Click here to load reader

PENGARUH INFLASI DAN SUKU BUNGA TERHADAP INDEKS …etheses.iainponorogo.ac.id/9238/1/Skripsi upload.pdf · Gambar 1.1 Perkembangan Indeks Saham Syariah Indonesia Gambar 1.1 tersebut

  • View
    2

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PENGARUH INFLASI DAN SUKU BUNGA TERHADAP INDEKS …etheses.iainponorogo.ac.id/9238/1/Skripsi...

  • PENGARUH INFLASI DAN SUKU BUNGA TERHADAP

    INDEKS SAHAM SYARIAH INDONESIA (ISSI)

    TAHUN 2012-2019

    SKRIPSI

    Oleh:

    PUTRI SARI ALIANDARU

    NIM. 210716092

    Pembimbing

    MAULIDA NURHIDAYATI, M.Si

    NIP. 198910222018012001

    JURUSAN EKONOMI SYARIAH

    FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

    2020

  • ABSTRAK

    Aliandaru, Putri Sari. Pengaruh Inflasi dan Suku Bunga Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) Tahun 2012-2019. Skripsi. Jurusan Ekonomi

    Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing. Maulida Nurhidayati, M.Si

    Kata kunci : Hubungan Jangka Panjang, Hubungan Jangka Pendek dan Fluktuasi

    Indek Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan indeks saham yang

    mencerminkan keseluruhan saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Saham Syariah Indonesia dari tahun ke tahun mengalami naik turun

    atau fluktuasi karena dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Fluktuasi ISSI menyebabkan keadaan ISSI menjadi tidak stabil. Masalah dalam penelitian ini adanya keraguan dari para investor saham syariah, apa benar peristiwa

    penurunan Inflasi dan Suku Bunga meningkatkan Indeks Saham Syariah Indonesia selama ini, sebab data pada bulan Juni tahun 2017 ke 2018

    menunjukkan sebaliknya yaitu ketika Inflasi turun tetapi ISSI juga turun dan ketika Suku Bunga turun ISSI juga ikut turun. Hal tersebut bertentangan dengan teori. Oleh karena itu, penelitian ini meneliti Pengaruh Inflasi dan Suku Bunga

    Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) tahun 2012-2019.

    Metode dalam penelitian ini untuk menjawab keraguan investor saham syariah. Jenis penelitian ini adalah penelitian Kuantitif dengan menggunakan data

    Sekunder yang terdiri dari data bulanan variabel ISSI, Inflasi dan Suku Bunga. Metode analisis yang digunakan adalah error correction model dengan tahapan Uji Stasioner, Uji Kointegrasi, Uji Hubungan Jangka Pendek, Uji Asumsi Klasik,

    Uji Hubungan Jangka Panjang, Pengolahan data tersebut dilakukan dengan menggunakan aplikasi eviews 9.0.

    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa uji hubungan jangka panjang dan

    uji hubungan jangka pendek variabel inflasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Hal ini dikarenakan nilai t-

    statistik (t-hitung) lebih kecil dari pada t-kritis (1,657707 ˂ 1,66177) pada uji jangka pendek. Dan nilai t-statistik (t-hitung) lebih kecil dari pada t-kritis (0,402822 ˂ 1,66159) pada uji jangka panjang. Variabel suku bunga berpengaruh

    secara signifikan pada uji hubungan jangka panjang dan uji hubungan jangka pendek terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Hal ini dikarenakan t-

    statistik (t-hitung) lebih besar dari pada t-kritis (1,70692 ˃ 1,66177) pada uji jangka pendek. Dan nilai t-statistik (t-hitung) lebih besar dari pada t-kritis (18,33209 ˃ 1,66159) pada jangka panjang. Berdasarkan hasil penelitian suku

    bunga berpengaruh terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia. Oleh karena itu dapat dijadikan acuan untuk berinvestasi

  • Scanned by CamScanner

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Investasi merupakan kegiatan yang sangat potensial untuk

    mengembangkan perekonomian Indonesia. Investasi memiliki banyak

    sekali manfaat dan keuntungan. Investasi merupakan penggunaan

    sejumlah dana pada masa sekarang untuk kemudian mendapatkan imbalan

    pada masa yang akan datang. Investasi ada 2 yaitu Investasi aset-aset

    finansial dan aset-aset riil. Investasi aset-aset finansial dapat dilakukan di

    pasar uang dan pasar modal. Investasi yang dapat dilakukan dipasar uang

    misalnya sertifikat deposito, commercial paper, dan surat berharga pasar

    uang. Investasi yang dapat dilakukan dipasar modal contohnya obligasi,

    saham, reksadana, dan derivatif. Sedangkan investasi aset-aset riil

    misalnya investasi pembelian tanah untuk usaha, investasi membangun

    pabrik, dan membuat gedung. Saat ini investasi yang paling dicari oleh

    para investor adalah investasi aset-aset financial, karena sangat mudah

    penjualannya dibandingkan dengan investasi aset-aset riil.1

    Pasar modal memiliki dua fungsi penting bagi perekonomian suatu

    negara yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Dalam menjalankan

    fungsi ekonomi, pasar modal menyediakan tempat untuk digunakan

    1 Achmad Ath Thobarry, “Analisis pengaruh nilai tukar, suku bunga, laju inflasi dan

    pertumbuhan GDP terhadap Indeks Sahamsektor properti (kajian empiris pada Bursa Efek

    Indonesia periode pengamatan tahun 2000-2008)” (PhD Thesis, PROGRAM PASCA SARJANA)

    1

  • 2

    sebagai pemindahkan dana kepeda pihak yang membutuhkan dana

    (borrowers) dari pihak yang memiliki kelebihan dana (lenders/investor).

    Investor berharap akan mendapatkan imbalan dari penyerahan dana

    tersebut. Sedangkan borrowers akan menggunakan dana tersebut untuk

    kepentingan perusahaan tanpa harus menunggu tersedianya dana dari

    operasi perusahaan. Fungsi kedua dari pasar modal yaitu fungsi keuangan

    yang memungkinkan adanya kesempatan untuk mendapatkan imbalan

    (return) bagi pemilik dana (lenders/investor) atas investasi yang dipilih.

    Fungsi pasar modal secara umum sama dengan lembaga perantara

    keuangan lainya seperti perbankan, perbedaannya adalah kalau perbankan

    menyediakan dana dalam jangka pendek seperti kredit perbankan

    sedangkan kalau pasar modal menyediakan dana jangka panjang.

    Pengertian dari pasar modal adalah tempat bertemunya pihak investor

    (pihak kelebihan modal) dan borrowers (pihak yang memerlukan modal).2

    Salah satu kegiatan investasi yang dapat dipilih oleh investor

    adalah berinvestasi di pasar modal. Di Indonesia investor yang berminat

    untuk berinvestasi di pasar modal dapat berinvestasi di Bursa Efek

    Indonesia (BEI). Ada beberapa sektor-sektor investasi di BEI yaitu Sektor

    Agraria (Pertanian), Sektor Mining (Pertambangan), Sektor Industri Dasar

    dan Kimia, Sektor Properti Real Estate Dan Konstruksi Bangunan, Sektor

    Industri Barang Konsumsi, Sektor Aneka Industri, Sektor Infrastruktur,

    2 Achmad Ath Thobarry, “Analisis pengaruh nilai tukar, suku bunga, laju inflasi dan

    pertumbuhan GDP terhadap Indeks Sahamsektor properti (kajian empiris pada Bursa Efek

    Indonesia periode pengamatan tahun 2000-2008)” (PhD Thesis, PROGRAM PASCA SARJANA.

  • 3

    Utilitas, Dan Transportrasi, Sektor Finansial, Perdangan, Jasa, Dan

    Investasi.3

    Saat ini di Indonesia sudah mulai berkembang instrumen keuangan

    berbasis syariah seperti bank syariah, pasar modal syariah, dan pasar

    komoditi syariah. Pasar modal syariah merupakan salah satu alternatif

    yang menggunakan saham syariah. Munculnya produk syariah di Pasar

    Modal pada mulanya berawal dari keinginan Umat Islam untuk

    berinvestasi secara syariah. Hal tersebut melatarbelakangi PT Danareksa

    Investment Management untuk meluncurkan Danareksa Syariah pada

    tanggal 3 Juli 2000. PT Bursa Efek Indonesia kemudian bekerja sama

    dengan PT Danareksa Investment Management (DIM) meluncurkan indeks

    saham syariah yaitu Jakarta Islamic Index (JII). Jakarta Islamic Index

    terdiri dari 30 saham yang dipilih dari saham-saham pling liquid yang

    terdaftar di Bursa Efek Indonesia.4

    Pemilihan saham yang masuk dalam kriteria syariah pada awalnya

    melibatkan pihak Dewan Pengawas Syariah yaitu PT Danareksa

    Investment Management. Akan tetapi, selanjutnya tugas pemilihan saham-

    saham tersebut dilakukan oleh Bapepam-LK bekerja sama dengan Dewan

    Syariah Nasional. Hal ini tertera dalam Peraturan Bapepam-LK Nomor

    3 Irfan Syauqi Beik & Sri Wulan Fatmawati, ”Pengaruh Indeks Harga Saham Syariah

    Internasional Dan Variabel Makro Ekonomi Terhadap Jakarta Islamic Index” Al-Iqtishad, 02 (Ju li

    2016), 106.

    4Irfan Syauqi Beik dan sri wulan fatmawati, ”Pengaruh Indeks Harga Saham

    SyariahInternasional Dan Variabel Makro Ekonomi Terhadap Jakarta Islamic Index,“ Al-Iqtishad ,

    2, (Juli 2014), 15

  • 4

    II.K.1 yaitu tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.

    Kemudian, muncul produk investasi syariah lainnya di pasar modal yaitu

    instrumen obligasi syariah (sukuk), reksadana syariah, dan Daftar Efek

    Syariah (DES) yang kemudian berubah menjadi Indeks Saham Syariah

    Indonesia (ISSI).5

    Pergerakan harga saham dalam jangka pendek tidak dapat

    diprediksi secara pasti. Hukum permintaan dan penawaran menentukan

    harga saham. Harga saham cenderung bergerak naik apabila makin banyak

    orang yang membeli saham. Sebaliknya, harga saham cenderung bergerak

    turun apabila banyak orang yang ingin menjual saham. Indeks Saham

    tersebut merupakan catatan terhadap perubahan perubahan maupun

    pergerakan harga saham sejak mulai pertama kali beredar sampai pada

    suatu saat tertentu.6

    Walaupun baru dibentuk pada pertengahan Mei 2011, namun

    perkembangan saham syariah yang terdaftar di ISSI menampakkan trend

    positif. Pada setiap tahunnya pertumbuhan saham syariah selalu

    mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

    5 Ibid. 157

    6Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal (Yogyakarta: AKADEMI

    MANAJEMEN PERUSAHAAN YKPN, 2000), 124

  • 5

    2,000,000

    2,400,000

    2,800,000

    3,200,000

    3,600,000

    4,000,000

    2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

    ISSI

    Sumber: www.ojk.go.id diolah

    Gambar 1.1

    Perkembangan Indeks Saham Syariah Indonesia

    Gambar 1.1 tersebut merupakan perkembangan Indeks Saham

    Syariah Indonesia selama periode 2012 sampai 2019. Data ini disajikan

    dalam periode bulanan dan dibuat untuk mengetahui perkembangan indeks

    harga saham Syariah. Berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui bahwa

    Indeks Saham Syariah Indonesia di Otoritas Jasa Keuangan mengalami

    penurunan pada tahun 2017 ke 2018 dari 3.491.398,41 ke 3.427.582,42.

    Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa Indeks Saham Syariah

    cenderung mengalami peningkatan, meskipun tergolong tidak stabil.

    Menurut Syahrir (1995) terdapat beberapa variabel makroekonomi

    yang mampu mempengaruhi perkembangan indeks syariah. Faktor

    Eksternal yang mempengaruhi indeks saham syariah seperti Sertifikat

    Bank Indonesia Syariah, inflasi, jumlah uang beredar (JUB), nilai tukar

    dan Suku Bunga. Sedangkan faktor internal yang mampu mempengaruhi

    adalah seperti kondisi ekonomi nasional, keamanan, kondisi politik, dan

    http://www.ojk.go.id/

  • 6

    kebijakan pemerintah.7 Dalam penelitian ini variabel makroekonomi yang

    akan digunakan untuk penelitian adalah tingkat Suku Bunga BI (BI-Rate)

    dan Inflasi.

    Secara teori, Investasi berbanding terbalik dengan inflasi dan suku

    bunga. Ketika Inflasi naik hal tersebut menjadi sinyal negatif bagi para

    investor. Meningkatnya Inflasi menyebabkan perubahan pada pendapatan

    dan profit perusahaan, bila biaya operasional perusahaan lebih tinggi

    dibandingkan profit perusahaan akan menyebabkan keuntungan yang

    diperoleh perusahaan kecil sehingga berpengaruh terhadap return yang

    diperoleh oleh Investor. Hal tersebut menyebabkan para investor enggan

    untuk menanamkan modalnya diperusahaan tersebut.8

    Inflasi adalah kenaikan harga yang bersifat umum secara terus

    menerus, dikatakan mengalami inflasi jika terjadi peningkatan harga

    secara umum dan bersifat terus menerus. Dari sisi teori ekonomi, gejala

    inflasi menunjukkan terjadinya kelebihan permintaan (excess demand)

    ditingkat makro, dari gejala inflasi tersebut dapat disimpulkan bahwa

    seluruh atau hampir seluruh industri dalam perekonomian mengalami

    7 Yudhistira Ardhan, “Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Indeks Saham

    Syariah Di Indonesia : Model Ecm,” Jurnal Bisnis dan Manajemen, 01 (April 2016),19

    8Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Indeks Saham Syariah Di Indonesia : Model

    Ecm,” Jurnal Bisnis dan Manajemen, 01 (April 2016),19

  • 7

    permintaan (excess demand). Adapun indikator Inflasi adalah IHK (Indeks

    Harga Konsumen)9

    Tingkat inflasi di Indonesia yang selalu mengalami fluktuasi tidak

    menutup kemungkinan akan mempengaruhi tingkat investasi di pasar

    modal. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang 2019 Indonesia

    mengalami inflasi sebesar 2,72% atau lebih rendah dibandingkan dengan

    Inflasi yang terjadi sepanjang 2018 sebesar 3,13%. Dengan demikian

    tingkat Inflasi sepanjang 2019 lebih rendah dari target yang telah

    ditetapkan pemerintah di angkat 3,5% plus minus 1. Inflasi Desember

    2019 merupakan tingkat inflasi terendah selama 10 tahun.10

    2

    3

    4

    5

    6

    7

    8

    9

    2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

    Inflasi

    Sumber: www.BPS.go.id diolah

    Gambar 1.2

    Perkembangan Inflasi

    9Ana Hasanah, “Pengaruh Tingkat Inflasi, Nilai Tukr Rupiah, Dan Tingkat Suku Bunga

    Domestik Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI),” E-JRA, (Agustus 2019), 39

    10 Ilham Ramadhan, “Inflasi Desember 2019 Tercatat 0,34%,” dalam

    https://mediaindonesia.com/read/detail/280901-iflasi-desember-2019-tercatat-034, (dia kses pa da

    tanggal 10 Maret 2020, jam 21.25).

    http://www.bps.go.id/https://mediaindonesia.com/read/detail/280901-iflasi-desember-2019-tercatat-034

  • 8

    Dari data diatas dapat terlihat jelas bahwa Inflasi di Indonesia

    masih dibawah 10%. Namun Inflasi tersebut tidak selalu stabil dan

    cenderung mengalami penurunan. Pada Gambar 1.2 dapat di lihat pada

    bulan Juni tahun 2017 ke 2018 mengalami penurunan dari 4,37% ke

    3,12% sedangkan Indeks Saham Syariah juga mengalami penurunan pada

    bulan Juni tahun 2017 ke 2018 dari 3.491.398,41 ke 3.427.582,42. Hal ini

    bertentang dengan teori yang menyatakan ketika Inflasi naik maka indeks

    harga saham turun, padahal pada kenyataannya inflasi mengalami

    penurunan pada bulan Juni tahun 2017 ke 2018 diikuti dengan penurunan

    indeks saham syariah Indonesia.

    Pergerakan suku Bunga bank melalui bank sentral akan

    meningkatkan minat masyarakat untuk menabung. Naiknya suku bunga

    akan menyebabkan permintaan uang untuk investasi akan berkurang. Bank

    Sentral menaikkan suku bunga untuk menarik uang yang beredar dalam

    masyarakat. Setelah uang yang beredar dapat dikurangi jumlahnya, maka

    pemberian kredit untuk investasi harus melalui seleksi yang ketat. Dengan

    demikian dapat disimpulkan bahwa ketika suku bunga naik maka Investasi

    akan menurun, karena masyarakat lebih memilih untuk menabung

    daripada investasi.11

    11 Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, 125

  • 9

    1.0

    1.2

    1.4

    1.6

    1.8

    2.0

    2.2

    2.4

    2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

    Suku Bunga

    Sumber: www.BI.go.id data diolah

    Gambar 1.3

    Perkembangan Suku Bunga

    Berdasarkan Gambar 1.3 dapat diketahui suku bunga mengalami

    penurunan dari tahun 2017 ke 2018 yaitu 1,445 ke 1,29%. Akibat yang

    muncul dari penurunan suku bunga adalah turunnya indeks saham syariah

    Indonesia yaitu dari 3.491.398,41 ke 3.427.582,42. Suatu fenomena yang

    tidak sesuai dengan teori yang terdapat di buku karangan Sunariyah dengan

    judul Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Ketika suku bunga naik maka

    Investasi akan menurun, karena masyarakat lebih memilih untuk

    menabung daripada investasi.12

    Dari fenomena yang terjadi menunjukkan adanya perbedaan antara

    teori dengan kondisi yang ada. Hal ini mendorong penulis untuk meneliti

    lebih lanjut tentang “Pengaruh Inflasi, dan Suku Bunga Terhadap Indeks

    Saham Syariah (ISSI) Tahun 2012-2019.”

    12 Ibid.

    http://www.bi.go.id/

  • 10

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang permasalahan,

    maka dapat di uraikan beberapa rumusan masalah permasalahan dari

    penelitian yang di lakukan. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini

    adalah :

    1. Apakah Inflasi berpengaruh terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia

    periode 2012-2019?

    2. Apakah Suku Bunga berpengaruh terhadap Indeks Saham Syariah

    Indonesia periode 2012-2019?

    C. Tujuan Penelitian

    Sesuai dengan penjabaran Latar Belakang dan rumusan masalah di

    atas maka tujuan penelitian ini adalah:

    1. Untuk mengetahui pengaruh Inflasi terhadap Indeks Saham Syariah

    Indonesia periode 2012-2019.

    2. Untuk mengetahui pengaruh Suku Bunga terhadap Indeks Saham

    Syariah Indonesia periode 2012-2019.

    D. Manfaat Penelitian

    1. Secara Teoritis

    a. Mengembangkan Ilmu Ekonomi Syariah

    b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan,

    pengalaman, dan wawasan, serta bahan dalam penerapan ilmu

  • 11

    meteode penelitian, khususnya mengenai gambaran pengetahuan

    tentang pengaruh Inflasi dan Suku Bunga terhadap Indeks Saham

    Syariah Indonesia tahun 2012-2019. Dan terdapat perbedaan

    metode pengolahan data yang biasanya dilakukan dengan

    menggunakan Regresi Linier Berganda, pada penelitian ini

    dilakukan dengan metode Error Correction Model dengan

    software Eviews.

    c. Dapat dijadikan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.

    2. Secara Praktis

    a. Bagi Investor

    Untuk mengetahui keadaan ekonomi terkait dengan pengaruh

    inflasi dan suku bunga terhadap indeks saham syariah untuk

    kemudian dapat digunakan sebagai pengambilan keputusan bagi

    investor.

    b. Bagi Pemerintah

    Adapun hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk menilai

    kinerja portofolio saham

    E. Sistematika Pembahasan

    Untuk memberikan kemudahan dalam memahami terhadap

    penulisan skripsi ini peneliti menyajikan dalam bentuk beberapa bab.

    Adapaun pembahasan dalam skripsi ini sebagai berikut:

  • 12

    BAB I PENDAHULUAN

    Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah,

    tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

    BAB II LANDASASAN TEORI

    Berisi tentang deskripsi teori tentang Indeks Saham Syariah

    Indonesia, Pasar Modal, Suku Bunga, dan Inflasi. Dan berisi kajian

    pustaka atau penelitihan terdahulu, Kerangka Berfikir, dan

    Hipotesis.

    BAB III METODE PENELITIAN

    Berisi tentang Jenis dan Pendekatan Penelitian, Lokasi dan Periode

    Penelitian, Rancangan Penelitian, Variabel Penelitian dan Definisi

    Operasional, populasi dan Sampel, dan Teknik Pengumpulan data

    dan analisis data.

    BAB IV PEMBAHASAN ANALISIS DATA

    Berisi temuan dan hasil penelitian yang meliputi gambaran umum

    Analisi Data, Pengujian Hipotesis, dan Pembahasan

    BAB V PENUTUP

    Merupakan penutup dari laporan penelitian yang berisi kesimpulan

    dan saran.

  • 13

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Deskripsi Teori

    1. Indeks Saham

    a. Pengertian Indeks Harga Saham

    Pengambilan keputusan membutuhkan data historis mengenai

    berbagai kejadian dimasa lalu. Semakin detail dan terinci yang

    diperoleh, pengambil keputusan dapat merumuskan kebijakannya

    dengan lebih tepat. Hal ini mengingat setiap pengambil keputusan

    membutuhkan pemetaan permasalahan dan alternatif keputusan

    yang akan diambilnya. Dengan demikian informasi yang

    dibutuhkan bukanlah hanya sekedar data atau fakta yang disajikan

    begitu saja, tanpa diklasifikasi berdasarkan sistem tertentu. Ini

    berarti suatu informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan

    harus jelas strukturnya berdasarkan pedekatan sistem.1

    Keputusan investor memilih suatu saham sebagai obyek

    investasinya, membutuhkan data historis terhadap pergerakan

    saham yang beredar di Bursa. Baik secara individual, kelompok,

    maupun gabungan. Mengingat transaksi investasi saham terjadi

    pada setiap saham dengan variasi permasalahan yang sangat rumit

    dan berbeda-beda, pergerakan harga saham memerlukan

    1 Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal (Yogyakarta: AKADEMI

    MANAJEMEN PERUSAHAAN YKPN, 2000), 124

    13

  • 14

    identifikasi khusus dan penyajian informasi. Ribuan kejadian-

    kejadian dan fakta historis tersebut, harus dapat disajikan dengan

    sistem tertentu agar dapat mengahasilkan suatu informasi yang

    sederhana, konsisten dan mudah di tafsirkan oleh para pelaku pasar

    modal. Informasi yang sederhana namun dapat mewakili suatu

    kondisi tertentu akan mewujudkan peta permasalahan yang

    disimbolkan oleh tanda-tanda angka ataupun peristilahan tertentu.

