baik sehingga

    dalam waktu 5-10 tahun terjadi kondisi overload yang dapat menurunkan efisiensi

    pengolahan (NDUDP, 2001). Tangki septik dibuat dari pasangan batu, pasangan

    bata atau beton. Bagian bagian penting dalam tanki septik bisa dilihat dalam

    gambar 1 sebagai berikut.

  • 4

    Gambar 1. Penampang atas dan penampang samping dari tanki septik

    Potensi Enceng Gondok Sebagai Penetralisir Cairan Influen (Wetland)

    Ekosistem lahan basah memiliki kemampuan alamiah untuk

    menghilangkan berbagai jenis limbah pada beberapa tingkat efisiensi (Nichols,

    1983). Kemampuan ini terutama disebabkan karena adanya vegetasi yang

    berperan sebagai pengolah limbah. Karena sistem ini belum tentu dapat mengolah

    seluruh jenis kontaminan, maka perlu dirancang sistem lahan basah buatan untuk

    mengolah limbah tertentu. Salah satunya adalah memalui perancangan wet landd

    dengan meanfaatkan enceng gondok. Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.)

    Sol