Perencanaan Industri Gula Tebu

  • Published on
    24-Nov-2015

  • View
    217

  • Download
    43

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Teknologi hasil Pertanian , perencanaan industri

Transcript

PERENCANAAN INDUSTRI PANGAN DAN HASIL PERTANIAN GULA TEBU

Oleh GRUP 5 / THP B

1. Muhammad Gozalli(111710101014)2. Riris Tri Purnawati(111710101024) 3. Dwika Mayangsari(111710101040) 4. Diah Novita(111710101090)

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIANFAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIANUNIVERSITAS JEMBER2014

A. Penentuan lokasi Pabrik Gula tebuPenentuan lokasi merupakan salah satu aspek dalam penentuan produktivitas yang optimum. Optimum disini dimaksudkan memiliki biaya produksi ( meliputi : transportasi, distribusi, air, dan sebagainya) yang minimum dan mendapatkan income yang maksimal. Penentuan lokasi pabrik gula tebu tentunya harus dengan beberapa faktor utama yaitu :1. Letak dari sumber bahan baku untuk produksi2. Letak dari pasar3. Ketersdian tenaga kerja4. Ketersedian transportasi5. Ketersedian energi. Selain itu menurut Lockyer et al (1990), factor yang mempengaruhi perencanaan atau pemilihan lokasi yaitu 1. Tersedia tenaga kerja dan ahli2. Tersedia fasilias3. Tersedia transportasi4. Tersedia jasa-jasa5. Kecocokan tanah dan iklim6. Peraturan-peraturan regional7. Ruangan untuk perluasan8. Persyratan keamanan9. Biaya tempat.Setelah dilakukan survey di beberapa tempat didaerah provinsi jawatimur sebagai lokasi produksi pabrik ditemukan tempat yang sesuai dengan beberapa faktor diatas yaitu Glenmore-Banyuwangi, Djatiroto-Lumajang, dan Prajekan-Bondowoso. Dalam penentuan lokasi yang efektif dan efesien digunakan beberapa metode yaitu 1. Composite Index ValueKriteria Bobot Skor Nilai Indeks

Banyuwangi Lumajang Bondowoso Banyuwangi Lumajang Bondowoso

Sumber bahan baku 304321209060

Sumber air 15324453060

Transportasi 15322453030

Tenaga kerja 20333606060

Pembuangan limbah 20321604020

Jumlah 100330250230

Lokasi terpilih : Banyuwangi-Glenmore

2. Ideal ValueKriteria Nilai Ideal Lokasi

BanyuwangiLumajangBondowoso

Sumber bahan baku 30272320

Sumber air 15131210

Transportasi 1510139

Tenaga kerja 20171315

Pembuangan limbah 20161516

Jumlah 100837670

Lokasi terpilih : Banyuwangi-Glenmore

3. Cost ComparissonFaktor yang dinilai Lokasi

Banyuwangi Lumajang Bondowoso

Biaya tetap (FC) 500.000 1.000.000 1.500.000

Biaya variabel (VC) 1.500 1.000 500

Harga jual (P) 3.000 3.0003.000

Fungsi BiayaBanyuwangi = 500.000 + 1.500 XLumajang= 1.000.000 + 1.000 XBondowoso = 1.500.000 + 500 X

Kapasitas 500 KgBanyuwangi = 500.000 + 1.500 (500)= 1.250.000Lumajang= 1.000.000 + 1.000 (500)= 1.500.000Bondowoso = 1.500.000 + 500 (500)= 1.750.000Lokasi terpilih : Banyuwangi-Glenmore

Kapasitas 750 KgBanyuwangi = 500.000 + 1.500 (750)= 1.125.000Lumajang= 1.000.000 + 1.000 (750)= 1.750.000Bondowoso = 1.500.000 + 500 (750)= 1.875.000Lokasi terpilih : Banyuwangi-Glenmore

4. Break Even PointMenghitung jumlah unit produksi yang menghasilkan total biaya yang sama untuk setiap lokasi

500.000 + 1.500 X=1.000.000 + 1.000 X500 X=500.000X=1000

500.000 + 1.500 X=1.500.000 + 500 X1000 X=1.000.000X=1000

1.000.000 + 1.000 X=1.500.000 + 500 X500 X=500.000X=1000

Kapasitas 1000 KgBanyuwangi = 500.000 + 1.500 (1000)= 2.000.000Lumajang= 1.000.000 + 1.000 (1000)= 2.000.000Bondowoso = 1.500.000 + 500 (1000)= 2.000.000