    Dapat disimpulkan Indeks harga saham adalah suatu indikator yang

    menunjukkan pergerakan harga saham saat ini.2

    b. Jenis-jenis Indeks Harga Saham

    PT. Bursa Efek Indonesia memiliki 12 jenis Indeks Harga

    Saham yang secara terus menerus disebarluaskan melalui media

    cetak maupun elektronik, sebagai salah satu pedoman bagi investor

    untuk berinvestasi di pasar modal. Ke sebelas jenis indeks tersebut

    adalah:3

    1) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menggunakan semua

    emiten yang tercatat sebagai komponen perhitungan indeks.

    Saat ini beberapa emiten tidak dimasukkan dalam perhitungan

    IHSG, misalnya emiten-emiten eks Bursa Efek Surabaya

    2 Ibid.

    3 Sukma Febrianti, “Analisis Perbandingan Kinerja Indeks Saham Syariah dengan Indeks

    Saham Konvensional Periode 2015-2017 (Studi Kasus Pada Jii Dan Lq45)” Prosiding SENDI_U

    2018, 548

  • 15

    karena alasan tidak(atau belum ada) aktivitas transaksi

    sehingga belum tercipta harga di pasar.

    2) Indeks Sektoral, menggunakan semua emiten yang ada pada

    masing-masing sektor.

    3) Indeks LQ45, menggunakan 45 emiten yang dipilih

    berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar,

    dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.

    4) Jakarta Islamic Index (JII), menggunakan 30 emiten yang

    masuk dalam kriteria syariah (Daftar Efek Syariah yang

    diterbitkan oleh Bapepam-LK) dan termasuk saham yang

    memiliki kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi.

    5) Indeks Kompas 100, menggunakan 100 emiten yang dipilih

    berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar,

    dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.

    6) Indeks BISNIS-27, menggunakan 27 emiten yang dipilih

    berdasarkan kriteria tertentu an merupakan kerjasama antara

    PT. Bursa Efek Indonesia dengan Harian Bisnis Indonesia.

    7) Indeks PPEFINDO25, menggunakan 25 emiten yang dipilih

    berdasarkan kriteria tertentu dan merupakan kerjasama antara

    PT. Bursa Efek Indonesia dengan lembaga rating PEFINDO.4

    4 Ibid.

  • 16

    8) Indeks SRI-KEHATI, merupakan kerjasama antara PT. Bursa

    Efek Indonesia dengan Yayasan KEHATI dan menggunakan

    25 emiten yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu.

    9) Indeks Papan Utama, menggunakan emiten-emiten yang masuk

    dalam kriteria papan utama.

    10) Indeks Papan Pengembangan, menggunakan emiten yang

    masuk dalam kriteria papan pengembangan.

    11) Indeks Individual, yaitu Indeks Saham masing-masing emiten.

    Perbedaan utama pada masing-masing indeks adalah jumlah

    emiten dan nilai dasar yang digunakan untuk perhitungan

    indeks (Buku Panduan Indeks Saham BEI, 2010).5

    12) Indeks Saham Syariah Indonesia, yaitu seluruh cerminan

    Saham Syariah yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia.

    c. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

    Di Indonesia, investasi syariah ditandai dengan peluncuran

    Danareksa Syariah pada 3 Juli 1997 oleh PT. Danareksa

    Investment Management. Kemudian diresmikannya Jakarta

    Islamic Index (JII) oleh Bursa Efek Indonesia bekerja sama dengan

    PT. Danareksa Investment Management (DIM) pada tahun 2000

    menjadi panduan baru bagi investor yang ingin menanamkan

    dananya secara syariah. Di JII terdapat 30 perusahaan dengan

    saham unggulan yang dianggap memenuhi sejumlah kriteria

    5 Ibid., 549

  • 17

    syariah. Perusahaan-perusahaan tersebut di evaluasi secara rutin

    setiap 6 bulan sekali yaitu pada bulan Januari dan pada bulan Juli.

    Pemilihan saham-saham yang terdaftar di JII dilakukan oleh

    Bapepam bekerja sama dengan Dewan Syariah Nasional. Kriteria

    syariah yang dikeluarkan adalah:6

    1) Tidak melakukan kegiatan usaha sebagai berikut:

    (a) Perjudian dan permainan yang tergolong judi.

    (b) Perdagangan yang dilarang menurut syariah, antara lain,

    (1) perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan

    barang/jasa.

    (2) Perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu.

    (c) Jasa keuangan ribawi, antara lain:

    (1) bank berbasis bunga

    (2) perusahaan pembiayaan berbasis bunga

    (d) Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian

    (gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi

    konvensional

    (e) Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan,

    dan/atau menyediakan antara lain:

    (1) barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi)

    (2) barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram

    lighairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI

    6 Ibid., 550

  • 18

    (3) barang atau jasa yang merusak moral dan/atau bersifat

    mudarat

    (f) Melakukan transaksi yang mengandung unsure suap

    (risywah);

    2) Memenuhi rasio-rasio keuangan sebagai berikut:

    a) Total hutang yang berbasis bunga dibandingkan dengan

    total asset tidak lebih dari 45%.

    b) Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya

    dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan

    pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%. (Amalia dan

    Kartikasari, 2016).

    Indek Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan indeks

    saham yang mencerminkan keseluruhan saham syariah yang

    tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada saat Indeks Saham

    Syariah Indonesia (ISSI) diluncurkan pada tanggal 12 Mei 2011,

    jumlah saham syariah yang tercatat di BEI sebanyak 214 saham.

    Keberadaan Indek Saham Syariah Indonesia (ISSI) melengkapi

    indeks syariah yang sudah ada sebelumnya yaitu Jakarta Islamic

    Index (JII). Konstituen ISSI adalah keseluruhan saham syariah

    tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan terdaftar dalam Daftar

    Efek Syariah (DES). Konstituen Indeks Saham Syariah Indonesia

    (ISSI) direview setiap 6 bulan sekali (Mei dan November) dan

    dipublikasikan pada awal bulan berikutnya. Konstituen ISSI juga

  • 19

    dilakukan penyesuaian apabila ada saham syariah yang baru

    tercatat atau dihapuskan dari Daftar Efek Syariah (DES).7

    d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Indeks Saham Syariah

    Indonesia

    Menurut Syahrir terdapat beberapa faktor-faktor penting

    yang mampu mempengaruhi perkembangan Indeks Saham Syariah

    Indonesia yaitu oleh beberapa variabel makroekonomi. Faktor

    Eksternal yang mempengaruhi indeks saham syariah seperti

    Sertifikat Bank Indonesia Syariah, inflasi, jumlah uang beredar

    (JUB), nilai tukar dan Suku Bunga. Sedangkan faktor internal yang

    mampu mempengaruhi adalah seperti kondisi ekonomi nasional,

    keamanan, kondisi politik, dan kebijakan pemerintah.8

    e. Pasar Modal

    1) Pengertian Pasar Modal

    Pasar Modal memiliki peran sangat penting bagi

    perekonomian di Indonesia karena Pasar Modal menjalankan

    dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana pendanaan usaha atau

    sebagai sarana bagai perusahaan untuk mendapatkan dana dari

    masyarakat pemodal (Investor). Kedua, Pasar Modal dapat

    menjadi saran bagi masyarakat untuk berinvestasi pada

    7 Ibid.

    8 Siti Aisiyah Suciningtias, Rizki Khoiroh, “Analisis Dampak Variabel Makro Ekonomi

    Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (Issi)”FE UINSULLA, 01 (May 2015), 401

  • 20

    instrumen keuangan. Berdasarkan undang-undang No. 08 Tahun

    1995 Pasal 1 angka 13 dijelaskan bahwa Pasar Modal adalah

    kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan

    pedagang efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan efek

    yang diterbitkan serta lembaga dan profesi yang diberikan

    dengan efek.

    Masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya

    sesuai dengan karakteristik keuntungan dan resiko masing-

    masing Instrumen. Sehingga dapat dikatakan bahwa Pasar

    Modal merupakan tempat bertemunya investor sebagai pemilik

    dana dan perusahaan yang memerlukan dana.9

    2) Manfaat Pasar Modal

    Beberapa manfaat pasar modal antara lain;

    a) Menyediakan sumber Pendanaan untuk pihak yang

    kekurangan dana.

    b) Mendorong Penerapan Prinsip Good Corporate Goverment

    (CGC) pada perusahaan

    c) Meningkatkan penyerapan tenaga kerja

    d) Sebagai sarana peningkatan pendapatan negara dan sebagai

    indikator perekonomian Negara.

    9 Otoritas Jasa keuangan, Buku Saku Otoritas jasa Keuangan edisi II (Jakarta: OJK,

    2015), 186-187.

  • 21

    e) Sebagai sarana pemerataan dan sebagai sarana peningkatan

    kapasitas produksi.10

    3) Peranan Pasar Modal dalam Suatu Negara

    Fungsi Pasar Modal, pertama sebagai sarana bagi

    pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk

    mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana

    yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk

    pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja, dan

    lain-lain. Kedua pasar modal menjadi saran bagi masyarakat

    untuk berinvestasi pada instrumen keuangan seperti saham,

    obligasi, reksa dana, dan lain-lain. Dengan demikian,

    masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai

    dengan karakteristik keuntungan dan resiko masing-masing

    instrumen.11

    Peranan pasar modal pada suatu negara adalah:

    a) Sebagai fasilitas dalam melakukan interaksi antar pembeli

    dan penjual untuk menetukan harga saham atau surat

    berharga yang diperjual belikan.

    b) Pasar Modal memberikan kesempatan kepada investor

    untuk memperoleh hasil (return) yang diharapkan.

    Keadaan tersebut akan mendorong perusahaan (emiten)

    10 Ibid.

    11 Ibid., 188

  • 22

    untuk memenuhi keinginan para investor. Pasar Modal

    meneciptakan peluang bagi perusahaan untuk memuaskan

    keinginan para pemegang saham melalui kebijakan deviden

    dan stabilitas harga sekuritas yang relatif normal.

    c) Pasar modal memberi kesempatan kapada investor untuk

    menjual kembali saham yang dimiliki atau surat berharga

    lainnya. Dengan beroperasinya pasar modal, para investor

    dapat melikuidasi surat berharga yang dimilikinya tersebut

    setiap saat.

    d) Pasar modal menciptakan kesempatan kepada masyarakat

    untuk berpasrtisipasi dalam perkembangan suatu

    perekonomian. Masyarakat umum mempunyai kesempatan

    untuk mempertimbangkan alternatif cara penggunaan uang

    mereka.12

    e) Pasar modal mengurangi biaya informasi dan transaksi

    surat berharga. Bagi para investor, keputusan investasi

    harus didasarkan pada tersedianya informasi yang akurat

    dan dapat dipercaya. Pasar modal dapat menyediakan

    kebutuhan terhadap informasi bagi para investor secara

    lengkap, yang apabila hal tersebut dicari sendiri maka akan

    memerlukan biaya yang sangat mahal.

    12 Ibid., 189

  • 23

    Sementara itu, peranan pasar modal di Indonesia menurut

    Rusdin antara lain:

    a) Pasar modal merupakan wahana pengalokasian dana secara

    efisien.

    b) Pasar modal sebagai alternatif investasi

    c) Memungkinkan para investor untuk memiliki perusahaan

    sehat dan berprospek baik untuk berinvestasi

    d) Pelaksanaan manajemen perusahaan secara profesional dan

    transparan agar perusahaan dapat dipercaya Investor.

    e) Peningkatan aktiitas ekonomi nasional.13

    f. Saham

    1) Pengertian saham

    Saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti

    kepemilikan atas suatu perusahaan dan pemegang saham

    memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan.

    Saham adalah surat bukti kepemilikan atas sebuah

    perusahaan yang melakukan penawaran umum (go publik)

    dalam nominal atau prosentase tertentu. Sementara itu,

    saham adalah jumlah satuan sari modal kooperatif yang

    sama jumlahnya bisa diputar dengan berbagai cara

    berdagang, dan harganya bisa berubah sewaktu-waktu

    13 Indah Yuliana, Investasi Produk Keuangan Syariah (Malang; UIN-MALIKI Press,

    2010), 59

  • 24

    tergantung keuntungan dan kerugian atau kinerja

    perusahaan tersebut.

    Adaapun saham menurut Ridwan, merupakan surat

    berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan yang berbentuk

    perseroan terbatas atau yang disebut emiten. Saham adalah

    surat tanda penyerahaan atau kepemilikan seseorang atau

    badan dalam suatu perusahaan. Selembar saham adalah

    selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas

    tersebut adalah pemilik (berapa pun porsinya) dari suatu

    perusahaan yang menerbitkan saham tersebut, sesuai porsi

    kepemilikannya yang tertera pada saham.14

    Dari beberapa definisi di atas maka dapat

    disimpulkan bahwa saham menunjukkan kepemilikan atas

    suatu perusahaan dan memberikan hak kepada pemiliknya.

    Kepemilikan tersebut memberikan kontribusi kepada

    pemegangnya berupa return yang dapat diperolehnya, yaitu

    keuntungan modal (capital gain) atas saham yang memiliki

    harga jual lebih tinggi daripada harga belinya, atau deviden

    atas saham tersebut, disamping hak lainnya yaitu non-

    financial benefit berupa hak suara dalam rapat umum

    pemegang saham. Peluang untuk mendapatkan return dan

    14 Ibid.,58

  • 25

    capital gain ini memotifasi para investor untuk melakukan

    perdagangan saham di padar modal(Bursa Efek).15

    2) Faktor yang mempengaruhi Fluktuasi Harga Saham

    Harga saham selalu mengalami perubahan setiap

    harinya. Oleh karena itu, investor harus mampu

    memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi haga

    saham. Faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga

    saham dapat berasal dari internal maupun eksternal.

    Adapun faktor internalnya anataralin adalah Laba

    Perusahaan, Pertumbuhan Aktiva Tahunan, Likuiditas,

    Nilai Kekayaan Total, Dan Penjualan. Sementara itu, faktor

    eksternalnya adalah Kebijakan Pemerintah Dan

    Dampaknya, Pergerakan Suku Bunga, Inflasi, Fluktuasi

    Nilai Tukar Mata Uang, Rumor, Dan Sentimen Pasar, Dan

    Penggabungan Usaha (Bussines Combination). Pada

    umumnya saham yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan

    (emiten) yang melakukan penawaran umum ada dua macam

    yaitu saham biasa (common stock) dan saham istimewa

    (prefect stock).16

    15 Ibid., 59

    16 Dewi Kusuma Wardani dan Devita Fajar Tri Andarini, “Pengaruh Kondisi

    Fundamental, Inflasi, Dan Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia Terhadap Harga Saham (Study

    Kasus Pada Perusahaan Real Estate Dan Property Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun

    2010-2013)”, Jurnal Akuntamsi, 02 (Desember 2016), 78.

  • 26

    3) Proses Pengambilan keputusan Investasi dalam Saham

    Dalam melakukan investasi pihak investor akan

    mempertimbangkan banyak hal. Baik itu menyangkut

    kinerja perusahaan ataupun perhitungan secara matematis

    mengenai tingkat return dan risk masing-masing saham.

    Dengan mempertimbangkan dilarangnya kita untuk

    melakukan transaksi secara sembarangan (gharar), perlu

    dilakukan suatu analisis yang cukup terhadap masing-

    masing saham. Ada dua macam tipe pemain saham menurut

    Subekti yaitu investor dan spekulan. Investor melakukan

    investasi jangka panjang dan berbasis fundamental

    perusahaan, sedangkan spekulan berbasis pada pergerakan

    harga saham dalam jangka waktu yang pendek. Tentunya

    hal-hal yang berau spekulasi sangat dilarang dalam syariah

    Islam, karena sama dengan judi. Menurut Tandelilin ada

    lima tahap dasar dalam melakukan investasi sebagaimana

    berikut:17

    a) Menetapkan Tujuan Investasi

    Tahap pertama dalam proses keputusan investasi

    adalah menentukan tujuan investasi yang akan

    dilakukan. Tujuan investasi masing-masing investor

    bisa berbeda-beda tergantung pada investor yang

    17 Indah Yuliana, Investasi Produk Keuangan, 61.

  • 27

    membuat keputusan tersebut. Misalnya bagi institusi

    penyimpanan dana seperti bank misalnya, mempunyai

    tujuan untuk memperoleh return yang lebih tinggi

    diatas biaya investasi yang dikeluarkan. Biasanya

    mereka lebih menyukai investasi pada sekuritas yang

    mudah diperdagangkan ataupun pada penyaluran kredit

    yang lebih berisiko tetapi memberikan return yang

    tinggi.

    b) Penentuan Kebijakan Investasi

    Tahap kedua ini merupakan tahap penentu

    kebijakan untuk memenuhi tujuan investasi yang telah

    ditetapkan. Tahap ini dimulai dengan keputusan alokasi

    asset. Keputusan ini menyangkut pendistribusian dana

    yang dimiliki pada berbagai klas-klas asset yang

    tersedia (saham, obligasi, real estate, ataupun sekuritas

    luar negeri). Investor juga harus memperhatikan

    berbagai batasan yang mempengaruhi kebijakan

    investasi seperti seberapa besar dana yang dimiliki dan

    porsi pendistribusian dana tersebut serta beban pajak

    dan pelaporan yang harus ditanggung.

    c) Pemilihan Strategi Portofolio

    Strategi portofolio yang dipilih harus konsisten

    dengan dua tahap sebelumnya. Ada dua strategi

  • 28

    portofolio yang bisa dipilih, yaitu strategi portofolio

    aktif dan strategi portofolio pasif. Strategi portofolio

    aktif meliputi kegiatan penggunaan informasi yang

    tersedia dan teknik-teknik peramalan secara aktif untuk

    mencari kombinasi portofolio yang lebih baik. Strategi

    portofolio pasif meliputi aktivitas investasi pada

    portofolio yang seiring dengan kinerja indeks pasar.

    Asumsi strategi pasif ini adalah bahwa semua informasi

    yang tersedia, diserap pasar dan direfleksikan pada

    harga saham.18

    d) Pemilihan Asset

    Setelah tahap pemilihan strategi portofolio

    selesai dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah

    pemilihan asset yang akan dimasukkan dalam

    portofolio. Tujuannya, untuk mencari kombinasi yang

    efisien, yaitu portofolio yang menawarkan return

    diharapkan tertinggi sengan tingkat resiko tertentu atau

    sebaliknya menawarkan return diharapkan tertentu

    dengan tingkat resiko terendah.

    e) Pengukuran dan evaluasi Kinerja portofolio

    Tahap ini merupakan tahap terakhir dari proses

    keputusan investasi, namun jika dalam tahap

    18 Ibid., 63

  • 29

    pengukuran dari evaluasi kinerja telah dilewati dan

    ternyata hasilnya kurang baik, maka proses

    pengambilan keputusan investasi harus dimulai lagi

    dari tahap pertama. Sehingga akan dicapai keputusan

    investasi yang paling optimal. Tahap pengukuran dan

    evaluasi kinerja ini meliputi pengukuran kinerja

    portofolio dan membandingkan hasil pengukuran

    tersebut dengan kinerja portofolio lainnya.19

    2. Inflasi

    a. Pengertian Inflasi

    Permulaan abad ke-18 kata inflasi diartikan sebagai

    keadaan ekspansi penawaran uang yang ditimbulakn oleh

    diedarkannya uang kertas yang dicetak bank-bank atau pemerintah

    sebagai pelengkap (Suplemen) uang logam. Penambahan uang baru

    dipercaya akan menyebabkan tingkat kemakmuran masyarakat

    lebih tinggi tanpa mempengaruhi harga. Menjelang akhir abad ke-

    18 dan permulaan abad ke-19, ekonomiawan klasik, seperti

    Richard canttilon, David Hume, Adam Smith, dan David Ricardo

    menyatakan bahwa akibat penambahan permintaan uang eperti

    19 Ibid.

  • 30

    mencetak uang kertas, yang disebutkan diatas, akan menyebabkan

    Inflasi.20

    Definisi singkat mengenai Inflasi adalah keadaan yang

    menunjukkan kenaikan harga-harga umum secara terus menerus.

    Perkataan terus-menerus menunjukkan bahwa kenaikan herga,

    walaupun melonjak tajam tapi sekali saja, tidak terkategorikan

    sebagai inflasi. Definisi lain Inflasi adalah keadaan dimana terjadi

    kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang dan jasa

    secara keseluruhan.21

    b. Jenis-jenis Inflasi

    1) Jenis Inflasi menurut sifat

    a) Inflasi Ringan

    Inflasi ringan ditandai dengan laju inflasi yang

    rendah, biasanya bernilai satu digit per tahun (kurang dari

    10%). Kenaikan harga pada jenis inflasi ini berjalan secara

    lambat, dengan persentase yang kecil serta dalam jangka

    yang relatif lama.

    b) Inflasi Menengah

    Inflasi menengah ditandai dengan kenaikan harga

    yang cukup besar (biasanya duoble digit, yaitu diantara

    20 Elvis Purba & Ridho MB Simangungsong, Uang dan Lembaga Keuangan (Medan:

    UNIVERSITAS HKBP NOMMENSE 2005), 41

    21 Prasetyo Eko, Fundamental Makro Rkonomi, (Yogyakarta; Beta Offset Yogyakarta,

    2012), 198.