B. Perencanaan KapasitasKapasitas mesin Pada proses pembuatan gula terdiri dari beberapa stasiun yaitu :a) Stasiun penggilinganTugas dari stasiun ini adalah mengambil nira dari batang tebu sebanyak mungkin. Tebu-tebu yang telah ditebang diangkut dengan truk dan lori-lori. Tebu yang masuk ditimbang beratnya kemudian diangkut dengan lori masuk ke stasiun gilingan. Tebu diangkat dengan pesawat pengangkat tebu yang berkapasitas 10 ton. Selanjutnya diletakan diatas meja tebu untuk diumpankan kegilingan melalui krepyak tebu.Dalam tahap pertama tebu yang akan diperah untuk diambil niranya masuk ke crusher yang terdiri dari 2 buah rol crusher. Fungsi dari crusher adalah untuk menghancurkan tebu menjadi potongan-potongan yang panjangya kira-kira 107,3 mm. Crusher tidak berfungsi sebagai alah pemerah, namun demikian nira sudah ada yang keluar ke mesin penggiling untuk dipers, diambil niranya.Mesin penggiling di PG ada 4 unit, setiap unit terdiri 3 buah rol. Rol bagian atas saja yang digerakkan dan diberi tekanan kira-kira 300 kg/cm, sedangkan rol yang dibawah akan berputar dengan sendirinya karena adanya aluralir dari setiap rol belakang.Tebu yang masuk ke gilingan I diperah hingga mendapatkan hasil nira yang sebanyak-banyaknya, dengan tekanan 300 kg/cm2. Hasil dari gilingan I adalah amapsa I dan nira I. Nira I ditampung, lewat saluran nira bertemu dengan nira crusher. Kedua nira ini disebut nira hasil perah pertama.Ampas I dibawa ke gilingan II yang bertekanan 300 kg/cm2, dengan alat pengangkutan drag conveyer untuk diperah lagi niranya. Untuk mendapatkan nira yang lebih banyak maka saat ampas I menuju gilingan II ditambah nira dari gilingan III. Hasil dari gilingan II ini adalah ampas II dan nira II. Nira dari crusher, nila gilingan I dan nira gilingan II disebut nira mentah. Niramentah dipompa ke bak penampung dan ampas II diperah lagi digilingan III untuk diambil niranya.Ampas II diangkut ke gilingan II yang bertekanan 300 kg/cm2, untuk diperah lagi karena masih ada niranya. Pada gilingan III ini ditambah air imbibisi sebanyak kira-kira 22% berat tebu yang akan digiling. Fungsi penambahan air imbibisi adalah untuk mendapatkan prosentase pemerahan yang tinggi dan menekan kadar sakharosa yang ikut oleh ampas gilingan IV. Hasil dari gilingan III adalah ampas III dan nira III, dimana nira III dialirkan lewat saluran yang digunakan untuk nira imbibisi pada ampas I yang menuju ke gilingan II.Ampas III diangkut kegilingan IV yang bertekanan 300 kg/cm2. Hasil dari gilingan IV adalah ampas IV dan nira IV, dimana nira IV lewat saluran sebagai nira imbibisi pada ampas II yang menuju gilingan III. Sedangkan ampas IV diangkut dengna drag conveyer menuju ke tempat penyimpanan, yang nantinya ampas digunakan sebagai bahan baker ketel uap.b) Stasiun pemurnian nira Pemanas 1 (untuk nira mentah).Nira mentah dari stasiun gilingan yang telah disaring terlebih dahulu dan telah mengalami proses penimbangan dan penampungan dipompa kealat pemanas I. Pemanas yang ada di PG X berbentuk tegak, hal ini dimaksudkan untuk effisiensi tempat dan juga untuk memudahkan pembersihan apabila ada kerak yang menempel didalam pipa pemanas tersebut. Nira yang keluar dari pemanas I pada temperature kira-kira 720C, tujuan pemanasan ini adlah untuk mempercepat reaksi pada reactor dan juga untuk mematikan jasad renik (mikrobia). Bahan pemanas yang digunakan adalah uap bekas atau uap nira dari stasiun penguapan dan uap yang dihasilkan dari ketel uap. Pembuatan susu kapurBatu kapur di bakar dalam tobong pada temperetaure 900 oC dan teknan 1 atsmosfer. Pembuatan gas so2Belerang di masukkan dalam tobong belerang, kemudian dibakar, belerang akan mencair kemudian belerang cair akan menjadi uap karena panasnya. Reakto (sulfikator)Nira yang telah melalui panas dimasukkan ke defecator untuk direaksikan dengan susu kapur Ca(OH)2. Proses ini berlansung secara terus menerus dan tujuannya agar pH larutan kira-kira 9,5. Kemudian larutan dimasukkan ke reactor, pada reactor ini dialirkan gas SO2 secara terus menerus dan terjadi reaksi sulfitasi Tujuan penambahan gas SO2 ini adalah untuk pembentukan endapan CaSO3 dan dengan ini terjadi pembersihan kotoran. Pemanas 2 (untuk nira kasar)Setelah keluar dari reactor, nira kasar dipanaskan dalam pemanas II dengan menggunakan uap, sampai nira mempunyai suhu kira-kira 1000C.Mempercepat proses pengeluaran gas-gas terembunkan yang ada dalam nira. Dari pemanasan II nira kasar dialirkan ke preloc tower (menara flokulasi). Menara flokulasi adalah suatu alat yang berfungsi membebaskan gelembung-gelembung udara yang terdapat dalam nira. Pada menara ini ditambahkan zat flokulant yang bertujuan agara dapat reaksi pengendapan dapat berlansung dengan baik. Pengendapan Tugas dari peti pengendapan adalah untuk mengendapkan kotoran-kotoran yang terjadi selama proses sulfitasi, sehingga dihasilkajn nira jernih dan nira kotor. Nira jernih dialirkan ke tangki penampung nira jernih , sedangkan endapannya (blotong) dibuang sebagai limbah. Pemanas 3Nira jernih dari tangki penampung dialirkan ke pemanas III sampai mencapai suhu 1100C. Tujuan pemanasan ini untuk mendekati titik didih nira, sehingga pada evaporator nira sudah siap mendidih dan proses penguapan segera terlaksana.