  • 31

    10% sampai < 30% per tahun) dan kadangkala berjalan

    dalam waktu yang relatif pendek. Artinya, harga-harga

    minggu/bulan ini lebih tinggi dari minggu/bulan lalu dan

    seterusnya.22

    c) Inflasi tinggi

    Inflasi tinggi merupakan inflasi yang paling parah

    akibatnya. Harga-harga naik sampai 5 atau 6 kali (lebih dari

    30%). Masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk

    menyimpan uang. Perputaran uang makin cepat, harga naik

    secara akselerasi

    2) Jenis Inflasi menurut sebab

    a) Demand full inflation

    Inflasi ini biasanya terjadi pada masa perekonomian

    sedang berkembang pesat. Kesempatan kerja yang tinggi

    menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan

    selanjutnya daya beli sangat tinggi. Daya beli yang tinggi

    akan mendorong permintaan melebihi total produk yang

    tersedia. Permintaan aggregate meningkat lebih cepat

    dibandingkan dengan potensi produktif perekonomian,

    akibatnya timbul inflasi.

    22 Adrian Sutawijaya, “Pengaruh Faktor-faktor Ekonomi Terhadap Inf lasi di Indonesia ,”

    Jurnal Organisasi dan Manajemen 8, no. 2 (2012): 85–101.

  • 32

    b) Cost push inflation

    Inflasi ini terjadi bila biaya produksi mengalami

    kenaikan yang terus-menerus. Kenaikan biaya produksi

    dapat berawal dari kenaikan harga input seperti kenaikan

    upah minimum, kenaikan bahan baku, kenaikan tarif listrik,

    kenaikan BBM, dan kenaikan-kenaikan input lainnya yang

    mungkin semakin langka dan harus diimpor dari luar

    negeri.23

    c) Imported inflation

    Inflasi dapat juga bersumber dari kenaikan harga-

    harga barang yang diimpor, terutama barang yang diimpor

    tersebut mempunyai perananan penting dalam setiap

    kegiatan produksi.

    d) Ekpektation inflation

    Inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dalam

    menggunakan ekspektasi angka inflasi dalam keputusan

    kegiatan ekonominya. Ekspektasi tersebut apakah

    disebabkan oleh adanya perilaku masyarakat yang secara

    umum bersifat adaptif atau forward looking, karena

    masyarakat melihat harapan di masa datang akan lebih baik

    daripada sebelumnya. Harapan masyarakat ini dapat

    23 Prasetyo Eko, Fundamental Makro Ekonomi, 200

  • 33

    menyebabkan demand full inflation maupun cost push

    inflation tergantung dari harapan masyarakat yang mana

    yang lebih baik dan bagaimana kondisi persediaan barang

    dan faktor produksi saat itu dan masa datang.24

    3) Jenis Inflasi menurut asal

    a) Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation)

    Inflasi ini dapat timbul antara lain karena defisit

    anggaran belanja yang dibiayai dengan pencetakan uang

    baru ataupun terjadinya kegagalan panen.

    b) Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation).

    Inflasi ini merupakan inflasi yang timbul karena

    kenaikan harga-harga (inflasi) di luar negeri atau di luar

    negara tersebut. Dalam hubungan ini pengaruh inflasi dari

    luar negeri ke dalam negeri dapat terjadi melalui kenaikan

    harga barang-barang impor maupun kenaikan harga

    barangbarang ekspor.25

    c. Dampak Inflasi

    Dampak inflasi terhadap suatu perekonomian diantaranya

    sebagai berikut:

    1) Nilai suatu mata uang akan mengalami penurunan dan daya

    beli mata uang tersebut menjadi semakin rendah. Penurunan

    24 Ibid.

    25 Ibid., 202

  • 34

    daya beli mata uang selanjutnya akan berdampak pada

    individu, dunia usaha dan APBN. Dengan kata lain, laju inflasi

    yang tinggi dapat berdampak buruk terhadap perekonomian

    secara keseluruhan.26

    2) Inflasi mendorong redistribusi pendapatan diantara anggota

    masyarakat, hal inilah yang disebut dengan efek redistribusi

    dari inflasi. Inflasi akan mempengaruhi keseahteraan ekonomi

    anggota masyarakat, sebab redistribusi pendapatan yang terjadi

    akibat inflasi akan mengakibatkan pendapatan riil satu orang

    meningkat, tetapi pendapatan riil yang lain akan jatuh.

    Umumnya bagi mereka yang berpendapatan tetap seperti

    pegawai negeriakan mengalami dampak negatif inflasi, hal

    tersebut dikarenakan inflasi yang tinggi pendapatan riil mereka

    akan turun. Inflasi menyebabkan perubahan-perubahan dalam

    output dan kesempatan kerja. Hal tersebut terjadi dikarenakan

    inflasi memotivasi perusahaan untuk memproduksi lebih atau

    kurang dari yang telah dilakukan selama ini

    3) Inflasi menyebabkan sebuah lingkungan yang tidak stabil bagi

    kondisi ekonomi. Jika konsumen memperkirakan tingkat inflasi

    di masa mendatang akan naik, maka akan mendorong mereka

    untuk melakukan pembelian barang-barang dan jasa secara

    26 Adrian Sutawijaya, “Pengaruh Faktor-faktor Ekonomi Terhadap Inflasi di Indonesia ,”

    Jurnal Organisasi dan Manajemen 8, no. 2 (2012): 102.

  • 35

    besar-besaran pada saat sekarang dari pada mereka menunggu

    tingkat harga sudah meningkat lagi.

    4) Inflasi cenderung memperendah tingkat bunga riil dan

    menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan di pasar modal.

    Hal tersebut menyebabkan penawaran dana untuk investasi

    menurun, dan sebagai akibatnya, investor sektor swasta

    berkurang sampai ke bawah tingkat keseimbangannya.27

    d. Kebijakan Ekonomi Konvensional dalam mengatasi Inflasi

    Mewujudkan Inflasi Nol persen secara terus menerus dalam

    perekonomian yang sedang berkembang adalah sulit untuk dicapai.

    Oleh sebab itu, dalam jangka panjang yang perlu diusahakan

    adalah menjaga kestabilan ekonomi, pemerintah perlu menjalankan

    kebijakan menurunkan tingkat inflasi karena bagimanapun

    pemerintah mempunyai peranan penting dalam mengendalikan laju

    inflasi sebab terjadi atau tidaknya inflasi tergantung dari kebijakan-

    kebijakan pemerintah dalam menjalankan roda perekonomian.

    Kebijakan-kebijakan yang digunakan untuk mengatasi masalah

    inflasi yaitu kebijakan Fiskal dan kebijakan moneter.28

    1) Kebijakan Fiskal

    Ada dua kebijakan fiskal yang bisa dilaksanakan oleh

    pemerintah untuk menekan tingkat Inflasi, yaitu

    27 Ibid., 103

    28 Prasetyo Eko, Fundamental Makro Ekonomi, 203

  • 36

    (a) Meningkatkan pajak

    Makin tinggi pajak yang dikenakan pemerintah terhadap

    pendapatan, maka semakin kecil konsumsi masyarakat.

    Dengan naiknya pajakyang dikenakan pemerintah terhadap

    pendapatan masyarakat akan menekan tingkat konsumsi.

    (b) Mengurangi pengeluaran pemerintah

    Kebijakan yang akan dilaksanakan adalah dalam bentuk

    mengurangi pengeluaran pemerintah, langkah ini

    menimbulkan efek yang cepat dalam mengurangi

    pengeluaran dalam perekonomian. Maka untuk

    menerangkan tentang efek dari kebijakan fiskal dalam

    mengatasi inflasi perlu dibedakan dalam dua keadaan, yaitu

    pertama keadaan dimana inflasi berlaku tanpa kontrol

    pemerintah, kedua inflasi yang di atasi melalui kebijakan

    fiskal.29

    2) Kebijakan Moneter

    Kebijakan Moneter ialah peraturan dan ketentuan yang

    dikeluarkan oleh otoritas moneter (bank sentral) untuk

    mengendalikan jumlah uang yang beredar. Agar ekomomi

    tumbuh lebih cepat, bank sentral bisa bisa memberikan lebih

    banyak kredit kepada sistem perbankan mellui operasi pasar

    terbuka, atau bank sentral menurunkan persyaratan cadangan

    29 Ibid., 204

  • 37

    dari bank-bank atau menurunkan tingkat diskonto, yang harus

    dibayar oleh bank jika hendak meminjam dari bank sentral.

    Akan tetapi, apabila ekonomi tumbuh terlalu cepat dari inflasi

    menjadi masalah yang semakin besar, maka bank sentral dapat

    melakukan operasi pasar terbuka (open market operation),

    menarik uang dari sistem perbankan, menaikkan persyaratan

    cadangan minimum (Reserve requirement), atau menaikkan

    tingkat diskonto (interest or discount rate), sehingga dengan

    demikian akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

    Instrumen kebijakan moneter lain berkisar dari kebijakan kredit

    selektif sampai moral situation, suatu kebijakan yang

    sederhana, tetapi sering sangat efektif.30

    Secara teori, investasi berbanding terbalik dengan Inflasi

    dan tingkat suku Bunga. Ketika Inflasi naik hal tersebut

    menjadi sinyal negatif bagi para investor. Meningkatnya Inflasi

    menyebabkan perubahan pendapatan perusahaan dan profit

    perusahaan, apabila biaya operasional perusahaan lebih tinggi

    dibandingkan profit perusahaan akan menyebabkan keuntungan

    yang diperoleh perusahaan kecil sehingga berpengaruh

    terhadap Return yang diperoleh oleh Investor. Hal tersebut

    menyebabkan para investor enggan untuk menanamkan

    30 Nur Rianto Al arif, Teori MakroEkonomi Islam (Bandaung; Alfabeta, 2010), 97-99

  • 38

    modalnya diperusahaan tersebut. Adapun indikator Inflasi

    adalah IHK (Indeks Harga Konsumen).31

    Sedangkan menaikkan suku Bunga bank melalui bank

    sentral akan meningkatkan minat masyarakat untuk menabung,

    dengan naiknya suku bunga yang disebabkan naiknya suku

    bunga bank sentral akan menyebabkan permintaan uang untuk

    investasi akan berkurang. Maksud menaikkan suku bunga ini

    adalah untuk menarik uang yang beredar dalam masyarakat.

    Setelah uang yang beredar dapat dikurangi jumlahnya, maka

    pemberian kredit untuk investasi harus melalui seleksi yang

    ketat. Investasi hanya diberikan untuk tujuan produktif,

    sehingga penambahan uang yang beredar dapat diimbangi

    dengan penambahan produksi barang, sehingga sektor riil pun

    dapat berkembang.32

    3. Suku Bunga

    a. Pengertian Suku Bunga

    Suku bunga adalah jumlah yang diterima oleh orang yang

    meminjam dana dan dibayar oleh peminjam dana sejumlah

    persentase yang disepakati oleh kedua belah pihak. Suku bunga

    merupakan instrumen konvensional untuk mengendalikan atau

    menekan laju pertumbuhan tingkat inflasi. Suku bunga yang tinggi

    31 Ibid., 100

    32 Ibid.

  • 39

    akan mendorong orang-orang untuk menanamkan dananya di bank

    daripada menginvestasikannya pada sektor produksi atau sektor

    industri yang risikonya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan

    menanamkan uang di bank terutama dalam bentuk deposito.33

    Suku bunga sebagai harga dari penggunaan uang untuk

    jangka waktu tertentu, atau harga dari penggunaan uang yang

    dipergunakan pada saat ini dan akan dikembalikan pada suatu saat

    mendatang. Pengertian tingkat bunga sebagai “harga” ini juga

    dapat dinyatakan sebagai harga yang harus dibayar apabila terjadi

    “pertukaran” antara satu rupiah di waktu yang akan datang.

    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa suku bunga deposito

    adalah harga yang akan diperoleh dari penggunaan uang untuk

    jangka waktu tertentu atau harga dari penggunaan uang yang

    dipergunakan pada saat ini dan akan dikembalikan pada suatu saat

    mendatang.34

    b. Fungsi Suku Bunga

    Menurut sumiyah ada 3 fungsi dari suku bunga yang diterapkan

    oleh pemerintah, yaitu

    1) Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana

    lebih untuk di investasikan dalam bentuk saham

    33 Elvis Purba dan Ridhon Simangungsong, Uang dan Lembaga Keuangan, 51

    34 Ibid.

  • 40

    2) Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam

    rangka mengendalikan penawaran dan perminataan uang yang

    beredar dalam suatu perekonomian. Misalnya, pemerintah

    mendukung pertumbuhan suatu sektor industri tertentu apabila

    perusahaan-perusahaan dari industri tersebut akan meimnjam

    dana. Maka pemerintah memberi tingkat bunga yang lebih

    rendah dibandingjan ssektor lain. Pemerintah dapat

    memanfaatkan Suku Bunga untuk mengontrol jumlah uang

    beredar. Ini berarti, pemerintah dapat mengatur sirkulasi uang

    dalam suatu perekonomian.35

    B. Studi Penelitian Terdahulu

    Tabel 2.1

    Studi Penelitian Terdahulu

    No. Nama Judul Perbedaan Hasil

    1. Milliati

    Azka

    Pengaruh

    Tingkat

    Bunga,

    Tingkat

    Inflasi, dan

    Nilai

    Tukar

    Rupiah

    Terhadap

    Indeks

    Penelitian ini bertujuan

    untuk menganalisis

    Tingkat Bunga, Tingkat

    Inflasi, dan Nilai Tukar

    Rupiah Terhadap Indeks

    Saham Syariah Indonesia

    (ISSI) tahun 2011-2016.

    Variabel yang digunakan

    juga berbeda yaitu ada

    Tingkat Bunga, Tingkat

    ` Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa,

    Tingkat Inflasi dan

    Tingkat Bunga tidak

    berpengaruh terhadap

    Indeks Saham Syariah,

    sedangkan Nilai tukar

    berpengaruh terhadap

    Indeks Saham Syariah.36

    35 Nasir dan Mirza , “Penga ruh Nilai Kurs, Inflasi, Suku Bunga Deposito da n Volume

    Perdagangan Saham Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa

    Efek Indonesia.”

    36 Milliati Azka, “Pengaruh Tingkat Bunga, Tingkat Inflasi, dan Nilai Tukar Rupiah

    Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) tahun 2011 -2016”, SKRIPSI (UIN Sunan

    Kalijaga Yogyakarta, 2016).

  • 41

    No. Nama Judul Perbedaan Hasil

    Saham

    Syariah

    Indonesia

    (ISSI)

    tahun

    2011-2016

    Inflasi, dan Nilai Tukar

    Rupiah sedangkan dalam

    penelitian ini

    mengguanakn dua

    variabel X saja yaitu

    Inflasi dan Suku Bunga.

    Terdapat perbedaan

    dalam tahunnya pada

    penelitian ini periode

    penelitiannya yaitu 2012-

    2016 sedangkan

    penelitian saya pada

    tahun 2012-2019.

    Sedangkan metode

    penelitian yang

    digunakan oleh Miliati

    Azka yaitu Analisis

    Regresi Linier Berganda

    meggunakan software

    SPSS, dan untuk

    penelitian ini

    menggunakan metode

    Error Correction Model

    dengan software Eviews.

    2. Siti

    Qomari

    yah

    Pengaruh

    Inflasi,

    Nilai

    Tukar

    (Kurs), Bi

    7 Day

    Repo Rate,

    Dan Harga

    Minyak

    Dunia

    Terhadap

    Indeks

    Saham

    Syariah

    Indonesia

    (Issi)

    Tahun

    2014-2017

    Perbedaan Penelitian ini

    adalah Penelitian ini

    bertujuan untuk

    mengetahui apakah

    variabel inflasi, nilai

    tukar (kurs), bi 7 day

    repo rate dan harga

    minyak dunia

    berpengaruh terhadap

    Indeks Saham Syariah

    Indonesia (ISSI) di Bursa

    Efek Indonesia.

    Sedangkan penelitian ini

    bertujuan untuk meneliti

    seberapa besarkah

    pengaruh Inflasi dan

    Suku Bunga terhadap

    Indeks Saham Syariah

    Indonesia. Metode

    penelitian yang

    digunakan oleh Siti

    Qomariyah yaitu

    Analisis Regresi Linier

    Dari penelitian ini dapat

    disimpulkan berdasarkan

    uji statistik variabel

    inflasi, nilai tukar (kurs),

    bi 7 day repo rate, dan

    harga minyak dunia

    secara bersama-sama (uji

    simultan-Uji F) memiliki

    pengaruh terhadap

    Indeks Saham Syariah

    Indonesia (ISSI).

    Berdasarkan uji t,

    variabel inflasi (X1)

    tidak memiliki pengaruh

    terhadap Indeks Saham

    Syariah Indonesia (ISSI)

    (Y), variabel nilai tukar

    (kurs) (X2) memiliki

    pengaruh negatif

    terhadap Indeks Saham

    Syariah Indonesia (ISSI)

    (Y), variabel bi 7 day

    repo rate (X3) memiliki

  • 42

    No. Nama Judul Perbedaan Hasil

    Berganda meggunakan

    software SPSS,

    sedangkan penelitian ini

    menggunakan metode

    Error Correction Model

    dengan software Eviews

    9.0

    pengaruh negatif

    terhadap Indeks Saham

    Syariah Indonesia (ISSI)

    (Y), dan variabel (X4)

    memiliki pengaruh

    negatif terhadap Indeks

    Saham Syariah Indonesia

    (ISSI) (Y).37

    3. Reza

    Fahmi

    Novind

    ra

    Analisis

    Pegaruh

    Inflasi,

    Nilai

    Tukar

    Rupiah

    (KURS),

    dan

    Sertifikat

    Bank

    Indonesia

    Syariah

    (SBIS)

    terhadap

    Indeks

    Saham

    Syariah

    Indonesia

    (ISSI)

    periode

    2012-2016

    Tujuan penelitian ini

    untuk mengetahui

    pengaruh inflasi, nilai

    tukar (kurs), indeks

    saham gabungan (ISHG),

    dan sertifikat bank

    Indonesia Syariah (SBIS)

    terhadap Indeks Saham

    Syariah Indonesia (ISSI)

    periode januari 2012

    sampai Desember 2016.

    Sedangkan pada

    penelitian ini bertujuan

    untuk mengetahui

    pengaruh Inflasi dan

    Suku Bunga terhadap

    Indeks Saham Syariah

    Indonesia. terdapat juga

    perbedaan pada tahun

    penelitian ini yaitu

    penelitian Reza Fahmi

    pada tahun 2012-2016,

    sedangkan dalam

    penelitian ini

    menggunakan periode

    2012-2019. Untuk

    metode penelyian Reza

    Fahmi menggunakan

    VAR (Vector

    Auotoregresive) dengan

    Hasil penelitian

    menunjukkan

    berdasarkan uji

    Kausalitas tidak ada

    variabel yang

    menunjukkan hubungan

    Kausalitas sa tu arah

    ataupun dua arah

    terhadap Indeks Saham

    Syariah Indonesia,

    berdasarkan uji Impulse

    Response Fuction Indeks

    Saham Syariah Indonesia

    menunjukkan respon

    yang tidak stabil

    terhadap guncangan pada

    variabel Nilai Tukar

    (KURS) tetapi

    guncangan yang

    ditimbulkan oleh

    variabel nili tukar

    direspon positif oleh

    variabel Indeks Saham

    Syariah Indonesia.38

    37 Siti Qomariyah “Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar (Kurs), Bi 7 Day Repo Rate, Dan Harga

    Minyak Dunia Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (Issi) Tahun 2014-2017”, SKRIPSI

    (IAIN Surakarta, 2018).

    38 Reza Fahmi Novindra, “Analisis Pegaruh Inflasi, Nilai Tukar Rupiah (KURS), dan

    Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) terhadap Indeks Saham Sya riah Indonesia (ISSI) periode

    2012-2016, SKIPSI (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018).

  • 43

    No. Nama Judul Perbedaan Hasil

    menggunakan software

    Eviews, sedangkan pada

    penelitian menggunakan

    ECM dengan software

    Eviews 9.0

    4. Rega

    Saputra

    Pengaruh

    BI RATE,

    Inflasi,

    Nilai

    Tukar

    Rupiah,

    dan SBIS

    terhadap

    Indeks

    Saham

    Syaeiah

    Indonesia

    (ISSI)

    Penelitian bertujuan

    untuk mengetahui

    pengaruh variabel makro

    ekonomi yang meliputi

    BI-RATE, Inflasi, Nilai

    Tukar, dan Surat

    Berharga bank Indonesia

    Syariah terhadap Indeks

    Saham Syariah

    Indonesia. Variabel X

    dalam penelitian tersebu t

    ada 4 yaitu BI-RATE,

    Inflasi, Nilai Tukar, dan

    SBIS dalam penelitian

    ini variabel X nya hanya

    ada dua yaitu Inflasi da n

    Suku Bunga. Metode

    penelitian yang

    digunakan oleh Rega

    Saputra yaitu Analisis

    Regresi Linier Berganda

    meggunakan software

    SPSS, sedangkan

    penelitian ini

    menggunakan metode

    Error Correction Model

    dengan software Eviews.

    Hasil dari penelitian ini

    menunjukkan bahwa

    variabel BI-RATE secara

    parsial berpengaruh

    signifikan terhadap

    Indeks Saham Syariah

    Indonesia , Variabel

    inflasi secara parsial

    tidak berpengaruh

    signifikan terhadap

    Indeks Saham Syariah

    Indonesia Variabel Nilai

    Tukar secara parsial

    tidak berpengaruh

    signifikan terhadap

    Indeks Saham Syariah

    Indonesia , Variabel SBIS

    secara parsia l

    berpengaruh signifikan

    terhadap Indeks Saham

    Syariah Indonesia.39

    5. Arie

    Rusma

    y

    Niswan

    ti

    Umima

    Pengaruh

    Inflasi,

    Jumlah

    Uang

    Beredar,

    dan Suku

    Bunga

    Terhadap

    Indeks

    Sahamdija

    Penelitian bertujuan

    untuk menganalisis

    pengaruh inflasi, jumlah

    uang beredar dan suku

    bunga terhadap Indeks

    Sahamdi Jakarta Islamic

    Index (JII). Penelitian ini

    menggunakan data time

    series bulanan yang

    dianalisis dengan

    Hasil penelitian

    menunjukkan bahwa

    inflasi tidak berpengaruh

    terhadap Indeks Sahamdi

    Jakarta Islamic Index

    (JII), yang artinya

    apabila terjadi kenaikan

    atau penurunan tingkat

    inflasi tidak akan

    mempengaruhi kenaikan

    39 Reza Saputra , “ Pengaruh BI RATE, Inflasi, Nilai Tukar Rupiah, dan SBIS terhadap

    Indeks Saham Syaeiah Indonesia (ISSI)” SKRIPSI (UIN Raden Fatah Palembang, 2017)

  • 44

    No. Nama Judul Perbedaan Hasil

    karta

    Islamic

    Index (JII)

    periode

    2012-2017

    menggunakan regresi

    linier berganda. Tiga

    variabel yang terdiri dari

    inflasi, jumlah uang

    beredar dan suku bunga

    terhadap Indeks Sahamdi

    Jakarta Islamic Index

    (JII). Perbedaan

    penelitian yaitu terletak

    pada variabel X nya 3

    yaitu Inflasi, Jumlah

    Uang Beredar, dan Suku

    Bunga. Sedangkan dalam

    penelitian ini hanya ada

    2 variabel ya itu Inflasi

    dan Suku Bunga. Metode

    penelitian yang

    digunakan oleh Arie

    Rusmay Niswanti

    Umima yaitu Analisis

    Regresi Linier Berganda

    meggunakan software

    SPSS, sedangkan

    penelitian ini

    menggunakan metode

    Error Correction Mode

    dengan software Eviews.

    ataupun penurunan

    Indeks Sahamdi Jakarta

    Islamic Index (JII).