c) Stasiun penguapan nira Setelah nira mentah mengalami proses pemurnian, selanjutnya dialirkan ke stasiun penguapan. Tujuan dari stasiun penguapan ini adalah untuk membuat nira encer (12,5Brik) menjadi kental (60Brik) dengan menggunakan beberapa badan penguapan yang bekerja secara seri.Di PG menggunakan system penguapan quadrule effect yang terdiri dari 5 badan penguapan. Drai 5 badan penguapan yang beroperasi hanya 4 badan, sebuan badan penguapan diistirahatkan untuk dibersihkan secara bergantian, badan II dapat berfungsi sebagai badan I dan badan IV dapat berfungsi sebagai badan terakhir.Badan pemanas yang dipakai pada stasiun ini berasal dari uap air bekas dan bila perlu ditambah dari uap baru dari ketel. Uap dari badan penguap I dipakai untuk menaskan nira pada penguapan Ii dan sebagian disadap untuk bahan penguapan pemanas I. Uap dari nira dari badan penuapan II dipakai untuk memanaskan nira pada penguapan III. Uap nira dari badan penguap Iii dipakai untik memanaskan nira pada badan penguapan IV, sedangkan uap nira yang keluar dari badan penguap IV diembunkan dalam barometric kondensor.Air embun yang berasal dari badan penguap I,II digunakan untuk air isian ketel dan air embun dari badan penguap III,IV digunakan untuk air imbibisi, air cucian filter press, air cucian puteran. Aliran nira dari setiap badan penguapan akan mengalir dengan sendirinya dikarenakan adanya perbedaan tekanan pada setiap badan penguapan.Nira kental yang siap dari badan penguap IV ditampung dalam tangki kemudial dipompa kesulfitator. Disulfitator ini di tambahkan gas SO2, yang tujuannya untuk memucatkan zat-zat warna dalam nira yang semula berwarna coklat tau akan menjari lebih jernih dan disini PH diharapkan kira-kira 5,5. Nira kental yang keluar dari sulfitator ini masih mengandung belerang, maka dialirkan dulu ke tangki JSP (Juice Syrup Purification) untuk diberi floculant sehingga timbul kotoran-kotoran yang berlangsung secara kontinyu, nira bersihnya dipompa ke tangki penampungan nira kental dan siap untuk dimasak. Sedangkan kotoran-kotoran yang mengapung (buih) dialirkan ke stasiun pemurnian.d) Stasiun pengkristalanPada PG proses pengkristalan dengan system 3 tingkat. Hal ini diharapkan agar didapat produk SHSIA. Untuk mencegah karamelisasi sakharosa maka apda waktu memasak dilaksanakan pada tekanan vakum kira-kira 65 cmHG, sehingga pada pemanasan kira-kira 60C diharapkan nira kental dalam pan pemasak sudah mendidih. Di PG X ada6 buah pan masakan A yang dipakai untuk memasak nira yang HK-nya (harga kemurnian) tinggi, masing-masing V)-nya 104 m2 dan volumenya 240 HL. Sebuah pan masakan B yang V)-nya 190 m2dan volumenya 250 HL. Dua buah pan masakan D yang VO-nya berturut-turut 125 m2, 200m2 dan volumenya 300 HL, 350 HL.e) Stasiun pemisahan Di PG digunakan system putaran berganda yaitu putaran depan dan putaran belakang. Putaran depan terdiri dari putaran A,B dan D1.Sedangkan putaran belakang terdiri dari putaran SHS dan D2. Masquite (Kristal sakharosa dan larutannya) dari maskan setelah dipompa ke putaran A. Diputaran A ini akan dipisahkan gula A dan stroop A. Stroop A digunakan sebagai bahan dasar pada pan masakan B, sedangkan gula A dipompa ke putaran SHS. Diputaran SHS ini ditambakan uap yang tujuannya membantu proses pengeringan. Pada putaran SHS ini akan dipisahkan gula SHS sebagai produk dan klare SHS dialirkan ke pan masakan A.Pada putaran B dihasilkan stroop B yang digunakan sebagai bahan dasar pada pan masakan B dan D, dan gula B-nya dipompa ke putaran SHS. Pada putaran SHS ini dihasilkan klare SHS yang pada masakan A sebagai bahan campuran masakan dan gula B digunakan sebagai bibit (einwurf).Pada putran D1 dihasilkan gula D dan srtoop yang disebut tetes. Gula D dipompa ke putaran belakang D2,sedangkan tetesnya merupakan hasil samping karena kadar gulanya sudah cukup rendah.Pada putaran D2 ini dipisahkan gula D2 selanjutnya dilebur ekmbali dan dialirkan ke pan masakan D sebagai bahan campuran pada masakan D.