    Sedangkan jumlah uang

    beredar berpengaruh

    positif terhadap Indeks

    Sahamdi Jakarta Islamic

    Index (JII), yang artinya

    apabila terjadi kenaikan

    jumlah uang beredar

    akan berpengaruh

    terhadap kenaikan Indeks

    Sahamdi Jakarta Islamic

    Index (JII) begitupula

    sebaliknya. Selanjutnya

    suku bunga tidak

    berpengaruh terhadap

    Indeks Sahamdi Jakarta

    Islamic Index (JII), yang

    artinya apabila terjadi

    kenaikan atau penurunan

    suku bunga tidak

    mempengaruhi kenaikan

    ataupun penurunan

    Indeks Sahamdi Jakarta

    Islamic Index (JII).40

    Peneliti mengembangkan konsep atau teori yang menunjukkan

    adanya pengaruh variabel Makroekonomi terhadap peregerakan Indeks

    Saham Syariah Indonesia yang sebelumnya teori nya berbunyi ketika

    Inflasi naik maka Investasi turun dan ketika Suku Bunga turun maka

    Investasi naik.

    40 Arie Rusmay Niswanti Umima, “Pengaruh Inflasi, Jumlah Uang Beredar, dan Suku

    Bunga Terhadap Indeks Sahamdijakarta Islamic Index (JII) periode 2012-2017”, SKRI PSI (I AI N

    Surakarta, 2018).

  • 45

    C. Kerangka Berfikir

    Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui bagaimana hubungan

    dua variabel X terhadap variabel Y. Maka dari itu, peneliti menggunakan

    metode Error Corection Model untuk menganalisis penelitian. Menurut

    Uma Sekaran, kerangka berfikir adalah model konseptual tentang

    bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah

    diidenifikasi sebagai masalah yang penting dalam penelitian. Kerangka

    berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel

    yang kan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar

    variabel independent dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel

    moderator atau intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel

    itu ikut dilibatkan dalam penelitian. Pertautan antar variabel tersebut,

    selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk hubungan antar variabel

    penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian

    harus didasarkan pada kerangka berfikir. 41

    Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila

    dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila

    penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri,

    maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis

    untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran

    variabel yang diteliti.

    41 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018), 95.

  • 46

    Peneliti yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya

    ddirumuskan hipotesis yang berbentuk koparasi maupun hubungan. Oleh

    karena itu dalam rangka menyusun hipoetsis penelitian yang berbentuk

    hubungan maupun koparasi, maka perlu dikemukakan kerangka berfikir.

    Berdasarkan landasan teori dan telaah pustaka di atas, maka kerangka

    berfikir dalam penelitian ini adalah

    Gambar 2.1

    Kerangka Berfikir

    Input Data

    Variabel Independen

    (Inflasi dan Suku Bunga)

    Variabel Dependen

    Indeks Saham Syariah

    Indonesia (ISSI)

    Uji Stasioner, Uji

    Kointegrasi, Uji

    Hubungan Jangka Pendek

    dan Asumsi Klasik, Uji

    Hubungan Jangka

    Panjang

    Interpretasi hasil

    ECM

  • 47

    Alur dalam penelitian ini yaitu diawali dengan Input data yang

    dioeroleh dari website yang berkaitan dengan variabel penelitian. Variabel

    dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu variabel Variabel

    Independen (Inflasi dan Suku Bunga) dan variabel Independen (ISSI).

    Selanjutnya dilakukan pengujian data dengan tahapan Uji Stasioner, Uji

    Kointegrasi, Uji Hubungan Jangka Pendek dan Asumsi Klasik, Uji

    Hubungan Jangka dengan analisis Error Corection Model. Kemudian

    setelah di analisis baru kia mengetahui hasil penelitian dengan cara

    membuat Interpretasi Hasil.

    D. Hipotesis

    Perumusan Hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam

    penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka

    berfikir. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus

    merumuskan hipotesis. Penelitian yang bersifat eksploratif dan sering juga

    dalam penelitian deskriptif tidak perlu merumuskan hipotesis.42

    Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah

    penelitian, oleh karena itu rumusan maslah penelitian biasanya disusun

    dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena karena

    jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum

    didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan

    42 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung;

    Alfabeta, 2010), 60

  • 48

    data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis

    terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang mepirik.

    Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang

    menggunakan pendekatan kuantitaif, pada penelitian kualitatif tidak

    merumuskan hipotesis tetapi justru menemukan hipotesis. Selanjutnya

    hipotesis tersebut akan diuji oeleh peneliti dengan menggunakan

    pendekatan kuantitatif.43

    a. Pengaruh Inflasi terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

    Secara teori, investasi berbanding terbalik dengan Inflasi. Ketika

    Inflasi naik hal tersebut menjadi sinyal negatif bagi para investor.

    Meningkatnya Inflasi menyebabkan perubahan pendapatan dan profit

    perusahaan, apabila biaya operasional perusahaan lebih tinggi

    dibandingkan profit perusahaan akan menyebabkan keuntungan yang

    diperoleh perusahaan kecil sehingga berpengaruh terhadap Return yang

    diperoleh oleh Investor. Hal tersebut menyebabkan para investor

    enggan untuk menanamkan modalnya diperusahaan tersebut. Adapun

    indikator Inflasi adalah IHK (Indeks Harga Konsumen).

    Inflasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pergerakan

    harga saham yang terdapat di ISSI. Asumsi yang mendasari yaitu ketika

    inflasi terjadi secara cepat dan meningkat tajam dari sebelumnya, minat

    investor untuk melakukan investasi akan berkurang. Menurunnya minat

    43 Ibid., 61-62

  • 49

    investor untuk berinvestasi akan menurunkan harga saham perusahaan

    dan menurunkan indeks saham.44

    Tidak sejalan dengan penelitian Siti Qomariyah dan Rega Saputra

    Inflasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks Saham

    Syariah Indonesia (ISSI). Tingkat inflasi di Indonesia mengalami

    penurunan dari tahun ke tahun walaupun pada tahun 2017 sedikit

    mengalami kenaikan. Pergerakan inflasi pada beberapa tahun terakhir

    masih dalam koredor moderat atau tergolong inflasi ringan sehingga

    inflasi tidak terlalu mempengaruhi Indeks Saham Syariah Indonesia.

    H01 = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara antara jangka pendek

    dan Inflasi.

    Ha1 = Ada pengaruh yang signifikan antara jangka pendek dan Inflasi.

    H02 = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara antara jangka

    panjang dan Inflasi.

    Ha1 = Ada pengaruh yang signifikan antara jangka panjang dan Inflasi.

    b. Pengaruh Suku Bunga Terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia

    (ISSI)

    Secara teori, investasi berbanding terbalik dengan Suku Bunga.

    Menaikkan suku Bunga bank melalui bank sentral akan meningkatkan

    minat masyarakat untuk menabung, dengan naiknya suku bunga yang

    disebabkan naiknya suku bunga bank sentral akan menyebabkan

    permintaan uang untuk investasi akan berkurang. Maksud menaikkan

    44 Nur Rianto Al arif, Teori MakroEkonomi Islam, 100

  • 50

    suku bunga ini adalah untuk menarik uang yang beredar dalam

    masyarakat. Setelah uang yang beredar dapat dikurangi jumlahnya,

    maka pemberian kredit untuk investasi harus melalui seleksi yang ketat.

    Investasi hanya diberikan untuk tujuan produktif, sehingga penambahan

    uang yang beredar dapat diimbangi dengan penambahan produksi

    barang, sehingga sektor riil pun dapat berkembang.

    Apabila terjadi kenaikan pada suku bunga tabungan maka akan

    memicu turunnya harga saham dan sekaligus menurunkan indeks saham

    karena masyarakat akan lebih menginvestasikan dana yang dimilikinya

    dengan tabungan ketimbang di pasar modal, dan apabila suku bunga

    mengalami penurunan maka akan menyebabkan masyarakat beralih ke

    saham sehingga akan menaikkan harga saham dan sekaligus menaikan

    indeks saham syariah.45

    Sejalan dengan penelitian Siti Qomariyah dan Rega Saputra bahwa

    Suku Bunga berpengaruh secara signifikan terhadap ISSI Membawa

    implikasi bahwa terdapat hubungan jangka panjang negatif antara

    variable suku bunga terhadap ISSI, dimana apabila suku bunga

    mengalami peningkatan satu persen maka akan menurunkan ISSI begitu

    pula sebaliknya apabila suku bunga mengalami penurunan sebesar satu

    persen maka akan meningkatkan ISSI.

    H03 = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara hubungan jangka

    pendek dan Suku Bunga

    45 Ibid., 101

  • 51

    Ha3 = Ada pengaruh yang signifikan antara hubungan jangka pendek

    dan Suku Bunga

    H04 = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara hubungan jangka

    panjang dan Suku Bunga

    Ha4 = Ada pengaruh yang signifikan antara hubungan jangka panjang

    dan Suku Bunga.

  • 52

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

    1. Jenis Penelitian

    Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

    penelitian kuantitatif, yakni penelitian yang dibangun berdasarkan

    filsafat Positifisme. Positifisme adalah satu aliran filsafat yang

    menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Filsafat

    Positifisme digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel

    tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya digunakan secara

    random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian,

    analisis dan bersifat statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis

    yang telah penelitian menggunakan angka-angka yang jumlahnya

    sebagai data yang kemudian sebagai data yang kemudian di analisis.

    Metode ini menjelaskan fenomena dengan menggunakan data-data

    numerik, serta time series kemudian dianalisis yang umum

    menggunakan statistik. Untuk menganalisis pengaruh Inflasi dan Suku

    Bunga terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia menggunakan

    software eviews 9.1

    1 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung:

    Alfabeta, 2010), 70

    52

  • 53

    2. Pendekatan Penelitian

    Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data

    sekunder. Time Horizon yang digunakan dalam penelitian ini adalah

    time series dimana pengambilan data atau informasi dikumpulkan

    dalam satu seri waktu yaitu periode tahun 2012-2019. Jenis data yang

    digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang bersumber

    dari data sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui hasil laporan

    keuangan yang didapatkan dari buku, dokumen, maupun situs lembaga

    tertentu. Data penelitian ini bersumber dari situs www.ojk.go.id berupa

    data Indeks Saham Syariah, kemudian dari www.bps.go.id berupa data

    tingkat inflasi, dan www.BI.go.id berupa data suku Bunga. Semua data

    yang diambil adalah data bulanan periode 2012-2019.

    B. Lokasi dan Periode Penelitian

    Penelitian ini dilakukan pada perusahaan Syariah yang terdaftar di

    Bursa Efek Indonesia dengan mengambil data-data yang diperlukan

    melalui website yang berkaitan dengan variabel penelitian. Data Inflasi

    diperoleh dari www.BPS.go.id data suku bunga diperoleh dari

    www.BI.go.id dan data Indeks Saham Syariah Indonesia diperoleh dari

    www.OJK.go.id. Waktu penellitian dilakukan pada bulan Maret 2020.

    Sementara itu untuk periode penelitian adalah Januari 2012 sampai

    Desember 2019.

    http://www.ojk.go.id/http://www.bi.go.id/http://www.bps.go.id/http://www.bi.go.id/http://www.ojk.go.id/

  • 54

    C. Variabel dan Definisi Operasional

    1. Variabel Penelitian

    Kata “variabel” hanya ada pada penelitian kuantitatif, karena

    penelitian kuantitatif berpandangan bahwa suatu gejala dapat

    diklarifikasikan menjadi variabel-variabel. Jadi variabel penelitian

    adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh

    peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal

    tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.2

    Macam-macam variabel:

    a) Variabel Independen

    Variabel ini sering disebut sebagai variabel Stimulus..

    Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas.

    Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang

    menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen

    (terikat). Yang termasuk variabel bebas (independen) dalam

    penelitian ini adalah3

    1) Inflasi (X1) adalah kenaikan tingkat harga secara umum dari

    arang/komoditas dan jasa selama suatu periode waktu

    tertentu. Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter

    2 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif (Bandung: Alfabeta, 2018), 102

    3 Deni Darmawan, Metodelogi Penelitian Kuantitatif (Bandung; PT Remaja Rosdakarya,

    2013), 108

  • 55

    karena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan

    moneter terhadap suatu komoditas.4

    2) Suku Bunga (X2) adalah jumlah yang diterima oleh orang

    yang meminjamkan dan dibayar oleh peminjam dana

    sejumlah persentase yang disepakati oleh kedua belah

    pihak.5

    b) Variabel Dependen

    Sering disebut sebagai variabel output, kriteria, dan konskuen.

    Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat.

    Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau

    menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Yang dimaksud

    variabel Dependen dalam penelitian ini adalah Indeks Saham

    Syariah merupakan indikator utama yang menggambarkan

    pergerakan harga saham syariah. Salah satu informasi yang

    diperlukan tersebut adalah harga saham Syariah Indenesia sebagai

    cerminan dari pergerakan harga saham Syariah Indonesia.6

    4 Adrian Sutawijaya, “Pengaruh Faktor-faktor Ekonomi Terhadap Inflasi di Indonesia,”

    Jurnal Organisasi dan Manajemen 8, no. 2 (2012): 85–101.

    5 Nasir dan Mirza, “Pengaruh Nilai Kurs, Inflasi, Suku Bunga Deposito dan Volume

    Perdagangan Saham Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa

    Efek Indonesia.”, jurnal Ekonomi, 2 (2016), 78

    6 Deni Darmawan, Metodelogi Penelitian Kuantitatif, 109

  • 56

    2. Definisi Operasional

    Definisi Operasional dalam penelitian ini dimaksudkan untuk

    memahami arti setiap variabel penelitian sebelum dilakukan analisis,

    Instrumen, serta sumber pengukuran berasal dari mana:7

    Tabel 3.1

    Definisi Operasional

    No. NAMA

    VARIABEL

    DEFINISI

    VARIABEL

    INDIKATOR SUMBER

    1. Inflasi Inflasi adalah

    keadaan yang

    menunjukkan

    kenaikan

    harga-harga

    umum secara

    terus menerus.

    Keterangan:

    IHKn = indeks harga

    konsumen periode 1

    IHKn-1 = indeks harga

    konsumen periode 2

    Elvis Purba dan

    Ridhon

    Simangungsong,

    Uang dan

    Lembaga

    Keuangan

    (medan:

    Universitas

    HKBP

    Nommensen,

    2005), 41

    2. Suku Bunga Suku bunga

    adalah

    sejumlah dana

    yang diterima

    oleh orang

    yang

    meminjamkan

    dan dibayar

    oleh

    peminjam

    dana sejumlah

    persentase

    yang

    disepakati

    oleh kedua

    belah pihak.

    SI = P X R X T

    Keterangan

    SI = simple interest

    R = interest rate (tingkat

    bunga tahunan)

    T = time

    Nasir dan

    Mirza,

    “Pengaruh Nilai

    Kurs, Inflasi,

    Suku Bunga

    Deposito dan

    Volume

    Perdagangan

    Saham

    Terhadap

    Return Saham

    Pada

    Perusahaan

    Perbankan yang

    Terdaftar di

    Bursa Efek

    Indonesia.”

    3. Indeks Indek Saham HIS = Siti Aisiyah

    7Wiratna Sujarweni, Metodelogi Penelitian Bisnis Ekonomi (Yogyakarta:

    PUSTAKABARUPRESS, 2015), 90

  • 57

    No. NAMA

    VARIABEL

    DEFINISI

    VARIABEL

    INDIKATOR SUMBER

    Saham

    Syariah

    Indonesia

    Syariah

    Indonesia

    (ISSI)

    merupakan

    indeks saham

    yang

    mencerminkan

    keseluruhan

    saham syariah

    yang tercatat

    di Bursa Efek

    Indonesia

    (BEI).

    Keterangan

    Ht = Harga pada waktu

    berlaku

    H0 = harga pada waktu

    dasar

    Suciningtias,

    Rizki Khoiroh,

    “Analisis

    Dampak

    Variabel Makro

    Ekonomi

    Terhadap Indeks

    Saham Syariah

    Indonesia

    (Issi)”FE

    UINSULLA, 01

    (May 2015),

    401

    D. Populasi dan Sampel

    1. Populasi

    Dalam penelitian ini yang dimaksud populasi yaitu wilayah

    generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kuantitas

    dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari

    dan kemudian ditarik kesimpulan. Jadi populasi bukan hanya orang,

    tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga

    bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari,

    tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek

    atau obyek itu. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah

    Inflasi, Suku Bunga, dan Indeks Saham Syariah.8

    8 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, 95

  • 58

    2. Sampel dan Teknik Sampling

    Dalam penelitian kuantitatif, sampel adalah sebagian dari jumlah

    karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar,

    dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada satu

    waktu, maka peneliti dapat dapat menggunakan sampel yang diambil

    dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya

    akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang

    diambil dari populasi harus betuk-betul representatif.9

    Sampel data dalam penelitian ini diambil dengan teknik sampling

    jenuh. Metode/teknik sampling jenuh istilah lainnya sensus yang

    merupakan teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi

    digunakan sebagai sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah data

    time series/ bulanan dari data Inflasi, Suku Bunga dan Indeks Saham

    Syariah dengan periode pengamatan 8 tahun yaitu tahun 2012-2019.

    E. Teknik Pengumpulan Data

    Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan

    metode dokumentasi. Metode dokumentasi yaitu metode pengumpulkan

    data berupa data-data tertulis yang mengandung keterangan dan penjelasan

    serta pemikiran tentang fenomena yang masih aktual dan sesuai dengan

    masalah yang diteliti. Pengolahan data adalah suatu proses dalam

    memperoleh data ringkasan dengan menggunakan cara-cara atau rumus-

    9 Ibid.

  • 59

    rumus tertentu.10 Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan dan

    digunakan adalah inflasi, suku bunga dan indeks saham syariah Indonesia.

    F. Teknik Analisis Data

    Error corection model atau yang dikenal dengan model koreksi

    kesalahan adalah suatu model yang digunakan untuk melihat pengaruh

    jangka panjang dan jangka pendek masing-masing perubah bebas,

    terhadap perubah terikat. Menurut sargan error correction model adalah

    teknik untuk mengoreksi ketidakseimbangan jangka panjang, serta dapat

    menjelaskan hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas pada

    waktu sekarang atau waktu lampau.11

    ECM diterapkan dalam analisis ekonometrika untuk data runtun waktu

    karena kemampuan yang dimiliki ECM dalam meliput banyak variabel

    untuk menganalisis fenomemna ekonomi jangka panjang dan mengkaji

    kekonsistenan, serta dalam usaha mencari pemecahan terhadap persoalan

    variabel runtun waktu yang tidak stasioner dalam analisis ekonomterika.

    Dalam menentukan regresi linier melalui pendekatan ECM, terdapat

    beberapa asumsi yang harus dipenuhi:

    1. Uji Kestasioneran

    Proses yang bersifat random atau stokastik merupakan kumpulan

    dari variabel random atau stokastik dalam urutan waktu, setiap data

    10 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, 240

    11 Agus Tri Basuki dan Nano Prawoto, Analisis Regresi Dalam Penelitian Ekonomi dan

    Bisnis (Dilengkapi Aplikasi Spss dan Eviews), (Jakarta; RAJAWALI PRESS, 2016), 2

  • 60

    time series yang kita punyai merupakan suatu data dari hasil proses

    Stokastik. Suatu data hasil proses random dikatakan stasioner jika

    memenuhi tiga kriteria yaitu jika rata-rata dan variannya konstan

    sepanjang waktu dan kovarian antara dua data runtut waktu hanya

    tergantung dari kelambaian antara dua periode waktu tersebut.12

    Pengujian untuk mengukur stasioneritas data dilakukan dengan

    menggunakan Augmented Dickey Fuller i (ADF) test atau uji akar unit

    (unit root test). Hipotesis yang digunakan dalam pengujian ini adalah

    H0 = data tidak stasioner (mengandung unit root)

    H1 = data stasioner (tidak mengandung unit root)

    Penolakan H0 menunjukkan data yang dianalisis sudah stasioner. Data

    dikatakan stasioner jika ADF test statistic lebih kecil dari nilai kritis.13

    2. Uji Kointegrasi

    Uji kointegrasi merupakan kelanjutan dari uji akar unit. Uji

    kointegrasi dimaksudkan untuk menguji apakah residual regresi yang

    dihasilkan stasioner atau tidak. Menurut firdaus variabel yang tidak

    stasioner sebelum dideferensikan namum stasioner pada fist14

    difference, besar kemungkinan akan terjadi kointegrasi. Uji kointegrasi

    dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjanya kestabilan jangka

    panjang antar variabel yang ada sehingga dapat digunakan dalam

    12 Immanudi Yuliadi, “Analisis Nilai tukar Rupiah dan implikasinya pada Perekonomian

    Indonesia; Pendekatan Error Correction Model (ECM), “ Jurnal Ekonomi Pembangunan, 02

    (Desemeber 2007), 153

    13 Ibid.

    14 Ibid., 154

  • 61

    sebuah persamaan. Metode yang digunakan dalam penelitian