f) Stasiun penyelesaianPada talang goyang ini gula-gula yang menggumpal akan pecah menjadi butiran-butiran gula, pada saat butiran-butiran gula ini berjalan sepanjang talang dihembuskan udara agar menjadi kering dan dingin. Udara dihembuskan dengan mengunakan blower. Untuk mengangkut Kristal-kristal gula ke talang saringan digunakan bucket elevator.Pada talang saringan ini Kristal-kristal gula dipisahkan, Kristal gula yang tidak memenuhi ukuran standart dilebur dan diproses kembali sedangkan butiran gula yang standart diambil sebagai produk. Gula yang dihasilkan sebagai produk pada PG X adalah jenis SHS IA. Kapasitas tenaga kerja a) Manager pabrikKewajiban : Membantu direki melaksanakan tugas dan kewajiban yang telah digariskan perusahaan. Melakuka perencanaan, pengoganisaian, pengendalian, dan pengawasan di pabrik guna menunjang usaha pokok secara efektif dan efisien Menyediakan informasi yang akurat dan up to date untuk kepentingan direksi dan pengambil keputusan.Wewenang : menyusun dan membuat rencana kerja anggaran perusahaan pabrik menyusun program kerja di kebun yang berkaitan dengan upaya peningkatan kinerja pabrik meakukan pengawasan, penganalisaan dan melakukan tindakan perbaikan dibidang pengolahan, admibistrasi dan keunganb) asisten kantortugas : Asisten kantor berugas mengelola admistrasi pabrik secara keseluruhan, meliputi urusan umum/personalia, anggran keuangan, akutansi, perdagangan, produksi dan sekretaris

Tanggung jawab : Asisten kantor bertanggung jawan keada managerc) Kepala dinas teknik Tugas : Dalam menjalankan tgas, kepala dinas teknis harus erkoordinasi dengan kepala pengolahan dibantu oleh asisten Mengkoordinasi seluruh asiten yang dibawahnyauntuk mencapai target/sasaran yang tepat Mengoptimalkan kerja mesin/peralatan agar proses poduksi berjalan oprimal Membuat laporan pertanggung jawabanTanggung jawab : Bertanggung jawab kepada manager pabrikd) Staff boiler Tugas : Stasiun boiler dipimpin oleh seorang staff dan dibantu mandor bertugas mengolah peralatan dan sumber daya lainnya pada stasiun boilerTanggung jawab : Asisten boiler bertanggung jawab kepada kepala bidang teknike) Staff millingTugas : Stasiun ini di pimpin oleh seorang staff yang bertugas mengolah peralatan dan tenaga kerja pada stasiun gilingan dengan melaksanakan tugasnya dibantu mandorTanggung jawab : asisten milling bertanggung jawab kepada kepala dinas teknikf) staff listrik/instrumen tugas : bidang listrik/ instrument di pimpin oleh seorangstaff dan dibantu oleh mandor, bertugas mengolah peralata...

Recommended

View more >